cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Pembangunan Pedesaan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 3 (2001)" : 8 Documents clear
PENGOPTIMUMAN SISTEM TOT MELALUI PENGGUNAAN BEBERAPA HERBISIDA DAN PUPUK HAYATI UNTUK MENDAPATKAN TEKNOLOGI PRODUKSI PADI SAWAH YANG EFISIEN(OPTIMIZING NO-TILLED SYSTEM THROUGH UTILIZATION OF HERBICIDES AND BIOLOGICAL FERTILIZER TO OBTAIN AN EFFICIENT TECHNOLOGY OF LOWLAND RICE PRODUCTION) , Supartoto; , Utomo; Muningsih, Retno
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 3 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk l). rnengetahui jenis herbisida yang paling efektif mengendalikan regenerasi gulma dan budidaya padi sawah dengan system tanpa olah tanah (TOT), 2) mempengengaruhi pengaruh pupuk hayati dalam mempercepat penyediaan unsure hara bagi tanaman yang akan pantau melalui penharuhnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi yang ditanam dengan system TOT dan 3) mengetahui interaksi antara kedua perlakuan yang dicobakan. Penelitian menujukan bahwa jenis herbisida mempengaruhi persentase benih berkecambah, tinggi tanamman umur 4, 8, dan 10 minggu tetapi tidak mempengaruhi tinggi tanaman pada usia 12 minggu dan jumlah anakan total umur 12 minggu. Pada komponen hasil jenis herbisida hanya berpengaruh pada jenis gabah per rumpun dan tidak berpengaruh pada komponen hasil lain, seperti jumlah anakan produktif , panjang malai , jumlah bulir padi per malai, bobot 1000 butir, bobot gabah per rumpun, dan bobot gabah per petak efektif. Herbisida glifosat dan glifosat + Triazin, menghasilkan bobot gabah per rumpun tertinggi( 0.77g dan 0.88g) sehingga dalam penelitian ini paling efektif digunakan dalam system padi sawah tanam benih langsung tanpa olah tanah. Herbisid oxadiason baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan Triazin, berpengaruh negative baik terhadap pertumbuhan maupun hasil tanam padi sawah. Pupul hayati tidak berpengaruh pada semua variable yang diamati baik komponen pertumbuhan maupun komponen hasil. Interaksi antara jenis herbisida dengan pupuk hayati hanya ditemukan dengan bobot 1000 gabah. Kombinsi perlakuan yang menghasilkan gabah kering perhektar tertinggi adalah Glifosat + Triazin + M-Bio dengan hasil (equivalen) 4,2 t/ha gabah kering giling.
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) UNTUK MENINGKATKAN PERKEMBANGAN EKONOMI DAN SOSIAL MASYARAKAT DI PEDESAAN(SOLAR HOME SYSTEM TO IMPROVE DEVELOPMENT OF ECONOMIC AND SOCIAL ACTIVITES OF RURAL COMMUNITY) Trisasiwi, Wiludjeng
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 3 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi energy surya di lndonesia cukup besar jika dilihat dari intensitas radiasi matahari harian rata-rata yaitu sekitar 4,5 kWh/m2/hari Energi surya termasuk energy terbarukan yang sejak krisis energy penggunaanya mulai dikembangkan Peralatan yang bisa merubah energi surya menjadi energi listrik secara langsung adalah fotovoltanik. Aplikasi Solar Home System (SHS) menggunakan fotovoltanik pedesaan yang belum terjangkau jaringan listrik PLN bisa dimanfaatkan untuk penerangan TV, radio, tape dan lain lain. Keuntungan dari system ini adalah: sumber energy nya berlimpah, ramah lingkungan, mudah diinstalasi perawatannya mudah, relatif aman,kehandalannya cukup tinggi dan umurnya lama. Rangkaian SHS terdiri dari komponen-komponen utama: modul sel surya, bateri, unit kontrol baterai dan inverter.
UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI KEDELAI MELALUI SOSIALISASI SISTEM TANAM KEDELAI SECARA MULTIVARIETAS PADA SENTRA PRODUKSI KEDELAI DI KECAMATAN KALIBAGOR KABUPATBN BANYUMAS(EFFORT OF INCREASING SOYBEAN PRODACTION THROUGH SOCIALIZATION OF MULTI.VARIETIES PLANTING SYSTEM ON THECENTER OF SOYBEAN PRODUCTION AREA IN KALIBAGOR DISTRICT,BANYAMAS REGENCY) , Utomo; , Supartoto
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 3 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu cara untuk meningkatkan produksi kedelai dengan input rendah adalah dengans istem tanam secara multivarietas Teknologi ini masih baru, sehingga perlu disosialisasikan de ngan tujuan untuk memperkenalkan dan menjelaskan cara bercocok tanam kedelai secara tercampur untuk rnembumikan teknologi tersebut di kalangan petani. Kegiatan dilakukan dengan metode penyuluhan dan demplot. Demplot dilaksanakan oleh dua orang petani dengan luas masing-masing 0,14 ha. Panen dilakukan dengan ubinan seluas 2,5 m x 2,5 m. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa petani di desa Petir, kritis dan responsif terhadap teknologi baru. Hasil demplot juga menunjukkan bahwa sistem tanaman kedelai secara multivarietas secara konsisten marnpu meningkatkan hasil biji 100 persen lebih tinggi dibandingkan teknologi setempat Petani mampu memahami teknologi baru yang diintroduksikan an secara bulat berkeinginan untuk mengembangka tenknologi tersebut.
KELUARGA DAN IBU HAMIL (Studi tentang Proses Pengambilan Keputusan dan Tanggungjawab Keluarga dalam Mengakses Sumber-Sumber pelayanan Kesehatan Antenatal)(FAMILY AND PREGNANT MOTHER(Study about Process of Family DecisionMaking and Responsibility in Accessing the Source of Antenatal Care Servce)) , Mintarti; Priyono, Rawuh Edy; Sutikna, Nana
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 3 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan rumah sakit sebagai sarana pelayanan bagi penduduk kurang mampu termasuk d alam hal pelayanan kesehataan antenantal masih rendah. Akibatnya, angka kematian bayi dan ibu hamil menjadi tinggi. Untuk itu, keterlibatan banyak pihik, termasuk keluarga dalam menanggulangi masalah ini sangat diperlukan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pengarnbilan keputusan dan tanggung jawab keluarga dalam mengaksess umber-sumbe pelayanan kesehatan antenatal. p enelitian ini Dilaksanakan di Desa Sumbang, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas dengan sasaran penelitian Pasangan Usia Subur (PUS) yang masih memiliki anak –balita meetode penelitian yang digunakan adalah survey deskriptif. Analisis data dilakukan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Sampel diambil dengan metode acak sederhana sedangkan data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara serta observasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengambilan keputusan dalam keluarga terhadap masalah yang berkaitan dengan kehamilan dan kelahiran masih diserahkan kepada isteri atau perempuan yang sedang harnil. Keluarga terutama suami, masih kurang peduli terhadap kesehatan isteri atau perempuan dalam keluarganya yang sedang hamil maupnu keharnilan Dianggap sebagai kejadian alamiah yang wajar dialami oleh perempuan. Perhatian keluarga lebih ditunjukkan pada berbagai tradisi yang berkaitan dengan kehamilan.
