cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,282 Documents
Gambaran Jumlah Eosinofil Darah Tepi Penderita Asma Bronkial di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang Demas Nico M Manurung; Ellyza Nasrul; Irvan Medison
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i3.143

Abstract

AbstrakAsma merupakan penyakit gangguan inflamasi kronis saluran pernapasan dengan banyak sel serta elemen seluler yang berperan. Asma dihubungkan dengan hiperresponsif bronkus, keterbatasan aliran udara dan gejala pernapasan yang bersifat reversibel. Salah satu sel yang diketahui berperan besar dalam patogenesis asma adalah eosinofil. Eosinofil melepaskan berbagai mediator seperti Major Basic Protein, Eosinophil Cationic Protein, peroksidase eosinofil, leukotrien C4, serta Platelet-Activating Faktor yang akan merusak epitel saluran napas serta menyebabkan peradangan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Desember 2012 di Bagian Rekam Medik RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan tujuan untuk melihat gambaran jumlah eosinofil darah tepi pada penderita asma bronkial yang dirawat inap. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dengan tinjauan retrospektif. Penelitian dilakukan dengan melihat data rekam medis penderita asma bronkial yang dirawat inap di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2010-Desember 2012. Dalam periode dua tahun tersebut, diperoleh 18 sampel yang digunakan pada penelitian ini. Hasil yang diperoleh ialah 4 penderita memiliki jumlah eosinofil darah tepi normal (40-400/mm3) (22,22%) dan 14 penderita memiliki jumlah eosinofil darah tepi dibawah normal (<40/mm3) (77,78%). Tidak ditemukan penderita asma dengan eosinofilia (>400/mm3). Jumlah eosinofil darah tepi pada penderita asma bronkial lebih banyak dibawah normal.Kata kunci: Asma Bronkial, EosinofilAbstractAsthma is a chronic inflammatory disorder of the airways in which many cells and cellular elements play a role. Asthma is associated with hyperresponsif bronchi, airflow limitation, and respiratory symptomps that are reversible. One of cells which is known to play a major role in asthma pathogenesis is eosinophil. Eosinophil release a variety of mediators such as Major Basic Protein, Eosinophil Cationic Protein, Eosinophil Peroxidase, Leukotriene C4, and Platelet Activating Factor that will damage airway epithelium and cause inflammation. The research was conducted in January 2012 through December 2012 at Medical Records Department of RSUP Dr. M. Djamil Padang aiming to see the overview of peripheral blood eosinophil number in patient with bronchial asthma who are hospitalized. The research conducted is using descriptive retrospective review. The study is done by looking medical record data of bronchial asthma patient hospitalized in pulmonary ward of RSUP Dr. M. Djamil Padang in the period of January 2010-December 2012. In the two year period, there are 18 patients which are used in the study. The results are 4 patients had normal peripheral blood eosinophil number (40-400/mm3)(22,22%), 14 patients had low peripheral blood eosinophil number (<40/mm3)(77,78%). There is no patient with eosinophilia (>400/mm3). Peripheral blood eosinophil number in bronchial asthma patient is mostly low.Keywords: Bronchial Asthma, Eosinophil
Peran Narrow Band-Imaging pada Karsinoma Nasofarings Priyanto Priyanto; Camelia Herdini
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.242

