cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
KETERSEDIAAN SARANA PRASARANA DAN KRITERIA KHUSUS KAWASAN MINAPOLITAN DI KECAMATAN NUANGAN KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR Mokoginta, Dei Cita; Poluan, Roosje J; Lakat, Ricky M S
SPASIAL Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan kawasan Minapolitan bertujuan untuk mendorong percepatan pengembangan wilayah dengan kegiatan perikanan sebagai kegiatan utama dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat salah satunya pada Kabupaten Bolaang Mongondow Timur yang hampir sebagian besar daerahnya berada dibagian pesisir yang kaya akan hasil alamnya pada bidang perikanan. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana ketersediaan prasarana sarana dan kriteria khusus kawasan minapolitan di Kecamatan Nuangan Bolaang Mongondow Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ketersediaan prasarana sarana pendukung serta menganalisis ketersediaan dan mengetahui tingkat ketersediaan prasarana sarana terhadap kriteria khusus pengembangan kawasan minapolitan di Kecamatan Nuangan. Metode analasisi yang deskriptif kuantitatif dan dalam analisis data menggunakan analisis skala likert. Dari hasil penelitian disimpulkan menjadi 2 dari hasil identifikasi di kategorikan sedang dan rendah di karenakan prasarana sarana yang ada saat ini pada lokasi penelitian masih dalam tahap pengembangan dan prasarana yang di butuhkan yaitu pembangunan jaringan air bersih dapat di kembangkan, untuk jaringan telekomunikasi perlu ditambah tower untuk jarinagan hp pada beberapa desa seperti pada desa Mata Bulu dan Jiko Belanga dan kebutuhan dermaga yang belum ada. Sedangkan sarana yaitu kebutuhan lembaga masyarakat (kelompok tani/nelayan), TPI, industri pengolahan ikan, lapangan penjemuran, pabrik es, lembaga keuangan, SPBU/SPDN, gedung pengolahan/pengepakkan, penyediaan benih, lemari pendingin dan bengkel perahu.Kata Kunci : Sarana, Prasarana, Minapolitan, Nuangan
ANALISIS RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN MINAHASA Evanly, Walujan W. H.; Sela, Rieneke L.E; Lakat, Ricky M. S.
SPASIAL Vol 7, No 3 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Minahasa adalah salah satu kabupaten yang berada di provinsi Sulawesi utara dimana wilayah tersebut memiliki topografi dengan tingkat kemiringan lereng diatas 40%. Bencana tanah longsor adalah salah satu bencana alam yang cukup sering terjadi di kabupaten Minahasa, namun sering kali ditemukan di lapangan permukiman-permukiman warga yang berada pada tingkat kemiringan lereng diatas 40% selalin itu pada kondisi lahan tersebut juga sering dijadikan sebagai lahan pertanian. Maka dari itu dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi wilayah berpotensi longsor di kabupaten Minahasa serta menentukan seberapa besar tingkat risio bencanan tanah longsor di kabupaten Minahasa. Untuk mencapai hasil dari penelitian ini maka metode yang akan digunakan adalah metode analisis spasial yang dipadukan dengan analisis skoring sesuai dengan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana nomor 12 tahun 2012 tentang Pengkajian Risiko Bencana. Pada hasil penelitian yang didapat maka sudah dapat dilihat wilayah-wilayah yang memiliki tingkat risiko terjadinya bencana tanah longsor yaitu kecamatan Kakas Barat, kecamatan Kombi, kecamatan Tombulu, dan kecamatan Tondanao Utara yang dimana sebagian besar wilayah dengan tingkat kemiringan lereng diatas 40% selain menjadi lokasi permukiman juga diganakan sebagai lahan pertanianHal yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini adalah wilayah-wilayah yang berisiko tinggi mengalamin bencana tanah longsor adalah wilayah-wilayah yang memiliki lahan produktif yang cukup luas di antaranya kecamatan Tombulu, kecamatan Kombi, kecamatan Kakas Baran dan kecamatan Pineleng.Kata Kunci : Risiko, Bencana, Tanah Longsor
