cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS" : 12 Documents clear
Pediculosis Capitis with Complication Sepsis and Anemia In Elderly Patient: A Case Report Rahmadewi Rahmadewi; Riyana Noor Oktaviyanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.496 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.165-170

Abstract

Background: Pediculosis is an ectoparasitic infestation of human scalp. Infestation is characterized by intense itching, secondary infection, and anemia in cases of severe infestation, and inadequate diet. Treatment of head lice includes physical methods, topical pediculicides, and oral agents. Purpose: To report a case of pediculosis capitis with complication of sepsis and anemia in elderly patient Case: A women, 80 year-old, body weight 45 kilograms, came to Emergency Room of Dr. Soetomo General Hospital with complaint about malaise, low appetite, and sometimes fever since 1 week ago. Patient also complained about itchy sensation on her scalp appeared since 3 months ago. There were many lices on her scalp. Itchy sensation was felt all day. Patient took a bath only once daily, and spent her time on bed because patient had a hemiparese since 6 months ago. History of the same disease in the family, her grandson also had the same complaint (lice on scalp). No history of bleeding or gastrointestinal bleeding. Patient had a low appetite. There were so many lices on her scalp, with erosion and crustae. Patient was treated with systemic antibiotic ceftriaxone injection 2 times 1 gram daily, metronidazole drip 3 times 500 mg, Packed Red Cell (PRC) transfusion 2 kolf /day until Hb more than10 g/dl, permethrin 1 % (Peditox). The treatments gave a good result. Discussion: Head-to-head contact is by far the most common route of lice transmission. We assumed that the infestation could stem directly from hair in hair contact, or indirectly, e.g. towels, which may have been already used by infected people. The source of contagious in this case could be from her grandson who also had the same complaint (lice on scalp). Treatment of pediculosis is permethrin 1%, other options if these treatments don’t work include malathion, benzyl alcohol, spinosad, and topical ivermectin. Conclusion: This patient was successfuly treated with permethrin 1 % (Peditox) and repeated treatment after 7 days gave good results and in this case there were no side effects. Patient education is the key in preventing pediculosis capitis and also reminding patients that they can help to prevent the spread of these parasites.
Evaluasi Penggunaan Terapi Topikal Tretinoin 0,1% pada Striae Albae Densy Violina Harnanti; M Yulianto Listiawan; Linda Astari; Willy Sandhika
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.9 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.98-103

Abstract

Latar belakang: Striae distensae (SD) adalah jaringan parut linier pada epidermis dan dermis akibat peregangan kulit yang melebihi batas elastisitasnya. Striae albae (SA) ditandai dengan garis hipopigmentasi dan terjadinya atrofi pada epidermis dan dermis. Hal tersebut dapat mengganggu fungsi sawar kulit bahkan gangguan transepidermal water loss (TEWL). Tujuan: Mengevaluasi perubahan klinis dan luas kolagen pasien SA sebelum dan setelah  terapi  tunggal krim tretinoin 0,1% selama 3 bulan. Metode: Penelitian eksperimental analitik yang membandingkan perubahan klinis dan persentase luas kolagen pasien SA sebelum dan setelah  terapi  tunggal krim tretinoin 0,1% selama 3 bulan di Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin Divisi Kosmetik dan Tumor Bedah Kulit Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Dr. Soetomo Surabaya. Hasil: Panjang lesi SA sebelum dan setelah terapi krim tretinoin 0,1% tidak didapatkan perbedaan bermakna (p=0,341), begitu pula lebar lesi SA sebelum dan setelah terapi juga tidak didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,341). Persentase luas  kolagen sebelum dan setelah terapi krim tretinoin 0,1% didapatkan perbedaan yang bermakna (p=0,0001). Visual Analog Scale (VAS) Improvement grade dengan skala 2 didapatkan pada 10 (90,9%) sampel penelitian sedangkan skala 3 didapatkan pada 1 (9,1%) sampel penelitian. Hasil penilaian VAS patient satisfaction grade didapatkan 10 (90,9%) sampel penelitian memberikan skala 6 dan 1 (9,1%) memberikan skala 7. Simpulan: Penggunaan krim tretinoin 0,1% pada SA selama 3 bulan tidak menunjukkan perubahan klinis yang bermakna, tetapi dapat meningkatkan persentase luas kolagen secara bermakna. 
Profil Nilai pH dan Transepidermal Water Loss (TEWL) Pada Pasien Dermatitis Atopik Anak Icha Aisyah; Iskandar Zulkarnain; Sawitri Sawitri
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.425 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.138-143

