cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Pemakaian Inclined Bite Plane untuk Koreksi Gigitan Terbalik Interior pada Anak Debrania Santoso; Iwa Sutardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3925.844 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15534

Abstract

Latar Belakang. Anak dengan gigitan terbalik pada anterior pada umumnya mempunyai keluhan dalam hal estetik dan fungsi pengunyahan. Kondisi gigitan terbalik biasanya disebabkan oleh adanya kebiasaan buruk dan faktor keturunan yang semakin memperparah keadaan tersebut. Pada kasus ini ditampilkan dua anak dengan gigitan terbalik anterior yang disebabkan oleh adanya kebiasaan buruk bertopang dagu dan mendorong lidah ke gigi anterior bawah. Perawatan menggunakan inclined bite plane dapat mengkoreksi gigitan terbalik anterior. Tujuan. Laporan kasus ini adalah untuk melaporkan bahwa pemakaian alat inlined bite plane dapat mengkoreksi gigitan terbalik anterior pada anak. Kasus. Dua orang anak perempuan dengan kasus gigitan terbalik anterior dilakukan pemeriksaan di poli gigi anak RSGM. Dari anamnesa diketahui bahwa anak pertama memiliki kebiasaan buruk bertopang dagu dan anak kedua mendorong lidah ke gigi anterior bawah. Perawatan yang dipilih adalah menggunakan alat inlined bite plane yang harus digunakan setiap hari saat tidur kecuali waktu makan dan menggosok gigi. Perawatan lanjutan pasien pertama tetap menggunakan alat removable dan pasien kedua dengan fixed orthodonti. Kesimpulan. Pasien pertama setelah 7 minggu gigitan terbalik anterior terkoreksi dan kebiasaan buruk dapat dihentikan. Pada pasien kedua gigitan terbalik anterior terkoreksi setelah 5 minggu. Hubungan oklusi pada pasien kedua lebih baik dibandingkan pasien pertama. Background. Children with anterior crossbite generally complaint about aesthetic and masticatory function. Anterior crossbite is usually caused by bad habits and hereditary factors that exacerbated this situation. In this case was displayed two children with anterior crossbite caused by a bad habit pushing the chin with one hand and pushing the tongue to the lower anterior teeth. Treatment approach using inclined bite plane correct the anterior crossbite. Purpose. The purpose of this case report is to report the use of inclined bite plane can corrected anterior crossbite. Case. Two girls with anterior crossbite cases are examined and from the anamnesis is known that the first child has a bad habit pushing chin and the second child pushing tongue to the lower anterior teeth. Treatment of case is to use the inclined bite plane every day while awake and sleeping except when eating and brushing teeth. Conclusion. The anterior crossbite of the first child is corrected after 8 weeks treatment and 5 weeks treatment for the second child. The occlusion of the second child is better than the first child.
Gambaran histopatologi penyembuhkan luka pencabutan gigi pada makrofag dan neovaskular dengan pemberian getah batang pisang ambon Hendrik Setia Budi; Pratiwi Soesilowati; Zhafirah Imanina
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.575 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.17454

