cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Pembangunan Pedesaan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 199 Documents
PRODUKSI TELUR DAN PENDAPATAN PETERNAK ITIK PADA PEMELIHARAAN SECARA GEMBALA DAN TERKURUNG DI DAERAH PERTANIAN DAN PERIKANAN (DUCK EGG PRODUCTION AND FARMERS’ INCOME UNDER EXTENSIVE AND INTENSIVE SYSTEMS IN AGRICULTURAL AND FISHERY CENTERS) , Ismoyowati; Suswoyo, Imam
Pembangunan Pedesaan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research was to study the differences of egg production and income of duck farming in agriculural and fishery areas. Accordingly, the areas had different altitude natural resources to support the existing duck farming. Survey method was applied with respondents of extensive and intensive duck farmers in Purbalingga Regency as a center of agricultural area and Cilacap Regency as a center of fishery area. Data consisted of primary data as a result of direct observation and discussion with respondents. Parameters observed were egg production, farm size, costs of production, farm revenue and income. Data were analysed using variance analysed based on the nested classification and honestly significance different. The results showed that the intensive farming in the agricultural area (Purbalingga) had a higher egg production (60.42%) than that in the fishery area (Cilacap). Farm revenue and production cost under intensive system in agricultural area was higher; consequenlty the income of both sysems in the area relatively similar. It can be concluded that egg production was higher in the agricultural area, but the farm revenue under extensive and intensive systems in the both areas relatively similar.
DETERMINANTS OF ADOPTING ENVIRONMENTALLY FRIENDLY TECHNOLOGY: A CASE OF SOYBEAN FARMING IN EAST JAVA DETERMINAN MENGADOPSI TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN: SEBUAH KASUS USAHATANI KEDELAI DI JAWA TIMUR Mariyono, Joko; Setyoko, Heru
Pembangunan Pedesaan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teknologi ramah lingkungan merupakan pilihan yang tepat untuk menciptakan pertanian yang berkelanjutan. Namun, petani tidak selalu menerima teknologi tersebut karena petani bersifat lembam. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengetahui faktor yang memengaruhi adopsi teknologi tersebut. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap adopsi teknologi ramah lingkungan pada usahatani kedelai. Kajian ini menggunakan metode estimasi logit, Tobit dan probit bertingkat untuk mengukur kemungkinan petani mengadopsi komponen teknologi ramah lingkungan. Data dikumpulkan dari tiga kabupaten di Jawa Timur tempat kedelai dibudidayakan secara intensif. Hasil kajian ini menunjukkan faktor sosial ekonomi mempunyai pengaruh yang beragam terhadap adopsi komponen teknologi. Secara keseluruhan, kelompok tani, luas usahatani, kepemilikan lahan, dan pelatihan memungkinkan petani untuk mengadopsi teknologi secara keseluruhan. Akan tetapi, yang taat-azas dengan penggunaan pestisida adalah pelatihan, karena petani yang mengikuti pelatihan menggunakan pestisidalebih sedikit.
STUDI TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PETANI MISKIN DI DESA GERDUREN KECAMATAN PURWOJATI KABUPATEN BANYUMAS STUDY OF EMPOWERMENT ON POOR FARMERS COMMUNITY IN THE VILLAGE OF GERDUREN, PURWOJATI SUBDISTRICT, BANYUMAS DISTRICT Rohman, Abdul; Isna, Alizar; Setyoko, P. Israwan; Dharma, Pawrtha
Pembangunan Pedesaan Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberdayaan masyarakat tani miskin adalah suatu aktifitas yang ditujukan untuk meningkatkan kehidupan mereka. Dalam kegiatan pemberdayaan ini dilakukan oleh aparat desa, Perhutani maupun Lembaga Sawadaya Masyarakat (LSM). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan pemberdayaan para petani miskin di desa Gerduren. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang didukung dengan pendekatan metode interaksi. Berdasarkan hasil analisis, maka ditemukan hal-hal sebagai berikut: Pertama, bahwa persepsi masyarakat terhadap pemberdayaan petani miskin tidak mempunyai keseragaman. Sebab, salah satu pihak menyatakan bahwa suatu kegiatan disebut sebagai suatu pemberdayaan, sedangkan di pihak yang lain menyatakan bahwa kegiatan tersebut bukan sebagai pemberdayaan. Kedua, pemberdayaan masyarakat tani miskin dilaksanakan dengan metode yang tidak terprogram sebelumnya, sehingga pelaksanaan bantuan kurang menyentuh esensi pemberdayaan yang sebenarnya, yaitu melepaskan diri dari kemiskinan dan keterbelakangan. Ketiga, Pemberdayaan pada umumnya tidak dilakukan secara sistemik, sehingga dalam pemberian bantuan stimulan, seperti pemberian benih maupun penjualan beras murah, tidak memberikan motivasi untuk mengembangkan potensi yang dimiliki para petani. Hal ini karena tidak ada kegiatan pemberdayaan yang dijalankan secara kontinyu, baik oleh aparatur desa, Perhutani maupun LSM.
