cover
Contact Name
Dr. Evi Mu'afiah
Contact Email
muafiahevi@gmail.com
Phone
(0352) 481277
Journal Mail Official
-
Editorial Address
LPPM IAIN Ponorogo Jl. Pramuka No.156 Ponorogo
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam
ISSN : 19076371     EISSN : 25279254     DOI : -
Kodifikasia: Jurnal Penelitian Islam is a journal based on Islamic research published by Institute for Research and Community Services, State Islamic Institute of Ponorogo. This journal first published in 2007 to facilitate the publication of research, articles, and book review. The Journal issued biannually in June and December.
Articles 411 Documents
ISLAM MITOS INDONESIA (KAJIAN ANTROPOLOGI-SOSIOLOGI) Sardjuningsih, Sardjuningsih
Kodifikasia Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.064 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v9i1.796

Abstract

The Muslims in Indonesia, they appreciate the tradition?s value so much, remarkably, the one which becomes the part of the religiousity practices and becomes one with it. Therefore, the Islamic religion manifestation in every community group is different, because of the tradition?s differences cover it; the position of tradition and the ancestors precepts which are placed equally with religion,it is toward the invisible matter or supernatural. Their exiatences are worshipped, honored, respected and even considdered cult, treated as the God in religion. Supernatural is often anthropomorphic, it means that the supernatural is often treated as the other creatures which have the ability and characters like human, animals, or plants. The community divinity concept and perception is not purely monotheism, but it is monopluralistic. Tradition which is accomodated by the in their religious practices is often connected to the myth existence in it. The myth truth is the community faith matter, emotion and mental. All of the religion processes related to doctrine, history and its development can not be separated from the existence of the myth, included religion which is claimed as the revelation religion. The myth element becomes very important in this contextual Islam, because the myth knowledge is considered as the holy story, the primordialic event about the universe genesis, the past time, and the other life. Frazer describes that the myth position in the community religion, is like the holy book in the modern religion. In every tribe and group who claim as Muslim, they have the myth practices which become the base in arrenging local Islamic practices. In the study of anthropology and sociology, the function and the role of myth, religion, and tradition can not be substancially distinguished, since everyone contains the invisible element. The myth as a story which is considered sacred as like the holy book which is able to describe the transendental primordial event. Myth is related to the traditional religion and the holy book is related to modern religion. The Sociology defines that myth is as the social stucture in creating the community condition. As a belief which is able to strengthen the community mystical side in order to be able to conserve the adhesive social values in the community.
PENDUDUK MUSLIM SEBAGAI POTENSI PASAR PERBANKAN SYARIAH (STUDI KOMPARASI KEKUATAN PASAR PERBANKAN DI INDONESIA) Masykuroh, Ely
Kodifikasia Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.075 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v11i1.1138

Abstract

Perkembangan perbankan syariah telah mengalami progres yang sangat berarti bukan hanya di negara-negara Islam saja, namun di negara-negara barat seperti Eropa, Australia dan Amerika, tak terkecuali Indonesia. Meskipun perkembangan perbankan syariah menggembirakan dan penelitian terkait perbankan syariah juga meningkat, namun hanya sedikit literatur akademik dan juga penelitian yang mencoba menjelaskan tentang implikasi ekonomi dari keberadan bank syariah yang dikatakan berbeda dengan bank konvensional. Jumlah populasi penduduk muslim yang besar di Indonesia seharusnya menjadi potensi kekuatan pasar bagi perbankan syariah, sehingga diasumsikan permintaan terhadap jasa perbankan syariah lebih tinggi dibanding pada bank konvensional ditambah lagi dengan adanya pelarangan riba dalam Islam, seharusnya berdampak pada pengambilan keputusan bertransaksi dengan pihak perbankan. Berdasarkan latar belakang yang sudah dijelaskan, maka penelitian ini mencoba mengukur dan membandingkan kekuatan pasar perbankan syariah dan konvensional di Indonesia dengan menggunakan sampel penelitian meliputi 9 bank dimasing masing kelompok sejak tahun 2011-2015 dengan menggunakan Lerner Index untuk mengukur kekuatan pasarnya. Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan terhadap kekuatan pasar pada kedua bentuk perbankan baik syariah maupun konvensional meskipun secara rata rata kekuatan pasar bank konvensional ternyata lebih tinggi.
KEBIJAKAN PEMERINTAH TERKAIT HAK SIPIL PENGHAYAT KEPERCAYAAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERKEMBANGAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN DI PONOROGO Rofiq, Ahmad Choirul
Kodifikasia Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.928 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v8i1.785

