Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles
1,224 Documents
Socrates and Suhrawardi: Historical Affinities?
Roxanne D. Marcotte
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2002.11.1-33
Socrates (469-399 SM) dan Suhrawardi (m. 1191 M) hidup di dua dunia yang sangat berbeda, baik secara waktu, tempat, budaya maupun kepercayaan yang ada disekitar mereka. Perbedaan itu iuga mempunyai konsekuensi pada perbedaan hidup dan pemikiran mereka. Walaupun demikian, anehnya, mereka mempunyai kesamaan. Kesamaan mereka adalah pada upaya mereka untuk menyingkap hakekat sesuatu. Sedangkan kesamaan yang lain adalah bahwa hidup mereka sama-sama berakhir secara tragis. Socrates yang tidak pemah menulis apapun, terkenal dengan metode dealektikanya. Dialektika Socrates, sebagai upaya investigasi kritis, adalah sarana untuk menjangkau hakekat sesuatu di luar kepercayaan umum saat itu. Dengan dialektika, socrates berusaha untuk melawan hegemoni kaum agamawan dan masyarakat Athena saat itu yang acuh dengan kebenaran. Dengan mengenalkan penalaran induktil, Socrates mencoba menyingkap hakekat universal tentang Tuhary tentang keadilan dll. Suhrawardi, di pihak lain, mempunyai tujuan yang sama dengan socrates, tapi dengan metode yang berbeda. Misteri tentang perbedaan dalam kesamaan inilah yang akan disingkap dalam artikel ini.
Wajah Islam Liberal di Indonesia: Sebuah Penjajagan Awal
Zuly Qadir
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 2 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2002.402.325-353
This article tries to describe contemporary Islamic thought in Indonesia, which is influenced by modern and critical social sciences. The Islamic Liberalism is considered by some people as a new school (madzhab) in the Indonesian Islamic thought. What is the relevance of the Islamic Liberalism while Indonesia in economic crisis? Who are the figures of the Islamic Liberalism in Indonesia? The Islamic Liberalism mostly concerned with how Islam deals with modernity such as democracy, pluralism, the state, gender, etc. The methodology of the Islamic Liberalism is to perceive new interpretation toward Islamic doctrine of Al-Qur'an and Hadith, social history and social context of Muslim society by employing the science of language, historical critics and social sciences. Nurcholish Madjid, Qohan Effendy, Abdurrahman Wahid and Ahmad Wahib are among those who set the embryo of the Islamic Liberalism in Indonesia. After them, some young intellectuals from NU, Muhammadiyah and other NGOs have been developing and becoming the avant-gardes of the Islamic Liberalism. They have a distinct thought that is not sectarian, ideological and parochial. How is the future of this new genre of Islamic thought in Indonesia? To understand them, we should have a look at their activities either theoretically (discourses) or practically.
Pertautan Epistemologi Bayani dan Pendidikan Islam Masa Keemasan
Mahmud Arif
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2002.11.126-154
Historically, the current Islamic thought is essentially a continuation of the result of Islamic thought theorizing that peaked in the Golden ages (III - V H). As a consequence of bayaniyyun domination the product of Islamic thought in the Golden ages has succeeded to build an image that Islamic Arabic thought inherited by us currently is nothing but an "Islamic law" civilization. This can be viewed from epistemological fact; the wriggle of Islamic Arabic thought is always present at the firm hegemony of bayani reason structure attaining a supremacy momentum from Islamic humanism and scholasticism movements.Furthermore, the bayani reason structure has subsequently permeated into Islamic education as a cultural "reason" for education at that time. Then, this permeating has caused appearing of "the religious-conservative" education school that less is appreciated to every rational impact from "outside", so that tends to make marginal intellectual sciences. It was natural in its development, "intellectualism" becomes overcast from the realm of Moslem consciousness. This reality has been made worse by madrasa as a par excellence institution in the Islamic world that has changed its function as only a "wagon" mover of bayani tradition. This article tries to investigate the process of awakening of bayani epistemology and its linkage with Islamic Education in the Golden ages with Islamic education in the Golden ages.
