cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,224 Documents
The Wedhatama and Its Impact on Islamic Legal Thought in Indonesia Akd. Minhaji
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 2 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.402.255-279

Abstract

Karya Wedhatama tergolong karya monomental dalam literatur Jawa. Pada dasarnya ia menggambarkan idiologi dan kehidupan praktis masyarakat Jawa, khususnya di kalangan keluarga keraton. Karena itu tidak mengherankan jika sejumlah sarjana tenama memberi perhatian terhadap karya dimaksud sebagai salah satu sarana memahami falsafah kehidupan orang Jawa. Tulisan berikut bermaksud memberi perhatian sebagaimana para penulis terdahulu, dengan fokus pada pengaruh falsafah Jawa dalam Wedhatama terhadap pemikiran hukum Islam di fawa atau Indonesia pada umumnya. Tulisan ini berkesimpulan bahwa salah satu poin penting kandungan Wedhatama adalah pentingnya perhatian terhadap tradisi setempat (Jawa) bagi kehidupan setiap orang. Pemikiran demikian ternyata sejalan dengan pemikiran ahli hukum Islam kontemporer yang menyatakan bahwa rumusan hukum Islam hendaknya memperhatikan tradisi yang berkembang pada setiap masyarakat termasuk masyarakat Jawa atau Indonesia pada umumnya.
The Framework and Practice of Islamic Insurance in Malaysia Joni Tamkin Bin Borhan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.56-79

Abstract

Asuransi telah menjadi fenomena yang jamak di era modern di belahan dunia manapun. Di Malaysia, asuransi konvensional dipandang oleh Komisi Fatwa sebagai tidak Islami karena mengandung beberapa elemen seperti riba, gharar dan maysir. Permasalahan inilah yang akhimya mengundang perhatian kalangan Muslim sehingga mereka mengupayakan asuransi yang lebih sesuai dengan syariat Islam. Maraknya bisnis asuransi Islami atau takafuI inilah yang menarik perhatian saya (penulis) untuk melihat secara dekat wacana dan praktek asuransi Islam di Malaysia. Walupun banyak bisnis asuransi Islam yang muncul, namun penulis hanya akan membahas salah satunya, yaitu syarikat Takaful Malaysia Berhad (STMB) yang merupakan asuransi takaful pertama di Malaysia. Banyak permasalahan yang bisa dilihat dan didiskusikan dalam artikel ini, diantaranya adalah awal tradisi asuransi, pandangan Islam tentang praktek asuransi modern dan beberapa permasalahan yang berhubungan dengan praktek asuransi di Malaysia. Penulis akan lebih memfokuskan pada bagaimana pelaksanaan konsep takaful dalam Islam di dalam pelaksanaan asuransi ini. Apakah konsep mudharabah dan tabarru menjadi dasar dalam praktek asuransi takaful pada syarikat Thkaful Malaysia Berhad (srMB) khususnya dan asuransi takaful yang lain pada umumnya.
Taqdīm dan Ta'khir dalam Al-Qur'an (Pendekatan Qawāid al-Lughah al-‘Arabiy ah) Abd. Karim Hafid
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 1 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.391.124-150

Abstract

There are many secrets and wonders in the precedence and postponement in holy Qur'an previewed from both linguistic structure and grammatical point of view. One of these secrets may lay in the utilizing a single word for different linguistic purposes in different parts of the speech in which a speaker may have certain different meanings.  The following article is trying to show these sorts of Precedence and Postponement, categorizing them into two kinds:1- Precedence and postponement as previewed in a linguistic point of view, considering the use of words in phrases or verses depending on standard grammars stated by the linguists.2- Precedence and postponement as previewed in the terminologist point of view, considering in the holy Qur'an.The first type discusses the principle of faith and literature that has the purpose of precedence and postponement for specialization as it leads to the principle of unity of almighty God. The research involves the precedence and postponement which is found (from linguistic point of view) in the holly verses of Qur'an, such as, preceding the reference on the reference to or vice versa. The precedence and postponement have an influence (on the terminology point of view) on understanding of the holly Qur’an, especially for worshipping and lows. In worshipping, the precedence and postponement, may concern the arrangement of certain deeds like performing the ablutions (wudlu) before praying than praying. For laws or rules, it precede the male's name before the female's, and also, preceding the more than the less; such as preceding the man thief on the woman thief, for many of those could be man, and preceding woman on man in adultery.
Al-Khṭāb al-Ḥubbī fī at-Turātha al-: Arabīy: al-falsafīy wa al-kalāmīy wa al-taṣwufīy wa al-a’dabīy. Zam-Zam Afandi Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 1 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.391.194-223

