cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
ANALISIS KELAYAKAN USAHA SELAI LEMBARAN NANAS (Ananas comosus (L) Merr) Veronika, Veronika; Santosa, Budi; Rahmawati, Atina
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Business Feasibility Analysis is an analysis of feasibility in an agricultural product-based production unit. This study aims to calculate the feasibility of making pineapple jam (Ananas comosus (L) Merr). The results of the proportion of pineapple jam with tapioca flour and carrageenan in the manufacture of the best pineapple jam are found in the proportion of 70% pineapple jam, 25% tapioca and 5% carrageenan. After getting the best treatment, it will be continued by analyzing the feasibility of the business. Parameters for calculating business feasibility analysis are HPP (Cost of Goods Sold), BEP (Break Event Point), selling price, net profit per day. After conducting a business feasibility analysis of making sheet pineapple jam with tapioca and carrageenan in this study it is worth trying. The calculation of business feasibility analysis in this study is the value of HPP Rp.5,020 / packaging, BEP Rp. 83,316,877, -, the selling price of Rp. 5,773 / package, net profit per day Rp. 52,710 (RCR) of 1.15. Analisis Kelayakan Usaha merupakan analisis kelayakan pada suatu unit produksi yang berbasis hasil pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kelayakan usaha pembuatan selai lembaran nanas (Ananas comosus (L) Merr). Hasil dari proporsi selai nanas dengan tepung tapioka dan karagenan pada pembuatan selai lembaran nanas terbaik terdapat pada proporsi selai nanas 70%, tapioka 25% dan karagenan 5%. Setelah mendapatkan perlakuan terbaik maka akan dilanjutkan dengan menganalisis kelayakan usahanya. Parameter untuk menghitung analisis kelayakan usaha yaitu HPP (Harga Pokok Penjualan), BEP (Break Event Point), harga jual, keuntungan bersih per hari. Setelah melakukan analisis kelayakan usaha terhadap pembuatan selai nanas lembaran dengan tapioka dan karagenan pada penelitian ini layak diusahakan. Perhitungan analisis kelayakan usaha pada penelitian ini yaitu nilai HPP Rp.5.020/kemasan, BEP Rp. 83.316.877,-, harga jual Rp. 5.773/kemasan, keuntungan bersih per hari Rp. 52.710 (RCR) sebesar 1,15.
PENGGUNAAN JENIS ADSORBEN UNTUK PENJERNIHAN MINYAK GORENG BEKAS PENGGORENGAN VAKUM KERIPIK BUAH Km, Yis Wiyanto; Ahmadi, KGS; Rahmawati, Atina
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Used cooking oil is cooking oil that has undergone changes due to physicochemical use repeatedly. This research aims to get type of adsorbent and concentration of adsorbents that may improve the quality of used cooking oil as well as examining the business feasibility of the economic process of the best adsorbent. Adsorbents used namely rice husk, corn cobs, coconut shell and palm shell. The design used in this study is nested design. Concentration each cooking oil adsorbent to treatment is 2%, 4%, 6% and 8% of the 250 ml used cooking oil.Theresearchresultsshowedcorn cobs adsorbent treatmentconcentrationof6%is the best of recovery oil 88%, the number of peroxides 10.53 meq/kg, FFA 1.02%, The test of oil color L 30.47, The intensity of the color a * 5.30, The intensity of color b * 15.37, Test your like 2.20 and the hedonic of color 2.23. Economic business feasibility analysis results BEP of 1,664 Units and BEP price of Rp 26,782.592. Cost of production Rp 9,477.222 and the selling price of Rp 16,100 (1 kg), the NPV of Rp 4,176.727, Net B/C of 1.47 while R/C ratio of 1.70, 15% IRR and Payback Period for 1.13 years. Minyak jelantah adalah minyak goreng yang telah mengalami perubahan fisikokimia akibat digunakan secara berulang kali. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis adsorben dan konsentrasi adsorben yang dapat memperbaiki kualitas minyak goreng bekas serta mengkaji kelayakan ekonomi proses penjernihan minyak goreng bekas menggunakan jenis adsorben terbaik. Adsorben yang digunakan yaitu sekam padi, tongkol jagung, tempurung kelapa dan cangkang sawit. Rancangan yang digunakan rancangan tersarang (Nested Design). Konsentrasi masing-masing adsorben untuk menjernihkan minyak goreng bekas yaitu 2%, 4%, 6% dan 8% dari 250 ml minyak goreng bekas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan adsorben tongkol jagung konsentrasi 6% merupakan yang terbaik menghasilkan rendemen minyak 88%, bilangan peroksida 10,53 meq/kg, FFA 1,02 %, kecerahan warna L 30,47, intensitas warna a* 5,30, intensitas warna b* 15,37, uji kesukaan aroma 2,20 dan uji kesukaan warna 2,23. Hasil analisa kelayakan ekonomi diperoleh BEP sebesar 1,664 Unit dan BEP Harga Rp 26.782,592 . HPP sebesar Rp 9.477,222 dan harga jual sebesar Rp 16.100(1 kg) , NPV Rp 4.176,727, Net B/C sebesar 1,47 sedangkan R/C ratio sebesar 1,70, IRR 15% dan Payback Periode selama 1,13 tahun.
