Journal of Contemporary Indonesian Art
Journal of Contemporary Indonesia Art is a scientific journal that contains the results of research or creation on contemporary art related to Indonesia. Contemporary art is defined as the latest art phenomenon. Art includes a wide variety of fine arts such as painting, sculpture, graphics, ceramics, comics, New media art, as well as other forms of art, including types that have not been categorized. The limitation is that the work is more concerned with aesthetic value than functional value. The term Indonesia refers to works of art that are related to Indonesia.
Articles
115 Documents
SISI FEMINIM WANITA SEBAGAI IDE PENCIPTAAN SENI LUKIS
Reza Pratisca Hasibuan
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/jocia.v6i1.4729
Manusia diciptakan dengan berbagai macam rupa dan bentuk yang berbeda-beda. Setiap bagian tubuhnyapun memiliki fungsi serta kegunaannya tersendiri. Begitu juga dengan wanita, karena setiap wanita memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Kecantikan yang dimiliki bukan hanya yang terlihat dari luar atau secara fisik saja, namun juga dari dalam hatinya, itu merupakan hal yang terpenting untuk terus dijaga. Kemajuan teknologi serta sosial media yang semakin banyak, semakin mempermudah wanita untuk mendapatkan kecantikan yang diinginkan. Kecantikan yang didapatkan secara instan, seperti operasi plastik misalnya, yang menjadi sebagai sarana untuk memuaskan keinginan wanita dalam segi penampilan fisik yang maksimal. Tidak peduli hal itu dapat merusak tubuhnya atau tidak, dapat merugikan diri sendiri atau tidak, yang terpenting adalah agar mereka mendapatkan apa yang diinginkan secara cepat dan mudah. Dari peristiwa-peristiwa tersebut maka hadirlah judul Wanita sebagai ide dalam penulisan ini dan dihadirkan dalam bentuk karya dua dimensional. Diharapkan melalui karya ini dapat memberikan wawasan baru serta penyadaran bahwa kecantikan bukan hanya yang terlihat di luar saja namun juga dalam hati setiap wanita.Kata kunci: Wanita, Kecantikan, Lukis.
Kolong Jembatan Siluk Sebagai Ruang Pendidikan Seni dan Lingkungan Bagi Anak-Anak
Karen Hardini
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/jocia.v7i1.5260
Sekolah Sungai Jembatan Edukasi Siluk (JES) merupakan komunitas non-profit yang berlokasi di kolong jembatan sungai siluk, imogiri, Bantul, Yogyakarta. JES mengadaptasi konsep sekolah alam yang berbasis alam semesta. Secara fisik, bentuk sekolah bukan gedung atau bangunan, melainkan kolong jembatan yang dikelilingi alam sebagai ruang kreatif berkesenian. Tulisan ini membahas tentang transformasi pada praktik pendidikan seni anak-anak JES dalam kerja kolaborasi, mengelaborasi praktik ekologis dan pendidikan kesenian. Penelitan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan dibantu dengan metode multi-site etnografi etnografi dan netnografi). Data kemudian dianalisis menggunakan teori transit-transisi Maruška Svašek untuk mengetahui bagaimana proses transit-transisi kehadiran JES dari kondisi lingkungan alam yang kumuh menjadi ruang kreatif untuk praktik pendidikan seni anak-anak. Hasil penelitian menunjukan bahwa perubahan ruang kreatif JES tidak sekedar mentransformasi tapi juga mentransubstansi dari kolong jembatan yang dianggapan kumuh menjadi available. JES hadir dalam konsep sekolah alam menitikberatkan pada penanaman menghargai dan memandang alam sebagai sesuatu yang perlu dipelihara. Anak dikenalkan kepada lingkungan sekitar lewat eksplorasi langsung seperti penggunaan media seni alam dari pertanian, peternakan, dan barang bekas untuk berkesenian. Pameran seni lukis juga diadakan JES untuk menajamkan kepekaan rasa, kesadaran inklusif, kesadaran berpikir out of the box, kebebasan berekspresi dan apresiasi anak terhadap karya seni.
