cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2018)" : 50 Documents clear
PENGARUH KOMBINASI LIMBAH KOTORAN SAPI DENGAN LIMBAH PERTANIAN TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG Ngongo, Marianus; Susanti, Sri; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research was to study influence the animal waste and crop residues combination on briquette quality. The research was conducted by experimental method, arranged in Complete Randomizet Design with five treatments and repeated five times. The treatments applied were P1 (40% animal waste) + (10% corncob) + (50% rice husk), P2 (40% animal waste) + (20% corncob) + (40% rice husk), P3 (40% animal waste) + (30% corncob) + (30% rice husk), P4 (40% animal waste) + (40% corncob) + 20% rice husk), P5 (40% animal waste) + (50% corncob) + (10% rice husk). The measured variables were water and ash content, and calorivific value. Based on the variables measured, the various combinations tested have not been able to produce briquette with quality according to SNI standards. The highest calorific value was obtained at treatment P4 (40% animal waste) + (40% corncob) + 20% rice husk) that was 3,332 kcal/gram. The low calorivific value was possible due to the high proportion of rice huks usage. Therefore, further research is needed to obtain the correct proportion when using rice huks. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh kombinasi limbah kotoran sapi dengan limbah pertanian terhadap kualitas brilet arang. Penelitian dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diujikan sebagai berikut: P1 (40% Arang Kotoran Sapi) + (10% Arang Tongkol Jagung) + (50% Arang Sekam Padi), P2 (40% Arang Kotoran Sapi) + (20% Arang Tongkol Jagung) + (40% Arang Sekam Padi), P3 (40% Arang Kotoran Sapi) + (30% Arang Tongkol Jagung) + (30% Arang Sekam Padi), P4 (40% Arang Kotoran Sapi) + (40% Arang Tongkol Jagung) + (20% Arang Sekam Padi), P5 (40% Arang Kotoran Sapi) + (50% Arang Tongkol Jagung) + (10% Arang Sekam Padi). Variabel yang diukur adalah kadar air, kadar abu dan nilai kalor. Hasil penelitian ternyata berbagai kombinasi yang diteliti belum mampu menghasilkan briket dengan kualitas sebagaimana standar yang ditetapkan yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI). Nilai kalor tertinggi dihasilkan dari perlakuan 4 (40% Arang Kotoran Sapi) + (40% Arang Tongkol Jagung) + (20% Arang Sekam Padi) yaitu 3.332 kkal/gram. rendahnya nilai kalor dimungkinkan tingginya proporsi penggunaan sekam padi.
PEMANFAATAN BIOCHAR DAN PUPUK KALIUM PADA TANAMAN TERUNG UNGU (Solanum melongena L.) DI INCEPTISOL Ilastika, Friska; Widowati, Widowati; Karamina, Hidayati
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to determine the combination of biochar dosage and potassium fertilizer on growth and yield of purple eggplant on inceptisol. The study used Randomized Block Design (RAK) with 12 combinations of re-treated treatment 3 times arranged factorials using two factors : biochar dose: B0 = 0 ton/ha-1 (control), B1 = 15 ton/ha-1(250 g.tan-1), B2 = 30 ton/ha-1 (500 g.tan-1) and potassium dose: K0 = 0 kg/ha-1 (control), K1 = 50 kg /ha-1 (0.8 g.tan-1), K2 = 100 kg/ha-1 (1.6 g.tan-1), K3 = 150 kg/ha-1 (2.4 g.tan-1). The results showed a very significant interaction of plant height, number of leaves, number of branches, wet weight of stalks and on the amount of purple eggplant fruit. The use of biochar can increase the amount of fruit, whether given or without potassium. Biochar 15 to/ha (250 g.tan-1 ) and potassium 50 kg/ha (0.8 g.tan-1) is the best dose in increasing the best amount of fruit. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kombinasi dosis biochar dan pupuk Kalium terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terung ungu pada inceptisol. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 12 kombinasi perlakuan di ulang sebanyak 3 kali disusun secara faktorial dengan menggunakan dua faktor yaitu dosis biochar : B0= 0 ton/ha-1(kontrol), B1= 15 ton/ha-1 (250 g.tan-1 ), B2= 30 ton/ha-1 (500 g.tan-1) dan dosis kalium : K0= 0 kg/ha-1 (kontrol), K1= 50 kg/ha-1 (0,8 g.tan-1), K2= 100 kg/ha-1 (1,6 g.tan-1), K3= 150 kg/ha-1 (2,4 g.tan-1 ). Hasil penelitian menunjukan Terdapat intereaksi yang sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, bobot basah brangkasan serta pada jumlah buah terung ungu. Penggunaan biochar dapat meningkatkan jumlah buah, baik diberi maupun tanpa diberi kalium. Biochar 15 ton/ha ( 250 g.tan-1 ) dan kalium 50 kg/ha (0,8 g.tan-1 ) merupakan dosis terbaik dalam meningkatkan jumlah buah terbaik.
