cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Pembangunan Pedesaan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 199 Documents
FAKTOR-FAKTOR PEMANFAATAN LAHAN DAN SOSIAL EKONOMI SEBAGAI PENYEBAB PENEBANGAN LIAR DI HUTAN NEGARA DI KABUPATEN BANYUMAS LAND USE AND SOCIOECONOMIC FACTORS CAUSING ILLEGAL LOGGING IN THE STATE FORESTS IN BANYUMAS REGENCY Rosyadi, Slamet
Pembangunan Pedesaan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu intervensi pemerintah Indonesia untuk mengatasi persoalan deforestasi adalah melalui program tumpangsari. Program ini memberikan akses lahan pada masa tertentu kepada masyarakat untuk kegiatan pertanian lahan kering di antara sela-sela tanaman kehutanan setelah kegiatan penebangan. Studi ini menemukan bahwa program tumpangsari memberikan pengaruh positif dalam menekan angka pencurian pohon sebagai ukuran deforestasi, sedangkan ketimpangan kepemilikan lahan, jumlah buruh tani, dan kemiskinan meningkatkan tekanan terhadap hutan. Temuan ini menunjukkan bahwa di lokasi tumpangsari yang masih berjalan, tidak ada insentif untuk menebang pohon yang masih muda. Di samping itu, eksistensi petani hutan yang relatif masih aktif dapat mengendalikan hutan dari kerusakan. Kata kunci: deforestasi, tumpangsari, ketimpangan kepemilikan lahan, buruh tani, kemiskinan
INDEKS REPRODUKSI KAMBING PADA SISTEM PENGELOLAAN BERKELOMPOK DAN INDIVIDUAL DI PEDESAAN(DOE REPRODUCTION INDEX UNDER ORGANIZED AND INDIVIDUAL MANAGEMENT SYSTEM IN RURAL AREAS) Sodiq, Akhmad
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 3 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study focusing on doe reproduction index under organized and individual management system in rural area, had been carried out in Lumbir Subdistrict Banyumas Regency The research was aimed at determining the level of doe reproduction index under organized and individual and individual management system and examining the effect of those systems A total of 48 Peranakan Etawah does were involved in this study by on-farm research. The variables studied consisted of litter size, preweaning survival rate kidding interval, doe reproduction index, and management practice. Data were analy. zedbiy descriptive and compare means supported by package of the Statistic at Product and Service Solution ( Norusis.1993). The results-showed- that (l) trhe level of doe reproduction index under organized managemen system and individual mananagemens system were 2.23 and 1.89 head / doe / year, respectively,( 2) under organized management system appears doe reproduction index was higher than at individual management system, (3) thep rimary factors of the overhanging doe reproduction index under individual management system were threateninogn kiOi survival, supported by longer in kidding interval and low litter size.
KERAGAMAN GENETIKA IKAN BETUTU (Oxyleotris sp.) DARI WADUK PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN BANJARNEGARA DAN WADUK RAWA PENING SALATIGA GENETIC DIVERSITY OF BETUTU (Oxyleotris sp.) IN PANGLIMA BESAR SOEDIRMAN DAM AT BANJARNEGARA REGENCY AND RAWA PENING BASIN AT SALATIGA CITY Abulias, Muh. Nadjmi; Bhagawati, Dian
Pembangunan Pedesaan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A knowledge concerning genetic diversity of betutu is vital as a basis for their conservation. This research aimed to know genetic diversity of betutu (Oxyleoris sp.) in General Soedirman Dam located in Banjarnegara Regency and Rawa Pening Basin in Salatiga City. The perceived variable was isozyme polymorphism. Horizontal starch gel electrophoresis was used to visualize isozymes band pattern. The result is expected provide data for their management and to avoid adverse effect of inbreed pressure on the next generation. The result of showed that population of betutu from Soedirman Dam could express 12 of loci and five of them were polymorphic. The population from Rawa Pening could visualize a number of 10 loci and four of them were polymorphic. These proved that betutu population from Soedirman Dam had higher genetic diversity than those from Rawa Pening Basin. This implied that the population from Soedirman Dam could be used as local genetic resources.
