cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,224 Documents
Between Polygyny and Monogamy: Marriage in Saudi Arabia and Beyond Sumanto Al Qurtuby
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 60, No 1 (2022)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.601.29-62

Abstract

Saudi Arabia has long been portrayed as a “hub of polygyny,” a practice of marriage in which a man marries several women simultaneously. However, my recent research among Saudi male youths suggest that this practice is waning nowadays. A younger generation in the Kingdom seems to prefer monogamy—a man marrying one wife—to polygamy for several essential reasons, factors and arguments. Based on interviews and conversations with a number of young Saudis as well as outcomes of survey findings, this article tries to debunk the myth of polygyny in the Kingdom and attempts to understand the rationales and logics behind monogamy choice among male (and female) youths of contemporary Saudi Arabia. The article also briefly highlights the practice of polygyny and monogamy in multiple societies outside Saudi Arabia to compare and gain knowledge on various practices of marriage. Seen from another viewpoint, the article is a reflection of a modern-day fruitful socio-cultural development and change in Saudi Arabia that have received enthusiastic and public acclaim across the globe.Arab Saudi digambarkan sejak lama sebagai ‘pusat poligini’, sebuah praktik pernikahan satu laki-laki dengan sejumlah perempuan secara simultan. Namun dalam penelitian saya terbaru terhadap sejumlah laki-laki muda Arab menyatakan praktik poligini mulai memudar saat ini. Generasi muda di wilayah kerajaan Arab tampaknya mulai memilih monogami, daripada poligami, dengan beberapa alasan, faktor dan argumen yang mendasar. Berdasarkan wawancara dan percakapan dengan sejumlah pemuda Arab yang temuannya menunjukkan, seperti dalam artikel ini adalah menyanggah mitos poligini di kerajaan Saudi dan usaha memahami rasionalitas dan logika monogami pemuda dan pemudi di Arab Saudi dewasa ini. Artikel ini juga sekilas membahas praktik poligini dan monogami di luar Arab Saudi sebagai perbandingan dan pengetahuan mengenai ragam bentuk praktik pernikahan di berbagai masyarakat. Dengan sudut pandang lain, artikel ini mencerminkan kehidupan modern dari aneka perkembangan sosial budaya dan perubahan di Arab Saudi yang menerima semangat dan penerimaan publik lintas dunia. 
Isa and Jesus: A Comparison of the Life of The Prophet Isa in the Qur'an and Christ in the New Testament David A Splawd
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 41, No 2 (2003)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2003.412.223-241

Abstract

Nabi Isa merupakan tokoh yang sangat penting bagi penganut agama-agama Ibrahim, khususnya Islam dan Kristen/Nasrani. Walaupun banyak persamaan hal pada tokoh fenomenal ini, namun tidak sedikit pula perbedaannya. Dari Namanya, masing-masing agama Ibrahim empunyai perbedaan sebutan, Isa, Yesus, dan Yeshua. Konsep masing-masing umat beragama tentang Nabi Isa, putra Maryam, ini juga banyak perbedaannya, misalnya, apakah Isa benar-benar mati disalib atau tidak. Artiel ini berusaha ntuk mendeskripsikan konsep Nabi Isa menurut al-Qur’an dan juga konsep Jesus menurut kitab Injil versi Perjanjian Baru. Gambaran dari kedua kitab Suci ini akan lebih menjelaskan persamaan dan sekaligus perbedaannya. Akhirnya, persamaan dan perbedaan itu harus dipahami dengan baik dan penuh toleran tanpa harus diperselisihkan.
The Curriculum of Islamic Studies in Traditional and Modern Dayahs In Aceh: A Comparative Study. Mohammad AR
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 1 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.391.62-97

Abstract

Paper ini membandingkan kurikulum keilmuan Islam yang diterapkan pada sekolah-sekolah agama Islam di Aceh, terkenal dengan sebutan Dayah, yang masih tradisional dan modern. Hal ini dianggap penting, karena Aceh adalah institusi pendidikan yang paling tua dan dominan di Aceh, sehingga perubahan dan perkembangan kurikulum keilmuan Islam di Aceh dinilai akan berpengaruh terhadap perkambangan keilmuan keislaman dii Indonesia secara umum. Dalam melakukan studi ini, penulis melakukan observasi secara langsung pada Dayah-dayah tradisonal dan modern, selain juga mempelajari dokumen-dokumen dan buku-buku yang memuat informasi mengenai masalah yang dibahas. Sesuai dengan perkembangan zaman, di Aceh telah muncul Dayah-dayah  baru yang menerapkan kurikulum yang berbeda dengan yang selama ini diterapkan dalam Dayah yang masih dikelola secara tradisional. Ilmu-ilmu yang secara tidak langsung berkaitan dengan teks-teks ajaran Islam, seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosal, bahasa asing (selain bahasa Arab) mulai diajarkan di Dayah modern. Selain perbedaan kurikulum, perbedaan lain juga ditemukan pada sisi menejemen dan pengelolaan Dayah secara umum.
lstithmār al-Amwāl fī al-Fiqh al-lslāmīy Surahman Hidayat Aziz.
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 1 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.391.224-242

