cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Perawatan Ortodontik menggunakan Teknik Begg pada Kasus Pencabutan Satu Gigi Insisivus Inferior dan Frenectomy Labialis Superior Shella Indri Novianty; Wayan Ardhana; Christnawati Christnawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.67 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8757

Abstract

Pencabutan gigi insisivus rahang bawah merupakan salah satu cara yang digunakan untuk mendapatkan ruang pada perawatan ortodontik. Seleksi kasus yang ketat harus dilakukan sebelum menentukan pencabutan gigi tersebut, agar mendapatkan hasil perawatan yang baik. Artikel ini memaparkan hasil perawatan menggunakan alat cekat teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas I disertai dengan spacing anterior rahang atas dan pencabutan satu gigi insisivus sentralis rahang bawah, serta frenektomi frenulum labialis superior pada seorang wanita berumur 47 tahun yang datang dengan diagnosa kasus maloklusi Angle klas I, skeletal klas I disertai protrusif bimaksiler, bidental protrusif, spacing anterior rahang atas, crowding anterior rahang bawah dan beberapa malposisi gigi individual pada kedua rahang. Frenektomi pada frenulum labialis superior dan pencabutan insisivus sentralis kiri rahang bawah dilakukan untuk mencapai tujuan perawatan. Perawatan aktif dimulai pada bulan September 2012 menggunakan alat cekat teknik Begg dan berakhir pada bulan September 2013. Retraksi anterior dilakukan pada rahang atas sebesar 5,0 mm dan rahang bawah sebesar 2,5 mm. Observasi pada hasil akhir perawatan terlihat ada perubahan yang baik pada profil, susunan gigi geligi dan analisis sefalometri. Pada pemeriksaan studi model diperoleh hasil bahwa overjet akhir 3,5 mm, overbite 3,0 mm, interdigitasi baik, dan median line rahang atas dan rahang bawah tidak segaris. Pencabutan satu gigi insisivus sentralis rahang bawah pada kasus maloklusi Angle klas I dengan spacing anterior rahang atas dan dilakukan perawatan dengan alat cekat teknik Begg, memberikan hasil perawatan yang cukup memuaskan. Orthodontic Treatment Using Begg Technique In The Case of Extraction of One Inferior Incisor Tooth and Superior Labial Frenectomy. Extraction of lower arch incisive was the alternative way for space gaining on orthodontic treatment. Case selection is needed before deciding the extraction in order to achieve optimal orthodontic treatment result. The Objectives of this study is to report the result of orthodontic treatment using Begg technique appliance on Angle’s class I malocclusion with spacing anterior at the upper arch, extraction of one incisive central at the lower arch and frenectomy of frenulum labial superior. A 47 years old woman was diagnosed as Angle’s class I malocclusion, class I skeletal with bimaxillary protrusion, bidental protrusion, spacing anterior on the upper arch, crowding anterior on the lower arch, and tooth malposition on both arches. Frenectomy at frenulum labii superior and extraction of one incisive central at the lower arch were done for the orthodontic treatment. Orthodontic treatment was started on September 2012 and finished on September 2013. The upper anterior were 5 mm retracted and the lower anterior were 2.5 mm retracted. An observation at the end of treatment showed improvement in profile, alignment of the teeth, and skeletal appraisal. Study model observation showed 3.5 mm of overjet, 3.0 mm of overbite, good interdigitation, and median line shifting of the lower arch anterior. Extraction of one incisive central at the lower arch, for Orthodontic treatment on Angle’s class I malocclusion with spacing anterior at the upper arch using Begg technique appliance showed an excellent result.
Penangan Pasien dengan Riwayat Stroke dengan Gigi Tiruan Lengkap Overdenture Anak Agung Istri Putri; Endang Wahyuningtyas; Titik Ismiyati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4924.274 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15517