Daur al-Lugoh al-Arabīyah fī Takwīn Mufrodāt al-Lugoh al-Indūnīsīyah
M Muhaiban
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 41, No 2 (2003)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2003.412.423-439
Bahasa Arab dan agama Islam adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya ibarat ruh dan jasad. Perhatian terhadap Bahasa Arab merupakan salah satu factor penguat bagi agama Islam,dan ketidakpedulian terhadap Bahasa Arabmerupakan factor yang dapat memperlemah agama Islam. Bahasa Arab telah masuk ke Indonesia sejak abad ke delapan Masehi Bersama dengan maksuknya agama Islam melalui para pedagang muslim Gujarat dan Persia. Kontak antara Bahasa Arab dan Bahasa Indorsia yang pada awalnya terjadi melalui dakwah ini disamping melahirkan hubungan yang era tantara kedua Bahasa, juga melahirkan proses pemerkayaan Bahasa Indonesia melaui serapan Bahasa Arab. Pada mulanya serapan banyak terjadi pada aspek kosa kata yang terkait dengan istilah keagamaan, akan tetapi pada perkembangannya meluas pada aspek Bahasa yang lain dan meliputi berbagai bidang ilmu.
Menggagas Kalender Islam Internasional
Book Review
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 2 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2002.402.489-492
Bulan Ramadlan telah usai. Hari Raya Idul Fitri 1423 H dengan pelaksanaan yang berbeda hampir berlalu. Namun, untuk kepentingan jangka panjang, masih ada hal yang harus diselesaikan. Yakni, unifikasi kalender Islam yang bersifat internasional untuk kepentingan peribadatan umat Islam. Dalam kehidupan sehari-hari umat Islam menggunakan kalender Masehi sebagai acuan untuk kepentingan transaksi, perjanjian, dan administrasi. Selain itu, umat Islam juga menggunakan kalender Hijriah untuk penjadwalan waktu ibadah dan hari-hari besar Islam. Untuk itu, umat Islam perlu memahami konsekuensi hidup dalam dua kalender ini, agar bisa memahami mengapa di satu negeri bisa berhari raya lebih dulu atau lebih lambat dari umat islam di lndonesia. Oleh karena itu tinjauan buku ini mencoba menelaah kontribusi buku Mohammad Ilyas yang berjudul Astronomy of Islamic CaJendar.
Non-Muslim (Western) Scholars' Approach to Hadith. An Analytical Study on the Theory of “Common Link and Single Strand”
Kamaruddin Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2002.11.34-55
UIN Alauddin MakassarDalam studi hadith, ada perbedaan fundamental antara metode yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim dengan metode yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Barat. Sarjana-sarjana Muslim menekankan pada penelitian tentang bagaimana memilah hadith sahih dari yang palsu, sedangkan penelitiaan hadith di barat adalah how to date a particular hadith ( bagaimana menentukan tanggal atau umur) hadith tertentu untuk menaksir asal-usulnya. Hal ini disebabkan karena Sebagian besar, untuk tidak mengatakan semuanya, sarjana-sarjana barat percaya bahwa sangat sedikit, kalaupun ada, hadith yang bisa disandarkan secara historis kepada Nabi. Oleh karena itu, penelitian tentang kapan, siapa dan dimana hadith yang sedang diteliti dibuat harus dilakukan. Untuk menjawab pertanyaan sentral tersebut sejumlah metode telah dikembangkan dalam kesarjanaan barat ( Westem scholarship). Diantara metode tersebut dikenal teori common link yang telah menelorkan sejumlah konsep seperti single strand, partial common Iink, spider, driving dll.Teoi common link pertama kali diperkenalkan oleh Joseph Schacht dalam bukunya The Origins of Muhammadan Jurisprudence (1950) yang mendapat inspirasi dari Ignaz Goldzther dalam bukunya Muhammadan Studien. Teori tersebut secara umum telah menginspirasi sariana Barat yang datang sesudahnya. Diantara yang paling setia, yang bukan hanya mengadopsi teori Schacht tapi telah mengembangkannya secara signifikan dalam skala besar, meskipun berbeda dari Schacht dalam sejumlah point penting, adalah G.H.A. Juynboll. Sebaliknya kritik tajam terhadap sejumlah premis dan methodologi Schacht dan Juynboll diartikulasikan oleh Harald Motzki dalam karya monumentalnya Die Anfange der Islamischen Jurisprudence. Ihre Entwicklung in Mekka bis zur Mitte des 2./8. Jahrhundert 1991, meskipun kemudian dikritik oleh Irene Schneider. Polemik tentang akurasi teort common link dan implikasi metodologis yang ditimbulkannya sampai hari ini masih terus berlangsung dalam journal international studi Islam seperti Der Islam. Bagaimana teori tersebut bekerja dan sejauh mana akurasi teori tersebut dapat menyajikan taksiran historis untuk menentukan kualitas hadith akan dibahas dalam artikel ini.
