cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Indonesian Journal of Human Nutrition
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 24426636     EISSN : 23553987     DOI : https://doi.org/10.21776
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Human Nutrition (IJHN) merupakan jurnal ilmiah yang memuat artikel penelitian di bidang gizi manusia dan di terbitkan oleh Jurusan Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan terbit dua kali dalam setahun (bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2016)" : 6 Documents clear
Validitas Estimasi Tinggi Badan berdasarkan Tinggi Lutut pada Lansia di Kota Malang (Validity of Height Estimation based on Knee Height in the Elderly in Malang) Nur Azkiyah, Wulan Sari; Handayani, Dian; -, Holipah
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.759 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.02.5

Abstract

AbstrakPengukuran antropometri lansia pada dasarnya sama dengan usia lainnya, tetapi terkadang memerlukan cara yang berbeda untuk memberikan hasil yang lebih tepat karena perubahan fisiologi. WHO menekankan pentingnya persamaan yang tepat pada setiap negara dalam memprediksi tinggi badan lansia. Di Indonesia, beberapa studi mengenai persamaan tinggi lutut telah dilakukan, namun belum banyak dilakukan penerapannya untuk keakuratan pada suatu daerah. Analisis dari persamaan Chumlea I, Oktavianus, dan Fatmah kemungkinan akan menimbulkan hasil yang berbeda jika diterapkan di Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis validitas prediksi tinggi badan berdasarkan tinggi lutut menggunakan persamaan Chumlea I, Oktavianus, dan Fatmah serta merumuskan suatu model persamaan prediksi tinggi badan berdasarkan tinggi lutut pada lansia di Kota Malang. Penelitian cross sectional ini menggunakan 123 responden (69 laki-laki dan 54 perempuan) dengan usia 60-80 tahun yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Kemudian peneliti melakukan perhitungan tinggi badan estimasi berdasarkan tinggi lutut menggunakan persamaan Chumlea I, Oktavianus, dan Fatmah. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan antara rata-rata tinggi badan aktual dengan persamaan Chumlea I (p<0,05), Oktavianus (p<0,05), dan Fatmah (p<0,05), dengan korelasi yang sangat kuat (r>0,8). Ada perbedaan pada empat kelompok data, yaitu tinggi badan aktual, persamaan Chumlea I, Oktavianus, dan Fatmah pada laki-laki dan perempuan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ketiga persamaan tersebut cenderung bersifat overestimate. Dan persamaan baru yang dihasilkan dari penelitian ini tidak ada perbedaan rata-rata tinggi badan aktual dengan rata-rata estimasi tinggi badan menggunakan persamaan baru.Kata kunci: lansia, Persamaan Chumlea I,  Oktavianus,  Fatmah  AbstractAnthropometric measurement on elderly is principally the same as any other age measurements, but sometimes needs a different way to give more accurate results due to physiological changes. WHO emphasizes the importance of exact equation in each country in predicting the height of the elderly. In Indonesia, several studies on knee height equations have been conducted, but the accuracy of its application on a particular area has not been done much. The analysis of Chumlea I, Oktavianus, and Fatmah equations will likely lead to different results if applied in Malang. This study aimed to analyze the height predictive validity of knee height using the equations of Chumlea I, Oktavianus, and Fatmah and to formulate an equation model on height prediction based on knee height of the elderly in Malang. This cross-sectional study used 123 respondents (69 males and 54 females) aged 60-80 years old selected by purposive sampling. Then, the researchers conducted height estimation calculations based on knee height using Chumlea I, Oktavianus, and Fatmah equations. The results showed that there were differences between the average height of the actual equation of Chumlea I (p <0.05), Octavian (p <0.05), and Fatmah (p <0.05), with very strong correlations (r> 0.8). There were differences in the four groups of data, i.e. the actual height, equations of Chumlea I, Oktavianus, and Fatmah in men and women. This study concludes that those three equations tend to be overestimate. The new equation resulting from this study does not show differences in the actual average height and estimated average height.Keywords: elderly, Equation, Chumlea I, Oktavianus, Fatmah
Pengaruh Waktu dan Suhu Penyimpanan Terhadap Kadar Asam Amino Taurin pada ASI (Effect of Storage Time and Temperature on Amino Acid Taurine Levels of Breastmilk) Ruhana, Amalia; Istiqomah, Novenda Nur; Prijadi, Bambang
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.686 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.02.1

Abstract

AbstrakTaurin merupakan sejenis asam amino terbanyak kedua dalam ASI yang berfungsi sebagai neuro-transmitter dan berperan penting untuk proses maturasi sel otak. Pemerahan dan penyimpanan ASI merupakan alternatif cara yang dilakukan oleh ibu yang bekerja untuk tetap bisa memberikan ASI kepada bayinya. Selama penyimpanan ASI terjadi peningkatan proteolisis atau pemecahan protein sehingga diduga terjadi perubahan pada kadar asam amino taurin. Namun, belum terdapat penelitian yang meneliti asam amino secara spesifik terutama asam amino taurin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu dan suhu penyimpanan ASI terhadap kadar taurin. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan memberikan dua faktor perlakuan. Faktor perlakuan pertama yaitu perlakuan penyimpanan pada suhu ruangan, suhu dingin atau refrigerator, dan suhu freezer. Sedangkan  faktor perlakuan kedua yaitu perlakuan penyimpanan selama 0 jam, 24 jam, 2 minggu, dan 4 minggu. Pengukuran kadar taurin dilakukan dengan menggunakan HPLC. Dan hasil yang didapatkan adalah suhu penyimpanan berpengaruh secara sigifikan terhadap kadar taurin dengan p=0,000 dan lama waktu penyimpanan berpengaruh secara signifikan terhadap kadar taurin dengan p=0,000. Kesimpulan dari penelitian ini adalah semakin lama waktu penyimpanan maka semakin menurun kadar taurin pada ASI dan semakin tinggi suhu penyimpanan maka semakin menurun kadar taurin pada ASI.Kata Kunci : ASI, Taurin, Penyimpanan, Suhu dan Waktu AbstractTaurine is of the second highest concentration among amino acids in breastmilk which functions as a neuro-transmitter and plays an important role for the maturation of brain cells. Milk expressing and breastmilk storing are alternative ways enabling working mothers to give breastmilk to their babies. During storage of breastmilk, proteolysis or protein breakdown increases, so supposedly a change in the amino acid taurine levels occurs. However, no research has been conducted specifically to examine amino acids, especially amino acid taurine. The purpose of this study is to find out the effect of breastmilk storage duration and temperature on taurin. This study used an experimental method with two-factor treatment. The first treatment factor was the storage treatment at room temperature, cold temperature or refrigerator, and freezer temperature, while the second treatment factor was the duration treatment at 0 hour, 24 hours, 2 weeks, and 4 weeks. Taurine concentration measurement was performed using HPLC. The result obtained is that storage temperature significantly influences the level of taurine with p=0.000, and storage duration significantly affects the level of taurine with p=0.000. This study concludes that the longer duration of storage, the lower taurine levels in breast milk; and the higher the temperature of storage, the lower taurine levels in breast milk.Keywords: breastmilk, taurine, storage, temperature, duration
Korelasi Pemberian Diet Rendah Protein Terhadap Status Protein, Imunitas, Hemoglobin, dan Nafsu Makan Tikus Wistar Jantan (The Correlation of Low Protein Diet Administration on Status of Protein, Immunity, Hemoglobin, and Appetite of Male Wistar Rats Rattus norvegicus) Anggraeny, Olivia; Dianovita, Chardina; Putri, Ekanti Nurina; Sastrina, Minarty; Dewi, Ratih Setya
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.46 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.02.6

Abstract

AbstrakKwashiorkor merupakan salah satu bentuk kekurangan energi protein (KEP) yang disebabkan oleh kurangnya asupan protein. Kwashiorkor sering dihubungkan dengan adanya penyakit infeksi dan anemia. Tingkat kematian akibat kwashiorkor dapat mencapai 10-30 persen. Penanganan kasus kwashiorkor melalui intervensi bahan makanan harus dilakukan secara hati-hati karena terjadi penurunan imunitas. Perlu dilakukan uji kelayakan bahan makanan terlebih dulu pada hewan coba; tetapi karena di Indonesia belum ada diet standar untuk membuat model hewan coba kwashiorkor maka penelitian ini merupakan studi pendahuluan untuk membuat hewan coba kondisi kwashiorkor dengan mengetahui pengaruh pemberian diet rendah protein terhadap beberapa variabel yang merupakan indikator kondisi kwashiorkor. Metode yang digunakan adalah dengan pemberian diet rendah protein dengan berbagai konsentrasi (0%, 2%, 4%, dan 18% sebagai diet cukup protein) selama 2 dan 4 minggu. Albumin, IgG, leukosit, hemoglobin, dan leptin serta perubahan berat badan diukur sebagai indikator kondisi kwashiorkor. Analisis statistik menggunakan One-way ANOVA serta dilanjutkan dengan uji korelasi Pearson menggunakan SPSS 16. Regresi linear digunakan untuk mengetahui tren dari perubahan tiap nilai variabel dengan berbagai pemberian kadar protein. Jumlah protein berkorelasi dengan kadar albumin (2 minggu dan 4 minggu) dan dengan kadar IgG (2 minggu) serta ada beda kadar albumin antara kelompok perlakuan 4 minggu (p=0,007, p<0,05). Masih terlalu dini untuk menggunakan diet rendah protein dalam penelitian ini sebagai standar diet untuk membuat tikus model dengan kondisi defisiensi protein yang kronik seperti pada kwashiorkor namun diet rendah protein (0%) selama 4 minggu dalam penelitian ini dapat digunakan untuk mengetahui efektivitas pemberian intervensi gizi tertentu terhadap perubahan kadar albumin.Kata kunci: kwashiorkor; diet rendah protein; albumin; IgG; leukosit; hemoglobin; leptin  AbstractKwashiorkor is one form of Protein Energy Malnutrition (PEM) caused by inadequate protein intake. Kwashiorkor is frequently related to the occurrence of infectious disease and anemia. Mortality rate caused by kwashiorkor ranges 10% to 30%. Otherwise, poor appetite in kwashiorkor is the differentiator from marasmus. Kwashiorkor case handling through particular food intervention should be done carefully because of impaired immunity in kwashiorkor patient. Therefore, it is necessary to examine the feasibility of those food on animal model, but in Indonesia there is no standard diet for animal model of kwashiorkor. This research aims to become a preliminary study to induce kwashiorkor state in animal model to determine the effect of low protein diet for some variables which are the indicators of kwashiorkor condition. The method used was the administration of low-protein diet with various concentrations (0%, 2%, 4%, and 18% as sufficient protein diet) for 2 and 4 weeks. Albumin, IgG, leukocytes, hemoglobin, and leptin and weight changes were measured as indicators of kwashiorkor condition. Statistical analysis was using One-way ANOVA and continued by Pearson correlation test using SPSS 16. Linear regression was used to determine the trend of changes in the value of each variable with a variety of protein content administrations. The amount of protein correlated with the albumin level (2 weeks and 4 weeks) and IgG level (2 weeks) and there were different levels of albumin among the 4 week treatment groups (p = 0.007, p <0.05). It is too early to use a low-protein diet in this study as the standard diet to make animal model of chronic protein deficiency condition as in kwashiorkor, but low protein diet (0%) for 4 weeks in this study can be used to determine the effectiveness of particular nutritional interventions on the changes in albumin levels.Keywords: kwashiorkor, low protein diet, albumin, IgG, leukocyte, hemoglobin, leptin
Indeks Massa Tubuh dan Massa Lemak serta Kadar Adiponektin Remaja Perawakan Pendek (Body Mass and Fat Mass Indexes and Adiponectin Levels of Stunting Adolescents) Surmita, Surmita; Megawati, Ginna; Fatimah, Siti Nur; Rakhmawati, Yunita
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.155 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.02.2

Abstract

AbstrakPerawakan pendek mempunyai hubungan dengan masalah kesehatan seperti kegemukan dan ketidakseimbangan metabolisme energi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalis korelasi antara indeks massa tubuh dan massa lemak tubuh dengan adiponektin pada remaja dengan perawakan pendek di daerah Jatinangor Sumedang Jawa Barat. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan 35 responden remaja awal usia 10-14 tahun di Jatinangor. Perawakan pendek diperoleh berdasarkan kriteria WHO 2007 d engan nilai z-score TB/U < - 2 SD. Indeks massa tubuh diukur sebagai berat badan (kg) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (cm),  massa lemak diukur sebagai persentase massa lemak menggunakan alat bioelectrical impedance analysis dan kadar adiponektin diukur dengan metode ELISA. Hasil uji korelasi Pearson antara indeks massa tubuh dengan kadar adiponektin r = -0,42 (p=0,012). Hasil uji korelasi Spearman antara massa lemak dengan kadar adiponektin r = -0,415 (p=0,013). Simpulan penelitian ini adalah terdapat korelasi negatif sedang antara indeks massa tubuh dengan kadar adiponektin dan terdapat korelasi negatif sedang antara massa lemak dengan kadar adiponektin pada remaja perawakan pendek di Jatinangor Sumedang.Kata Kunci: indeks massa tubuh, massa lemak, kadar adiponektin, remaja perawakan pendek AbstractShort stature has a correlation with health problems such as overweight and impaired balance energy metabolism. The objective of this study was to analyze the correlation of body mass index and fat mass with adiponectin on stunted adolescents in Jatinangor, Sumedang, West Java. This research was a cross sectional study using 35 respondents aged between 10 to 14 years old in Jatinangor. Stature measurement was using 2007 WHO criteria with z-score value TB / U <- 2 SD. Body mass index was measured as weight divided by height squared, fat mass was measured as fat mass percentage using bioelectrical impedance analysis, and adiponectin level was measured using ELISA. Pearson correlation test results showed significant correlations between body mass index with adiponectin r=-0.42 (p=0.012). Spearman correlation test results show significant correlations between fat mass with adiponectin r=-0.415 (p=0.013). The conclusions of this study is that there is a medium negative correlation between body mass index with adiponectin levels, and there is a medium negative correlation between fat mass with adiponectin levels on stunted adolescent in Jatinangor, Sumedang.Keywords: body mass index, fat mass, adiponectin, stunting adolescent
Asupan Kolesterol dan Tekanan Darah pada WUS Hipertensi Suku Madura di Kota Malang (Cholesterol Intake and Blood Pressure in WRA’s Hypertension of Madurese Ethnic Group in Malang) Rahima, Dwira; Rahmawati, Widya; -, Holipah; Wirawan, Nia N.
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.356 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.02.3

Abstract

AbstrakTekanan darah tinggi atau hipertensi diprediksikan akan meningkat sebesar 60% pada tahun 2025. Wanita Usia Subur (WUS) mempunyai risiko lebih tinggi mengalami hipertensi yang da-pat disebabkan oleh pola makan tinggi energi, protein dan lemak tetapi minim serat. Masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku mempunyai pola makan yang berbeda, salah satunya pada suku madura yang pola makannya tinggi sumber kolesterol dan rendah serat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan kolesterol dengan tekanan darah pada WUS. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional study dengan teknik pengambilan subjek menggunakan purpossive sampling (n=48). Hasil penelitian menunjukkan 93,8% asupan kolesterol sesuai dengan rekomendasi WHO yaitu ≤300 mg. Berdasarkan uji statistik, asupan kolesterol tidak berhubungan dengan tekanan darah responden (p=1,000).  Kesimpulan dari penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan antara asupan kolesterol dengan tekanan darah pada WUS tekanan darah tinggi. Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai hal serupa dengan jumlah responden yang lebih banyak dan jika memungkinkan dilakukan uji laborato-rium untuk mengetahui jangka waktu asupan kolesterol dapat meningkatkan kadar kolesterol darah.Kata kunci: asupan kolesterol, tekanan darah, WUS AbstractHigh blood pressure or hypertension is predicted to increase by 60% in 2025. Women of Reproductive Age (WRA) have a higher risk of hypertension caused by a diet of high energy, high protein, and high fat, but low in fiber. Indonesian is composed of various ethnics that have different diets, one of them is Madurese ethnic whose diets are high in cholesterol but low in fiber. This study aims to determine the relationship of cholesterol intake with blood pressure in WRA. This study used a cross sectional study and purposive sampling technique (n=48). The result showed 93.8% of cholesterol intake is in accordance with the WHO recommendation that is ≤300 mg. Based on statistic test, cholesterol intake was not related with  respondents blood pressure (p=1.000). This research concludes that there is no relationship between cholesterol intake and blood pressure in WRA with high blood pressure. Further research is needed on the same subjects with more of respondents and laboratory test, if possible, to find out the duration of cholesterol intake that can increase blood cholesterol level.Keywords: cholesterol intake, blood pressure, women of reproductive age
Asam Lemak Bebas dan Bilangan Asam Selai Kacang “Home Fortification” selama Penyimpanan (Free Fatty Acids and Acid Values of "Home Fortification" Peanut Butter during Storage) Kusuma, Titis Sari; Kusnadi, Joni; -, Winarsih
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.925 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.02.4

Abstract

AbstrakSelai kacang tanah merupakan salah satu komoditi tinggi lemak dan protein yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan “home fortification” untuk anak usia 6-24 bulan sehingga dapat mencegah terjadinya stunting, wasting, dan underweight. Lemak kacang tanah mudah teroksidasi dan menjadi tengik jika selama proses penyimpanan  jika tidak disimpan dengan benar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu pasteurisasi terhadap asam lemak bebas dan bilangan asam produk selai kacang tanah selama proses penyimpanan. Rancangan penelitian menggunakan Nested Design 3 faktor penelitian. Faktor penelitian I, pembuatan selai kacang tanah (tanpa pasteurisasi, 710C, 10 menit; pasteurisasi 800C, 1 menit), dengan 3 kali ulangan setiap kelompok. Faktor  penelitian II, waktu penyimpanan dalam minggu (0, 1, 2, dan 3 minggu).  Faktor penelitian III, suhu simpan (suhu kamar, suhu dingin). Pengujian yang dilakukan adalah uji asam lemak bebas dan bilangan asam. Tidak terdapat perbedaan yang singnifikan (p=0,999) pada kadar asam lemak bebas dan bilangan asam, hal ini menunjukkan bahwa lemak belum mengalami proses oksidasi yang berlebihan selama proses penyimpanan 3 minggu baik di suhu dingin maupun di suhu ruang. Dapat disimpulkan bahwa selai kacang tanah home fortitication mempunyai jangka waktu aman untuk dikonsumsi anak usia 6-24 bulan dalam jangka waktu 3 minggu, karena mutu lemak masih baik.Kata Kunci: selai kacang tanah, suhu kamar, suhu dingin, asam lemak bebas, bilangan asam AbstractPeanut butter is one of the commodities with high fat and protein that can be used as a basis for making "home fortification" for children aged 6-24 months in order to prevent the occurrence of stunting, wasting and underweight. The fat of peanut is easily oxidized and turns rancid during storage if not properly stored. This study aimed to determine the effect of temperature and time of pasteurization of free fatty acids and acid values of peanut butter product during storing process. This research used Nested Design with three study factors, namely, the first factor that is the manufacture of peanut butter (without pasteurization, 71ᵒ C, 10 minutes; pasteurization, 80ᵒ C, 1 min, with 3 repetitions each group; the second factor that is the storage time in week (0, 1, 2, 3 weeks); and the third factor that is storing temperature (room temperature, cold temperature). The tests conducted were tests on free fatty acid and acid value. There is no significant difference (p = 0.999) in the levels of free fatty acids and acid values, it indicates that the fat has not experienced excessive oxidation during 3 week storage process both at cold temperature and at room temperature. It can be concluded that “home fortification” peanut butter has safe time period of consumption for children aged 6-24 months within a period of 3 weeks, because the fat quality is still good.Keywords:peanut butter,room temperature, cold temperature, free fatty acid, acid value

Page 1 of 1 | Total Record : 6