Abstract

AbstrakKarsinoma nasofarings (KNF) merupakan keganasan yang paling sering ditemukan pada bagian kepala dan leher yang memerlukan kajian jelas dalam penegakkan diagnosis agar penatalaksanaan yang diberikan sesuai dan akurat. Salah satu kendala yang ditemukan pada KNF adalah diagnosis dini dan rekurensi. Narrow Band-Imaging adalah salah satu teknik pemeriksaan noninvasive dan mudah dilakukan, menggunakan teknik optikal terkini dan filter sinar biru dengan panjang gelombang tertentu, yang mampu meningkatkan sensitivitas pemeriksaan nasoendoskopi dengan pengamatan perubahan struktur vaskularisasi akibat pertumbuhan tumor terutama untuk KNF dengan sifat pertumbuhan endofitik. Pola-pola perubahan vaskularisasi yang ditimbulkan oleh KNF dapat diamati dengan jelas melalui pemeriksaan ini dan diharapkan juga mampu memberikan kepastian waktu bagi klinisi dalam menentukan saat yang tepat untuk melakukan tindakan lanjut yang lebih invasif seperti biopsi sehingga diperoleh hasil yang lebih akurat di saat yang tepat.Kata kunci: Narrow Band-Imaging, Karsinoma Nasofarings, Endoskopi AbstractNasopharyngeal carcinoma (NPC) is the most common cancer in the otolaryngology, head and neck region, that needs an accurate examination for the management. An obstacle in management of NPC is the early diagnosis of the disease and recurrency. Narrow-band imaging, is a non-invasive diagnostic technique, which uses optical technique and special long wave blue filter, that will increase the sensitivity of the nasoendoscopy in the diagnosis of NPC by observing the changes in vascularisation, especially in exophitic growth. This creates on better opportunity of clinician to do more invasive diagnostic testing at earlier stage of the cancer.Keywords:Narrow Band-Imaging, Nasopharyngeal carcinoma, Endoscopy
Kelainan Hemostasis pada Leukemia J Budiman, Bestari; Hafiz, Al
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLatar belakang: Leukemia adalah penyakit keganasan pada jaringan hematopoietik yang ditandai denganpenggantian elemen sumsum tulang normal oleh sel darah abnormal atau sel leukemik. Salah satu manifestasi klinisdari leukemia adalah perdarahan yang disebabkan oleh berbagai kelainan hemostasis.Kelainan hemostasis yang dapat terjadi pada leukemia berupa trombositopenia, disfungsi trombosit,koagulasi intravaskuler diseminata, defek protein koagulasi, fibrinolisis primer dan trombosis. Patogenesis danpatofosiologi kelainan hemostasis pada leukemia tersebut terjadi dengan berbagai mekanisme.Kata kunci: leukemia, kelainan hemostasisAbstractBackground: AbstractLeukemia is a malignancy of hematopoietic tissue which is characterized bysubstituted of bone marrow element with abnormal blood cell or leukemic cell. One of clinical manifestation ofleukemia is bleeding that is caused by several hemostasis disorders.Hemostasis disorders in leukemia such asthrombocytopenia, platelet dysfunction, disseminated intravascular coagulation, coagulation protein defect, primaryfibrinolysis and thrombosis. Pathogenesis and pathophysiology of thus hemostasis disorders in leukemia occur withdifferent mechanism.Keywords: leukemia, hemostasis disorder
Identifikasi dan Penentuan Kadar Boraks dalam Lontong yang Dijual di Pasar Raya Padang Rizki Amelia; Endrinaldi Endrinaldi; Zulkarnain Edward
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.175

Abstract

AbstrakKeamanan makanan merupakan salah satu masalah yang harus mendapatkan perhatian terutama di negara berkembang seperti Indonesia, karena bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Penyebabnya adalah masih rendahnya pengetahuan, keterampilan, dan tanggung jawab produsen pangan terhadap mutu dan keamanan makanan terutama pada industri kecil atau industri rumah tangga. Hal ini menyebabkan produsen sering menambahkan bahan kimia ke dalam produk makanan, salah satunya boraks. Konsumsi boraks dapat menyebabkan mual, muntah, kanker bahkan kematian. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi dan penentuan kadar boraks pada lontong yang dijual di Pasar Raya Padang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan di Laboratorium FMIPA Universitas Andalas Padang dari bulan Januari sampai bulan Desember 2013. Identifikasi dan penentuan kadar boraks dilakukan terhadap 10 sampel lontong yang diambil secara random. Metoda yang digunakan adalah metoda titrasi dan menggunakan larutan standar NaOH. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 10 sampel, didapatkan tidak ada satupun sampel lontong yang mengandung boraks.Kata kunci: boraks, lontong, titrasiAbstractThe food safety is one of problems that should get attention, especially in developing countries like Indonesia, because it can gives a negative impact for health. The cause is lack of knowledge, skill, and responsibility for the quality and safety of food, especially in small industries or home industry. It causes producers often add chemicals to food products, one of which borax. Consumption of borax can cause nausea, vomiting, cancer and even death. This research was to identify and determination of borax in lontong which sold at Pasar Raya Padang. This was a descriptive study at The Chemistry Laboratory, Andalas University Padang from January to December 2013. The identification and determination of borax on 10 samples of lontong taken by random. The method used is titration method using a standard solution of NaOH. The results of the research showed that 10 samples of lontong didn’t contain borax.Keywords: borax, lontong, titration
Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Septum Nasi Bestari J Budiman; Jon Prijadi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i1.70