Abstract

Penelitian kualitatif ini menggunakan data dokumen (literatur) dan wawancara yang berkenaan dengan kebijakan pemerintah, Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (terutama HPK Ponorogo), dan gambaran umum tentang Ponorogo yang menjadi lokasi penelitian. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mempunyai beberapa karakteristik, yakni berupaya melakukan pendekatan kepada Tuhan, bersifat akomodatif terhadap anasir dari kebudayaan spiritual lain, dan mengutamakan prinsip kerukunan. Eksistensinya di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peranan Mr. Wongsonegoro yang mengusulkan pencantuman kepercayaan dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 pada tahun 1945. Secara umum, kebijakan pemerintah menekankan legalitas formal eksistensi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Indonesia. Di antara kebijakan pemerintah era reformasi. Di antaranya ialah UU no: 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU no: 12 tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, UU no: 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Peraturan Pemerintah no: 37 tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU no: 23 tahun 2006, Peraturan Presiden no: 25 tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil, serta Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan Pariwisata no: 43/41 tahun 2009 tentang Pedoman Pelayanan kepada Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kebijakan yang memberikan perlindungan hukum kepada para penghayat Kepercayaan itu berdampak signifikan dalam perkembangan HPK di Ponorogo. Hal itu terlihat dari pertambahan jumlah warga penghayat kepercayaan dalam HPK Ponorogo sejak pembentukannya tanggal 1 Oktober 2008 sampai sekarang. Selain itu, jumlah penghayat Kepercayaan yang tidak mengisi kolom agama di dokumen kependudukan juga semakin bertambah.
KETERLIBATAN PEREMPUAN DALAM PENYELESAIAN KONFLIK HARTA BERSAMA (Studi di Kabupaten Ponorogo) Mahfiana, Layyin
Kodifikasia Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.797 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v10i1.809

