cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
EVALUASI SISTEM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DI KOTA SORONG Baru, Desi Natalia; Poluan, Roosje J.; Moniaga, Ingerid L.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengelolaan sampah adalah usaha untuk mengatur atau mengelola sampah dan proses pengumpulan, pemisahan, pemindahan, pengangkutan sampai pengelolaan dan pembuangan akhir. Implementasi Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah telah ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Sorong melalui regulasi atau Peraturan Daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2013 Tentang Pengelolaan Sampah. Tetapi permasalahan pengelolaan persampahan di Kota Sorong belum optimal sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 dan Peraturan Daerah Kota Sorong. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi sistem pengelolaan persampahan di Kota Sorong dengan mengunakan penelitian kualitatif. Metode pendekatan kualitatif dilakukan dengan mengunakan analisis skala likert. Hasil hitungan skala likert untuk mengetahui tingkat kamuan dan kemampuan masyarakat melakukan penanganan sampah dengan cara pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan, pemrosesan akhir.Kata Kunci: Pengelolaan, Sampah, Kota Sorong
ANALISIS TINGKAT LAHAN KRITIS BERBASIS SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS) (STUDI KASUS: KECAMATAN AMURANG, KECAMATAN AMURANG TIMUR, KECAMATAN AMURANG BARAT, DAN KECAMATAN TUMPAAN) Tuhehay, Krisandi; Gosal, Pierre H.; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lahan kritis merupakan tanah yang mengalami atau dalam proses kerusakan kimia, fisik, dan biologi yang dapat mengganggu atau kehilangan fungsinya di dalam lingkungan. Kondisi ini dapat merusak tata air dan lingkungan sekitarnya. Dampak dari lahan kritis adalah penurunanan tingkat kesuburan tanah, berkurangnya ketersediaan sumber air pada musim kemarau serta banjir pada musim hujan. Seperti diketahui pada tahun 2018 hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang mengakibatkan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah tempat di Kabupaten Minahasa Selatan. Dari aspek penggunaan lahan daerahnya merupakan dominasi penggunaan lahan berupa kebun campuran dan tegalan/ladang, penggunaan lahan seperti ini merupakan penggunaan lahan yang kurang baik apabila pengelolaanya tidak didasarkan pada kaidah-kaidah konservasi tanah maka lahan dapat menjadi rusak dan cenderung akan berubah menjadi lahan agak kritis atau kritis.  Penyebab utama lahan kritis pada daerah penelitian adalah karena aktivitas pertanian yang tidak memperhatikan aspek-aspek kelestarian lahan. Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode skoring dapat digunakan untuk pengambilan keputusan mengenai pengelolaan lahan secara tepat untuk menghindari kerusakan ekosistem yang ada. Peta tingkat lahan kritis dihasilkan dari overlay peta kemiringan lereng, penutupan tajuk, bahaya erosi, dan manajemen lahan yang sesuai dengan peraturan Departemen Kehutanan No. P.4/V-SET/2013. Berdasarkan hasil penelitian maka diketahuilah persebaran tingkat lahan kritis yang ada di Kecamatan Amurang terdapat tingkat potensial kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Amurang meliputi Kelurahan Bitung, Buyungon, Kilometer tiga, Lewet, Ranoketang tua, dan Uwuran satu. Kecamatan Amurang Barat terdapat tingkat agak kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Amurang Barat meliputi Kelurahan Elusan, Kapitu, Kawangkoan bawah, Pondos, Desa rumoong bawah, Teep, Tewasen, Wakan, dan Rumoong bawah. Kecamatan