XXY JOURNEY PROBLEMATIKA INDIVIDU INTERSEKS DALAM DRAWING DENGAN METODE AUTOETNOGRAFI
Chandra Rosselinni
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/jocia.v6i1.3900
Keberadaan individu interseks berikut segala isu yang terkait dengan eksistensi mereka bukanlah hal yang baru dalam masyarakat, eksistensi interseks adalah sebuah kasus nyata dan bukan hanya dongeng tentang hermaprodit yang berasal dari mitologi Yunani. Pada abad 8 M, catatan keputusan hukum Islam membahas individu-individu yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai khuntha dan PBB menyatakan sekitar 1,7% penduduk dunia adalah interseks. Dalam istilah Bahasa Indonesia, seringkali digunakan istilah kerancuan kelamin atau kelamin ganda. Interseks atau saat ini disebut DSD (Disorders of Sex Development). Latar belakang penulis yang terlahir interseks dengan kromosom 47XXY chromosome mosaicism penulis terdorong untuk berbagi pengalaman, mengalami sebagai individu interseks memaparkan kompleksitas dan problematika individu interseks dari masa anak-anak hingga dewasa, dengan pendekatan yaitu metode autoetnografi dalam penciptaan karya drawing dengan visual self portrait, penerapan metode Autoethografi juga dilakukan untuk memahami diri sendiri (self-narative) melalui penciptaan karya drawingKata kunci: Interseks, Autoetnografi, drawing.
BARANG SEHARI-HARI SEBAGAI METAFOR DALAM PENCIPTAAN SENI PATUNG
Hari Bagus Sufajar
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/jocia.v6i2.5098
Barang Sehari-hari Sebagai Metafor dalam Penciptaan Seni Patung sebagai judul pada tugas akhir. Ketertarikan penulis dengan barang sehari-hari karena penulis merasa setiap barang yang ditemuinya mempunyai nilai estetik dan mempunyai karakter bentuknya yang menarik untuk diwujudkan ke dalam karya seni patung. Karena itulah penulis tertarik menggunakan material barang sehari-hari sebagai sumber ide penciptaan karya seni patung. Barang sehari-hari yang digunakan penulis adalah barang yang sering ditemui penulis seperti barang yang sudah tidak terpakai, found object atau objek temuan dan barang yang tersedia oleh alam. Barang-barang yang dipilih akan diolah menjadi karya seni patung melalui proses penggabungan dan metafor sehingga memiliki bentuk dan pemaknaan yang baru. Sebuah karya seni patung dapat diwujudkan menggunakan material barang sehari-hari yang telah melalui proses pengolahan estetik dan metafor. Barang dipilih untuk diolah dan digabungkan menjadi bentuk baru dengan nilai fungsi yang berbeda. Nilai fungsi yang berbeda pada barang yang dimaksud penulis karena adanya proses pengolahan metafor pada barang sehari-hari menjadi sebuah karya seni patung yang mempunyai maksud dan nilai ungkap yang akan disampaikan oleh penulis. Sehingga dalam karya ini, penulis mencoba merubah bentuk dan menggabungkan barang sehari-hari yang awalnya bersifat fungsional atau non fungsional menjadi sebuah karya seni patung.Kata kunci : Barang sehari-hari, found object, metafor.
ASPEK KOMUNIKASI VISUAL DAN ESTETIKA PADA KARYA DESAIN GRAFIS BERGAYA GLITCH ART
Namuri Migotuwio
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/jocia.v6i1.3901
Seni kontemporer berkembang dan mengakomodir berbagai teknik dan media dalam berkarya. Teknologi menjadi salah satu bagian dari proses berkesenian bahkan menjadi media berkesenian itu sendiri. Dalam praktik berkesenian saat ini, keberadaan teknologi mampu merubah cara pandang dan juga cara produksi sebuah karya seni. Salah satu karya seni yang sedang berkembang dewasa ini adalah trend desain bergaya glitch art, yang mulai diterima dan banyak direplikasi kedalam berbagai karya seni dua dimensi dan audio visual. Penelitian ini akan menggali lebih dalam tentang bagaimana pengaruh gaya glitch art pada karya desain grafis dengan pendekatan posstrukturalisme, serta menganalisa aspek estetika dan komunikasi visual pada karya dengan pendekatan teori desain komunikasi visual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode purposive sampling, observasi dan studi literatur. Hasil dari studi analisis ditemukan bahwa dalam konstruksi posstrukturalisme karya glitch art membuka pintu kreativitas bagi para desainer grafis untuk menciptakan karya tanpa dibatasi aturan tertentu. Aspek komunikasi dalam karya desain bergaya glitch art dapat diinterpretasi melalui pembacaan simbol-simbol yang ada, dan untuk menangkap aspek estetika pada karya glitch art harus memandang gagasan tanpa dibatasi oleh sekat aturan visualisasi yang selama ini dibangun.Kata Kunci : glitch art, grafis, posstrukturalisme, estetika, komunikasi
Figur Monster Sebagai Metafora Kejahatan Seksual Terstruktur dalam Visualisasi Seni Grafis
Prasojo Yulistianto
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/jocia.v7i1.5271