SUMBANGAN HUTAN KEMASYARAKATAN MODEL SILVOFISHERY TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT SEKITAR HUTAN MANGROVE (Studi di Desa Grugu Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap) THE CONTRIBUTION OF SOCIAL FORESTRY SILVOFISHERY MODEL TO PEOPLE INCOME IN MANGROVE FOREST(Study al Grugu Village, Kawunganten District, Cilacap Regency) N., Dyah Ethika; Widarni, Sri
Pembangunan Pedesaan Vol 2, No 3 (2002)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sumbangan hutan kemasyarakatan dengan model silvofishery terhadap pendapatan masyarakat di sekitar hutan mangrove Kabupaten Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan sampel sebanyak 33 orang. Data pendapatapan serta hutan kemasyarakatan di hitung mulai tahun 1997 sampai tahun 2000. Secara finansial diketahui melalui analisis nilai Net Present Value INPV), Benefit-Cost Ratio (BCR) dan Internal Rate of Return(IRR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa diketahui adanya kerusakan hutan mangrovek arenak e padatanp enduduk, pencurian kayu, kebutuhan kayu bakar dan defisit lahan.Program Hutan Kemasyarakatan oleh Perum Perhutani dilakukan dengan model silvofishery dengan tanaman pokok jenis kayu galam atau kayu putih (Melaleluca leucadendron) dan tanaman mangrove seperti Rhizophora, dikombinasikan dengan udang serta ikan bandeng. Semua udang dan bandeng dan hasil sampingan menjadi milik Kelompok Tani Hutan kecuali untuk jenis-jenis tanaman yang sudah diatur terlebih dahulu pemanfaatan hasilnya oleh pihak Perum Perhutani, seperti tanaman kayu putih dan tanaman bakau yang ada. Pendapatan Kelompok Tani Hutan yang diteliti sebenarnya berlangsung selama 5 tahun, tetapi hanyap ada tahun ke I dan II yang Menguntungkan yaitu rata-rata sekitar Rp 10.018.434,13/ha Hasil analisis financial menunjukkan bahwa, program ini belum memberikan keuntungan bagi petani. Hal ini terbukti dari besarnya nilai NPV yang positif, nilai BCR yang lebih dari satu dan nilai IRR yang lebih tinggi dari tingkat bunga yang dianggap berlaku yaitu l9% hanya sampai 2 tahun. Pada tahun ketiga dan seterusnya, udang dan ikan sudah tidak menghasilkan keuntungan. Diduga hal ini karena pengaruh dari minyak sineol yang ada pada tanaman kayu putih atau tanah yang mengandungp irit (suffidic).
Pengaruh Zeolit dan Pupuk Kandang Terhadap Beberapa Sifat Fisik Tanah Ultisols dan Entisols pada Pertanaman Kedelai (Glycine Max L. Merril) , Bondansari; Susilo, Bambang Siswo
Pembangunan Pedesaan Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan Ultisols dan Entisols untuk peningkatan produksi kedelai perlu dilakukan perbaikan kualitas tanah, diantaranya dengan penambahan zeolit dan pupuk kandang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh zeolit dan pupuk kandang terhadap sifat fisik Entisols dan Ultisols, pertumbuhan dan produksi kedelai. Penelitian dilakukan dengan percobaan pot di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Perlakuan terdiri dari tiga faktor (tanah, zeolit dan pupuk kandang), yaitu 2 jenis tanah (Ultisols dan Entisols), 3 taraf dosis zeolit (0 ton/ha, 2 ton/ha, dan 4 ton/ha), dan 3 taraf dosis pupuk kandang sapi (0 ton/ha, 20 ton/ha, dan 30 ton/ha). Percobaan dirancang dengan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK), ulangan 3 kali dan diperoleh 54 unit percobaan. Variabel yang diamati meliputi sifat fisik tanah, pertumbuhan dan produksi kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) peningkatan dosis zeolit sampai 4 ton/ha dan pupuk kandang sampai 30 ton/ha tidak berpengaruh terhadap berat jenis isi (BJI), berat jenis partikel (BJP), porositas tanah Ultisols maupun tanah Entisols, batas lekat (BL), batas gulung (BG), dan batas berubah warna (BBW), akan tetapi peningkatan dosis zeolit mampu meningkatkan nilai batas cair (BC) dan peningkatan dosis pupuk kandang mampu menurunkan indeks plastisitas (IP), dan 2) zeolit secara mandiri tidak berpengaruh dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi kedelai, sedangkan peningkatan dosis pupuk kandang mampu meningkatkan bobot basah polong, bobot kering polong dan jumlah polong kedelai.