Abstract

ln intellectual tradition of Islam, Philosophy, Theology, Sufism,  besides Arts had been developed rapidly. Almost all human problems become their object of study. Among them is problem of love that is rarely studied.  This article tries to study problem of "love" in the discourses of the above knowledge in general. In Philosophy, the discourse of love is related closely to two problems, namely the creation of the universe and the impacts of its movements. The first problem has been dealt by such Muslim scholars as Ibnu Qayyim al-Jauziyah, while the second has been developed by the philosophers who grouped themselves in Ikhwan al-Shafa. In Sufism, the discourse of love has its own meaning. Love for Sufi is not only the problem of relationship between peoples or merely concepts as being thought by philosophers and theologians. For them, love has become medium or highest stage which connect and even unifier between them and God (Ittihad). This meaning also differentiates love in the discourse of the Arts which only limits its discussion on the relationships between human beings.
Modern Trends in Islamic Law: Notes on J.N.D. Anderson's Life and Thought Akh. Minhaji
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 1 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.391.1-33

Abstract

Sering dikatakan bahwa "Islam adalah agama hukum, Dengan adanya fakta ini, dipahami betapa iuga menjadi perhatian dalam agama Islam, bahkan hal yang utama. Hukum merupakan aspek penting dalam ajaran Islam. Charles J. Adams tidak berlebihan saat menyatakan:  "Tidak ada subyek yang lebih penting bagi pelajar Islam selain dari apa yang biasa disebut "hukum" Islam."'Maka dari itu, studi mengenai hukum Islam menempati posisi yang sangat penting di dalam ilmu pengetahuan Barat tentang Islam.  Beberapa sarjana Barat berpendapat bahwa perkembangan hokum Islam secara historis terbagi dalam tiga periode utama: periode klasik, periode pertengahan dan periode modern." Banyak dari sariana-sarjana tersebut telah membahas hukum Islam pada dua periode pertama. Nama-nama seperti Ignaz Goldzier Christian Snouck Hurgronje, Joseph Schacht, dan Noel James Coluson, untuk menyebut beberapa nama, adalah yang paling terkenal. Hal ini berbeda dengan J.N.D.Anderson. Meskipun beberapa di antara mereka yang telah disebut di atas telah membahas hukum Islam pada periode modern, Anderson membatasi perhatiannya secara khusus terhadap hukum Islam selama periode modern. Dengan mendasarkan diri utamanya atas hasil kerja Anderson, makalah ini ditujukan agar bisa memahami perkembangan historis hukum Islam pada periode modern. Konkritnya makalah ini bertujuan untuk menelaah sifat dasar reformasi hukum Islam dan karenanya mencakup pembahasan mengenai latar belakang, metode, akibat-akibat, dan permasalahan-perrnasalahan serta prospek reformasi tersebut.
Antara yang Berkuasa dan yang Dikuasai: Refleksi Atas Pemikiran dan Praktek Politik Islam M. Din Syamsuddin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 1 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.391.151-173

Abstract

This article examines the relationship between the ruler and the ruled that are involved and become main factors and actors of socio-political life of a nation. In it, the writer explains the dynamics of political thought and. its consequent deeds in historical process of Islamic civilization both during pre-modem and modem.  Based on his research the writer concludes that there is a gap in the relationship between the ruler and the ruled in the perspective of Islamic political thought and practices. Political reality does not match with the religious ideality. The gap even continues in certain degree and in other form during current modem era.  Therefore, in order to develop modern society often called civil society, government role is very important, namely, to support the development of infra-structural life of community by providing public space in its real meaning. This means that government not only allows its people to speak but also opens its inner eyes for people's aspirations both delivered from formal and non-formal democratic institutions.
Al-Miqyās al Islāmī wa al-hal al-amthal lil qadāyā al-ijmāiyaah Amroh Muhammad Qosim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.210-236