Abstract

Tooth extraction healing on macrophages and neovascular histopathology induced by ambonese banana stem sap gel. Blood clotting is very important in the early wound healing process. Blood clots will soon be filled with a connective tissue due to the induction of growth factors as granulation tissue. The expression of platelet derived growth factors (PDGF)-BB using the Ambonese banana stem sap gel (Musa paradisiaca var. sapientum) can increase the proliferation of fibroblasts. Macrophages and neovascular support in the early phase of healing. The purpose of this research was to demonstrate that Ambonese banana stem sap gel (GEGPA) can improve the macrophages and neovascular in the socket wound healing. Thirty six wistar rats were used and divided into 3 groups. The mandibular left incisor was extracted. The first group as control was given HPMC 4% gel on socket, the second group was given GEGPA 60%, and third group was given gelatin sponge. Rats were sacrificed on day 3 and 5 for histopathology examination of neovaskular and macrophages on the socket. The results showed that there was significantly different in the control group on a number of neovascular and macrophages in socket on day 3 (p<0.05). No significant difference on day 5 in all groups of neovascular and macrophages number (p>0.05). It was concluded that the use of GEGPA 60% acceleratedthe wound healing of tooth extraction socket by means of macrophages and neovascular increasing.ABSTRAKPembekuan darah sangat penting pada proses awal penyembuhan luka. Bekuan darah akan segera diisi oleh jaringan granulasi yang berasal dari induksi faktor pertumbuhan. Ekspresi platelet derived growth factors (PDGF)-BB yang diinduksi oleh pemberian gel ekstrak getah batang pisang ambon (Musa paradisiaca var. sapientum) dapat menunjukkan terjadinya peningkatan proliferasi fibroblas. Makrofag dan neovaskular sangat menunjang fase awal penyembuhan. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa pemberian gel ekstrak getah batang pisang ambon (GEGPA) dapat meningkatkan jumlah makrofag dan neovaskular pada penyembuhan luka soket. Tikus strain Wistar sebanyak 36 ekor digunakan pada penelitian ini yang terbagi menjadi 3 kelompok. Semua tikus dilakukan pencabutan gigi pada insisive kirimandibula. Kelompok pertama sebagai kontrol, pada soket diberi gel hidroksipropil metil selulosa (HPMC) 4%, kelompok kedua diberi GEGPA 60%, dan kelompok ketiga diberi gelatin sponge. Tikus dikorbankan pada hari ke-3 dan 5 untuk pemeriksaan histopatologi neovaskular dan makrofag pada soket. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang bermakna terhadap kelompok kontrol pada jumlah neovaskular dan makrofag soket pada hari ke-3 (p<0,05). Tidak ditemukan perbedaan yang bermakna pada jumlah neovaskular dan makrofag hari ke-5 (p>0,05). Disimpulkan bahwa pemberian GEGPA 60% dapat mempercepat penyembukan luka pencabutan gigi melalui peningkatan jumlah makrofag dan neovaskular.
Protesa Maksilo Fasial Kerangka Logam Kombinasi Bahan Termoplastik pada Defek Kelas II Aramany Pasca Hemimaxillectomy Yuyus Mohamad Ilyas Djunaedy
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1196.077 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15923

Abstract

Background: Hemimaxilectomy surgery may cause facial defects, impaired function of speech, swallowing, mastication, esthetics as well as psychiatric patients and can cause problems I rehabilitation. Objective: This case report aims to determine the effect of maxillofacial prosthesis using ametal frame combination of thermoplastic materials in class II defects aramany to the aesthetic, retention, and stabilization of the prosthesis. Case: a 58- year old woman has done hemimaxilectomy, since ayear ago. Defective class II aramany, most of the maxillary teeth are gone, the teeth are still there 11, 13 and 17. Taking impression using hidrocoloid irreversible material was done following subjective, objective and radiographic examination, then the processs of ametal frame, MMR, teeth  arrangement, wax denture try in, then do the lab thermoplastic material, and insertion of the prosthesis. Manufacture of metal framework prosthesis combination of thermoplastic materials of class II defects aramany is the right choice. Conclusion: it can result in the retention, stabilization, good occlusion and esthetics.
Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan pada Nekrosis Pulpa Disertai Mahkota Porselin Fusi Metal dengan Pasak Fiber (terhadap Gigi Insisivus Pertama dan Kedua) Joko Purnomo; Ema Mulyawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6533.801 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16484

Abstract

Perawatan saluran akar satu kunjungan dapat memperkeeH risiko kontaminasi bakteri dan mikroorganisme serta menghemat waktu perawatan. Restorasi gigi insisivus maksila pasea perawatan saluran akar harus mempertimbangkan sisa jaringan keras yang masih ada. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk untuk menginformasikan hasil restorasi gigi 21 dan gigi 22 yang nekrosis pulpa paska perawatan saluran akar satu kunjungan. Pasien perempuan 18 tahun datang ke klinik Konservasi Gigi RSGM FKG UGM ingin merawat gigi depan atas yang berlubang dan warnanya hitam. Berdasarkan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografis diperoleh diagnosis gigi 21 dan gigi 22 nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Dilakukan perawatan saluran akar satu kunjungan, paska perawatan saluran akar gigi 21 dan gigi 22 direstorasi mahkotajaket porselin dengan pasak fiber. Hasil evaluasi klinis saat kontrol tidak ada keluhan rasa sakit gigi, warna gigi serasi dengan gigi tetangga dan pasien merasa puas.
Pengaruh keadaan rongga mulut, perilaku ibu, dan lingkungan terhadap risiko karies pada anak Quroti A&#039;yun; Julita Hendrartini; Al Supartinah
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.798 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11267

