cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Perawatan Ameloblastoma Rekuren dengan Metode Dredging R. Rahardjo
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3444.163 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15413

Abstract

Latar belakang. Ameloblastoma dapat menyebabkan kerusakan pada tulang wajah baik pada maksila maupun mandibula. Tumor ini dapat mengalami rekurensi apabila perawatan tidak sempurna. Reseksi pada tulang yang terkena adalah tindakan yang biasa dilakukan untuk perawatan tumor ini. Tindakan ini dapat menyebabkan gangguan maloklusi, gangguan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan tulang rahang bila dilakukan pada anak-anak dan remaja, gangguan estetika, dan berdampak psikologis. Oleh karena itu tindakan alternatif dalam perawatan ameloblastoma adalah dengan metode dredging. Tujuan laporan kasus ini menjelaskan perawatan metode dredging pada rekuren ameloblastoma pada penderita laki-laki usia dua puluh tujuh tahun sehingga dapat menghilangkan dampak psikologis dari penderita. Kasus. Penderita laki-laki usia dua puluh tujuah tahun dengan keluhan benjolan dalam mulut, tidak terasa sakit, dan merasa bertambah besar. Terdapat asimetri wajah di sebelah kanan, tidak ada perubahan warna kulit. Penderita mengaku pernah dioperasi tujuh tahun yang lalu. Pada pemeriksaan intra oral didapatkan benjolan pada mandibula di daerah bukal dari daerah gigi 42 sampai 46. Pada palpasi terasa ada fluktuasi, rasa sakit ringan dan warna mukosa normal. Pada gambaran foto panoramic terlihat area radiolusen dengan batas jelas dari daerah 42 sampai 46 dengan melibatkan aspek dari gigi 42 dan 43. Dari hasil biopsi dan pemeriksaan patologi anatomi dinyatakan sebagai ameloblastoma unikistik tipe folikuler. Penatalaksanaan. Dredging dikerjakan dengan melakukan defleksi pada lesi enukleasi dan kuretase. Pada bulan kedua perawatan tindakan tersebut diulangi dan dilakukan pemeriksaan histopatologis. Tindakan tersebut diulang pada bulan kelima dan diulang kembali setiap tiga bulan sampai dinyatakan terbebas dari sel tumor. Kesimpulan. Telah dilakukan dredging pada penderita rekuren ameloblastoma dengan hasil cukup memuaskan dan dilakukan pengamatan yang berlanjut. Background. Ameloblastoma can destruct the facial bones both the maxilla and mandible. The appearance of recurrent tumor is occured if the tumor is not totally removed. The resection of the affected bone is the common treatment of the tumor. These treatment lead complications such as malocclusion, abnormaldental and jaws development especially in children and adolescents, aesthetic problems, and psychological depressions. Therefore, the alternative treatment of it tumor is dredging method. Objection. This case report describe that dredging method treatment on recurrent ameloblastoma on male patient aged twenty seven years old, can eliminate patients’s psychological depressions. Case. Male patient aged twenty seven years old has a lump problem in mouth, painless, and has progressive enlargement, asymmetry on the right face, no change in skin color. Patients admitted to surgery seven years ago. On intra oral examination found a lump in the mandible in buccal area of the tooth 42 to 46. On palpation examination, there were fluctuations, mild pain and normal color mucosa. The panoramic photograph was found radiolucent area with clear boundaries of the region 42 to 46 by engaging aspect of teeth 42 and 43. The results of hispathology examination assessed a unicystic amelobastoma follicular type. Treatment. Dredging method was done by performing enucleation and consecutive curettage. Second month after the first treatment, the enucleation and the curettage was repeated then need histopathological examination. The treatment was repeated again in fifth month after the first treatment repeated every three months until histopathological examination declared free of tumor cells. Conclusion. Dredging has been performed on two patients with ameloblastoma with satisfactory results and continued observation.
Profil oral candidiasis di bagian ilmu penyakit mulut RSHS Bandung periode 2010-2014 Nanan Nur'aeny; Wahyu Hidayat; Tenny Setiana Dewi; Erna Herawati; Indah Suasani Wahyuni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.332 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11320

