cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Perawatan Crossbite Posterior pada Maloklusi Angle Klas III dengan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Trio Wijayanto; JCP Heryumani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2511.925 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15424

Abstract

Latar Belakang: Crossbite posterior merupakan hubungan abnormal dari gigi-gigi posterior secara bukolingual pada rahang atas atau bawah pada saat kedua lengkung gigi berada dalam oklusi sentrik yang dapat terjadi pada satu atau kedua sisi rahang. Posterior crossbite adalah maloklusi yang paling sering muncul pada masa gigi susu dan awal gigi bercampur. Tujuan Perawatan: mengoreksi crossbite posterior dan mengembalikan fungsi pengunyahan yang baik. Kasus: Perempuan 20 tahun dengan maloklusi Angle klas III disertai crossbite posterior kanan, crowding rahang atas dan bawah. Penanganan: menggunakan alat cekat teknik Begg dengan pencabutan gigi premolar I rahang atas kiri, kedua premolar I rahang bawah, cross elastik, toe-in, dan toe out digunakan untuk koreksi crossbite. Kesimpulan: Perawatan crossbite posterior dengan teknik Begg menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Prognatik mandibula berkurang, crossbite terkoreksi, overjet normal, overbite normal, dan fungsi pengunyahan menjadi lebih baik. Background: Posterior crossbite is defined as any abnormal bucal-lingual relations between posterior teeth of upper and lower jaw in centric occlusion which can occur in one side only or both. Posterior crossbite is one of the most prevalent malocclusion in primary and early mixed dentition. Purpose: to correct posterior and restore normal mastication. Case: 20 years old woman with Angle’s class II accompanied by posterior crossbite on the right side and crowding in anterior segment of upper and lower jaw. Management: using the Begg fixed appliance techniques with the extraction of upper left, and two lower first premolars. Cross elastic along with toe in and toe out on the main wire was used to correct posterior crossbite. Conclusion: Posterior crossbite treatment with Begg technique showed satisfactory results. Prognatism mandibula had reduced, regained normal overjet and overbite, and restored good mastication.
Plester sariawan efektif dalam mempercepat penyembuhan stomatitis aftosa rekuren dan ulkus traumatikus Rahmi Amtha; M Marcia; Anggia Irma Aninda
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.354 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.22097

Abstract

Mouth ulcer plaster is effective in accelerating the healing of recurrent aphthous stomatitis and traumatic ulcers. Recurrent aphthous stomatitis (RAS) is one of the most commonly occurring oral diseases. The prevalence of oral ulceration worldwide is 4%, with RAS having the largest proportion (25%). Recurrent aphthous stomatitis is oral ulceration which has a self-limiting disease, but the specific medication to reduce pain caused by lesion is still less varied nowadays. This study aimed to examine the differences in the effectiveness between topical application of hyaluronic acid (HA), mouth ulcer plaster (MUP) and 0.1% triamcinolone acetonide (TA) as a positive control in the healing of RAS and traumatic ulcers (TU). This was a quasi-experimental study by measuring the lesion diameter as well as visual analogue scale (VAS) pre- and post-administration of three types of medication. Kruskal-walis test results show that there are differences in effectiveness (p=0.000) of the three types of medication to cure RAS and TU. There are signicant differences in the reduction of RAS and TU lesion diameter (p = 0.015) and VAS (p = 0.038) with the use of HA and MUP on the 4th day. There is no signicant difference in effectiveness (diameter and VAS) of MUP and TA medication on the fourth day (p = 0.880 and p = 1.000 respectively). There is no signicant difference among HA, MUP and TA on the healing of the lesions on the seventh day (p>0.05). It can be concluded that the effectiveness of MUP is similar to that of topical medications containing corticosteroids in the healing of RAS and traumatic ulcers.ABSTRAKStomatitis aftosa rekuren (SAR) merupakan salah satu penyakit mulut yang paling umum terjadi. Prevalensi ulserasi mulut di seluruh dunia adalah 4%, dengan SAR menempati urutan terbesar yaitu 25%. Stomatitis aftosa rekuren merupakan ulserasi mulut yang memiliki self-limiting disease, namun sediaan obat yang spesifik untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan lesi sampai saat ini masih kurang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas antara aplikasi topikal asam hialuronat (AH), plester sariawan (PS) serta triamcinolone acetonide 0,1% (TA) sebagai kontrol positif dalam menyembuhkan SAR dan ulkus traumatikus (UT). Jenis penelitian eksperimental klinis kuasi dengan mengukur diameter lesi serta skala visual analog (VAS) pra dan paska pemberian tiga jenis obat. Hasil uji Kruskal-walis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan efektivitas (p=0,000) ketiga jenis obat terhadap penyembuhan SA dan UT. Terdapat perbedaan bermakna penurunan diameter lesi (p = 0,015) dan VAS (p = 0,038) SAR dan UT dengan penggunaan AH dan PS pada hari ke-4. Tidak ada perbedaan bermakna efektivitas (diameter dan VAS) obat PS dan TA pada hari ke-4 (p = 0,880 dan p = 1,000 secara berurutan). Tidak ada perbedaan bermakna antara masing-masing obat AH, PS dan TA terhadap penyembuhan lesi pada hari ke-7 (p >0,05). Kesimpulan efektivitas PS sama dengan obat topikal yang mengandung kortikosteroid dalam menyembuhkan stomatitis aftosa dan ulkus traumatikus.
Penatalaksanaan Ekstirpasi Epulis Fibromatosa Ukuran Besar pada Gingiva Rahang Bawah Kanan dengan Anestesi Lokal Franciskus W Praba; Bambang Dwi Rahardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.94 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15683

