cover
Contact Name
Wuri Handayani, Ph.D.
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada Jalan Sosio Humaniora No. 1, Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Indonesian Economy and Business
ISSN : 20858272     EISSN : 23385847     DOI : -
Core Subject : Economy,
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) is open access, peer-reviewed journal whose objectives is to publish original research papers related to the Indonesian economy and business issues. This journal is also dedicated to disseminating the published articles freely for international academicians, researchers, practitioners, regulators, and public societies. The journal welcomes author from any institutional backgrounds and accepts rigorous empirical or theoretical research paper with any methods or approach that is relevant to the Indonesian economy and business content, as long as the research fits one of three salient disciplines: economics, business, or accounting.
Articles 989 Documents
DETERMINANTS OF ORGANIZATIONAL STRUCTURE: AN EXAMINATION OF NON-TRADITIONAL PERSPECTIVES Hani Handoko
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 7, No 1 (1992): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.488 KB)

Abstract

Paradigma fungsionalis telah lama mondominasi penelitian dalam bidang struktur organisasi. Jawaban yang diberikan oleh paradigma ini terhadap pertanyaan "apa yang menjadi faktor penentu struktur organisasional" adalah lingkungan. teknologi dan besaran organisasi. Artikel ini mempunyai dua tujuan: (1) untuk mongupas aplikasi empat paradigma yang berbeda dalam penelitian struktur organisasi dan (2) untuk membahas tiga perspektif alternatif (strategic choice, social action theory, dan sociology of organizational structure) terhadap paradigma tradisional. Dengan menerapkan tipologi paradigma Burrell dan Morgan (1979), tinjauan dipusatkan pada identifikasi berbagai faktcr pensntu struktur organisasional alternatif.
PERKEMBANGAN ASPEK EKONOMI DAN MANAJEMEN BUMN Faried Wijaya Mansoer
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 7, No 1 (1992): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2796.921 KB)

Abstract

BUMN didirikan dan dibentuk karena berbagai alasan baik bersifat ekonomis maupun nonekonomis. Di negara kita secara legal bentuknya dibedakan antara yang sepenuhnya beroperasi seperti perusahaan swasta un-tuk mencari laba dan yang mengandung tujuan lain. Tujuannya berkembang sepanjang waktu dan bervariasi menurut situasi dan kondisi sosial ekonomi serta macam kegiatan usaha, dan cenderung makin bersifat pragmatis. Karenanya evaluasi kinerja perlu dibedakan menurut fungsi, tujuan, dasar kendala operasional.
PERANAN STRATEGI OPERASI DALAM MENCIPTAKAN KEUNGGULAN BERSAING PERUSAHAAN Eduardus Tandelilin
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 6, No 1 (1991): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.554 KB)

Abstract

Setiap perusahaan dalam suatu industri yang persaingannya sangat ketat pasti mempunyai strategi bersaing. Strategi bersaing dapat dikembangkan secara eksplisit melalui proses perencanaan, atau secara implisit melalui kegiatan-kegiatan dari berbagai departemen fungsional perusahaan. Pokok perumusan strategi bersaing adalah menghubungkan perusahaan dengan lingkungannya. Keadaan lingkungan akan mempengaruhi semua perusahaan yang ada dalam suatu industri, sehingga kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan perusahaan menciptakan kekuatan yang berlainan di antara perusahaan perusahaan dalam industri. Strategi operasi merupakan salah satu cara yang telah dikembangkan oleh perusahaanperusahaan di Jepang dengan memanfaatkan operasi pabriknya (manufacturing operations) untuk berkompetisi di pasaran internasional. Mereka dapat memproduksi serta mendisain barang-barang yang berkualitas lebih baik dan dengan harga yang lebih murah.Strategi operasi adalah suatu visi fungsi operasi yang memberikan keseluruhan pengarahan atau dorongan bagi pengambilan keputusan agar searah dengan tujuan perusahaan. Strategi operasi terdiri dari misi (mission), kemampuan khusus (distinctive competance), tujuan (objective), dan kebijakan (policy). Tiga input strategi operasi adalah strategi bisnis, analisis eksternal dan analisis internal. Strategi dan keputusan tidak selalu sama, tergantung apakah perusahaan cenderung pada strategi low-cost atau strategi differentiation. Timbulnya global corporation telah mengubah strategi operasi, dengan harus melihat perspektif secara keseluruhan dunia baik dalam hal fasilitas, lokasi, sumber daya, disain produk, teknologi proses, logistik maupun organisasi. Learning curve menunjukkan hubungan antara unit cost dan akumulasi volume yang diproduksi, sehingga dengan mengikuti kurva ini, keunggulan bersaing dapat dicapai.
MEMAHAMI MASALAH KEMISKINAN Dl INDONESIA: SUATU PENGANTAR Lincolin Arsyad
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 7, No 1 (1992): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu masalah pokok pembangunan yang harus segera ditun-taskan adalah kemiskinan. Data dari BPS mengungkapkan bahwa Indonesia telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin secara relatif dari 40 persen pada tahun 1976 menjadi 15,08 persen dari jumlah penduduk pada tahun 1990. Namun demikian, secara absolut jumlah penduduk miskin tersebut masih sekitar 27,2 juta.Oleh karena itu, masalah kemiskinan harus dituntaskan secara mendasar, karena kemiskinan tersebut menyangkut tingkat kehidupan manusia, bukan hanya sekedar permainan angka relatif saja. Pemecahan masalah ini harus dilakukan secara multidisipliner oleh para ahli, karena masalahnya bersifat multidimensional, yang penanggulangannya tidak dapat mengandalkan pada sistem mekanisme pasar. Oleh karena itu, peranan pemerintah dituntut untuk lebih banyak lagi, demikian juga dengan organisasi-organisasi sosial seperti LSM-LSM.
KESENJANGAN EKONOMI ANTARDAERAH INDONESIA Revrisond Baswir
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 2, No 1 (1987): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2354.798 KB)