Abstract

Oral candidiasis prole in oral medicine department of RSHS Bandung in the period of 2010 – 2014 C. albicans is the primary causative agent in oral candidiasis. Candida species are commensal microorganisms as normal ora in the mouth, without causing any symptoms. Oral candidiasis may be caused by systemic condition, autoimmune disease and poor oral hygiene.Candida spp can become pathogenic in the decline of the condition of the immune system, especially in autoimmune disease conditions given with steroids drug as the steroids in nature could deteriorate the immune systems or long term of systemic drugs therapy. Study related to oral candidiasis in Indonesia is still lacking. The aim of the study is to know the description of oral candidiasis of RSHS Bandung, Indonesia at 2010 – 2014, descriptively in the oral medicine clinic. The results showed during the period of 2010  to 2014, 49 patients oral candidiasis were found. The most prevalent was 34 males (69.3%) and 15 women (30.7%) in which the most predisposing factor is systemic factor about 40.2%. The whitish pseudomembran plaque is commonly found in the dorsal area of the tongue. The prole of oral candidiasis in patients visiting the oral medicine clinic at RSHS generally is caused by systemic conditions, autoimmune diseases and poor oral hygiene, the use of nystatin is still effective to be used to treat candidiasis.ABSTRAKCandida. albicans (C.albicans) merupakan agen penyebab primer pada oral candidiasis. Candida spp merupakan mikroorganisme komensal atau ora normal dalam mulut dengan tanpa menimbulkan gejala. Candida spp dapat menjadi patogen saat kondisi daya tahan tubuh menurun terutama dalam kondisi penyakit autoimun yang diberikan terapi steroid karena steroid bersifat menurunkan sistem imun atau terapi obat-obatan secara sistemik dalam jangka waktu lama. Penelitian oral candidiasis di Indonesia masih belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prol oral candidiasis pada pasien-pasien yang ditangani di Bagian Penyakit Mulut di Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Indonesia periode tahun 2010 – 2014. Hasil penelitian menunjukkan selama periode 2010 hingga 2014 sebanyak 49 orang pasien yang datang ke klinik ilmu penyakit mulut ditemukan oral candidiasis. Prevalensi terbanyak adalah pria sebesar 34 orang (69,3%) dan wanita 15 orang (30,7%), dengan faktor predisposisi terbanyak adalah keterlibatan penyakit sistemik sebesar 40,2%. Lokasi paling sering ditemukan lesi plak pseudomembran putih dan terdapat di daerah dorsal lidah. Prol kandidiasis pada pasien yang berkunjung ke klinik ilmu penyakit mulut RSHS secara garis besar umumnya disebabkan oleh kondisi sistemik, penyakit autoimun dan kebersihan rongga mulut yang buruk sedangkan untuk terapi kandidiasis, penggunaan nystatin masih efektif untuk digunakan mengobati kandidiasis.
Pengaruh Ozonated Water sebagai Antiseptik dalam Menghambat Pertumbuhan Staphilococcus Aureus (in vitro) Yulita Kristanti; D. Dessy
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1587.1 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15647