ANALISIS JARINGAN PEMASARAN SAYURAN KUBIS DI PASAR SAYUR KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG Wesli, Wesli; Masduki, Said; Arvianti, Eri Yusnita
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karangploso market is an area several vegetables that play a role in meeting the needs of consumers in the cabbage. Cabbage marketing network from farmers to consumers will determine the price of farmers, intermediaries and consumers. This study aims to examine the structure and behavior of the market, knowing cabbage marketing margins, and efficient marketing of cabbage in the vegetable market Karangploso. Data were obtained by direct interview and questionnaire with respondents ie farmers, collecting traders, retailers and consumers of cabbage. The method of analysis used in this research is descriptive quantitative. Quantitative methods use marketing margin and marketing efficiency analysis economically by calculating farmer's share. The results show that, there are three marketing networks, marketing margin shows that the longer the marketing network the higher the operational costs incurred. Pasar Karangploso merupakan pasar yang menjual beberapa jenis sayuran yang berperan dalam memenuhi kebutuhan konsumen di antaranya kubis. Jaringan pemasaran kubis dari petani hingga konsumen akan menentukan besarnya harga di tingkat petani, pedagang perantara dan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur dan perilaku pasar, mengetahui marjin pemasaran kubis, dan efisien pemasaran kubis yang ada di pasar sayur Karangploso. Data diperoleh dengan wawancara langsung dan kuesioner dengan responden yaitu petani, pedagang pengumpul, pedagang pengecer dan konsumen kubis. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitaif. Metode kuantitaf menggunakan analisis marjin pemasaran dan efisiensi pemasaran secara ekonomis dengan menghitung farmer?s share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat tiga jaringan pemasaran, marjin pemasaran menunjukan bahwa semakin panjang jaringan pemasaran maka semakin tinggi biaya opersional yang dikeluarkan.
PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA SIMPAN TERHADAP KUALITAS MUTU MIE BASAH SEBAGAI BAHAN PRODUK CUIMIE MALANG Sutinata, Tri; Mushollaeni, Wahyu; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this research is to determine 1) the right type of packing to keep the quality of the poor cuimie, 2) long time saving to keep the quality of the poor cuimie. This study used nesting design calculation consisting of 2 factors: packaging type consist of 0.03 mm polypropylene packaging, poplipropylene 0,08 mm, polypropylene 0,10 mm, and alumunium foil packaging. The results showed that the best packaging used to pack the wet noodles as a cuimie product is the type of aluminum foil packaging. Long save best to maintain the quality of wet noodles as cuimie product that is 3 days. Penelitian ini bertujuan untuk 1) jenis kemasan yang tepat untuk menjaga kualitas cuimie malang, 2) lama simpan yang tepat untuk menjaga kualitas cuimie malang. Penelitian ini mengunakan perhitungan rancangan tersarang yang terdiri dari 2 faktor yaitu jenis kemasan terdiri dari kemasan polipropilen 0,03 mm, poplipropilen 0,08 mm, polipropilen 0,10 mm, dan kemasan alumunium foil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan yang paling baik digunakan untuk mengemas mie basah sebagai bahan produk cuimie adalah jenis kemasan alumunium foil. Lama simpan paling baik untuk menjaga kualitas mie basah sebagai produk cuimie yaitu 3 hari.