Abstract

Islam encourages Muslims to invest their money and goods in order that their economic and social conditions can be improved. Investment is actually basic needs for human beings. It is also social needs for community. According to Islamic teaching, investrnent is part of obligation for Muslims. This article tries to explore how importance investrnent is according to Islamic Law. It describes that Islam encourages Muslims to invest their money and goods. The writer states that according to Islam,Wealth should be developed. He also describes various kinds of investment implemented by Islamic Bank that have big impact on individual and communal economy. According to Islam, investment is part of human obligation as a representative of God on earth (khalifatullah fi al-ardl). There are three important point described by the writer, namely, 1.Using wealth for beneficial matters. 2. Investing wealth for preserving and developing it so that it is useful for it owner and community.3. Transferring ownership to others voluntarily. Furthermore, the writer also describes the characteristics of Islamic investment namely, 1. Differentiating between good and forbidden. 2. Not implementing interest. Considering community needs according to Islamic priority. 4. Valuing works. 5. Trying to get benefit fairly. 6. Investment can be renewed and developed. 
The Great Battle of Badr as Reflected in al-Ṭabari’s Tarīkh and, Tafṣīr Fauzan Saleh
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 1 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.391.98-123

Abstract

Perang Badr merupakan peristiwa besar dan memiliki makna yang amat strategis dalam sejarah Islam klasik. Setelah bertahun-tahun berjuang tanpa membuahkan hasil yang menggembirakan melalui perang Badr,  Muhammad memperoleh kemenangan yang amat gemilang. Kemenangan ummat Islam dalam perang tersebut telah memperkokoh posisi Muhammad di Madinah, di samping juga telah memperteguh keyakinan ummat tentang kebenaran kerasulan Muhammad.  Karena pentingnya makna perang Badr tersebut maka tidak mengherankan jika peristiwa ini mendapatkan perhatian yang cukup besar, bukan saja dari para ahli sejarah tetapi juga dari al-Qur'an sendiri. Peristiwa ini telah diabadikan dalam karya para sejarawan Muslim terkenal, seperti Ibn Hisham dan al-Waqidi. Al-Ṭabari, dalam karya monumentalnya Ta'rīkh al-Rusuwl a'I-Muluk, juga menganggapnya sebagai peristiwa paling penting yang terjadi pada tahun kedua Hijriyah. Namun, di samping sebagai sejarawana,al-Ṭabari juga dikenal sebagami mufassiyr ang mengulasp eristiwa besar ini dalam uraiannya mengenai Surat al-Anfal dalam tafsirnya, jāmi' al-Bayān fi fafsīr al-Qur'an. 
Para Pendengar Firman Turhan: Telaah Terhadap Efek Estetik al-Qur'an Muhammad Nur Kholis Setiawan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 1 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.391.243-259

Abstract

Buku berjudrul Gott ist schőn; Das ästhetische Erlebens des Koran ("Tuhan Maha Indah; Penghayatan Estetik terhadap al-Qur'an") yangmenjadi sentral ulasan berikut bukanlah karya pertama Navid Kermani, islamisis lran kelahiran Jerman. Buku ini asal mulanya adalah disertasi Doktor di "Orientalisches Seminar" Universitas Bonn tahun 1998. Di tahun-tahun sebelumnya Kermani sudah berperan aktif dalam meramaikan kajian al-Qur'an di Barat. Buku pertama yang dihasilkan adalah Offenbarung als Kommunikation; Das Konzept waly in Naṣr Abū Zaids Mafhūm al-Nasṣ (Wahyu sebagai Komunikasi; Telaah atas Konsep Abu Zaid tentang Wahyu dalam Mafhūm al-Nasṣ, terbit 1996). Sedangkan karya-karyanya yang lain banyak berupa artikel dibeberapa jurnal studi Islam intemasional.
Manhaju Tauthīq Mutūn al-Ḥadīth ‘inda ‘uṣulīya al-‘aḥnāf Samsul Anwar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 1 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.381.132-166