PERMODELAN SAMPAH PEMUKIMAN BERBASIS MANAJEMEN KOLABORASI(Studi Kasus di Desa Palimanan Barat Kabupaten Cirebon) Rosyadi, Slamet; Lestianingrum, Erna
Pembangunan Pedesaan Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pola kolaborasi antara pihak swasta dan masyarakat dalam membantu pemerintah untuk mengatasi permasalahan sampah yang dihasilkan di wilayah permukiman warga. Penelitian ini memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk mendapatkan deskripsi yang lengkap mengenai pola kolaborasi dalam pengelolaan sampah permukiman. Sumber data diperoleh dari data sekunder, studi literature, wawancara dan kunjungan lapangan. Informan diambal dari unsur-unsur masyarakat desa Palimanan Barat, pengurus pengelola sampah desa, dan pihak swasta pemanfaat sampah. Data sekunder dikumpulkan dari catatan yang dilakukan oleh badan usaha milik desa (bumdes) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk sebagai pemanfaat sampah olahan. Data dianalisis secara deskriptif, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Penelitian ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat dan sektor swasta dalam pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan baik. Faktor-faktor yang berperan penting dalam membangun kolaborasi public-private ini diantaranya komitmen, partisipasi aktif semua aktor, profesionalisme dan transparansi. Hasil-hasil yang diperoleh dari kolabarasi public-private ini adalah peningkatan pendapatan masyarakat melalui BUMDES, peningkatan kapasitas institusi local, dan perbaikan lingkungan permukiman.
MEMERANGI DELEGITIMASI INSTITUSI LOKAL FIGHTING LOCAL INSTITUTION DELEGITIMACY Nugroho, Heru
Pembangunan Pedesaan Vol 4, No 3 (2004)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahwa keberadaan institusi lokal baik pada masa Orde Baru maupun era reformasi mengalami kondisi kemuraman. Hal itu disebabkan karena intervensi politik penguasa yang bersifat monolitik, hegemonik dan cenderung top down maupun disebabkan oleh adanya stigmatisasi keliru yang mencap penduduk desa bodoh, malas dan tidak produktif. Akibatnya, mereka dianggap tidak layak untuk mengelola suatu lembaga lokal yang akan bermanfaat bagi upaya pemberdayaannya. Sistem politik dan paradigma yang keliru itu harus diluruskan. Keberadaan institusi lokal harus dikembalikan pada posisinya yang hakiki, yaitu sebagai instrument penguatan warga akar rumput. Oleh karena itu, intervensi kreatif dan inovatif sangat dibutuhkan, agar eksistensi lembaga lokal dapat kembali secara optimal dalam memberdayakan warga dan menjadi instrumen yang efektif dalam interaksi sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya, secara lebih bermakna.
PENGEMBANGAN AGROWISATA DI PULAU NUSAKAMBANGAN(AGRITOARISM DEWLOPMENT OF NUSAKAMBANGAN ISI.AND) Kohari, Kasan
Pembangunan Pedesaan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dalam rangka menyusun rencana induk pengembangan pariwisata telah Dilakukan di Pulau Nusakambangan. Salah satu program yang diusulkan dalam Rencana Induk PengembanganPariwisata Pulau Nusakambangan 2001-2005 adalah pengembangan agrowisata. Lokasi yang diperuntukkan menjadi kawasan agrowisata terletak di sekitar bekas Lapas ( Lembaga Pemasyarakatan) Karanganyar dengan luas area sekitar 100ha. Tulisani ni bertujuan untuk menginformasikan kelayakan investasi dalam pengembangan agrowisata di Karang anyar yang merupakan bagian dari pengembangan pariwisata Pulau Nusakambangan. Hasil analisis dengan menggunakan kriteria investasi terhadap Salak pondoh yang diambil sebagai contoh komoditas yang hendak dikembangkan diperoleh hasil : (1) NPV dengan discount factor ( dt) 30% sebesar 5.906.591,8 dan dengan df 26% sebesar 9.450.546,9 (;2 ) IRR : 36,6%; ( 3) Net B / C : 4,45;( 4) ROI = 345,3%; dan (5) BEP untuk produk 21.895,6 k g dan untuk hargaR p 1.112,219/kg. Berdasarkan hasil analisis tersebut disimpulkan salak pondoh termasuk komoditas yang layak investiasi untuk pengembangan agrowisata.D isarankan, k omoditas lain yang direkomendasikan untuk pengembangan agrowisata yang diminati oleh calon investor hendaknya dilakukan analisis seperti metode di atas untuk menilai kelayakani ivestasinya.