Abstract

AbstrakAbses septum nasi adalah terkumpulnya pus di antara tulang rawan dengan mukoperikondrium atau tulang septum dengan mukoperiosteum yang melapisinya. Abses septum dapat menyebabkan hidung pelana bahkan komplikasi intrakranial, sehingga diperlukan diagnosis dan tindakan yang tepat dan cepat. Telah dilaporkan satu kasus abses septum pada wanita umur 34 tahun dan telah dilakukan insisi dan eksplorasi abses dalam narkose umum.Kata kunci: Arial 9 Kata Kunci: Abses septum nasi, hematoma septum, hidung pelana.AbstractNasal septal abscess is defined as pus accumulation between cartilage and mucopericondrium or septal bone and mucoperiosteum which is layer it. Septal abscess can cause saddle nose even intracranial complications, requiring additional diagnosis and appropriately and quickly management. Reported one case of septal abscess in woman 34 years old and has been done the abscess incision and exploration in general anaesthesia.Keywords:Nasal septal abscess, haematoma septum, saddle nose.
102 Jurnal Kesehatan Andalas. 2015; 4(1) Pola Komplikasi Kronis Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RS. Dr. M. Djamil Padang Januari 2011 - Desember 2012 Dwi Amelisa Edwina; Asman Manaf; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.207

Abstract

AbstrakDiabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia. DM tipe 2 adalah yang paling sering ditemukan. Komplikasi kronis DM tipe 2 yaitu mikrovaskular dan makrovaskular yang dapat menurunkan kualitas hidup penderita. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang insidensi penderita DM tipe 2 dengan komplikasi kronis. Penelitian deskriptif ini dilakukan dengan mengambil data pada rekam medik penderita DM tipe 2 dengan komplikasi kronis yang dirawat inap di bagian Penyakit Dalam RS.Dr. M. Djamil, Padang Januari 2011-Desember 2012. Penelitian dilakukan dari Februari 2013-April 2013 di bagian rekam medik RS. Dr. M. Djamil Padang. Data didapatkan sebanyak 261 pasien, dari jumlah tersebut didapatkan 197 pasien memiliki komplikasi kronis DM tipe 2. Data dikategorikan berdasarkan jenis komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita dengan komplikasi kronis makrovaskular (66,5%) dan mikrovaskular (81,7%). Terdapat perubahan insidensi dalam dua tahun yaitu dari tahun 2011 dengan 2012. Komplikasi kronis yang paling sering terjadi adalah nefropati diabetik (42,6%) pada perempuan <60 tahun.Kata kunci: diabetes melitus, komplikasi mikrovaskular, komplikasi makrovaskularAbstractDiabetes mellitus is a group of metabolic diseases with characterized by hyperglycemia. Type 2 diabetes is the most common disease in the world. Chronic complications of type 2 diabetes are microvascular and macrovascular complications that can reduce the quality of life of patients. The objective of this study was to obtain a picture of the incidence of type 2 diabetic chronic complications. This descriptive study was conducted by taking medical record data of hospitalized type 2 diabetic patients with chronic complications inInternal Medicine Department Dr. M. Djamil hospital, Padang on January 2011-December 2012. The study was conducted from February 2013-April 2013 at the hospital medical record Dr. M. Djamil, Padang. This study was conducted on 261 patients, from that number 197 patients have chronic complications of type 2 diabetes mellitus. Data were categorized by type of macrovascular and microvascular complications.The results showed that patients with chronic complications of macrovascular (66,5%) and microvascular (81,7%). There is a change in incidence from 2011 to 2012. The most common of chronic complications is diabetic nephropathy (42.6%). Chronic microvascular and macrovascular complications are different incidence in two years, the most common is diabetic nephropathy which often occurs in women <60 years.Keyword: diabetes mellitus, microvascular complication, macrovacular complication.
Hepatitis C pada Anak Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti; Adria Russelly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i2.102