Abstract

This article discusses the method of evaluating the authenticity of hadits, based on the internal criticism which was applied by the scholars of Hanafi School. In this writing, it is mentioned that the scholars have developed five criteria for examining a hadits. First a hadits does not contradict Qur' anic texts. This leads the Hanafi School to refuse takhṣīṣ and taqyīd theories of al-Qur'an with ahad hadits. Second, a hadits is not contrary to a popular sunnah (masyhūr). Under this criterion, they avoided confronting a ḥadīts with each other in order to seek in their consistency; third, a ḥadīts is not garīb (isolating) if it is connected to usual and common case. Fourth, a ḥadīts is not abandoned by the Companions in their discussion. Finally, a ḥadīts must in agreement with (analogies) general rule of syari' ah if it contains legal matters, but was reported by the authority of a non-expert in law. The ḥadīts which do not meet with the five criteria are considered inauthentic. Compared to the traditionalist school that focuses more on the authority of ḥadīts reporters, the Hanafi School is more critical of the ḥadīts.
Gender and Religion: An Islamic Perspective Syarif Hidayatullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.324-340

Abstract

Membincang persoalan jender merupakan suatu trend baru yang saat ini tengah menjadi fenomena yang meluas dan cukup menyerap perhatian dan sorotan banyak kalangan. Dari mulai aktivis perempuan, akademisi, intelektual, ulama, kaum profesional, dan,bahkan, hingga kaum lelaki dan masyarakapt ada umumnya. seiring dengan semakin majunya cara berpikir dan prilaku manusia, maka semakin menggema dan dahsyatnya suara-suara yang menggugat berbagai ketidak adilan jender yang dialami kaum perempuan selama ini,.baik dalam sektor domestik maupun sektor publiknya. Ironisnnaya, yang paling disoroti dan dituding banyak orang sebagai biang dari ketidakadilan tersebut adalah eksistensi agama. Agama selain ini dijadikan sebagaai alat untuk mengabsahkan ketimpangan jender perempuan terhadap laki-laki. Padahal, agama pula yang menyuarakan tentang prinsip-prinsip universal, semacam keadilan dan kesetaraan derajat manusia. Karena itu, pada perkembangan kontemporer muncullah  suara-suara dan spirit baru dari sebagian agamawan dan kaum feminis untuk mereformasi cara memahami agamanya. Dari cara konvensional yang sarat dengan nuansa patriarkhalnya kepada cara baru yang lebih membebaskan dan mensterilkan diri dari tradisi lama tersebut. Di sinilah letak signifikansinya tulisan ini yang berupaya memberikan suatu kontribusi untuk mengkaji bagaimana umat Islam harus membangun kesadaran jender dalam melihat tradisi keagamaannya. Dari kajian ini terungkap bahwa pada paruh kedua abad 19 Masehi mulai tumbuh kesadaran. jender di kalangan umat Islam. Feminis Muslim menyuarakan penolakan atas ketidaksetaraan kontruksi jender dan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Sebab itu, mereka melakukan berbagai ijtihad dalam mengartikuiasikan prinsip egalitarianism Islam yang semestinya. Dalam konteksi ni, menurut mereka,perlu dilakukan pembedaan secara demarkatis antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai budaya.
Dialectic of Religion and National Identity in North Sulawesi Jewish Communities in The Perspective of Cross-Cultural and Religious Psychology Sekar Ayu Aryani
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 60, No 1 (2022)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.601.199-226