Amurang Timur terdapat tingkat potensial kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Amurang Timur meliputi Kelurahan Kota Menara, Lopana, Malenos baru, Maliku, Pinaling, Pondang, Ranomea, dan Ritey. Sedangkan untuk Kecamatan Tumpaan terdapat tingkat potensil kritis yang mendominasi di Kecamatan ini dengan persebaran di Kecamatan Tumpaan meliputi Kelurahan Lelema, Matani, Matani satu, Munte Popontolen, Tangkuney, Tumpaan, Tumpaan baru, Tumpaan satu, dan Tumpaan dua.Melalui data persebaran lahan kritis, maka dipetakan wilayah mana saja yang perlu diperbaiki atau dapat disebut rehabilitasi lahan.Kata kunci:  Sistem Informasi Geografis, Tingkat Lahan Kritis
PENGARUH PEMBANGUNAN JALAN TRANS SULAWESI TERHADAP PEMANFAATAN LAHAN DI KECAMATAN BELANG Pajow, Vanesa Mariani; Warouw, Fela; Rompas, Leidy M.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Belang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa Tenggara yang termasuk dalam kawasan strategis dari sudut pandang ekonomi dan juga termasuk dalam jaringan jalan kolektor primer K1 yaitu jalan Trans Sulawesi jalur timur berdasarkan  RTRW Kabupaten Minahasa Tenggara Tahun 2013-2033. Dengan adanya Jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Belang mengakibatkan meningkatnya aktivitas lalu lintas dan masyarakat sekitar sehingga tentunya akan terjadi perubahan pemanfaatan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk 1. Menganalisis Perubahan Pemanfaatan Lahan secara spasial pada Jalan Trans Sulawesi Jalur Timur di Kecamatan Belang. 2. Menganalisis Pengaruh Jalan Trans Sulawesi Jalur Timur terhadap Harga Lahan  di Kecamatan Belang. Penelitian ini menggunakan metode analisis spasial menggunakan GIS (Geography Information System) dan metode analisis kuantitatif dengan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian yang diperoleh terdapat 3 jenis pemanfaatan lahan yang mengalami perubahan yaitu lahan Permukiman, Sawah dan Pertanian Pangan Lahan Kering. Persentase untuk lahan permukiman mengalami kenaikan 1% dari 1% di tahun 2009 menjadi 2 % di tahun 2019,  persentase lahan sawah mengalami kenaikan 1% dari 3% di tahun 2009 menjadi 4% di tahun 2019 dan untuk lahan Pertanian Pangan Lahan Kering persentasenya mengalami penurunan 2% dari  96% di tahun 2009 menjadi 94 % di tahun 2019. Berdasarkan hasil analisis Regresi Linear Sederhana yang telah dilakukan menggunakan SPSS versi 20 maka didapatkan hasil yaitu, Jarak (X) berpengaruh negative terhadap Harga Lahan (Y) dengan total pengaruhnya adalah 49,3 %. Pengaruh negative ini bermakna bahwa semakin jauh Jarak dari Jalan Trans Sulawesi maka berpengaruh terhadap Harga Lahan yang semakin murah.Kata Kunci: Pemanfaatan Lahan, Jalan Trans Sulawesi Jalur Timur, Harga Lahan
ANALISIS KESESUAIAN PEMANFAATAN LAHAN TERHADAP RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN MERAUKE Haurissa, Destela; Rondonuwu, Dwight M.; Tilaar, Sonny
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Distrik Merauke merupakan wilayah dengan tingkat perkembangan yang cukup pesat karena merupakan kawasan strategis yang disebabkan keberadaanya pada perbatasan antar negara serta kondisi kawasan yang landai sehingga peninggkatan pembangunan sangat cepat. Distrik Merauke mengalami peningkatan jumlah penduduk yang cukup pesat dari tahun ketahun, peningkatan ini menyebabkan peningkatan akan kebutuhan lahan. Dalam upaya pengendalian pemanfaatan lahan di yang terbatas perlu dilakukan monitoring dan evaluasi agar dapat diperoleh kesesuaian pemanfaatan lahan yang sesuai dengan rencana pemanfaatan lahan.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan lahan pada bagian wilayah perkotaan Merauke serta menganalisis kesesuaian pemanfaatan lahan tahun 2019 terhadap rencana pemanfaatan lahan dalam Rencana Detail Tata Ruang kawasan Perkotaan Merauke Tahun 2017-2037. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan menggunakan teknik analisis spasial menggunakan Sistem Informasi Geografis (GIS). Hasil overlay menggunakan GIS antara peta pemanfaatan lahan eksisting tahun 2019 dan peta perencanaan pemanfaatan lahan pada RDTR Kawasan Perkotaan Merauke Tahun 2017-2037, maka diperoleh peta kesesuaian pemanfaatan lahan. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh identifikasi pemanfaatan lahan pada kawasan perkotaan Merauke diperoleh pemanfaatan lahan dengan zona ruang terbuka hijau merupakan kawasan dengan luasan terbesar yaitu seluas 2878,86 ha atau 41,02% dari luas kawasan perkotaan Merauke. Sedangkan kesesuaian pemanfaatan lahan diperoleh kesesuaian pemanfatan lahan kawasan perkotaan Merauke dengan kriteria sesuai  seluas 5001,90 ha atau 73,39%, kriteria belum sesuai seluas 1553,31 ha atau 22,79%  sedangkan kriteria tidak sesuai 260,21 ha atau 3,82%  dari luas kawasan perkotaan Merauke.Kata Kunci : Lahan, Pemanfaatan Lahan, Kesesuaian Lahan, RDTR
IDENTIFIKASI IDENTIFIKASI KAWASAN RAWAN BANJIR DI AMURANG KABUPATEN MINAHASA SELATAN Duwila, Nurul Mentari; Tilaar, Sonny; Warouw, Fela
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah Amurang berada di pesisir dan memiliki kondisi wilayah berbukit dengan kelerengan bervariasi antara 0-45%. Wilayah Amurang juga termasuk salah satu wilayah yang berkembang dengan jumlah penduduk yang setiap harinya meningkat serta memiliki berbagai macam kegiatan perkotaan yang menyebabkan kebutuhan akan ruang meningkat. Sebagai dampak dari perkembangan wilayah yang cukup pesat ini, terjadilah perubahan kondisi lahan. Di dalam RTRW Kabupaten Minahasa Selatan tahun 2014-2034 kawasan rawan banjir di wilayah Kabupaten Minsahasa Selatan yang dimaksud adalah banjir yang dapat terjadi selama atau setelah hujan lebat. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis tingkat kerawanan banjir dan memetakan kawasan rawan banjir di Amurang Kabupaten Minahasa Selatan. Penelitian Ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis spasial dengan bantuan alat analisis GIS (Geography Information system) dan analisis scoring. Dalam menganalisis tingkat kerewanan banjir di Amurang Kabupaten Minahasa Selatan menyajikan hasil overlay dimana tingkat kerawanan tinggi paling banyak tersebar di Kecamatan Amurang Barat seluas 134,71 Ha meliputi 6 Desa yaitu Rumoong Bawah, Elusan, Kapitu, Pondos, Teep dan Tewasen. Disusul Kecamatan Amurang seluas 126,96 Ha meliputi 6 Desa Yaitu Buyongon, Bitung, Lewet, Ranoyapo, Uwuran Satu, Uwuran Dua dan yang paling sedikit adalah Kecamatan Amurang Timur seluas 94,21 Ha meliputi 4 desa yaitu Kota Menara, Lopana, Pondang, Ranomea. Kata Kunci : Banjir, Tingkat Kerawanan, Amurang
ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA PANTAI TUGULUFA KOTA TIDORE Madjid, Kasmawati; -, Sangkertadi; Supardjo, Surijadi
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata di Indonesia memliki potensi yang cukup baik dan merupakan salah satu sektor yang memacu perekonomian, sehingga perencanaan pariwisata sangatlah penting mengingat sektor pariwisata kini di jadikan sektor unggulan karena dapat memacu sektor lainnya seperti bisnis transportasi, restoran, hotel, dan memperkenalkan adat budaya di daerah tersebut. Dalam RTRW Tahun 2013-2033. Menurut Undang-undang No. 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, untuk mendorong pemerataan kesempatan berusaha dan memperoleh manfaat serta mampu menghadapi tantangan perubahan kehidupan lokal, nasional maupun global. Untuk Kota Tidore Kepulauan, fasilitas rekreasi untuk sekarang ini masih berada satu lokasi dalam tempat wisata setempat seperti pantai, dan lainnya. Sebagai salah satu lokasi pariwisata nasional, tempat rekreasi di Kota Tidore Kepulauan sudah memenuhi standar nasional. Namun keberadaan fasilitas rekreasi yang ada sekarang ini belum mampu mengangkat Kota Tidore Kepulauan secara keseluruhan. Berdasarkan data primer, diketahui bahwa di desa-desa Kota Tidore Kepulauan terdapat lokasi-lokasi yang mempunyai potensi sebagai lokasi wisata alternatif selain wisata budaya. Obyek wisata unggulan yang dijadikan sebagai integrated tourism pantai Tugulufa merupakan salah satu pantai yang berada di kelurahan Indonesiana kecamatan Tidore yang akan di kembangkan menjadi icon Kota Tidore. Metode penelitian yang digunakan dalam hal ini adalah metode penelitian SWOT adapun analisis statistik deskriptif dengan tujuan mengidentifikasi karakteristik pantai Tugulufa untuk pengembangan wisata Kota Tidore dan menganalisis hubungan internal eksternal dalam objek wisata pantai Tugulufa Kota Tidore, dengan menggunakan Analisis Daerah Operasi-Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) maka di lakukan analisis SWOT. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, melakukan kuesioner dan telaah pustaka. Hasil analisis penelitian ini.Kata kunci: Potensi Wisata, Strategi Pengembangan, Pantai Tugulufa, Kota Tidore
ANALISIS HIRARKI PUSAT – PUSAT KEGIATAN DI KOTA MANADO Wansaga, Naltri Andre; Tondobala, Linda; Wuisang, Cynthia E. V.
SPASIAL Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Manado sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Utara mengalami pertumbuhan yang pesat. Dalam tata ruang wilayah Kota Manado terdapat pusat-pusat pelayanan yang tersebar di beberapa wilayah . Sebaran pusat pelayanan berhirarki sesuai dengan kelengkapan fasilitas dan skala pelayanan. Tujuan penelitian ini adalah 1)Mengidentifikasi Ketersediaan Fasilitas Sosial, Ekonomi, Dan Pemerintahan Di Kota Manado; 2)Menganalisis Hirarki Dan Distribusi Pusat Pelayanan Di Kota Manado; 3)Menganalisis Kesesuaian Pusat Pelayanan Dalam RTRW Kota Manado Tahun 2014 – 2034 Terhadap Kondisi Eksisting Tahun 2019. Metode Analisis yang di pakai dalam penelitian ini adalah Skalogram, Analisis Indeks Sentralitas dan analisis Gravitasi. Dari hasil analisis diperoleh Sebaran fasilitas sosial, ekonomi dan pemerintahan di Kota Manado, penyebarannya telah cukup memadai terutama dikecamatan yang berstatus orde I seperti Kecamatan Malalayang, Kecamatan Mapanget, Kecamatan Wanea, Kecamatan Wenang, dan Kecamatan Tuminting. Semua kecamatan tersebut memiliki fasilitas yang cukup lengkap dan memadai. Hasil analisis hirarki wilayah Kota Manado terbagi dalam 4 Orde, yakni Orde I yang terdiri dari Kecamatan Malalayang, Wanea, Mapanget, Tuminting, dan Wenang. Kecamatan yang berada di Hirarki II yaitu Kecamatan Singkil, Paal Dua, Bunaken, Sario. Dan yang berada di Hirarki III yaitu Kecamatan Tikala, Serta Hirarki IV yakni Kecamatan Bunaken Kepulauan. Berdasarkan hasil analisis terjadi ketidaksesuaian antara pusat pelayanan dalam RTRW Kota Manado Tahun 2014-2034 terhadap kondisi eksisting tahun 2019.Kata Kunci: Kota Manado, Hirarki Wilayah, Pusat Pelayanan, Analisis Skalogram, Indeks Sentralitas, Gravitasi, Kesesuaian.
KARAKTERISTIK INFRASTRUKTUR HIJAU DI KECAMATAN LUWUK KABUPATEN BANGGAI Simatupang, Gyan Fernando; Franklin, Papia J.C.
SPASIAL Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infrastruktur Hijau adalah sebuah konsep, upaya, atau pendekatan untuk menjaga lingkungan yang berkelanjutan melalui penataan ruang terbuka hijau dan menjaga proses-proses alami yang terjadi di alam seperti siklus air hujan dan kondisi tanah. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi jenis-jenis infrastruktur hijau dan menganalisis karakteristik infrastuktur hijau di Kecamatan Luwuk sebagai elemen utama pembentuk tata ruang wilayah. Kecamatan Luwuk adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Sedangkan variabel penelitiannya yaitu Karakteristik Infrastruktur Hijau (Ruang Terbuka Hijau) dengan parameter Luas, Jenis, Tipe kepemilikan, Fungsi, Struktur. Hasil identifikasi infrastruktur hijau di Kecamatan Luwuk diantaranya terdapat beberapa jenis infrastruktur hijau seperti bentang alam (37,56 ha atau 0,39%), jalur hijau sungai (0,98 ha atau 1.010%), taman lingkungan permukiman (2,128 ha atau 0,023%), hutan lindung (8969,38 ha atau 94,89 %), jalur hijau (3,06 ha atau 0,032%), taman kota (3,064 ha atau 0,032%), lapangan olahraga (2,954 ha atau 0,031%), pemakaman (1,270 ha atau 0,013%), taman lingkungan perkantoran (0,48 ha atau 0,005%) dan taman gedung komersial (0,157 ha atau 0,002%). Sedangkan luas keseluruhan Infrastruktur Hijau di Kecamatan Luwuk lebih dari 95,53%. Berdasarkan hasil analisis, karakteristik infrastruktur hijau di Kecamatan Luwuk didominasi oleh yang bersifat alami, yaitu pada jenis RTH Hutan Lindung sebesar 94,89% atau 8969,38 ha. Dan karakteristik infrastruktur hijau yang tidak mendominasi di Kecamatan Luwuk yaitu, bersifat non alami pada jenis Taman Gedung Komersial sebesar 0,002% atau 0,157 ha.Kata Kunci: Infrastruktur Hijau, Karakteristik, Kecamatan Luwuk
PENGEMBANGAN KAWASAN AGROWISATA DI KECAMATAN MODOINDING Mpila, Gerald P; Gosal, Pierre H; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Provinsi Sulawesi Utara memiliki salah satu wilayah yang memiliki potensi agrowisata yakni Kecamatan Modoinding yang berada di Kabupaten Minahasa Selatan yang meliputi hamparan tanaman hortikultura Kawasan Agropolitan Modoinding dan Bukit Doa Kakenturan. Namun potensi agrowisata yang dimiliki Kecamatan Modoinding ini belum sepenuhnya dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan menganalisa potensi dan permasalahan serta strategi pengembangan Kawasan Agrowisata di Kecamatan Modoinding dengan menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Hasil dari penelitian, selain potensi perkebunan, Kecamatan Modoinding juga memiliki potensi alam dan potensi budaya yang dapat di kembangkan menjadi daya tarik objek wisata yang mendukung pengembangan kawasan agrowisata, sedangkan kendalanya adalah kurangnya fasilitas penunjang wisata, kondisi objek wisata yang tidak terawat, terbatasnya informasi kawasan agrowisata dan belum maksimalnya pengelolaan yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat lokal. Oleh karena itu, prioritas strategi pengembangan kawasan agrowisata di Kecamatan Modoinding berdasarkan analisis SWOT adalah peningkatan sumber daya manusia dalam menegelola agrowisata, kerjama pemerintah dan masyarakat, peningkatan aksesabilitas, penyediaan fasilitas wisatawan, pengembangan ekonomi, dan meningkatkan promosi kawasan agrowisata. Selanjutnya arahan pengembangan Kawsasan Agrowisata di Kecamatan Modoinding berdasarkan konsep 4A (atraction, accesability, amenities, ancillary) yakni pengembangan atraksi sesuai potensi lokal desa, penyediaan prasarana dan sarana transportasi, penyediaan, perbaikan dan pengoptimalan fasilitas wisata, pembentukan kelompok sadar wisata, dan promosi melalui sarana periklanan dan penyelenggaraaan ivent-ivent khusus.Kata Kunci : Pengembangan, Kawasan Agrowisata, Kecamatan Modoinding
ANALISIS TINGKAT LAHAN KRITIS BERBASIS SIG (SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS) DI KABUPATEN BANGGAI Basuki, Andreyanus; Takumansang, Esli D; Tarore, Raymond Ch
SPASIAL Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lahan kritis merupakan tanah yang mengalami atau dalam proses kerusakan kimia, fisik, dan biologi yang dapat mengganggu atau kehilangan fungsinya di dalam lingkungan. Kondisi ini dapat merusak tata air dan lingkungan sekitarnya. Dampak dari lahan kritis adalah penurunanan tingkat kesuburan tanah, berkurangnya ketersediaan sumber air pada musim kemarau serta banjir pada musim hujan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Banggai tahun 2012-2032, Luasan lahan kritis di Kabupaten Banggai sebesar 116.076 Ha atau 12,35% dari luas wilayah kabupaten secara keseluruhan dan pada hasil analisis Tahun 2019 luas lahan kritis mencapai ±378439.20 Ha atau 42% dengan kenaikan 30% dan rata-rata kenaikan pertahun 2012-2019 adalah 5%. Keberadaan lahan kritis ini disebabkan oleh penggundulan hutan dan dapat berdampak pada rawan bencana longsor dan kekeringan. Dari aspek penggunaan lahan Kabupaten Banggai didominasi penggunaan lahan berupa hutan lebat dengan luas ±585987 ha, dan hutan belukar dengan luas ±94154.64 ha, Penyebab utama lahan kritis pada daerah penelitian adalah karena aktivitas pertanian yang tidak memperhatikan aspek-aspek kelestarian lahan. Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan metode skoring dapat digunakan untuk pengambilan keputusan mengenai pengelolaan lahan secara tepat untuk menghindari kerusakan ekosistem yang ada. Peta tingkat lahan kritis dihasilkan dari overlay peta kemiringan lereng, penutupan Lahan, bahaya erosi, dan manajemen lahan yang sesuai dengan peraturan Departemen Kehutanan No. P.4/V-SET/2013. Berdasarkan hasil penelitian maka diketahuilah penyebab lahan kritis di Kabupaten banggai diantaranya di pengaruhi oleh kemiringan lereng dengan klasifikasi kemiringan 15–25 % yaitu agak curam dengan luas ±228890.63 ha atau 25%, dan tingkat bahaya erosi dengan klasifikasi erosi cukup tinggi dengan luas ±181647.32 ha atau 20% dari luas wilayah Kabupaten, dan sering terjadinya kebakaran hutan yang di sebabkan oleh alih fungsi lahan seperti pembukaan lahan pertanian dan perkebunan kelapa. persebaran tingkat lahan kritis yang ada di Kabupaten Banggai terdiri atas 23 Kecamatan dengan luas lahan kritis yaitu Kecamatan Toili Barat ±104526.15 ha atau 12%, Kecamatan Toili ±70932.84 ha atau 8%, Kecamatan Moilong ±30646.46 ha atau 3%, Kecamatan Batui Selatan ± 42504.56 ha atau 5%, Kecamatan Batui ±53228.33 ha atau 6%, Kecamatan Kintom ±47749.36 ha atau 5%, Kecamatan Nambo ±17139.13 ha atau 2%, Kecamatan Luwuk Selatan ±13012.46 ha atau 1%, Kecamatan Luwuk ±9363.79 ha atau 1%, Kecamatan Luwuk Utara ± 20573.62 ha atau 2%, Kecamatan Luwuk Timur ±20637.56 ha atau 2%, Kecamatan Masama ±21047.79 ha atau 2%, kecamatan Lamala ± 15306.97 ha atau 2%, Kecamatan Mantoh ±18114.26 ha atau 2%, Kecamatan Balantak Selatan ± 6834.70 ha atau 1%, kecamatan Balantak ±12947.52 ha atau 1%, Kecamatan Balantak Utara ± 17783.47 ha atau 2%, kecamatan Bualemo ± 98833.17 ha atau 11%, Kecamatan Pagimana ±68051.81 ha atau 8%, Kecamatan Lobu ±15777.14 ha atau 2%, Kecamatan Bunta ±54993.55 ha atau 6%, Kecamatan Simpang Raya ±14361.97 ha atau 2%, Kecamatan Nuhon ±119928.15 ha atau 13%.Kata kunci: Sistem Informasi Geografis, Tingkat Lahan Kritis