ANALISIS KEEFISIENAN USAHATANI JAHE (Studi Kasus di Kecamatan Ampel, Boyolali) EFFICIENCY ANALYSIS OF GINGER FARMING (Case Study in Ampel District, Boyolali) , Waridin
Pembangunan Pedesaan Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The objective of the study was to analyse the technical, price, and economic efficiency of ginger farming. This study was also intended to analyse the revenue and costs of the farming. Results of the study indicated that the production factors of land, labour, seeds, and organic fertilizer influenced significantly to the ginger production. The average technical, price, and economic efficiency reached 0.9252, 3.9618, and 3.6655, respectively. The coefficients of more than 1 implied that the ginger farming was not efficient yet and still possible to increase additional inputs. With the revenue-costs ratio of 1.82, the ginger farming was still profitable.
PERAN PENGANEKARAGAMAN TANAMAN TERHADAP PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DI INDONESIA ROLE OF CROPS DIVERSIFICATION ON AGRICULTURAL DEVELOPMENT IN INDONESIA Saparita, Rachmini
Pembangunan Pedesaan Vol 5, No 3 (2005)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of study was to identify the progress of crops diversification representing crops distribution pattern as long as agricultural development had been taking place in Indonesia and to identify the effect of diversification on increasing productivity in order to see its contribution on agricultural sector growth. The result showed that the progress of the diversification was parallel with agricultural development in Indonesia. While agricultural development run progressively, the diversification characterized by index diversification became to expand. The condition indicated that the crops became more competitive. Paddy, sweet potatoes, and cassava were the highest comparative advantages of food crops because of their productivity and index diversification among other food crops. Those three crops were the biggest activator of agricultural transformation in agriculture development in Indonesia. As long as agricultural development occurred in Indonesia, agricultural growth rate was determined dominantly by productivity of land. The sequence of contribution to the growth rate was paddy (17.5%), peanut (17.2%), sweet potatoes (15.0%), cassava (11.6%), soybean (11.6%), and maize (5.4%).
BANGUNAN PENYIMPAN SAYURAN MENGGUNAKAN SISTEM PENDINGIN KOMBINASI RADIASI DAN MENARA PENDINGIN DI DATARAN TINGGI COMBINATION OF RADIATIVE COOLING SYSTEM AND COOLING TOWER FOR VEGETABLES STORAGE AT HIGH LAND Trisasiwi, Wiludjeng
Pembangunan Pedesaan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berrujuan membuat alat pendingin kombinasi radiasi malam hari dan menara pendingin menggunakan fluida kerja air untuk menyimpan sayuran di dataran tinggi. Hasil percobaan di Cipanas menunjukkan bahwa radiasi malam hari mampu mendinginkan air sampai 2.3"C di bawah suhu udara lingkungan pada kondisi langit relatif cerah dengan kapasitas pendinginan rata-rata 60.9 W/m2. Hasil percobaan di Batu Malang menunjukkan penurunan suhu air sampai 2.5C di bawah suhu udara lingkungan dengan kapasitas pendinginan rata-rata 47.2 W/m2 pada kondisi awan sedang sampai rendah. Uji kinerja menara pendingin di Bogor menghasilkan selisih suhu air masuk dan keluar menara (range) rata-rata 1,1 oC dan beda suhu air keluar menara dengan suhu udara lingkungan (approach) l,.l oC pada RH lingkungan 50-88%. Percobaan di Batu Malang menghasllkan range 0,9 oC dan approach 0.6C pada RH lingkungan 60-90%. Sistem pendingin kombinasi skala lapangan di Batu Malang mampu menghasilkan suhu air pendingin 13,8-23,1 oC pada RH lingkungan 69-95 %. beda suhu air dengan udara lingkungan adalah 0,2-3,6 oC pada malam hari dan siang hari 0.8-10.3 oC. Suhu ruang pendingin berkisar 17 ,5-24,7 oC dengan RH 87-100%. Penyimpanan tomat dengan sistem pendingin kombinasi mampu menurunkan susut bobot. mempertahankan kekerasan, memperlambat perubahan warna merah dan memperpanjang umur simpan. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa system pendingin kombinasi ini layak diaplikasikan pada penyimpanan sementara beberapa jenis sayuran yang memerlukan suhu penyimpanan menengah 15-20 oC di dataran tinggi. Disarankan untuk mendapatkan suhu ruang pendingin yang lebih rendah lagi maka system perlu dikombinasikan dengan system pendingin ramah lingkungan yang lain misalnya system absorps LiBr-H2O.