Abstract

Kesenjangan ekonomi antardaerah sebenarnya bukan merupakan masalah baru bagi perekonomian Indonesia. Di samping banyak dipengaruhi oleh kondisi geografis dan potensi ekonomi yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah, masalah ini juga banyak dipengaruhi oleh faktor faktor sejarah. Pulau Jawa misalnya, di samping memiliki tanah yang subur, letaknya juga jauh lebih strategis dibandingkan pulau-pulau Indonesia lainnya. Tanahnya yang subur menyebabkan pulau ini menjadi penghasil beras utama bagi kepulauan Nusantara. Sedangkan posisinya yang berada di tengahtengah, di antara pulau-pulau Indonesia yang lain, menyebabkan kota-kota pantai di pulau ini seperti Surabaya, Gresik, dan Jepara, lahir menjadi pelabuhan transito bagi perdagangan cengkeh dari Indonesia bagian timur, dan perdagangan lada dari Indonesia bagian barat. Karena itulah, ketika kongsi-kongsi dagang Belanda (VOC) datang ke Indonesia, mereka lebih terpikat pada pulau Jawa dibandingkan pulau pulau Indonesia lainnya. Dan sebagaimana dapat disaksikan kemudian, kehadiran VOC - yang kemudian dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda - ini pulalah yang antara lain banyak mempengaruhi tingkat perkembangan ekonomi pulau Jawa pada masamasa berikutnya. Dibukanya perkebunan-perkebunan besar sejak awal abad ke 17, yang diikuti dengan pembangunan pabrik-pabrik telah membuat perekonomian pulau Jawa selangkah lebih maju dibandingkan pulau-pulau Indonesia lainnya. Kemudian dibangunnya jalan besar dari Anyer ke Panarukan oleh Daendels pada tahun 1808, menyebabkan perekonomian pulau Jawa menjadi semakin terbuka. Sedangkan dijadikannya kota Batavia sebagai pelabuhan utama oleh VOC, dan kemudian sebagai pusat pemerintahan oleh pemerintah Hindia Belanda, telah menyebabkan berkembangnya kota Jakarta sebagai kota utama di Indonesia. Contoh lain dari pengaruh kehadiran Belanda terhadap perkembangan ekonomi daerah-daerah Indonesia dapat pula dilihat pada kasus pulau Sumatra. Dibukanya perkebunan-perkebunan besar oleh kongsi-kongsi dagang Belanda di Sumatra Timur (kini Sumatra Utara) secara perlahan-lahan telah menyebabkan berkembangnya daerah ini menjadi propinsi utama di Sumatra.2 Sedangkan kota Medan, yang semula tidak lebih besar dari pada Banda Aceh atau Palembang, kemudian menjadi kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Setelah Indonesia merdeka, sampai dengan tahun 1965, secara keseluruhan keadaan perekonomian Indonesia yang diwarisi dari pemerintah Hindia Belanda di atas belum banyak berubah. Ketegangan-ketegangan politik yang berkepanjangan, termasuk di antaranya separatisme daerah3, serta perhatian pemerintah yang lebih banyak tertuju pada masalah-masalah politik ketika itu, memang tidak banyak pengaruhnya terhadap perkembangan perekonomian Indonesia pada umumnya dan perekonomian daerah pada khususnya. Sehingga, kalau boleh dikatakan demikian, dengan keadaan yang masih hampir sepenuhnya warisan pemerintah Hindia Belandaitulah kemudian pemerintah Orde Baru memulai pembangunan pada tahun 1969. Dalam tulisan ini, masalah kesenjangan ekonomi antardaerah ini akan dilihat dengan membandingkan keadaan dua periode, yaitu sebelum Pelita II dan setelah Pelita II. Dijadikannya Pelita II sebagai titik tolak adalah karena secara resmi pemerataan pembangunan antar daerah baru mulai mendapat perhatian sejak dimulainya Pelita II ini. Hal itu misalnya dapat dilihat pada dicantumkannya pemerataan ekonomi antardaerah sebagai salah satu dari delapan jalur pemerataan, dibahasnya pembangunan daerah secara tersendiri dalam GBHN, dan terutamadibentuknya Bappeda pada tahun 1974.
THE IMPACTS OF INDIGENOUS-CHINESE RELATIONS ON MUSLIM-CHRISTIAN RELATIONS: ECONOMIC, POLITICAL, SOCIAL, CULTURAL, AND HISTORICAL ANALYSIS Bambang Sudibyo
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 12, No 3 (1997): July
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2102.487 KB)