PROFIL PENGEMBANGAN DAN KEBIJAKAN PEMBANGUNAN PERTANIAN DI KABUPATEN BREBES JAWA TENGAH(Tinjauan pada Pengembangan Komoditas Cabe Merah)PROFILE OF AGRICULTURAL DEVELOPING AND DEVELOPMENTAL POLICY IN BREBES REGENCY CENTRAL JAVA PROVINCE(Review on Development of Chilli Commodity) , Tobari; Koesuma Ellyanto, Adwi Hery
Pembangunan Pedesaan Vol 4, No 1 (2004)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan wilayah melalui pendekatan sektor pertanian harus mampu memanfaatkan keunggulan komparatif dan kompetitif dari setiap wilayah yang berbeda, sehingga mampu memberikan dampak ekonomi pada wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi komoditas cabe merah di Kabupaten Brebes, seberapa besar tingkat konsentrasi dan spesialisasi wilayah yang mengalami pertumbuhan dan mempunyai daya saing baik, dan dampak kebijakan pemerintah pada pengembangan komoditas cabe merah. Hasil penelitian menunjukan bahwa: Masing-masing kecamatan memiliki potensi komoditas basis yang jumlah dan jenisnya berbeda-beda. Tiap-tiap komoditas basis cenderung menyebar tidak merata dan tidak ada satu pun wilayah yang melakukan konsentrasi dan spesialisasi. Ada kecenderungan Kecamatan Banjarharjo memiliki pertumbuhan dan daya saing yang baik untuk usahatani cabe merah disbanding dengan wilayah lain. Tidak cukup alasan untuk menyatakan bahwa dampak kebijakan pemerintah menguntungkan petani cabe merah. Secara financial dan ekonomi, petani lebih efisien menggunakan sumberdaya domestik untuk usahatani cabe merah. Harga finansial lebih rendah dari pada harga sosial, sehingga ada pengurangan penerimaan petani. Dampak kebijakan pemerintah secara total telah terjadi disinsentif, surplus produsen berkurang, karena terjadi pengalihan laba usaha kepada masyarakat. Disarankan kebijakan pengembangan cabe merah diarahkan dan memperhatikan pemanfaatan sektor basis ekonomi potensial dan sektor yang menyediakan masukan maupun sektor yang memanfaatkan lebih lanjut produk dari sektor basis tersebut.
PENURUNAN PENGUAPAN AMONIA PADA PADI SAWAH AKIBAT PEMBERIAN ZEOLIT ALAM DAN PUPUK UREA TABLET REDUCTION OF AMMONIA VOLATILIZATION IN RICE CAUSED BY ADDING NATURAL ZEOLITE AND PRILLED UREA FERTILIZER , Kharisun
Pembangunan Pedesaan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research was aimed at investigating the effect of natural zeolite of Tasikmalayan deposit and urea fertilizer on ammonia volatilization, fertilizer usage efficiency, and rice yield. This research was a pot experiment using Eutrudept soil type conducted in a glass house. The experiment was factorially arranged in a randomized block design. The factors tested were level of natural zeolite (0, 1000, and 2000 kg/ha) and urea fertilizer (0, 100, and 200 kg N prilled urea/ha and 0, 100, and 200 kg N supergranule urea/ha). Ammonia emitted was determined using Sulfuric Acid Entrapment System. Application of natural zeolite reduced volatilized N by 46%, from 78.78 mg N/pot to 42.11 mg N/pot. The highest volatilized N was observed at the application of prilled urea at 200 kg N/ha (197.23 mg/pot).
PENGARUH JUMLAH DAN KRITERIA BUAH MUDA YANG DIPERTAHANKAN TERHADAP HASIL BUAH MANGGA ( EFFECT OF NUMBER AND CRITERIA OF MAINTAINED YOUNG FRUITS ON YIELD OF MANGO) , Sakhidin
Pembangunan Pedesaan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Pembangunan Pedesaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research was to get optimum number of maintained young fruit per panicle and good criteria of fruit that must be maintained so it will get a high yield of mango. The factors under investigation were number of young fruit to be maintained per panicle: 2, 4, and 6; the criteria of young fruit to be maintained: the biggest fruit, fruit attached at the beginning of panicle, and fruit attached at panicle at the same distance. The result of research showed that 6 fruits that maintained per panicle gave the highest weight per tree of mango (33,45 kg), but the lowest weight per fruit (466,98 kg). Maintaining the 2 biggest fruits of mango gave the highest weight per fruit (510,53 g).