PENGGUNAAN CAMPURAN BAKTERI ASAM LAKTAT DAN KHAMIR SEBAGAI FLAVOURING AGENT PADA SARI BUAH MENGKUDU TERFERMENTASI THE USE OF LACTIC ACID BACTERIA AND YEASTS COMBINATION AS FLAVOURING AGENT IN FERMENTED NONI JUICE Handayan, Isti; , Mustaufik
Pembangunan Pedesaan Vol 6, No 3 (2006)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fermentation in this research was aimed to reduce, remove or recover unpleasant smell and taste of noni juice. The treatment factors were combination of lactic acid bacteria and yeasts, consisting of Lactobacillus acidophillus: Saccharomyces cerevisiae (K1), L. acidophillus: Kluyveromyces marxianus (K2), L. casei: S. cerevisiae (K3) and L. casei: K. marxianus (K4), with fermentation times of 0, 3, 5, and 7 days. The result of this research were: different combination of lactic acid bacteria and yeasts caused significantly decreased of pH and increased of alcohol content, but not significant on the vitamin C content. The biggest decreased on the pH resulted from L. casei: K. marxianus (K4), on the other hand the biggest increased on the alcohol content resulted from L. acidophilus: K marxianus (K2). During fermentation, decrease of pH, vitamin C content and increase on the alcohol content were significant, resulted in the 0 and 3 days of fermentation. The counts of lactic acid bacteria and yeasts increased during 3 days fermentation but after this reduction. Sensory test showed that combination of lactic acid bacteria and yeasts and fermentation times were significant to the odor, flavour, taste and preference. Combination of L. acidophilus: K marxianus (K2) with 5 days fermentation resulted in the best of the noni juice preference.
HEALTH AND ENVIRONMENTAL INCENTIVES OF ADOPTED ECOLOGICAL TECHNOLOGYIN RICE FARMING INSENTIF KESEHATAN DAN LINGKUNGAN DARI TEKNOLOGI EKOLOGI YANG DISERAP PADA USAHATANI PADI Mariyono, Joko
Pembangunan Pedesaan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama kurun waktu 1970-80an, pertanian Indonesia terlihat tidak berkelanjutan karena penerapan teknologi berbasis teknologi kimiawi, yang merusak kesehatan dan lingkungan. Teknologi ekologi yang merupakan tindakan tepat, diserap untuk dapat berkelanjutan, dan hal ini telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Teknologi tersebut diharapkan dapat memberikan insentif ekonomi dan juga manfaat kesehatan dan lingkungan. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis secara ekonomi penerapan teknologi ekologi dan mengidentifikasi manfaat ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Kajian dilakukan di Jawa, tempat teknologi tersebut telah dimasyarakatkan secara luas. Secara khusus, kajian ini menekankan pada penggunaan pestisida. Data kerat-lintang dan runtut waktu selama 1989-90 dikumpulkan dari instansi pertanian tingkat propinsi, dan analisis dilakukan dengan panel ekonometri. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebaran teknologi ekologi memberi manfaat pada masyarakat setempat. Apabila dalam nilai uang, manfaat yang diperoleh dari penerapan teknologi ekologi sangat tinggi. Oleh karena itu, sangatlah masuk akal bagi pemerintah untuk melembagakan teknologi tersebut karena dapat meminimumkan masalah lingkungan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.