The Debate on Muslim Family Law Reforms in Indonesia: The Case of Representation of Heirs and Obligatory Bequest’
Euis Nurlaelawati
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 41, No 2 (2003)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2003.412.243-275
Kebutuhan terhadap pembaharuaan hukum keluarga Islam di Indonesia sudah mulai diartikulasikan sejak tahun 1940-an. Namun, realisasi dari kebutuhan tersebut baru tercapai Ketika Kompilasi hukum Islam melalui Istruksi Presiden disahkan pada tahun 1991. Hasil dari Kerjasama antara Departemen Agama dan Mahkamah Agung yang kemudian diklaim sebagai ijtihad kolektif ‘ulama Indonesia itu disebut dengan baik oleh berbagai kalangan dan dianggap sebagai suatu Langkah besar dalam sejarah perkembangan hukum Islam di Indonesia. Walaupun demikian, beberapa aturan yang termuat dalam kompilasi masih dipertanyakan oleh sejumlah tooh Islam. Aturan yang dipakai untuk menengahi atauran atau adat dan huku Islam mengenai status anak angkat dalam warisan, di mana adat menganggap anak angkat dan juga orang tua angkat sebagai anak dan orang tua asli, sehingga mereka berhak saling mewarisi, sementara hukum Islam menentang praktek kewarisan tersebut, juga diperdebatkan. Aturan ini dianggap berlebihan dan tidak mempunyai dasar yang kuat dalam teks al-Qur’an dan telah menyimpang dari prinsip kewarisan Islam. Artikel ini akan mencoba mendiskusikan perdebatan kedua atauran tersebut dan mencari titik masalah dari perdebatan tersebut.
Pendekatan Modern terhadap l'jaz Al-Qur'an
M. Rafi Yunus
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 2 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2002.402.354-400
I’jaz al-Qur'an is one of the important dogma in Islam; it is derived from many Qur'anic verses. The dogma stipulates that the Qur'an is inimitable. But what is inimitable in the Qur'an remains to be discussed among Muslim scholars. At the outset of development of the study of the Qur'an, the classical writers considered the balaghah (rhetorical excellence) of the Qur'an to be its I’jaz. They argue that though the Qur'an did not specify this, one can understand that the Arabs -with all their expertise in the field of literary genre- was challenged to produce a piece of work, as eloquence as the Qur'an. On the other hand, modern writers considered that what is inimitable in the Qur'an was not only its balaghah but also its contents in general, and its messages. The contents and messages of the Qur'an, which are carefully knitted in an excellent balaghah constitute the most Solid materials that are inimitable by anyone. The paper presents, describes, and to some points, compares, the theories of classical and modem writers among Muslim scholars concerning I’jaz aI-Qur'an, to find out the features of modern theories that was not yet elaborated in the classical theories.
Strategi Dakwah Islam dalam Pendekatan Rasional Transendental
Andy Dermawan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2002.11.155-174
This article tries to apply the transcendental rational approach to the preaching of Islam. The characteristic preaching of Islam in transcendental rational approach relies on how ratio works in catching reality in the real world empirically, and then we analyze through an intergalactic combination between "fikir" and "zikir" to answer mankind's problems based on Allah's sayings and the prophet's tradition. The author tries to offer preaching of Islam's comprehension scientifically as follow: (1). Normatif preaching i.e., preaching of Islam which is based on Al-Qur'an and Hadith and is analyzed hermeneutical, dialectical, systematically in order to seize the moral teachings integrally without doing any reductions on both sources; (2). Historic preaching i.e., preaching of Islam which develops post Rasulullah's life up to recent days which is made as consideration to understand both sources (Al-Qur'an and Hadith). Whereas the characteristic of historic preaching is always open for changes, criticism, and giving reinterpretation and comprehension toward the reality of existing preaching.
Menggugat Keakraban Al-Quran Melalui Qira’ah (Syiria-Aramaika)
Mohamad Nur Kholis Setiawan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 41, No 2 (2003)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/ajis.2003.412.441-457
Buku Berjudul Die Syro-Aramaeische Lesart des Koran: Ein Beitrag Zur Entschlusselung der Koranspache karya sarjana Jerman Bernama samara Christoph Luxenberg menjadi bahan kontroversial, tidak saja di negara-negara Muslim, melainkan juga dinegara tempat ia berasal. Semula banyak penerbit akademik Jerman tidak mau mempublish karya ini khawatir akan reaksi bernada marah dari kalangan Muslim. Hal ini bisa dimengerti, sebab buku setebal 311 halaman plus ix halaman pengantar merupakan ‘pukulan’ bagi kajian teologi Islam yang selama ini telah mapan dan banyak dipahami oleh Islamisis Barat.