cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.teknologi.pertanian@gmail.com
Editorial Address
Jl. Veteran Malang 65145 Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pertanian
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 14115131     EISSN : 25282794     DOI : -
Jurnal Teknologi Pertanian diterbitkan oleh Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya untuk penyebarluasan hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari dalam dan luar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Jurnal Teknologi Pertanian terbit tiga kali dalam setahun, memuat tulisan hasil penelitian yang termasuk dalam lingkup disiplin ilmu pengetahuan yang terkait dengan Ilmu-ilmu Teknologi Pertanian guna menunjang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan nasional.
Arjuna Subject : -
Articles 578 Documents
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI ASAM LAKTAT PADA FERMENTASI SPONTAN BIJI KOPI ROBUSTA ASAL BANTAENG Izmi Azhara; Muhammad Rais; Andi Sukainah; Reski Praja Putra
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 23 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1098.007 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2022.023.01.5

Abstract

          Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang bertujuan mengisolasi bakteri asam laktat (BAL) indigenus yang terlibat dalam fermentasi spontan biji kopi robusta asal Bantaeng pada interval waktu fermentasi 0, 3, 6, 9, 24, 48, dan 72 jam serta untuk mengetahui aktivitas enzim dari isolat bakteri asam laktat indigenus sebagai upaya pengembangan kultur starter dalam fermentasi biji kopi secara terkontrol. Hasil penelitian menunjukkan isolasi berhasil dilakukan pada 37 isolat bakteri yang terlibat dalam fermentasi spontan biji kopi robusta. Hasil identifikasi sederhana yang dilakukan secara bertahap menunjukkan hanya 12 isolat bakteri yang bersifat katalase negatif, Gram positif, non spora, non motil, tidak menghasilkan gas (homofermentatif), tumbuh pada suhu 10 °C, 37 °C, 45 °C serta mampu tumbuh pada konsentrasi garam 4% dan 6,5%. Selanjutnya, 2 isolat BAL yang diisolasi pada waktu fermentasi 24 jam diuji lebih lanjut untuk dikembangkan sebagai kultur starter fermentasi biji kopi secara terkontrol. Kedua isolat BAL terpilih, yaitu BT24I1 dan BT24I2, diuji kemampuannya dalam menguraikan selulosa dan pektin. Hasil pengujian kualitatif menunjukkan kedua isolat BAL mampu menghasilkan selulase dan pektinase sehingga keduanya berpotensi dikembangkan sebagai kandidat kultur starter dalam fermentasi terkontrol biji kopi robusta dalam upaya pengembangan mutu dan cita rasa kopi                                                                 This study is an experimental study aimed at isolating lactic acid bacteria (BAL) indigenus involved in the spontaneous fermentation of robusta coffee beans from Bantaeng at fermentation time intervals of 0, 3, 6, 9, 24, 48, 72 hours and to find out the enzyme activity of the isolate of indigenus lactic acid bacteria as an effort to develop a starter culture in controlled coffee bean fermentation. The results showed that isolation was successfully carried out on 37 bacterial isolates involved in spontaneous fermentation of robusta coffee beans. The results of a simple identification carried out gradually showed only 12 bacterial isolates that were catalase negative, Gram positive, non spore, non-motile, non-gas-producing (homofermentative), growing at temperatures of 10 °C, 37 °C, 45 °C and able to grow at salt concentrations of 4% and 6.5%. Furthermore, 2 BAL isolates isolated at the fermentation time of 24 hours were further tested to be developed as a controlled coffee bean fermentation starter culture. The two selected BAL isolates, BT24I1 and BT24I2, tested their ability to decompose cellulose and pectin. Qualitative test results show that both BAL isolates can produce cellulase and pectinase so that both have the potential to be developed as candidates for starter cultures in controlled fermentation of robusta coffee beans in an effort to develop the quality and taste of coffee.
SIFAT FISIKO-KIMIAWI DAN FUNGSIONAL TEPUNG UWI (Dioscorea spp.) YANG DI MODIFIKASI MENGGUNAKAN CAIRAN SAUERKRAUT Ulyarti Ulyarti; Surhaini Surhaini; Yuli Sri Wahyuni; Nazarudin Nazarudin
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 23 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.601 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2022.023.01.7