Abstract

Latar belakang. Pada kondisi sistemik tertentu yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pencabutan seperti pada pasien dengan riwayat stroke perawatan dengan overdenture merupakan alternatif yang paling tepat. Overdenture adalah gigi tiruan lengkap atau sebagian yang didukung oleh mucoperiostium dan beberapa gigi atau akar gigi asli yang telah dilakukan perawatan saluran akar, untuk menghambat proses resobsi tulang alveolaris sehingga retensi dan stabilisasi gigi tiruan lengkap dapat ditingkatkan. Tujuan. Laporan kasus ini untuk mengetahui penanganan pasien dengan riwayat stroke dengan Gigi Tiruan Lengkap (GTL) overdenture. Kasus. Pasien wanita, 58 tahun dating atas kemauan sendiri ke RSGM Prof. Soedomo Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, ingin dibuatkan gigi tiruan rahang atas dan rahang bawah, karena gigi tiruan yang dipakai sebelumnya sudah tidak nyaman diapakai mengunyah, pasien dengan riwayat stroke, saat ini masih dalam perawatan. Gigi yang masih tinggal adalah gigi 28, gigi 42 dan gigi 43, oleh karena merupakan kontra indikasi pencabutan, maka gigi yang masih tinggal tidak dicabut dan direncanakan sebagai gigi penyangga GTL overdenture dengan kaitan coping pada gigi 28, kaitan magnet pada gigi 42 dan base root pada gigi 43, selanjutnta diinsersikan GTL overdenture rahang atas dan rahang bawah, yang diperiksa: retensi, stabilisasi, oklusi, estetika dan fonetik. Kontrol dilakukan 1 minggu kemudian diperiksa keluhan pasien saat memakai GTL: pada pemeriksaan subyektif dan obyektif, diperiksa retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan fonetik. Hasil. Perawatan GTL overdenture dengan menggunakan gigi yang masih tinggal dengan kombinasi penyangga overdenture pada pemeriksaan subyektif pasien merasa lebih nyaman, pada pemeriksaan obyektif overdenture dapat meningkatkan retensi, stabilisasi, oklusi, estetika, fonetik. Kesimpulan. Pemakaian GTL overdenture dapat meningkatkan retensi, stabilisasi, oklusi, estetika dan fonetik. Overdenture merupakan perawatan pilihan untuk pasien dengan keadaan sistemik tertentu yang tidak mungkin dilakukan pencabutan. Background. In certain systemic conditions that do not allow for such revocation in patients with a history of stroke care with overdenture is the most appropriate treatment alternative. Overdenture is a complete or partial dentre supported by mucoperiostium and several teeth or tooth roots that have been carried out root canal treatment to inhibit the process of alveolar bone resobtion so retention and stabilization of a complete denture can be improved. Purpose. Of this case report to determine the management of patients with a history of stroke with Complete Denture (CD) overdenture. Case. The patient was a woman, 58 years old to come on their own to the Hospital Soedomo Faculty of Dentistry, University of Gadjah Mada, want to made a denture maxilla and mandible, as previously worn dentures that are nor comfortable to wear chew, patients with a history of stroke, while still in treatment. Teeth that remain are 28 teeth, tooth 42 and tooth 43, is contraindicated because of the revocation, the teeth that are left are not revoked and planned as CD overdenture abutment coping with regard to the teeth 28, the magnetic connection of the teeth 42 and the base root on tooth 43, the next is inserted CD overdenture maxillary and lower jaw, which examined: retention stabilization, occlusion, aesthetics and phonetics. Controls performed 1 week later examined patient complaints when using CD the subjective and objective examination, examined retention, stabilization, occlusion, esthetics and phonetics. Results. CD overdenture treatment using gear that is still living with the combination of buffer overdenture on a subjective examination of the patient feel more comfortable, the overdenture objective examination can improve retention, stabilization, occlusion, esthetics, phonetics. Conclusion. CD overdenture usage can increase retention, stabilization, occlusion, aesthetics, and phonetics. Overdenture is the treatment of choice for patients with certain systemic conditions that are nor possible revocation.
Prevalensi periodontitis pada pasien diabetes mellitus (Studi observasional di poliklinik penyakit dalam RSUP Dr. Sardjito) Rezmelia Sari; Dahlia Herawati; Rizky Nurcahyanti; Pramudita Kusuma Wardani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.467 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11241

