cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Pengetahuan dan sikap ibu tentang kebersihan gigi dan mulut pasca ceramah pendidikan kesehatan gigi disertai diskusi kelompok atau disertai hands on Agusthinus Wali; Sri Widiati; Niken Widyanti Sriyono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.077 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10738

Abstract

ABSTRACT: The difference increased knowledge and attitudes of mothers about oral hygiene through dental health education lecture with discussion groups and lectures with hands on. Dental health education will be more effective when started from the family by teaching the mothers about the importance of oral health maintenance. This study aims to determine the difference in the increased knowledge and the attitudes of mothers about oral hygiene through dental health education lecture with discussion groups and lectures with hands on. This study was a quasi-experimental design with pretest and post-test group design. The subjects of research were 95 mothers of children aged 6-8 years who met the inclusion criteria and divided into two groups. Group I in PPA IO-497 Benjamin Oebufu, Kupang (53 subjects) were given a lecture with discussion groups and group II in PPA IO-495 Alfa Omega Bakunase 2, Kota Kupang with total of 42 subjects were given a lecture with hands on. Measuring tool was a questionnaire. The analysis of data using Statistic Program for Social Science (SPSS) for a different test testing the T-test for normal distribution of data, while the Mann-Whitney test and the Wilcoxon Signed Rank test were for abnormal distribution data. The initial analysis on knowledge and attitudes obtained some comparable results in which there were no differences between treatment groups I and II (p > 0.05). The results of the analysis of mean differences between groups on post-test 1 and 2 showed some significant differences knowledge and attitudes in the treatment group II of the treatment group I (p < 0.05). The results of the analysis of the average increase showed the increased knowledge and attitudes were significant in both treatment groups. Delta analysis results from pre-test to post-test 1 and pre-test to post-test 2 showed the treatment group improved knowledge and attitudes II is higher than in the treatment group I (p < 0.05). Dental health education using lecture with hands on increased knowledge and attitudes about the subject of oral hygiene of the a lecture with discussion groups.   ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan pengetahuan dan sikap ibu tentang kebersihan gigi dan mulut melalui pendidikan kesehatan gigi metode ceramah disertai diskusi kelompok dan ceramah disertai hands on. Penelitian dilakukan pada subjek penelitian sebanyak 95 ibu dari anak umur 6-8 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan terbagi dalam dua kelompok. Kelompok perlakuan I di PPA IO-497 Benyamin Oebufu, Kota Kupang sebanyak 53 subjek diberikan ceramah disertai diskusi kelompok dan kelompok II di PPA IO-495 Alfa Omega Bakunase 2, Kota Kupang sebanyak 42 subjek diberikan ceramah disertai hands on. Alat ukur dalam penelitian adalah kuesioner. Analisis data menggunakan Statistik Program for Social Scince (SPSS) untuk uji beda yaitu uji T-test untuk data distribusi normal, sedangkan Mann-Whitney test dan Wilcoxon Signed Ranks test untuk data distribusi tidak normal. Hasil analisis perbedaan rerata antar kelompok pada post-test 1 dan 2 terdapat perbedaan pengetahuan dan sikap yang signifikan pada kelompok perlakuan II lebih tinggi dari pada kelompok perlakuan I (p < 0,05). Hasil analisis rerata peningkatan terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap yang signifikan pada kedua kelompok perlakuan. Hasil anal isis delta dari pre-test ke post-test 1 dan pre-test ke post-test 2 menunjukkan pada kelompok perlakuan II peningkatan pengetahuan dan sikap lebih tinggi dari pada kelompok perlakuan I (p < 0,05). Pendidikan kesehatan gigi dengan metode ceramah disertai hands on lebih meningkatkan pengetahuan dan sikap subjek tentang kebersihan gigi dan mulut dari pada metode ceramah disertai diskusi kelompok.
Faktor Risiko Terjadinya Karies Baru dengan Pendekatan Kariogram pada Pasien Anak di Klinik Kedokteran Gigi Anak RSGMP Prof. Soedomo Yogyakarta Putri Kusuma Wardani; Al Supartinah; Indah Titien S; SB Sri Rantinah; Emut Lukito; Rinaldi Budi Utomo; Sri Kuswandari
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3174.278 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.12700