Abstract

Latar belakang: Dermatitis atopik (DA) merupakan keradangan kulit yang kronis, berulang, disertai rasa yang sangat gatal, kulit terasa kering, timbul pada tempat predileksi tertentu. Peningkatan potential hydrogen (pH) dan transepidermal water loss (TEWL) pada pasien DA menunjukkan gangguan fungsi sawar kulit dan dapat menyebabkan berbagai kelainan kulit berupa kulit kering di daerah lesi maupun non lesi. Tujuan: Mengetahui nilai pH dan TEWL pada DA anak di Divisi Dermatologi Anak Unit Rawat jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Metode: Penelitian deskriptif observasional dengan cross sectional (potong lintang) bertujuan untuk mengetahui nilai pH dan TEWL pada pasien DA anak di RSUD Dr Soetomo Surabaya, dengan besar sampel 20 pasien DA anak. Derajat penyakit diukur dengan menggunakan indeks SCORAD. Hasil: Nilai median pH di area lesi dan area non lesi adalah 6,54 dan 5,38. Nilai rerata TEWL di area lesi dan area non lesi adalah 22,51 g/m2/h dan 16,04 g/m2/h. Nilai pH dan TEWL pada area lesi lebih tinggi dibandingkan dengan area non lesi. Simpulan: Terdapat kecenderungan peningkatan nilai pH dan TEWL pada area lesi maupun non lesi sesuai dengan derajat keparahan DA.
Hubungan antara Kadar CD4+ dengan Angka Kejadian Infeksi Menular Seksual pada Pasien HIV/AIDS Ancella Soenardi; Prasetyadi Mawardi
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.498 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.104-110

Abstract

Latar Belakang: Infeksi menular seksual (IMS), termasuk infeksi Human immunodeficiency virus/ Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS), merupakan masalah utama di negara berkembang. Koinfeksi IMS pada pasien HIV merupakan faktor komorbid peningkatan risiko transmisi HIV dan IMS. Kadar sel limfosit T CD4+ digunakan untuk menentukan imunitas pasien HIV/AIDS. Studi yang menghubungkan jumlah sel CD4+ dan angka kejadian IMS pada pasien HIV/AIDS hingga kini hanya sedikit. Tujuan: Mengevaluasi profil IMS pada pasien HIV/AIDS di RSUD dr. Moewardi dan mengevaluasi hubungan antara kadar sel limfosit CD4+ dengan angka kejadian IMS pada pasien HIV/AIDS. Metode: Penelitian retrospektif menggunakan data sekunder rekam medik klinik Voluntary Conseling and Testing (VCT) RSUD dr. Moewardi periode Januari 2014 - Maret 2016. Diagnosis IMS ditegakkan berdasarkan pendekatan sindrom. Data CD4+ pasien IMS dengan HIV/AIDS dicatat untuk diolah secara statistik. Hasil: Kasus terbanyak adalah kondiloma akuminata (44%), ulkus genital nonherpes (12%), dan herpes genitalis (12%). Pemeriksaan sel limfosit CD4+ berdasar data rekam medis,13 pasien memiliki nilai CD4+ ≤ 350 sel/mm3, 2 pasien memiliki nilai CD4+ >350 sel/mm3, dan nilai CD4+ pada 7 pasien lainnya tidak diketahui. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak ada hubungan antara CD4+ dan angka kejadian IMS (p=0,562), tetapi kelompok nilai CD4+ rendah berisiko 1,16 kali untuk terkena IMS dibandingkan kelompok nilai CD4+ tinggi (0,67 kali). Simpulan: Hubungan bermakna antara kadar sel limfosit T CD4+ dan angka kejadian IMS belum dapat ditegakkan, meskipun kadar CD4+ rendah berisiko 1,16 kali untuk terkena IMS. Skrining kasus IMS pada pasien HIV/AIDS disertai perubahan perilaku dan pengobatan IMS yang tepat diharapkan dapat mencegah penularan HIV/AIDS.
Studi Retrospektif: Reaksi Kusta Tipe 1 Ridha Ramadina Widiatma; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.976 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.144-149