Abstract

Prevalence of periodontal diseases in patients with  diabetes mellitus (An observational study     at internal medicine polyclinic in  Dr.  Sardjito General Hospital). Diabetes Mellitus (DM) is a  chronic disease    with an increasing prevalence and causes complications. The most frequent complication found in the oral cavity of patients with diabetes mellitus is periodontal diseases is characterized by the loss of tissue attachment. There have been numerous studies on the association of DM with periodontal diseases but there has not been any data on the prevalence of periodontal diseases in diabetic group, especially in Yogyakarta and Central Java. Dr. Sardjito General Hospital is a referral hospital in DIY and Central Java, so this study is expected to provide a picture regarding the level of periodontal tissue health among people in Yogyakarta and Central Java. This research was an observational study, involving 36 patients with DM according to criteria of the subjects: suffering from type 2 diabetes, being cooperative  and willing to sign an informed consent. The controlled variables: being 40 – 60 years of age, having good oral hygiene (OHI) according to Green and Vermillion, taking neither antibiotics nor anti-inammatory drugs in the last 3 months, not having a history of other systemic diseases. Oral hygiene exams were carried out, followed by examination using probe WHO to determine if there is CAL. The data were presented descriptively. The results showed that the prevalence of periodontal diseases in patients with DM at Internal Medicine Polyclinic in Dr. Sardjito General Hospital is 88.24% with a mean of CAL distance of 4.6 mm. The conclusion of this study is that the prevalence of periodontal diseases in patients with DM is high although the oral hygiene status is good. ABSTRAKDiabetes Mellitus (DM) adalah penyakit kronis menahun dengan prevalensi yang semakin meningkat dan menimbulkan komplikasi. Komplikasi yang paling sering terjadi di rongga mulut pasien DM adalah periodontitis yang ditandai dengan kehilangan perlekatan jaringan. Penelitian tentang hubungan DM dengan periodontitis banyak dilakukan namun belum ditemukan data mengenai prevalensi periodontitis pada kelompok  DM  khususnya di DIY dan  Jawa Tengah.  RSUP Dr. Sardjito merupakan rumah sakit rujukan DIY dan Jawa Tengah sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberi gambaran mengenai tingkat kesehatan jaringan periodontal di masyarakat DIY dan Jawa Tengah. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan melibatkan 36 orang pasien DM sesuai kriteria subjek yaitu menderita DM tipe II, kooperatif dan bersedia menandatangani informed consent. Variabel terkendali yaitu usia 40 – 60 tahun, kebersihan mulut (OHI) menurut Green and Vermillion dalam kriteria baik, tidak menggunakan antibiotik dan antiinamasi dalam 3 bulan terakhir dan tidak memiliki riwayat penyakit sistemik lain. Dilakukan pemeriksaan kebersihan mulut dilanjutkan dengan pemeriksaan menggunakan probe WHO untuk menentukan ada tidaknya CAL. Data disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi periodontitis pada pasien DM di Poli Klinik Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito adalah 88,24% dengan rata-rata jarak CAL adalah 4,6 mm. Kesimpulan penelitian ini adalah prevalensi periodontitis pada pasien DM tinggi walaupun status kebersihan mulut tergolong dalam kriteria baik.
Kandidias Oral pada Penderita Anemia Defisiensi Besi (Fe) dan Penetalaksanaannya Sri Budiarti Wongsohardjono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1897.04 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15690