Abstract

Latar Belakang. Penelitian seputar ozonazed water akhir-akhir ini cukup banyak diminati karena bahan ini mempunyai potensi antibakteria yang menjanjikan. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ozonated water pada pertumbuhan bakteri Staphylococcus Aureus. Metode Penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan cara mencampurkan 1 ml larutan bakteri 106 CFU/ml dengan 10 ml ozonated water konsentrasi 4 ppm selama 10 detik (kelompok I), 20 detik (kelompok II), 30 detik  (kelompok III), dan 40 detik (kelompok IV), akuades (kontrol negatif) kemudian semua diencerkan dengan akuabides 10ml. selanjutnya dari masing-masing kelompok diambil 0,01 ml untuk ditanam pada MHA, inkubasi 24 jam pada suhu 370 C dalam anaerobic jar kemudian dilakikan perhitungan koloni. Data dianalisis dengan Avana satu jalur dilanjutkan dengan uji LSD. Hasil. Avana satu jalur memperlihatkan adanya perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan. Uji LSD menunjukkan perbedaan rerarta yang bermakna (p<0,05) antar kelompok I, II, III, IV dengan kelompok V (akuedes) terdapat perbedaan rerata yang bermakna antara kelompok I dan kelompok VI (iod). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kelompok II, III, IV terdapat kelompok VI (oid). Uji korelasi Produk Momen Pearson menunjukkan adanya korelasi negatif yang sangat kuat. Kesimpulan. Ozonated Water 4 ppm memiliki daya antibakreri dalam menghambat pertumbuhan Staphylococcus Aureus. Semakin lama waktu kontak, daya anti bakterinya semakain besar. Background. Some previous research show that the antibacterial effect of ozonated water is very promi-sing. The aim of this study was to know the antibacterial effect of ozonated water on staphylococcus aureus. Method. One ml of 106 CFU/ ml S. aureus suspension was mixed with 10 ml ozonated water for 10 second (group I), 20 second (group II), 30 second (group III), 40 second (group IV)As negative control S. aureus was mixed with aquadest (group V), and as positive control S. aureus was mixed with iod (groupVI). Furthermore, 0,01 ml from each group was cultivated on MHA, incubated for 24 hours-37C followed by colony caunting. Data was analyzed using one way anova followed by LSD. Result. One way anova show significant difference among the group and LSD test show significant mean different between group I, II, III, IV, and V. Significant difference can also be seen between group I and V. No significant difference between group II, III, IV and VI. Product momen test show strong negative correlation. Conclusion. Ozonated water 4 ppm has antibacterial effect on S. aureus. The longer the contact time, the stronger the antibacterial effect.
Pengunyahan Permen Karet Gula dan Xylitol Menurunkan Pembentukan Plak Gigi Indah Fatikarini; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3996.134 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16448

Abstract

Latar belakang. Plak gigi adalah deposit lunak yang terdiri dari kumpulan berbagai macam mikroorganisme pada permukaan gigi yang berada dalam suatu polimer matriks bakteri. Pengunyahan perm en karet dapat membersihkan gigi dari debris dan plak gigi, mencegah terjadinya penyakit gingivitis dan periodontal, meningkatkan pH plak gigi, dan merangsang pengeluaran saliva. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pengunyahan permen karet gula dan xylitol terhadap pembentukan plak gigi. Metode penelitian. Subjek penelitian yang digunakan adalah mahasiswa universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan rentang usia 18-24 tahun sebanyak 30 subjek. Kelompok subyek dibagi menjadi tiga yaitu mengunyah permen karet gula, permen karet xylitol, dan kontrol (masing-masing kelompok sebanyak 10 subjek). Data yang diambil adalah indeks plak gigi (Podshadley dan Haley Indeks) kemudian dianalisis dengan statistik Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan bermakna pembentukan plak gigi antara mengunyah permen karet xylitol, gula, dan kontrol salama tujuh hari. Disimpulkan. bahwa pengunyahan permen karet gula dan xylitol dapat menurunkan indeks plak gigi.
Efek aplikasi topikal gel ekstrak pandan wangi terhadap penyembuhan luka gingiva Icha Nofikasari; Afifah Rufaida; Chynintia Dewi Aqmarina; Failasofia Failasofia; Annisa Rahmi Fauzia; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (976.944 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.9896

Abstract

The Effect of topical application pandan extract gel on gingival wound. Post-gingivectomy wound is usually covered by periodontal dressing, which generally contains some chemical compounds to protect the wound. However, it can provide allergic effect on some patients. Pandan leaves (Pandanus amaryllifolius Roxb.) contain a number of active substances that have anti-inflammatory, antioxidant and antibacterial effect and play a role in wound healing. This study aims to determine the effect of topical application of Pandan leaf extract gel on gingival wound healing. Gingivectomy model was carried out on mandibular incisive gingival using the 2.5-mm punch biopsy. Thirty-six rats were randomly divided into 3 groups of treatment: negative control (CMC-Na), positive control (Aloclair), and 50% of pandan extract gel. The gels on each group were applied (twice in a day) to the wound area after gingivectomy. The observation of the wound healing process was also carried out on day 1, 3, 7, and 14 by making the histological preparations of gingival wound area. The number of blood vessels was observed using microscope and data was analysed using Two- Way Anova and LSD. The result showed that number of blood vessel increased on day 3 and the peak was on day 7. Anova and LSD test showed several significant differences comparison the number blood vessel between treatment and control. In conclusion, topical application Pandan leaves extract gel could accelerate gingival wound healing.ABSTRAKLuka pasca gingivektomi dibalut dengan periodontal dressing yang mengandung senyawa kimia dengan tujuan melindungi luka, namun senyawa kimia periodontal dressing yang ada di pasaran dapat menimbulkan efek alergi terhadap beberapa pasien. Daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) mengandung zat aktif yang memiliki anti inflamasi, antioksidan, dan antibakteri kemungkinan berperan dalam proses penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran gel ekstrak daun pandan wangi dalam proses penyembuhan luka pasca gingivektomi pada tikus wistar melalui pengamatan jumlah pembuluh darah. Model gingivektomi dilakukan pada gingiva incisivus mandibula dengan menggunakan punch biopsy diameter 2,5 mm. Tiga puluh enam tikus dibagi secara acak ke dalam 3 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif (Gel CMC-Na), kontrol positif (Aloclair), dan gel ekstrak pandan wangi 50%. Gel uji pada masing- masing kelompok diaplikasikan pada area luka pasca gingivektomi dua kali sehari. Pengamatan proses penyembuhan luka dilakukan pada hari ke 1, 3, 7, dan 14 dengan membuat preparat histologi gingiva area luka. Parameter penyembuhan luka yang diamati adalah jumlah pembuluh darah. Data jumlah pembuluh darah dianalisis dengan menggunakan uji statistik parametrik. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pembuluh darah mengalami peningkatan mulai hari ke-3 dan mencapai puncaknya pada hari ke-7. Hasil uji two way Anova menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna rerata jumlah pembuluh darah antar kelompok perlakuan dengan kontrol positif maupun negatif (p<0,05). Hasil uji LSD juga menunjukkan perbedaan yang bermakna perbandingan kelompok kontrol dan perlakuan pada semua hari pengamatan. Kesimpulan penelitian ini adalah gel ekstrak pandan wangi 50% dapat mempercepat proses penyembuhan luka pasca gingivektomi dengan kemampuannya meningkatkan jumlah pembuluh darah.
Efek Pengunyahan Permen Karet Gula dan Xylitol terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus Mutans pada Plak Gigi Volanda Kusumaningsari; Juni Handajani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5040.078 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16473

Abstract

Latar Belakang. Manusia memiliki flora normal yang hidup di dalam tubuhnya. Salah satu flora normal di rongga mulut adalah bakteri Streptococcus mutans yang memiliki kaitan erat dengan insidensi karies. Sekarang banyak beredar produk permen karet di masyarakat yang mengandung gula dan xylitol. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek mengunyah permen karet gula dan xylitol terhadap pertumbuhan bakteri S. mutans pada plak gigi. Metode penelitian. Subjek penelitian berjumlah 15 orang dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 5 orang, yaitu mengunyah permen karet gula, xylitol dan buah ape I sebagai kontrol. Pengambilan plak dilakukan pada hari pertama sebelum diberi perlakuan (pre-tesQ dan hari keempat setelah diberi perlakuan (post-tesQ. Subjek diminta untuk melakukan scalling sebelum pengambilan data pre-test agar skor plak awal semua subjek nol. Subjek mengunyah 1 butir permen karet setelah makan atau 3 kali sehari selama 10 menit. Subjek tidak diperbolehkan makan dan minum selama 1 jam sebelum pengambilan data post-test. Plak ditanam dalam media agar TYCSB (tryptone-yeast-cysteine-sucrose-bacitracin) lalu diinkubasi selama 72 jam pada kondisi anaerob dengan suhu 37°C. Penghitungan jumlah bakteri S. mutans dilakukan secara manual menggunakan counter. Analisis data dengan uji statistik Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan jumlah bakteri S. mutans pada plak gigi pada pengunyahan permen karet kandungan gula, sedangkan pengunyahan permen karet kandungan xylitol dapat menurunkan bermakna jumlah bakteri S. mutans. Kesimpulan. Pengunyahan perm en karet xylitol dapat menurunkan jumlah S. mutans pada plak gigi tetapi permen karet gula meningkatkan jumlah S. mutans.
Pengaruh konsentrasi cobalt chromium pada uji hemolisis sebagai implan gigi Yosaphat Bayu Rosanto; W. Widjijono; Teguh Triyono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.708 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10737

Abstract

The effect of concentration of cobalt chromium in hemolysis test for dental implant. Dental implants are used to replace tooth/teeth loss and its function. Cobalt chromium has ideal characteristics to be made as dental implants material. It is required that the material to be implanted must be biocompatible with cells and tissues. One of biocompatibility characteristics is hemocompatibility. Hemocompatibility of materials can be observed with hemolysis test. Thus the purpose of this research is to know whether cobalt chromium as dental implants material affect the hemolysis of rabbit blood or not. This research was done with rabbit blood (Oryctolagus cuniculus) and devided into 3 groups (treatment, positive and negative control). The tested material was cobalt chromium Remanium® GM 800, a product from Dentaurum. The contact between blood and material was done with ASTM-F075 hemolysis test. Cobalt chromium was not hemolytic at 2,5%, 5%, and 10% of concentration, slightly hemolytic at 20% of concentration, and hemolytic at 40% and 80% of concentration. The conclusion of this research was variety of concentration of cobalt chromium affected hemolysis percentage signi cantly.ABSTRAKImplan gigi digunakan untuk mengganti gigi yang hilang untuk dan dapat mengembalikan fungsi gigi. Cobalt chromium memiliki sifat-sifat yang memenuhi persyaratan sebagai material implan. Material yang diimplankan dalam tubuh harus memiliki sifat biokompatibilitas. Salah satu sifat biokompatibilitas yang harus dimiliki material yang diimplankan dalam tubuh adalah sifat hemokompatibilitas. Sifat hemokompatibilitas dapat diketahui dengan uji hemolisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada/tidaknya pengaruh logam cobalt chromium sebagai material implan gigi terhadap hemolisis pada darah kelinci. Penelitian ini dilakukan menggunakan sampel darah yang didapat dari kelinci (Oryctolagus cuniculus) yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu perlakuan, kontrol positif dan negatif. Bahan penelitian yang diuji adalah cobalt chromium Remanium GM 800 produksi Dentaurum. Kontak darah dengan bahan uji dilakukan menggunakan uji hemolisis ASTM-F075. Hasil penelitian menunjukkan material logam cobalt chromium tidak menimbulkan hemolisis pada konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10%, menimbulkan hemolisis ringan pada konsentrasi 20%, dan hemolisis pada konsentrasi 40% dan 80%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perbedaan konsentrasi logam cobalt chromium berpengaruh secara signikan terhadap persentase hemolisis.
Hubungan Dokter Pasien sesuai Harapan Konsil Kedokteran Indonesia Tinjauan pada Profesi Dokter Andy Yok Siswosaputro; Dahlia Herawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3967.081 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15544

Abstract

Latar Belakang. Pelayanan medis oleh dokter mupun dokter gigiberpedoman pada Undang-Undang dan etika yang pada hakekatnya untuk melindungi masyarakat. Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) bertugas menjaga kualitas pelayanan medis sebagai upaya perlindungan kepada masyarakat penggunya, dalam pelaksanaan Undang-Undang no 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran. Fungsi pengawasan KKI meliputi pembinaan terhadap penyelenggaraan praktek kedokteran, terutama dalam rangka mempertahankan profesionalisme dan peningkatan mutu pelayanan medis. Selain itu KKI juga mensosialisasikan hal-hal yang berhubungan dengan dokter dan pelayanan kesehatan pada masyarakat luas. Tujuan penulisan ini adalah agar dokter-dokter gigi dapat memahami dan melaksanakan tindakan kedokteran sesuai harapan KKI dalam rangka membina hubungan dokter dengan pasie. Tinjauan Pustaka. Hubungan yang baik antara dokter dan pasien akan berjalan baik jika dokter memahami pada 1. Esensi hubungan dokter-pasien; 2. Aspek hukum hubungan dokter-pasien; 3. Kesetaraan dalam hubungan dokter-pasien; 4. Persetujuan tindakan kedokteran. Kesimpulan. Dokter dituntut bersikap bijaksana, memperlakukan pasien penuh tanggung jawab secara etika maupun keilmuan. Background. Medical services by a physician or dentist referring to the Law and ethics in truth to protect society. Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) working preserve the quality of medical services in an attempt to cover user communities, in the implementation of Law No 29 of 2004 on the Practice of Medicine. KKI oversight functions include the construction of maintenance medical practice, especially in order to maintain proessionalism and improving the quality of medical services. Additionally KKI also socialize matters relating to doctors and health services in the community. The purpose of this paper is that doctors/dentists can understand and implement the medical actions appropiate expectations KKI in order to foster the relationship between doctor and patient. Review of Literature. Good relationship between doctor and patient will work well if the doctor understands the 1. Essence of the doctor-patient relationship; 2. Legal aspects of the doctor-patient relationship; 3. Equality in the doctor-patient relationship; 4. Medical consent. Conclusion. Physicians are required to be wise, treat patients with ethically responsible and science.
Protesa Maksilofasial dengan Hollow Bulb Paska Hemimaxillectomy pada Kasus Kehilangan Seluruh Gigi Rahang Atas Fei In; Endang Wahyuningtyas
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2093.884 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16020

Abstract

Pasien paska hemimaxillectomy menimbulkan adanya defect yang menyebabkan gangguan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik serta kejiwaan penderita dan dapat menimbulkan masalah pada rehabilitasinya. Setelah dilakukan hemimaxillectomy, pasien perlu memakai protesa maksilofasial paska bedah dan protesa maksilofasial dengan hollow bulb. Tujuan penulisan laporan ini untuk menginformasikan bahwa defect palatum paska hemimaxillectomy pada kasus kehilangan seluruh gigi rahang atas dapat dibuatkan suatu protesa maksilofasial dengan hollow bulb untuk mengembalikan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan dan estetik. Pasien laki-Iaki berusia 68 tahun datang ke RSGM atas rujukan dari R.S.Dr. Sardjito. Saat datang pasien merasa terganggu dengan adanya pembengkakan dan defect pada palatum. Kemudian dilakukan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografi. Operasi hemimaxillectomy dilakukan oleh dokter THT R.S Sardjito. Obturator paska bedah dipasang segera setelah operasi. Kemudian dibuatkan protesa maksilofasial dengan hollow bulb setelah 2 minggu paska hemimaxillectomy. Pada rahang bawah dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan resin akrilik. Pada waktu insersi diperiksa retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan. Kontrol dilakukan 1 minggu dan 1 bulan setelah pemakaian. Hasil pemakaian protesa maksilofasial retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan baik. Kesimpulan laporan kasus ini adalah protesa maksilofasial dengan hollow bulb paska hemimaxillectomy pada kasus kehilangan seluruh gigi rahang atas merupakan alat rehabilitasi yang harus segera dibuat sehingga pasien dapat hidup normal, mengembalikan fungsi bicara, fungsi pengunyahan, penelanan, estetik dan kejiwaan penderita.
Peran Kalsium Intraseluler pada Respon Seluler terhadap Intermedilysin Bakteri Komensal Oral Streptococcus Intermedius Heni Susilowati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5100.735 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16493

Abstract

Latar Belakang. Bakteri komensal oral Streptococcus intermedius mampu memproduksi intermedilysin (ILY), toksin yang berpotensi menyebabkan terbentuknya pori pada membran, yang termasuk dalam golongan cholesterol-dependent cytolysin. Toksin ini dikenal sebagai sitolisin yang unik karena sifatnya yang spesifik hanya menimbulkan respon pad a sel-sel manusia. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk memahami mekanisme sel-sel tubuh manusia dalam merespon paparan ILY. Ringkasan Pembahasan. Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan keterlibatan S. intermedius dalam infeksi purulen oral maupun nonoral karena kemampuannya memproduksi ILY. Intermedilysin diketahui meny.ebabkan ketidakseimbangan metabolisme sel dan kematian sel pada beberapa sel tubuh manusia seperti hepatosit, sel polimorfonuklear, bile duct cell, dan eritrosit. Spesifisitas ILY pada sel-sel tubuh manusia ditentukan oleh ikatan yang eksklusif hanya dengan reseptor membran human CD59. Pada beberapa kasus, ILY menimbulkan respon seluler melalui perubahan konsentrasi kalsium intraseluler ([Ca2+] i). Peningkatan konsentrasi [Ca2+]i mengakibatkan degranulasi sitoplasma pada sel PMN serta aktivasi kalsineurin yang diikuti dengan aktivasi faktor transkripsi NFAT1 pada sel HuCCT1 dan NF-KB pada sel HepG2. Kesimpulan. Studi literatur ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi [Ca2+]i berperan penting dalam mekanisme respon seluler sel-sel tubuh manusia terhadap ILY yang diproduksi oleh S. intermedius.