ANALISIS EKONOMI PENGGUNAAN PUYER HERBAL PADA AYAM PEDAGING Meha, Gerson Nyungga; Santoso, Erik Priyo; Sumarno, Sumarno
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Broiler industry is clemanded to produce low fat product, due to healthy life style for consumer. Turmeric, kaempferia galanga, and curcuma zanthorrhiza are plants containing atsiri oil. These plants, bioactive substances, is able to increase weight,lower fat, and cholesterol. This study aim to know the economic values by using herbs in some broiler levels.This research was conducted on 28 March 2017 - 01 May 2017 At Agricultural Laboratory of Tribhuwana Tunggadewi University Malang. DOC was used as material reached 80 chicks, turmeric, kaempferia galang, and curcuma zanthorriza. The method used complete random design by 4 treatments and 5 replications.Each treatment fed without herb 0,6% (P2), another fed by herb 0,9% (P3). The analysis result showed that feeding herb suplement impacted different significant for total cost, price, and break event point (BEP) where as profit and over feed cost (OFC) did not impact significant because each treatment did not give high profit and it is not as good as total cost, so using suplement herb in ration is less profit economically. Industri broiler dituntut untuk menghasilkan daging rendah lemak, karena mempunyai pengaruh negatif terhadap kesehatan konsumen. Kunyit, kencur dan temulawak merupakan tanaman yang memiliki kandungan kurkumin dan minyak atsiri.Ramuan herbal ini memiliki zat bioaktif yang dapat meningkatkan bobot karkas, menurunkan lemak dan kolesterol ayam. Tujuan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui nilai ekonomi penggunaan Puyer Herbal dalam beberapa level tertentu terhadap ayam pedaging. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 maret 2017 - 01 mei 2017 Di Laboratorium Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Materi yang digunakan yaitu DOC berjumlah 80 ekor, kunyit temulawak dan kencur. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap perlakuan dengan rincian: pemberian pakan tanpa puyer herbal (P0) ,pemberian pakan + puyer herbal 0,3% (P1), pemberian pakan + puyer herbal 0,6% (P2), pemberian pakan + puyer herbal 0,9% (P3) Hasil penelitian menunjukkan pemberian suplemen Puyer Herbal berpengaruh berbeda nyata terhadap Total biaya produksi, Total harga, Break even point ( BEP ) sedangkan Laba / Rugi dan Income Over Feed Cost (IOFC) tidak berpengaruhi dikarenakan pada tiap perlakuan kurang mendapatkan keuntungan yang tinggi dan pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya ransum untuk setiap perlakuan. Pemanfaatan suplemen ?Puyer Herbal? dalam ransum pada penelitian ini kurang memberikan keuntungan secara ekonomis.