Abstract

AbstrakInfeksi virus hepatitis C saat ini masih merupakan persoalan yang serius. Penularan infeksi HCV pada anak yang utama adalah melalui transfusi darah atau produk darah yang saat ini bertanggung jawab menyebabkan kasus hepatitis C kronis. Selain itu infeksi HCV pada anak dapat disebabkan oleh transmisi perinatal (vertikal). Infeksi HCV akut dapat berakhir dengan sirosis dan karsinoma hepatoselular setelah dekade ketiga (sekitar 20%), karena progresivitas infeksi HCV lebih lambat dari infeksi hepatitis B virus. Pada umumnya infeksi HCV bersifat asimptomatik termasuk pada anak. Karena tidak ada gejala yang jelas pada infeksi HCV tersebut maka diagnosis infeksi HCV hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan awal laboratorium dan uji serologi, dan bila perlu dengan uji molekuler pada pasien dengan risiko tinggi. Kebijakan kuratif khusus terhadap HCV adalah terapi antivirus berupa interferon dan ribavirin yang diberikan bila diagnosis HCV sudah ditegakkanKata kunci: Hepatitis C, diagnosis and management problem, childrenAbstractHepatitis C virus infection is still a serious problem. Transmission of HCV infection in children is a major blood transfusion or blood products that are currently responsible for causing chronic hepatitis C cases. Additionally HCV infection in children can be caused by perinatal transmission (vertical). Acute HCV infection may end up with cirrhosis and hepatocellular carcinoma after the third decade (around 20%), due to a slower progression of HCV infection of hepatitis B virus infection. In most cases of HCV infection are asymptomatic, including in children. Since there are no obvious symptoms in the diagnosis of HCV infection HCV infection can only be confirmed by laboratory examinations and serologic testing early, and if necessary with molecular testing in patients at high risk. Curative policy is specific to HCV antiviral therapy such as interferon and ribavirin are given when the diagnosis of HCV has been establishedKeywords:Hepatitis C, diagnosis and management problem, children
Korelasi antara Latent Membrane Protein-1 Virus Epstein-Barr dengan P53 pada Karsinoma Nasofaring (Penelitian Lanjutan) Yenita .; Aswiyanti Asri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v1i1.1

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor yang unik karena etiologi dan distribusi endemiknya. Di daerah endemik, etiologi KNF berkaitan dengan infeksi EBV. Infeksi EBV yang laten dan persisten pada KNF menunjukkan pola laten tipe II yang ditandai dengan ekspresi EBNA-1, LMP-1, 2 dan EBER. LMP-1 merupakan gen laten EBV yang pertama ditemukan yang dapat mentransformasi galur sel, merubah fenotip sel, menginduksi proliferasi dan mencegah apoptosis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui korelasi antara ekspresi LMP-1 EBV dengan ekspresi p53 pada KNF. Cara: Empat puluh sembilan slaid HE dan blok parafin dari KNF dianalisis dan dipulas secara imunohistokima dengan antibodi LMP-1 EBV dan p53. Korelasi antara ekspresi LMP-1 dengan ekspresi p53 diuji dengan menggunakan uji Korelasi Pearson. Nilai p
Jurnal Kesehatan Andalas. 2013; 2(2) Malrotasi dan Volvulus pada Anak Yusri Dianne Jurnalis; Yorva Sayoeti; Adria Russelly
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i2.135

Abstract

AbstrakMalrotasi dan volvulus merupakan kasus gawat darurat dibidang bedah anak yang memerlukan intervensi segera. Malrotasi dan volvulus kebanyakan terjadi pada periode neonatus walaupun pada beberapa kasus dilaporkan terjadi pada usia anak besar bahkan dewasa. Manifestasi klinis berupa muntah hijau dengan atau tanpa distensi abdomen yang berhubungan dengan obstruksi duodenum atau volvulus midgut. Keterlambatan diagnosis dan talaksana dapat mengakibatkan terjadinya nekrosis intestinal, short bowel syndrome, dan ketergantungan pada nutrisi parenteral total. Mortalitas pada neonatus diperkirakan mencapai angka 30% pada sekitar tahun 1950, namun angka mortalitas tersebut semakin menurun mencapai 3% - 5%. Penanganan operatif yang darurat seringkali dibutuhkan untuk mencegah iskemia intestinal atau untuk melakukan reseksi pada lengkung usus yang telah mengalami infark.Kata kunci: malrotasi, volvulus midgut, prosedur Ladd, anakAbstractArial 9 italic Malrotation and volvulus is an emergency case in the field of surgery that requires immediate intervention. Malrotation and volvulus mostly occur in the neonatal period although in some cases have been reported in the age of the children and even adults. The clinical manifestations of vomiting green with or without abdominal distension associated with duodenal obstruction or midgut volvulus. Delay in diagnosis and management can lead to intestinal necrosis, short bowel syndrome, and dependence on total parenteral nutrition. Neonatal mortality rate is estimated at 30% in the 1950s, but the mortality rate has declined approximately 3% - 5%. Handling emergency operative is often needed to prevent intestinal ischemia or to perform bowel resection in the arch that has undergone infarction.Keywords:Malrotation, volvulus, Ladd procedure, children
Pengaruh Valsartan Terhadap Fibrosis Ginjal pada Obstruksi Ureter Alvarino Alvarino
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v1i2.38

