cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
MORFOLOGI WILAYAH PERI URBAN DI KECAMATAN PINELENG Menajang, Greglory M; Kindangen, Jefrey I; Waani, Judy O
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam penelitian ini akan dibahas mengenai morfologi wilayah peri urban, ditinjau dari bentuk pemanfaatan lahan, pemanfaatan bangunan, permukiman dan sirkulasi yang ada di Kecamatan Pineleng. Kecamatan Pineleng sebagai wilayah peri urban, terletak diantara Kota Manado dan Kota Tomohon sehingga pengaruh perkotaan sangat erat kaitannya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dan yang akan diteliti adalah bagaimana pengaruh perkotaan terhadap morfologi di wilayah peri urban dalam hal ini lebih condong ke pengaruh dari Kota Manado, serta apa saja faktor-faktor yang mempengaruhinya. Analisis menggunakan data citra dengan tahun perekaman 2006, 2011 dan 2016 akan menggambarkan bagaimana pekembangan morfologi di Kecamatan Pineleng, serta analisis terhadap gerakan sentripetal dan gerakan sentrifugal. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa lahan terbangun di Kecamatan Pineleng mengalami peningkatan dari tahun 2006 sekitar 180,6 Ha menjadi 360 Ha pada tahun 2016, dalam kurun waktu 10 tahun terjadi pertambahan luas lahan hampir dua kali  lipat dari tahun sebelumnya. Aksesibilitas, jarak yang dekat dengan kota serta ketersediaan lahan menjadi pemicu bagi masyarakat untuk mau tinggal dan beraktifitas di wilayah peri urban Kecamatan Pineleng.   Kata Kunci : Kecamatan Pineleng, Morfologi, Peri Urban, Aksesibilitas, Lahan Terbangun.
KAJIAN PERMUKIMAN DI KAWASAN HUTAN BAKAU DESA RATATOTOK TIMUR DAN DESA RATATOTOK MUARA KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Tumigolung, Marthen A; Wuisang, Cynthya E.V; Sembel, Amanda S
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan Bakau  merupakan  ekosistem  yang  menjadi  jembatan  antara  ekosistem  lautan  dan daratan. Penelitian ini bertujuan mengkaji kondisi fisik, penggunaan lahan permukiman serta pola perkembangan permukiman yang terdapat di desa Ratatotok Timur dan Desa Ratatotok Muara kecamatan Ratatotok kabupaten Minahasa Tenggara. Masyarakat pesisir dalam kehidupan sehari hari tidak lepas dari ketergantungannya akan sumberdaya pesisir karena mata pencaharian penduduknya yang bergantung pada laut. Hal ini merupakan salah satu faktor timbulnya permukiman pada lokasi penelitian, namun dilihat dari lokasi permukiman yang terbentuk berada berdekatan dengan hutan bakau, langsung berada di pesisir pantai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif, metodenya adalah deskriptif dimana pengumpulan data menggunakan kuesioner, untuk menganalisa kondisi fisik, penggunaan lahan dan pola perkembangan permukiman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi fisik, penggunaan lahan dan pola perkembangan permukiman di wilayah hutan bakau desa Ratatotok Timur dan Ratatotok Muara terus berkembang dari segi pembangunan infrastruktur dan permukiman masyarakat, tetapi untuk penambahan bangunan sudah dilarang pemerintah karena keterbatasan lahan. Untuk pelestarian hutan bakau, masyarakat terus melakukan penanaman secara berkala. Pemerintah desa setempat telah melakukan peraturan untuk menjaga kelestarian hutan bakau dan pola perkembangan permukiman lebih bersifat linier dan memanjang mengikuti garis pantai.Kata kunci : Permukiman Hutan Bakau, Penggunaan Lahan, Pola Perkembangan Permukiman
PERSEPSI WISATAWAN TERHADAP FASILITAS INFRASTRUKTUR DI PANTAI PASIR PUTIH KABUPATEN MANOKWARI PROPINSI PAPUA BARAT Lallo, Christian; Poluan, R. J.; Waani, Judy O
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan merupakan salah satu fungsi utama yang harus dijalankan oleh pemerintah sebagai salah satu pengambil kebijakan. Pembangunan infrastruktur diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat salah satunya adalah kesejahteraan ekonomi atau mengalami peningkatan pendapatan.Manokwari merupakan salah kabupaten yang sedang berkembang, baik di lihat dari tingkat perekonomian maupun jumlah penduduknya.Untuk mendukung kegiatan dan perkembanggan pantai pasir putih dibutuhkan infrastruktur beserta kondisinya yang baik agar tidak menghambat proses perkembanggan pantai pasir putih. Kebutuhan akan infrastruktur fisik sangat penting untuk menunjang kemudahan aksesibilitas kegiatan dan perkembangan pada pantai pasir putih. Infrastruktur fisik itu misalnya adalah jalan, saluran air minum, saluran air limbah, pembuangan sampah, jaringan listrik.Mengetahui Persepsi Wisatawan Terhadap kondisi Fasilitas Infrastruktur pada Pantai Pasir Putih dan Menganalisis Tingkat kenyamanan adalah tujuan dari penelitian ini.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan analisa menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian ini untuk mengetahui kondisi fasilitas infrastruktur dan kenyamanan wisatawan terhadap fasilitas infrastruktur tersebut.   Kata Kunci :Persepsi, Wisatawan, Infrastruktur, Pantai
POLA PERKEMBANGAN KECAMATAN WANEA BERDASARKAN MORFOLOGI RUANG Patrik, Lalu Renaldo; Tarore, Raymond Ch; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan suatu kota pada umumnya berbeda-beda hal ini dikarenakan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut pada setiap wilayah kota. Faktor-faktor tersebut antara lain: kondisi geografis, topografi wilayah, jumlah penduduk, kondisi sosial ekonomi penduduk dan peran pemerintah. Morfologi perkotaan adalah penataan atau formasi keadaan kota yang sebagai objek dan sistem yang dapat diselidiki secara struktural, fungsional, dan visual. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mengetahui pola perkembangan lahan berdasarkan morfologi ruang di Kecamatan Wanea, dan untuk mengetahui perkembangan  penggunaan lahan Kecamatan Wanea dari kajian faktor-faktor internal dan eksternal. Dalam penelitian ini, morfologi kota didasarkan pada aspek pola penggunaan lahan, pola-pola jalan dan tipe atau karakteristik bangunan. Untuk menganalisis suatu pola morfologi kota dapat dilakukan dengan dua analisis perancangan kota yaitu, analisis overlay dan analisis deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa perkembangan fisik ruang Kecamatan Wanea tidak banyak mengalami perubahan di mana luas lahan yang mengalami perubahan sebanyak 149,91 Ha atau 19,09% dari luas Kecamatan Wanea, sedangkan luas lahan yang tidak mengalami perubahan sebanyak 635,34 Ha atau 80, 91%. Perkembangan Kecamatan Wanea secara umum sangat dipengaruhi sebanyak 65% oleh situasi dan kondisi internal, namun beberapa unsur eksternal yang menonjol juga dapat mempengaruhi sebanyak 35% perkembangan Kecamatan Wanea.Kata Kunci: Pola penggunaan lahan, Pola-pola jalan, Tipe atau karakteristik bangunan
PENATAAN RUANG KAWASAN TEPI SUNGAI TONDANO DI SEGMEN KAMPUNG TUBIR SAMPAI JEMBATAN MIANGAS DI MANADO Tomigolung, Billy Adiputra; Rondonuwu, Dwight M; Rogi, Octavianus
SPASIAL Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penataan ruang kawasan tepi air sungai di Kota Manado khususnya daerah bantaran sungai sangat penting untuk dilakukan, karena berdasarkan kondisi eksisting yang ada di lokasi penelitian masih terdapat banyak bangunan  di area 15 meter sempadan sungai, dan arah hadap bangunan masih membelakangi sungai sebagai area waterfront City. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis kondisi eksisting tata ruang kawasan tepi sungai Tondano di segmen Kampung Tubir sampai jembatan Miangas dan merekomendasi konsep penataan ruang kawasan tepi sungai Tondano di segmen Kampung Tubir sampai jembatan Miangas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian yang ada di lokasi, maka ditemukan 195 unit bangunan yang masih membelakangi sungai. Tata guna lahan  didominasi oleh perumahan teratur sebesar 20,3 ha dan aspek pendukung kegiatan yang ada, terdapat lapangan di Kelurahan Ketang Baru yang dimanfaatkan warga menjadi tempat berkumpul. Konsep rekomendasi dengan melakukan penatan yaitu menata kembali arah hadap bangunan mengarah ke sungai dan menambah taman yang ada di Kelurahan Dendengan Luar agar bisa dimanfaatkan warga menjadi tempat berkumpul. Untuk perencanaan di area sempadan sungai yaitu membebaskan bangunan di area sempadan sungai dengan membangun rusunawa di lingkungan 3 Kelurahan Dendengan Luar karena masih memiliki tanah kosong dan dermaga penyeberangan yang berfungsi sebagai lalu lintas transportasi masyarakat dalam mendukung ekonomi dan pariwisata, serta menyediakan ruang terbuka di area sempadan sungai Tondano.  Kata Kunci : Waterfront, Penataan Ruang, Sempadan Sungai 
EVALUASI KEBIJAKAN POLA RUANG DAN STRUKTUR RUANG BERBASIS MITIGASI BENCANA BANJIR (Studi Kasus : Kota Palu) Rachmatullah, Michael; Rogi, Octavianus H. A.; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Palu, seperti kebanyakan kota lainnya di Indonesia sering mengalami bencana banjir. Karena itulah diperlukan sistem mitigasi bencana banjir di Kota Palu dalam bentuk perencanaan pola dan struktur ruang yang tanggap bencana banjir. Kota Palu sudah memiliki rencana / kebijakan pola dan struktur ruang yang terdapat didalam RTRW Kota Palu 2010 – 2030. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah kebijakan pola dan struktur ruang yang ada sudah tanggap terhadap bencana banjir atau belum. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi tingkat risiko banjir di Kota Palu dan mengevaluasi kebijakan pola dan struktur ruang di Kota Palu dengan mempertimbangkan aspek bencana banjir khususnya pada tingkat risikonya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan analisis konversi rawan bencana, analisis tingkat kerentanan dan analisis tingkat kapasitas yang parameter pembentuknya mengikuti peraturan baku dari BPBD Kota Palu untuk menjawab tujuan pertama dan analisis evaluasi untuk menjawab tujuan kedua yang keseluruhan analisisnya dibantu dengan software Arcgis. Berdasarkan hasil studi, didapat2 hal yaitu; persebaran tingkat risiko di kota Palu terbagi atas 5 kelas dan yang menjadi pembahasan adalah kelurahan dengan kelas risiko tinggi (8 kelurahan) dan kelas risiko sangat tinggi(9 kelurahan) dan kebijakan pola ruang dan struktur ruang di Kota Palu sudah cukup tanggap terhadap risiko banjir yang ada. Hal ini ditunjukkan melalui perbandingan persentase luas rencana kawasan keseluruhan pada bidang pola ruang serta perbandingan persentase jumlah sistem perkotaan, panjang jalan keseluruhan, dll pada bidang struktur ruang terhadap bagian dari tiap perencanaan yang masuk dalam kelurahan berisiko banjir tinggi dan sangat tinggi.   Kata Kunci :Evaluasi, Banjir, Mitigasi, Kebijakan Pola Ruang dan Struktur Ruang
HUBUNGAN AKSESIBILITAS TERHADAP TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH KECAMATAN DI KOTA TOMOHON Sumadi, Stevanus Hariona Tricahyo; Papia, F. J.; Makainas, Indrajaja
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan wilayah perkotaan merupakan upaya pembangunan yang dilakukan secara terus menerus agar tercapai kualitas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan hidup di dalamnya. Ketersediaan infrastruktur dan sistem jaringan dalam suatu wilayah akan mempengaruhi perkembangan wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aksesibilitas yang didalamnya dipengaruhi oleh sistem jaringan jalan dan perkembangan wilayah per kecamatan di Kota Tomohon. Untuk menjawab tujuan penelitian digunakan analisis indeks alfa untuk mengetahui tingkat aksesibilitas wilayah, analisis Location Quotient (LQ) untuk mengetahui tingkat perkembangan wilayah dan analisis korelasi dengan spss for windows untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel tersebut. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, kecamatan yang memiliki tingkat aksesibilitas yang paling tinggi adalah kecamatan Tomohon Timur dan yang paling rendah adalah kecamatan Tomohon Barat. Sedangkan untuk tingkat perkembangan wilayah, Kecamatan Tomohon Tengah merupakan kecamatan dengani nilai perkembangan paling tinggi dan Kecamatan Tomohon Barat memiliki nilai perkembangan paling rendah. Hasil perhitungan korelasi menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara aksesibilitas wilayah dan perkembangan wilayah kecamatan di Kota Tomohon. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ada beberapa saran yang dihasilkan yaitu pertama, pemerataan jaringan jalan di kecamatan yang memiliki nilai aksesibilitas rendah. Kedua adalah pemerataan pembangunan yang memiliki peran fital dalam perkembangan wilayah seperti fasilitas pendidikan, fasilitas perdagangan, dan fasilitas perindustrian di kecamatan yang memiliki nilai perkembangan rendah. Kata Kunci : Aksesibilitas, Perkembangan Wilayah.
EVALUASI KETERSEDIAAN FASILITAS PENDIDIKAN SLTP DI KECAMATAN MAPANGET Uang, Orvans Lexsi; Rengkung, Michael M; Sembel, Amanda S
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

UUD 1945 mengamanatkan pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Itu berarti bahwa setiap Warga Negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan. Di Kecamatan Mapanget masih terjadi ketidakseimbangan antara penyediaan dengan kebutuhan pelayanan sekolah tingkat SLTP. Hal ini terlihat dari beberapa kelurahan di Kecamatan Mapanget yang terdapat lebih dari 3 unit sekolah yang melayani 1 kelurahan, yang mengindikasikan bahwa secara statistik terdapat kelebihan jumlah sekolah tingkat SLTP di Kecamatan Mapanget. dan juga karena ketidak seimbangan antara jumlah murid dengan jumlah sekolah yang ada sehingga terjadi tunpang tindi, penyediaan failitas pendidikan SLTP. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi ketersediaan pelayanan fasilitas pendidikan yang terdapat di Kecamatan Mapanget dan mengevaluasi kebutuhan dan jangkauan pelayanan fasilitas pendidikan (SLTP) dengan SPM (Standar Pelayanan Minimum). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Untuk mendukung penelitian ini maka data yang diperlukan yaitu data demografi penduduk persebaran lokasi sekolah, jumlah ruang kelas tiap-tiap sekolah, dan kondisi jalan sebagai pendukung aksesibilitas di Kecamatan Mapanget serta jarak jangkauan pelayanan tiap unit sekolah yang merupakan kualitas persebaran lokasi sekolah. Berdasarkan hasil penelitian Tingkat Pelayanan Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Mapanget rata – rata hasil penilaiannya adalah cukup dan kurang dari segi pemenuhan kebutuhan, daya tampung dan tingkat keterisian sekolah. Hal ini menyebabkan ketersediaan fasilitas pendidikan yang tersebar di tiap kelurahan di Kecamatan Mapanget belum optimal atau (over capacity) kelebihan murid yang tidak sesuai dengan jumlah kelas yang ada ditiap sekolah (Kelebihan murid dari daya tampung sekolah menandakan adanya kekurangan jumlah fasilitas pendidikan dalam penerimaan murid) dan (under capacity) sehingga perlunya perencanaan fasilitas pendidikan yang menyesuaikan kebutuhan sekolah berdasarkan jumlah penduduk berusia 13 -15 Tahun sebagai usia sekolah tingkat SLTP dan Jarak jangkauan pelayanan sekolah cenderung melayani kawasan yang berada di jalan kolektor Kecamatan Mapanget, namun ketersediaan fasilitas pendidikan tingkat SLTP berdasarkan hasil buffering 1.200 Meter terlihat dapat menjangkau semua kelurahan yang ada di Kecamatan Mapanget sehingga efektif untuk jangkauan masyarakat atau penduduk untuk menjangkau sekolah yang ada di Kecamatan Mapanget. Kata Kunci : Fasilitas Pendidikan, SLTP, Tingkat Pelayanan, Kecamatan Mapanget
KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR PERMUKIMAN KUMUH PESISIR STUDI KASUS : DESA LIKUPANG DUA DAN DESA LIKUPANG KAMPUNG AMBONG, KECAMATAN LIKUPANG TIMUR, KABUPATEN MINAHASA UTARA, PROVINSI SULAWESI UTARA Pollo, Joel Yermia; Tondobala, Linda; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Empat puluh tujuh Kota Otonom dari sembilan puluh empat Kota Otonom di Indonesia  memiliki karakteristik geografis kawasan pesisir. Dominasi jumlah kota pesisir di Indonesia merupakan suatu hal yang sangat wajar mengingat morfologi NKRI berupa kepulauan yang berjumlah sekitar 17.480 pulau dengan 95.181 Km bentang garis pantai dari seluruh pulau tersebut. Gambaran tentang kondisi wilayah seperti itu mencerminkan bahwa diperlukan suatu pendekatan berwawasan kepesisiran yang komprehensif mencakup dinamika interaksi berbagai aspek/sektor di kawasan pesisir tersebut. Desa Likupang Dua dan Desa Kampung Ambong merupakan desa di wilayah pesisir Kabupaten Minahasa Utara yang memiliki fungsi yang penting dalam RTRW Kabupaten Minahasa Utara 2011-2031. Letaknya yang strategis sebagai gerbang menuju pulau-pulau dibagian Utara, serta potensi kekayaan bahari dan pesona wisata alam yang memukau menjadi alasalan kenapa wilayah ini perlu mendapatkan perhatian khususdari pihak-pihak terkaitguna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi yang dimiliki memberikan daya tarik yang kuat dan menimbulkan konsentrasi penduduk dan permukiman yang tinggi. Penduduk membangun tanpa memperhatikan legalitas lahan dan aturan-aturan terkait pembangunan permukiman yang benar, sehingga kondisi ini menciptakan kekumuhan bagi lingkungan permukiman di lokasi penelitan.Dilatarbelakangi  persoalanpermukiman kumuh, mendorong penelitian ini dilakukan. Tujuan penelitian,menganalisis tingkat capaian pelayanan infrastruktur permukiman pesisir berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) di lokasi penenlitian, serta mengindentifikasi tingkat kekumuhan permukiman pesisir pada kedua desa penelitian berdasarkan ketersediaan Infrastruktur.Penelitian ini menggunakan Metode Analisis Kuantitatif Deskriptif.Hasil analisis menujukan kondisi faktual di lapangan yaitu belum tersedianya infrastruktur yang memadai di kedua desa tersebut dengan nilai SPMsecara keseluruhan belum tercapai sehingga terjadi kekumuhan.Analisa dan perhitungan SPM dan analisa tingkatan kategori kumuh di wilayah Desa Likupang Dua dan Desa Likupang Kampung Ambong menempatkan kedua desa tersebut masuk dalam kategori kumuh sedang.   Kata Kunci :Wilayah Pesisir, Permukiman, Infrastruktur, Kekumuhan
ANALISIS PELAYANAN TRANSPORTASI ANGKUTAN KOTA DI KOTA TERNATE Buamona, Muhammad Syaiful; Timboeleng, James; Karongkong, Hendriek H
SPASIAL Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transportasi atau pengangkutan merupakan bidang kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Seperti Angkutan umum perkotaan merupakan bagian dari sistem transportasi perkotaan yang memegang peranan sangat penting dalam mendukung mobilitas masyarakat. Peranan tersebut menjadikan angkutan umum perkotaan sebagai aspek yang sangat strategis dan diharapkan mampu mengakomodir seluruh kegiatan masyarakat. Rendahnya tingkat penggunaan kendaraan umum dibandingkan penggunaaan kendaran pribadi di kawasan perkotaan, menunjukkan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi masih tinggi dan di sisi lain pelayanan angkutan umum perkotaan terlihat masih rendah. Untuk itu transportasi yang ada di Kota Ternate sangat diperhatikan dari pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Ternate dan wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelayanan transportasi angkutan kota, perencanaan rute angkutan kota dan hubungan rute perencanaan dan kawasan wilayah kota di Kota Ternate. Metode analisis yang di gunakan adalah deskkriptif kuantitatif dan kualitatif yang berbentuk angka-angka dan data kualitatif. Metode penelitian kuantitatif dapat di artikan sebagai metode penelitian yang di gunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah di tetapkan. Hasil studi, yaitu kurangnya rute angkutan kota yang beroperasi di daerah perbukitan,ini di lihat dari permintaan masyarakat untuk adanya penambahan rute di beberapa kawasan, karena akan adanya hubungan antar kawasan dan pergerakan mobilitas masyarakatnya dalam melalkukan aktifitas mereka. Kata Kunci : Transportasi, Angkutan Kota