Abstract

Latar Belakang: Reaksi kusta tipe 1 terjadi akibat perubahan keseimbangan antara cell mediated immunity (CMI) dan basil Mycobacterium leprae di saraf dan kulit pasien kusta dengan hasil akhir berupa upgrading atau reversal. Pasien kusta tipe subpolar memiliki imunitas yang tidak stabil sehingga sering mengalami reaksi tipe 1 yang berulang terutama tipe Borderline Borderline (BB). Gejala klinis reaksi tipe 1 berupa peradangan kulit maupun saraf dapat menimbulkan kecacatan bila tidak ditangani secara tepat. Tujuan: Mengevaluasi gambaran umum, diagnosis, dan terapi reaksi kusta tipe 1. Metode: Studi retrospektif terhadap rekam medis kunjungan baru pasien kusta selama 4 tahun (2014 – 2017) di Divisi Kusta Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr Soetomo Surabaya. Hasil: Total 68 pasien baru kusta dengan reaksi tipe 1 (13,2% dari seluruh pasien baru Divisi Kusta), 60,3% berjenis kelamin laki-laki, 41,2% berusia 15–34 tahun, dan tipe kusta terbanyak adalah tipe BB (72,1%). Gejala reaksi pada kulit berupa keluhan penebalan bercak merah lama (80,9%), reaksi terutama terjadi saat masih dalam pemberian multidrug therapy (66,2%). Gejala saraf tepi pada reaksi tipe 1 yang terbanyak adalah tanpa gejala (66,7%). Terapi terbanyak yang diberikan adalah obat antiinflamasi nonsteroid (45,6%) dan kortikosteroid (29,4%). Simpulan: Diagnosis reaksi tipe 1 perlu ditegakkan dengan benar melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menentukan penatalaksanaan yang tepat. Penggalian riwayat tentang faktor pemicu sangat penting untuk mencegah reaksi tipe 1 berulang atau berkepanjangan.
Peran Biofilm terhadap Infeksi Saluran Genital yang disebabkan oleh Vaginosis Bakterial Afif Nurul Hidayati; Chesia Christiani Liuwan
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.336 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.150-158

Abstract

Latar Belakang: Insidensi infeksi saluran genital, salah satunya Vaginosis Bakterial (VB) cukup tinggi pada banyak negara dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup menonjol pada sebagian besar wilayah dunia. Kegagalan dalam mendiagnosis dan memberikan pengobatan dapat menimbulkan komplikasi yang serius dan berat dengan berbagai gejala sisa lainnya, antara lain infertilitas, kehamilan ektopik, infeksi pada neonatus, maupun penurunan kualitas bayi. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi patogenesis dan pengobatan VB, salah satunya biofilm. Tujuan: Tinjauan pustaka ini membahas peran biofilm dalam infeksi saluran genital akibat VB dalam patogenesis dan pengobatan. Telaah kepustakaan: Biofilm menghambat proses eliminasi dan terbunuhnya organisme patogen oleh antibiotik, sehingga infeksi menjadi lebih berat dan lama. Biofilm Gardnerella vaginalis menunjukkan resistensi yang tinggi dan mekanisme protektif yang kuat terhadap flora normal vagina, termasuk hidrogen peroksida dan asam laktat yang diproduksi oleh laktobasilus.  Hal itu merupakan penyebab terjadinya relapse dan rekurensi yang tinggi dari VB. Biofilm dapat memengaruhi patogenesis dan pengobatan BV. Biofilm juga berperan dalam resistensi antibiotik. Simpulan: Biofilm memegang peranan kunci tidak hanya dalam hal patogenesis dari VB tetapi juga berperan terhadap kegagalan terapi dan rekurensinya.
Artikel asli: Profil Kadar CXCL 10 Serum pada Pasien Vitiligo Di Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit Dan Kelamin RSUD Dr Soetomo Surabaya Ardhiah Iswanda Putri; Sawitri Sawitri; Diah Mira Indramaya
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.018 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.84-90