Abstract

          Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama fermentasi menggunakan cairan kubis fermentasi (sauerkraut) terhadap sifat fisikokimia dan fungsional tepung uwi kuning (Dioscorea spp.). Cairan sauerkraut hari ke-3 (72 jam fermentasi) sebagai sumber Bakteri Asam Laktat (BAL) digunakan dalam proses fermentasi. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 6 taraf perlakuan, yaitu tanpa fermentasi (kontrol), 12, 24, 36, 48, dan 60 jam fermentasi. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu pembuatan cairan sauerkraut dan pembuatan tepung fermentasi. Cairan sauerkraut mengalami peningkatan total mikroba dan penurunan nilai pH seiring dengan lamanya fermentasi. Pada cairan fermentasi uwi terjadi peningkatan total mikroba dan penurunan pH selama 48 jam fermentasi. Fermentasi lebih dari 48 jam mengakibatkan jumlah mikroba menurun kembali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama fermentasi memiliki pengaruh (p ≤ 0,05) terhadap nilai kromatik warna b* 25,95 (48 jam), solubility pada titik suhu 65 °C dan 75 °C, kapasitas penyerapan air 2,28 g/g (60 jam), dan aktivitas antioksidan 67,68% (60 jam), namun tidak berpengaruh (p ≥ 0,05) pada kadar air, kadar serat, nilai kromatik warna L* dan a*, °hue, swelling power, solubility dibeberapa titik suhu (70, 80, 85, 90, 95 °C), kapasitas penyerapan minyak, dan aktivitas emulsi.                                                                                               This study aimed to determine the effect of fermentation time using fermented cabbage juice (sauerkraut) on physicochemical and functional properties of yellow yam (Dioscorea spp.) flour. The 3rd day sauerkraut juice (72 hours fermentation) was used as the source of LAB starter in fermentation. This study used a Randomized Block Design (RBD) with six treatments, i.e : without fermentation (control), 12, 24, 36, 48, and 60 hours fermentation. The study was carried out in two steps: sauerkraut processing and the fermented yam flour processing. The sauerkraut juice showed an increase in total microbe and a decrease in pH during fermentation. The total microbe and the pH of the fermentation solution increased during first 48 hours fermentation. Fermentation longer than 48 hours caused the total microbe to decrease. The result showed that the length of fermentation affected (p ≤ 0.05) the chromatic color value b* 25,95 (48 hours), solubility at 65 °C and 75 °C, water absorption capacity 2,28 g/g (60 hours), and antioxidant activity 67,68% (60 hours), but did not affect (p ≥ 0.05) water content, crude fibre content, chromatic color value L* and a*, °hue, swelling power, solubility at the several temperature (70, 80, 85, 90, 95 °C), oil absorption capacity, and emulsion activity.
DEHUMIDIFIER DRYING OF SEAGRASS SIMPLICIA AT LOW TEMPERATURE FOR ANTIOXIDANT AND PHENOLIC PRESERVATION Bambang Susilo; Mukhammad Abdul Jabbar Filayati; Mochamad Bagus Hermanto; Retno Damayanti; Adamas Akbar Yurisdanto; Abd. Rohim
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2023.024.01.2

Abstract

          Syringodium isoetifollium is seagrass a marine plant which is mostly found in Indonesian sea waters. Phenol is a kind of sensitive heat compound which will damage at high temperatures. This research aimed to study the effect of temperature using a dehumidified drying machine on the quantity of phenol content and testing of this antioxidant activity and the evaluation of drying characteristics of seagrasses such as decrease of moisture content, the distribution of temperature drying relative humidity, and energy consumption. In this research, the independent variaable were tempeartures (30 °C, 40 °C, and 50 °C) and the independent variable were the content of phenol and antioxidant activity of the seagrasses. The phenol content of each extract was measured with a microplate reader using a Follin-Ciocalteu reagent. The antioxidant activity was measured with the 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) method. The result showed that the highest content of phenolic compounds (80.42766 ± 0.409a) and antioxidant activity (88.4185 ± 32.0709a) was found in the dehumidified dryer at a temperature of 40 °C. There were significant differences between temperatures of 30 °C and 50 °C. Dehumidifier drying at 30 °C, 40 °C, and 50 °C required 13 hours, 12 hours, and 7.5 hours to reach the final moisture content of seagrass 18-20% from the initial moisture content of 89.4% ± 0.04% (wb). The total phenol content and antioxidant activity with a temperature treatment of 40 °C dehumidifier drying machine showed the best results compared to temperatures of 30 °C, 50 °C, and oven at 40 °C. Based on the same temperature treatment, dehumidifier drying requires a faster time (12 hours) than oven drying (17 hours). The appropriate temperature and time of drying can produce the optimal total phenol and antioxidant activity.
KARAKTERISTIK FISIK DAN MEKANIK PLASTIK BIODEGRADABLE BERBASIS PATI SINGKONG DENGAN PENAMBAHAN WHEY KEJU DAN PLASTISISER GLISEROL Ardiyan Dwi Masahid; Nur Aniza Aprillia; Yuli Witono; Lailatul Azkiyah
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2023.024.01.3

Abstract

          Plastik merupakan kemasan pangan yang umum digunakan namun memiliki sifat sukar dihancurkan sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan dan masalah kesehatan. Plastik biodegradable berbasis renewable material seperti singkong, whey keju, dan gliserol dapat menjadi alternatif kemasan yang ramah lingkungan. Whey keju mengandung protein sebesar 0,6 % yang berpotensi menjadi bahan bioplastik dengan penambahan bahan lain seperti hidrokoloid (protein dan polisakarida) untuk memperbaiki karakteristiknya. Plastik biodegradable berbahan baku polisakarida tanaman seperti ubi kayu umumnya bersifat kaku dan rapuh sehingga harus ditambahkan bahan lain. Pembuatan plastik biodegradable memerlukan bahan pemlastis seperti gliserol untuk meningkatkan elastisitas polimer plastik dan mengurangi kerapuhan bioplastik. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh perbedaan variasi volume whey keju dan gliserol terhadap karakteristik fisik, mekanik, dan biodegradasi plastik biodegradable. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan dan terdapat 2 faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu variasi volume whey keju dan faktor kedua yaitu variasi volume gliserol. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variasi volume whey keju dan gliserol berpengaruh nyata terhadap kuat tarik, elongasi, elastisitas, daya serap air, dan daya degradasi. Hasil uji efektivitas menunjukkan bahwa formulasi terbaik terdapat pada sampel A1B1 yaitu plastik biodegradable dengan formulasi whey keju 20 ml dan gliserol sebesar 5 ml dengan nilai perbedaan warna (∆E) 15,526 dengan L* (lightness) 85,68, a* (redness) 0,2, b* (yellowness) 8,71, daya serap air sebesar 695,244 %, kuat tarik sebesar 0,00646 MPa, elongasi sebesar 76,36 %, elastisitas sebesar 0,01033 MPa, dan laju degradasi sebesar 12,035 %/hari.
PEMBUATAN ASAP CAIR DARI KULIT KOPI (Coffea sp.) DAN APLIKASINYA SEBAGAI KOAGULAN LATEKS Deni Agus Triawan; Ria Nurwidiyani; Nesbah; Dyah Sarsiwi Hamurwani; Noza Alika Puteri; Alemina Vintanta Nasution; Utami Yuliyani
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2023.024.01.1

Abstract

          Pengolahan kopi (Coffea sp.) melalui penggilingan akan menghasilkan limbah kulit kopi yang  tidak termanfaatkan dan hanya ditumpuk di sekitar lokasi pengolahan. Kulit kopi (Coffea sp.) mengandung lignin dan selulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan asap cair. Asap cair memiliki beberapa kegunaan diantaranya dapat diaplikasikan sebagai koagulan karet alam (lateks). Asap cair dihasilkan melalui proses pirolisis selama 6 jam dengan suhu ± 350◦C. Rendemen asap cair yang dihasilkan dari proses pirolisis  kulit kopi sebesar 19,6% dengan karakteristik berbau asap, berwarna coklat kemerahan dengan berat jenis sebesar 1,007 ± 0,003 gr/mL, pH 3,62 ± 0,021, dan kadar asam total 9,75 ± 0,025%. Analisis menggunakan spektrofotometer FTIR menunjukkan adanya vibrasi gugus –OH, C=O dan C-O yang diduga berasal dari gugus karboksilat. Asap cair diaplikasikan sebagai koagulan lateks dengan konsentrasi (dalam v/v) yaitu 5%, 10%, 15%, dan 20% serta lateks murni tanpa perlakuan sebagai kontrol negatif dan asam formiat 2% (v/v) sebagai kontrol positif. Pada konsentrasi asap cair 15% waktu koagulasi lateks menunjukkan hasil yang hampir sama dengan penggunaan asam formiat 2%. Pada konsentrasi asap cair yang lebih tinggi yaitu 20% (v/v), proses koagulasi menggunakan asap cair lebih cepat dibandingkan dengan asam formiat 2% (v/v). Penggunaan asap cair dari kulit kopi pada proses koagulasi lateks mampu memperpendek waktu koagulasi serta menghilangkan bau busuk pada lateks namun mengubah warna lateks alami menjadi abu-abu. Berdasarkan hasil penelitian tersebut asap cair kulit kopi (Coffea sp.) dapat digunakan sebagai koagulan lateks untuk menggantikan asam formiat.
PERBANDINGAN BERBAGAI METODE PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN (DPPH, ABTS DAN FRAP) PADA TEH HITAM (Camellia sinensis) Zerlinda Theafelicia; Siti Narsito Wulan
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2023.024.01.4

Abstract

          Senyawa antioksidan berperan dalam menghambat atau menunda reaksi oksidasi molekul dengan cara memperlambat proses inisiasi atau propagasi reaksi oksidasi berantai. Hasil pengujian aktivitas antioksidan dapat bervariasi karena perbedaan struktur kimiawi antioksidan, sumber radikal bebas, dan sifat fisikokimia dari sampel yang diuji.  Senyawa yang mengandung radikal bebas memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan dan bersifat reaktif sehingga dapat merusak sel dan jaringan bila terakumulasi dalam tubuh manusia. Terdapat antioksidan alami dan sintetis yang berfungsi untuk menghambat reaksi oksidasi dan mencegah terbentuknya radikal bebas. Namun, perlu diperhatikan bahwa antioksidan sintetis dapat memodifikasi senyawa menjadi karsinogenik. Oleh karena itu, eksplorasi  antioksidan alami dan pengujian aktivitas antioksidannya penting dilakukan. Salah satunya adalah pengujian aktivitas antioksidan teh hitam (Camellia sinensis). Teh merupakan salah satu minuman yang paling populer di dunia dan merupakan tanaman yang banyak ditemukan di daerah pegunungan Asia. Teh diketahui memiliki manfaat kesehatan karena mengandung polifenol yang merupakan antioksidan alami. Antioksidan polifenol  berperan dalam melawan radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh. Penentuan aktivitas antioksidan dilakukan dengan uji penangkapan radikal DPPH (2.2-difenill-1-pikrilhidrazil), ABTS (3-ethyl-benzothiazoline-6-sulfonic acid) dan FRAP (Ferric Reducing Antioxidant Power). Ketiga metode uji antioksidan berbeda dalam  mekanisme reaksinya. Hasil pengujian antioksidan pada teh hitam dengan metode DPPH sebesar 208.83 mgTE/g, ABTS sebesar 217.83 mgTE/g dan FRAP sebesar 42.15 mgTE/g, dimana TE adalah Trolox Ekuivalen
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK MINUMAN JELI DENGAN PERBEDAAN KONSENTRASI KARAGENAN, GLUKOMANAN, DAN TEPUNG PISANG TERFERMENTASI Hanim Mufarrihah Octaviyana; Ardiyan Dwi Masahid; Nurhayati; Riska Rian Fauziah
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2023.024.01.5

Abstract

          Tepung pisang mentah (TPM) merupakan salah satu bahan pangan sumber pati resistan, namun memiliki rasa astringent sehingga kurang diminati untuk dikonsumsi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi rasa tersebut yaitu fermentasi. Selain itu fermentasi juga dapat meningkatkan jumlah kadar pati resistan pada TPM. TPM terfermentasi dapat disubstitusikan ke produk minuman jeli sebagai bentuk diversifikasi produk dan meningkatkan mutunya. Faktor yang menentukan mutu produk minuman jeli yaitu komposisi dan konsentrasi gelling agents serta bahan lain yang ditambahkan. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh variasi konsentrasi karagenan, glukomanan, dan TPM terfermentasi terhadap karakteristik fisik, kimia, dan organoleptik minuman jeli yang dihasilkan dan menentukan formulasi terbaik minuman jeli yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang digunakan dalam penelitian yaitu variasi perbandingan rasio karagenan dan glukomanan sebagai gelling agents (1:1, 1:2, 2:1, 1:0) (b/b) dan variasi konsentrasi TPM terfermentasi yang ditambahkan dalam pembuatan minuman jeli (2%, 4%, 6%) dengan total kombinasi perlakuan sebanyak 12 perlakuan dan setiap perlakuan dilakukan pengulangan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perbedaan konsentrasi karagenan, glukomanan, dan TPM terfermentasi dalam pembuatan minuman jeli berpengaruh nyata terhadap nilai sineresis; hardness; cohesiveness; springiness; kadar pati resistan; dan parameter organoleptik warna; tekstur; keseluruhan, namun tidak berpengaruh nyata terhadap organoleptik aroma; rasa dan total populasi Lactobacillus bulgaricus pada minuman jeli. Perlakuan formulasi terbaik berdasarkan uji efektivitas yaitu perlakuan K1T3 yang terdiri dari konsentrasi TPM terfermentasi 6% dan rasio karagenan glukomanan sebagai gelling agents 1:1.
MICROWAVE-ASSISTED EXTRACTION OF PECTIN FROM BABY JAVA ORANGE (Citrus sinensis) PEEL AND ITS CHARACTERISATION Susinggih Wijana; Nur Lailatul Rahmah; Siti Insyirah Fadhilah
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 24 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2023.024.01.6

Abstract

          Baby java orange (Citrus sinensis) is the main ingredient for various products. Pectin as a baby java orange peel substance is extracted using various methods. Microwave-assisted extraction is a method that uses heat energy dissipated by the volume setting from the transmitting medium. The objective of the study was to evaluate the effect of orange peel powder: acid solution ratio (1:10, 1:15, 1:20 b/v)  and extraction time (5, 10, 20 min) on characteristics of extracted pectin by using MAE (Microwave-Assisted Extraction) at 2.450 MHz. The best result was a 15-minute extraction time and 1:15 as the material: acid solution ratio. The treatment resulted in a 51.3% yield, 10.8% water content, 5% ash content, 775.41 equivalent weight, and 6.49 methoxyl content. The intense FTIR spectrum in the ―CO―CH3 and ―COOH groups showed the same result as the standardised pectin.
EVALUATION ON ANTIOXIDANT ACTIVITY AND ACTIVE COMPONENTS OF TRIGONA ITAMA PROPOLIS EXTRACT AND ITS POTENTIAL AS SARS-CoV2 INFECTION INHIBITORS Elma Putri Primandasari; Agus Susilo; Khothibul Umam Al Awwaly; Miftakhul Cahyati; Dewi Masyithoh
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 24 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2023.024.02.6

Abstract

          Propolis Trigona itama  has a blackish brown color and has a bitter taste. Propolis contains immunomodulator, antibacterial, antifungal and antiviral. Efforts made to determine the potential of propolis require an extraction process. The extraction process aims to obtain propolis ready for consumption. Propolis has thermostable properties with a melting point of 60oC – 65oC, so it does not require high temperatures in the extraction process. The extraction process using MAE requires a faster time because the pressure and temperature can be controlled. This study used a factorial completely randomized design with 2 factors with 9 treatments and 3 replications. The data obtained were analyzed by analysis of variant (ANOVA). If there is a difference, it is continued with the DUNCAN multiple distance test. The results of the extraction using the MAE method of propolis have antioxidant activity using the DPPH method of 1,460µg/ml to 1,413 µg/ml which is expressed in IC50. Trigona itama  propolis extract had an average antioxidant value of 0.22 µg/ml to 0.57 µg/ml using the FRAP method.There is a unique component in the GCMS results of Trigona itama propolis extract called bisalcofen.Bisalcofen is an active component which has antioxidant properties. The results of the bisalcofen docking score of -7.6 on the ACE2 protein. Bisalcofen has a stronger potency than umifenovir which can be used as an inhibitor of SARS-CoV2 infection.
PROFIL SIFAT FISIKO-KIMIA DAN MIKROBIOLOGI CAIRAN ECO-ENZYME DARI BEBERAPA JENIS BUAH DAN DAUN CEMARA UDANG (Casuarina equisetifolia) Simon Bambang Widjanarko; Latifa Putri Aulia; Yumna Khoirunnisa
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 24 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2023.024.02.5

Abstract

          Limbah rumah tangga didominasi 57% oleh limbah organik seperti potongan buah, sayur, dan jenis potongan makanan lainnya. Limbah sampah organik ini perlu ditangani untuk mengurangi jumlah limbah organik. Tiga jenis sampel Eco-Enzyme dari 5 jenis limbah buah, 10  jenis limbah buah, dan rantes (daun cemara udang) yang ditambahkan pada fermentasi 5 jenis limbah buah serta difermentasi lebih lanjut selama 1 bulan, dikarakterisasi sifat fisikokimia, mikrobiologis, dan kandungan senyawa bioaktif dengan metode FTIR. Penelitian dilaksanakan secara deskriptif untuk analisis fitokimia, kadar total angka lempeng bakteri, dan senyawa gugus fungsi dengan FTIR. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data karakter sifat fitokimia, fisikokimia, dan gugus fungsi senyawa pada Eco-Enzyme. Rancangan Acak Kelompok dengan 3 kali ulangan dipakai untuk menganalisis data aktifitas enzim lipase, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan ketiga jenis sampel aktif mengandung enzim lipase dengan pH rendah (<4,0), total angka lempeng bakteri sekitar 104 cfu/ml. Hasil penelitian menunjukkan uji fitokimia didukung oleh hasil analisis FTIR. Uji buih positif Eco-Enzyme dapat dipakai sebagai bahan sabun. Kadar aktifitas lipase positif dengan hasil tertinggi pada sampel Eco-Enzyme terbuat dari 10 jenis limbah buah. Total angka lempeng bakteri rendah. pH rendah (<4,0) Eco-Enzyme dari tiga jenis sampel menunjukkan Eco-Enzyme aman untuk dipakai. Kesimpulan dari riset ini adalah Eco-Enzyme mengandung senyawa fenol dan turunannya, kecuali alkaloid, aktifitas lipase cukup tinggi, pH rendah, dan total angka lempeng bakteri rendah.

Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 26 No. 3 (2025) Vol. 26 No. 2 (2025) Vol. 26 No. 1 (2025) Vol. 25 No. 3 (2024) Vol. 25 No. 2 (2024) Vol. 25 No. 1 (2024) Vol. 24 No. 3 (2023) Vol. 24 No. 2 (2023) Vol. 24 No. 1 (2023) Vol. 23 No. 3 (2022) Vol. 23 No. 2 (2022) Vol. 23 No. 1 (2022) 6th International Conference on Green Agro-industry and Bioeconomy (ICGAB) July 2022 - Special Issue Vol. 22 No. 3 (2021) Vol 22, No 2 (2021) Vol. 22 No. 1 (2021) Vol 22, No 1 (2021) Vol 21, No 3 (2020) Vol. 21 No. 3 (2020) Vol 21, No 2 (2020) Vol 21, No 1 (2020) Vol 20, No 3 (2019) Vol 20, No 2 (2019) Vol 20, No 1 (2019) Vol 19, No 3 (2018) Vol 19, No 2 (2018) Vol 19, No 2 (2018) Vol 19, No 1 (2018) Vol 19, No 1 (2018) Vol 18, No 3 (2017) Vol 18, No 3 (2017) Vol 18, No 2 (2017) Vol 18, No 2 (2017) Vol 18, No 1 (2017) Vol 18, No 1 (2017) Vol 17, No 3 (2016) Vol 17, No 3 (2016) Vol 17, No 2 (2016) Vol 17, No 2 (2016) Vol 17, No 1 (2016) Vol 17, No 1 (2016) Vol 16, No 3 (2015) Vol 16, No 3 (2015) Vol 16, No 2 (2015) Vol 16, No 2 (2015) Vol 16, No 1 (2015) Vol 16, No 1 (2015) Vol 15, No 3 (2014) Vol 15, No 3 (2014) Vol 15, No 2 (2014) Vol 15, No 2 (2014) Vol 15, No 1 (2014) Vol 15, No 1 (2014) Vol 14, No 3 (2013) Vol 14, No 3 (2013) Vol 14, No 2 (2013) Vol 14, No 2 (2013) Vol 14, No 1 (2013) Vol 14, No 1 (2013) Vol 13, No 3 (2012) Vol 13, No 3 (2012) Vol 13, No 2 (2012) Vol 13, No 2 (2012) Vol 13, No 1 (2012) Vol 13, No 1 (2012) Vol 12, No 3 (2011) Vol 12, No 3 (2011) Vol 12, No 2 (2011) Vol 12, No 2 (2011) Vol 12, No 1 (2011) Vol 12, No 1 (2011) Vol 11, No 3 (2010) Vol 11, No 3 (2010) Vol 11, No 2 (2010) Vol 11, No 2 (2010) Vol 11, No 1 (2010) Vol 11, No 1 (2010) Vol 10, No 3 (2009) Vol 10, No 3 (2009) Vol 10, No 2 (2009) Vol 10, No 2 (2009) Vol 10, No 1 (2009) Vol 10, No 1 (2009) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 3 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 2 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 9, No 1 (2008) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 1 (2005) Vol 6, No 1 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 2 (2004) Vol 5, No 2 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 1 (2002) Vol 3, No 1 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 1 (2001) Vol 2, No 1 (2001) Vol 1, No 3 (2000) Vol 1, No 3 (2000) More Issue