Abstract

Pernikahan merupakan ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa?.[1]Sedangkan tujuan perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam adalah mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.[2] Arso Sastroatmdjo mengatakan ?pernikahan itu disyariatkan supayamanusia mempunyai keturunan dan keluarga yang sahmenuju kehidupan bahagia di dunia dan akhirat dibawah naungan cinta kasih dan ridho Ilahi.[3]Namun seringkali tujuan perkawinan harus kandas di perjalanan. Perkawinan harus putus di tengah jalan dikarenakan adanya konflik yang tidak bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah sehingga sulit untuk terciptanya kehidupan keluarga yang berisikan semangat kasih sayang, ketentraman serta kebahagiaan. Dalam situasi seperti ini pasangan suami istri tidak bisa meneruskan bahtera rumah tangganya dan berakibat pada retak atau kacaunya rumah tangga, bahkan berujung pada terjadinya perceraian.   Perceraian adalah berakhirnya perkawinan yang telah dibina oleh pasangan suami istri yang disebabkan oleh beberapa hal seperti kematian, dan atas keputusan pengadilan. Dalam hal ini perceraian dilihat sebagai akhir dari suatu ketidakstabilan perkawinan dimana pasangan suami istri kemudian hidup terpisah dan secara resmi diakui oleh hukum yang berlaku. Suatu perceraian membawa akibat hukum, diantaranya pengasuhan anah (hadhanah), nafkah anak, nafkah isteri, harta bersama.Harta Bersama adalah harta benda atau harta kekayaan yang diperoleh saat perkawinan atau karena perkawinan serta selama perkawinan. Di dalam KUHPerdata, Pasal 119 dijelaskan harta bersama adalah persatuan bulat antara harta kekayaan suami istri demi hukum sejak berlangsungnya perkawinan, sejauh tidak diatur dengan ketentuan lainnya.Di Indonesia, mengenai harta perkawinan (harta bersama) telah diatur dalam Bab VII, pasal 35-37; pasal  65 ayat 1 huruf b dan c Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, kemudian dilengkapi dan diperjelas dalam Bab XIII, pasal 85-97 Kompilasi Hukum Islam (KHI).[4]Pembagian harta bersama dalam perkawinan, sering menimbulkan konflik diantara pihak yang bersangkutan. Pasal 37 menetapkan bahwa apabila perkawinan putus karena perceraian, maka pembagian harta bersama dapat diatur menurut hukumnya masing-masing, namun dalam realitanya penyelesaian pembagian harta bersama seringkali belum memberikan kepastian bahkan di dalam pelaksanaannya pembagian harta bersama dilakukan oleh salah satu pihak tanpa kesepakatan pihak lain yang bersangkutan. Pasal 96 dan 97 Kompilasi Hukum Islam, menyebutkan bahwa pembagian harta bersama baik cerai hidup maupun cerai mati, masing-masing mendapat setengah dari harta bersama tersebut.Keberadaan harta bersama dalam pernikahan sangat diperlukan, baik itu selama perkawinan maupun setelah putusnya hubungan harta pekawinan yang ditandai dengan perceraian. Dalam pelaksanaannya setelah terjadi perselisihan hingga mengakibatkan terjadinya perceraian, harta itu akan menjadi sangat penting bagi suami maupun istri, sehingga mereka menghendaki agar pembagian harta bersama tersebut dilakukan secepatnya.
AUTHENTIC MATERIALS IN EXTENSIVE READING CLASS AT STAIN PONOROGO Kirana, Dhinuk Puspita
Kodifikasia Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.014 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v7i1.775

Abstract

It is widely believed that English Foreign Language (EFL) learners need to develop their language proficiency by getting so much input. Moreover, students need to be familiarized with the real English us­age where real forms of communication and cultural knowledge are crucially exposed. Teaching through authentic materials will make the learners feel that they are learning a real language which is used by the real native speakers for real communication. incorporating au­thentic materials helps students acquire an effective communicative competence in the language focus. The research intended to describe the implementation of authentic materials in extensive reading class, the problems arise and the students? responses toward the authen­tic materials in extensive reading class. The design of the research was Descriptive Qualitative method and the research subject was the lecturer of Extensive Reading class and 33 students in B class of the fourth semester of STAIN Ponorogo who took Extensive Read­ing subject. The instruments used were in the form of observation sheet, interview guideline and questionnaire. The implementation of authentic materials in extensive reading class covered some procedures into three main phases namely (1) Pre­ Activity, (2) Main­ Activity and (3) Post­Activity. The activities in main activity are as follows: (a) Pre­ Activity; (b) Whilst ­Activity; and (3) The language focus stage. There were problems arose during the implementation in terms of complicated planning, more time allocation and some disinterested students. Finally, the students showed significantly positive attitude toward the implementation of authentic materials in extensive reading class.
PRILAKU SEKS BEBAS REMAJA DI KABUPATEN PONOROGO PERSEPKETIF INTERAKSIONALISME SIMBOLIK GEORGE HERBERT MEAD Muzakki, M. Harir
Kodifikasia Vol 4, No 1 (2010)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.864 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v4i1.749

Abstract

Abstraks: Penelitian ini berusaha mengungkap proses terjadinya prilaku seks bebas di kalangan remaja dalam interaksionalisme simbolik George Herbert Mead dan pola interaksi seks bebas di kalangan remaja di kabupaten Ponorogo. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dan didesain dengan pendekatan kualitatif. Data diambil dengan cara wawancara dengan para pelaku sek bebas. Ada beberapa tahapan sebelum aktor melakukan tindakan atau hubungan seks yaitu, impuls, persepsi,manipulasi dan terakhir konsumasi. Dari hasil penilitian dapat disimpulkan bahwa proses terjadinya seks bebas pada awalnya mereka tertarik dengan lawan jenisnya. Kemudian melakukan pendekatan, saling melirik, berkenalan, kemudian pacaran. Tahap berikutnya mereka saling berpegangan, berciuman, meremas payudara, kedudian melakukan hubungan seks. Sementara pola interaksi seks bebas di kalangan remaja ada dua: pertama, remaja melakukan hubungan seks bebas dengan pacarnya sendiri. Kedua, remaja tersebut melakukan hubungan dengan membeli atau menyewa wanita lain.
DISKURSUS MAKNA JILBAB DALAM SURAT AL-AHZAB AYAT 59: Menurut Ibnu Kathir dan M. Quraish Shihab Sidiq, Umar
Kodifikasia Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.822 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v6i1.760

