Articles
12 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER"
:
12 Documents
clear
Tinjauan Ulang Hipotesis Higiene
Anang Endaryanto
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (646.148 KB)
|
DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.264-274
Latar Belakang: Hipotesis higiene mendalilkan bahwa infeksi memberikan perlindungan terhadap alergi. Hubungan terbalik antara infeksi dan alergi belum banyak dikonfirmasi secara langsung oleh studi epidemiologi. Belum ada review yang konsisten tentang hal ini. Tujuan: Tulisan ini memberikan informasi dan analisis mengenai berbagai hasil penelitian yang relevan dalam rangka memberi gambaran tentang peran Hipotesis higiene pada alergi. Telaah Kepustakaan: Ditemukan kesesuaian hipotesis higiene dengan fakta klinis dan epidemiologis masa kini; serta relevansi konsep keseimbangan respons imun Th1/Th2 dalam hubungan antara infeksi dengan penyakit alergi saat ini setelah adanya temuan baru tentang respons imun Treg, Th17, Th9, serta Th22. Simpulan: Hipotesis Higiene menjadi salah satu cara untuk menjelaskan perubahan global terbaru dalam prevalensi alergi, teori mengenai imunopatogenesis lebih lanjut yang konsisten dengan bukti epidemiologi masih diperlukan.
Perbandingan Nilai Transepidermal Water Loss Pada Lesi Makula Anestetika dan Nonanestetika Pada Pasien Kusta
Indah Sari LD;
Indropo Agusni;
Diah Mira I
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (452.852 KB)
|
DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.224-230
Latar belakang: Kusta adalah penyakit infeksi kronis, disebabkan oleh M. leprae, penyakit ini menyerang sistem saraf perifer, kulit, dan jaringan lain. Gangguan kusta pada saraf tepi menyerang juga saraf autonomik yang akan mengganggu kelenjar keringat yang dapat menyebabkan kondisi kulit kering. Transepidermal Water Loss (TEWL) adalah penilaian terhadap jumlah air yang menguap dari kulit. Semakin tinggi TEWL penguapan semakin besar, kemungkinan terdapat kerusakan pada barier kulit atau produksi keringat. Tujuan: Mengukur nilai TEWL pada lesi makula anestetika dan nonanestetika pada pasien kusta. Metode: Penelitian analitik observasional dengan populasi pasien kusta di Poli Kulit dan Kelamin RSUD. Dr. Soetomo Surabaya. Sesuai dengan kriteria inklusi, kemudian dilakukan pemeriksaan TEWL pada pasien tersebut. Hasil: Dari 22 pasien kusta didapatkan perbedaan rerata yang signifikan antara TEWL makula anestetika dan nonanestetika (p= 0,0001). Distribusi nilai TEWL pada makula anestetika 0-<10 g/m2/h (59,1%), kisaran 10-<15 g/m2/h (27,3%), 15-<25 g/m2/h (13,6%). Simpulan: Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara TEWL makula anestetika dan nonanestetika.
