cover
Contact Name
Fikri Zul Fahmi
Contact Email
jrcp@itb.ac.id
Phone
+6222-86010050
Journal Mail Official
jrcp@itb.ac.id
Editorial Address
The Institute for Research and Community Services (LPPM), Center for Research and Community Services (CRCS) Building, 6th Floor, Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesha 10 Bandung 40132, Indonesia,
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Journal of Regional and City Planning
ISSN : 25026429     EISSN : 25026429     DOI : https://doi.org/10.5614/jpwk
Journal of Regional and City Planning or JRCP is an open access journal mainly focusing on urban and regional studies and planning in transitional, developing and emerging economies. JRCP covers topics related to the analysis, sciences, development, intervention, and design of communities, cities, and regions including their physical, spatial, technological, economic, social and political environments. The journal is committed to create a multidisciplinary forum in the field by seeking original paper submissions from planners, architects, geographers, economists, sociologists, humanists, political scientists, environmentalists, engineers and other who are interested in the history, transformation and future of cities and regions in transitional, developing and emerging economies.
Articles 1,015 Documents
Kajian Pengembangan Kawasan Capolaga Sebagai Daya Tarik Ekowisata Dewi, Yanuarti Kania; Rosyidie, Arief
Journal of Regional and City Planning Vol 19, No 2 (2008)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.434 KB)

Abstract

The trend of tourist activities has changed in the last ten years, particularly on the awareness about environmental quality, education and involvement of local community. This paper discusses the ecotourism area that has become a tourist attraction as well as environment conservation. Part of ecotourism concept has been applied in the development of Capollaga except for the rest of the areas. Local community has not been intensively involved and has not obtained the optimum benefits from ecotourism in the area. Ecotourism has not contributed much in stimulating the economy of local community as well as of local income. In order to meet the criteria of ecotourism concept, efforts particularly involvement of local community is needed.
Pemantapan Azas Tata Ruang Prasetyo, Hadi; Suharso, Tundjung W.
Journal of Regional and City Planning Vol 5, No 16 (1994)
Publisher : The ITB Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.522 KB)

Abstract

Tata ruang telah semakin dikenal meluas, mes­ki masih dalam pengertian yang sumir, yakni sebatas lembar-lembar peta peruntukan lahan. Padahal dalam Undang-Undang nomor 24 ta­hun 1992 tentang "Penataan Ruang" dapat di­simak, bahwa sesungguhnya tata ruang mem­berikan Iandasan filosofis yang tinggi untuk memberikan pengertian yang "benar" tentang arah pembangunan nasional, hak-hak warga negara, keadilan dan seterusnya.Dibanding dengan negara lain, seperti Singa­pura, maka pengembangan ketataruangan di Indonesia masih jauh tertinggal. Hingga 47 ta­hun merdeka, bahkan tata ruang masih dipan­dang sebelah mata dalam berbagai proses pembangunan. Pengabaian terhadap tata ru­ang masih kerap terjadi, bahkan terkadang ha­rus dikalahkan hanya oleh pendekatan obsesif untuk menunjukkan prestasi sesaat.Namun yang menjadi isyu pokok masalah tata ruang adalah, belum terbinanya sistem politik pembangunan yang mampu mewadahi penye­lenggaraan tata ruang sebagaimana mestinya atau sesuai azasnya. Dalam tulisan ini dibahas ihwal serta kerangka penyelenggaraan tata ru­ang sebagai-mana azasnya
Pluralitas Dalam Teori Perencanaan Priyani, Rina
Journal of Regional and City Planning Vol 18, No 3 (2007)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.377 KB)

Abstract

Pluralism is nothing new but plurality approach in planning theory is  a  recent  reaction  to  the  failture  of  rational  comprehensive planning. Planning itself is considered to be “a good planning” if  it  could  accommodate  the  plurality.  The  idea  of  plurality  c an  be explored   in  diversity  and  difference  concepts  as  coined  by Sandercock.  This  article  aims  to  discuss  plurality  in  planning theory  using  the  phenomenon  of  urban  heritage  as  one  of multicultural  city‟s  assets.  Opportunity  and  limitation  indeveloping  the  concepts  are  discussed  to  emphasize  its contribution to planning theory and practice.
Taksi Kota Raya Warpani, Suwardjoko
Journal of Regional and City Planning Vol 4, No 8 (1993)
Publisher : The ITB Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.261 KB)