Abstract

Artikel ini secara umum bertujuan untuk mengetahui makna jilbab dalam  surat  al-Ahzab  ayat  59.  Secara  lebih  rinci  tulisan  ini  menjelaskan pertama, makna jilbab menurut Ibnu Kathir. Kedua, mengetahui  makna  jilbab  menurut  M.  Quraish  Shihab.  Ketiga,  menjelas kan  penyebab  perbedaan  pemaknaan  jilbab  antara  perspektif Ibnu  Kathir  dan  M.  Quraish  Shihab.  Artikel  ini  merupakan  hasil kajian  library  research  yang  dimaksudkan  untuk  mengetahui  perbeda an makna jilbab menurut Ibnu Katsir dan M. Quraish Shihab dengan metode penafsiran muqarrin atau metode komparatif. Ibnu Katsir  mengatakan  bahwa  aurat  wanita  adalah  seluruh  tubuhnya. Sementara, M. Quraish Shihab tidak cenderung mendukung pendapat yang mewajibkan wanita menutup seluruh badannya atas dasar bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat. Ini bukan saja karena lemahnya alasan-alasan  yang  mereka  kemukakan,  tetapi  juga  dengan  tampil seperti yang mereka wajibkan berarti gugurlah fungsi hiasan atau keindahan dalam berpakaian, padahal al-Quran sendiri menyebutkan bahwa salah satu fungsi pakaian adalah hiasan. Adapun penyebab perbedaan  para  ulama  dalam  memaknai  jilbab  adalah  penafsiran mereka terhadap surat al-Nur ayat 31.
PROJECT-BASED LEARNING TO RAISE STUDENTS’ SPEAKING ABILITY: ITS’ EFFECT AND IMPLEMENTATION (A MIX METHOD RESEARCH IN SPEAKING II SUBJECT AT STAIN PONOROGO) Rohmahwati, Pryla
Kodifikasia Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.733 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v9i1.466

Abstract

This research tries to attempt to know the effect of Project-based learning toward speaking ability and its? effective implementation. The design of the research sequential was designs in which data that are collected and examined in one stage inform the data collected in the next phase. This research applied a quantitative design for the first stage. It is categorized into causal comparative method, or ex post facto research design and the second stage is qualitative design. Population in this research was the 2 STAIN Ponorogo. The total numbers of the students are 85 students and the sample was 70 students. The researcher used questionnaires, test, observation and interview as data collection. Since the hypothesis is intended to find the effect of the Project-Based Learning toward students? speaking ability, the Simple Linier Regression by using SPSS 19.00 for Windows was applied. The second phase, the result of observation and interview were analyzed by Miles and Huberman?s view of qualitative data analysis consisting of data reduction, data display, and drawing conclusion. The result of analysis showed that there was significant effect of Project-Based Learning toward students? speaking ability. Moreover, the effective procedures for the implementation of Project-Based Learning are (a) dividing the class into group, (b) explaining the project and (c) performing the project. At last, the students showed significantly positive attitude toward the implementation of Project-Based Learning in speaking class.  semester of English Department Students in STAIN Ponorogo. The total numbers of the students are 85 students and the sample was 70 students. The researcher used questionnaires, test, observation and interview as data collection. Since the hypothesis is intended to find the effect of the Project-Based Learning toward students? speaking ability, the Simple Linier Regression by using SPSS 19.00 for Windows was applied. The second phase, the result of observation and interview were analyzed by Miles and Huberman?s view of qualitative data analysis consisting of data reduction, data display, and drawing conclusion. The result of analysis showed that there was significant effect of Project-Based Learning toward students? speaking ability. Moreover, the effective procedures for the implementation of Project-Based Learning are (a) dividing the class into group, (b) explaining the project and (c) performing the project. At last, the students showed significantly positive attitude toward the implementation of Project-Based Learning in speaking class.
IDENTITAS PENAMPILAN MASYARAKAT YOGYAKARTA 1950’an-1970’an Khasanah, Nurul; Afiyanto, Hendra
Kodifikasia Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.158 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v11i1.1149