Efek Penambahan Fototerapi Sinar Biru Terhadap Manifestasi Klinis Akne Vulgaris Derajat Sedang
Dhyah Aksarani Handamari;
M. Yulianto Listiawan;
Linda Astari
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (457.746 KB)
|
DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.185-192
Latar Belakang: Penggunaan terapi lini pertama pada akne vulgaris (AV) kadang memberikan hasil yang kurang memuaskan dan juga menimbulkan efek samping.Banyak peneliti melaporkan respons positif pasien AV sedang (AVS) yang diobati dengan fototerapi sinar biru. Penggunaan fototerapi sinar biru menurunkan prosentase jumlah lesi lebih besar dibandingkan tanpa fototerapi.Tujuan: Membuktikan efek penambahan fototerapi sinar biru terhadap manifestasi klinis AVS. Metode: Desain penelitian adalah eksperimental analitik dengan menggunakan metode uji klinis terkontrol, pemilihan pasangan serasi, dan desain paralel yang membandingkan penambahan fototerapi sinar biru terhadap terapi standar (kontrol) akne vulgaris derajat sedang. Subjek penelitian adalah semua pasien AVS yang memenuhi kriteria, yang datang berobat di Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin Divisi Kosmetik RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada Desember 2017 sampai Februari 2018. Hasil: Efek penambahan fototerapi sinar biru terhadap penurunan jumlah komedo dan papul/pustul pada AVS tidak berbeda bermakna dibandingkan tanpa penambahan fototerapi sinar biru, namun berbeda bermakna pada penurunan jumlah nodul. Efek penambahan fototerapi sinar biru terhadap penurunan porfirin dan jumlah sebum pada AVS tidak berbeda bermakna dibandingkan tanpa penambahan fototerapi sinar biru, namun berbeda bermakna pada penurunan jumlah pori-pori. Simpulan: Penambahan fototerapi lebih baik pada lesi inflamasi dan membantu penurunan jumlah pori pasien AV.
Pseudolimfoma Kutis: Laporan Kasus
Kartika Kemala;
Wening Setyani;
Dyah Ayu Mira Oktarina;
Yohanes Widodo Wirohadidjojo
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (525.073 KB)
|
DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.275-278
Latar Belakang: Pseudolimfoma kutis adalah proses limfoproliferatif jinak poliklonal pada kulit, yang menyerupai limfoma kutis secara klinis dan atau histopatologi. Pseudolimfoma kutis bermanifestasi dalam bentuk nodul atau plak keunguan pada wajah. Pada kasus yang dicurigai sebagai pseudolimfoma kutis, bagian terpenting adalah diagnosis untuk membedakan lesi tersebut jinak atau ganas. Diagnosis memerlukan kombinasi antara pemeriksaan klinis, histopatologis, dan imunohistokimia. Tujuan: Melaporkan satu kasus pseudolimfoma kutis yang menitikberatkan pada masalah penegakan diagnosis. Kasus: Seorang wanita usia 27 tahun, datang dengan keluhan nodul asimptomatik berwarna merah pada pipi sejak 2 bulan yang lalu. Pemeriksaan histopatologi didapatkan sebukan limfosit padat membentuk folikel limfoid dengan centrum germinativum yang sebagian mendestruksi kelenjar appendices kulit dan meluas hingga jaringan lemak subkutis. Pemeriksaan imunohistokimia menunjukkan hasil positif dengan pewarnaan cluster of differentiation (CD) 20+, CD3+, dengan dominasi pada CD3+. Pewarnaan CD4+ menunjukkan hasil positif dan CD8+ dengan hasil negatif. Penatalaksanaan: Pasien diterapi dengan injeksi triamsinolon asetonid 10 mg/ml intralesi, dan memberikan hasil yang memuaskan setelah 3 kali injeksi. Simpulan: Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan histopatologi, dan imunohistokimia, telah ditegakkan kasus pseudolimfoma kutis pada seorang wanita 27 tahun. Terapi dengan injeksi triamsinolon asetonid 10 mg/ml intralesi memberikan hasil yang memuaskan.