SELEKSI INDIVIDU HASIL PERSILANGAN TERKONTROL TANAMAN UBIJALAR (Ipomoea batatas L. (Lam) Titof, Titof; Lestari, Sri Umi; Dwi Julianto, Reza Prakoso
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to evaluate and select genotypes of offspring from controlled crosses that have high yield potential with criteria of ? 0.5 kg / plant. The research was conducted in a research station of Brawijaya University, located in Jatikerto, Kromengan, Malang Regency. One hundred seventy-five genotypes of crosses grouped in 4 halfsib families were evaluated using augmented Randomized Block Design. The four families consisted of 77 genotypes of BIS OP-61 as female parent, 35 genotypes of BIS OP-61 as male parent, 35 genotypes of Papua Solossa as female parent and 28 genotype of Papuan Solossa as male parent. Each family is planted in one block as a test cultivar. In each block is also planted the parent clone as a control cultivar. Thus, this experiment is carried out using 4 blocks, each block as a replication. Storage root number, fresh storage root weight and fresh weight of vines per plant are determined. Based on a selection of storage root weight were found 69 genotypes with storage root yield ? 0.5 kg / plant (equivalent ? 20 t/ha), 36 genotypes ? 0.75 kg/plant (equivalent ? 30 t/ha ) and 14 genotypes ? 1 kg / plant (equivalent ? 40 t/ha) from all genotipes that evaluated. Based on the percentage of selected genotypes, there were differences in the ability of female parent (?) and male parent (?) to produce offspring. The offspring of BIS OP-61 as female parent (?) and male parent (?) produced storage root yield of 0.516 kg / plant and 0.512 kg / plant respectivelly, exceeded the halfsib family from Papua Solossa as a female parent (? ) or a male parent (?), which each produces of 0.446 kg / plant and 0.363 kg / plant. The halfsib family of BIS OP-61 and Papua Solossa are able to produce storage root weight and weight of vines higher than control cultivar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan menyeleksi genotipe keturunan hasil persilangan terkontrol yang mempunyai potensi hasil tinggi dengan kriteria ? 0.5 kg/tanaman. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Universitas Brawijaya, yang berlokasi di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Seratus tujuh puluh lima genotipe keturunan hasil persilangan yang dikelompokkan dalam 4 famili halfsib dievaluasi menggunakan Rancangan Acak Kelompok augmented. Keempat famili tersebut terdiri dari 77 genotipe keturunan BIS OP-61 sebagai induk betina, 35 genotipe keturunan dari BIS OP-61 sebagai induk jantan, 35 genotipe keturunan Papua Solossa sebagai induk betina dan 28 genotipe keturunan Papua Solossa sebagai induk jantan. Masing-masing famili ditanam dalam satu blok sebagai tanaman uji. Dalam setiap blok juga ditanami klon induk sebagai tanaman kontrol. Dengan demikian percobaan ini dilaksanakan menggunakan 4 blok yang berlaku sekaligus sebagai ulangan. Parameter pengamatan meliputi jumlah umbi, bobot umbi segar dan bobot brangkasan per tanaman. Berdasarkan seleksi hasil umbi per tanaman, ditemukan 69 genotipe yang memiliki hasil umbi ? 0,5 kg/tanaman (setara ? 20 ton/ha), 36 genotipe dengan hasil umbi ? 0,75 kg/tanaman (setara ? 30 ton/ha) dan 14 genotipe dengan hasil umbi ? 1 kg/tanaman (setara ? 40 ton/ha) pada seluruh famili halfsib yang di evaluasi. Berdasarkan presentase jumlah genotipe yang terseleksi tersebut ditemukan adanya perbedaan kemampuan sebagai induk betina (?) dan induk jantan (?) dalam menghasilkan keturunan. Keturunan BIS OP-61 sebagai induk betina (?) dan induk jantan (?) masing-masing menghasilkan rerata bobot umbi sebesar 0,516 kg/tanaman dan 0,512 kg/tanaman, hasil tersebut melebihi rerata famili halfsib dari keturunan Papua Solossa sebagai induk betina (?) dan induk jantan (?) yang masing-masing sebesar 0,446 kg/tanaman dan 0,363 kg/tanaman. Famili halfsib BIS OP-61 dan Papua Solossa mampu menghasilkan bobot umbi dan bobot brangkasan yang melebihi kultivar kontrol.