Abstract

Background: Iron deficiency anemia is a microcytic anemia caused by chronic blood loss dueto such problems as excessive menstrual flow, gastrointestinal bleeding, gasterektomi or malabsorption that reduces the absorption of Fe. Predisposing factors that lead to the disruption of the ecology of oral candidiasis or oral microbiological changes can be due to malnutrition (iron deficiency, folic acid, vitamin B12) and the very old age. Objective: To report a case of iron deficiency anemia with oral candidiasis and its management. Case Report: A 69-year man in the reference by peer demonstrated swollen gums, mouth pain and difficulty in swallowing. A moth ago he was hospitalized and boarded for a week but no change, his body weight loss was 25kg. paleconjunctiva and face, droliing, looked weak. The body temperature was 370 C; the BP measurement was: 125/80mmHg; with body weight was 50kg; right and left submandibular  lymph nodes become enlarging and soreness palpatiom. Symmetrical face. Right and left lip corners are angular kheilitis, cheek mucosa, palate hyperemia, gingival stipling was disappeared, hyperemia, dorsal surface smooth tongue, hyperemia, depapilasi, OHI: bad; thick saliva, hypersalivation. A lot of dental caries and the remaining roots. Management: Examination of the saliva with KOH solution looked a hyphe. Routine blood tests and profile of fe all within normal limits except RBC was 3,37.106 / uL; HGB: 11.0 g / dl; HCT: 32.2%, Fe 29.00 u g / dl (below normal). Treatment with 3% perhidrol mouthwash, Nyistatin solution 3 x daily. Zegase tablet 2x daily. Paracetamol tablets if necessary. Conclusion sixteen days later the patient recovered.
Pembuatan Gigi Tiruan Lengkap Obturator Rahang atas pada Kasus Kelas III Arammany dengan Penguat Mini Dental Implant untuk Protesa Rahang Bawah F. Wihan Pradana; Haryo Mustiko Dipoyono; Titik Ismiyati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4690.31 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16481

Abstract

Latar belakang. Kasus Edentulous dengan defek maksilofasial pada geriatri merupakan kasus yang komplek dan menyangkut estetika serta fungsi rongga mulut. Penggunaan hollow bulb dan implant untuk memberikan retensi merupakan alternatif cara yang dapat digunakan dalam perawatan defek maksilofasial dan sisa lingir alveolar yang tipis. Tujuan. dari pembuatan protesa GTL ini ialah untuk mengembalikan fungsi pencernaan rongga mulut sehingga dapat mengembalikan kemampuan mencerna dan mengolah makanan. Pembuatan GTL diupayakan untuk dapat retentif dan stabil sehingga protesa dapat bermanfaat sebagai instrumen rehabilitatif dalam rongga mulut. Kasus. Pasien laki-Iaki usia 70 tahun datang ke klinik prostodonsia FKG UGM dengan keluhan gigi tiruan lengkap yang longgar dan tidak dapat berfungsi dengan baik sehingga makanan dan minuman dapat keluar dari hidung melalui lubang di area palatum yang timbul kurang lebih 2 bulan sebelum datang ke RSGM. Penanganan. Setelah dilakukan proses bedah pengangkatan tumor oleh Onkologis selanjutnya dilakukan perencanaan pembuatan GTL. Paska operasi pasien mengenakan GTL sementara dari GTL lama pasien yang diperbaiki. Proses selanjutnya ialah pembuatan GTL baru untuk mengganti GTL lama yang rusak. Setelah GTL selesai dibuat, dilakukan insersi dan dilanjutkan dengan pemasangan mini dental implant untuk rahang bawah. Satu minggu berikutnya dilakukan pemasangan metal housing implant pada fitting surface gigi tiruan lengkap rahang bawah sehingga implant dan gigi tiruan menjadi satu kesatuan gigi tiruan lengkap  dengan dukungan implant. Kesimpulan. Kontrol2 minggu dan satu bulan menunjukan implant masih stabil dan tidak ada keluhan pada pasien. Pasien dapat menggunakan gigi tiruannya untuk makan dan minum. Dari pemeriksaan subjektif diketanui bahwa dan makanan ataupun minuman tidak lagi keluar melalui hidung pasien.
Efek eugenol terhadap jumlah sel inflamasi pada pulpa gigi molar tikus Sprague Dawley Raras Ajeng Enggardipta; Tetiana Haniastuti; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3245.41 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.8730

Abstract

Inflammatory cells infiltration after eugenol administration in Sprague Dawley rat’s molars. The purpose of this study was to determine effect of eugenol on inflammatory cells infiltration (neutrophils, macrophages and lymphocytes) in the inflamed dental pulp. Thirty male Sprague Dawley rats aged 3-4 months and weighed 300-350 g were randomly divided into 2 groups: treated and control groups. Rats were injected with ketamine HCl i.m. (0.1 ml/100 grams BW) before cavity preparation at occlusal surface of the upper molars. Cavity preparation was made using a round bur No.010 to pulp perforation. At the cavity base of treated group, 15 rats were given eugenol and of control group 15 rats were given aquadest, before filled with temporary filling. Three rats from each group were sacrificed at 1, 3, 5, 7 and 14 days after the cavity preparation. Rats were injected with ketamine HCl im (0.1 ml / 100 g BW) on the thigh then tissues were collected for histological process and stained using haematoxylin eosin. The number of inflammatory cells (neutrophils, macrophages and lymphocytes) was analysed by Two-Way Anova. The result of the study showed number of inflammatory cells infiltration of treated group was lower than control and showed significant differences between groups (p <0.05). The conclusion from this study is eugenol administration in Sprague Dawley rats’s inflamed dental pulp can reduce the number of inflammatory cells (neutrophils, macrophages and lymphocytes).ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eugenol terhadap jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit) pada pulpa gigi terinflamasi. Tiga puluh ekor tikus Sprague Dawley jantan berumur  3-4 bulan dengan berat badan 300-350 g dibagi secara acak dalam 2 kelompok yaitu perlakuan dan kontrol. Tikus diinjeksi ketamine HCl i.m. (0,1 ml/100 gram BB) sebelum dilakukan preparasi kavitas pada permukaan oklusal gigi molar satu rahang atas. Preparasi kavitas dibuat dengan menggunakan bur bulat No.010 hingga kedalaman pulpa. Pada dasar kavitas kelompok perlakuan (15 ekor) diberi eugenol dan kelompok kontrol (15 ekor) diberi akuades, kemudian kavitas ditumpat sementara. Tiga ekor tikus dari masing-masing kelompok dikorbankan pada 1, 3, 5, 7 dan 14 hari pasca preparasi kavitas. Tikus diinjeksi ketamine HCl i.m. (0,1 ml/100 gram BB) pada paha kemudian jaringan diambil, diproses secara histologis dan dicat dengan hematoxylin eosin. Data jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit) dianalisis dengan Two Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan rerata jumlah infiltrasi sel inflamasi kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kontrol dan berbeda bermakna (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian eugenol pada pulpa gigi tikus Sprague Dawley yang mengalami inflamasi dapat menurunkan jumlah sel inflamasi (netrofil, makrofag dan limfosit).
Pengambilan Gigi Kaninus dan Gigi Supernumerary yang Terpendam pada Maksila Selviana Wati Fobia; Bambang Dwi Rahardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4910.142 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15415

Abstract

Latar belakang: suatu kasus impaksi gigi dapat menyebabkan maloklusi, dan kelainan oklusi akan semakin bertambah dengan bertambahnya usia. Impaksi gigi kaninus merupakan gigi kedua setelah gigi molar ketiga yang berfrekuensi tinggi untuk mengalami impaksi, persentasenya sekitar 12%-15% dari populasi. Gigi supernumerary adalah gigi tambahan/berlebih, sehingga jumlah gigi yang terbentuk dalam rahang lebih banyak dari jumlah normal. Terjadinya impaksi gigi kaninus dan supernumerary secara bersamaan jarang terjadi. Tujuan: Menambah wawasan du bidang bedah mulut minor, terutama dalam menangani suatu kasus impaksi gigi kaninus dan supernumerary untuk perawatan orthodonti. Kasus dan Penanganan: Dilaporkan seorang apsien, wanita, berusia 38 tahun yang baru menyadari kelainan maloklusinya dengan keluhan gigi depannya bertambah maju akibat adanya impaksi gigi kaninus dan impaksi gigi supernumerary. Pasien dikonsulkan dari Bagian Orthodonti ke Bagian Bedah Mulut untuk penanganan impaksi gigi kaninus dan supernumerary dengan kemungkinan untuk mempertahankan gigi kaninus memulai pembedahan. Dengan berbagai pertimbangan, penderita pada akhirnya menjalani operasi pengambilan gigi kaninus dan gigi supernumerary di Bagian Bedah Mulut RSGM Prof. Soedomo. Langkah-langkah diagnosis, operasi dan berbagai kemungkinan komplikasi juga turut disertakan di dalam pembahasan. Kesimpulan: Pengambilan gigi kaninus dan gigi supernumerary yang terpendam merupakan pilihan perawatan jika tidak memungkinkan untuk dilakukan exposure pada impaksi gigi kaninus pada maksila. Background: Impacted canines is the second most impacted tooth after third molar impaction, approximately 12%-15% of the population present with impacted canines. A supernumerary tooth is one that is additional to the normal series and can be found in almost any region of the dental arch. The incidence of an impacted canines as a sequent with a supernumerary tooth is very rare. Purpose: The aim of this case report is to add more information about a minor surgery due to canine and supernumerary tooth impaction for orthodontic treatment. Case and Management: We reported a case of a woman, 38 years old who have noticed a malocclution through the forwardness movement of her anterior teeth, due to the present of impacted canine and supernumerary. The patient consulted from orthodontic department to oral and maxillofacial department for further assessment, treatment and also the probability for surgical exposure of impacted canine. We have decided to do odontectomy for the impacted canine and supernumerary tooth as well at Oral and Maxillofacial department, Prof. Soedomo Hospital. The diagnosis process, exposure of impacted canine considerations are also discussed. Conclusion: the odontectomy for impacted canine and supernumerary teeth had performed as last options if there is impossible to do an exposure of an impacted canine. 
Pengaruh pelatihan pemeliharaan kesehatan gigi pada guru sekolah dasar sistem full day terhadap perubahan status kebersihan mulut siswa Anne Agustina Suwargiani; Riana Wardani; Netty Suryanti; Asty Samiaty Setiawan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.748 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.12464

Abstract

Effect of dental care training on primary full day school teachers towards student’s oral hygiene status alteration. Elementary School age is the most appropriate age of having proper toothbrush technique teaching, because at this age children are entering mixed dentition period, so they should be able to do proper toothbrush technique. The practice of brushing teeth in full-day system elementary school is fundamental because most of the student’s time was spent in school, and they were also having lunch there, so the students should have been able to maintain the health of their teeth, which can only be implied with active role of teachers. The objective of this study was to analyze the effect of dental care training towards student’s oral hygiene status alteration. The method of this research was mixed methods that consisted of quantitative research phase that was done by providing questionnaires about knowledge, attitudes and behaviours of teachers after toothbrushing training, and the student’s toothbrushing skill that was measured through the oral hygiene status (OHIS green Vermillion). Whilst the phase of qualitative research was done by observation using observation checklist to identied the inhibiting factors of delivering the training results to the students. The sampling technique was total sampling, with all the teachers were taken as samples. The results from linear regression test showed that there was a moderate relation between the training effect towards student’s oral hygiene status alteration (R : 0.43). The contribution percentage of teacher’s knowledge, attitude and action variable used in the research model was seen on R square value that was 18.5%, whilst on the value of 81.5% was inuenced by other variables not included in the research. This value was the result of students’ variety perceptions about toothbrushing; the unconducive situation of the classrooms; difculties of teachers to delivered the counselling materials; teacher’s feeling of knowledge limitations; and forgetfulness of the usage of the dental model replica. There was a signicant effect of the action towards the oral hygiene status of the students, but there was no signicant inuence of knowledge and attitude towards the oral hygiene status of the students. Conclusions: Dental care training on full-day primary school teachers did not signicantly change their knowledge and attitude of toothbrushing, but continuous and proper practice after training, however, gave signicant effect on student’s oral hygiene status. Inhibiting factors of alteration were coming from internal environment of both teachers and students, and also due to lack of facilities. ABSTRAKUsia Sekolah Dasar merupakan usia yang tepat untuk mengajarkan teknik menyikat gigi  yang  baik  dan  benar, karena pada usia ini anak sedang dalam memasuki periode gigi campuran  dan sudah harus mampu menyikat  gigi baik dan benar. Penerapan penyikatan gigi di Sekolah Dasar dengan sistem full day sangat diperlukan, mengingat waktu anak di sekolah lebih lama dan melewati waktu makan siang sehingga anak harus mampu menjaga kesehatan giginya sendiri. Penerapan tersebut sangat membutuhkan peran guru. Tujuan penelitian yaitu menganalisis pengaruh pelatihan penyikatan gigi pada guru terhadap status kebersihan mulut siswa. Mixed methode terdiri dari tahap penelitian kuantitatif dengan pemberian kuisioner pengetahuan, sikap dan tindakan guru setelah pelatihan penyikatan gigi dan keterampilan menyikat gigi siswa diukur melalui status kebersihan mulut (OHIS green Vermillion) dan tahap penelitian kualitatif dengan melakukan observasi menggunakan cek list observasi untuk mengetahui faktor penghambat transfer hasil pelatihan pada siswa. Metode penelitian deskriptif analitik. Sampel penelitian diambil dari seluruh populasi, dimana semua guru diambil sebagai sampel penelitian. Hasil penelitian melalui uji korelasi linier menunjukkan hubungan antara pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap status kebersihan gigi dan mulut adalah sedang (R:0.43). Prosentase sumbangan variabel pengetahuan, sikap dan tindakan guru yang digunakan dalam model terlihat pada nilai R square yaitu sebesar 18,5%, sedangkan sisanya sebesar 81,5% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian. ada pengaruh signikan tindakan terhadap status kebersihan mulut siswa, namun tidak ada pengaruh secara signikan pengetahuan dan sikap terhadap status kebersihan mulut siswa. Faktor internal guru dan siswa serta faktor eksternal berupa penyediaan fasilitas. Simpulan penelitian mixed methode ini adalah pelatihan penyikatan gigi pada guru sekolah dasar sistem full day berpengaruh sebesar 18,5%, terhadap status kebersihan mulut siswa. Faktor penghambat menerapkan hasil pelatihan yaitu faktor internal dan eksternal guru dan siswa.
Ulkus Aftosa Kompleks Manifestasi Penyakit Crohn Bernadeta Esti Chrismawaty; Goeno Subagyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2322.65 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15651

Abstract

Latar Belakang: Ulkus aftosa kompleks mengacu pada ulkus mulut kronis berkaitan dengan gangguan sistemik. Kondisi tersebut, selain menimbulkan rasa sakit dan gangguan fungsi, dapat memperburuk kualitas hidup penderitanya. Tujuan: penulisan ini bertujuan untuk melaporkan keterkaitan antara ulkus aftosa kompleks dengan gangguan gastrointestinal, yaitu penyakit crohn. Kasus dan penanganannya: laki-laki 73 tahun mengeluhkan nyeri mulut sejak 3 bulan lalu, yang disertai dengan perut sebah, kembung dan terkadang nyeri ringan disertai dengan sakit kepala. Saat pemeriksaan, tampak adanya ulkus dengan dasar bergranuler, tepi sedikit meninggi dan tertutup lapisan putih pada mukosa lipatan mukobukal, pipi, dasar mulut dan palatum. Permukaan mukosa bibir dan pipi memberikan gambaran seperti batu bata (cobblestoning). Mengacu pada gejala dan temuan klinis, ditegakkan diagnosis kerja ulkus aftosa kompleks manifestasi gangguan gastrointestinal, susprk penyakit crohn. Terapi awal berupa kombinasi spiramycin-metronidazole, methyl-prednisolone, parasetamol dan larutan kumur perhidrol. Satu minggu kemudian, tampak adanya perbaikan lesi dan aktifitas fungsional. Berdasarkan pemerikasaan dari poli penyakit dalam Rumah Sakit Umum Sardjito (RSS), pasien mendapatkan medikasi lanzoprazole, ulsidex dan enzyplex. Terapi lanjutan berupa methyl-prednisolone dengan dosis tapering, anti jamur topical nistatin untuk mencegah infeksi ikutan dan larutan kumur yeng mengandung Benzydamine HCI untuk mengurangi nyeri. Kesimpulan: Ulkus mulut manifestasi penyakit Chohn mempunyai karakteristik unik dan dapat dibedakan dari ulkus mulut kronis lainnya. Dalam penegakan diagnosis ulkus aftosa kompleks, identifikasi etiologi gangguan sistemik yang tepat akan sangat membantu dalam menetapkan perawatan lesi mulut yang sesuai. Background: complex aphthous refers to chronic oral ulceration, which is related to systemic diseases. This condition can cause oral discomfort, alter the normal oral function anf eventually can decrease the quality of life. Purpose: this paper is intended to report the relationship between complex aphthous with gastrointestinal disorder, in particular crohn’s disease. Case and management: A73 year old man complaint a chronic sore mouth since 3 months ago. Abdominal discomfort, mild indigestion and headache occur accompanied by oral symptoms. Clinically, there were multiple ulcers with granular base, slightindurate border covered with white thick layers at mucobuccal fold, buccal, floor of the mouth and palate mucosa. Labial and buccal mucosa demonstrates a cobblestoning appearance. According to systemic symptoms and oral findings, complex aphthous as manifestation of gastrointestinal diseases, specifically suspected to Crohn’s diseases, is accepted as working diagnosis. Spiramycin combined with Metronidazole, Methyl-prednisolone, Paracetamol and perhidrol mouthwash were given as initial therapy. One week later, it seems some improvement on oral lesion and oral functional activity. From internal Medicine Clinic, Sardjito General Hospital, patient received Lanzoprazole, Ulsidex and Enzyplex. Tapering doses of methyl-prednisolone and oral fungal topical Nystatin for prevention from secondary infection were given as subsequent therapy. Benzydamine mouthwash was given for alleviate sore mouth. Conclusion: Complexs apthous ulcers as manifestation of crohn’s disease have a unique characteristic and quite discriminate to other chronic oral ulceration. In establishing the diagnosis of complex aphthous., the identification of proper etiology would help in determining the appropriate management of the oral lesion.
Efek Pengunyahan Permen Karet Gula dan Xylitol terhadap Status Saliva Lisna Kurnia Rezky; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3925.475 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16450

Abstract

Latar belakang. Rongga mulut sebagai pintu masuk makanan ke dalam tubuh selalu dibasahi oleh saliva setiap harinya. Saat ini banyak produk permen karet yang beredar di masyarakat yang mengandung gula dan xylitol. Banyak orang yang gemar mengunyah permen karet dengan kurang memperhatikan komposisinya baik yang mengandung gula ataupun xylitol sehingga kurang mengetahui efek masing-masing jenis permen karet tersebut terhadap kesehatan rongga mulut. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pengunyahan permen karet gula dengan permen karet xylitol terhadap status saliva yang terdiri dari volume, pH, dan viskositas saliva. Metode penelitian. Subjek penelitian berjumlah 30 orang dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 10 orang, terdiri dari kelompok mengunyah permen karet gula, xylitol, dan kontrol dengan mengunyah apel. Pengambilan saliva dilakukan pagi hari dan siang hari. Subjek mengunyah 2 butir permen karet dan tidak diperbolehkan untuk makan dan minum 1 jam sebelum mengunyah. Subjek diinstruksikan meludah ke dalam pot saliva selama 10 menit dalam interval setiap 1 menit. Pengukuran volume saliva menggunakan pipet volume, pH saliva dengan menggunakan pH meter, dan viskositas saliva dengan menggunakan viskometer Ostwald hari ke-1 dan ke-4. Analisis data dengan uji statistik Mann-Whitney. Hasil. penelitian menunjukkan adanya peningkatan bermakna volume dan viskositas saliva pada pengunyahan permen karet xylitol dan gula. Derajat keasaman (pH) saliva menurun setelah mengunyah permen karet gula sedangkan pada perm en karet xylitol relatif stabil. Disimpulkan bahwa permen karet xylitollebih baik untuk kestabilan status saliva dibandingkan permen karet gula.