cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Perbandingan Inklinasi dan Ukuran Rahang antara Orang Jawa Buta dan Normal C. Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4244.559 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15396

Abstract

Latar Belakang. Penglihatan merupakan salah satu faktor yang diperlukan untuk mengontrol postur kepala. Postur kepala berhubungan dengan kompleks kraniofasial. Maksila dan mandibula merupakan bagian dari kompleks kraniofasial. Pada orang buta terjadi penyimpangan pertumbuhan dan perkembangan daerah orbita karena tidak adanya rangsang. Tujuan Penelitian adalah untuk mempelajari perbandingan inklinasi dan ukuran rahang berdasarkan jenis kelamin antara orang Jawa buta dan normal. Metode Penelitian. Penelitian ini dilakukan terhadap 53 subjek, terdiri dari 25 orang buta ( 12 orang laki-laki dan 13 orang perempuan) dan 28 orang normal (14 orang laki-laki dan 14 orang perempuan). Setiap subjek penelitian dilakukan pengambilan sefalogram lateral pada posisi alamiah kepala, kemudian dilakukan penapakan pada kertas kalkir di atas iluminator. Pengukuran sembilan parameter inklinasi dan ukuran maksila dan mandibula dilakukan pada hasil penapakan. Data dianalisis dengan uji Anava dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang tidak bermakna (p<0,05). Panjang mandibula dan panjang basis mandibula laki-laki normal lebih besar daripada perempuan normal dan kelompok buta, serta perempuan normal lebih besar daripada perempuan buta (p<0,05). Kesimpulan Ukuran maksila laki-laki buta lebih besar daripada perempuan normal. Panjang mandibula dan panjang basis mandibula laki-laki normal lebih besar daripada perempuan normal lebih besar daripada perempuan normal, laki-laki buta, dan perempuan buta, serta perempuan normal lebih besar daripada perempuan buta. Background Vision is one of the factors involved in the control of head posture. The posture of the head is related to craniofacial complex. Maxilla and mandible are part of craniofacial complex. In the blind there are deviations of growth and development of the orbital region in the absence of stimuli. The purpose of this study was to compare the inclinations and sizes of maxilla and mandible of the blind and normal Javanese subjects. Methods the research was conducted on 53 subjects, consisting of 25 blind subjects (12 men and 13 women) and 28 normal subjects (14 men and 14 women). Each subject of the research conductes on the lateral sefalogram in natural head position, then trace on tracing paper over the illuminator. In the nine-parameter measurements performed tracing inclination and size of the maxilla and mandible. Data were analyzed with two way ANOVA. The results showed that there were no significant differences (p<0.05) on the inclination of the maxillary, mandibular inclination, maxillary base length, and shape of the mandible between the blind and normal Java as well as between the sexes. The size of the blind males maxilla larger than normal females (p<0.05). the length of the mandible and the mandibular base length of the normal males larger than normal and the blind females, as wella as normal females is greater than the blind females (p<0.05). The conclusion The size of the maxilla of the blind males larger than normal females. The length of the mandible and the mandibular base length of the normal males larger than normal females, the blind males, and the blind females, as well as normal females is greater than the blind females.
Perbandingan kekerasan mikro dentin mahkota setelah aplikasi berbagai bahan bleaching intrakoronal Apriko Merza; Billy Sujatmiko; Rinda Yulianti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.29 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11261