STRATEGI PENGEMBANGAN MATA AIR UMBULAN SEBAGAI KAWASAN WISATA SEJARAH Mone, Oris Ismael; Alfian, Rizki; Djoko, Riyanto
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umbulan Water Springs is one area that has historical value that needs to be developed and preserved. Efforts to conserve aquatic ecosystems are necessary to ensure the sustainability of the utilization of springs as well as to prevent and cope with the negative impacts caused by the exploitation of the springs. The research was conducted at Mata Umbulan, Pasuruan Regency, East Java. Research activities are divided into three stages: data collection, data analysis using SWOT analysis, and formulation of recommendations. From the results of the research obtained several strategies from the SWOT matrix which then formulated into several priority strategies development Umbulan springs area is, utilizing government policy in terms of the development of historic areas in an effort to maintain and develop the historic area in the Umbulan springs, in cooperation with government agencies and universities to develop and preserve the Umbulan springs, multiply the plants around the springs by planting crops in an effort to conserve the springs environment, utilize retribution and maximize the participation of local communities in maintaining the sustainability of the area to improve the quality of water resources. The conclusion is the strategy of the development of the main springs area is an aggressive growth strategy (Growth oriented strategy), so the strategy that must be established in developing Umbulan Springs area as one of the historical tourism area in Pasuruan Regency is to support aggressive growth policy by exploiting opportunities and strengths that exist in the springs region. Mata Air Umbulan merupakan salah satu kawasan yang memiliki nilai sejarah yang perlu untuk dikembangkan dan dilestarikan. Upaya konservasi ekosistem mata air sangat diperlukan untuk menjamin keberlanjutan pendayagunaan mata air serta mencegah dan menanggulangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat kegiatan eksploitasi mata air. Penelitian dilaksanakan di Mata Air Umbulan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kegiatan penelitian terbagi dalam tiga tahap yaitu, pengumpulan data, analisis data menggunakan analisis SWOT, dan perumusan rekomendasi. Dari hasil penelitian diperoleh beberapa strategi dari matriks SWOT yang kemudian dirumuskan menjadi beberapa prioritas strategi pengembangan kawasan mata air Umbulan yaitu, memanfaatkan kebijakan pemerintah dalam hal pengembangan kawasan bersejarah dalam upaya menjaga dan mengembangkan kawasan bersejarah yang ada di kawasan mata air Umbulan, bekerja-sama dengan instansi pemerintah dan perguruan tinggi guna mengembangkan dan menjaga kelestarian mata air Umbulan, memperbanyak tanaman di sekitar kawasan mata air dengan menanam tanaman dalam upaya konservasi lingkungan mata air, memanfaatkan retribusi dan memaksimalkan peran serta masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian kawasan guna meningkatkan kualitas sumber daya air. Diperoleh kesimpulan berupa strategi pengembangan kawasan mata air yang utama yaitu strategi pertumbuhan yang agresif (Growth oriented strategy), sehingga strategi yang harus ditetapkan dalam mengembangkan kawasan Mata Air Umbulan sebagai salah satu kawasan wisata sejarah di Kabupaten Pasuruan adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif dengan memanfaatkan peluang dan kekuatan yang ada di kawasan mata air.
ANALISA KELAYAKAN USAHA PEMBUATAN JAMU INSTAN TEMULAWAK DAN DAUN KUMIS KUCING (TINJAUAN DARI PELAKUAN TERBAIK KOMBINASI MALTODEKSTRIN DAN TAPIOKA SEBAGAI BAHAN PENGISI) Kila, Kristina; Mushollaeni, Wahyu; Rahmawati, Atina
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Traditional herbal medicine made from various natural materials, including from Curcuma xanthoriza Roxb and Orthosiphon spicatus B.B.S that are very potential to be developed into herbal medicine ingredients. Until now these two materials are still widely processed into herbal ingredients in the form of dry materials or processed by the community into herbal form liquid or brewed and not yet processed into herbal medicine in the form of instant. The process of making herbal medicine in the form of instantly requires the right filler. Instant food processed fillers are cheap and easy to find in the market is maltodekstrin and tapioca. However, no studies have revealed the use of these two fillers in the manufacture of instant herbs made from Curcuma xanthoriza Roxb and Orthosiphon spicatus B.B.S, as well as analyzing the feasibility of the business. Therefore, this