Abstract

Sudah amat banyak persoalan lalu lintas di kota besar dibahas dan dikeluhkan. Jalanan macet, lintasan berkeliling, kecelakaan lalu-lintas meningkat, pencemaran lingkungan tinggi, dan lain-lain, sudah menjadi santapan masyarakat perkotaan. Di sektor angkutan umum penumpang (AUP), persoalan pelayanan pada jam sibuk dan jam sepi menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan besarnya armada AUP.Pesatnya pertambahan jumlah penduduk kota telah pula berpengaruh terhadap perluasan kawasan terbangun kota sehingga jarak perjalanan dari rumah ke tempat kerja telah bertambah jauh. Akibatnya, kebutuhan angkutan pun bertambah sejalan dengan meningkatnya kebutuhan penduduk akan angkutan, yang dapat dipenuhinya dengan menggunakan AUP dan/atau kendaraan pribadi.Perkembangan teknologi dan intensitas pertumbuhan fisik kota telah mendorong meningkatnya kebutuhan akan prasasarana dan saranan perhubungan antar guna—lahan. Persoalan-persoalan yang timbul kemudian adalah besarnya lalu lalang manusia dan kendaraan antarguna-lahan yang mewarnai kota-kota besar dimana pun, dan menimbulkan persoalan lalu lintas yang tidak ringan.Kebutuhan akan tingkat mobilitas yang tinggi telah mendorong tingkat pemilikan kendaraan dan penggunaan kendaraan pribadi secara tidak efisien karena AUP tidak dapat menampung seluruh keinginan masyarakat. Karekteristik AUP yang melayani lintas tetap agar biaya per penumpang-km rendah merupakan kendala utama dalam upaya memenuhi semua keinginan masyarakat. Penumpang dilayani dari terminal ke terminal atau dari perhentian ke perhentian. Kelompok masyarakat yang mempunyai akses tingggi kepemilikan kendaraan, memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk memenuhi segala kebutuhan mobilitasn ya dan perjalanan dari pintu ke pintu.Kebijaksanaan kota besar seperti Singapura menerapkan kawasan pembatasan penumpang (KPP) yang kemudian ditiru oleh Jakarta belum merupakan obat manjur bagi penyakit perangkutan dan perlalu—lintasan kota. Tidak mudah mengupayakan orang lebih banyak menggunakan kendaraan AUP daripada kendaraan pribadi. Taksi merupakan salah satu alternatif, namun menentukan berapa banyak sebuah kota membutuhkan armada taksi bukan pula sesuatu yang gampang. Yang jelas, taksi mempunyai pangsa pasar tersendiri, dan pada kenyataannya merupakan ladang usaha yang cukup berarti dalam perekonomian sebuah kota.
Dampak Bencana Terhadap Wilayah Pesisir: Belajar dari Tsunami Aceh Rosyidie, Arief
Journal of Regional and City Planning Vol 17, No 3 (2006)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.578 KB)

Abstract

Coastal areas have various natural resources potency that can be useful for various activities or land uses. For years, many cities and growth center have been developed in coastal areas. Besides its potency and opportunity for development, some coastal areas are located at hazards areas that can trigger a disaster particularly a tsunami. The impact of disaster (tsunami) to coastal areas is influenced by hazard characteristic, vulnerability, and capcity of the areas. Tsunami that was triggered by strong earthquake in Indian Ocean at December 2004 had caused a huge impact to the coastal areas which covered a serious damage in coastal ecosystem, devastation of housings and other buildings, fish pounds and agricultural areas, local and regional infrastructures, social facilities, economy, pollution of surface water, tsunami waste, etc. The areas also suffer social impact such as interruption of education process, and disease endemics because of poor sanitation condition and health services, as well as psychological disorder (trauma, stress) among Aceh population and their families. Program to rebuild Aceh have been done by BRR (Reconstruction and Rehabilitation Agency) supported by any other institutions, government as well as privates institutions, from local, regional/national and international.
Alternatif Strategi Pembiayaan Pembangunan Sidarta, Mochammad
Journal of Regional and City Planning Vol 4, No 9a (1993): Edisi Khusus Februari
Publisher : The ITB Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.602 KB)