Abstract

Latar Belakang: Vitiligo adalah penyakit depigmentasi yang paling sering dijumpai dengan manifestasi klinis berupa makula berwarna putih susu berbatas tegas, patogenesis kompleks yang belum dipahami dengan baik sehingga evolusi penyakit tidak dapat diprediksi. Peran kemokin CXCL 10 pada vitiligo masih belum banyak diketahui dan dipelajari. Penelitian mengenai kadar CXCL 10 serum pada vitiligo belum pernah dilakukan di Indonesia. Tujuan: Untuk mengetahui profil kadar CXCL 10 serum pada pasien vitiligo. Metode: Rancangan penelitian ini deskriptif cross-sectional yang bertujuan untuk mengevaluasi kadar CXCL 10 serum pada pasien vitiligo, 16 sampel yang didiagnosis vitiligo dilakukan pengambilan darah pada pasien untuk mengukur kadar serum CXCL 10. Hasil: Kadar CXCL 10 serum pada penelitian ini lebih tinggi pada pasien vitiligo, tidak ada perbedaan bermakna antara laki laki dan perempuan dan distribusi proporsi tipe vitiligo tertinggi adalah generalisata. Simpulan: Profil kadar serum CXCL 10 pada pasien vitiligo berdasarkan jenis kelamin, usia, dan lama menderita vitiligo.
Pengaruh Vitamin D3 pada Dermatitis Atopik Anak di Indonesia Yuli Wahyu Rahmawati; Iskandar Zulkarnain; M Yulianto Listiawan; Trisniartami Setyaningrum; Irmadita Citrashanty; Lisa Aditama; Christina Avanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.837 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.123-129

Abstract

Latar Belakang: Vitamin D berperan pada homeostasis dan metabolisme kalsium. Selain fungsi tersebut, vitamin D juga berperan penting pada sistem kekebalan tubuh. Peran vitamin D terhadap sistem kekebalan tubuh telah diteliti akhir–akhir ini dengan penemuan reseptor vitamin D (VDR) pada jenis sel yang berbeda. Reseptor vitamin D telah diidentifikasi pada hampir semua sel sistem kekebalan termasuk sel T, sel B, neutrofil, makrofag, dan dendritic cell (DC). Penelitian yang menghubungkan kekurangan vitamin D dengan peningkatan risiko keganasan (terutama kolorektal), dermatitis atopik (DA), autoimun, infeksi, dan kardiovaskular banyak dilakukan pada dekade terakhir ini. Di antara faktor-faktor yang terlibat dalam patogenesis DA, kekurangan vitamin D pada pasien DA  menjadi topik yang penting saat ini. Tujuan: Mengetahui pengaruh vitamin D3 pada pasien DA anak. Metode: Penelitian cohort pada pasien DA anak yang memenuhi kriteria inklusi yang diberikan sirup vitamin D3 selama 28 hari, kemudian dilakukan pengukuran kolonisasi Staphylococcus aureus sebelum dan sesudah pemberian vitamin D3. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan penurunan kolonisasi Staphylococcus aureus sebelum dan setelah pemberian vitamin D3 pada pasien DA anak, dengan nilai p=0,0001. Simpulan: Vitamin D3 dapat menurunkan kolonisasi Staphylococcus aureus pada pasien DA anak.
Alasan dan Motivasi Penghilangan Tato dengan Laser Q-Switch Nd-Yag, Teknik Kombinasi Laser: Kasus Seri Igusti Ayu Praharsini; IGAA Elis Indira
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.967 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.159-164

Abstract

Latar Belakang: Tato merupakan seni dekorasi tubuh yang banyak digunakan dan sebaliknya banyak juga yang berkeinginan untuk menghilangkannya dengan berbagai alasan. Ada beberapa modalitas terapi menghilangkan tato. Laser Q-Switch (QS) merupakan prosedur standar baku untuk menghilangkan tato. Respon terapi menghilangkan tato dengan laser merupakan masalah dalam penatalaksanaanya, karena respon terapinya yang tidak dapat diprediksi. Tujuan: Untuk mengetahui alasan dan motivasi pasien menghilangkan tato dan respon terapi menggunakan laser. Kasus: Kasus 1, 2, dan 3 memiliki tato dekoratif warna hitam dengan lokasi punggung dan tangan yang dikerjakan oleh seorang tato amatir (kasus 1 dan 3) serta tato profesional pada kasus 2. Pada pasien ini dilakukan penghilangan tato menggunakan laser QS neodymium-doped yttrium aluminium garnet (Nd:YAG)  1064 nm, jumlah penyinaran 2-6 sesi dengan interval 4-6 minggu. Teknik kombinasi laser fractional Erbium-YAG 2940 nm, diikuti dengan laser QS Nd:YAG  1064 nm dilakukan pada kasus 3. Respon terapi kasus 1 dan 3 menunjukkan gambar tato memudar, sedangkan kasus 2 menunjukkan gambar tato sedikit memudar. Pembahasan: Tato dekoratif berwarna hitam dan  tato amatir memerlukan jumlah sesi penyinaran lebih sedikit, rata-rata 4-10 sesi penyinaran. Teknik kombinasi laser merupakan inovasi baru untuk  mempersingkat sesi penyinaran dengan hasil terapi yang maksimal. Simpulan: Untuk menghilangkan tato dengan laser diperlukan penilaian berbagai faktor yang berperan, sehingga hasil terapi dapat memberikan  kepuasan pada pasien.
Efikasi Seramid, Mentol, dan Polidokanol dibandingkan Jeli Petrolatum terhadap Keparahan Dermatitis Atopik Ringan Dewi Nurasrifah; Menul Ayu Umborowati; Diah Mira Indramaya; Iskandar Zulkarnain; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.295 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.91-97

Abstract

Latar Belakang: Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit kompleks dengan gejala klinis berspektrum luas. Penyakit ini ditandai dengan gejala gatal yang dominan sampai dapat mengganggu kualitas tidur, dan dapat menyebabkan infeksi sekunder. Patogenesis DA meliputi gangguan sawar kulit, faktor lingkungan, agen infeksius, dan abnormalitas sistem imun. Gangguan sawar kulit menjadi faktor utama yang harus diperbaiki salah satunya dengan pemberian pelembap seawal mungkin. Tujuan: Membandingkan efikasi pelembap yang mengandung seramid, mentol, dan polidokanol dengan jeli petrolatum pada pasien DA derajat ringan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental analitik dengan menggunakan metode uji klinis acak terkontrol tersamar tunggal, membandingkan terapi pelembap yang mengandung seramid, polidokanol, dan mentol dengan pelembap jeli petrolatum pada pasien DA anak dan dewasa dengan derajat keparahan ringan yang dinilai melalui indeks scoring of atopic dermatitis (SCORAD). Hasil: Penghitungan nilai SCORAD sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok perlakuan atau kontrol memiliki perbedaan yang tidak  signifikan  dengan nilai p>0,05. Simpulan: Pemberian kedua jenis pelembap dapat menurunkan derajat keparahan SCORAD pada pasien DA.

Page 1 of 2 | Total Record : 12