study aims to determine the feasibility of the business of making instant herbal medicine made from Curcuma xanthoriza Roxb and Orthosiphon spicatus B.B.S, with a review of the best formulation of maltodextrin and tapioca as the filler. The best formulations for the use of maltodextrin and tapioca are 30% and 5%. The business feasibility analysis shows that instant herbs with 30% maltodextrin and 5% tapioca ratio are feasible because RCR value is more than 1 (1.1). Jamu tradisional dibuat dari berbagai bahan alam, diantaranya dari temulawak dan daun kumis kucing yang sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan obat herbal. Hingga saat ini kedua bahan tersebut masih banyak diolah menjadi bahan jamu dalam bentuk bahan kering atau diproses oleh masyarakat menjadi jamu bentuk cair atau seduhan dan belum banyak diproses menjadi jamu dalam bentuk instan. Proses pembuatan jamu dalam bentuk instan sangat membutuhkan bahan pengisi yang tepat. Bahan pengisi produk olahan pangan instan yang cukup murah dan mudah ditemui di pasaran adalah maltodekstrin dan tapioka. Namun demikian, belum ada peneliitian yang mengungkapkan penggunaan kedua bahan pengisi ini dalam pembuatan jamu instan berbahan temulawak dan daun kumis kucing, sekaligus menganalisa kelayakan usahanya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menentukan kelayakan usaha pembuatan jamu instan berbahan temulawak dan daun kumis kucing, dengan tinjauan dari formulasi terbaik maltodekstrin dan tapioka sebagai bahan pengisi. Formulasi terbaik penggunaan maltodekstrin dan tapioka adalah 30% dan 5%. Analisa kelayakan usaha menunjukkan bahwa jamu instan dengan perbandingan maltodekstrin 30% dan tapioka 5%, layak diusahakan karena nilai RCR lebih dari 1 (1,1).
KONSENTRASI EKSTRAK DAUN SINGKONG SEBAGAI PEREDUKSI FORMALIN DAN LAMA PERENDAMAN PADA MIE BASAH Ola, Ramdan; Wirawan, Wirawan; Santosa, Budi
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The reduction of formalin content in food is done in various ways, one of them is by using natural ingredients such as cassava leaf extract which contains saponin compounds. Saponin may bind formalin so that the content of dissolved formaldehyde in food is reduced. The purpose of this research was to know the concentration level of cassava leaf extract and soaking time in reducing the content of formalin in wet noodles (fresh noodles). This research used a Factorial Random Design (RAL). Factor B: The concentration of cassava leaf extract consisted of four levels (0%, 3%, 6%, 9%) and L factor: The immersion period consisted of three levels (15 minutes, 30 minutes, and 45 minutes). So it involved 12 treatments and each treatment was repeated two (2) times. So the sample of this study was as many as 24 experimental samples. The data obtained were then analyzed by Analysis of Variant (Anova) in order to know whether there was a difference between treatments. If there were any differences would be continued with BNT test. The chemical test parameters were formalin test (visual), pH test, and color test (L, a *, b *). From the three parameters of the test based on the count of the best treatment effectiveness index was found on concentration of 6% cassava leaf extract and 30 minutes immersion time with pH value 0,29, Color L 0,16, a * 0,11, b * 0,04. Pengurangan kadar formalin pada bahan pangan dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya menggunakan bahan alami ekstrak daun singkong yang mengandung senyawa saponin. Saponin dapat mengikat formalin sehingga kadar formalin yang terlarut dalam bahan pangan berkurang. Tujuan dari penelitian ini yakni mengetahui tingkat konsentrasi ekstrak daun singkong dan lama perendaman dalam mereduksi kandungan formalin pada mie basah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor B : Konsentrasi ekstrak daun singkong terdiri dari 4 taraf (0%, 3%, 6%, 9%) dan faktor L : Lama perendaman terdiri dari 3 taraf yaitu (15 menit, 30 menit, dan 45 menit). Sehingga melibatkan 12 perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak dua (2) kali. Maka sampel penelitian ini sebanyak 24 sampel percobaan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan Analisis of Variant (Anova) dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara perlakuan, jika ada perbedaan akan dilanjutkan dengan uji BNT. Adapun parameter uji secara kimia yakni uji formalin (visual), uji pH, dan uji warna (L, a*, b*). Dari ketiga parameter uji tersebut berdasarkan hitungan indeks efektivitas perlakuan terbaik terdapat pada (konsentrasi ekstrak daun singkong 6% dan lama perendaman 30 menit) dengan nilai pH 0,29, Warna L 0,16, a* 0,11, b* 0,04.