Abstract

The effect of oral cavity condition, mothers’ behaviour and environment on the carries risk on children. Carries risk factors in children consist of direct risk factor, which includes the condition of oral cavity, and indirect risk factor including mother’s behaviour and environment. The study was to identify factors that influence the occurrence of caries in children. This is an observational research with a cross-sectional design. The samples were 430 children between the ages of 10-12 years. The evaluated caries risk factors included pH level of saliva, the amount of plaque, caries experience, the mother’s behaviour in child’s utilization of dental health service, the mother’s behaviour on the child’s health care, and the mother’s behaviour on child’s food selection. The environment factors were UKGS implementation by teacher and friend’s influences. The data were analysed using multiple logistic regression. The result of multiple logistic regression analysis indicated that the pH level of saliva (POR=1.923), the amount of plaque (POR=2.382), caries experience (POR=4.048), mother’s behaviour in child’s utilization of dental health service (POR= 2.107), mother’s behaviour on child’s food selection (POR= 1.676), and the UKGS implementation by teacher (POR=1,846) significantly influenced the occurrence of caries (p<0,05). The mother’s behaviour on the child’s health care and friend’s influences did not significantly influenced the occurrence of caries (p>0,05). The study showed that pH level of saliva, the amount of plaque, caries experience, the mother’s behaviour in utilization of dental health service, mother’s behaviour on child’s food selection, and the UKGS implementation by teacher influenced the risk of caries in children.ABSTRAKFaktor risiko karies pada anak terdiri atas faktor risiko langsung, yaitu keadaan rongga mulut anak, dan faktor tidak langsung, yaitu perilaku ibu dan lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko terjadinya karies. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross-sectional. Sampel sebanyak 430 anak berumur 10-12 tahun, faktor risiko karies yang diukur adalah pH saliva, banyaknya plak, dan pengalaman karies, perilaku ibu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi anak, perilaku ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi, dan perilaku ibu dalam pemilihan makanan anak. Faktor lingkungan terdiri atas pelaksanaan UKGS oleh guru dan pengaruh teman sebaya. Analisis data dilakukan dengan multiple logistic regression. Hasil analisis menunjukkan pH saliva (POR=1,923), banyaknya plak (POR 2,382), dan pengalaman karies (POR= 4,048), perilaku ibu dalam pemanfatan pelayanan kesehatan gigi anak (POR=1,876), perilaku ibu dalam pemilihan makanan anak (POR=1,676) dan pelaksanaan UKGS oleh guru (POR=1,847) berpengaruh secara signifikan dengan risiko karies pada anak (p<0,05). Perilaku ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi anak dan teman sebaya tidak berpengaruh terhadap risiko karies pada anak (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap risiko karies pada anak adalah pengalaman karies, banyaknya plak, pH saliva, perilaku ibu dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan gigi anak, perilaku ibu dalam pemilihan makanan anak, dan pelaksanaan UKGS oleh guru.
Perawatan Kandidiasis Pseuodomembran Akut dan Mukositis Oral pada Penderita Kanker Nasofaring yang Menerima Khemoterapi dan Radioterapi S. Supriatno; Goeno Subagyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4276.369 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15421