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontestasi ragam penampilan masyarakat Yogyakarta sebagai akibat dari westernisasi dan agamaisasi. Tahun 1950?an dipilih sebagai batasan awal penelitian sebab tahun tersebut adalah masifnya arus westernisasi yang masuk ke Yogyakarta. Westernisasi menjadi budaya populer di dalam masyarakat Yogyakarta yang membongkar kokohnya pondasi budaya keraton termasuk penampilan masyarakat. Kepintaran masyarakat Yogyakarta terlihat ketika mampu mengakomodasi westernisasi untuk eksistensi penampilannya. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode sejarah kritis melalui penggunaan sumber tekstual, seperti arsip, buku-buku referensi, surat kabar, majalah, dan sumber non-tekstual seperti foto atau gambar.Melalui tulisan ini disimpulkan masuknya westernisasi menimbulkan pergeseran cara pandang masyarakat atas penampilannya. Bergesernya cara pandang memunculkan perubahan penampilan dan ragam penampilan masyarakat Yogyakarta. Adanya kontestasi ragam penampilan menimbulkan ketegangan di dalam masyarakat, karena pada fase ini terjadi penghakiman atas benar salah penampilan yang digunakan. Muaranya adalah pemaknaan ulang terkait penampilan yang digunakan di dalam masyarakat.
PREFERENSI WALI SANTRI DALAM MEMILIH PENDIDIKAN TINGKAT DASAR Studi Kasus Di Pondok Tahfidz Al-Qur’an AlMuqaddasah Nglumpang Mlarak Ponorogo Bakar, Abu
Kodifikasia Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : IAIN PONOROGO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.101 KB) | DOI: 10.21154/kodifikasia.v8i1.786

Abstract

Ketika menghadapi tahun ajaran baru, para wali disibukkan memilih sekolah sebagai jaminan masa depan anaknya. Mereka mencari sekolah yang bermutu, dan akhirnya lembaga pendidikan juga berlomba untuk membuat branding agar menjadi pilihan dengan menawarkan kompetensi, skill, pekerjaan, dan lain-lain. Bertolak belakang dengan fakta, Pondok alMuqaddasah yang memfokuskan pada pendidikan al-Qur?an, ternyata juga diminati oleh para wali. Berbalik antara data dan fakta, peneliti mengkaji faktor yang mempengaruhi preferensi wali dalam memilih pendidikan tingkat dasar melalui pertanyaan: (1) bagaimana persepsi wali santri terhadap pondok dan (2) faktor apa yang mempengaruhi dalam menentukan pilihan di pondok? Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menyimpulkan sebagai berikut. Persepsi wali santri terhadap sistem maupun nilai pondok bahwa sistem pondok dipandang sebagai sesuatu yang strategis, berjalan di atas nilai yang hidup pada jiwa kiyai, guru, dan santri yang digerakkan oleh nilai keikhlasan dan semangat pengabdian. Adapun faktor dominan yang mempengaruhi wali santri dalam memilih Pondok al-Muqaddasah adalah pendidikan al-Qur?an. Motif ini didasarkan pada pergeseran kesadaran masyarakat terhadap pendidikan, yaitu peralihan orientasi kerja dari yang berorientasi kapital menuju kepada nilai spiritual. Pilihan sikap ini bagian dari aktualisasi diri para waliyang memiliki kematangan jiwa yang telah bergeser dari materi menuju meta-motivation.

Page 8 of 42 | Total Record : 411