cover
Contact Name
Fadhila Inas Pratiwi
Contact Email
fadhila.inas@fisip.unair.ac.id
Phone
+6285333282505
Journal Mail Official
jhi@journal.unair.ac.id
Editorial Address
Jurnal Hubungan Internasional, Cakra Studi Global Strategis, Ruang A203 Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kampus B Universitas Airlangga, Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan, Surabaya 60286.
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Hubungan Internasional
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 14119382     EISSN : 27151565     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Hubungan Internasional is a scientific journal published twice a year, every June and December. JHI invite discussions, reviews, and analysis of contemporary against four main themes: international peace and security; international political economy; international businesses and organization; as well as globalization and strategy. JHI published by Cakra Studi Global Strategis (CSGS), center of studies that examine the issues of international relations and this center of studies was under control by Airlangga University International Relations Department.
Arjuna Subject : -
Articles 187 Documents
Global Inequality and Poverty Crisis: ASEAN Ineffective Role in the Mekong River Conflict Resolution NOR ATIQAH MOHD ISA
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 15 No. 2 (2022): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v15i2.38693

Abstract

Mekong River, known as the beating heart of mainland Southeast Asia, has been facing degradation of its natural flow of water due to anthropogenic activities across the river initiated by the Chinese government through the construction of hydropower dams. As a consequence, the river which provides a key source of water supplies and resources for the millions of people who live across its watershed has suffered significantly resulting in inequality and poverty in the community. The purpose of this study is to examine the root causes of inequality and poverty in the Lower Mekong region, as well as to identify ASEAN’s role in responding to the situation. The findings revealed that due to the Belt and Road Initiative (BRI) projects through the construction of dams along the river as well as ASEAN’s inability to resolve and address the crisis owing to economic dependence and difficulty to reach a consensus among its members has been a contributing factor to the ineffectiveness of ASEAN in the conflict resolution. From the findings, it can be concluded that China’s financial hegemony over the Mekong countries can have an impact on the region’s future levels of poverty and inequality.
Analisis Strategi Arktik Indonesia Berbasis SDGs Ke-13: Isu Penggunaan Jalur Perdagangan Maritim Kawasan Arktik Philipus Mikhael Priyo Nugroho; Jihan Amirotul Farikhah; Putri Audy Fahira; Gita Adjipersadani; Amouda Laula Nafila; Muttaqien
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 15 No. 2 (2022): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v15i2.38987

Abstract

Kawasan Kutub Utara memiliki jalur perdagangan maritim yang akses penggunaannya menjadi perseteruan banyak negara di dunia. Dua jalur yang paling dikontestasikan, Northwest Passage (NWP) dan Northern Sea Route (NSR), dikontrol mayoritasnya oleh Kanada dan Rusia secara berurutan. Ketiadaan pemerintahan di Kawasan Arktik tampak melalui proliferasi penggunaan jalur perdagangan maritim di kawasan tersebut, yang juga berkorelasi terhadap percepatan pencairan es dan naiknya permukaan air laut global sebesar 4 mm/ tahun. Indonesia juga mengalami peningkatan permukaan air laut, yang semakin meningkat setiap tahunnya, dan salah satu akibatnya adalah pencairan es Arktik. Penelitian berjenis kualitatif preskriptif ini ditujukan untuk menemukan bagaimana SDGs ke-13 serta isu proliferasi perdagangan kawasan Arktik diikutsertakan dalam perumusan strategi Arktik Indonesia. Ditemukan bahwasanya Indonesia telah memulai langkah mitigasi terhadap isu tersebut dengan rencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Pemerintah Indonesia tengah merumuskan strategi urusan Arktik, yang berpedoman pada SDGs ke-13 beserta isu proliferasi jalur perdagangan maritim. Namun, kekurangan dalam perumusan kebijakan tersebut meliputi kurangnya fasilitas riset Arktik, diseminasi isu tersebut ke publik dan dunia akademik Indonesia, serta pembangunan kepentingan politis domestik tentang isu tersebut.
A Constructivist Analysis of the Establishment of the AUKUS Security Pact and its Implications for Regional Stability in the Indo-Pacific Johni R.V. Korwa; Meyland S. F. Wambrauw
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 1 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i1.36888

Abstract

This article attempts to shed light on AUKUS formation based on constructivist perspective and its implications for regional stability in the Indo-Pacific. Using a qualitative approach with a case study method, this article found that the formation of AUKUS is strongly influenced by two fundamental elements of constructivism: identity and interests. Identity refers to the shared ideas among the Anglo-Saxon nations (including Canada and New Zealand). Nevertheless, New Zealand tends not to join AUKUS due to its commitment to non-proliferation, while Canada seems to contribute nothing to the nuclear submarine program. The interests of the AUKUS alliance are: the US desires to strengthen its hegemony in the Indo-Pacific and rebalance China’s domination; the UK craves to become the first European country to enhance alliance cooperation in the Indo-Pacific after Brexit; and Australia’s willingness to modernize its military capability and affirms its commitment to which allies it counts on in the future. The implications of establishing AUKUS might include: undermining the status quo in the region concerning a nuclear-free zone, weakening existing cooperation agreements and reducing mutual trust between traditional allies, and bringing catastrophe to the region by triggering an armed race.   Keywords: AUKUS; China; Constructivism; Indo-Pacific; Regional Stability  
The Application of Mask Diplomacy: China’s Belt and Road Initiative as Health Diplomacy in Middle East and North Africa (MENA) Countries During COVID-19 Titing Reza Fahrisa; Siti Rokhmawati Susanto; Renatha Rossdiana; Abraham Pardamean
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 1 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i1.37533

Abstract

China’s Belt and Road Initiative (BRI) is a diversification of economic, diplomatic, and geopolitical activities, previously known as the “New Silk Road”, which was later changed to “One Belt and One Road”. BRI is one of the Chinese Government’s most ambitious foreign and economic policies. China uses this route to expand its influence and gain attention in destinations in commodities, energy, transportation, and others in the Middle East & North Africa (MENA) countries. This paper uses descriptive qualitative methods to explore various unique phenomena from the Health Silk Road against Vaccination in MENA countries. As a result, 17 countries have become members of the BRI and have cooperated with China, and at this time of the COVID-19 pandemic crisis, most MENA countries are using vaccine diplomacy from China to overcome their crisis. This situation is used for China to carry out “Mask Diplomacy” to expand its influence in MENA countries. This proves to be effective for China in improving and creating more significant opportunities to emerge as a “hero” in providing health services to developing countries while increasing its presence in the world. Kata Kunci: COVID-19; Vaccine diplomacy; Belt Road Initiative; Mask Diplomacy; MENA
Vaksin SARS-CoV-2: Kontribusi Global Pfizer dan BioNTech dalam Menangani Covid-19 Rachmat Fauzan; Deasy Silvya Sari
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 1 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i1.37690

Abstract

Pandemi COVID-19 telah menimbulkan permintaan akan vaksin sebagai respon cepat tanggap untuk menanggulangi masalah kesehatan global. Untuk itu, peran aktor internasional dari berbagai level sangat diperlukan untuk menangani masalah global seperti ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan kerja sama. Pfizer dan BioNTech merupakan contoh perusahaan multinasional yang ahli dalam bidang teknologi kesehatan yang melakukan kerja sama untuk membuat vaksin COVID-19. Penelitian ini berupaya untuk memahami kerja sama bilateral yang dilakukan oleh Pfizer dan BioNTech berdasarkan konsep Kerja Sama Bilateral serta relevansinya dengan kesehatan global. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang berbasis pada data arsip, dokumen, dan internet. Adapun temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kerja sama bilateral yang dilakukan Pfizer dan BioNTech telah melalui proses utama dalam kerja sama bilateral, yakni membentuk perjanjian, melaksanakan kerja sama, serta hasil yang diberikan dapat menyelesaikan masalah yang ada. Vaksin BNT162b2 yang Pfizer dan BioNTech produksi juga telah terbukti efektif dan aman dalam menangkal penyakit COVID-19, sehingga relevan dalam mewujudkan nilai-nilai Kesehatan Global. Kata Kunci: Vaksin COVID-19, Pfizer-BioNTech, Kerja Sama Bilateral, Kesehatan Global
Societal Interest in The Policy Making Process: Study of Singapore’s Political Institutions Under Prime Minister Lee Hsien Loong Ica Cahayani; Sheila Shafira Mahsyar; Oddie Bagus Saputra
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 1 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i1.37716

Abstract

This study will discuss the mainstreaming of public interest in economic policy making under the government of Prime Minister Lee Hsien Loong and the ruling People’s Action Party (PAP). Policy making, especially in making political-economic policies, is very unified and interesting, namely the public choice method, where the government or policy-making actors collect ideas that are used as national and international political economy policies based on the interests of the community through interaction with the political institutions of the People’s Action Party as a party that has been in power in Singapore since 1959. Multiracial political policies provide a change in perspective on the differences between the minority and the majority in making economic policies that tend to have no differences or barriers. The method used in this detailed study uses a systematic literature review. This research uses descriptive qualitative research method. The results show that the mainstreaming of public interest in Singapore’s economic policy making has a positive impact on the Singaporean economy. Significant economic growth is supported by the development of good public education. Keywords: Society Interest; Political Institution; Economic Policy; People’s Action Party
NGO Involvement in the Indonesia-EFTA CEPA Negotiations on Palm Oil Giffary Salsha Al Fajrin; Shanti Darmastuti; Dairatul Ma'arif
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 1 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i1.38104

Abstract

Crude palm oil is considered a strategic export commodity for Indonesia because of its contribution to the domestic economy and development so the government will always ensure that agreements related to CPO are included in the discussion of international trade agreements, including the IndonesiaEFTA CEPA. However, the agreement related to CPO in Indonesia-EFTA CEPA received an unfavorable response from several national NGOs in Switzerland who are members of The Swiss Palm Oil Coalition. They urged the government of Switzerland to exclude CPO from the free trade agreement. This research aimed to find out the involvement of NGO in Indonesia-EFTA negotiations on palm oil using the conceptual framework of economic diplomacy. The research method used in this paper is descriptive qualitative. The data collection methods used are interview methods, document-based methods, and internet-based methods with data analysis techniques consisting of data reduction, data presentation, and verification and conclusion drawing. Based on the results of the research, it can be concluded that the form of NGO involvement in the palm oil negotiations in the Indonesia-EFTA CEPA can be divided into two, namely NGOs as consulting partners, and NGOs as pressure groups. Keywords: Crude Palm Oil; Economic Diplomacy; Indonesia-EFTA CEPA; NGO
Pembelian Pesawat Tempur Dassault Refale sebagai Implementasi Strategic Hedging Indonesia di Indo-Pasifik Alfin Febrian Basundoro
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 1 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i1.38237

Abstract

Pada tanggal 10 Februari 2022, Indonesia dan Prancis telah menyetujui kesepakatan pembelian pesawat tempur Dassault Rafale. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan Prancis, Florence Parly. Pembelian Dassault Rafale merupakan suatu langkah signifikan guna memperkuat alutsista TNI Angkatan Udara (TNI AU) yang hingga kini memiliki efek penggentar yang minim. Apalagi, posisi geopolitik Indonesia di kawasan Indo-Pasifik cukup rawan, dengan memanasnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik seiring dengan ekspansi militer Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Laut Tiongkok Selatan. Di sisi lain, Amerika Serikat (AS) selalu berupaya membendung ekspansi tersebut dengan beragam upaya strategis. Analisis ini berfokus pada pembelian pesawat tempur tersebut yang merupakan tindakan rasional untuk memperkuat pertahanan udara Indonesia. Dengan pendekatan teoritis Strategic Hedging, analisis ini berargumen bahwa pembelian pesawat tempur dari Prancis ini merupakan implementasi strategis untuk menghadapi pusaran konflik di Indo-Pasifik. Dengan memperkuat kemitraan strategis dengan Prancis melalui pembelian Dassault Rafale, Indonesia dapat memperoleh keuntungan berupa transfer teknologi dan memiliki daya tawar yang lebih kuat sekaligus menghindari ancaman dan tekanan dari AS dan RRT di kawasan dan konflik geopolitik yang kemungkinan dapat terjadi. Kata Kunci: Dassault Rafale; Indonesia; Prancis; TNI AU; Strategic Hedging
Kontribusi National Endowment for Democracy (NED) dalam Aksi Protes Domestik di Thailand Tahun 2020-2021 Elfa Aulia Rahmah
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 1 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i1.38242

Abstract

Thailand merupakan negara yang memiliki sejarah panjang konflik militer dan politik sehingga pada beberapa tahun terakhir masih terjadi aksi protes domestik. Para demonstran menuntut reformasi konstitusi, mundurnya Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha serta perubahan pada monarki. Tulisan ini mengulas kontribusi National Endowment for Democracy (NED) dalam aksi protes domestik pada tahun 2020-2021 di Thailand untuk menuntut pemerintah Thailand untuk merubah konstitusi. Secara khusus, penulis berusaha melihat bagaimana respon, peran, dan strategi yang dilakukan oleh organisasi nonpemerintah (NGO) kemanusiaan National Endowment for Democracy (NED) sebagai salah satu pemangku kepentingan (stakeholder) dalam kaitannya dengan mempengaruhi protes domestik di Thailand untuk menuntut pemerintah Thailand untuk merubah konstitusi. Argumen utama penulis adalah kontribusi NED pada memberikan pengaruh terhadap protes domestik di Thailand untuk mengubah konstitusi dengan menggunakan strategi Shaming & Blaming Strategy. NED melakukan kontribusi untuk mempengaruhi protes domestik tidak langsung dengan mempengaruhi aktor lain seperti NGO Thailand Thai Lawyers for Human Rights (TLHR), iLaw, dan media online. Keywords: Thailand, INGO, National Endowment for Democracy (NED), Hak Asasi Manusia, Demokrasi
Kedaulatan Negara dalam Kepemilikan Data Digital: Analisis Langkah Strategis Australia Menghadapi Facebook dan Google Arief Bakhtiar Darmawan; Kholifatus Saadah; I Putu Arya Aditia Utama
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 1 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i1.38971

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedaulatan negara dalam ruang siber dengan mengambil studi kasus perselisihan antara Australia dengan Facebook dan Google. Sejak kemunculannya sebagai aktor global pada dekade 1970-an, pertumbuhan perusahaan multinasional yang sangat pesat membuat para akademisi berargumen tentang peran negara yang terus berkurang dalam hubungan internasional. Kemajuan digital saat ini pun tidak lepas dari peran perusahaan multinasional. Tapi penelitian ini membuktikan pengamatan itu tidak sepenuhnya benar. Aktor negara masih memiliki kekuatan dan kedaulatan yang kuat ketika berhadapan dengan perusahaan multinasional raksasa. Penulis berargumen bahwa hal itu mungkin terjadi karena selain keberadaan state sovereignty yang berpengaruh terhadap besarnya kedaulatan negara, terdapat konsep cyber sovereignty yang memungkinkan negara untuk memiliki peran besar dalam era digital. Dalam menganalisis masalah, penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui empat tahapan proses analisis data, yaitu pengumpulan data, reduksi data, presentasi data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah Australia merasa bahwa Facebook dan Google harus membayar konten-konten berita mengenai Australia karena hal itu merupakan hak negara sebagai pemilik data. Kedaulatan siber yang dimiliki negara memungkinkan adanya pengaturan model bisnis pembagian keuntungan yang lebih merata. Keywords: kedaulatan negara, kedaulatan siber, kekuataan siber, ruang siber