Abstract

Latar belakang: Terapi radiasi merupakan metode primer perawatan pasien kanker leher dan kepala. Perubahan funsional dan kerusakan jaringan oral menyebabkan timbulnya mukositia oral yang diikuti dengan kandidiasis oral. Tujuan: Melaporkan efek samping perawatan khemoterapi dan radioterapi pada pasien kanker nasofaring yang terjadi di rongga mulut berupa kandidiasis pseudomembran akut dan mukositis oral serta penatalaksanaannya. Kasus: Seorang laki-laki, 69 tahun, datang ke Bagian Gigi dan Mulut RSUP Dr. Sardjito, atas rujukan dari instalasi Penyakit Dalam., RSUP Dr. Sardjito, dengan keluhan sakit untuk menelan makanan dan mulutnya banyak bercak-bercak putih. Keluhan dirasakan satu minggu setelah dilakukan khemoterapi ke-3 dan radioterapi ke-9. Pasien didiagnosa kanker nasofaring (NPC) dengan klasifikasi T2N3M0. Pemeriksaan klinik menunjukkan adanya lapisan putih pada mukosa lidah, pipi, palatum, dan mukosa bibir. Seluruh mukosa mulut berwarna merah tua dan terdapat anguler cheilitis di kedua sudut bibir. Pasien diklasifikasikan menderita mukositis oral derajat 1. Penatalaksanaan: Menghilangkan jaringan nekrotik dan debris dengan berkumur larutan perhidrol 3% dan pemberian medikasi termasuk tablet nistatin 500.000 IU, betadin kumur, dan larutan perhidrol 3% selama 1 minggu. Saat reevaluasi, pasien sudah dapat menelan dan makan yang sedikit keras tanpa ada rasa sakit lagi. Pemeriksaan klinis didapatkan bercak putih di lidah, palatum, pipi dan bibir sudah tidak ada. Warna mukosa oral telah normal, OHI dan kondisi umum baik dalam 1 minggu pasca perawatan. Kesimpulan: Perawatan kandidiasis dan mukositis oral akibat kemoradioterapi pada pasien kanker nasofaring telah berhasil dan kondisi oral membaik. Pasien dapat mengunyah dan menelan makanan tanpa ada rasa sakit, dan hasil pengobatan yang diberikan pada pasien sesuai dengan harapan operator. Background: Radiation therapy remains the primary method of treatment for patients with head and neck cancer. The tissue destruction and functional alterations in the oral cavity lead to the development of oral mucositis followed by oral candidiasis. Purpose: The aim of study was to report the side effect of chemotherapy and radiotherapy treatment of nasopharyng cancer patient included acute pseudomembran candidiasis and oral mucositis, and its treatment. Case: 69 year old man, came to dental clinic, Sardjito hospital, as refered from Internal Medicine department, Sardjito hospital, with complained painful for food swallowing and found white spots at oral cavity. Chief complaint was detected one week after third chemotherapy and nine radiotherapy treatments. Nasopharyng cancer was diagnosed with T2N3M0 clasifiacation. Clinical examination showed white spots at tongue, buccal, palatal and lip mucosa. All of oral mucosa coloured bright-red and anguler cheilitis appeared at both lip angle. Patient was clasified (by WHO) to have oral mucositis with level 1. Management: removal of necrotic tissue and debris using perhidrol 3% solution, and also medication by nistatin tablet 500.000 IU, betadin gargle, and perhidrol 3% solution for 1 week. In control, patient feeled comfortable while food swallowing and could eat a slightly hard food without pain. Clinical examination revealed that white spot at tongue, buccal, palatal and lip mucosa was disappeared. Normal colour was found at all of oral mucosa. Also, oral hygiene and general condition were good in 1 week post treatment. Conclusion: Treatment of acute pseudomembran candidiasis and oral mucositis caused by chemotherapy and radiotherapy of nasopharyng cancer patient was recovered. Patient could chew and swallow of food without painful, and results of treatment to this pastient gave us a satisfied.
Perawatan maloklusi Angle kelas II divisi 2 pasien dewasa dengan pencabutan dua premolar atas Tita Ratya Utari
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12.633 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.17249

Abstract

Treatment of maloclussion angle class II division 2 in adult patient with two maxillary premolar extractions. Angle Malocclusion class II division 2 had a characteristic of central incisor retroclination, lateral incisor proclination, added by severe deep overbite that caused aesthetic disturbance to the patient. In adult patient this type of case usually is treated with rst premolar extraction. This case report aimed to describe orthodontic treatment in maloclussion Angle class II division 2 to correct anterior crowding deep overbite which nally improve the aesthetics. A 19-year old female patient with overjet 0.5 mm, step bite (overbite 7.8mm) and ANB 10° (SNA 92°, SNB 82°). An 18 year old male patient with overjet 0.5 mm step bite (overbite 9mm) and ANB 10,5° (SNA 87,5°, SNB 77°). Both patients were diagnosed with malocclusion Angle class II division 2 with the palatoversi of central incisor, labioversi of lateral incisor and anterior crowding with trapezoid shape of the jaw. Patient was given orthodontic treatment using xed appliance with straight wire system and extraction of upper rst premolar. The treatments began by correcting the inclination of central incisor that allowed braces installation in lower anterior teeth. Canine was distalized then anterior retraction, it followed by intrusion of anterior maxilla using U loop. Treatment for malocclusion Angle Class II division 2 with the extraction of upper rst premolar feasible for correcting its anterior relation. Deep overbite and anterior crowding in both patients were corrected for better face aesthetics. ABSTRAKMaloklusi Angle kelas II divisi 2 dengan karakteristik retroklinasi insisivus sentral, proklinasi insisivus lateral disertai deep overbite yang parah menyebabkan gangguan estetik bagi pasien. pencabutan gigi premolar atas umumnya dilakukan untuk memperbaiki maloklusi pada pasien dewasa. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan perawatan ortodontik dengan diagnosis maloklusi Angle Klas II Divisi 2 dengan tujuan memperbaiki crowding dan deep over bite sehingga diperoleh estetika yang baik. Kasus 1, pasien perempuan berusia 19 tahun dengan overjet 0,5 mm, deepbite (overbite 7,8 mm), dan ANB 10° (SNA 92°, SNB 82°). Kasus 2, pasien laki laki berusia 18 tahun dengan overjet 0,5 mm, deepbite (overbite 9 mm), dan ANB 10,5° (SNA 87,5°, SNB 77°). Diagnosis kedua kasus tersebut maloklusi Angle kelas II divisi 2 dengan insisivus sentralis rahang atas palatoversi, insisivus lateralis labio versi disertai crowding gigi anterior dan bentuk lengkung trapezoid. Pasien dilakukan perawatan ortodontik menggunakan alat cekat Straight Wire System dengan pencabutan premolar pertama kanan dan kiri rahang atas. Perawatan diawali dengan melakukan koreksi inklinasi gigi insisivus sentral atas sehingga memungkinkan pemasangan braket pada rahang bawah. Dilanjutkan distalisasi gigi kaninus, kemudian retraksi sekaligus intrusi gigi anterior rahang atas menggunakan wire dengan U-loop. Perawatan klas II divisi 2 dengan pencabutan premolar pertama rahang atas kanan dan kiri dapat memperbaiki relasi gigi anterior. Deep overbite dan crowding gigi anterior pada kedua pasien tersebut dapat dikoreksi sehingga diperoleh estetika wajah yang jauh lebih baik.
Exfoliative Cheilitis dan Penatalaksanaannya Dewi Agustina; Goeno Subagyo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1390.587 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15677

Abstract

Latar Belakang: Exfoliative cheilitis adalah suatu keadaan inflamatori kronis superfisisal yang ditandai dengan adanya pengelupasan permukaankeratin bibir sedangkan area yang lain terjadi pembentukan lapisan keratin. Tujuan: untuk melaporkan suatu  kasus Exfoliative cheilitis yang diikuti +  selama 2 bulan beserta penatalaksanaanya. Laporan kasus: seorang wanita berusia 52 tahun mengeluh bibir bawahnya pecah-pecah, terasa kering dan panas berdasarkan pemeriksaan subyektif dan klinis, Exfoliative cheilitis ditetapkan sebagai diagnosis kerja. Penatalaksanaanya: Komunikasi-Informasi-Edukasi (KIE) diberikan kepada pasien pada awal kunjungan disertai pemberian metil prednisolon, Vitamin B1,6,12 dan anjuran untuk menghentikan kebiasaan menjilat-jilat bibir bawah, menghindari stress dan meningkatkan asupan makanan yang mengandung vitamin A. Pada kunjungna berikutnya pemberian metil prednisolon dihentikan karena terdeteksi adanya peningkatan tekanan darah. Untuk selanjutnya kondisi bibir bawah dievaluasi +  selama 2 bulan. Kesimpulan: Progresitas Exfoliative cheilitis dapat dihentikan dengan bantuan KIE serta menghindari faktor pemicu stress, yang pada akhirnya akan dapat meminimalisir aktivitas factitious berupa menjilat-jilat bibir bawah.  Background: Exfoliative cheilitis is a chronic superficial inflammatory condition that is characterized by regular peeling of a superficial excessive layer of karatin, on the other hand, keratinization is developed in the other area. Aim: to report an Exfoliative cheilitis case monitored for two months and its management. Case Report: a 52 year female has been suffering from fissured lower lip with dry and burning sensations. According to subjective and clinical examinations, Exfoliative cheilitis was determined as the working diagnosis. Management: Communication-Information-Education (CIE) were given to the patient at the first visit, besides metyl prednisolon and vitamin B1,6,12 administrations. Patient was also suggested to stop licking the lower lip, to avoid any stress and to increase vitamin A containing food. For the next visit, metyl prednisolon administration was stopped since increasing blood pressure detected. Then, evaluation to the lower lip was conducted during around two months. Conclusion: Progression of exfoliative cheilitis can be stopped by CIE and stress avoidance, in turn, factitious activity (licking the lower lip) can be minimalized.
Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan Disertai Restorasi dan Pasak Resin Komposit pada Nekrosis Pulpa dengan Lesi Periapikal (terhadap Gigi Insisivus Sentralis Kanan Maksila) Anung Sri Gutomo; Yulita Kristanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4986.678 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16475

Abstract

Latar belakang. Perawatan Saluran akar satu kunjungan merupakan perawatan saluran akar yang prosesnya diselesaikan dalam satu kali kunjungan. Hal ini memberikan keuntungan antara lain memperkecil resiko kontaminasi mikroorganisme dalam saluran akar dan menghemat waktu perawatan. Pasak resin komposit merupakan pasak buatan sendiri yang dibuat dari resin komposit, pasak ini mempunyai daya tahan yang cukup kuat untuk menerima tekanan pengunyahan dan tidak memerlukan preparasi saluran akar yang banyak membuang struktur dentin. Tujuan. penulisan laporan kasus ini adalah untuk mengevaluasi restorasi resin komposit dengan pasak resin komposit pasca perawatan saluran akar satu kunjungan pada gigi insisivus sentralis kanan maksila. Kasus. Laki-Iaki 20 tahun datang ke Klinik Konservasi Gigi RSGM Prof Soedomo untuk merawatkan gigi depan atas yang berlubang di bagian palatal. Penanganan. Berdasarkan pemeriksaan subjektif, objektif dan radiografis diperoleh diagnosis gigi insisivus sentralis kanan maksila karies profunda dengan nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Rencana perawatan yang akan dilakukan adalah perawatan saluran akar satu kunjungan, dilanjutkan restorasi resin komposit dengan pasak resin komposit aktivasi kimiawi. Kesimpulan. Evaluasi klinis pada waktu kontrol gigi insisivus sentralis kanan maksila menunjukkan tidak ada respon perkusi dan palpasi, warna gingiva normal,tumpatan masih utuh, warna tumpatan dan warna gigi tidak berubah.
Pemakain Lip Bumper pada Anak Cerebral Palsi dengan Kasus Drooling, Inkompetensi Bibir dan Kebiasaan Menggigit-gigit Bibir Bawah Ani Subekti; Indah Titien
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4648.142 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15402

Abstract

Latar Belakang. Anak yang menderita cerebral palsi pada umumnya mempunyai keluhan ketidakmampuan dalam pengontrolan saliva dalam rongga mulutnya. Pada kondisi tersebut penderita mengalami ketidaknormalan dalam koordinasi neuromuscular pada lidah, bibir dan pipinya, sehingga hal tersebut dapat menyebabkan drooling. Kebiasaan buruk menggigit-gigit bibir bawah yang terjadi pada anak ini menimbulkan problem inkompetensi bibir. Pendekatan perawatan myofungsional dapat meningkatkan torus otot bibir dan lidah, dan sebisa mungkin menahan posisi lidah tetap di dalam mulut dengan suatu hal yang dinamakan lip bumper. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk melaporkan bahwa pemakaian alat lip bumper dapat mengurangi drooling, inkompetensi bibir dan kebiasaan menggigit-gigit bibir bawah pada anak cerebral palsi. Kasus. Seorang anak laki-laki siswa SLB 1 Bantul dengan kelainan cerebral palsi dilakukan pemeriksaan rutin kesehatan gigi. Tampak gigi protusif dengan bibir inkompetensi. Setelah wawancara dengan pengasuh, anak tersebut mempunyai drooling yang berlebihan dan sering menggigit-gigit bibir bawah. Perawatan yang dipilih adalah menggunakan alat removabel lip bumper. Lip bumper dipakai pada siang hari selama 2 jam dan malam hari pada waktu tidur. Kesimpulan. Setelah 3 bulan terjadi pengurangan drooling, kebiasaan menggigit-gigit bibirnya hilang dan inkompetensi bibir berkurang. Background. Children with cerebral palsy generally have a complaint inability to control saliva in the oral cavity. In these conditions the patient has an abnormality in neuromuscular coordination of the tongue, lips and cheeks, where it can cause drooling. Myofungsional treatment approaches can improve muscle tone lips and tongue, and as much as possible to hold the position of the tongue remains in the mouth with a tool called a lip bumper. Purpose. The purpose of this case report is to report that the use of lip bumper can reduce drooling, incompetency lips and biting his lower lip in child’s cerebral palsy. Case. A young male student SLB 1 Bantul with abnormalities of cerebral palsy do routine dental examination. He has lip incompetence and protusif. After the interview with the caregiver, the child has excessive drooling and often lower lip biting. The selected treatment is to use a lip bumper. Lip bumper used during the day for 2 hours and at night at bedtime. Conclusion. After 3 months of a reduction of drooling, lip biting missing and reduce of incompetency lips.