PENGGUNAAN KONSENTRAT HIJAU DENGAN PROTEIN KASAR 16% TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN PERTAMBAHAN BOBOT BADAN PADA KAMBING PERANAKAN ETAWA Platini, Pipin; Marhaeniyanto, Eko; Thiasari, Nurita
Fakultas Pertanian Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the study was to determine the effect of using green concentrate with crude protein content (CP) 16% using raw materials of Gliricidia maculata leaf flour, Leucaena leucochephala leaf flour, Caliandra calothyirsus leaf flour and Artocarpus heterophyllus leaf flour on feed intake and daily gain. The material used was 16 male Peranakan Etawa goats with an initial body weight of 29.41 ± 8.69 kg / head. The use of Gliricidia maculata leaf flour, Leucaena leucochephala leaf flour, Caliandra calothyirsus leaf flour and Artocarpus heterophyllus leaf flour with proportions (1: 1: 1: 1) in concentrates of 10%, 20% and 30%. Other constituent feed ingredients include milled corn, soybean meal, bran, minerals, salt, coconut cake, and molasses. The study used a randomized block design method (RBD) consisting of 4 treatments and 4 replications. P1 (basal feed + concentrate without addition of leaf flour), P2 (basal feed + green concentrate with 10% leaf flour), P3 (basal feed + green concentrate with 20% leaf flour), P4 (basal feed + green concentrate with 30% leaf flour), Basal feed given to goats during the study varied, namely Gliricidia maculata leaves, Leucaena leucochephala leaves, Tithonia diversifolia, Caliandra calothyirsus leaves, Chromolaena odorata, Manihot utilisima leaves, Ipomoea batatas leaves, Persea americana leaves, Artocarpus heterophyllus leaves, corn straw, Euphorbia hirta, field grass, and Cyanotis axillaris. The results showed the effect of green concentrate feed with a content of 16% CP and the addition of leaf flour as much as 30% in green concentrates, giving a significant effect (P
ANALISA USAHA PEMBUATAN BUBUK NATA DE PINA MENGGUNAKAN METODE FOAM MAT DRYING (KAJIAN MALTODEKSTRIN DAN TWEEN 80) Panjang, Meha Tara; Santosa, Budi; Tantalu, Lorine
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study aims to analyze the business of making nata de pina powder with the addition of several maltodextrinal concentrations. This study uses two treatments, namely the addition of Maltodextrin consisting of 3 levels of 10%, 15% and 20% and the administration of Tween 80 which consists of 3 levels, namely 0.5%, 1% and 1.5%. The best treatment is determined by calculating the yield value (NH). Business analysis is calculated based on HPP, BEP and RCR. The results showed the highest yield value (NH) was found in the treatment of 15% maltodextrin, tween 80 0.5%, so this treatment was used as a benchmark for business analysis. Calculation of business analysis in making nata de pina powder needed within 1 year is Rp. 13,190,000, with a production capacity of 1 year which is 3,900 packs, the depreciation is Rp. 471,250, then HPP can be obtained in the amount of Rp. 22,030.88 / bks. By determining a profit of 15%. Net profit per day is Rp. 42,960,23. BEP obtained is equal to Rp1,937.56 and RCR = 1.15 which means that the business of nata de pinaini powder drink is profitable and feasible because of RCR> 1. Penelitian bertujuan untuk menganalisa usaha pembuatan bubuk nata de pina dengan penambahan beberapa konsentrasi maltodekstirn. Penelitian ini menggunakan dua perlakuan yaitu