PENGGUNAAN TANAMAN AKAR WANGI (Vetiveria zizanioides) DAN TEMPUYUNG (Sonchus arvensis) UNTUK REMEDIASI TANAH YANG TERCEMAR Kolo, Zakarias; Hamzah, Amir; Julianto, Reza Prakoso Dwi
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remediation can be interpreted as a recovery process from conditions contaminated by clean contamination that can be done on water, air and soil media using remediator plant. In Bumiaji Sub-district Batu City there are various local plants that have potential as remediator plants that grow wild around the agricultural area of the Vetivera zizanioides and Sonchus arvensis. Both types of plants have the ability to absorb heavy metals that potentially as phytoremediation agent. This research used descriptive method with experimental plot of 1 x 1 m size as 6 plot with 2 (two) Remediator plant species as treatment ie Vetivera Zizainoides and Sonchus arvensis. The results of the analysis can be concluded that: Vetiveria zizanioides height at age 10 weeks after planting reaches 49.22 cm while plant Sonchus arvensis 27.44 cm. Weight of Vetiveria zizanioides plant stems 90,56 gram while plant Sonchus arvensis 32,50 gram. The weight of roots of vetiver plant Vetiveria zizanioides 8,94 gram while plant Sonchus arvensis 8,06 gram. Vetiveria zizanioides can accumulate heavy metals of cadmium (Cd) in a canopy of 0.40 mg kg-1, root of 0.41 mg kg-1 and reduce heavy metals by 35.84% while plants. Tempuyung (Sonchus arvensis) accumulates heavy metals in the canopy of 0.19 mg kg-1, root of 0.22 mg kg-1 and reduces heavy metals by 22.57%. Remediasi dapat diartikan sebagai proses pemulihan dari kondisi yang terkontaminasi oleh cemaran agar bersih kembali yang dapat dilakukan pada media air, udara dan tanah dengan menggunakan tanaman remediator. Di Kecamatan Bumiaji Kota Batu terdapat berbagai jenis tumbuhan lokal yang memiliki potensi sebagai tanaman remediator yang tumbuh liar disekitar areal pertanian yaitu tanaman akar wangi dan tempuyung. Kedua jenis tanaman ini mempunyai kemampuan dalam menyerap logam berat sehingga berpotensi sebagai agen fitoremediasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan petak percobaan ukuran 1 x 1 m sebanyak 6 petak dengan 2 (dua) jenis tanaman Remediator sebagai perlakuannya yaitu Akar wangi dan Tempuyung. Hasil analisis dapat disimpulkan bahwa : Tinggi tanaman akar wangi pada umur 10 minggu setelah tanam mencapai 49,22 cm sedangkan tanaman tempuyung 27,44 cm. Berat brangkasan tanaman akar wangi 90,56 gram sedangkan tanaman tempuyung 32,50 gram. Berat akar tanaman akar wangi 8,94 gram sedangkan tanaman tempuyung 8,06 gram.Tanaman akar wangi mampu mengakumulasi logam berat kadmium (Cd) pada tajuk sebesar 0,40 mg kg-1 , akar sebesar 0,41 mg kg-1 dan mereduksi logam berat sebesar 35,84% sedangkan tanaman. Tempuyung mengakumulasi logam berat pada tajuk sebesar 0,19 mg kg-1, akar sebesar 0,22 mg kg-1 dan mereduksi logam berat sebesar 22,57%.