Abstract

Latar belakang. Faktor risiko karies adalah faktor yang berhubungan dengan kejadian karies pada individu dan populasi. Faktor risiko karies berbeda antar individu. Untuk menggambarkan interaksi antara faktor-faktor yang berhubungan dengan karies digunakan kariogram. Tujuan. Penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran urutan faktor risiko karies dengan pendekatan kariogram pada pasien anak di klinik Kedokteran Gigi Anak RSGMP Prof. Soedomo. Metode. Subjek terdiri dari 26 anak dalam periode gigi-geligi bercampur. Dilakukan pemeriksaan tentang pengalaman karies, riwayat penyakit sistemik, frekuensi makan, skor plak, aktivitas Streptococcus mutans, volume sekresi saliva, pH saliva dan program fluoridasi. Hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan program kariogram. Hasil. Penelitian menunjukkan bahwa rerata persentase faktor bakteri adalah 21,1%, faktor pola makan: 18,1%, faktor kerentanan gigi: 16,1% dan faktor lain-lain: 9,5%. Kesimpulan. Dapat disimpulkan bahwa urutan faktor risiko karies dengan pendekatan kariogram adalah bakteri, pola makan, kerentanan gigi dan faktor lain-lain. Background. Caries risk factor is factor related with caries incidence in individu and population. The caries risk factor is different between individu. For illustrating the interaction between caries related factors may be used cariogram. Aim. The aim of this research was to find out the sequence of caries risk factors from cariogram on children patients at the Clinic of Pediatric Dentistry Prof. Soedomo dental hospital. Method. Subjects were comprised 26 children in the periode of mixed dentition. Examinations were included: experience of caries, the history of systemic disease, daily meal frequency, plaque scoring, activity of Streptococcus mutans, the volume of saliva secretion, pH of saliva, and the participations of fluoridation program. The examination result were analyzed with programme cariogram. Result. The result showed that the mean of percentage bacteria factor was 21,1%, meal pattern factor: 18,1%, susceptible teeth factor: 16,1% and others factors 9,5%. Conclusion. It could be concluded that the sequence of caries risk factors from cariogram were bacteria, meal pattern, susceptible teeth and others factors.
Rehabilitasi Prostetik Paska Hemimaksilektomi pada Pasien Edentulos Novi Tenripada; M.Th Esti Tjahjanti; Erwan Sugiatno
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3446.579 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15539

Abstract

Latar belakang. Hemimaksilektomi adalah reseksi sebagian maksila pada satu sisi. Defek yang dihasilkan setelah hemimaksilektomi akan menyebabkan kecacatan pada wajah serta akan menimbulkan gangguan stomatognatik. Rehabilitasi prostetik merupakan suatu bagian yang penting dalam rekonstruksi rongga mulut pasien pasca pembedahan kanker rongga mulut. Upaya rehabilitasi ini mencakup bentuk perawatan yang melibatkan kerjasama multidisipliner dengan bagian ilmu penyakit mulut, bedah onkologi dan prostodonsi. Tujuan. Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan rehabilitasi prostetik pasca hemimaksilektomi untuk pasien edentulous. Kasus dan penanganan. Pasien laki-laki berumur 65 tahun datang ke RSGM Prof Soedomo dengan diagnose kanker di palatum dan akan dilakukan hemimaksilektomi di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Protesa yang digunakan dalam rehabilitasi prostetik ini adalah obturator imidiat, obturator interim dan obturator definitive. Obturator definitif pada pasien edentulous berupa gigi tiruan lengkap dengan bulb pada sisi defek. Bentuk obturator dibuat dengan mengoptimalisasi retensi dari struktur anatomi yang tersisa. Kesimpulan. Rehabilitasi prostodontik pada pasien edentulous pasca hemimaksilektomi adalah dengan obturator imidiat, obturator interim dan obturator definitive berupa gigi tiruan lengkap dengan bulb. Background. Hemimaxillectomy is resection on unilateral side of maxilla. Maxillary defect that occurred after hemimaxillectomy result in facial deformities and stomatognatic disfunction. Prosthetic rehabilitation is essential part in oral reconstruction after patient undergone oral cancer surgery. Rehabilitative efforts involve treatment modalities involving multidiscipliner teamwork with oral pathologist, oncologist and prosthodontist. Purpose. Purpose of the report was to inform the prosthetic rehabilitation after hemimaxillectomy in completely edentulous patient. Case and treatment. A 65 years male diagnosed cancer on palatal referred to RSGM Prof Soedomo in order to prepare prosthodontic rehabilitation after hemimaxillectomy in RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta. Prosthesis used in this rehabilitation were immediate obturator, interim obturator and definitive obturator. Obturator for completely edentulous patients is complete denture with the bulb on defect side. The shape of obturator was designed to optimalize retention from the remaining anatomical structure. Conclusion. Prosthetic rehabilitation for hemimaxillectomy edentulous patient were immediate obturator, interim obturator and definitive obturator.
Perbandingan hasil pengukuran pada citra Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dengan objek sesungguhnya Ratihana Nurul Indias; Rurie Ratna Shantiningsih; Rini Widyaningrum; Munakhir Mudjosemedi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.281 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15240