Abstract

AbstrakPendahuluan : Obstruksi ureter merupakan kondisi yang dapat terjadi pada setiap usia dengan levelbervariasi dengan efek terburuk berupa gagal ginjal permanen. Terdapat berbagai mekanisme yang berperandalam terjadinya kerusakan ginjal pada obstruksi ureter. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruhvalsartan untuk memperbaiki kerusakan ginjal pada kondisi tersebut. Metode : Dilakukan penelitian eksperimentalmenggunakan 30 ekor tikus wistar dengan obstruksi ureter unilateral melalui pengikatan ureter kiri yang dibagimenjadi dua kelompok, tanpa pemberian valsartan dan dengan pemberian valsartan. Pada hari ke-14 dinilai dandibandingkan fibrosis interstisial, degenerasi hidrofik, dan atrofi tubulus pada kedua kelompok dengan pulasanhematoksilin-eosin. Hanya tikus yang tetap hidup hingga melewati hari ketujuh yang dimasukkan dalam penelitian.Hasil : Dari tiga belas tikus wistar pada kelompok obstruksi ureter unilateral tanpa pemberian valsartan, didapatkan11 tikus mengalami fibrosis interstisial pada ringan dan 2 tikus mengalami fibrosis interstisial sedang, sementaraseluruh tikus wistar pada kelompok dengan valsartan mengalami fibrosis interstisial ringan (p > 0.05). Tidakterdapat perbedaan bermakna untuk degenerasi hidrofik epitel tubulus antara kelompok tanpa valsartan dandengan valsartan (31.46 vs 33.67, p > 0.05). Tidak terdapat pula perbedaan bermakna untuk atrofi tubuli antarakedua kelompok (61.78 vs 62.07, p > 0.05). Kesimpulan : Pemberian valsartan dengan dosis antihipertensi tidakmengurangi tingkat fibrosis interstisial, degenerasi hidrofik, maupun atrofi tubulus pada obstruksi ureter unilateralpada tikus wistarKata kunci: obstruksi ureter unilateral, valsartan, fibrosis interstisialAbstractIntroduction: Ureteral obstruction is a condition that might happen at any age in any level with the worstcomplication is permanent renal damage. There are several mechanisms that play role in renal damage in ureteralobstruction. This experimental research is aimed to observe the effect of valsartan to attenuate renal damage inunilateral ureteral obstruction. MethodsExperimental research was performed using 30 wistar rats with unilateralureteral obstruction achieved by ligation of the left ureter. Rats then divided into two groups, no treatment groupand valsartan group. At the 14th day, evaluation was performed to compare interstitial fibrosis, hydrophilicdegeneration, and tubular atrophy between the two groups using haematoxylin-eosin staining. Only rats surviveuntil at least 7th day are included in the study. ResultFrom thirteen wistar rats in no treatment group, two of themhaving moderate interstitial fibrosis and eleven with mild interstitial fibrosis while all rats in valsartan group had mildinterstitial fibrosis (p > 0.05). There is no significant difference on hydrophilic degeneration between no treatmentand valsartan group (31.46 vs 33.67, p > 0.05). There is also no significant difference in tubular atrophy betweenthe two groups (61.78 vs 62.07, p > 0.05). ConclusionValsartan therapy in antihypertensive dosage has nosignificant effect in to attenuate interstitial fibrosis, hydrophilic degeneration, and tubular atrophy in unilateralureteral obstruction in wistar rats.Keywords: unilateral ureteral obstruction, valsartan, interstitial fibrosis

Page 5 of 129 | Total Record : 1282


Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue