cover
Contact Name
Ikhwan
Contact Email
jurnaladabiya@ar-raniry.ac.id
Phone
+6282360718952
Journal Mail Official
jurnaladabiya@ar-raniry.ac.id
Editorial Address
Fakultas Adab dan Humaniora, Lt. II, UIN Ar-Raniry Banda Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Adabiya
ISSN : 25493124     EISSN : 25491776     DOI : -
Journal of Adabiya is a scholarly journal published biannually, February and August by Fakultas Adab and Humaniora of UIN of Ar-Raniry with registered number 2567/SK.Ditjen.PPG/STT/1999, dated July 6, 1999 (ISSN 1411-6588). On February 2, 2017 the Jurnal Adabiya has been approved its online ISSN 2549-1776 and February 7, 2017 was awarded ISSN number for printing version, that is ISSN 2549-3124. It is focused on >strong>Social, Literature, Arabic Literature, Humanities, Library and Information Science issues. The Journal is nationally circulated and managed by professionals in their respective areas of expertise. An article published in the journal have been reviewed by experts in their field both national and international which their name can be found in the last page of the journal.
Articles 132 Documents
Analysis of Acehnese Historical and Cultural Content on YouTube Based on Islamic Marketing Ethics Syahrizal, Teuku Muhammad; Najla; Muftahuddin; Meutia Dwi Novita Sari; Nabilah
Jurnal Adabiya Vol. 28 No. 1 (2026): JURNAL ADABIYA
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/adabiya.v28i1.34074

Abstract

The development of digital media has transformed patterns of representation and consumption of history and culture through video-based platforms such as YouTube. This study analyzes the production practices of Acehnese historical and cultural content on the Nata the Kongkow YouTube channel by employing Islamic marketing ethics as the primary evaluative framework. Using a qualitative approach with a case study design, the research draws on content analysis and interviews as a means of confirming analytical findings. The results indicate that content production involves ongoing negotiation between educational objectives, limitations of historical sources, and audience engagement demands. From the perspective of Islamic marketing ethics, content production practices have generally fulfilled the principles of sidq, amanah, bayān, and orientation toward public welfare, although the degree of fulfillment varies according to content objectives and available source constraints. These findings demonstrate that Islamic marketing ethics can function as a reflective framework for assessing digital historical and cultural content practices and provide practical implications for content creators and cultural institutions. Abstrak Perkembangan media digital telah mengubah pola representasi dan konsumsi sejarah serta budaya melalui platform berbasis video seperti YouTube. Penelitian ini menganalisis praktik produksi konten sejarah dan budaya Aceh pada kanal YouTube Nata the Kongkow dengan menggunakan etika marketing syariah sebagai kerangka evaluatif utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui analisis konten dan wawancara sebagai sarana konfirmasi temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi konten berlangsung dalam negosiasi antara tujuan edukatif, keterbatasan sumber historis, dan tuntutan keterlibatan audiens. Dari perspektif etika marketing syariah, praktik produksi konten secara umum telah memenuhi prinsip sidq, amanah, bayān, dan orientasi kemaslahatan, meskipun tingkat pemenuhannya bervariasi sesuai dengan tujuan konten dan keterbatasan sumber yang tersedia. Temuan ini menegaskan bahwa etika marketing syariah dapat berfungsi sebagai kerangka reflektif dalam menilai praktik konten digital sejarah dan budaya serta memberikan implikasi praktis bagi konten kreator dan institusi budaya.
Barriers to Implementing a Public Library in Rural Areas in South Africa Dickson Mdhlalose; Sedume Mashilo
Jurnal Adabiya Vol. 28 No. 1 (2026): JURNAL ADABIYA
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/adabiya.v28i1.34220

Abstract

This qualitative study investigates the systemic barriers hindering the realization of a public library in Kwa-Mhlanga, a rural village in Mpumalanga, South Africa. While often viewed as mere infrastructure, the library represents a vital "living room" for a community currently denied its right to information. Adopting an interpretivist paradigm, the research engaged fifty participants ranging from community members and traditional leaders to local officials to capture the lived reality of this developmental vacuum. Through semi-structured interviews and focus groups, data were analyzed thematically to uncover why the "first brick" has yet to be laid. The findings identify a critical triad of obstacles: severe financial constraints driven by unallocated budgets; bureaucratic inertia caused by fragmented mandates; and political apathy, where intellectual growth is sacrificed for more visible, revenue-generating projects. Crucially, the study reveals a painful paradox: while physical land is available and traditional leaders offer strong cultural support, these community assets are neutralized by governance failures. By providing a nuanced, pre-implementation analysis, this study moves beyond generic challenges to expose the human cost of systemic resistance. It concludes that bridging the gap between community need and institutional action requires a multi-pronged strategy: securing ring-fenced statutory funding, establishing streamlined inter-departmental task forces, and fostering sustained participatory co-design. Only through these human-centered interventions can the library transition from a stalled promise to a sustainable sanctuary for lifelong learning and community dignity. Abstrak Studi kualitatif ini menyelidiki hambatan sistemik yang menghambat terwujudnya perpustakaan umum di Kwa-Mhlanga, sebuah desa terpencil di Mpumalanga, Afrika Selatan. Meskipun sering dipandang hanya sebagai infrastruktur, perpustakaan tersebut merupakan "ruang tamu" yang vital bagi komunitas yang saat ini haknya atas informasi ditolak. Dengan mengadopsi paradigma interpretatif, penelitian ini melibatkan lima puluh partisipan—mulai dari anggota komunitas dan pemimpin tradisional hingga pejabat lokal—untuk menangkap realitas kehidupan dari kekosongan pembangunan ini. Melalui wawancara semi-terstruktur dan kelompok fokus, data dianalisis secara tematik untuk mengungkap mengapa "batu bata pertama" belum diletakkan. Temuan mengidentifikasi tiga hambatan penting: kendala keuangan yang parah akibat anggaran yang tidak dialokasikan; inersia birokrasi yang disebabkan oleh mandat yang terfragmentasi; dan apati politik, di mana pertumbuhan intelektual dikorbankan untuk proyek-proyek yang lebih terlihat dan menghasilkan pendapatan. Yang terpenting, studi ini mengungkapkan paradoks yang menyakitkan: meskipun lahan fisik tersedia dan pemimpin tradisional menawarkan dukungan budaya yang kuat, aset komunitas ini dinetralisir oleh kegagalan tata kelola. Dengan memberikan analisis pra-implementasi yang bernuansa, studi ini melampaui tantangan umum untuk mengungkap dampak kemanusiaan dari resistensi sistemik. Studi ini menyimpulkan bahwa menjembatani kesenjangan antara kebutuhan masyarakat dan tindakan kelembagaan membutuhkan strategi multi-aspek: mengamankan pendanaan resmi yang dialokasikan secara khusus, membentuk gugus tugas antar departemen yang efisien, dan mendorong perancangan bersama partisipatif yang berkelanjutan. Hanya melalui intervensi yang berpusat pada manusia inilah perpustakaan dapat bertransisi dari janji yang terhenti menjadi tempat perlindungan yang berkelanjutan untuk pembelajaran sepanjang hayat dan martabat masyarakat.