Abstract

This study aims to explore how theology and culture influence the national attitude and behavior of Jews in North Sulawesi. The question arises because of Judaism teaching on Promised Land, an always-longed place by the Jews of the diaspora country. The qualitative study employs purposive sampling by using the Cross-Cultural and Religious Psychology approach. It relied on interviews from Jews prominent figures and its followers in North Sulawesi and was complemented by the non-Jews religious leader, documents, and literature. Data analysis consists of data reduction, exploration, and verification. The last step was data contextualization by combining field and library research data. The study found that Jews in North Sulawesi harbored a longing for the Promised Land, but it did not prevent the growth of their nationalism spirit and loyalty to the Republic of Indonesia. Furthermore, their firm nationalism to Indonesia, and the objective approach to the Promised Land proofing their loyalty to the Torah. This research also discovered, behind the exclusive impression of Jews, their teachings there had a very pluralist and inclusive vision. The study concludes, the assumption that Jews in North Sulawesi will face loyalty problem to the Republic of Indonesia appear unproven, because they can interpret their faith flexibly and rationally.  [Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana teologi dan budaya mempengaruhi sikap dan perilaku nasionalisme orang Yahudi di Sulawesi Utara. Pertanyaan itu muncul karena Yudaisme memiliki ajaran tentang Tanah Perjanjian, tempat yang selalu dinanti oleh orang-orang Yahudi di negara diaspora. Penelitian kualitatif ini menggunakan purposive sampling dengan menggunakan pendekatan Psikologi Lintas Budaya dan Agama. Pengumpulan data mengutamakan wawancara dari tokoh-tokoh Yahudi dan pengikutnya di Sulawesi Utara dan para tokoh agama non-Yahudi, kemudian dilengkapi dengan dokumen, dan studi literatur. Analisis data terdiri dari reduksi data, eksplorasi, dan verifikasi. Langkah terakhir adalah kontekstualisasi data dengan menggabungkan data penelitian lapangan dan perpustakaan. Studi ini menemukan bahwa orang-orang Yahudi di Sulawesi Utara menyimpan kerinduan akan Tanah Perjanjian, tetapi itu tidak menghalangi pertumbuhan semangat nasionalisme dan kesetiaan mereka kepada Republik Indonesia. Lebih jauh lagi, nasionalisme mereka yang kuat terhadap Indonesia, dan pendekatan objektif terhadap Tanah Perjanjian membuktikan kesetiaan mereka kepada Taurat. Penelitian ini juga menemukan, di balik kesan eksklusif orang Yahudi, ajaran mereka di sana memiliki visi yang sangat pluralis dan inklusif. Studi ini menyimpulkan, anggapan bahwa orang Yahudi di Sulawesi Utara akan menghadapi masalah kesetiaan kepada Republik Indonesia tampaknya tidak terbukti, karena mereka dapat menafsirkan iman mereka secara fleksibel dan rasional.]
Indonesian Islam and Its Relations with Nationalism and the Netherlands in the Early Decades of the 20 th Century : Some Important Notes. Ahmad Syafi I Maarif
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 38, No 1 (2000)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2000.381.65-77

Abstract

Dalam artikel ini, Syafi'i Ma' arif mengemukakan argumentasinya bahwa umat Islam merupakan kekuatan pembebas  Indonesia dari penjajahan bangsa asing. Sejak Belanda menginjakkan kuku kekuasaannya di bumi Nusantara, umat Islam tidak pernah berhenti mengadakan perlawanan terhadap pemerintah penjajahan. Hal ini disebabkan Islam sendiri menghargai kebebasan dan kehormatan manusia di atas segalanya. Di antara perlawanan bersenjata yang paling ditakuti oleh pihak kolonial Belanda adalah Perang Padri (1821-1837) di Sumatra Barat, Perang Diponegoro (1825-1830) di Jawa Tengah, dan Perang Aceh (1873-1912) di Aceh. Bagi umat Islam, perang terhadap segala bentuk penjajahan adalah perang di jalan Allah dan kemerdekaan penuh hams diperoleh kembali. Karena itulah, ketika tentara Jepang menggantikan Belanda untuk menjajah bumi Indonesia, perlawanan serupa juga terus dikobarkan, meskipun tantangan semakin berat. Untunglah,  berkat Rahmat Tuhan, pendudukan Jepang tidak berlangsung lama.  Kegagalan perlawanan bersenjata disebabkan oleh beberapa hal.  Pertama, perlawanan berlangsung secara sporadis dan hanya dalam lingkup lokal. Kedua, mereka tidak disatukan secara terorganisir. Ketiga, teknik perang dan persenjataan kaum pejuang jauh tertinggal dari yang dimiliki para penjajah. Mereka juga tidak memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi untuk melawan. Selain itu, kaum terjajah juga mengidap mental terjajah yang kronis.  Untuk rnenanggulangi hal-hal tersebut, umat Islam membentuk organisasi pergerakan sejak awal abad ke-20. Maka muncullah Sarekat Islam,  Muharnmadiyah, al-Irsyad, Persatuan Islam, Nahdlatul Ulama dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah.  Sejak itu, konsep persatuan Indonesia sebagai satu bangsa mulai didengungkan. Agama (Islam), Bahasa (Indonesia) dan faham nasionalisme menjadi perekat persatuan. Tidak seperti Budi Utomo, Sarekat Islam yang

Page 76 of 123 | Total Record : 1224


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue