cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Indonesian Journal of Human Nutrition
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 24426636     EISSN : 23553987     DOI : https://doi.org/10.21776
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Human Nutrition (IJHN) merupakan jurnal ilmiah yang memuat artikel penelitian di bidang gizi manusia dan di terbitkan oleh Jurusan Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang dan terbit dua kali dalam setahun (bulan Mei dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2017)" : 6 Documents clear
Kombinasi Pasteurisasi, Suhu, dan Masa Simpan Terhadap Kadar Aflatoksin pada Selai Kacang Tanah Kusuma, Titis Sari; Kusnadi, Joni; Winarsih, Sri
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.093 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2017.004.02.3

Abstract

AbstrakSelai kacang tanah merupakan salah satu komoditi lokal yang tinggi lemak dan protein sehingga dapat digunakan sebagai makanan tambahan untuk anak usia balita memenuhi kebutuhan gizi harian. Tetapi, jika pengolahan selai kacang tanah kurang tepat maka akan menyebabkan berpotensi terjadi pertumbuhan Aspergillus flavus yang dapat menyebabkan kadar aflatoksin >20 ppb sehingga menjadi tidak aman untuk dikonsumsi serta menye-babkan sirosis hepatis akut maupun kronis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah suhu dan waktu pasteurisasi mempunyai pengaruh pada peningkatan kadar aflatoksin selai kacang tanah yang disimpan dalam jangka waktu 3 minggu. Rancangan penelitian menggunakan Nested Design 3 faktor. Faktor I, pembuatan selai kacang tanah (K1=tanpa pasteurisasi, K2=pasteurisasi 71oC, 10 menit, K3=pasteurisasi 80oC,1 menit), setiap kelompok terdiri dari 3 kali ulangan. Faktor II, waktu penyimpanan dalam minggu (M0, M1, M2, dan M3). Faktor III, suhu simpan (T1=suhu kamar, T2=suhu dingin). Pengujian kadar aflatoksin menggunakan metode ELISA. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kadar aflatoksin yang signifikan (p=0.001) pada selai kacang tanah yang diberi perlakuan tanpa pasteurisasi dan dengan pasteurisasi. Terjadi peningkatan kadar aflatoksin pada selai kacang tanah setelah di simpan 3 minggu, yang berkisar antara 6.035 – 7.196 ppb. Dapat disimpulkan bahwa pasturisasi 80oC, 1 menit dan suhu simpan dingin selama 3 minggu dapat memperlambat pembentukan aflatoksin pada selai kacang tanah. Selai kacang tanah masih aman di konsumsi dalam jangka waktu 3 minggu, karena kadar aflatoksin masih di bawah <20 ppb.Kata Kunci: selai kacang tanah; aflatoksin; pasteurisasi; suhu kamar, suhu dingin AbstractPeanut butter is one of the local high-fat commodities and protein that can be used as an additional food for children aged under five to meet daily nutritional needs. On the other hand, if the processing of peanut butter quite right, it will cause the growth of Aspergillus flavus potentially occur which can cause levels of aflatoxin peanut butter >20 ppb to be unsafe for consumption because it can cause acute and chronic hepatic cirrhosis. This study was conducted to determine whether temperature and pasteurization time had an effect on increasing aflatoxin content of peanut butter which was stored in 3 weeks period. The research design using Nested Design 3 factors. The first factor, the manufacture of peanut butter (K1=without pasteurization, K2=pasteurization 71°C, 10 min, K3=pasteurization 80°C, 1 minute), each group consisting of 3 repetitions. Factor II, storage time in weeks (M0, M1, M2, and M3). Factor III, temperature store (T1=room temperature, T2=cold temperature). Testing of aflatoxin content using ELISA method. The results showed a significant difference in the levels of aflatoxin (p=0.001) in the peanut butter-treated unpasteurised and pasteurized. Increased levels of aflatoxin in peanut butter after saving 3 weeks, around 6.035 – 7.196 ppb.. It can be concluded that pasteurization 80°C, 1 minute and cold store temperature for 3 weeks to slow the formation of aflatoxin in peanut butter. Peanut butter is still safe in consumption within 3 weeks, because aflatoxin levels are still below <20 ppb.Keywords: peanut butter; aflatoxin; pasteurization; room temperature; cold temperature
The Comparison Effect of Small-quantity Lipid-based Nutrient Supplements and Biscuit on Hemoglobin level of infants in Indonesia Muslihah, Nurul; Khomsan, Ali; Riyadi, Hadi; Briawan, Dodik
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.155 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2017.004.02.4

Abstract

Abstrak Suplemen gizi berbasis lipid dosis kecil (SQ-LNS) yang diperkaya lemak dan kandungan vitamin dan mineral dapat memenuhi kekurangan asupan dan kebutuhan zat besi dan hal ini dapat berpotensi untuk mengurangi prevalensi anemia pada anak-anak. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji dampak pemberian SQ-LNS dan biskuit terhadap kadar hemoglobin dan mengurangi kejadian anemia. Rancangan penelitian ini non-randomized controlled trial selama enam bulan pada 168 bayi yang menerima 20 g S-LNS atau 3 keping biskuit atau tanpa intervention setiap hari.  Kadar hemoglobin diukur pada awal penelitian, 3 dan 6 bulan setelah intervensi dengan hemocue autoanalyzer. Untuk membandingkan kadar hemoglobin menggunakan uji Linear Model ANCOVA dan uji regresi logistic untuk perbedaan insiden anemia.  Pada kelompok SQ-LNS setelah 3 bulan intervensi, kadar hemoglobin meningkat secara signifikan sampai 0.73 g/dl (p<0.05), prevalence anemia menurun sampai 19.5% dan signifikan menurunkan insiden anemia sampai 100% (p<0.05).  Setelah 6 bulan intervensi, kadar hemoglobin meningkat secara signifikan sampai 0.15 g/dl, prevalensi anemia menurun sampai 5.6% dengan menurunkan insiden anemia sampai 79%.  Pada kelompok Biscuit, setelah 3 bulan dan 6 bulan intervensi, kadar hemoglobin menurun sampai 0.17 g/dl dan 0.36 g/dl dengan prevalensi anemia meningkat dari  24.2% dan 17.8%  dan juga menurunkan kejadian anemia sampai 63% dan 27%. Pemberian SQ-LNS lebih efektif meningkatkan kadar hemoglobin dan mengurangi insiden anemia pada bayi usia 6-12 bulan setelah 3 bulan intervensi dibandingkan Biskuit.Kata kunci: SQ-LNS; Biskuit; Hemoglobin; Anemia AbstractSmall-quantity lipid-based nutrient supplements (SQ-LNS) with enriching fat and vitamin and mineral can fill the gap of iron intake and requirement as well as the potential for reducing the prevalence of anemia among childhood.  The purpose of the study was to assess the impact of SQ-LNS and biscuit on hemoglobin concentrations and reducing of incidence anemia.  A 6-month non-randomized controlled trial was performed among 168 infants who received 20 g of LNS or 3 pieces biscuits or no intervention.  Hemoglobin was measured at 0, 3, 6 months of intervention using hemocue autoanalyzer. To compare hemoglobin concentration using Linear Model ANCOVA and logistic regression for the difference in the incidence of anemia.  In SQ-LNS group over three-month intervention, the adjusted mean hemoglobin concentration increased a significantly by 0.73 g/dl (p <0.05), the prevalence of anemia decreased by 19.5% and a significant reduction in the incidence of anemia by 100% (p <0.05). Over six-month intervention, the adjusted mean hemoglobin concentration only increased significantly by 0.15 g/dl, the prevalence decreased by 5.6% with a reduction in the incidence of anemia by 79%.  In Biscuit group, over 3-month and 6-month intervention, the hemoglobin concentration decreased by 0.17 g/dl and 0.36 g/dl with the prevalence of anemia was increased by 24.2% and 17.8%  as well as reducing in the incidence of anemia by 63% and 27%.  SQ-LNS was more effective in improving hemoglobin level and reducing of incidence anemia among infant 6-12 months over three-months intervention than the biscuit.Key words: SQ-LNS; biscuit; hemoglobin; anemia  
Asupan Vitamin C dan E Tidak Mempengaruhi Kadar Gula Darah Puasa Pasien DM Tipe 2 Dini, Cleonara Yanuar; Sabila, Maulida; Habibie, Intan Yusuf; Nugroho, Fajar Ari
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.19 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2017.004.02.1

Abstract

Abstrak Prevalensi diabetes melitus di Jawa Timur menempati urutan ke-5 teratas Indonesia. Diabetes melitus terjadi akibat resistensi insulin sehingga kadar gula darah tinggi. Kontrol glukosa darah pada pasien diabetes mellitus dapat dipengaruhi oleh asupan vitamin C dan E dengan menghambat stres oksidatif. Banyak penelitian melihat efek pemberian suplementasi kedua vitamin tersebut namun penelitian mengenai asupan makan harian sumber vitamin C dan vitamin E terhadap kadar glukosa darah puasa di Indonesia belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan asupan vitamin C dan E terhadap kadar gula darah puasa pasien rawat jalan diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Dinoyo dan Janti Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan jumlah responden 31 orang yang diambil secara purposive sampling. Data asupan vitamin C dan E selama 3 bulan terakhir dicatat menggunakan form SQ-FFQ. Nilai median asupan vitamin C dan vitamin E seluruh responden berturut-turut adalah 95,1 mg dan 5,3 mg. Median kadar glukosa darah puasa seluruh responden adalah 191 mg/dL. Uji analisa hubungan vitamin C dan E dengan kadar gula darah menggunakan uji Pearson (CI 95%) menunjukkan nilai hubungan asupan vitamin C dan E terhadap kadar gula darah berturut-turut p = 0.697 dan p = 0.215. Disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara asupan vitamin C dan vitamin E terhadap kadar gula darah pasien rawat jalan DM tipe 2 di Puskesmas Dinoyo dan Janti Kota Malang.Kata kunci: Diabetes Melitus Tipe 2; Gula Darah Puasa; Asupan Vitamin C; Asupan Vitamin E AbstractThe prevalence of diabetes mellitus in East Java is ranked 5th in Indonesia. Diabetes mellitus occurs due to insulin resistance that results in high blood glucose level. Blood glucose control in diabetes mellitus patients can be affected by vitamin C and E intake through inhibiting oxidative stress. Many research have studied the effects of both vitamins supplementation but research on daily intake of vitamin C and vitamin E sources on fasting blood glucose level in Indonesia have not been widely conducted. This research aims to determine the effect of vitamin C and E intake on fasting blood sugar level of diabetes mellitus type 2 patients in Dinoyo and Janti Health Center Malang. This research was cross sectional research with 31 respondents taken by purposive sampling. Data on vitamin C and E intake during the last 3 months were documented using SQ-FFQ form. The mean values of vitamin C and vitamin E intake of all respondents were 95.1 mg and 5.3 mg, respectively. The mean fasting blood glucose level of all respondents was 191 mg/dL. Test analysis of vitamin C and E relationship with blood sugar level using Pearson test (95% CI) showed the value of vitamin C and E intake relation to blood sugar level were p = 0.697 and p = 0.215, respectively. It is concluded that there is no correlation between intake of vitamin C and vitamin E on blood glucose level of DM type 2 patient in Dinoyo and Janti Health Center Malang.Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus; Fasting Blood Glucose; Vitamin C intake; Vitamin E intake
Perbedaan Aktivitas Antioksidan Kecambah Beras Coklat (Oryza Sativa L.) Berdasarkan Lama Proses Elisitasi dan Waktu Perkecambahan Maligan, Jaya Mahar; Lestary, Monica; Wani, Yudi Arimba
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.44 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2017.004.02.5

Abstract

Abstrak Antioksidan adalah zat yang dapat menangkal radikal bebas. Salah satu cara meningkatkan aktivitas antioksidan adalah dengan elisitasi dan perkecambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan kecambah beras coklat berdasarkan lama elisitasi dan perkecambahan. Penelitian ini menggunakan studi eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor yaitu lama elisitasi dan lama perkecambahan, terdiri dari enam kelompok perlakuan yaitu 12 jam elisitasi 24 jam perkecambahan, 18 jam elisitasi 24 jam perkecambahan, 24 jam elisitasi 24 jam perkecambahan, 12 jam elisitasi 36 jam perkecambahan, 18 jam elisitasi 36 jam perkecambahan, dan 24 jam elisitasi 36 jam perkecambahan yang diulang sebanyak tiga kali. Sampel yang digunakan adalah beras coklat varietas mentik. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1-Diphenyl-pycryl-hydracil). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan aktivitas antioksidan kecambah beras coklat berdasarkan lama elisitasi dan perkecambahan pada semua perlakuan dengan nilai p=0,029 (Anova,p<0,05). Perbedaan signifikan pada perlakuan 18 jam elisitasi 24 jam perkecambahan, 24 jam elisitasi 24 jam perkecambahan dengan perlakuan terbaik 24 jam elisitasi 24 jam perkecambahan sebesar 15,91% Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan aktivitas antioksidan kecambah beras coklat berdasarkan lama elisitasi dan perkecambahan. Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada masyarakat untuk mengonsumsi kecambah beras coklat sebagai bahan pangan mengandung antioksidan.Kata Kunci: Aktivitas Antioksidan; Kecambah Beras Coklat; Elisitasi; Kitosan; Perkecambahan  AbstractAntioxidants are substances that can counteract free radicals. One way to improve antioxidant activity is the elicitation and germination. This study aims to determine the antioxidant activity of brown rice sprouts based on the length of the elicitation and germination. This study uses an experimental study with a randomized block design (RAK) composed by two factors, elicitation and germination time which consists of six treatments: 12 hours of elicitation 24 hours of germination, 18 hours of elicitation 24 hours of germination, 24 hours elicitation 24 hours of germination, 12 hour elicitation germination 36 hours, 18 hours elicitation germination 36 hours, and 24 hours of elicitation 36 hours of germination were repeated three times. The samples used were Mentik variety brown rice. The antioxidant activity test of this research is the method of DPPH (1,1-Diphenyl-pycryl-hydracil). The results showed that there are differences in antioxidant activity of germinated brown rice based on the length of elicitation and germination in all treatments with p=0.029 (ANOVA, p<0.05). There are significant differences in treatment 18 hours of elicitation 24 hours of germination and 24 hours elicitation 24 hours of germination with the best treatment that is 24 hours elicitation 24 hours of germination with the antioxidant activity of 15.91%. It is concluded that there is a difference in the antioxidant activity of germinated brown rice based on the length of elicitation and germination. Based on the research results, it is suggested to the public to consume germinated brown rice as foodstuffs containing antioxidantsKeywords: Antioxidant Activity; Germinated Brown Rice; Elicitation; Chitosan; Germination
Efek Program SBABS Terhadap Pencegahan Stunting Anak Baduta di Kabupaten Banggai dan Sigi Hafid, Fahmi; Djabu, Udin; -, Udin; -, Nasrul
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.972 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2017.004.02.2

Abstract

AbstrakProgram stop buang air besar sembarangan(SBABS) merupakan program sanitasi total berbasis masyarakat yang membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan, meningkatkan kemampuan masyarakat merubah perilaku untuk tidak melakukan aktivitas buang air besar sembarangan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh program stop buang besar sembarangan terhadap pencegahan stunting anak baduta di Kabupaten Banggai dan Sigi. Desain penelitian yang digunakan case control. Penelitian dilaksanakan pada wilayah pelaksanaan program stop buang air besar di Sulawesi Tengah dengan prevalensi stunting yang tinggi yaitu Kabupaten Banggai dan Sigi pada tanggal 8 September hingga 7 Oktober 2016. Sampel sebanyak 352 orang anak usia 1-2 Tahun. Pengambilan sampel dengan metode consecutive sampling. Uji perbedaan menggunakan uji Mann-Whitney U. Hasil analisis menunjukkan proporsi baduta stunting sebesar 15,6%. Jumlah sampel pada kelompok SBABS sebanyak 116 orang (33,0%) dengan rerata tinggi badan -0,36±1,6 sedangkan pada kelompok non SBABS sebanyak 236 orang (67,0%) dengan rerata tinggi badan -0,94±1,5. Terdapat perbedaan yang bermakna antara pertumbuhan baduta kelompok SBABS dengan non SBABS (p=0,002). Program stop buang air besar sembarangan mencegah stunting anak baduta di Kabupaten Banggai dan Sigi. Kata kunci: Program SBABS; Stunting; Baduta AbstractOpen Defecation Free (ODF) program is a total sanitation community-based program that encourages clean and healthy living behavior, prevents the spread of environment-based diseases, and improves community ability to change their behavior not to carry out open defecation. The purpose of this research is to analyze the influence of open defecation free program on the prevention of stunting baby under two years in Banggai and Sigi. The research design used was case control. This research was conducted from 8 September to 7 October 2016 in the implementation areas of open defecation free program in Central Sulawesi that have high stunting prevalence, i.e Banggai and Sigi Regencies. The sample obtained was 352 babies aged 1-2 years by using consecutive sampling method. Mann-Whitney U test was used to test the differences. The analysis result shows that the proportion of stunting babies under 2 years was 15.6%. The number of samples in ODF group was 116 babies (33.0%) with mean height -0.36±1.6, whereas in non-ODF group was 236 babies (67.0%) with mean height -0.94±1.5. There is a significant difference between the growth of baby under two years in ODF group and non ODF (p=0,002). Open defecation free program prevents stunting baby under two years in Banggai and Sigi Regencies.Keywords: Open Defecation Free program; Stunting; Baby under two years
Kebiasaan Makan, Aktivitas Fisik, dan Indeks Massa Tubuh Mahasiswa S-1 UNS Nurkhopipah, Aisyah; Probandari, Ari Natalia; Anantanyu, Sapja
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.728 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2017.004.02.6

Abstract

 AbstrakBagian penting dari mahasiswa adalah mereka mengalami masa transisi kuat dengan perubahan lingkungan yang ditandai dengan pola makan yang tidak sehat dan kurang aktivitas fisik yang menempatkan mahasiswa pada risiko yang lebih besar dari kenaikan berat badan . Kelebihan berat badan dan obesitas terjadi pada mahasiswa, menurut Centers for Disease Control (CDC), prevalensi obesitas pada mahasiswa laki-laki adalah 29,5% dan pada mahasiswa perempuan sebesar 32,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan kebiasaan makan dan aktivitas fisik dengan Indeks Massa Tubuh  mahasiswa  S-1 UNS. Jenis penelitian observasional analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Subyek penelitian ini adalah seluruh mahasiswa program studi S-1 UNS pada tahun 2016 yaitu sejumlah 24.826 orang. Data dianalisis dengan chi square dan regresi logistic multinomial. Hasil uji korelasi chi square, menunjukkan bahwa Kebiasaan Makan tidak berhubungan secara signifikan dengan IMT Normal - Kurus ataupun IMT Normal - Gemuk (p = 0,193 & p = 0,446), sedangkan Aktivitas Fisik mempunyai hubungan yang signifikan dengan IMT Normal - Gemuk (p = 0,029), tetapi tidak berhubungan dengan IMT normal-kurus.(p= 0,655).Kata Kunci : Kebiasaan Makan; Aktivitas Fisik; mahasiswa; IMTAbstractThe important part of the students is that they experience a strong transition period with environmental changes characterized by an unhealthy diet and lack of physical activity that puts students at greater risk of weight gain. Overweight and obesity occurs in college students, according to the Centers for Disease Control (CDC), the prevalence of obesity in male students is 29.5% and in female students 32.6%. The purpose of this study was to analyze the relationship between eating habits and physical activity with the body mass index of S-1 UNS students. Type of observational analytic research with Cross Sectional approach. The subjects of this study are all students of S-1 UNS program in 2016 that is 24,826 people. Data were analyzed by chi square and multinomial logistic regression. The result of chi square correlation test showed that Eating Habits did not correlate significantly with Normal BMI - Thin or Normal BMT - Overweight (p = 0,193 & p = 0,446), whereas Physical Activity had significant relation with Normal BMT – Overweight  (p = 0,029 ), But not related to normal BMI-thin (p = 0.655)..Keywords: Eating Habits; Physical Activity; student college; BMI

Page 1 of 1 | Total Record : 6