ANALISIS PENGGUNAAN LAHAN DI PULAU TERNATE Sarihi, Yan Rezki; Tilaar, Sonny; Rengkung, Michael M
SPASIAL Vol 7, No 3 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan wilayah di Pulau Ternate terus terjadi dari hari ke hari secara dinamis bersamaan dengan perkembangan jumlah penduduk dan aktivitas penduduk. Adanya pertumbuhan penduduk akan mengakibatkan meningkatnya permintaan lahan yang dipergunakan untuk menyelenggarakan kegiatan.Sementara lahan merupakan sesuatu yang bersifat terbatas, hal ini tentu saja akan menimbulkan persaingan dan konflik kepentingan dalam pemanfaatannya di antara penggunaan lahan kota.Oleh karena itu penelitian ini dilakukan  untuk melihat bagaimana kesesuaian antara rencana penggunaan lahan dengan penggunaaan lahan  yang terjadi  di lapangan . Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penggunaan lahan di kota ternate serta menganalisis penggunaan lahan tahun 2019 terhadap rencana penggunaan lahan dalam Rencana Tata Ruang WilayahKota TernateTahun 2010-2030. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara deskriptif kualitatif dan metode spasial, Analisis penggunaan lahan dilakukan dengan teknik tumpang tindih atau overlay antara data spasial yang berupa peta – peta yang dibuat dengan data atribut sebelumnya.Dari hasil penenltian disimpulkan menjadi 2 dari hasil identifikasi eksisting terdapat klarifikasi penggunaan lahan terbesar yaitu penggunaan lahan perkebunan seluas 4829,93 Ha dan terkecil untuk lahan kawasan bakau 1.73 Ha serta dari hasil analisis overlay terdapat beberapa ketidak sesuaian pada kondisi eksisting dan RTRW Kota Ternate Tahun 2010-2030 dengan luas 148.26 Ha yang terbagi pada wilayah kecamatan Pulau Ternate dengan luas  51.31 Ha, wilayah Kecamatan Ternate Barat dengan luas 46.25 Ha, wilayah Kecamatan Ternate Selatan dengan luas 21.59 Ha, wilayah Ternate Tengah dengan luas 11.16 Ha, wilayah Ternate Utara dengan luas 7.31 Ha.Kata Kunci : Penggunaan Lahan, Perubahan Fungsi Lahan
TINGKAT KETIMPANGAN WILAYAH DI KABUPATEN DARATAN DAN KABUPATEN KEPULAUAN. STUDI KASUS: KABUPATEN MINAHASA TENGGARA DAN KABUPATEN KEPULAUAN SITARO Hassanah, Jumiatun; Tondobala, Linda; Rengkung, Michael
SPASIAL Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketimpangan wilayah merupakan salah satu permasalahan yang masih umum terjadi di Negara Indonesia. Beberapa daerah mengalami kemajuan yang cepat namun di beberapa daerah lainnya mengalami ketertinggalan terutama pada daerah kepulauan yang sering terisolir karena pebedaan karakteristik wilayah dengan daerah daratan. Penelitian ini dilakukan di salah satu daerah daratan dan kepulauan di Provinsi Sulawesi Utara tepatnya di Kabupaten Minahasa Tenggara dan Kabupaten Kepulauan Sitaro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketimpangan wilayah berdasarakan PDRB menggunakan Index Williamson dan mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi ketimpangan wilayah dengan analisis factor PCA serta membentuk tipologi perkembangan wilayah dengan analisis gerombol (clustering analysis). Hasil dari penelitian ini adalah tingkat ketimpangan wilayah di Kabupaten Kepulauan Sitaro lebih tinggi daripada Minahasa Tenggara dan factor yang sangat berpengaruh terhadap ketimpangan di kepulauan sitaro adalah kontribusi PDRB dan aksesibilitas. Pembentukan tipologi perkembangan wilayah terbagi kedalam 3 cluster. Kecamatan yang termasuk dalam cluster 1 mempunyai tingkat perkembangan wilayah tinggi, cluster 2 sedang dan cluster 3 perkembangan wilayah rendah. Kata kunci: Ketimpangan wilayah; Kepulauan; Index Williamson; Factor pengaruh ketimpangan; Tipologi perkembangan wilayah
KESESUAIAN PEMANFAATAN LAHAN WILAYAH PESISIR DI KECAMATAN MANDOLANG Apena, Osiani; Rondonuwu, Dwight M; Poluan, Roosje J
SPASIAL Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesesuaian lahan land suitability merupakan kecocokan adaptability suatu lahan untuk tujuan penggunaan tertentu, melalui penentuan nilai (kelas) lahan serta pola tata guna lahan yang dihubungkan dengan potensi wilayahnya, sehingga dapat diusahakan penggunaan lahan yang lebih terarah berikut usaha pemeliharaan kelestariannya. Pesisir merupakan wilayah yang rentan terhadap perubahan, baik perubahan yang terjadi karena proses alami dan perubahan karena campur tangan manusia. Kegiatan-kegiatan di kawasan pesisir seperti perikanan tangkap, perikanan budidaya (tambak), pelabuhan, pariwisata, permukiman dan suaka alam dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem dan geomorfologi kawasan pesisir. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian di kawasan pesisir Kecamatan  Mandolang untuk mengetahui pemanfaatan lahan dan kesesuaiannya sehingga dapat memberikan masukan untuk kebijakan lingkungan yang dapat diterapkan di kawasan pesisir Kecamatan Mandolang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pola perubahan pemanfaatan lahan terbangun di wilayah pesisir Kecamatan Mandolang dan Menganalisis tingkat kesesuaian pemanfaatan lahan di wilayah pesisir Kecamatan Mandolang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dengan analisis spasial untuk mengetahui kesesuaian lahan pemanfaatan lahan pesisir di kecamatan mandolang. Bedasarkan hasil analisis kesesuaian lahan Kawasan pesisir di kecamatan mandolang, dapat di interpretasikan terdapat tiga fungsi lahan yang ada di Kecamtan Mandolang yaitu lahan yang sesuai, lahan yang kurang sesuai dan lahan yang tidak sesuai. Hasil dari analisis diketahui luas untuk kategori lahan sesuai adalah 713,34  Ha dengan presentase 53%, luas untuk kategori lahan kurang sesuai adalah 215,39 Ha dengan presentase 16% dan luas untuk kategori lahan tidak sesuai adalah 419,59Ha dengan presentase 31% dari luas wilayah. Kata Kunci : Kesesuaian Lahan, Pemanfaatan Kawasan Pesisir, Kecamatan Mandolang.
ANALISIS PERKEMBANGAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN PINELENG TAHUN 2009-2018 (STUDI KASUS : KECAMATAN PINELENG) Timbayao, Novi Yolensi; Takumansang, Esli D
SPASIAL Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permukiman merupakan wilayah yang memiliki peningkatan di karenakan adanya pertumbuhan penduduk yang pesat sehingga kebutuhan akan tempat tinggal yang menjadi pokok kebutuhan manusia menjadi meningkat , kejadian ini juga mempengaruhi lahan yang merupakan potensi fisik atau sumber daya alam yang secara kuantitas tidak akan bertambah, sedangkan pertumbuhan penduduk senantiasa mengalami perkembangan cukup pesat dari waktu ke waktu. Hal ini akan menimbulkan ketidakseimbangan antara kebutuhan penduduk akan lahan yang tidak terbatas dengan jumlah lahan yang terbatas. Kecamatan Pineleng memiliki laju pertumbuhan penduduk per tahun paling tinggi di Kabupaten Minahasa yaitu pada tahun 2010-2017 dengan angka pertumbuhan 2,62%, tingginya pertumbuhan penduduk membuat kebutuhan akan tempat tinggal menjadi meningkat dengan letak kecamatan pineleng yang berada di antara dua kota yaitu kota manado dan tomohon sehingga kecamatan pineleng menjadi kawsan yang strategis untuk bermukim dilihat dari perkembangan permukiman yang meningkat pada tahun 2009-2018 di beberapa Desa yaitu Desa Sea Tumpengan, Sea Mitra, Winangun Atas, Pineleng Satu, Lotta,dan Pineleng Dua. Kata Kunci: Perkembangan Permukiman, Pola Permukiman.
ANALISIS SPASIAL SEBARAN LAHAN KRITIS DI KAWASAN DANAU MOOAT KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR Makalalag, Mira Fara Mutiara; Takumansang, Esli D; Tarore, Raymond Ch
SPASIAL Vol 7, No 3 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menurut Rencana Tata Ruang Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Danau Mooat merupakan kawasan suaka alam.  Kawasan suaka alam di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur adalah kawasan yang harus dilindungi dan di jaga keberadaannya oleh pihak – pihak terkait serta masyarakat yang tinggal atau bermukim dalam kawasan tersebut. Pemetaan lahan kritis pada kawasan Danau Mooat diperlukan untuk perencanaan penggunaan tata guna lahan dan pengelolaan Danau Mooat untuk menunjang kehidupan masyarakat dengan adanya identifikasi dan pemetaan ini dapat diketahui perubahan kondisi lahan dilihat dari lahan kritis yang terjadi di wilayah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi sebaran lahan kritis pada kawasan Sekitar Danau Mooat dan menganalisis kondisi pemanfaatan ruang di Kawasan Sekitar Danau Mooat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian, luas lahan kritis di Kawasan Danau Mooat adalah ± 6.454 Ha, dengan luas lahan kritis terbesar berada di Desa Tobongan dengan luas ± 3.413 Ha. dan paling rendah luasan lahan kritis adalah Desa Bongkudai Baru ± 332 Ha. Penggunaan lahan di kawasan Danau Mooat terdiri dari Perkebunan/Kebun, Danau/ Situ, Hutan Lahan Kering, Tegalan/Ladang, Permukiman dan Tempat Kegiatan, dan Semak Belukar. Penggunaan Lahan terbesar berada Hutan Lahan Kering dengan luas ± 4.836 Ha sedangkan yang paling terkecil yaitu penggunaan lahan Danau/Situ ± 37 Ha.Kata Kunci : Lahan Kritis, Danau Mooat
ANALISIS KAWASAN PARIWISATA PESISIR PANTAI DI KECAMATAN KOMBI KABUPATEN MINAHASA Dapas, Gisella A; Tilaar, Sonny; Mononimbar, Windy
SPASIAL Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata cukup dominan sebagai penggerak pembangunan di Indonesia dan telah memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat dan pemerintah. Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara khususnya di Kecamatan Kombi memiliki kawasan objek wisata alam pantai yang indah namun belum terekspos dan terkelola dengan baik khususnya pada aspek prasarana dan sarana pariwisata. Berdasarkan hal itu maka dilakukan analisis mengenai kondisi prasarana dan sarana pada objek wisata di Kecamatan Kombi. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan menganalisis faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pengembangan kawasan pariwisata pesisir pantai menggunakan analisis SWOT untuk menentukan kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang, serta strategi pengembangan kawasan wisata pesisir pantai sesuai dengan variabel-variabel pariwisata yang ada. Metode analisis menggunakan pedoman analisis daya tarik objek wisata alam (ODTWA) sebagai pedoman dalam menetapkan skala prioritas pengembangan objek daya tarik wisata (ODTWA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi prasarana dan sarana masih perlu ditingkatkan; faktor-faktor internal dan external analisis pengembangan kawasan wisata pesisir pantai di Kecamatan Kombi dengan strategi pengembangannya yaitu mempromosikan wisata; memanfaatkan fasilitas yang sudah ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan; dan pelatihan untuk masyarakat dalam pengelolaan objek wisata.Kata Kunci:Analisis, Kecamatan Kombi Pariwisata, Pesisir Pantai, SWOT
TIPOLOGI URBAN SPRAWL BERDASARKAN ATRIBUT KONTINUITAS AREA TERBANGUN DI KECAMATAN BIRINGKANAYA DAN KECAMATAN TAMALANREA, KOTA MAKASSAR Lolokada, Theresia Wangi; Rogi, Octavianus H. A.; Poluan, Roosje J
SPASIAL Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mekanisme perkembangan Kota Makassar menyebabkan perkembangan kawasan perkotaan di kawasan pinggiran atau sub urban yang ditunjukkan melalui urban sprawl, yaitu suatu perkembangan wilayah perkotaan yang terjadi di kawasan pinggiran secara tidak teratur .Beberapa kecamatan yang mengalami urban sprawl di Kota Makassar adalah Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Tamalanrea yang mengalami pertumbuhan penduduk cukup pesat dari tahun ke tahun. Didukung dengan luas wilayah Kecamatan Biringkanaya sebesar 48,22 km2 atau 27,43% dari total luas daratan Kota Makassar dan luas wilayah Kecamatan Tamalanrea  31,84 km² atau 18,2%  dari total luas daratan kota Makassar, tentunya akan berpengaruh pula terhadap pertumbuhan penduduk di lokasi penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui intensitas urban sprawl berdasarkan atribut kontinuitas area terbangun dan mengidentifikasi tipe sprawl di Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Tamalanrea di Kota Makassar. Penelitian ini menggunakan analisis dengan metode penelitian kuantitaif dengan pendekatan deskriptif.Hasil penelitian terdapat 2 tingkatan urban sprawl di Kecamatan Biringkanaya dan Kecamatan Tamalanrea, yaitu tingggi, dan rendah dan tipe urban sprawl adalah tipe lompatan katak (leapfrog development),tipe linier (ribbon development) dan tipe konsetris.Kata Kunci: urban sprawl, intensitas, atribut
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI KEPULAUAN SIAU KABUPATEN KEPULAUAN SIAU TAGULANDANG BIARO Lamanongko, Nadya G; Tarore, Raymond Ch; Karongkong, Hendriek H
SPASIAL Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesesuaian lahan pada hakekatnya merupakan penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu (Soemarno, 2006). Kondisi topografi Kepulauan Siau pada umumnya memiliki bentuk wilayah yang berbukit dan bergunung, dan memiliki kemiringan lereng yang curam. Meskipun curam, daerah ini masih dimanfaatkan penduduk untuk ditanami dengan tanaman perkebunan seperti kelapa, cengkeh dan pala. Daerah yang datar relatif sempit dan umumnya hanya terdapat di pesisir pantai yang dijadikan tempat pemukiman penduduk, seperti di Ulu, Ondong (P.Siau). BAB 5 Tentang Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Pasal 37 Menetapkan bahwa Kawasan peruntukkan permukiman sebagaimana dimaksud pada Pasal 33   huruf d di wilayah Kabupaten adalah kawasan yang secara teknis dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pemukiman yang sehat, nyaman dan aman dari bahaya bencana alam, yang terdiri dari permukiman perkotaan meliputi permukiman di Kawasan Perkotaan Ulu, Kawasan Perkotaan Ondong dan Kawasan Perkotaan Buhias dan permukiman perkampungan meliputi permukiman yang terbentuk di kawasan perkampungan sebagai sentra produksi yang tersebar di seluruh wilayah Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.  Undang-Undang No 1 Tahun 2011 menjelaskan bahwa permukiman merupakan bagian dari lingkungan hunian yang terdiri lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana , utilitas umum , serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan pedesaan. Penelitian ini bertujuan Mengidentifikasi eksisting penggunaan lahan permukiman di kepulauan siau dan Menganalisis kesesuaian lahan permukiman di kepulauan siau. Dengan manfaat Hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman dalam menganalisis kesesuian lahan permukiman di kepulauan siau kabupaten siau tagulandang biaro, Merekomendasi untuk pemerintah dalam menangani masalah yang terjadi dalam kesesuaian lahan permukiman di kepulauan siau dan Hasil penelitian ini dapat juga memberikan pemahaman terhadap masyarakat dan pihak lainnya.Kata Kunci: Kemampuan Lahan ,Kesesuaian Lahan ,Kesesuaian Lahan Permukiman