Abstract

.
Technoculture Approach in Facing the Transnational Threat Munaf, Dicky R.; Veraningsih, Maya
Journal of Regional and City Planning Vol 27, No 3 (2016)
Publisher : The ITB Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.364 KB) | DOI: 10.5614/jrcp.2016.27.3.6

Abstract

Around the world, several cases strongly affect human beings. The world is not peaceful, conflict seems persistent and intractable. Moreover, after a decade of complacency, we seem to finally grasp the fact that we are fighting for survival under the shadow of catastrophic dangers. In this situation, our strategy must be radically changed so it will involve: ends, ways of action, and means to achieve our national goals. We must also redefine our understanding of security threats and strategic doctrines must also be reconsidered. We propose to defeat transnational crime. We should strive to engender and develop a strong civil society and include technology in it. Thus, the techno culture approach points to an alternative strategy for facing the transnational threat.Keywords. threat, transnational, technoculture, public-private Di seluruh dunia, beberapa kasus kejahatan secara kuat mempengaruhi umat manusia. Dunia tidak damai, konflik tampak terus terjadi dan sulit dikendalikan. Bahkan, setelah satu dekade dengan kepuasan, kita akhirnya melihat fakta bahwa kita sedang berjuang untuk bertahan di bawah bayang-bayang bencana. Dalam situasi ini, strategi kita harus berubah secara radikal sehingga akan melibatkan: akhir, cara bertindak, dan cara untuk menggapai tujuan nasional. Kita harus mendefinisikan ulang pemahaman kita akan ancaman keamanan dan doktrin strategis harus dipertimbangkan. Kita mengusulkan untuk mengalahkan kejahatan lintas negara. Kita harus berupaya memunculkan dan mengembangkan masyarakat sipil yang kuat dan memasukkan teknologi di dalamnya. Oleh sebab itu, pendekatan teknokultur merujuk kepada strategi untuk menghadapi ancaman lintas negara tersebut.Kata kunci. ancaman, lintas negara, teknokultur, pemerintah-swasta.
Transparansi dan Akuntabilitas dalam Proses Musyawarah Perencanaan Kegiatan Tahunan (MPKT) di Kabupaten Bandung Tahun 2003 Equitari, Komang Elva; Maryandi, .
Journal of Regional and City Planning Vol 15, No 1 (2004)
Publisher : Center for Research and Community Services ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.697 KB)

Abstract

Annual activity planning forum, Musyawarah Perencanaan Tahunan (MPKT) of  Kabupaten Bandung 2003, is a new development planning system that is supposed to improve now defunct system called P5D. The principles of good governance, particularly transparency and accountability, are the main guidance in its implementation. However, based on an assessment of transparency and accountability of the process, it is found that the implementation of MPKT in 2003 is still not quite transparent and accountable, particularly in the decision making process
Konsepsi Pedoman Perencanaan Kota Baru Kombaitan, B.; Sujarto, Djoko
Journal of Regional and City Planning Vol 4, No 9 (1993)
Publisher : The ITB Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.83 KB)