Penurunan Skor Melasma Area and Severity Index (MASI) antara Asam Traneksamat Topikal dan Modifikasi Formula Kligman dengan Plasebo Topikal dan Modifikasi Formula Kligman pada Pasien
Frea Astrilia Tamarina;
Sawitri Sawitri;
Hari Sukanto
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (566.43 KB)
|
DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.231-239
Latar Belakang: Melasma merupakan kelainan pigmentasi yang dapat menyebabkan gangguan kualitas hidup. Modifikasi Formula Kligman digunakan sebagai terapi standar melasma di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Penelitian retrospektif mengenai distribusi kemajuan penyakit melasma berdasarkan skor melasma area and severity index (MASI) di RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada periode 2012-2014, menunjukkan jika hanya 44,4% yang mengalami penurunan skor pada kunjungan ulang. Asam traneksamat (AT) telah dilaporkan beberapa studi sebagai terapi adjuvan yang dapat menurunkan skor MASI dan memberikan perbaikan klinis pigmentasi. Penggunaannya secara topikal dianggap aman, tanpa efek samping serius. Tujuan: Mengevaluasi perbedaan selisih penurunan skor MASI antara pemberian AT topikal dan modifikasi Formula Kligman dengan pemberian plasebo topikal dan modifikasi Formula Kligman pada pasien melasma. Metode: Penelitian eksperimental analitik dengan uji klinis acak terkontrol, tersamar tunggal, yang membandingkan AT topikal dan modifikasi Formula Kligman (kelompok perlakuan) dengan plasebo topikal dan modifikasi Formula Kligman (kelompok kontrol), setelah pemakaian minggu ke-4, 8, dan 12 pada pasien melasma. Hasil: Studi melibatkan 14 pasien kelompok perlakuan dan 14 pasien kelompok kontrol. Hasil menunjukkan perbedaan bermakna setelah pemakaian minggu ke-4 (p=0,032) pada selisih penurunan skor MASI antara kelompok perlakuan dan kontrol. Tidak terdapat perbedaan bermakna setelah pemakaian minggu ke-8 (p=0,052) dan minggu ke-12 (p=0,057). Kedua agen memiliki mekanisme kerja yang berbeda dengan titik tangkap yang berbeda. Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna setelah pemakaian minggu ke-4 pada selisih penurunan skor MASI antara pemberian AT topikal dan modifikasi Formula Kligman dengan pemberian plasebo topikal dan modifikasi Formula Kligman. Diperlukan penelitian lanjutan untuk membandingkan dan menentukan efikasi dari masing-masing agen.
Faktor Risiko Kandidiasis Vulvovaginalis (KVV)
Dewi Puspitorini;
Linda Astari;
Yuri Widya;
Sylvia Anggraeni;
Evy Ervianti;
Cita Rosita Sigit Prakoeswa;
Sunarso Suyoso
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (448.151 KB)
|
DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.193-200
Latar Belakang: Kandidiasis vulvovaginalis (KVV) merupakan penyakit inflamasi vulva dan vagina yang disebabkan oleh spesies Candida. Penyakit ini menyerang hampir tiga per empat wanita usia subur. Terdapat berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit ini. Penanganan yang baik terhadap faktor-faktor tersebut diharapkan dapat menurunkan angka kejadian KVV. Tujuan: Mengevaluasi faktor-faktor yang memengaruhi KVV. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif cross-sectional untuk mengamati faktor-faktor predisposisi KVV pada 12 April 2017 hingga 11 Juli 2017 di Unit Rawat Jalan RSUD Dr Soetomo Surabaya. Hasil: Didapatkan 25 pasien KVV dengan distribusi usia terbanyak adalah usia 15-24 tahun, lama keluhan terbanyak adalah 1-9 bulan, riwayat predisposisinya antara lain diabetes melitus, kondisi penurunan sistem imun, dan yang terbanyak adalah pemakai douching vagina. Hasil pemeriksaan klinis didapatkan semua pasien dengan vulva dan vagina eritema dan edema. Hasil pemeriksaan sediaan basah didapatkan blastospora positif dengan pseudohifa negatif sebesar 20%, blastospora positif dengan pseudohifa positif sebesar 48%, blastospora negatif dengan pseudohifa negatif sebesar 32%, dan tidak didapatkan blastospora negatif dengan pseudohifa positif. Pemeriksaan mikroskopis pengecatan Gram didapatkan blastospora positif dengan pseudohifa negatif sebesar 16%, blastospora negatif dengan pseudohifa positif sebesar 4%, blastoposra positif dengan pseudohifa positif sebesar 52%, dan blastospora negatif dengan pseudohifa negatif sebesar 28%. Didapatkan 100% sampel tumbuh koloni pada media Saboroud Dextrose Agar (SDA). Simpulan: KVV disebabkan oleh spesies Candida, yang tumbuh 100% pada media SDA. Terdapat faktor-faktor predisposisi yang sangat berpengaruh terhadap kejadian KVV.
Profil Pasien Kondiloma Akuminata
Riyana Noor Oktaviyanti;
Jusuf Barakbah
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (468.731 KB)
|
DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.240-247
Latar belakang: Kondiloma Akuminata (KA) merupakan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang sering terjadi di seluruh dunia.KA disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) dengan gejala berupa lesi tunggal atau multipel pada daerah anogenital yang disertai dengan gejala gatal, discharge vagina, dan perdarahan. Prevalensi KA mengalami peningkatan diseluruh dunia. Tujuan: mengevaluasi gambaran pasien dan pelayanan pasien KA di Divisi IMS Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2012-2014. Metode: Studi retrospektif dari data sekunder rekam medik pasien baru KA selama periode 3 tahun. Hasil: Pasien baru KA terbanyak tahun 2013 sebanyak 9,7% dari total kunjungan pasien IMS. Pasien perempuan lebih banyak daripada laki-laki dengan kelompok umur terbanyak pada usia 25-44 tahun (62,9%), dan klinis terbanyak bentuk kondiloma tanpa komplikasi yang multipel dengan penatalaksanaan Trichloroacetic Acid (TCA) (84,3%). Simpulan: KA merupakan penyakit terbanyak kedua di divisi IMS dengan jenis kelamin terbanyak perempuan pada kelompok umur 25-44 tahun dan klinisnya berupa kondiloma tanpa komplikasi dengan penatalaksanaan terbanyak dengan TCA. Terdapat peningkatan dalam angka pemeriksaan penunjang yang dilakukan dibandingkan dengan tahun 2009-2011.
Hubungan Lingkungan Fisik Rumah dan Nonfisik dengan Kadar Antibodi IgM Anti Phenolic Glicolipid –1 (PGL-1) pada Anak dari Pasien Kusta
Ratnawati Ratnawati;
M. Zen Rahfiludin;
Martha Irene Kartasurya
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (462.749 KB)
|
DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.201-207
Latar Belakang: Penyakit kusta merupakan masalah di Indonesia yang menempati urutan ke-3 di dunia. Anak dari pasien kusta mempunyai risiko tinggi tertular penyakit kusta. Kadar antibodi IgM anti Phenolic Glicolipid-1 (PGL-1) dapat digunakan untuk mendiagnosis kusta subklinik. Tujuan: Mengevaluasi hubungan lingkungan fisik dan nonfisik rumah dengan kadar antibodi IgM anti-PGL-1 pada anak dari pasien kusta di perkampungan kusta Jepara. Metode: Penelitian observasional analitik potong lintang dengan subjek penelitian 41 anak dari pasien kusta yang berusia 6-14 tahun dan metode consecutive sampling. Pengumpulan data mengunakan kuesioner terstruktur untuk menilai intensitas kontak dan lama kontak, mengukur kelembapan, pencahayaan, suhu dan kepadatan rumah, dan pemeriksaan sampel darah untuk diperiksa kadar antibodi IgM anti-PGL-1 secara Enzyme Linked Immuno Assay (ELISA). Analisis data mengunakan korelasi rank Spearman dan Fishers’s Exact test. Hasil: Terdapat 10 anak (24,4%) yang mengalami kusta subklinik (kadar antibodi IgM anti-PGL-1 ≥ 600 m/ML). Terdapat hubungan lingkungan fisik rumah: kelembapan (r=-0,366 ; p=0,009) dan suhu rumah (r=0,342 ; p=0,014) dengan kadar antibodi IgM anti-PGL-1. Pencahayaan, kepadatan rumah, ventilasi, jenis lantai, dinding rumah, dan lingkungan nonfisik tidak berhubungan dengan kadar antibodi IgM anti-PGL-1. Simpulan: Faktor lingkungan fisik rumah suhu dan kelembapan berhubungan dengan kadar antibodi IgM anti-PGL-1, semakin tinggi suhu rumah semakin tinggi kadar antibodi IgM anti-PGL-1 dan semakin rendah kelembapan rumah semakin tinggi kadar antibodi IgM anti-PGL-1.
Profil Psoriasis Vulgaris di RSUD Dr. Soetomo Surabaya: Studi Retropektif
Karina Dyahtantri Pratiwi;
Damayanti Damayanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (659.118 KB)
|
DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.248-254
Latar belakang: Psoriasis vulgaris adalah penyakit kulit inflamasi kronis yang ditandai dengan plak merah berbatas tegas tertutup skuama tebal sebagai akibat dari gangguan proliferasi dan diferensiasi epidermis. Sifat kronis dari psoriasis vulgaris sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Profil pasien psoriasis vulgaris diperlukan untuk mengevaluasi morbiditas akibat psoriasis vulgaris, sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan. Tujuan: Mengevaluasi profil pasien psoriasis vulgaris meningkatkan mutu pelayanan terhadap pasien. Metode: Studi retrospektif dari data rekam medis pasien psoriasis vulgaris yang dirawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Kemuning I dan II Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama periode 1 Januari 2016 sampai 31 Desember 2017. Hasil: Sebanyak 36 pasien psoriasis vulgaris didapatkan dari pengamatan selama 2 tahun. Faktor pencetus kekambuhan lesi terbanyak adalah fokal infeksi gigi pada 30,6% pasien. Luas lesi >30% Body Surface Area (BSA) terdapat pada 55,6% pasien. Terapi sistemik yang diberikan berupa metotreksat (55,6%) dan siklosporin (25%); sedangkan 19,4% tidak diberikan terapi sistemik terkait kontraindikasi individual. Kesimpulan: Diagnosis psoriasis vulgaris ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gejala klinis, didukung dengan hasil histopatologi. Terapi sistemik berupa metotreksat atau siklosporin, disertai dengan terapi topikal dan terapi suportif, memberikan hasil perbaikan skor PASI 50% - 75% pada 58,3% pasien.
Penuaan Kulit: Patofisiologi dan Manifestasi Klinis
Ahmad Zahruddin;
Damayanti Damayanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 3 (2018): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (553.722 KB)
|
DOI: 10.20473/bikk.V30.3.2018.208-215
Latar belakang: Proses penuaan kulit merupakan proses fisiologis yang tidak dapat dihindari. Kulit merupakan bagian tubuh yang paling sering terpapar oleh faktor-faktor luar terutama radiasi sinar ultraviolet, dan karena terlihat oleh orang lain sehingga akan memengaruhi kehidupan sosial individu. Tujuan: Mengetahui patofisiologi dan manifestasi klinis penuaan kulit. Telaah Kepustakaan: Penuaan kulit yang terjadi pada seorang individu merupakan gabungan dari penuaan kulit intrinsik dan penuaan kulit ekstrinsik. Penuaan kulit intrinsik merupakan proses alami yang terjadi seiring bertambahnya usia, dipengaruhi oleh ras, jenis kelamin, gen, hormon, dan sebagainya, sedangkan penuaan kulit ekstrinsik dipengaruhi oleh berbagai faktor dari lingkungan, seperti gaya hidup, polusi, serta terutama paparan sinar ultraviolet (photoaging). Kedua proses penuaan tersebut akan menyebabkan peningkatan produksi radikal bebas, kerusakan sel, penurunan sintesis matriks ekstraseluler, serta peningkatan aktivitas enzim yang mendegradasi kolagen. Simpulan: Dasar patofisiologi penuaan kulit terutama disebabkan oleh peningkatan radikal bebas, akibat pertambahan usia maupun paparan sinar ultraviolet, sehingga menyebabkan kerusakan sel dan jaringan pada lapisan-lapisan dan adneksa kulit yang akan tampak sebagai manifestasi klinis penuaan kulit.