Abstract

Comparing microhardness of dentine crown after application of various intracoronal bleaching agents. The aim of this study is to compare microhardness of dentine crown after treatment with intracoronal bleaching agents. The method of this study was an experimental laboratory. Thirty two extracted human mandibular first premolars without caries, sectioned at 2 mm below Cemento-Enamel Junction were divided into four groups and bleaching agents were sealed into the pulp chambers as follows: group A – 45% carbamide peroxide, group B – 35% hydrogen peroxide, group C – sodium perborate mixed aquadest and group D – aquadest. Access cavities were sealed and then stored in aquadest at 37 °C. Bleaching procedures were performed on days 0, 7, 14 and 21. After 28 days, the teeth were sectioned longitudinally, and planted on acrylyc. Microhardness of dentine crown was measured by vickers microhardness tester. One Way ANOVA and LSD were used to evaluate the effect of intracoronal bleaching agents on microhardness of dentine crown. The results showed that average values of microhardness of dentine crown on group A was 45,04 VHN, group B was 45,42 VHN, group C was 55,22 VHN and group D was 55,63 VHN. In clonclusion, there was si gnificantly different microhardness of dentine crown between group 45% carbamide peroxide and 35% hidrogen peroxide with sodium perborate mixed aquadest, but between group 45% carbamide peroxide with 35% hidrogen peroxide there was no significant difference.ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan kekerasan mikro dentin mahkota setelah aplikasi berbagai bahan bleaching intrakoronal. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Sebanyak 32 gigi premolar pertama mandibula tanpa karies, telah diekstraksi, dipotong 2 mm di bawah cemento-enamel junction dibagi dalam 4 kelompok dan bahan bleaching dimasukkan ke dalam kamar pulpa, yaitu kelompok A – 45% karbamid peroksida, kelompok B -35% hidrogen peroksida, kelompok C - sodium perborat dikombinasikan dengan aquadest, dan kelompok D – aquadest. Akses kavitas ditutup kemudian disimpan di dalam aquadest dengan suhu 37 °C. Prosedur bleaching dilakukan pada hari ke-0, 7, 14 dan 21. Setelah 28 hari, mahkota gigi dipotong secara longitudinal dan salah satu bagian ditanam di akrilik. Nilai kekerasan mikro dentin mahkota diuji menggunakan Vickers microhardnes tester. One way ANOVA dan uji LSD digunakan untuk mengevaluasi pengaruh berbagai bahan bleaching intrakoronal terhadap kekerasan mikro dentin. Hasil penelitian menunjukkan nilai kekerasan mikro dentin mahkota pada kelompok A sebesar 45,04 VHN, kelompok B sebesar 45,42 VHN, kelompok C sebesar 55,22 VHN dan kelompok D sebesar 55,63 VHN. Kesimpulan dari penelitian ini terdapat perbedaan kekerasan mikro dentin mahkota yang signifikan antara kelompok 45% karbamid peroksida dan 35% hidrogen peroksida dengan sodium perborat dikombinasikan dengan aquadest, sedangkan antara kelompok 45% karbamid peroksida dengan 35% hidrogen peroksida tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Dampak Pemakaian Alat Ortodontik terhadap Kesehatan Jaringan Periodontal Sri Pramestri Lastianny
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2612.809 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15547

Abstract

Pendahuluan. Perawatan ortodontik terutama yang cekat sudah banyak digunakan, bahkan akhir-akihir ini tidak hanya untuk kepentingan perawatan maloklusi gigi, tapi juga untuk estetika. Namun banyak pasien mengeluh adanya peradangan, bau mulut bahkan sampai terjadinya periodontitis berat, sampai kegoyahan gigi. Tujuan penulisan. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari pemakaian alat ortodontik terhadap kesehatan jaringan periodontal. Dampak tersebut ditinjau dari efek alat ortodontik yang dapat meningkatkan akumulasi plak, iritasi yang ditimbulkan pada pemakaian band dan braket pada alat ortodontik, juga akibat tekanan yang ditimbulkan pada jaringan periodontal. Kesimpulan. Untuk meminimalkan dampak pemakaian alat ortodontik tersebut, seharusnya ditekankan pentingnya plak kontrol, juga harus dipertimbangkan tekanan yang diberikan pada jaringan periodontal.  Introduction. Fixed orthodontic appliances is widely used, not only for treatment dental malacclusion, but also for aestetically. But many patient complain of gingival inflamation, severe periodontitis, event to luxation tooth. The aim of this review. Was to know the side effects of orthodontic appliances for periodontal healthy. Which was evaluated the effect of orthodontic appliances could increased the number of plaque retention, irritation of use appliances and also the pressure of this orthodontic appliances on periodontal tissues. The conclusion. To minimize the side effect of using orthodontic appliances, beside instruction for controle plaque, also consider the pressure exerted for periodontal tissues.
Penggunaan Karet Elastik Vertikal pada Perawatan Kasus Open Bite dengan Alat Ortodontik Teknik Begg Marlin Himawati; Wayan Ardhana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2629.608 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16022

Abstract

Karet elastik ortodontik dapat digunakan pada berbagai macam maloklusi, yaitu maloklusi kelas I, kelas II, kelas III, terutama pada kasus open bite. Efek dari penggunaan elastik adalah pergerakan horizontal, vertikal, transversal, distalisasi dan mesialisasi mandibula, ekstrusi gigi, space closing, midline shifting, perbaikan hubungan intercanine dan opening bite. Ada berbagai macam bentuk karet dengan ukuran dan kekuatan yang berbeda-beda tergantung dari rencana perawatan yang diinginkan. Tujuan dari artikel ini untuk menerangkan manfaat dari karet elastik pada kasus open bite. Pada laporan ini disajikan dua kasus open bite. Kasus: perempuan 19 tahun mengeluhkan gigi depan atas miring, terbuka dan berjejal. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas I, skeletal klas I dengan bimaksiler dan bid ental protrusi, disertai anterior dan posterior open bite. Kasus kedua, perempuan 15 tahun, keluhan tidak bisa menggigit dengan baik karena gigitannya terbuka. Diagnosis: maloklusi Angle klas I, skeletal kelas II dengan maksila protrusif, disertai anterior open bite. Pada kedua kasus dilakukan perawatan dengan alat ortodontik cekat teknik Begg. Karet elastik vertikal digunakan pada saat koreksi open bite dan interdigitasi. Hasil: koreksi inklinasi gigi-gigi rahang atas dan bawah, overjet dan overbite terkoreksi, tidak ada sisa ruang, koreksi aksial gigi-gigi, dan perbaikan interdigitasi sesuai dengan oklusi normal. Penggunaan karet elastik vertikal pada perawatan ortodontik cekat dengan teknik 8egg dapat mengoreksi kasus open bite dan memperbaiki interdigitasi pasien.
Pengaruh variansi konsentrasi ekstrak kulit batang jambu mete terhadap sitotoksikitas sel fibroblas H. Harsini; Ahmad Febri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.016 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10730

Abstract

The influence of cashew stembark extract on citotoxicity fibroblast. The aim of this study was to determine the effect of variation in the concentration of cashew stem bark extract as the base material of mouthwash of the cytotoxic effect on fibroblast cells. The material used in this study was cashew stem bark extracted by maceration method using 70% of ethanol. A total of 15 samples were grouped into 5, each of which consisted of 3 samples (ISO 10993-5). Concentrations used were 1.6%, 0.8%, 0.4%, 0.2% and 0.05%. Cytotoxicity test used the MTT method by comparing the optical density (ELISA plate reader) between treated groups with control groups. Cell viability was obtained by comparing the treated groups with control groups. Cell viability data was analyzed using one-way ANOVA and LSD. The results showed that cashew stem bark has an anticardia acid. Cytotoxicity test used the mean of fibroblast cell viability due to various cashew stem bark extracts successively from concentrations 1.6%, 0.8%, 0.4%, 0.2% and 0.05% with the mean of 15.35 ± 0.443%, 30.84% ± 1.59, 47.78 ± 8.09%, 65.74% ± 3.20, 74.95 ± 7.26%. ANOVA showed a significant influence of various cashew stem bark on cell viability (p<0,05). The results of LSD showed a significant difference between treated groups except between concentrations 0.95% and 0.2%. In conclusion, Cashew extract have anacardic acid and there was influence on various cashew stem bark extract concentrations on the cytotoxicity of fibroblast cell. The concentration of 2% was not cytotoxic.ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan ekstrak kulit batang jambu mete dan pengaruh variasi konsentrasi terhadap sitotosisitas sel fibroblas. Penelitian ini menggunakan bahan kulit batang jambu mete (Mojolegi) yang diindentifikasi dan diekstrak menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Ekstrak diuji kandungannya menggunakan metode KLT (Kromatografi  Lapis Tipis). Uji sitotoksikistas menggunakan sampel sejumlah 15 dikelompokkan menjadi 5, masing-masing kelompok 3 (ISO-10993-5). Variasi konsentrasi adalah 1,6%, 0,8%, 0,4%, 0,2% dan 0,05%. Uji sitotoksikitas menggunakan metode MTT dengan cara membandingkan optical density (ELISA plate reader) antar kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Viabilitas sel didapatkan dengan membandingkan nilai optical density pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Data viabilitas sel dianalisis menggunakan ANAVA satu jalur dan LSD. Hasil penelitian menunjukkan rerata ekstrak mengandung senyawa asam anakardat dan asam galat. Uji sitotoksikistas sel fibroblas akibat variasi ekstrak kulit batang jambu mete secara berturut-turut dari konsentrasi 1,6%, 0,8%, 0,4%, 0,2% dan 0,05% dengan rerata sebesar 15,35% ± 0,443, 30,84% ± 1,59, 47,78% ± 8,09, 65,74% ± 3,20, 74,95% ± 7,26. Uji ANAVA menunjukkan adanya pengaruh variasi konsentrasi ekstrak kulit batang jambu mete bermakna terhadap viabilitas sel (p<0,05). Hasil uji LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) antar kelompok perlakuan, kecuali antara konsentrasi 0,05% dengan konsentrasi 0,2%. Kesimpulan Ekstrak kulit batang jambu mete mengandung asam anakardat dan asam galat dan terdapat pengaruh variasi konsentrasi ekstrak kulit batang jambu mete terhadap sitotoksikitas sel fibroblas. Konsentrasi 0,2% merupakan konsentrasi yang tidak toksis terhadap sel fibroblas secara in vitro. 
Rehabilitasi Pasien Karsinoma Sel Skuamosa Pasca Bedah Menggunakan Obturator dengan Magnet Fahmi Yunisa; Murti Indrastuti; Suparyono Saleh
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2720.793 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15537

Abstract

Latar Belakang. Tindakan pembedahan pada pasien dengan kanker rongga mulut dapat mengakibatkan terjadinya defek di area intra oral dan maksillofasial. Defek tersebut dapat mengakibatkan terganggunya fungsi normal rongga mulut, yaitu mengunyah, bicara dan estetis, serta mengurangi rasa percaya diri. Untuk megatasinya diperlukan rehabilitasi fungsi rongga mulut berupa pembuatan obturator. Tujuan. Rehabilitasi defek pasca bedah pada pasien karsinoma sel skuamosa yang melibatkan palatum keras, sebagian palatum lunak, rongga hidung dan sinus maksilaris. Laporan Kasus dan Penatalaksanaan. Seorang pasien laki-laki, usia 74 tahun, datang ke klinik prostodonsia RSGM UGM, atas rujukan dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, untuk dibuatkan hidung dan penutup untuk langit-langit mulutnya yang terbuka. Pasien merasa malu karena kondisi hidungnya yang hilang dan terbuka, serta susah untuk menelan makanan dan jika berbicara kurang jelas karena langit-langit mulutnya juga hilang/terbuka. Pasien telah menjalani operasi pembedahan hidung dan palatum, karena terdiagnosa karsinoma sel skuamosa. Pemeriksaan obyektif menunjukkan terdapat defek yang cukuo besar pada rongga hidung dan palatum durum dan sebagian palatum molle. Gigi yang tersisa pada rahang atas hanya gigi 23. Perawatan yang dilakukan adalah dengan pembuatan protesa hidung dan obturator. Obturator dibuat dari bahan resin akrilik dengan klamer C pada gigi 23. Untk menambah kekuatan retensi maka ditambahkan magnet di fitting surface obturator yang dilekatkan dengan protesa hidung. Kontrol dilakukan 1 bulan kemudian. Pasien merasa nyaman menggunakan obturator dengan penguat magnet pada protesa hidung. Pasien bisa menelan makanan dan bicaranyapun sudah lebih jelas. Pasien juga merasa obturatornya tidak mudah lepas, ketika menelan makanan maupun saat berbicara. Kesimpulan. Penggunaan obturator dengan magnet dapat mengembalikan fungsi normal rongga mulut akibat defek pasca bedah, serta mengembalikan rasa percaya diri pasien. Background. Surgery in patients with cancer of the oral cavity can result in defects in the area of intra-oral and maxillofacial. Defects can lead to discruption of the normal functions of the oral cavity, ie chewing, talking and aesthetic, as well as reducing confidence. In order to fix the function, the patient needed rehabilitation of oral function such as the manufacture of the obturator. Objective. Postoperative rehabilitation defects in patients with squamous cell carcinoma involving the hard palate, part soft palate, nasal cavity and the maxillary sinus. Case Report and Management. A male patient, aged 74, came to the clinic of prosthodontics Gadjah Mada University Dental Hospital, upon referral from the Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta. He wanted to make the nose and the cover for his open mouth roof. He feels embarrassed because of the condition of his nose was missing and open, as well as difficult to swallow food and if he talk was less obvious because of the condition of his nose was missing and open, as well as difficult to swallow food and if he talk was less obvious because the roof of his mouth is also missing/open. He had undergone nose and palate surgery, as diagnosed squamous cell carcinoma. The objective examination shows that there substantial defects in the nasal cavity and hard palate and part of the soft palate. The remaining teeth in the upper jaw only element 23. The treatment that performed in this patient was making the nose and obturator prosthesis. Obturator is made of acrylic resin with C clamer on teeth 23. In order to add strength retention, there was addition of magnet on the obturator fitting surface that attached to the nose prosthesis. The control performed one month later. Patient feels comfortable using the obturator prosthesis with magnetic on nose prosthesis. He can already swallow food again and the talk has been clearer. He also feels comfort since the obturator was not easily escape, while swallowing food or speaking. Conclusion. The use of the obturator with magnets can restore the normal function of the oral cavity caused by post-surgical defect and restore the confidence of the patient.
Gambaran kualitas hidup pasien lansia pengguna gigi tiruan lepasan di RSGM Unpad Cindy Annisa Melati; Sri Susilawati; Rasmi Rikmasari
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.535 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.17834

Abstract

Description of quality of life on elderly patients with removable denture at RSGM Unpad. The elderlies are prone to the process of the gradual decreasing ability of the tissue for self-healing. This process greatly affects the dental structure and periodontal tissue leading to tooth decay. When it is not properly treated, it may disturb oral functions and activities influencing their life quality. This research, therefore, aims to obtain the description of quality of life on elderly patients with removable denture at the Prosthodontic Clinic RSGM Unpad. Research was conducted with a descriptive method using the consecutive technique sampling method. Data were collected from 31 elderly patients with removable denture at the Prosthodontic Clinic RSGM Unpad and quality of life was measured by GOHAI questionnaire. The results showed that the dimensions of physical function fell into the adequate criteria, while the dimensions of pain and inconvenience and psychosocial aspects were considered good. It can be concluded that the general quality of life on elderly patients with removable denture at the Prosthodontic Clinic RSGM Unpad were good. ABSTRAKPada lansia terjadi suatu proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri yang disebut proses menua. Proses tersebut berpengaruh terhadap gigi dan jaringan periodontal sehingga mengakibatkan kehilangan gigi. Jika kehilangan gigi tidak diberi perawatan dapat mengganggu fungsi dan aktivitas rongga mulut sehingga akan mempunyaidampak pada kualitas hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pasien lansia pengguna gigi tiruan lepasan di Instalasi Prostodonsia RSGM Unpad. Jenis penelitian adalah deksriptif dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik populasi terjangkau dengan minimal sampling. Data dikumpulkan dari 31 pasien lansia pengguna gigi tiruan lepasan di Instalasi Prostodonsia RSGM Unpad. Kualitas hidup diukur dengan menggunakan kuesioner GOHAI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi fungsi fisik berada pada kriteria cukup, dimensi nyeri dan ketidaknyamanan berada pada kriteria baik dan dimensi aspek psikososial berada pada kriteria baik. Kesimpulan penelitian menunjukkan kualitas hidup pasien lansia pengguna gigi tiruan lepasan di Instalasi Prostodonsia RSGM Unpad dikategorikan baik.
Efek Ketebalan Semen Ionomer Kaca dan Resin Komposit terhadap Kekuatan Tekan Tumpatan Sandwich Tunjung Nugraheni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2258.233 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15974

Abstract

Tuntutan masyarakat terhadap tumpatan sewarna gigi semakin tinggi. Pada kasus-kasus tertentu teknik restorasi dengan menggunakan dua bahan restorasi yang berbeda (teknik tumpatan sandwich) diperlukan untuk mendapatkan restorasi yang dapat melekat kuat dan mempunyai estetika yang bagus. Teknik tumpatan sandwich yang sering dilakukan adalah menggunakan semen ionomer kaca dan resin komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek perbedaan ketebalan semen ionomer kaca dan resin komposit terhadap kekuatan tekan tumpatan sandwich secara in vitro. Pada penelitian ini digunakan 40 subjek penelitian berupa tumpatan sandwich yang dibuat pada cetakan fiber dengan kavitas berbentuk sHinder dengan diameter 5 mm dan tinggi 5 mm. Semua kavitas ditumpat dengan semen ionomer kaca dan resin komposit dengan teknik sandwich, dengan perbandingan ketebalan yang berbeda. Kelompok I dilakukan penumpatan semen ionomer kaca tipe II dan resin komposit packable dengan perbandingan 1:4, kelompok II dengan perbandingan 2:3, kelompok III dengan perbandingan 3:2, kelompok IV dengan perbandingan 4:1. Selanjutnya seluruh subjek penelitian direndam dalam saliva tiruan pH 6,7 dan disimpan pada suhu 370C selama 24 jam dalam inkubator, kemudian diukur kekuatan tekan menggunakan alat uji tekan Universal Testing Machine. Hasil analisis dengan Anava satu jalur menunjukkan perbedaan ketebalan semen ionomer kaca dan resin komposit mempunyai efek yang bermakna terhadap kekuatan tekan tumpatan sandwich (p < 0,05). Hasil uji LSD rerata kekuatan tekan antar kelompok 1,11,III dan IV berbeda bermakna (p < 0,05), dapat disimpulkan bahwa perbedaan ketebalan semen ionomer kaca dan resin komposit berpengaruh terhadap kekuatan tekan tumpatan sandwich.
Restorasi Resin Komposit dengan Pasak Fiber Reinforced Composite untuk Perbaikan Gigi Insisivus Sentralis Maksila Pasca Trauma Mella Synthya Dewi; Tunjung Nugraheni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5584.68 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16486

Abstract

Latar belakang. Trauma pada gigi dapat menyebabkan injuri pulpa dengan atau tanpa kerusakan mahkota atau akar. Pulpektomi menjadi pilihan perawatan pada fraktur mahkota yang membutuhkan restorasi kompleks. Gigi pasca perawatan saluran akar biasanya telah kehilangan struktur jaringan keras yang cukup banyak sehingga membutuhkan retensi intrakanal berupa pasak untuk mendukung restorasi akhir. Pasak Fiber Reinforced Composite (FRG) memiliki flexure dan fatigue strength yang lebih besar, modulus elastisitas yang mendekati dentin, kemampuan untuk membentuk monoblok (kompleks akar-pasak) dalam saluran akar, dan meningkatkan estetik jika dibandingkan dengan pasak logam. Resin komposit memiliki warna dan translusensi yang menyerupai dentin dan email sehingga mampu menghasilkan estetik yang baik pada gigi anterior. Tujuan. Melaporkan restorasi resin komposit dengan pasak FRG untuk memperbaiki gigi insisivus sentralis maksila yang mengalami fraktur mahkota kompleks pasca trauma. Kasus dan penanganan. Perempuan 20 tahun, gigi insisivus sentralis kanan dan kiri maksila mengalami Fraktur Ellis klas III akibat kecelakaan. Gigi 11 pulpitis ireversibel dan gigi 21 nekrosis pulpa. Kedua gigi malposisi. Dilakukan pulpektomi atau perawatan saluran akar multi kunjungan. Resin komposit dengan pasak FRG customized digunakan sebagai restorasi akhir. Kesimpulan. Restorasi resin komposit dengan pasak FRG customized memberikan hasil yang memuaskan secara estetik dan fungsional untuk merestorasi gigi insisivus sentralis pasca trauma dan perawatan saluran akar.
Apeksifikasi dengan mineral trioxide aggregate dan perawatan intracoronal bleaching pada gigi insisivus sentralis kiri maksila non vital diskolorasi I. Inajati; Raphael Tri Endra Untara
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1124.831 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11251

Abstract

Affecification with mineral trioxide aggregate and care of intracoronal bleaching on the non vital discoloration maxillary left central incisor. Maxillary anterior teeth in children and adults often experience trauma. This later makes the dental pulp roots that are not completely formed face the necrosis and apical closure stop later causing the apex wide and open. The opened apex can be coped with the care of affecification. Mineral Trioxide Aggregate (MTA) is the best material of affecification used for the formation of apical barrier. The purpose of this case report was to report the achievement of the apical sealing using MTA in the non-vital permanent maxillary left central incisor with the opened apical due to the trauma. The complaints of male patients aged 20 years was about the broken and discoloured left upper front teeth and becomes a traumatic event since the age of 10 years due to a fall and hit the cement floor. A clinical examination of non-vital teeth used the fracture Ellis IV class with wide open apex and discoloration. The radiographic image showed a widely opened apex with large root canal and there was a periapical radiolucency. The treatment given was affecification with MTA followed obturation with gutta-percha and sealer AH 26. In the following week it was continued with intracoronal bleaching with the application of sodium perborate and 30% hydrogen peroxide. Before treatment, the teeth were brownish (C4) and after treatment it turned into yellowish white (B2). A week after the bleaching treatment was completed and the installation of fibre post was done, followed by giving the composite resin restorations class IV cavity. The 2-week control later showed no abnormalities. In conclusion, the affecification treatment with MTA can accelerate treatment with the formation of apical barrier that stimulates the healing and may be followed by obturation with guttap percha followed by doing intracoronal bleaching and final restoration. ABSTRAKGigi anterior rahang atas pada anak-anak maupun dewasa sering mengalami trauma. Akibatnya pulpa gigi yang akarnya belum terbentuk sempurna akan mengalami nekrosis, dan penutupan apeks terhenti yang menyebabkan apeks lebar dan terbuka. Apeks yang terbuka dapat diatasi dengan perawatan apeksifikasi. Mineral Trioxide Aggregate (MTA) adalah bahan pilihan terbaik yang dipakai sebagai bahan apeksifikasi untuk pembentukan apical barrier. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan keberhasilan penutupan apikal dengan menggunakan MTA pada gigi permanen insisivus sentralis kiri maksila non vital dengan apikal yang terbuka karena trauma. Pasien laki-laki usia 20 tahun dengan keluhan gigi depan atas kiri patah dan berubah warna. Kejadian trauma sejak usia 10 tahun karena jatuh dan terbentur lantai. Pemeriksaan klinis gigi non vital dengan fraktur Ellis kelas IV disertai apeks terbuka lebar dan diskolorasi. Pada gambaran radiografis menunjukkan apeks yang terbuka lebar dengan saluran akar besar serta terdapat radiolusensi periapikal. Perawatan yang dilakukan adalah apeksifikasi dengan MTA dilanjutkan obturasi dengan gutta percha dan sealer AH 26. Setelah seminggu kemudian dilakukan intracoronal bleaching dengan aplikasi sodium perborat dan hidrogen peroksida 30%. Sebelum perawatan, gigi berwarna kecoklatan (C4) setelah dilakukan perawatan menjadi warna putih kekuningan (B2). Seminggu setelah perawatan bleaching selesai kemudian dilakukan pemasangan pasak fiber, dilanjutkan dengan restorasi resin komposit kavitas kelas IV. Kontrol 2 minggu kemudian tidak menunjukkan adanya kelainan. Kesimpulan hasil perawatan apeksifikasi dengan MTA dapat mempercepat waktu perawatan dengan terbentuknya barier apikal yang merangsang penyembuhan dan dapat dilanjutkan dengan obturasi dengan gutta percha, kemudian dilakukan bleaching intracoronal bleaching dilanjutkan dengan restorasi akhir.