Kejahatan seksual terhadap wanita sering terjadi di dunia kerja, dalam bentuk pelecehan seksual. Tindakan ini dapat terjadi di perusahaan kecil maupun besar, dan ironisnya dapat pula terjadi di lembaga pendidikan yaitu sekolah. Pada dunia kerja pelecehan sering terjadi antara atasan dan bawahan, sedangkan pada lembaga pendidikan antara pengajar dan murid, antara yang memiliki kuasa/kebijakan dan penerimanya. Hal ini adalah kenyataan pahit yang memang terjadi dan masih berulang. Tingkat pendidikan dan status sosial seseorang terkadang tidak menjamin dirinya memiliki nilai-nilai moral yang baik dan stabil, karena nilai moral manusia bersifat fluktuatif, terkadang naik dan turun. Penyebabnya adalah anggapan bahwa wanita dipandang hanya sebagai objek seks saja, hal ini menghilangkan sisi kemanusiaan pelakunya dan kurangnya pelatihan pada pegawai, atau edukasi pada murid bagaimana cara untuk mencegah tindakan ini menimpa mereka serta penyelesaiannya. Pelecehan seksual mengakibatkan kerugian baik secara fisik maupun mental pada korbannya. Penulis ingin mengungkapkan gagasan kritisnya mengenai fenomena ini lewat karya seni grafis, menghadirkan figur monster sebagai wujud metaforik.
“Dinamika Merantau”: Perwujudan Kristalisasi Memori dalam Karya Lukis
Haidarsyah Dwi Albahi
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/jocia.v7i2.5861
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penciptaan karya lukis dan wujud visualisasi karya berdasarkan ekspresi personal terhadap dinamika kehidupan yang terjadi di perantauan. Pustaka ini mengandung nilai kesadaran dan motivasi untuk mengarungi hidup dari sudut pandang pencipta sebagai mahasiswa perantau. Pada bagian proses penciptaan karya terdapat beberapa tahapan antara lain; 1) pemanfaatan sumber data literasi, 2) riset media meliputi eksperimen bentuk visual, eksperimen teknik garap dan tahap perenungan. Visual tampilan wujud karya lukis bernuansa hitam putih menggunakan eskpresi simbolik personal. Penciptaan karya lukis dengan tema “dinamika merantau” menghasilkan tiga buah karya lukis yang berjudul “home sweet home”, kedua “dream in forest”, dan ketiga “belenggu kebebasan”.This research aims to find out the process of creating paintings and the visualization of works based on personal expressions of the dynamics of life that occur in the field. This library contains the value of awareness and motivation to wade through life from the creator's point of view as a nomad. In creating work, there are several stages, namely 1) the utilization of literacy data sources, 2) media research including visual form experiments, work engineering experiments and contemplation stages. Visual display of black and white paintings using personal symbolic expression. The creation of paintings with the theme "regional dynamics" resulted in three paintings entitled "home sweet home", both "dream in a forest", and third "shackles of freedom".
Public Art And The Impact It Has On The Society
Hilary Adina Theresa Cuffie
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/jocia.v7i2.6080
Public art is an art form that is displayed in public spaces; it’s for everyone to enjoy. Its existence creates interests, entertainment, and beautifies the environment. Public art fulfills a variety of functions within the public sphere, providing opportunities for, artistic self-expression; community dialogue; education and enjoyment; inspiring participation in appreciation and creation of art; community problem solving; enhancement of the physical infrastructure and environment; and demarcation, celebration and transformation of places. This research aims to explore the impact public art has on the society. The literature review, document analysis and interview were done to help justify the findings of the investigation. The research found that there are multidimensional impacts of public art in urban environment(s). The perceived benefits of art that is displayed in public spaces either in physical, social, or cultural domains suggest that public art is very prominent in creating liveability and sustainability of the city.Seni publik adalah bentuk seni yang ditampilkan di ruang publik; itu untuk dinikmati semua orang. Keberadaannya menciptakan minat, hiburan, dan memperindah lingkungan. Seni publik memenuhi berbagai fungsi dalam ruang publik, memberikan kesempatan untuk ekspresi diri artistik; dialog komunitas; pendidikan dan kesenangan; partisipasi yang menginspirasi dalam apresiasi dan penciptaan seni; pemecahan masalah masyarakat; peningkatan infrastruktur fisik dan lingkungan; dan demarkasi, perayaan dan transformasi tempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak seni publik terhadap masyarakat. Tinjauan pustaka, analisis dokumen dan wawancara dilakukan untuk membantu membenarkan temuan penyelidikan. Penelitian ini menemukan bahwa ada dampak multidimensi seni publik di lingkungan perkotaan. Manfaat yang dirasakan dari seni yang ditampilkan di ruang publik baik dalam ranah fisik, sosial, maupun budaya menunjukkan bahwa seni publik sangat menonjol dalam menciptakan liveability dan keberlanjutan kota.