Abstract

Problems that happened and developed in society could not be separated from human beings as the main doer. Human beings have many characteristics that contribute to its attitude in society. Two of its characteristics, and also its major Powers are its curiosity and its need of financial. However human beings would not achieve its highest curiosity unless he/she already has been fulfilled its financial need. So, the two characteristics is rather a cause-effect relationship than a complementarily relationship. These two characteristics, however, are significant to analyze some social problems. One of the problems in society is that there are a small number of rich people and the existence of an enormous quantity of the poor people. The writer assumes that the above economical gap is initiated by an unjust social order. With her framework of Islam, the writer would portray some social problems and then provide some solutions for the problems. For the writer, human beings should put everything, as it should be and as it stated in Islam, because Islam has already made an obvious pattern to reach the ultimate goal of life.[Berbagai persoalan yang muncul dan berkembang dalam masyarakat tidak bisa dilepaskan dari manusia sebagai pelaku utama. Manusia memiliki berbagai karakteristik yang menentukan sikapnya dalam bermasyarakat. Dua di antara karakteristik dan sekaligus potensi menonjol manusia adalah rasa ingin tahu dan kebutuhan akan materi. Walaupun demikian, yang disebut pertama tidak bisa optimal sebelum faktor kedua terpenuhi. Jadi, dua karakteristik itu lebih bersifat sebab-akibat dari pada bersifat komplementer. Dua karakteristik ini cukup penting untuk melihat berbagai permasalahan yang muncul di masyarakat. Di antara permasalahan yang cukup signifikan adalah adanya orang kelompok kecil masyarakat yang kaya, di satu pihak, dan kelompok besar masyarakat yang tidak mampu di pihak lain. Penulis beranggapan bahwa kesenjangan ekonomi di atas bermula dari tatanan sosial yang serba tidak adil. Dengan kacamata Islam, penulis akan memotret berbagai persoalan sosial dan kemudian menyodorkan altematif solusi. Bagi penulis, manusia harus meletakkan berbagai persoalan sesuai dengan proporsinya dalam agama Islam, karena Islam telah membuat standar yang jelas untuk mencapai tujuan hidup yang ideal.]
Two Islamic Writing Traditions in Southeast Asia: Kitab Jawi and Kitab Kuning with Reference to the Works of Da’ud al-Fatani dan Nawawi al-Bantani Jajat Burhanudin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 60, No 1 (2022)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.601.1-28

Abstract

In reference to the works of two leading ‘ulama of 19th century Southeast Asia, Da’ud al-Fatani and Nawawi al-Bantani, this article discusses the establishment of two Islamic writing traditions, the Malay kitab Jawi and the Arabic kitab which turned to be called more recently as kitab kuning. In spite of the same experiences learning in Mecca, Da’ud al-Fatani wrote his works in Malay, while Nawawi al-Bantani’s kitab were in Arabic. These two writing traditions contributed to the formation of Islamic knowledge among the Muslims of the period, leading the two ‘ulama emerged as the intellectual fathers of Islamic dynamics in respectively Patani-Malaya and Java in Indonesia. In addition to the reason and the ways the two ‘ulama wrote their works in in two different writing styles, other point to highlight is that these kitab Jawi and kitab kuning grew alongside the rise of different Islamic leadership in two major Muslim areas in the region.Artikel ini membahas dua kitab kuning berbahasa Melayu Jawa dan Arab di Asia Tenggara yang merupakan karya Da’ud al-Fatani dan Nawawi al-Bantani. Da’ud al-Fatani menulis dalam bahasa Melayu, sedangkan Nawawi menulis kitab dalam bahasa Arab meskipun keduanya sama-sama belajar agama di Mekkah. Dua kitab ini berkontribusi dalam formasi pembentukan pengetahuan keislaman muslim di Asia Tenggara dan kedua orang tersebut menjadi pembimbing kemunculan dinamika intelektual di Patani dan Jawa abad 19. Keduanya juga hidup di masa kepemimpinan Islam mayoritas yang berbeda wilayah yang mempunyai peran penting dalam pemilihan bahasa, semacam liberasi kognitif, dalam gerakan sosial keagamaan. Penulisan kitab ini bukan sekedar kegelisahan intelektual semata, tetapi mengakar kuat dalam sikap mental yang dominan dalam karakter kepemimpinan Malayu dan Jawa Islam.  
The Phenomenon of Polygyny in Contemporary Malaysia: A Case Study of the Darul Arqam Movement Khoiruddin Nasution
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 1 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.391.34-61