Abstract

Pengembangan kota baru di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dasar kebijaksanaan pengembangan dan pembangunan kota pada umumnya. Dalam memikirkan kemungkinan pengembangan kota baru sebagai salah satu upaya mendorong pembangunan daerah, seperti digariskan dalam GBHN dan Repelita Nasional, maka kebijaksanaan dan langkah pembinaan kota nasional perlu melandasi hal tersebut.Berdasarkan hal pokok yang telah digariskan dalam kebijaksanaan dan langkah pembinaan kota dan pengembangan sektor permukiman dan perumahan, maka hal yang perlu ditekankan sebagai landasan pengembangan kota baru di Indonesia meliputi: azas pemerataan daerah, azas tata ruang wilayah, azas pemerataan penyebaran penduduk, azas pembangunan kota berwawasan lingkungan.Dengan keempat landasan kebijaksanaan tersebut, maka pengembangan kota baru di lndonesia perlu memperhatikan arahan berikut:Penentuan jenis kota baru yang didasarkan pada fungsi pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan kini maupun mendatang;Penentuan lokasi dan pengembangan kota baru perlu didasarkan pada pertimbangan untuk dapat menunjang pengembangan wilayah dan membantu memecahkan masalah kota besar;Penentuan dan pengembangan jenis kota baru perlu disesuaikan dengan jumlah penduduk, kegiatan usaha serta komponen kebutuhan yang menunjang kehidupan dan penghidupan di kota tersebut sampai batas yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan kota baru mandiri atau penunjang;Penentuan dan pengembangan kota baru harus dilihat dari wawasan dan ruang lingkup perwilayahan lebih luas, sehingga fungsi yang diharapkan dapat dicapai, termasuk pentingnya keterpaduan pengembangan kota baru dengan sistem jaringan prasarana perangkutan wilayah yang dapat menghubungkan dengan kota besar, kota menengah dan kota kecil di sekitarnya;Pengadaan dan pengembangan prasarana dan sarana perkotaan perlu dipadukan dengan program pengembangan prasarana kota terpadu agar efisien dan efektif;Penentuan, perencanaan dan pembangunan kota baru perlu ditunjang suatu penelitian guna menentukan wilayah yang memungkinkan dikembangkan, wilayah kendala serta wilayah limitasi. 
Peluang Pembangunan Monorail pada Sempadan Sungai Cikapundung Berdasarkan Karakteristik Sungai Rachmanto, Fandy
Journal of Regional and City Planning Vol 23, No 1 (2012)
Publisher : The ITB Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.807 KB)

Abstract

Kota Bandung sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia menghadapi berbagai tantangan pada saat ini dan masa yang akan datang. Menanggapi hal tersebut Pemerintah Kota Bandung sudah menyiapkan berbagai rencana pengembangan infrastuktur transportasi, salah satunya adalah rencana pembangunan monorail pada sempadan Sungai Cikapundung. Pembangunan monorail di sempadan sungai belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia. Hal ini harus ditelaah lebih mendalam apakah sesuai dengan karakteristik Sungai Cikapundung yang ada di Kota Bandung. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan terhadap karakteristik sungai, maka didapatkan peluang pembangunan monorail pada sempadan Sungai Cikapundung tidak memungkinkan untuk dilakukan. Hal ini dikarenakan dua dari tiga kriteria karakteristik sungai tidak memungkinkan untuk dilakukan. Kriteria yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pembangunan monorail adalah kriteria badan sungai, serta kriteria sempadan sungai. Kriteria badan sungai tidak memungkinkan untuk dibangun, karena kriteria ini tidak memenuhi komponen keselamatan konstruksi monorail. Selain itu, karakteristik sempadan sungai tidak memungkinkan untuk dilakukan karena kriteria ini tidak memenuhi komponen kebutuhan ruang pembangunan monorail, serta komponen keselamatan konstruksi monorail. Secara keseluruhan peluang pembangunan monorail pada sempadan Sungai Cikapundung berdasarkan karakteristik sungai tidak dapat dilakukan. Pembangunan ini dapat dilaksanakan apabila rekomendasi-rekomendasi yang telah diusulkan sudah dilakukan.Kata kunci: Peluang Pembangunan, Sempadan Sungai Cikapundung, Monorail, Karakteristik Sungai Bandung City as one of the metropolitan cities in Indonesia faces many challenges at present and in the future. In response, Bandung City Government set up variety of transport infrastructure development plans; one of which is to build the monorail at the Cikapundung river border. Monorail construction on the river border has never been done in Indonesia. This should be explored more deeply whether it is appropriate to the Bandung city’s Cikapundung River characteristics. Based on the analysis conducted on river characteristics, the monorail development opportunities of Cikapundung River border is not feasible to do. This is because two of the three criteria of the river characteristics are not feasible to do. The criteria are the criteria for river body, as well as the criteria for river demarcation. Criteria for river body do not allow to be built, because it does not meet the criteria of safety components monorail construction. In addition, river characteristics border are not possible to do because it does not meet the criteria for monorail construction space needs component and monorail construction safety components. Overall the monorail development opportunities on the River Cikapundung demarcation based on the river characteristics can’t be done. This development can be implemented if the proposed recommendations have been done. Keywords:  Development  Opportunities,  Cikapundung  Border  Rivers, Monorail, River Characteristics 