POTENSI ANTAGONIS GLIOCIADIUM SP. TERHADAP PENEKANAN PENYAKIT LAYU FUSARIUM (FUSARIUM OXYSPORUM SCHLECHT.)PADA TANAMAN CABAI (CAPSICUM ANNUUM)(POTENCY OF ANTAGONIST GLIOCLADIUM SP. TO SUPPRESS FUSARUM WILT DISEASE (FUSARIUM OXYSPORUM SCHLECHT.) ON RED CHILLI) Widyatmoko, Aris; Soesanto, Loekas; , Kustantinah; Budiyono, Soeharto
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 3 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cabai merupakan komoditas sayuran penting yang masih menghadapi kendala utama turunnya produksi cabai, karena serangan patogen layu Fusarium (Fusariunt oxysporum Schlecht.). Penelitian potensi antagonis Gliocladium sp. Terhadap penekanan penyakit layu Fusarium pada tanaman cabai telah dilaksanakan di laboratorium dan rumah kaca LPP-HPTPH Bantul, pada bulan Juli sampai dengan Desember 2000. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok Dengan 6 perlakuan yaitu : konsentrasi biakan murni Gliocladium sp. l, 5, 10, 20, 30, dan 40 g serta kontrol (control negatif: hanya diberi suspense. Foxysporum dan control positif: tanpa Forysporum dan tanpa Gliocladtums p.). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Variabel yang diamati meliputi : penghambatan" Forysporumo leh Gliocladium sp. Secara invitro, intensitas penyakit, efektifitas antagonis, populasi konidium Forysporunt dan konidiurn Gliocladium sp. dan jamur dalarn tanah lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa agensia antagonis Gliocladium sp,, rnempunyai potensi untuk menekan pathogen layu Fusarium dengan tingkat penghambatan sebesar 64,52p ersen secara invitro, dan rnampu menekan timbulnya penyakit layu Fusariurn pada tanaman cabai dengan konsentrasi 5g biakan murni dansemakin mernbaik dengan bertambahnya perlakuan Mikroba dalam tanah yang teridentifirkasi bersama Gliocladium sp. dan F. orysporum antara lain : Aspergilluss p., Rhizoprrss p., Trichodermas p., Penicillium sp., dan Alternaria sp.
STUDI KERUSAKAN AKIBAT SERANGAN BELALANG PADA TIGA GENOTIPE TANAMAN PEARL MILLET (Pennisetum thiphoideum Rich)(STUDY OF DAMAGE AS RESULT OF GRASSHOPPER INFESTATION TO THE THREE GENOTYPES OF PEARL MILLET (Pennisetum typhoideum Rich) Surahmat, Mamat; , Herminanto; D.H., Totok Agung
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 3 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui infornasi belalang sebagai hama pada tanaman pearl millet dan pertumbuhan pearl millet di Desa Serang Karangreja Kabupaten Purbalingga Pelaksanaan penelitian pada bulan Juni sarnpai dengan Oktober 2000. Penelitian menunjukkan bahwa belalang yang berpotensi sebagai hama adalah spesies Oxya chinensis, Tagasta marginella dan Phlaeoba fumosa. Populasi belalang terbesar spesies T . marginella. Pada umur tanaman 49 hari sebanya 54k belalang O, . chinensis pada umur tanaman70 hari sebanyak 52 belalang dan P .fumosa pada umur tanaman 70 hari sebanyak 51 belalang Intensitas serangan terbesar terjadi pada Gl dengan jarak tanaman 50 x l0 cm, yaitu 44,53 persen / petak tanaman sedangkan G2 dengan jarak tanam 40 x20cm mengalami intensitas se rangan terendahya itu sebesar 33 persen/petak tanaman Tanaman tertinggi G3 dengan jaratk tanam 50 x 10 crn, . jumlah tongkol terbanyak pada Gl dan G2 dengan.iarak antara 45 x 15 crn dan bobot tongkol terberat pada G3 dengan jarak tanam 45 x 15 cm, yaitu sebesar 9,77g / petak sampel.