Abstract

Tensions between the Muslims and the Christians have been high in the 90s. The tensions, this writer believes, are strongly confounded by ethnic prijudice beween the predominantly Muslim poor indigeneous and predominantly Christian wealthy Chinese. Relaxing the just mentioned tensions, therefore, should precede any other attemls to relax the tensions between the Muslims and the Christians. This writer proposes Malaysian model of affirmative programs for the Indegeneous to relax tension between the Indegeneous and the Christians, and therefore the Muslims and the. Christians
INVESTIGASI PENYIMPANGAN BIAYA DENGAN EFISIEN R.A. Supriyono
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 2, No 1 (1987): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1252.279 KB)

Abstract

Dewasa ini kita sering mendengar istilah pengawasan, penyimpangan, dan efisiensi disuarakan oleh para pemimpin pemerintahan dan para manajer bisnis. Istilah-istilah tersebut sering terdengar karena kita dihadapkan pada kenyataan semakin terbatasnya dana pembangunan. Sebenamya masih ada satu istilah lagi yang penting tetapi kurang gemanya di masyarakat, yaitu istilah efektivitas. Sudahkah kita memahami istilah-istilah yang kedengaran merdu tersebut? Sudahkah kita menghayati budaya pengawasan, investigasi penyimpangan, sertapenilaian efisiensi dan efektivitas? Tulisan ini bertujuan untuk membahas pengertian istilah-istilah tersebut, serta berbagai metode investigasi penyimpangan yang efisien.
PENGARUH KATEGORI INDUSTRI TERHADAP PRICE-EARNING (P/E) RATIO DAN FAKTOR-FAKTOR PENENTUNYA Agus Sartono; Misbahul Munir
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 12, No 3 (1997): July
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3351.171 KB)

Abstract

Hasil penelitian yang mengambil sampel tujuh jenis industri selama jangka waktu tahun 1991 sampai dengan 1996 mengindikasikan beberapa hal, yaitu (1) nilai PER rata-rata masing-masing industri menunjukkan perbedaan yang nyata, (2) perilaku PER suatu perusahaan pada industri tertentu dapat dijelaskan oleh variabel-variabel dividend payout ratio, pertumbuhan laba, return on equity, ukuran perusahaan (dinyatakan dalam variabel total assets), penjualan (diukur dengan variabel P/S ratio) dan debt equity ratio, (3) arah hubungan dan tingkat pengaruh masing-masing variabel (baik besar maupun signifikansinya) dalam menjelaskan PER berbeda antara industri satu dengan industri lainnya, dan (4) kemampuan faktor-faktor yang menjadi penentu PER untuk menjelaskan perilaku PER secara bersama-sama juga berbeda antar industri. Penelitian ini sendiri, sampai tingkat tertentu, merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Mpaata and Sartono (1997) terhadap sampel tujuh industri di Amerika Serikat
MANAGING CHANGE THROUGH LEADERSHIP DEVELOPMENT PROGRAM: SOCIAL PSYCHOLOGICAL APPROACH An experience from FT. Caltex Pacific Indonesia Djamaludin Ancok
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 12, No 3 (1997): July
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.186 KB)