Abstract

Satu pembaruan hukum keluarga Muslim dan Islam kontemporer,  yang diperkenalkan pertama kali oleh Turki tahun 1912 adalah adanya usaha membatasi praktek poligami. sejumlah negara berusaha membatasi kemungkinan praktek poligami, bahkan ada negara yang melarang poligami secara mutlak. Malaysia adalah salah satu negara yang membatasi praktek poligami. sama dengan Indonesia, di Malaysia poligami dapat dilakukan dengan syarat-syarat dan dalam kondisi-kondisi tertentu. Sebaliknya, pengikut gerakan Darul Arqam bukan saja membolehkan praktek poligami, tetapi lebih dari itu gerakan ini menganjurkannya. Tulisan ini adalah hasil penelitian tentang pandangan dan praktek poligami di kalangan (pengikut) gerakan Darul Arqam yang tinggal dan menetap di Malaysia. penelitian ini adalah penelitian pustaka yang bersumber pada data pustaka, baik yang ditulis oleh pengikut Darul Arqam maupun hasil penelitian tentang mereka.  Adapun metode analisa yang digunakan adalah metode analisa isi (analysis content), yakni dengan menganalisis isi tulisan-tulisan yang berbicara tentang gerakan Darul Arqam. Akhimya penelitian ini menemukan, bahwa untuk mengetahui tentang mampu atau tidaknya seorang suami berlaku adil terhadap isteri-isterinya bagi pengikut Darul Arqam, harus dicoba dengan cara melakukan poligami. Inilah alasan yang dapat ditulis kenapa mereka menganjurkan praktek poligami (mandūb) bukan seperti kelompok mayoritas yang hanya membolehkan (mubah). Sementara dalam praktek, gerakan ini menanamkan kepada para isteri yang dipoligami untuk senantiasa sabar dalam mensikapi praktek poligami suami, seperti sabar menunggu giliran, sabar dengan kondisi suami. Sebab ada suami yang isteri-isterinya betempat tinggal di daerah yang berlainan, bahkan berjauhan.  Dalam kasus ini isteri harus sabar.menunggu gilirannya. Implikasi lain dari sifat sabar ini adalah, isteri harus sabar kalau suami membagi malam secara tidak adil di antara para isterinya karena faktor usia, dimana malam suami lebih banyak di isteri muda. Demikian juga isteri diwajibkan senantiasa patuh terhadap perintah dan keinginan suami. Sementara suami tidak dianjurkan,  bahkan tidak diajarkan untuk bersabar. Adapun isteri yang selalu sabar dengan keadaan suami dalam segala hal akan mendapat ganjaran yang berlipat ganda nanti kelak di hari akhirat. Dengan demikian, poligami bagi gerakan Darul Arqam merupakan ajang untuk mengukur mampu atau tidaknya seorang suami berlaku adil terhadap isteri-isterinya, sementara bagi isteri menjadi ajang melatih kesabaran. Adapun di antara tujuan poligami adalah manajemen kerja, dimana menurut gerakan ini, seorang suami  yang berpoligami dapat memaksimalisasi perannya, yakni dengan cara mengatur dan membagi tugas-tugas antara para isteri; dimana ada isteri yang khusus mengurus anak, ada yang khusus mengurus dapur dan pakaian seluruh keluarga, ada yang khusus mengurus keperluan suami dan kegiatan-kegiatannya.  Tujuan lain adalah membantu tugas suami ketika sang suami bertugas di tempat dimana sang isteri bertempat tinggal. Karena itu,  mempunyai isteri lebih dari seorang dan tinggal di satu tempat bertujuan untuk maksimalisasi peran suami, sementara memiliki isteri-isteri yang tinggal di berbagai tempat yang berbeda bertujuan untuk membantu melaksanakan tugas suami.
Demensi Sosial dan Spiritual Semaan Al-Qur'an "MANTAB" di Yogyakarta Suyatno Prodjodikoro
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 1 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.391.174-193

Abstract

The development of al-Qur'an recitation gathering named “Mantab” in Yogyakarta is a socio-religious phenomenon. This effort of spiritualization of Islamic teachings attracts many participants. Mass pray and recitation of all content of the Holy Book, al-Qur'an, are main rituals held in this gathering. The participants use al-Qur'an recitation (semaan) gathering as a mean of spiritual exercises that can guide them to acquire deep inner happiness.Besides spiritual nuance, al-Qur'an recitation of “Mantab” has also social effects. It can strengthen the relationship among the participants whether they come from higher or lower strata of society, such as religious leaders and grassroots. In this gathering, they can communicate each other. Therefore, the al-Qur'an recitation has social function as well. Religious leaders who have deep esoteric nuance and are supported by their good social legitimacy, have central position in social structure of this gathering. Consequently, "asking blessing" and "Patron-Client,' can easily be seen in social interaction in this gathering.

Page 75 of 123 | Total Record : 1224


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue