cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Kandisiasis Mulut sebagai Indikator Penyakit Sistemik Satrya Ayu Erawatie Prayudha; Bernadeta Esti Chrismawaty; Dewi Agustina; Goeno Subagyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3889.316 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15542

Abstract

Latar belakang. Kandidiasis mulut disebabkan oleh infeksi Candida. Kondisi imunokompromais seperti DM merupakan salah satu faktor predisposisinya. Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang sering tidak disadari dan menjadikan penderitanya rentan infeksi. Tujuan. Penulisan ini bertujuan untuk melaporkan kandidiasis mulut polimorfik pada pasien yang sebelumnya tidak terdeteksi DM. Kasus dan penanganan. Seorang laki-laki 57 tahun datang ke Klinik Gigi dan Mulut, RSUP Dr. Sardjito mengeluhkan gangguan pengunyahan. Keluhan dirasakan sejak 1 bulan terakhir akibat gigi sebalah kiri atasnya goyah. Pasien menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) sejak 5 tahun yang lalu. Sejak awal, GTSL susah dilepas sendiri oleh pasien. Akhir-akhir ini, terdapat keluhan mulutnya gatal dan nafas berbau. Dilaporkan adanya penurunan berat badan hingga 9 kg pada 3 bula terakhir. Ekstra-oral normal, intra-oral tampak plak putih pada dorsum lidah, area eritematus pada palatum berhadapan dengan plat GTSL, gigi avulsi, luksasi disertai resesi. Berdasar anamnesis dan pemeriksaan klinis, lesi mulut mengacu pada kandidiasis mulut dan pasien dicurigai menderita DM. Rencana perawatan meliputi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi, terapi antifungal, ortopantomogram (OPG) dan konsultasi medis terkait kecurigaan DM. Penatalaksanaan lesi mulut meliputi debridasi dan Nystatin topikal. Dua minggu kemudian, lesi mulut menunjukkan perbaikan. Hasil OPG dan kadar glukosa darah (KGD) mengindikasikan latar belakang DM. Ekstraksi dilakukan setelah DM terkontrol diikuti pembuatan protesa. Fungsi mulut kembali normal dan diinstruksikan pengelolaan KGD. Kesimpulan. Temuan klinis kandidiasis mulut dapat digunakan sebagai indicator adanya gangguan sistemik, pada kasus ini adalah DM. Identifikasi dini lesi mulut terkait gangguan sistemik dapat membantu penderita untuk memperoleh perawatan sistemik lebih awal. Background. Oral candidiasis is caused bt Candida infection. Immunocompromise condition such as diabetes is one of its predisposition. Diabetes mellitus (DM) is metabolic disorder that is often not realized by the sufferer and makes the sufferer susceptible to infection. Purpose. This paper is intended to report the polymorphic type of oral candidiasis in patient with previously undetected DM. Case and management. A 57 years old man complained of impaired mastication due to teeth luxation since last month. Patient has wearing removable partial dentures since 5 years ago, which was hard to removed by himself. Lately the patient experienced prickly under dentures and halitosis. The patient reported about lost of weight as 9 kg in 3 months. No abnormality found extraorally, and intraorally it found some velvety white plaque on dorsum of the tongue, erythematous area on mucosal bearing dentures, avulsion and luxation of the teeth. Based on history taking and clinical examination, oral lesion regarded as oral candidiasis and the patient suspected to have DM. Treatment planning were oral health education, antifungal therapy, taking an OPG, medical consultation because of possibility of DM. Treatments comprises as oral debridement and topical nystatin. Two weeks later, oral lesion showed improvement. It revealed that OPG and Blood Glucosa Level (BGL) result were referred to DM. After his DM controlled, teeth extraction was done followed by construction of new denture. Normal oral function returned, and patient instructed to maintain BGL. Conclusion. Clinical findings as oral candidiasis can be used as an indicator of the existence of the systemic disease, in this case are DM. Early identification of oral lesion associated systemic disease could help the patient to obtain early treatment.
Perbandingan porselen kedokteran gigi swa-sintesis berbahan baku pasir felspar Pangaribuan dan Sukabumi Joseph Gunawan; Dede Taufik; Veni Takarini; Zulia Hasratiningsih
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.49 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.22936

Abstract

Comparison self-synthesized dental porcelain between feldspar from Pangaribuan and Sukabumi. Dental porcelain material as one of the esthetic indirect restorations in Indonesia is mostly imported. In fact, Indonesia is really rich of natural raw materials, including feldspar, silica, and kaolinite. The aim of this study is to synthesize the dental porcelain made from Indonesia’s two different originates, which are Pangaribuan and Sukabumi. This study was prepared by fritting and sintering the mixture of 65% wt feldspar (from Sukabumi and Pangaribuan), 25% wt silica, 5% wt kaolinite, and 5% wt potassium salt. The porcelains obtained were evaluated using X-Ray Diffraction (XRD). The results revealed that quartz and leucite were found in the composition of Pangaribuan sand that successfully showed more translucencies compared to Sukabumi sand which only imparted quartz on its component. This study shows that dental porcelain from Pangaribuan sand is successfully self-synthesized, on the other hand Sukabumi sand has not been successfully synthesized. These findings develop on a good prospect of esthetic dental porcelain made from Indonesian natural sand. ABSTRAKBahan porselen kedokteran gigi sebagai salah satu restorasi indirek estetik di Indonesia kebanyakan didatangkan dari luar negeri. Indonesia sebenarnya sangat kaya dengan bahan baku porselen kedokteran gigi seperti felspar, silika, dan kaolin. Tujuan penelitian ini adalah melakukan sintesis porselen kedokteran gigi dari 2 jenis pasir alam Indonesia yaitu Pangaribuan dan Sukabumi. Komposisi yang digunakan yaitu 65% wt felspar, 25% wt silika, 5% wt kaolin, dan 5% wt garam kalium, dicampur kemudian dilakukan fritting serta sintering. Dua komposisi porselen dibuat dengan bahan dasar berbeda yaitu felspar dari Pangaribuan dan Sukabumi. Kedua porselen yang telah disintering kemudian dievaluasi menggunakan X-Ray Diffraction (XRD). Hasilnya adalah kuarsa dan leusit ditemukan pada porselen dengan komposisi pasir Pangaribuan yang juga memberikan hasil lebih translusen secara visual dibandingkan dengan porselen dengan komposisi pasir Sukabumi yang hanya memperlihatkan hasil kuarsa. Hal ini menunjukkan bahwa porselen dengan komposisi bahan dasar pasir Pangaribuan berhasil disintesis dibandingkan komposisi bahan dasar pasir Sukabumi.Penemuan ini dapat memberikan peluang yang baik dalam pembuatan porselen kedokteran gigi yang berasal dari pasir alam Indonesia. 
Retreatment Endodontik dan Restorasi Ulang Menggunakan Pasak Fiber Reinforced Composite Christine Windayani Inan; Wignyo Hadriyanto
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2054.834 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16016

Abstract

Laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan hasil restorasi mahkota jaket porselin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite pada gigi insisivus sentralis kanan maksila pasca perawatan saluran akar. Pasien datang dengan keluhan mahkota jaket gigi insisivus sentralis kanan maksila lepas. Diagnosis gigi insisivus sentralis kanan maksila adalah nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Perbaikan estetika menggunakan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite. Perawatan diawali dengan analisis estetika. Pasak yang lama yaitu tapered self-threading dowel pada gigi insisivus sentralis kanan maksila diambil, kemudian dilanjutkan retreatment endodontik dengan teknik preparasi step-back. Restorasi mahkota jaket pors~lin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite sebagai restorasi akhir. Evaluasi hasil perawatan dilakukan dua bulan pasca pemasangan mahkota jaket. Hasil evaluasi subyektif dan obyektif menunjukkan gigi dapat berfungsi dengan baik dan pasien puas dengan perbaikan estetika yang dihasilkan.
Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan pada Gigi Molar Pertama Kanan Mandibula Nekrosis Pulpa dengan Abses Periapikal dan Fistula Tranantika Rakhma; Raphael Tri Endra Untara
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5317.221 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16491

Abstract

Latar belakang. Perawatan saluran akar satu kunjungan merupakan perawatan yang prosesnya diselesaikan dalam satu kunjungan. Hal ini memberikan keuntungan untuk memperkecil resiko kontaminasi bakteri dan mikroorganisme dalam saluran akar serta menghemat waktu perawatan. Tujuan. Penulisan laporan kasus ini adalah untuk untuk menginformasikan hasil evaluasi perawatan saluran akar satu kunjungan pada gigi molar pertama kanan mandibula dengan abses periapikal dan fistula. Kasus. Pasien perempuan berusia 29 tahun datang ke klinik Konservasi Gigi RSGM FKG UGM ingin merawat gigi bawah kanan yang berlubang. Berdasarkan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografis diperoleh diagnosis gigi molar pertama kanan mandibula nekrosis pulpa dengan abses periapikal dan fistula. Perawatan yang dilakukan perawatan saluran akar satu kunjungan, dilanjutkan dengan preparasi onlei PFM. Kesimpulan. Kasus gigi molar pertama kanan mandibula dengan abses periapikal dan fistula dapat dirawat dengan perawatan saluran akar satu kunjungan. Perawatan saluran akar dengan baik dan sempurna serta dengan pemilihan teknik, bahan-bahan irigasi dan obturasi yang tepat serta dikerjakan dengan asepsis akan meningkatkan keberhasilan perawatan.
Rekonstruksi pada Perforasi Palatum Akibat Pneggunaan Gigi Tiruan Lengkap Rahang Atas dengan Suction Cup Cristiani Nadya Pramasari; P. Prihartiningsih; R. Rahardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4253.079 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15518

Abstract

Latar belakang. Pemasangan suction cup pada gigi tiruan lengkap rahang atas merupakan salah satu cara untuk meningkatkan referensi. Kondisi vakum oleh karena suction cup ini dalam waktu jangka panjang dan tidak terkontrol mengakibatkan nekrosis jaringan yaitu adanya perforasi palatum. Tujuan. Melaporkan rekonstruksi penutupan perforasi palatum sebagai komplikasi penggunaan gigi tiruan lengkap rahang atas dengan suction cup. Laporan Kasus. Pada tanggal 11 September 2012 seorang pria berusia 64 tahun datang ke Poliklinik Bedah Mulut RSUP dr. Sardjito Yogyakarta dengan keluhan terdapat lubang pada langit-langit. Pasien menggunakan gigi palsu buatan tukang gigi dengan perekat berbahan karet pada langit-langit selama 5 tahun. Selama penggunaan gigi palsu pasien sering mengalami sakit dan pembengkakan di langit-langit sampai keluar nanah dan akhirnya terbentuk lubang sehingga jika minum air keluar dari hidung. Pemeriksaan rontgen oklusal rahang atas tampak adanya resorbsi regio palatum durum. Rekonstruksi menggunakan teknik push back modifikasi dilakukan untuk penutupan perforasi palatum di bawah anestesi umum. Kesimpulan. Suction cup pada gigi tiruan lengkap rahang atas mengakibatkan kerusakan jaringan lunak dan jaringan keras rongga mulut. Perforasi palatum yang diakibatkan oleh suction cup ini dapat dilakukan rekonstruksi dengan teknik push back dengan hasil yang cukup optimal. Background. Suction cups are used to get retention of the complete dentures. The uncontrolled constant vacuum created by the suction cup induces necrosis of tissues and perforation ofpalate. Objective. To report reconstruction for palatal perforation closure as a complication due to prolonged use of maxillary denture with suction cup. Case Report. A 64 years old male patient came to the Department of Oral Surgery, Sardjito General Hospital Yogyakarta on September 11, 2012 with the complaint of hole in his palate. He was wearing dentures for the past 5 years. He also complained pain, swelling, and drainage of pus even formed a hole in the palate. He had noticed nasal regurgitation of water while drinking. Maxilla occlusal view showed bone resorption in the palatum durum. Reconstruction with modified push back technique for palatal closure was performed under general anesthesia. Conclusion. The use of suction cups in maxillary denture leading to destruction of soft and hard tissues. Reconstruction with modified push back technique can be performed to palatal perforation caused by suction cup and this method provide optimal result.
Analisis radiograf periapikal menggunakan software ImageJ pada granuloma periapikal pada perawatan endodontik Ali Thomas; Ria Noerianingsih Firman; A. Azhari
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.987 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10472

Abstract

Analysis of periapical radiographs using ImageJ software on periapical granuloma in endodontic treatment. The assessment of the success rate of endodontic treatment on teeth with periapical granuloma is currently still using the conventional method, that is using a viewer as the tool which is then interpreted subjectively by dentist. This may lead to the possibility of signicant differences in the assessment between inter and intra-observers. The objective of this study was to demonstrate the differences in picture and the relationship of lesion size, and the number and size of trabecular particles on periapical granuloma cases before and after endodontic treatment with digitized periapical radiographs using ImageJ software. This study was conducted using observational analysis method. The sample  in this study consisted of 30 data before endodontic treatment and 30 data after endodontic treatment that had been digitized. The results of this study showed a decrease in the average size of periapical granuloma lesions from 16,400 ± 2.2924 mm2  to 13.860 ± 2.1250 mm2, an increase in the average number of particles from 70.167 ± 7.2258 to 99.733 ± 7.4089 and an increase in the particle size from 14.033 ± 1.4452 mm2 to 19.017 ± 1.4223 mm2. The conclusion of this study is that there are different pictures and relationship between the size of lesions, the number and size of trabecular particles in periapical granuloma cases before and after endodontic treatment through digitized periapical radiographs using ImageJ software.ABSTRAKPenilaian tingkat keberhasilan perawatan endodontik pada gigi yang mengalami granuloma periapikal, saat ini masih menggunakan metoda konvensional yaitu dengan menggunakan viewer sebagai alat bantu dan diinterpretasi secara subjektif oleh dokter gigi. Keadaan ini mengakibatkan peluang terjadinya perbedaan penilaian cukup besar secara inter dan intra-observer. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan gambaran dan hubungan nilai luas lesi, jumlah dan luas partikel trabekula pada kasus granuloma periapikal sebelum dan sesudah perawatan endodontik melalui digitalisasi radiograf periapikal menggunakan software ImageJ. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis observasional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 30 data sebelum perawatan endodontik dan 30 data sesudah perawatan endodontik yang telah dilakukan digitalisasi. Hasil penelitian ini adalah terjadi penurunan rata-rata luas lesi granuloma periapikal dari 16.400 ± 2.2924 mm2 menjadi 13.860 ± 2.1250 mm2, peningkatan rata-rata jumlah partikel dari 70.167 ± 7.2258 menjadi 99.733 ± 7.4089 dan peningkatan luas partikel dari 14.033 ± 1.4452 mm2 menjadi 19.017 ± 1.4223 mm2. Simpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan gambaran dan hubungan nilai luas lesi, jumlah dan luas partikel trabekula pada kasus granuloma periapikal sebelum dan sesudah perawatan endodontik melalui digitalisasi radiograf periapikal menggunakan software ImageJ.
Burning Mouth Syndrome pada wanita Menopause dengan Hiposalivasi, Coated Tongue dan Gangguan Pengecapan serta Penatalaksanaannya Sri Hadiati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.585 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15920

Abstract

Blackground: Burning mouth syndrome (BMS) is a disorder that is characterized by a burning sensation of the oral cavity in the absence of visible local or systemic abnormalities. Affected patient often present with multiple oral complaints, including burning, dryness and taste alterations. The exact cause of burning mouth syndrome often is difficult to pin point. Conditions that have been reported in association with burning mouth syndrome include menopause, hyposlivation, coated tongue, taste alterations and psychologic condition. Objective: To report a case of burning mouth syndrome in postmenopausal women with hyposalivation, coated tongue, taste alterations and psychologic condition and its management. Case and management: a case of burning mouth syndrome in women with menopause, hyposalivation, coated tongue, and taste alterations, was managed effectively by gabapentin 100mg, probiotic chewing gum, diazepam 2mg and vitamin B1, B6, B12. Conclusion: Oral burning appears to be most prevalent in postmenopausal women often present with multiple oral complaints, including burning, dryness and taste alterations, in this case was managed effectively by gabapentin 100mg, prebiotic chewing gum, diazepam 2mg and vitamin B1, B6, B12.
Protesa Maksilofasial dengan Hollow Bulb untuk Rehabilitasi Pasca Hemimaxillectomy Klas IV Aramany Farid Munandar; Heriyanti Amalia Kusuma; Endang Wahyuningtyas
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3541.874 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16482

Abstract

Latar belakang. Tindakan operasi pembedahan pada daerah wajah akan mengakibatkan cacat wajah, gangguan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik serta kejiwaan penderita dan dapat menimbulkan masalah pada rehabilitasinya. Tujuan. Penulisan laporan ini untuk menginformasikan bahwa defect atau cacat pada daerah wajah dapat direhabilitasi dengan pembuatan protesa maksilofasial dengan hollow bulb untuk mengembalikan fungsi. Kasus. Pasien laki-Iaki berusia 30 tahun datang ke RSGM atas rujukan dari RS. Dr. Sardjito. Saat datang pasien merasa terganggu dengan adanya defect didalam mulutnya. Operasi hemimaxillectomy telah dilakukan oleh dokter THT R.S Hasan Sadikin setahun yang lalu. Penanganan. Dilakukan pemeriksaan subyektif, obyektif, radiografi dan hasil diagnose terdapat defect klas IV Aramany. Rehabilitasi dapat dilakukan dengan pembuatan protesa maksilofasial dengan hollow bulb klas IV Aramany untuk mengembalikan fungsi dan menghindari akibat dari pasca operasi hemimaxillectomy lebih lanjut. Pemeriksaan retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan dilakukan pada waktu insersi, begitu pula pada saat kontrol 1 minggu dan 1 bulan setelah pemakaian tidak ada keluhan. Kesimpulan. Pemakaian protesa maksilofasial dengan hollow bulb ini dapat berguna sebagai alat rehabilitasi yang dapat mengembalikan fungsi bicara dan mengunyah, estetik dan membantu proses penyembuhan jaringan dan psikologi penderita.
Profil lesi mulut pada kelompok lanjut usia di Panti Sosial Tresna Wreda Senjarawi Bandung Nanan Nur'aeny; Kartika Indah Sari
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1405.337 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11268

Abstract

Oral lesions profile in elderly group at Panti Sosial Tresna Wreda Senjarawi Bandung. The aim of the paper is to determine the profile of oral lesions in elderly. The study was conducted on Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi in Bandung, with a cross-sectional method. Samples were selected according the inclusion criteria include physically healthy, be able to communicate well, at least 60 years of age, and independent. The examination of 20 samples showed oral lesions such as coated tongue, fissured tongue, ulcerated lesions, geographic tongue, fordyce granules, and traumatic lesions. Dental examination showed that among 18 samples (90%) had lost several teeth. Coated tongue was found associated with dental conditions, eating habits, physiological factors, and systemic conditions, whereas some other oral lesions occur in accordance with the ages. Ulcerated lesions were found similar to lesions of recurrent aphthous stomatitis (RAS), but in the elderly oral ulceration more often influenced by systemic condition and treatment so that the diagnosis of ulcers is more as a RAS-like. Coated tongue is the most oral lesion found which influenced by the degenerative processes, oral hygiene status, diet, and residence. The oral health of elderly is a necessary part to get attention, including from the dentist in order to achieve a good quality of life.ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil lesi mulut pada kelompok lanjut usia di panti sosial tresna wreda Senjarawi Bandung. Penelitian dilakukan pada Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Senjarawi di kota Bandung, dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian dipilih sesuai kriteria inklusi meliputi sehat fisik dan mampu berkomunikasi dengan baik, usia minimal 60 tahun, dan mandiri. Hasil pemeriksaan pada 20 sampel menunjukkan adanya lesi mulut seperti coated tongue, fissured tongue, lesi ulserasi, geographic tongue, fordyce granule, dan lesi traumatik. Jumlah terbanyak yaitu 11 orang (55%) mengalami coated tongue. Hasil pemeriksaan gigi ditemukan sebanyak 18 sampel (90%) mengalami kehilangan beberapa gigi. Coated tongue banyak ditemukan terkait dengan kondisi gigi yang dialami, kebiasaan makan, faktor fisiologis, dan kondisi sistemik, sedangkan beberapa lesi mulut lainnya terjadi sesuai dengan penambahan usia. Lesi ulserasi yang ditemukan mirip dengan lesi recurrent aphthous stomatitis (RAS), tetapi pada usia lanjut ulserasi mulut lebih sering dipengaruhi oleh kondisi sistemik dan pengobatannya sehingga diagnosis ulser lebih sebagai suatu RAS-like. Coated tongue sebagai lesi mulut yang paling banyak ditemukan karena  dipengaruhi oleh proses degeneratif, status kebersihan mulut, pola makan, dan tempat tinggal. Kesehatan gigi dan mulut lansia merupakan hal yang perlu mendapat perhatian termasuk dari dokter gigi sehingga diharapkan dapat tercapai kualitas hidup lansia yang baik.
Kandidiasis di Mulut akibat Khemoterapi dan Penatalaksanaannya Sri Budiarti Wonso Hardjono; Goeno Subagyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5362.726 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15416

Abstract

Latar belakang: kandidiasis (kandidosis) adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh spesies Candida biasanya Candida albicans. Faktor predisposisi yang memicu kandidiasis adalah terganggunya ekologi mulut karena antara lain pemakaian antibiotika, kortikosteroid, penyakit kronis dan keganasan, beberapa gangguan darah; terapi radiasi di leher dan kepala; khemoterapi; leukimia, obat sitotoksik, juga kebersihan mulut yang buruk. Tujuan: melaporkan kasus kandidiasis di mulut karena khemoterapi dan penatalaksanaannya. Kasus dan penatalaksanaannya: seorang anak laki-laki umur 3 tahun 11 bulan penderita Leukimia Limfoblastik Akut (LLA) sedang dalam perawatan khemoterapi menderita kandidiasis di mulut sehingga mengalami disfoni dan disfagia. Makanan dimasukkan lewat hidung. Klinis pasien terlihat lemah infus lewat tangan. Dalam mulut terlihat patch putih tebal menutupi permukaan dorsal dan ventral lidah, palatum durum dan ventral lidah, palatum durum dan molle, mukosa pipi kanan kiri dan gingiva rahang atas dan bawah. Pasien disedasi untuk dilakukan pengerokan lapisan kandida di mulut; pemberian Nystatin solution dan ketokonazol dilanjutkan. Pengerokan psedomembran kandidiasis telah memberikan hasil yang memuaskan, satu minggu kemudian rongga mulut pasien sudah terlihat bersih, pasien sudah dapat makan minum melalui mulut, juga sudah dapat berbicara lagi/tidak serah. Kesimpulan: Pembersihan jamur dengan pengerokan telah dilakukan, kandidiasis pseudomembran dapat diangkat dan mulut pasien sudah bersih, pasien dapat makan dan berbicara lagi. Background: Candidiasis (candidosis) is an fungal infection caused by Candida species usually Candida albicans. Predisposing factors which trigger candidiasis are the ecological disruption caused by use of oral antibiotics, corticosteroids, malignancy and chronic disease; some blood disorders; head and neck radiation; chemotherapy; leukimia, cytotoxic drugs, as well as poor oral hygiene. Aim: To report a case of Candidiasis in the mouth due to chemotherapy and its management. Case and Management: A boy with acute lymphoblastic leukimia (ALL) aged 3 years and 11 months has being treatment of chemotherapy suffer from Candidiasis in the mouth so he can not eat, talk. Food is inserted through the nose. Clinical finding, patient seen through the hand of week infusion. In the mouth looks thick white patch covering the dorsal tongue, ventral tongue, hard palate and soft palate, cheek mucosa and gingival right, left upper and lower jaws. Under sedation the layer of pseodomembranous Candidiasis was scrabed to eliminated Candida coloni. Conclusion: The scrabing of psedomembranous candidiasis have been done, so he can speek and eat.