Abstract

The changes in the business environment may bring a company into a dangerous situation if the company does not react properly to the changes. In order to successfully coping with the change, a number of companies have taken several measures to improve the performance, either by restructuring, or reengineering their organization. Usually there are two areas of changes that take the attention of management. Firstly, the changes in shared vision, business strategy, structure, and system of organization. Secondly, the change in human behavior of organization, which consists of staff, skill, and style. Pascale and A thos (1981) in their se ven S model of chronic organization, called the former as the hard S while the latter they called soft 5. No matter how excellent are the business strategy, structure and system, the changes in an organization would not occur unless there are changes in human behavior. This paper discusses the effort to change the behavior, with specialemphasis on leader behavior. A case study from an oil company, Caltex Pacific Indonesia (CPI) which is in the process of restructuring, would be utilized as an illustration of the effort to change the organization through leadership development program. In CPI a massive leadership development program has been launched to speed up the process of change. The program covers all layers of leaders, starting from the bottom layer up to the top management level. The bottom layer focuses on transformational leadership, the second upper layer stresses on synergistic leadership, and the top layer concentrates on visionaryleadership. Based on qualitative data found from a preliminary study aimed at assessing the impacts of the program in speeding up the change in CPI, it was found that the CLD program has contributed positively to the change process.
KAUSALITAS ANTARA UANG BEREDAR DAN INFLASI DI INDONESIA Dumairy Dumairy
Journal of Indonesian Economy and Business (JIEB) Vol 2, No 1 (1987): September
Publisher : Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.432 KB)

Abstract

Dalam menanggapi hubungan sebab-akibat antara jumlah uang beredar dan laju inflasi, awam cenderung berpendapat bahwa tambahan jumlah uang yang beredar menyebabkan kenaikan harga-harga secara umum. Dengan perkataan lain, jumlah uang beredar merupakan penyebab inflasi; bukan sebaliknya, inflasi menyebabkan penambahan jumlah uang beredar. Pendapat umum seperti di atas agaknya didasari oleh dugaan hubungan sebabakibat yang paling memungkinkan untuk terjadi antara kedua variabel tadi. Pendapat demikian juga selaras dengan (dipengaruhi oleh?) pandangan kaum Klasik dan Monetaris. Sesungguhnya tambahan uang beredar menyebabkan kenaikan hargaharga, bukanlah satu-satunya kemungkinan yang bisa terjadi atau masuk akal. Arah kausalitas dapat pula terjadi sebaliknya: laju inflasi menyebabkan penambahan jumlah uang yang beredar. Sebagaimana pandangan kaum Strukturalis, penawaran uang bukanlah penyebab inflasi; jumlah uang beredar bertambah akibat (sebagai konsekuensi dari) pertumbuhan ekonomi. Dan sebagaimana dimaklumi, yang terakhir ini bukan saja menggandeng inflasi tetapi juga memang menuntut lebih banyak uang. Sementara itu dua dedengkot aliran Asa Nalar (rational expectations), yakni Sargent dan Wallace [1973], telah membuktikan adanya umpan-balik dari inflasi ke penambahan jumlah uang beredar lebih lanjut. Artikel ini memaparkan hasil telaah penulis mengenai hubungan kausalitas antara kedua variabel yang sedang diperbincangkan, untuk kasus Indonesia dalam periode 1968-1985. Tepatnya antara tahun 1968 kuartal pertama dan tahun 1985 kuartal kedua. Telaah dimaksudkan untuk mengetahui pola atau arah kausalitas; apakah penambahan jumlah uang beredar menyebabkan kenaikan harga-harga, ataukah sebaliknya, ataukah terdapat mekanisme umpan-balik antara kedua variabel, ataukah justru tak terdapat saling tindak (interaction) antara mereka.

Filter by Year

1986 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 36, No 1 (2021): January Vol 35, No 3 (2020): September Vol 35, No 2 (2020): May Vol 35, No 1 (2020): January Vol 34, No 3 (2019): September Vol 34, No 2 (2019): May Vol 34, No 1 (2019): January Vol 33, No 3 (2018): September Vol 33, No 2 (2018): May Vol 33, No 1 (2018): January Vol 32, No 3 (2017): September Vol 32, No 2 (2017): May Vol 32, No 1 (2017): January Vol 31, No 3 (2016): September Vol 31, No 2 (2016): May Vol 31, No 1 (2016): January Vol 30, No 3 (2015): September Vol 30, No 2 (2015): May Vol 30, No 1 (2015): January Vol 30, No 1 (2015): January Vol 29, No 3 (2014): September Vol 29, No 3 (2014): September Vol 29, No 2 (2014): May Vol 29, No 2 (2014): May Vol 29, No 1 (2014): January Vol 29, No 1 (2014): January Vol 29, No 1 (2014) Vol 28, No 3 (2013): September Vol 28, No 3 (2013): September Vol 28, No 2 (2013): May Vol 28, No 2 (2013): May Vol 28, No 1 (2013): January Vol 28, No 1 (2013): January Vol 27, No 3 (2012): September Vol 27, No 3 (2012): September Vol 27, No 2 (2012): May Vol 27, No 2 (2012): May Vol 27, No 1 (2012): January Vol 27, No 1 (2012): January Vol 26, No 3 (2011): September Vol 26, No 3 (2011): September Vol 26, No 2 (2011): May Vol 26, No 2 (2011): May Vol 26, No 1 (2011): January Vol 26, No 1 (2011): January Vol 25, No 3 (2010): September Vol 25, No 3 (2010): September Vol 25, No 2 (2010): May Vol 25, No 2 (2010): May Vol 25, No 1 (2010): January Vol 25, No 1 (2010): January Vol 24, No 3 (2009): September Vol 24, No 3 (2009): September Vol 24, No 2 (2009): May Vol 24, No 2 (2009): May Vol 24, No 1 (2009): January Vol 24, No 1 (2009): January Vol 23, No 4 (2008): October Vol 23, No 4 (2008): October Vol 23, No 3 (2008): July Vol 23, No 3 (2008): July Vol 23, No 2 (2008): April Vol 23, No 2 (2008): April Vol 23, No 1 (2008): January Vol 23, No 1 (2008): January Vol 22, No 4 (2007): October Vol 22, No 4 (2007): October Vol 22, No 3 (2007): July Vol 22, No 3 (2007): July Vol 22, No 2 (2007): April Vol 22, No 2 (2007): April Vol 22, No 1 (2007): January Vol 22, No 1 (2007): January Vol 21, No 4 (2006): October Vol 21, No 4 (2006): October Vol 21, No 3 (2006): July Vol 21, No 3 (2006): July Vol 21, No 2 (2006): April Vol 21, No 2 (2006): April Vol 21, No 1 (2006): January Vol 21, No 1 (2006): January Vol 20, No 4 (2005): October Vol 20, No 4 (2005): October Vol 20, No 3 (2005): July Vol 20, No 3 (2005): July Vol 20, No 2 (2005): April Vol 20, No 2 (2005): April Vol 20, No 1 (2005): January Vol 20, No 1 (2005): January Vol 19, No 4 (2004): October Vol 19, No 4 (2004): October Vol 19, No 3 (2004): July Vol 19, No 3 (2004): July Vol 19, No 2 (2004): April Vol 19, No 2 (2004): April Vol 19, No 1 (2004): January Vol 19, No 1 (2004): January Vol 18, No 4 (2003): October Vol 18, No 4 (2003): October Vol 18, No 3 (2003): July Vol 18, No 3 (2003): July Vol 18, No 2 (2003): April Vol 18, No 2 (2003): April Vol 18, No 1 (2003): January Vol 18, No 1 (2003): January Vol 17, No 4 (2002): October Vol 17, No 4 (2002): October Vol 17, No 3 (2002): July Vol 17, No 3 (2002): July Vol 17, No 2 (2002): April Vol 17, No 2 (2002): April Vol 17, No 1 (2002): January Vol 17, No 1 (2002): January Vol 16, No 4 (2001): October Vol 16, No 3 (2001): July Vol 16, No 2 (2001): April Vol 16, No 1 (2001): January Vol 16, No 1 (2001): January Vol 15, No 4 (2000): October Vol 15, No 3 (2000): July Vol 15, No 2 (2000): April Vol 15, No 1 (2000): January Vol 14, No 4 (1999): October Vol 14, No 3 (1999): July Vol 14, No 2 (1999): April Vol 14, No 1 (1999): January Vol 13, No 4 (1998): October Vol 13, No 3 (1998): July Vol 13, No 2 (1998): April Vol 13, No 1 (1998): January Vol 12, No 3 (1997): July Vol 12, No 2 (1997): April Vol 12, No 1 (1997): January Vol 11, No 1 (1996): January Vol 10, No 1 (1995): September Vol 9, No 1 (1994): May Vol 8, No 1 (1993): September Vol 7, No 1 (1992): September Vol 6, No 1 (1991): September Vol 5, No 2 (1990): September Vol 5, No 1 (1990): April Vol 4, No 1 (1989): April Vol 3, No 1 (1988): September Vol 2, No 1 (1987): September Vol 1, No 1 (1986): September More Issue