Abstract

Latar Belakang: Epulis merupakan hyperplasia gingival yang menyerupai tumor (tumour like) yang berasal dari jaringan ikat selaput periodontal/ parenkim yang disebabkan karena iritasi kronis. Epulis fibromatosa memiliki penampakan klinis bertangkai (peduncullated), dapat pula tidak, warna agak pucat konsistensi kenyal, batas tegas, padat, kokoh, tidak mudah berdarah dan tidak menimbulkan rasa sakit. Tujuan: mengevaluasi hasil perawatan ekstirpasi epulis fibromatosa ukuran besar dengan anestesi lokal. Kasus: ekstirpasi epulis fibromatosa pada kasus ini dilakukan pada wanita usia 50 tahun yang datang dengan kesulitan makan karena benjolan 5x4x3 cm di dalam mulut pada pipi sebelah kiri. Penatalaksanaan: ekstirpasi epulis fibromatosa dengan anestesi lokal pada kasus ini juga dilakukan penghilangan faktor predisposisinya berupa pembersihan kalkulus sebelum operasi dan penghalusan tulang yang tajam yang merupakan iritasi kronis lokal. Kesimpulan: perawatan ekstirpasi epulis berukuran besar dengan anestesi lokal pada kasus ini bisa dipertimbangkan, karena masi ada akses untuk dilakukan deponir larutan anestesi.  Background: Epulis is a gingival hyperplasia that characteristic likes tumor, devided from the periodontal connective tissue/ parenchyma due to chronic irritation. Epulis fibromatosa has peduncullated clinical appearance, or may not, the color is rather pale than surrounding tissue, elastic consistency, well devined, solid sturdy, no bleeds easily and does not cause pain. Objective to evaluate the extirpation result of large epulis fibromatosa with lokal anesthesia. Case the extirpation on this case treatment is performed on woman  aged 50 years old who came found it difficult to eat because of 5x4x3 cm lump in the mouth on the left cheek. Treatment the extirpation management of epulis fibromatosa with lokal anesthesia in this cases also done by predisposition factors removal, such as calculus removing before surgery and smoothing the sharp bone that make a local chronic irritation. Conclusion a large epulis extirpation treatment with local anesthesia in this case could be considered, because there is access to inject anesthetic solution. 
Gigi Tiruan Cekat dengan Fiber-Reinforced Composites pada Kehilangan Gigi Anterior dengan Space Menyempit Budi Santoso; Murti Indrastuti; M.Th. Esti Tjahjanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4769.162 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16477

Abstract

Latar belakang. Pada kasus kehilangan gigi-gigianterior tanpa penggantian secepatnya akan menyebabkan rasa malu, tidak percaya diri,gangguan berbicara dan bersuara, pergeseran gigi-gigitetangganya, tilting,hilangnyakontakantar gigi,elongasi gigi antagonisnya, traumatik oklusi, ginggival pocket serta karies pada gigi sebelahnya. Tujuan. Penulisan laporan ini untuk memberi informasi bahwa pada kasus kehilangan gigi anterior dengan space yang telah menyempit dapat dibuatkan protesa berupa gigi tiruan cekat dengan fiber-reinforced composites. Kasus. Seorang pasien laki-Iaki berusia 26 tahun datang ke RSGM dengan kasus kehilangan gigi incisivus centralis kiri atas dengan space mesio-distal yang telah menyempit. Penanganan. Setelah dilakukan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografi maka dilakukan perawatan dengan protesa berupa gigi tiruan cekat dengan fiber-reinforced composites. Setelah 10 hari perawatan kemudian kontrol dan pad a pemeriksaan subyektif tidak ada keluhan. Pada pemeriksaan obyektif dilakukan pemeriksaan terhadap retensi, stabilisasi, oklusi, estetis dan warnanya. Kesimpulan. Hasil Perawatan gigi tiruan cekat dengan fiber-reinforced composites dapat memperbaiki kondisi kehilangan gigi dengan space mesio-distal yang telah menyempit sehingga mengembalikan estetika dan percaya diri pasien.
Seleksi Kasus dan Perawatan Ortodontik pada Gigi Kaninus Maksila Impaksi Handoko Setiawan; P I
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5419.782 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15410

Abstract

Latar belakang: Seleksi kasus merupakan hal utama sebelum melakukan perawatan ortodontik terhadap gigi kaninus maksila impaksi. Hanya gigi kaninus maksila impaksi yang erupsi ke bidang oklusal dan berada di ruangnya yang dapat dilakukan perawatan ortodontik. Konsultasi kepada Ahli Bedah Mulut mengenai teknik surgical exposure akan memberikan manfaat bagi Ortodontis dalam melakukan perawatan ortodontik. Teknik pembedahan yang tepat akan membuat proses perawatan ortodontik lebih singkat dengan hasil memuaskan. Teknik Begg merupakan salah satu teknik ortodontik yang dapat digunakan untuk merawat gigi kaninus impaksi. Tujuan: Memaparkan teknik perawatan ortodontik dengan alat cekat teknik Begg pada gigi kaninus maksila impaksi yang erupsi ke bidang oklusal. Kasus: Perempuan 18 tahun disertai gigi kaninus maksila kanan impaksi. Perawatan: 1. Perawtan ortodontik dengan teknik Begg tahap pertama. 2. Surgical exposure oleh Ahli Bedah Mulut. 3. Perawatan ortodontik teknik Begg tahap kedua dan ketiga. Kesimpulan: Perawatan ortodontik dengan teknik Begg mampu menempatkan gigi kaninus impaksi pada lengkung gigi yang baik. Background: case selection is the important thing before orthodontically impacted maxillary canine treated. Certain impacted maxillary canine that erupts to occlusal plane could be orthodontically treated. Consultation to Oral Surgeon to have a proper surgical exposure technique would be benefit to speed up the treatment with a succesful outcome. Begg Technique is a choice of orthodontic treatments that could treat impacted maxillary canine. Purpose: To describe of Begg technique for treating of impacted maxillary canine that erupts to occlusal plane. Case: A 18 years old female patient with impacted of a right maxillary canine. Management: 1. First step of Begg technic. 2. Surgical exposure by Oral Surgeon. 3. Second and third steps of Begg technic. Conclusion: Begg technique could treat impacted maxillary canine in to the proper maxillary arch jaw.
Skrining fitokimia dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) pada Streptococcus mutans ATCC 35668 Friska Ani Rahman; Tetiana Haniastuti; Trianna Wahyu Utami
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.888 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11325

Abstract

Phytochemical screening and antimicrobial activities of ethanolic extracts Annona muricata  L.  on Streptococcus mutans ATCC 35668. Dental caries is one of dental diseases frequently occurred in Indonesia. Streptococcus mutans plays an important role in the pathogenesis of dental caries. Soursop plant (Annona muricata L) has been used by some communities in Indonesia to cure various kinds of disease. Different environment where the plants grow may lead to the differences in the type and amount of secondary metabolites. The aim of this study was to evaluate the effect of the ethanol extract of Annona muricata L. leaves on the growth of S. mutans ATCC 35668 and phytochemicals analysis of Annona muricata L. leaves ethanol extract. The type of the research is an experimental laboratory, Soursop leaves were extracted by maceration using ethanol 70%. The extract obtained was then carried out phytochemical screening with thin layer chromatography (TLC). Concentrations of extract tested were: 150; 125; 100; 75; 50 mg/ml. Chlorhexidine 5% was used as a positive control while DMSO 5% was used a negative control. Based on phytochemical screening, Annona muricata L. leaves ethanol extract contained secondary metabolite compounds, such as saponin, terpenoid, steroids, avonoids, tannins and alkaloids. MIC obtained at concentration of 125 mg /ml. Data were analyzed by using one-way Anava parametric test. The effect of extract concentration on the growth of colonies of S.mutans ATCC 35668 showed a signicant result (p <0.05) among groups tested. Annona muricata L. leaves ethanol extract had antibacterial activity against S. mutans ATCC 3566 at MIC concentration of 125 mg/ml. and contained secondary metabolite compounds, such as saponins, terpenoids, steroids, avonoids, tannins and alkaloids.ABSTRAKKaries gigi merupakan salah satu penyakit gigi yang banyak terjadi di Indonesia. Salah satu bakteri yang berperan penting dalam terjadinya karies gigi adalah Streptococcus mutans. Tanaman sirsak (Annona muricata L.) telah digunakan secara turun temurun oleh sebagian masyarakat Indonesia untuk mengobati penyakit. Perbedaan kondisi lingkungan tempat tumbuh suatu tanaman dapat menyebabkan perbedaan jenis dan jumlah dari metabolit sekunder yang terkandung dalam tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirsak terhadap S.mutans ATCC 35668 serta menentukan kandungan senyawa metabolit sekunder. Jenis penelitian merupakan ekperimental laboratoris, dilakukan ekstraksi pada daun sirsak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Ekstrak etanol daun sirsak selanjutnya dilakukan skrining tokimia dengan uji kromatogra lapis tipis (KLT). Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode dilusi cair. Penelitian ini menggunakan 5 konsentrasi yaitu 150; 125; 100; 75; 50 mg/ml. DMSO 5% digunakan sebagai kontrol negatif dan Chlorheksidine 5% digunakan sebagai kontrol positif. Berdasarkan uji KLT, ekstrak etanol daun sirsak mengandung senyawa metabolit sekunder berupa saponin, terpenoid, steroid, avonoid, tanin, alkaloid. Ekstrak etanol daun sirsak dapat menghambat pertumbuhan bakteri S.mutans ATCC 35668 dengan KHM 125 mg/ml. Data dianalisis dengan menggunakan uji parametrik Anava satu jalur. Konsentrasi ekstrak terhadap pertumbuhan koloni S.mutans ATCC 35668 menunjukkan hasil signikan (p<0,05). Ekstrak etanol daun sirsak memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.mutans ATCC 35668 dengan KHM pada konsentrasi 125 mg/ml. Ekstrak etanol daun sirsak mengandung senyawa metabolit sekunder berupa saponin, terpenoid, steroid, avonoid, tanin dan alkaloid.
Pengaruh Minyak Atsiri Kapulaga (Amomum cardamomum) terhadap Kadar Metil Merkaptan yang Dihasilkan Bakteri Porphyromonas gingivalis (Kajian In Vitro) Nuning Wahyu Utami; Ivan Arie Wahyudi; Sri Larnani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.04 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15645

Abstract

Latar Belakang: Helitosis disebabkan pembentukan senyawa-senyawa sulfur atau Volatile Sulfur Compound (VSC) oleh bakteri. Metil merkaptan merupakan komponen VSC yang paling dominan menyebabkan bau pada halitosis. Agen antibakteri digunakan untuk mengatasi halitosis dengan cara menurunkan kadar metil merkaptan yang dihasilkan bakteri. Minyak atsiri kapulaga (Amomum cardamomum) diduga memiliki khasiat anti bakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh minyak atsiri kapulaga (Amomum cardamomum) terdapat kadar metil merkaptan yang dihasilkan porphyromonas gingivalis. Metode Penelitian: Setiap sumuran pada microplate ditetesi minyak atsiri kapulaga  (Amomum cardamomum) konsentrasi minyak atsiri kapulaga 0% (control negatif), 6,25%, 12,5%, 25%, 50%. Selanjutnya setiap sumuran yang telah ditetesi minyak atsiri kapulaga berfbagai konsentrasi, kemudian ditetesi suspensi bakteri porphyromonas gingivalis pada media TSB dan diinkubasi anaerob selama 48 jam. Tiap perlakuan menggunakan sampel sebanyak 5 sehingga sumuran yang dibutuhkan sebanyak 25. Setelah itu, semua sumuran ditetesi metionin dan DTNB kemudian diinkubasi anaerob selama 12 jam. Hasil inkubasi tersebut kemudian dilihat absorbansi metil merkaptan dengan microplate reader. Hasil Penelitian: Absorbansi kadar metil merkaptan yang dihasilkan pada minyak atsiri kapulaga 0%, 6,25%, 12,5%, 25%, 50% secara berurutan adalah 1,38, 0,217, 0,215, 0,204, 0,196. Minyak atsiri kapulaga (Amomum cardamomum) berpengaruh terhadap kadar metil merkaptan yang dihasilkan porphyromonas gingivalis. Terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok minyak atsiri kapilaga konsentrasi 0% sebagai kontrol negatif dengan minyak atsiri kapulaga 6,25%, 12,5%, 25%, 50% dan tidak ada perbedaan bermakna antara minyak atsiri kapulaga konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, 50%. Kesimpulan: minyak atsiri kapulaga (Amomum cardamomum) dapat menurunkan kadar metil merkaptan yang dihasilkan bakteri porphyromonas gingivalis.Background: Halitosis is caused by the formation of sulfur compounds or Volatile Sulfur Compound (VSC) by bacteria. Methyl merkaptan is the main compound that causes halitosis. Antibacterial agents are often used to treat halitosis by reducing level of methyl merkaptan produced by bacteria. One of the antibacterial agents derived from natural plant oil is cardamom (Amomum cardamomum). The objective of this study was to determine the effect of essential oil of cardamom (Amomum cardamomum) on methyl mercaptan level produced by porphyromonas gingivalis. Method: Essential oil of cardamom (Amomum cardamomum) was expelled on every well on microplate in concentration of 0% (as negative control) 6,25%, 12,5%, 25%, 50%. All wells that have been expelled with cardamom essential oil in different concentration then etched with porphyromonas gingivalis bacterial suspension in TSB media and were incubated anaerobically for 48 hours. Each treatment group had 5 samples so that 25 wells were needed. After that, all the wells etched with DTNB methionine and were incubated anaerobically for 12 hours. The result of those incubation were observed the absorbance of methyl mercaptan with microplate reader. Result: absorbation level of methyl mercaptan were produced cardamom essential oil in concentration 0%, 6,25%, 12,5%, 25%, 50% in sequence1,38, 0,217, 0,215, 0,204, 0,196. The essential oil of cardamom (Amomum cardamomum) affected the levels of methy mercaptan produced porphyromonas gingivalis. There was significant difference between group of cardamom essential oils in concentration 0% as negative control with group of cardamomum essential oil in concentration of  6,25%, 12,5%, 25%, 50%. Conclusion: the essential oil of cardamom (Amomum cardamomum) couid decrease methyl mercaptan level produced by porphyromonas gingivalis.  
Ekspresi Gen CYP19 dalam Kultur Sel Osteoblas dari Periodontitis Tulang Alveolar Agresif Distimulasi dengan Vitamin D dan atau Deksametason Dahlia Herawati; Sri Kadarsih Soejono; Wayan T Artama; S. Suryono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6007.659 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16444

Abstract

Latar Belakang. Estrogen mengatur homeostasis tulang dan disekresikan oleh gonad dan ekstragonad. Selain itu,androgen diubah menjadiestrogen oleh enzim aromatase P450 yang dihasilkan oleh sitokrom P450 aromatase. Ini diproduksi oleh gen sitokrom CYP19. Vitamin D berperan dalam mengatur homeostasis kalsium dan ekspresi gen aromatase langsung. Deksametason bertindak sebagai anti inflamasi, menghentikan peradangan dan meningkatkan kecepatan penyem6uhan. Kerusakan parah tulang alveolar di periodontitis agresif dapat terjadi di usia muda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji ekspresi gen CYP19daiam kultur sel osteoblas periodontitis agresif tulang alveolar pasien dengan stimulasi vitamin D dan atau deksametason. Metode. Fragmen tulang alveolar dari pasien periodontitis agresif dikultur dalam dimodifikasi F-12 medium dilengkapi dengan serum janin sapi (FBS) 20%, antibiotik (penisilin streptomisin) 5%, dan fungizone 2%. Sel-sel osteoblas yang tumbuh dalam kultur dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok 1: kultur diperlakukan non, kelompok 2: diperlakukan dengan vitamin D 10-6 moVL,kelompok 3: diperlakukan dengan deksametason 10.7mol/L, dan kelompok 4: diperlakukan dengan kombinasi vitamin D den deksametason pada dosis yang sarna. Setelah 24 jam perlakuan dihentikan, semua kelompok kultur yang diamati dengan teknik imunositokimia dan menghitung persentase CYP19 ekspresi gen dan sel oeteoblas dalam kultur. Hasilnya menunjukkan bahwa persentase rata-rata CYP19 ekspresi gen untuk kelompok 1, 2, 3, dan 4 adalah 44.18, 38.66,35.26 dan 31.13%, masing-masing, dan perbedaan yang signifikan antara perlakuan dengan p<0.05. Disimpulkan bahwa perlakuan terbaik untuk meningkatkan jumlah sel osteoblas, adalh kombinasi vitamin D dan deksametason, walaupun persentase ekspresi gen CYP19 adalah nilai terendah di antara kelompok.
Pengaruh komposisi beberapa glass fiber non dental terhadap kelarutan komponen fiber reinforced composites Ariyani Faizah; W. Widjijono; N Nuryono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.656 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11249

Abstract

The effect of composition glass fiber non dental on water solubility of fiber reinforced composites. E glass fiber dental is one of the most used dental fibers in several applications in the dental  field. However, the available of E glass fiber dental in Indonesia is very limited. A variety of types of non-dental glass fiber material is easily found as the materials engineering. The purpose of the study was to evaluate the effect of composition non dental glass fiber on the component solubility of FRC. The materials used in the research was E glass fiber dental (Fiber splint, Polydentia SA, Switzerland), composition A non-dental glass fiber (LT, China), composition B (CMAX, China), composition C (HJ, China), flowable composite (Charmfill Flow, Denkist, Korea) and silane coupling agent (Monobond S, Ivoclair Vivadent, Liechtenstein). The subject was divided into 4 groups. Component solubility test was based on the ISO 4049. The result was then analyzed with one way ANOVA (α=0,05). The result of the research showed that on the average percentage of the solubility (%), the lowest was on the group of E glass fiber dental (0.476±0.03) and the highest was on the non dental glass fiber C (0.600±0.01). The result of the one way ANOVA test showed a significant difference between the compositiom fiber on the component solubility. The conclusion the research was that low content of Na2O K2O, CaO and MgO decreased the component solubility of FRC.ABSTRAKE glass fiber dental adalah fiber yang sering digunakan di kedokteran gigi. Ketersediaan E glass fiber di Indonesia masih sangat terbatas. Berbagai jenis bahan glass fiber non dental banyak ditemukan dipasaran sebagai material engeenering dengan harga yang relatif murah sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif pengganti E glass fiber dental. Komposisi glass fiber non dental hampir sama dengan E glass fiber dental. Komposisi berpengaruh terhadap sifat mekanis dan sifat-sifat kimia fiber. Komposisi glass fiber seperti Na2O dan K2O akan meningkatkan ketahanan terhadapap air. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh komposisi glass fiber non dental terhadap kelarutan komponen. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah E glass fiber dental (Fiber-splint, Polydentia SA, Switzerland), glass fiber non dental komposisi A (LT, China), komposisi B (CMAX, China), komposisi C (HJ, China), flowable komposit (CharmFill Flow, Denkist, Korea) dan silane coupling agent (Monobond S, Ivoclar Vivadent, Liechtenstein). Subjek dibagi dalam 4 kelompok untuk dilakukan uji kelarutan berdasarkan ISO 4049. Hasil yang diperoleh dianalisis menggunakan ANAVA satu jalur (a = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan rerata kelarutan komponen (%) yang terendah pada kelompok E-glass fiber dental (0,476±0,03) dan hasil tertinggi pada glass fiber non dental C (0,600±0,01). Hasil uji Anava satu jalur menunjukkan perbedaan yang bermakna antara komposisi fiber pada kelarutan komponen (p<0,05). Kesimpulan penelitian adalah komposisi Na2O dan K2O serta CaO dan MgO yang rendah dapat menurunkan sifat kelarutan komponen dari fiber reinforced composites.
Perbandingan Tinggi Tulang Maksila dan Mandibula di Regio Interisisivi Sentral antara Pra dan Pasca Perawatan Ortodontik dengan Pencabutan ke Empat Gigi Premolar Pertama (Kajian pada Foto Panoramik) Wayan Ardhana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4680.678 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.12702

Abstract

Latar belakang. Perawatan ortodontik pada kasus-kasus gigi berjejal dan protusif sering membutuhkan pencabutan gigi premolar untuk penyediaan ruang agar gigi berjejal dapat dirapikan dan gigi depan yang protusif dapat diundurkan. Gigi insisivus sentral merupakan salah satu gigi yang paling banyak mengalami pergerakan selama proses retrusi. Pergerakan gigi insisivus mengakibatkan terjadinya perubahan pada puncak tulang alveolar selama perawatan yang mungkin akan mempengaruhi tinggi tulang maksila dan mandibula pasca perawatan. Tujuan penelitian. Membandingkan tinggi tulang maksila dan mandibula di daerah interdental gigi insisivi sentral pada foto panoramic antara pra dan pasca perawatan maloklusi dengan pencabutan ke empat gigi premolar pertama. Metode penelitian. Digunakan 30 pasang foto panoramic pra dan pasca perawatan yang dipilih sesuai dengan kriteria penelitian dari pasien-pasien peneliti yang telah selesai mendapat perawatan aktif dengan teknik edgewise. Analisis Kolmogorov-Smirnov dan Shaviro-Wilk digunakan untuk uji normalitas dan Student t-test data berpasangan digunakan untuk menguji perbedaan tinggi tulang maksila dan mandibula antara pra dan pasca perawatan. Hasil Penelitian. Tidak didapatkan perbedaan (p>0,05) tinggi tulang maksila dan amndibula antara pra dan pasca perawatan ortodontik dengan pencabutan keempat gigi premolar pertama. Background. In orthodontic treatment, premolar extractions are often needed in crowding and prostrusive cases to provide space for the teeth can be aligned and retracted to their desire position. Central incisor teeth are the teeth that mostly undergone more movement during retrusion. The change of the alveolar bone crest in this incisors might affect the maxillary and mandibular bone height post-treatment. Research objectives. The present study aimed to compare the bone height in the interdental maxillary and mandibular central incisors regions before and after orthodontic treatment with four first premolars extractions on panaromic radiograph. Research Methods. Thirty pairs of panoramic radiograph of pre and post treatment were selected according to the criteria of the study f the patients who have completed their active treatment with edgewise technique. The results were analyzed by the Kolmogorov-Smirnov and Shaviro-Wilk for testing the data normality and the Student paired t-test for testing the significancy of maxillary and mandibula bone heights differences between pre and post treatment. Results. There were no differences (p>0,05) between the maxillary and mandibular bone height were shown in pre and post orthodontic treatment with four first premolars extractions.