Relasi Narasi Visual dan Teks dalam Ikon Transfigurasi Paroki St. Dionysios Yogyakarta
Alex Cristian Justisia Ginting
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/jocia.v7i2.6078
Seni lukis Byzantine adalah salah satu warisan kesenian dunia yang belum banyak dibahas oleh kalangan akademisi seni di Indonesia. Warisan seni lukis Byzantine sering disamakan dengan Ikonografi, yaitu gambar-gambar suci yang sampai hari ini masih dipertahankan fungsinya dalam gereja-gereja yang menggunakan ritus Byzantine (Gereja Orthodox dan Gereja Katolik Ritus Byzantine). Seni Byzantine dibagi tiga periode, yaitu awal, tengah, dan akhir, dimana pada periode Tengah-Akhir muncul ikon berjenis Menologion. Seni lukis Byzantine dikaji menggunakan Ikon Pesta Transfigurasi yang merupakan digitalisasi dari ikon aslinya yang berasal dari abad ke-16 untuk menjelaskan bentuk visual, struktur dan hubungannya dengan narasi. Kajian menemukan ada kesamaan antara visualisasi narasi ikon dengan struktur pesta Gerejawi yang memiliki tiga pola (Pra Pesta – Pesta – Pasca Pesta/Apodosis).Byzantine painting is one of the world's artistic heritage that art academics have not widely discussed in Indonesia. The legacy of Byzantine painting is often equated with iconography, which is sacred images that still retain their function in churches that use the Byzantine rite (Orthodox Church and Byzantine Rite Catholic Church). Byzantine art had developed in three periods, namely beginning, middle, and end, wherein the Middle-Late period, an icon of the Menologion type appears. The byzantine painting was studied using the Transfiguration Feast Icon, digitizing the original icon dating from the 16th century to explain its visual form, structure, and relationship to narrative. The study found similarities between the visualization of the iconic narrative and the ecclesiastical party structure with three patterns (Pre Pesta – Pesta – Post-Pesta / Apodosis).
Pengembangan Scrapbook Sebagai Media Karya Kreatif dan Art Therapy
Yemima Yoke Handakara
Journal of Contemporary Indonesian Art Vol 7, No 2 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24821/jocia.v7i2.6081
Pandemi virus Corona (COVID-19) yang berkepanjangan membuat masyarakat merasa jenuh dan bosan. Adanya kebijakan Work From Home (WFH) membuat masyarakat mau tidak mau membatasi ruang gerak mereka. Keadaan perekonomian masyarakat yang terpuruk juga membuat keadaan menjadi semakin sulit bagi kebanyakan orang. Satu per satu tren kreatif sebagai ungkapan menghibur diri bermunculan. Salah satunya scrapbook yang bukan hanya sebagai media pengasah kreatifitas, tetapi juga bisa menjadi media menulis (diary). Penelitian ini memiliki tujuan untuk membuat kreasi scrapbook sebagai media kreasi sekaligus sebagai alat art therapy. Penelitian yang dilakukan menggunakan metode pendekatan estetika dan metode penelitian Practice Based Research.The prolonged Corona virus (COVID-19) pandemic has made people feel bored and bored. The existence of the Work From Home (WFH) Policy has made people not want to limit their space. The deteriorating state of the community's economy also made things even more difficult for most people. One by one, creative trends as expressions of self-entertainment emerge. One of them is scrapbook, which is not only a creative media sharpener, but also a written media (diary). This research aims to make scrapbook creations as a creative medium as a therapeutic art tool. The research was conducted using an aesthetic approach and practical research based research methods.