penambahan Maltodekstrin yang terdiri 3 level 10%, 15% dan 20% serta pemberian Tween 80 yang terdiri 3 level yaitu 0,5%, 1% dan 1,5%. Perlakuan terbaik ditentukan dengan menghitung nilai hasil (NH). Analisa usaha dihitung berdasrkan HPP, BEP dan RCR. Hasil penelitian menunjukan nilai hasil (NH) tertinggi terdapat pada perlakuan maltodekstrin 15%, tween 80 0,5%, sehingga perlakuan ini yang dijadikan patokan untuk analisa usaha. Perhitungan analisa usaha dalam pembuatan bubuk nata de pina yang dibutuhkan dalam waktu 1 tahun yaitu sebesar Rp.13.190.000, dengan kapasitas produksi selama 1 tahun yaitu sebesar 3.900 bungkus, depresiasinya adalah sebesar Rp. 471.250, maka dapat diperoleh HPP sebesar Rp 22,030,88/bks. Dengan menentukan keuntungan sebesar 15%. Keuntungan bersih perhari diperoleh sebesar Rp. 42,960,23. BEP yang diperoleh yaitu sebesar Rp1,937,56 dan RCR = 1,15 yang artinya usaha minuman bubuk nata de pinaini menguntungkan dan layak untuk diusahakan karena RCR> 1.
ANALISA USAHA PEMBUATAN NATA DE COCO BERANTIOKSIDAN MENGGUNAKAN KULIT BUAH NAGA Putra, Gregorius Guruh Handaya; Santosa, Budi; Tantalu, Lorine
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nata de coco is one of the processed food products from coconut water that utilizes the help of Acetobacter xylinum bacteria in forming nata de coco. Nata de coco is very rich in fiber but it needs to be added another content, one of them is by utilizing the antioxidants from dragon fruit skin extracts because it is very rich in antioxidants. So, hopefully nata de coco with rich in fiber and antioxidants is beneficial to human health, especially for digestive health and also to prevent the occurrence of degenerative diseases such as cancer, coronary heart disease and hypertension and can increase the economic value of nata de coco with antioxidant. The purpose of this study was to calculate the business analysis of the production of nata de coco with antioxidant. The results showed that based on the calculation of business feasibility analysis, the calculation of BEP was IDR.25,672,878, HPP was IDR. 1670.45 / 750 g, the selling price was IDR. 1921.02, the net profit per day was IDR. 50,144, and the RCR was 1.09. Since the RCR was more than one then the business is said to succeed. Nata de coco merupakan salah satu olahan produk pangan dari air kelapa yang memanfaatkan bantuan bakteri Acetobacter xylinum dalam membentuk nata de coco. nata de coco sangat kaya serat namun perlu ditambahkan kandungan lain salah satunya adalah dengan memanfaatkan antioksidan dari ekstrak kulit buah naga karena ekstrak kulit buah naga sendiri sangat kaya akan antioksidan sehingga diharapkan selain nata kaya akan serat juga kaya akan antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan manusia terutama untuk kesehatan pencernaan dan juga untuk mencegah terjadinya penyakit degeneratif seperti kanker, jantung koroner dan hipertensi serta dapat meningkatkan nilai ekonomis penjualan nata de coco berantioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung analisa usaha dari pembuatan nata de coco berantioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan perhitungan analisa kelayakan usaha maka didapatkan perhitungann BEP sebesar Rp. 25.672.878, HPP Rp. 1670.45/ 750 g, harga jual Rp. 1921.02, keuntungan bersih perhari Rp.50144, dan RCR sebesar 1,09, karena RCR lebih dari satu maka usaha dikatakan berhasil.
EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI DAN BIAYA USAHA TANI KENTANG (SOLANUM TUBEROSUM L. ) (STUDI KASUS DI DESA NGANTRU KECAMATAN NGANTANG KABUPATEN MALANG) Haluwalu, Fredi Tungga; Arvianti, Eri Yusnita; Pudjiastuti, Agnes Quartina
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potato is one of the vegetable commodities that has economic value because it can bring benefits and a bright prospect for both domestic and foreign marketing, and not easily damaged like other farming vegetables. The success of increasing production and income of farmers is determined by the success of farmers to allocate the factors of production (land, seed, labor, fertilizer, and pesticides), so that obtained maximum production which means the use of production factors economically efficient. The research aimed to find out how big was the cost of production of potato farming in Ngantru Village, Ngantang District Malang Regency. To know the net income of potato farming. Variable area of land, seeds, labor, fertilizer and pesticides had significant effect on production result. Based on the result, it is concluded that the influence of the use of production factor and farming cost to the production was good as it can be seen from R square value equal to 0,819 or 81,9% while 0,181 or 18,1% influenced by other factor. Total production cost for one time harvest was IDR 475,068,000, - if calculated production cost per person during one harvest was the total production cost: total of respondent IDR. 15,835,600, -. The revenue of potato farming for one-time harvest was IDR. 5,068,000, - so it could be said that the farming is considered beneficial due to R / C was more than one. Kentang merupakan salah satu komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomi karena dapat mendatangkan keuntungan mempunyai prospek yang cerah baik untuk pemasaran dalam negeri maupun luar negeri, tidak mudah rusak seperti sayuran lain petani. Keberhasilan peningkatan produksi dan pendapatan petani ditentukan oleh keberhasilan petani mengalokasikan faktor produksi (lahan,benih,tenaga kerja, pupuk, dan pestisida), sehingga diperoleh produksi yang maksimal.yang berarti penggunaan faktor produksi secara ekonomis sudah efisien. Penelitian bertujuan Untuk mengetahui seberapa besar biaya produksi usaha tani kentang di Desa Ngantru Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Untuk mengetahui pendapatan bersih usahatani kentang. Variabel luas lahan, bibit, tenaga kerja, pupuk dan peptisisda berpengaruh signifikan terhadap hasil Produksi. Berdasarkan hasil disimpulkan bahwa pengaruh penggunaan faktor produksi dan biaya usahatani terhadap hasil Produksi adalah baik yang dapat dilihat dari nilai R square sebesar 0,819 atau 81,9% sedangkan 0,181 atau 18,1% dipengaruhi oleh faktor lain. Biaya total produksi selama satu kali panen adalah sebesar Rp.475.068.000,- jika dihitung biaya produksi perorang selama satu kali panen adalah total biaya produksi:total responden = Rp. 15.835.600,-. Pendapatan petani usahatani kentang sekali panen sebesar Rp. 5.068.000,- sehingga bisa dikatakan usahatani dianggap menguntungkan dikarenakan R/C lebih dari satu.
PENGGUNAAN BIOCHAR KAYU TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN JAGUNG (Zea mays L) DI TANAH TERDEGRADASI Ndua Nusa, Karolus Pemilu; Widowati, Widowati; Astutik, Astutik
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.771 KB)

Abstract

Usaha untuk meningkatkan hasil pertanian sampai saat ini masih dilakukan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang semakin meningkat. Kondisi alam yang tidak menentu akibat dari pemanasan global membuat usaha-usaha pertanian perlu mencari suatu teknologi yang dapat menghadapi hal tersebut. Salah satu teknologi tersebut adalah teknologi ?Biochar. Biochar ditambahkan ke tanah dengan tujuan untuk meningkatkan fungsi tanah dan mengurangi emisi dari biomasa yang secara alami terurai menjadi gas rumah kaca. Tujuan penelitian Menetukan dosis biochar kayu terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pada tanah terdegradasi. Penelitian dilakukan dilapangan dengan menggunakan Rancangan Acak kelompok jenis biochar yang yang di gunakan biochar kayu sono dengan dosis 0, 15, 30, 45 t ha ? ?. Hasil penelitian menunjukan bawah Berat kering total tanaman jagung dan luas daun tertinggi terdapat pada perlakuan biochar kayu 15 t ha?? tetapi tidak berbeda dengan dosis 30 t ha?? dan 45 t ha. Hasil biji kering tertinggi pada biochar kayu 15 t ha?? akan tetapi berbeda dengan dosis 30 t ha?? dan 45 t ha??.
Respon Kailaan (Brassica oleraceae L.) Terhadap Media Tanam Dan POC Nasa Pada Sistem Vertikultur Dhone, Emiliyani Meo; Astutik, Astutik; Sutoyo, Sutoyo
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efforts that can be mode to increase the production of crops on narrow land by using chaff charcoal and POC Nasa composition. The objective of this research is to know the effect of charcoal charcoal on growth media and application of NASA liquid organic fertilizer to the production of kailaan plants. This research uses factorial RAK consisting of 3 replications. Factor I is the dose of charcoal husk (A) that is: A0 = 0 kg, A1 = 0.5 kg of charcoal husk and A2 = 1 kg of husk charcoal. Factor II is a dosage of POC Nasa (N) consisting of 3 levels, namely : N0 = 0 ml/l water, N1 = 5 ml/l water and N2 = 10 ml/l water. The analysis was analyzed statistically using F test, if the result of the variance were significantly different (F arithmetic> F table), then to compare the two treatment treatments was done by the advanced test with the BNT's Smallest Differential Test of 5% level. The result of this research can be concluded that there is interaction between husk husk and POC Nasa dose to leaf area at age 2 and 6 weeks. The best growth of kuta was obtained on the treatment of 0.5 kg/paralon husk husk and the dosage of POC Nasa 10 ml/L water showed the highest yield of leaf at 6 weeks at 684,00cm2. The best kailaan result was obtained from 0.5 kg/paralon husk husk (44.37 g/plant) and Nasa 5-10 ml/L water dose (41,22-42,63 g/plant). The best kailaan result was obtained from 0.5 kg/paralon husk husk (44.37 g/plant) and Nasa 5-10 ml/L water dose (41,22-42,63 g/plant). Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman pada lahan sempit dengan menggunakna komposisi arang sekam dan POC nasa. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dampak penggunaan arang sekam pada media pertumbuhan dan aplikasi pupuk organik cair NASA terhadap produksi tanaman kailaan. Penelitian ini menggunakan RAK faktorial yang terdiri atas 3 ulangan. Faktor I adalah takaran arang sekam (A) yaitu : A0 = 0 kg, A1 = 0,5 kg arang sekam dan A2 = 1 kg arang sekam. Faktor II adalah dosis POC Nasa (N) terdiri dari 3 taraf, yaitu : N0 = 0 ml/l air, N1 = 5 ml/l air dan N2 = 10 ml/l air. Analisis dianalisis secara statistik menggunakan uji F, apabila hasil ragam berbeda nyata (F hitung > F tabel), maka untuk membandingkan dua rata-rata perlakuan dilakukan uji lanjut dengan Uji Beda Nyata Terkecil BNT taraf 5%. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara arang sekam dan dosis Nasa terhadap luas daun umur 2 dan 6 minggu. Pertumbuhan kailaan terbaik diperoleh pada arang sekam 0,5 kg/paralon sebesar 343,72 cm2 ditindai pada luas daun dan diawali hasil interaksi serta dosis Nasa 10 ml/L air terhadap luas daun umur 6 minggu dengan luas daun sebesar 264,86 cm2. Hasil tanaman kailaan terbaik diperoleh pada penambahan arang sekam 0,5 kg/paralon (44,37 g/tanaman) dan dosis Nasa 5-10 ml/L air (41,22-42,63 g/tanaman).
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN PEDAGANG DALAM MENJUAL PRODUK PERTANIAN HORTIKULTURA DI PASAR GADANG KOTA MALANG Agustina, Eka; Arvianti, Eri Yusnita; Muljawan, Rikawanto Eko
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The traditional market in Malang is one of the Gadang market. Gadang market is an active market in selling agricultural products. The existence of the Gadang market is considered very important, because it can increase the income of traders, and the city government through taxes. This research began in February 2017 until July 2017, at Gadang market, subdistrict Sukun, Malang city. The research is quantitative descriptive research with multiple linear regression analysis. The result showed that capital (X1), total sales (X3), merchandise type (X4) has a real effect and positive relation ship towards earned income traders. Separately trade location (X2) does not have a significant influence towards income. On the contrary, the most influential variables is the number of sales. The merchant can potentially increase the income of 46,7%. On each attempt increase the number of sales of agricultural products in the horticultural market Gadang in Malang city. Pasar tradisional di Kota Malang salah satu nya adalah Pasar Gadang. Pasar Gadang adalah pasar yang aktif dalam menjual produk-produk pertanian. Keberadaan Pasar Gadang dinilai sangat penting karena dapat meningkatkan pendapatan pedagang, maupun pemerintah kota melalui pajak. Penelitian ini dimulai bulan Februari 2017 sampai bulan Juli 2017, di Pasar Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dengan alat analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal dagang (X1), jumlah penjualan (X3), jenis dagangan (X4) memiliki hubungan positif dan berpengaruh nyata terhadap pendapatan yang diperoleh pedagang. Secara terpisah lokasi dagang (X2) tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan. Sebaliknya variabel yang paling berpengaruh adalah jumlah penjualan. Pedagang berpotensi meningkatkan pendapatan 46,7% pada setiap upaya meningkatkan jumlah penjualan produk pertanian hortikultura di Pasar Gadang Kota Malang.
PENGGUNAAN BEBERAPA TANAMAN LIAR UNTUK MENGENDALIKAN TANAH TERCEMAR KADMIUM (Cd) Tolok, Adelbertus B; Hamzah, Amir; Lestari, Sri Umi
Fakultas Pertanian Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa potensi tanaman liar yang tumbuh di sekitar lahan pertanian sebagai agen fitoremedisi serta mengestimasi berapa besar kemampuan tanaman liar tersebut dalam menyerap logam berat Cd. Penelitian ini dilaksanakan di desaSumber Brantas, Kecamatan Bumiaji Kota Batu, pada ketinggian 1500 mdpl, Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 seri, yaitu seri pertama meliputi : (1) pengambilan sampel dan analisis logam berat, sedangkan seri kedua (2) percobaan pot. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap factor tunggal. Sebanyak 5 jenis tanaman yang ditanam sebagai perlakuan yaitu K1 : lulangan, K2 : wedusan, K3: patikan, K4 : akar wangi, K5 : kirinyu, dan diulang sebanyak 3 kali. Pelaksanaan Penelitian meliputi : (1) pengambilan contoh tanah dilakukan secara acak pada pada 3 plot di masing-masing lokasi yang berbeda, (2) Penanaman tanaman remediator dilakukan dengan menggunakan polybag ukuran 10 kg. Media tanah yang digunakan diambil dari lokasi penelitian setempat yang telah tercemar. Parameter pengamatan meliputi.Tinggi tanaman, Jumlah daun, Panjang akar (cm), dan reduksi logam berat. Hasil analisis tenah menunjukan bahwa kandungan total C-organik (1,73%), N-total (0,13%), P (0,64 mg kg?¹), K (0,1 me/100g) dan KTK (6 me/100g), sedangkan logam berat Cd yang diperoleh adalah 2, 26 mg kg-1. Hasil menunjukan bahwa tanah dilokasi penelitian menunjukan kandungan hara yang sangat rendah, sedangkan logam berat Cd cukup tinggi. Kelima jenis tanaman yang ditanam sebagai agen fitoremediasi memiliki kemampaun tumbuh dan memiliki potensi sebagai agen fitoremediasi. Reduksi logam yang diperoleh adalah akar wangi (71,2%), lulangan (58,8%), wedusan (52,2%), patikan (51,2) dan kirinyu (22,1%)