PEMANFAATAN LIMBAH IKAN DAN ONGGOK TAPIOKA UNTUK PEMBUATAN SILASE DENGAN MENGGUNAKAN INOKULA MIKROBIA DARI CAIRAN ASINAN KOBIS(UTILIZATION OF FISHERY WASTES AND TAPIOCA BY-PRODACTS IN PRODACTION OF SIIAGE BY USING MICROBIAL INOCULATION FROM CABBAGE EXTRAC) , Sunarto; Wiogo, Rosani; AS., Yuni
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 3 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia sebagai Negara kepulauan dengan lebih dari 75 persen wilayahnya berupa perairan sangat potensial bagi pengembangan budidaya perairan seperti perikanan Dalam pengolahan produksi perikanan seringkali organ dalam tubuh ikan, kepala ,lembar insang tidak ikut diolah. Demikian juga hasil ikutan dari penangkapan ikan seperti ikan rucah dan ikan yang rusak selama pengangkutan dibuang begitus aja, sehingga sering menimbulkan pencemaran lingkungan. Dalam kondisi krisis ekonomi seperti saat ini Nampak bahwa nutrisi dan makanan ternak merupakan aspek penting dalam sistem industri peternakan di Indonesia. Kebutuhan bahan pakan ternak sampai sekarang masih sanga tergantung pada Negara lain. Pemanfaatan limbah perikanan dan pertanian untuk pakan ternak dalarn bentuk silase dapat merupakan salah satu upaya mengatasi kekurangan pakan ternak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahu persentase penambahan karbohidrat dari onggok tapioca dan cairan kobis yang digunakan sebagai inokula pada pembuatan silase ikan. Metode penelitian yang digunakana dalah eksperirnen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola factorial 3 x 2. Faktor pertarna penambahan onggok (A) terdiri dari 3 (tiga) taraf yaitu A1 = onggok 20 g, A2 : onggok 25 g, A3 : onggok 30 g. sedang factor kedua, cairan kobis (B) terdiri dari2 (dua) taraf, yaitu Bl : cairan kobis 12,5r nl danB 2 : cairan kobis 25 ml. Masing-masing perlakuan diulangg 3 (tiga) kali. Variabel yang diamati adalah pH silase, pada tanterlarut, kadar asam total (kandungan asamla ktat), nilai normol dan jurnlah koloni mikrobia. Analisis statistic menunjukkan bahwa penarnbahan karbohidrat dari onggok tapioca dan cairan kobis berpengaruh sangat nyata(P < 0,01) terhadap pH , kadar asam total, nilai formol dan jumlah koloni mikrobia, tetapi tidak berpengaruh (P > 0,05) terhadap padatan terlarut (N-terlarut), penambahan onggok tapioca 30g dengan cairan kobis 12,5 ml menunjukkan hasil silase yang terbaik, .dengan waktu pemeratan (inkubasi) empat minggu
INDEKS REPRODUKSI KAMBING PADA SISTEM PENGELOLAAN BERKELOMPOK DAN INDIVIDUAL DI PEDESAAN(DOE REPRODUCTION INDEX UNDER ORGANIZED AND INDIVIDUAL MANAGEMENT SYSTEM IN RURAL AREAS) Sodiq, Akhmad
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 3 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study focusing on doe reproduction index under organized and individual management system in rural area, had been carried out in Lumbir Subdistrict Banyumas Regency The research was aimed at determining the level of doe reproduction index under organized and individual and individual management system and examining the effect of those systems A total of 48 Peranakan Etawah does were involved in this study by on-farm research. The variables studied consisted of litter size, preweaning survival rate kidding interval, doe reproduction index, and management practice. Data were analy. zedbiy descriptive and compare means supported by package of the Statistic at Product and Service Solution ( Norusis.1993). The results-showed- that (l) trhe level of doe reproduction index under organized managemen system and individual mananagemens system were 2.23 and 1.89 head / doe / year, respectively,( 2) under organized management system appears doe reproduction index was higher than at individual management system, (3) thep rimary factors of the overhanging doe reproduction index under individual management system were threateninogn kiOi survival, supported by longer in kidding interval and low litter size.

Page 1 of 1 | Total Record : 8