Abstract

The distance comparison of Cone Beam Computed Tomography (CBCT) image with the real object. Dentist use radiographs to establish diagnosis, treatment plan, prognosis, as well as to evaluate patient’s treatment. Accurate anatomical dimension is a pivotal point in radiography, especially in the field of oral surgery and dental implant planning. The information about distortion in radiograph is very important to prevent any misdiagnosis and incorrect treatment plan. The purpose of this study was to compare the metal marker distance in CBCT image with the real measurement in dried mandibles. Samples in this study were 40 CBCT images of human dried mandibles, which were produced by using Volux 3D dental CT (Genoray, Korea, 60 kVp, 60 mAs, 10s). Horizontal, vertical, and oblique measurements on CBCT image were done by using Volux 3D dental CT software (GDP-1 software Triana). Themeasurement on CBCT image was compared with the real measurement by using Wilcoxon signed rank test. Image distortion was calculated by subtracting the metal marker distance obtained from CBCT images by the real distance obtained by a direct measurement on dried mandible. The distortion was expressed as a percentage. There were some significant differences (p<0.05) between metal marker distance on CBCT image with a direct measurement in dried mandibles, except oblique measurements on anterior mandibular body that was done without involving mandibular base. The maximal distortion on panoramic view of CBCT image in this study was 8%, and the distortion was different in each part of the mandible. ABSTRAKPemeriksaan radiografi diperlukan oleh dokter gigi untuk menetapkan diagnosis, rencana perawatan, prognosis, dan evaluasi hasil perawatan. Radiograf yang memiliki ketepatan dimensi anatomi diperlukan pada tindakan bedah dan pemasangan implan. Informasi mengenai distorsi hasil pengukuran pada radiograf diperlukan untuk mencegah kesalahan penetapan diagnosis dan rencana perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan jarak metal marker pada pengukuran horizontal, vertikal, dan oblique citra Cone Beam Computed Tomography (CBCT) dengan objek sesungguhnya pada preparat mandibula kering. Sampel penelitian berupa 40 citra CBCT preparat mandibula kering yang dihasilkan oleh mesin Volux 3D dental CT (Genoray, Korea) dengan menggunakan tegangan 60 kVp, kuatarus 60 mAs, dan waktu paparan 10 detik. Pengukuran pada citra CBCT dilakukan dengan mengukur jarak terjauh antara kedua metalmarker secara horizontal, vertikal, dan oblique menggunakan software Volux 3D dental CT (GDP-1 software Triana). Hasil pengukuran pada citra CBCT dibandingkan dengan hasil pengukuran pada preparat mandibula dan dianalisis dengan menggunakan wilcoxon signed rank test. Distorsi dihitung dari perubahan hasil pengukuran pada citra CBCT dibagi dengan ukuran sesungguhnya pada objek, dan dinyatakan dalam satuan persen (%). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna (p<0,05) antara hasil pengukuran jarak metal marker pada citra CBCT dibandingkan dengan objek sesungguhnya pada preparat mandibula kering, kecuali hasil pengukuran oblique tanpamelibatkan basis mandibula di bagian anterior mandibula. Rerata distorsi tertinggi pada citra CBCT panoramic view sebesar 8%, dengan nilai distorsi yang berbeda pada setiap bagian mandibula.
Penggunaan MTA (Mineral Trioxideaggregate) sebagai Bahan Pengisi Saluran Akar pada Gigi Insisivus Lateral Kiri Maksila dengan Perforasi Saluran Akar Andika Rahmat Pratama; Ema Mulyawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1789.941 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15978

Abstract

Laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan hasil pengisian saluran akar dengan menggunakan bahan MTA (Mineral Trioxide Aggregate) pada gigi insisivus lateralis kiri maksila dengan perforasi di daerah saluran akar bagian tengah. MTA (Mineral trioxide Aggregate) merupakan bubuk halus yang dengan pencampuran air akan membentuk koloid gel dan mengeras dalam tiga jam. Indikasi penggunaan MTA untuk menutup perforasi saluran akar, terutama saluran akar bagian apikal yang terbukalebar. Pasien datang dengan keluhan gigi insisivus lateralis kiri maksila berubah warna dan ingin diputihkan. Pada daerah setengah koronal saluran terdapat bahan tumpatan. Pada saat pengambilan bahan tumpatan tersebut, terjadi perforasi akar (iatrogenik) di daerah saluran akar bagian tengah. Diagnosis gigi insisivus lateralis kiri maksila adalah nekrosis pulpa disertai dengan perubahan warna gigi dan lesi periradikular. Perawatan diawali dengan pembukaan kamar pulpa dan preparasi saluran akar. Saluran akar di obturasi dengan MTA untuk menutup perforasi akar. Evaluasi hasil perawatan dilakukan satu bulan pasca perawatan. Hasil evaluasi menunjukkan gigi dapat berfungsi dengan baik, tidak ada keluhan rasa sakit, gambaran radiograf terlihat pengisian yang padat dan tidak ada kelainaan periapikal.
Perawatan Saluran Akar Ulang Pasca Pengisian Saluran Akar dengan Amalgam dan Perforasi Lateral Disertai Restorasi Mahkota Penuh Porselin Fusi Metal dengan Inti Pasak Fiber (pada Insisivus Sentralis Kanan dan Kiri Maksila) Setiawan Wibiksono; Pribadi Santosa
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4292.372 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16488

Abstract

Kegagalan perawatan saluran akar dapat mengakibatkan beberapa masalah baru yang mengganggu fungsi dari gigi yang telah dirawat. Perawatan saluran akar ulang bertujuan menghilangkan bahan dari saluran akar serta memperbaiki kerusakan yang iatrogenik maupun patologik oleh karena kegagalan perawatan sebelumnya. Tujuan. Penulisan laporan untuk mengevaluasi hasil perawatan saluran akar ulang pada gigi insisivus sentralis kanan dan kiri maksila non vital pasea pengisian saluran akar dengan amalgam disertai restorasi mahkota penuh porselin fusi metal dengan inti pasak fiber. Kasus. Pasien laki-Iaki berusia 23 tahun datang ke Klinik Konservasi Gigi FKG UGM ingin memperbaiki gigi depan atas yang berubah warna. Gigi tersebut 5 tahun yang lalu pernah dirawat karena mengalami trauma akibat jatuh. Pada pemeriksaan objektif, tampak gigi 11 dan 21 fraktur 1/3 mahkota, tampak berubah warna, dan tampak bahan amalgam pada dasar kavitas. Pada pemeriksaan radiografis gigi 11 dan 21, .terlihat gambaran radiopak (amalgam) memanjang pada saluran akar, tidak terlihat pengisan saluran akar, dan tampak perforasi lateral pada gigi 11. Diagnosis gigi 11 dan 21 adalah fraktur Ellis kelas III non vital. Penanganan: Prosedur perawatan yang dilakukan adalah penutupan perforasi lateral gigi 11 menggunakan MTA; perawatan saluran akar satu kunjungan; restorasi akhir mahkota penuh porselin fusi metal dengan inti pasak fiber. Evaluasi setelah satu bulan menunjukkan tidak ada keluhan, perkusi dan palpasi negatif, oklusi normal, gigi 11 dan 21 kembali berfungsi normal, terutama fungsi estetis. Kesimpulan: Perawatan saluran akar ulang dan restorasi pada kasus ini dapat mengembalikan fungsi mastikasi, fonetik, estetik, maupun perlindungan terhadap jaringan pendukung pada gigi tersebut.
Terapi Kombinasi Root Debridement dan Antibiotik terhadap Periodontitis Agresif Dahlia Herawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4440.762 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15426

Abstract

Latar Belakang. Kerusakan periodontal yang signifikan secara klinis selama dewasa atau awal masa dewasa dikenal sebagai periodontitis agresif. Perawatan standar scaling dan root planing sering kurang memuaskan hasilnya sehingga perlu mempelajari periodontitis agresif secara tuntas dan terapi yang harus diberikan sehingga perawatan bisa memberikan hasil yang optimal. Tujuan. Untuk mengupas tentang periodontitis agresif agar bisa menegakkan diagnosis, serta mendapatkan hasil yang optimal dalam perawatannya. Ringkasan Pembahasan. Gigi goyah disebabkan oleh sedikit atau rapuhnya tulang alveoler pendukung gigi sehingga gigi tidak bisa menjalankan fungsinya. Periodontitis agresif menyerang seseorang, diketahui oleh dokter gigi sering tidak dari awal, akan tetapi setelah penyakit tersebut berlanjut. Skrening melalui foto Rontgen pada penderita periodontitis usia awal dewasa berguna untuk mengetahui secara dini periodontitis agresif. Pada perawatan regeneratif dengan mengganti tulang alveoler yang hilang, terlebih dahulu menghentikan aktivitas periodontitis agresif, yaitu dengan memberikan antibiotik dikombinasi dengan root debridement baik secara bedah maupun non bedah. Kesimpulan. 1. Mengenali dan merawat periodontitis agresif secara dini dapat mencegah kerusakan jaringan periodontal yang berat. 2. Perawatan periodontitis agresif terutama mengeliminir bakteri dengan kombinasi tindakan mekanis root debridement dan pemberian antibiotik yang tepat dalam jagka waktu yang cukup secara konsisten. 3. Pemberian antibiotik sebaiknya berdasarkan tes laboratorium bakteri resiten. Background. Periodontal destruction is clinically significant during adulthood or early adulthood is known as aggressive periodontitis. Nursing standard scaling and root planing is often less satisfactory result, so need to study of periodontits aggressive thoroughly and therapy should be given so that treatments can provide result that optimal. The Purpose. To investigated the aggresive periodontitis in order to establish the diagnosis, and obtain optimal results in treatment. Summary of Discussion. Wobbly tooth caused by a slightly or bone fragility alveoler supporting the teeth so the teeth can not perform its function. Aggressive periodontitis someone attack, is is known by dentist often not from the beginning, but after the disease continues. Screening through X-ray in periodontitis someone attack, it is known by dentists often not from the beginning, but after the disease continues. Screening through X-ray in periodontitis patients with adult early age is useful to know early aggresive periodontitis. In the regenerative treatment by replacing the lost bone alveoler, first stop the activities of aggresive periodontitis, namely by giving antibiotics combination with root debridement either surgery or non surgical. Conclusion. 1. Recognizing and treating aggressive periodontitis early can prevent severe damage to periodontal tissues. 2. Treatment of aggressive periodontitis, especially action to eliminate the bacteria with a combination of mechanical root debridement and giving appropriate antibiotics within a sufficient period of time is concictently. 3. The given antibiotics should be based on laboratory tests of resistant bacteria.
Efek antikaries ekstrak gambir pada tikus jantan galur wistar Siti Rusdiana Puspa Dewi; Dina Oktaviani Marlamsya; Rini Bikarindrasari
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.905 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.17407

Abstract

Anti-caries effect of gambier extract on male wistar rats. Several previous studies have mentioned that gambir extract can inhibit the growth of Streptococcus mutans (S. mutans) because it contains active substances of catechins and tannins. The objective of this study was to explore the anti-caries effect of gambir extract on male Wistar rats. Thirty-six Wistar rats were inoculated with S. mutans, given cariogenic foods and divided into 4 groups according to the doses of gambir extract, namely 6 mg, 12 mg, 24 mg and placebo. After 60 days, the rats were euthanized, then the number of caries on the mesial or distal and occlusal surfaces was counted by using the Keyes’ method. The data were analyzed using Kruskal Wallis test. The results revealed that caries was found only in occlusal surfaces with an enamel depth. There is no significant difference among all the groups, so it can be concluded that gambir extract at 6 mg, 12 mg and 24 mg doses do not have anti-caries effect on the teeth of male Wistar rats. ABSTRAKBeberapa penelitian terdahulu mengatakan bahwa ekstrak gambir dapat menghambat pertumbuhan Steptococcus mutans (S. mutans) karena mengandung zat aktif katekin dan tanin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efek antikaries ekstrak gambir pada tikus jantan galur Wistar. Tiga puluh enam ekor tikus galur Wistar diinokulasi dengan S.  mutans, diberikan makanan kariogenik dan dibagi menjadi 4 kelompok, yakni, kelompok yang diberi dosis ekstrak gambir 6 mg, 12 mg, 24 mg dan plasebo. Setelah 60 hari, tikus di eutanasia, kemudian dihitung jumlah karies pada permukaan halus dan oklusal dengan menggunakan metode Keyes. Data dianalisa dengan menggunakan tes Kruskal Wallis. Hasil penelitian diketahui bahwa karies ditemukan hanya pada pemukaan oklusal dengan kedalaman email. Tidak ada perbedaan signifikan antar semua kelompok, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak gambir dengan dosis 6 mg, 12 mg dan 24 mg tidak memiliki efek antikaries pada gigi tikus jantan galur Wistar.
Terapi Bedah Flep dan Cangkok Tulang pada Periodontitis Agresif di Regio Gigi Anterior Mandibula Levina Mulya; Sri Lelyati C Masulili
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.66 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15687

Abstract

Background: Aggressive periodentitis is a multifactorial disease that usuallyOccurs at a young age with the disease spreading fast and found the bacteria. Commonly aggressive periodontitis associated with hereditary factors and lack of immune system so as to reveal any family history with the same disease, and found savere alveolar bone destruction that may ultimately lead to tooth loss. Aggressive periodontitis and generalized aggressive periodontitis. The development of aggressive periodontitis is difficult to predict, so the mechanical therapy is not sufficient, and required antibiotic therapy or surgical therapy. Aim: the purpose of this case report is to explain the procedures and result of surgical treatment of the flap surgery with bone graft in anterior teeth of the patients with generalized aggressive periodontitis. Case report: Cases one and two with complaints of anterior teeth mobility. On clinical examination teeth mobility two and three degree, absolute pocket depth 4-6 mm. Radiograpic examination bone loss reached one third apical in all region. The diagnosis of both cases in generalized aggressive periodontitis. Treatment: After initial theraphy heve been evaluated, flap surgery with bone graft done in booth cases. Control evaluation after 6 month from surgery, in clinically reduced pocket depth 1-2m and tooth mobility, in radiographically increased bone height and bone fill. Conclusion: Flap surgery with bone graft in generalized aggressive periodontitis can assist periodontal regeneration.
Restorasi Mahkota Jaket Porselin Fusi Metal dengan Inti-Pasak Tuang Logam pada Kasus Fraktur Mahkota-Akar Pulpa Terbuka Elisabeth Dina Herlina Ns; Diatri Nari Ratih
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4918.944 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16479

Abstract

Latar belakang. Trauma yang mengakibatkan fraktur mahkota-akar dengan terbukanya pulpa masih dapat direstorasi, untuk menghindari pencabutan gigi. Pilihan perawatan tergantung pada hubungan fragmen fraktur yang tertinggal pada soket dengan crest alveolar, keterlibatan pulpa, tahap erupsi gigi dan pembentukan apeks serta kebutuhan estetik pasien. Tujuan. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk menunjukkan bahwa gigi yang mengalami fraktur mahkota-akar dengan terbukanya pulpa dapat dipertahankan dengan perawatan endo-restorasi menggunakan mahkota jaket porselin fusi metal (PFM) dengan retensi inti-pasak tuang logam. Kasus. Pasien wan ita berusia 22 tahun mengalami fraktur mahkota-akar dengan pulpa tertJuka pada gigi 12 karena terjatuh dari motor. Kasus ini dirawat dengan melakukan pulpektomi, gingivektomi pad a bagian palatal serta restorasi mahkota jaket PFM dengan retensi inti-pasak tuang logam. Kesimpulan. Trauma pada gigi yang menyebabkan fraktur mahkota-akar dengan terbukanya pulpa dapat dirawat dengan restorasi mahkota jaket PFM disertai retensi inti-pasak tuang logam, setelah sebelumnya dilakukan pulpektomi, sehingga gigi sberfungsi kembali secara optimal.