Page 34 of 102 | Total Record : 1015


Filter by Year

1990 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 36 No. 2 (2025) Vol. 36 No. 1 (2025) Vol. 35 No. 2 (2024) Vol. 35 No. 1 (2024) Vol. 34 No. 3 (2023) Vol. 34 No. 2 (2023) Vol. 34 No. 1 (2023) Vol. 33 No. 3 (2022) Vol. 33 No. 2 (2022) Vol. 33 No. 1 (2022) Vol. 32 No. 3 (2021) Vol. 32 No. 2 (2021) Vol. 32 No. 1 (2021) Vol. 31 No. 3 (2020) Vol. 31 No. 2 (2020) Vol 31, No 1 (2020) Vol. 31 No. 1 (2020) Vol. 30 No. 3 (2019) Vol 30, No 3 (2019) Vol 30, No 2 (2019) Vol. 30 No. 2 (2019) Vol 30, No 1 (2019) Vol. 30 No. 1 (2019) Vol. 29 No. 3 (2018) Vol 29, No 3 (2018) Vol 29, No 2 (2018) Vol. 29 No. 2 (2018) Vol 29, No 1 (2018) Vol. 29 No. 1 (2018) Vol. 28 No. 3 (2017) Vol 28, No 3 (2017) Vol 28, No 2 (2017) Vol. 28 No. 2 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 28 No. 1 (2017) Vol 28, No 1 (2017) Vol. 27 No. 3 (2016) Vol 27, No 3 (2016) Vol 27, No 2 (2016) Vol. 27 No. 2 (2016) Vol 27, No 1 (2016) Vol. 27 No. 1 (2016) Vol. 26 No. 3 (2015) Vol 26, No 3 (2015) Vol. 26 No. 2 (2015) Vol 26, No 2 (2015) Vol 26, No 1 (2015) Vol. 26 No. 1 (2015) Vol. 25 No. 3 (2014) Vol 25, No 3 (2014) Vol 25, No 2 (2014) Vol. 25 No. 2 (2014) Vol 25, No 1 (2014) Vol. 25 No. 1 (2014) Vol 24, No 3 (2013) Vol. 24 No. 3 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol 24, No 2 (2013) Vol. 24 No. 2 (2013) Vol 24, No 1 (2013) Vol. 24 No. 1 (2013) Vol. 23 No. 3 (2012) Vol 23, No 3 (2012) Vol 23, No 3 (2012) Vol 23, No 2 (2012) Vol. 23 No. 2 (2012) Vol 23, No 1 (2012) Vol. 23 No. 1 (2012) Vol 22, No 3 (2011) Vol. 22 No. 3 (2011) Vol. 22 No. 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 2 (2011) Vol 22, No 1 (2011) Vol. 22 No. 1 (2011) Vol 21, No 3 (2010) Vol. 21 No. 3 (2010) Vol. 21 No. 2 (2010) Vol 21, No 2 (2010) Vol 21, No 1 (2010) Vol. 21 No. 1 (2010) Vol 20, No 3 (2009) Vol 20, No 3 (2009) Vol. 20 No. 3 (2009) Vol. 20 No. 2 (2009) Vol 20, No 2 (2009) Vol. 20 No. 1 (2009) Vol 20, No 1 (2009) Vol. 19 No. 3 (2008) Vol 19, No 3 (2008) Vol. 19 No. 2 (2008) Vol 19, No 2 (2008) Vol 19, No 1 (2008) Vol. 19 No. 1 (2008) Vol 18, No 3 (2007) Vol. 18 No. 3 (2007) Vol. 18 No. 2 (2007) Vol 18, No 2 (2007) Vol. 18 No. 1 (2007) Vol 18, No 1 (2007) Vol 17, No 3 (2006) Vol. 17 No. 3 (2006) Vol. 17 No. 2 (2006) Vol 17, No 2 (2006) Vol. 17 No. 1 (2006) Vol 17, No 1 (2006) Vol. 16 No. 3 (2005) Vol 16, No 3 (2005) Vol 16, No 2 (2005) Vol. 16 No. 2 (2005) Vol 16, No 1 (2005) Vol. 16 No. 1 (2005) Vol. 15 No. 3 (2004) Vol 15, No 3 (2004) Vol. 15 No. 2 (2004) Vol 15, No 2 (2004) Vol. 15 No. 1 (2004) Vol 15, No 1 (2004) Vol. 14 No. 3 (2003) Vol 14, No 3 (2003) Vol 14, No 2 (2003) Vol. 14 No. 2 (2003) Vol. 12 No. 4 (2001) Vol 12, No 4 (2001) Vol 12, No 3 (2001) Vol. 12 No. 3 (2001) Vol. 12 No. 1 (2001) Vol 12, No 1 (2001) Vol. 11 No. 3 (2000) Vol 11, No 3 (2000) Vol. 11 No. 2 (2000) Vol 11, No 2 (2000) Vol. 10 No. 3 (1999) Vol 10, No 3 (1999) Vol. 10 No. 1 (1999) Vol 10, No 1 (1999) Vol. 9 No. 2 (1998) Vol 9, No 2 (1998) Vol. 8 No. 3 (1997) Vol 8, No 3 (1997) Vol 8, No 1 (1997) Vol. 8 No. 1 (1997) Vol. 7 No. 22 (1996) Vol 7, No 22 (1996) Vol 7, No 21 (1996) Vol. 7 No. 21 (1996) Vol. 7 No. 20 (1996) Vol 7, No 20 (1996) Vol 6, No 19 (1995) Vol. 6 No. 19 (1995) Vol 6, No 18 (1995) Vol. 6 No. 18 (1995) Vol. 6 No. 17 (1995) Vol 6, No 17 (1995) Vol 5, No 16a (1994): Edisi Khusus Vol 5, No 16 (1994) Vol. 5 No. 16a (1994): Edisi Khusus Vol. 5 No. 16 (1994) Vol 5, No 16 (1994) Vol 5, No 11 (1994) Vol. 5 No. 11 (1994) Vol. 4 No. 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol 4, No 9 (1993) Vol. 4 No. 9 (1993) Vol 4, No 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9a (1993): Edisi Khusus Februari Vol. 4 No. 9b (1993): Edisi Khusus Juli Vol 4, No 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol. 4 No. 9c (1993): Edisi Khusus Oktober Vol 4, No 8 (1993) Vol. 4 No. 8 (1993) Vol 4, No 8 (1993) Vol. 4 No. 7 (1993) Vol 4, No 7 (1993) Vol 3, No 4 (1992) Vol. 3 No. 4 (1992) Vol. 3 No. 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 4a (1992): Edisi Khusus Juli Vol 3, No 3 (1992) Vol. 3 No. 3 (1992) Vol 2, No 1 (1991) Vol. 2 No. 1 (1991) Vol 2, No 1 (1991) Vol. 1 No. 1 (1990): Perkenalan Vol 1, No 1 (1990): Perkenalan More Issue