cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 556 Documents
Efektivitas Desensitizing Agent dengan dan tanpa Fluor pada Metode in Office Bleaching terhadap Kandungan Mineral Gigi (Kajian In Vitro) Kristanti, Yulita; Asmara, Widya; Sunarintyas, Siti; Handajani, Juni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In office bleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% sering memberikan efek samping berupa linu baik selama maupun setelah perawatan tersebut dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruhwaktu aplikasi dan kandungan fluor desensitizing agent pada metode in office bleaching terhadap kandungan mineral gigi. Delapan gigi masing-masing dipotong menjadi 4 bagian, 6 potong digunakan untuk pemeriksaan XRD awal. Gigi dikeringkan dalam oven suhu 50° selama 30 menit diserbuk, diambil 1 mg untuk diperiksa kandungan mineralnya dengan goniometer. Dua puluh empat potong yang lain dibagi dalam 4 kelompok perlakuan. Kelompok I: gigi diaplikasi bahan bleaching 0,5-1 mm hidrogen peroksida 40% selama 1 jam, dicuci, dikeringkan, diikuti aplikasi 0,1 ml desensitizing agent tanpa fluor (CPP-ACP) selama 30 menit, dicuci, dikeringkan. Kelompok II : gigi diaplikasi CPP-ACP 30 menit, dicuci, dikeringkan, dibleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% selama 1 jam. Selanjutnya gigi diaplikasi CPP-ACP 30 menit lagi, dicuci, dikeringkan. Kelompok III gigi dibleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% selama 1 jam, dicuci, dikeringkan, diikuti aplikasi desensitizing agent yang mengandung fluor (CPP-ACFP) selama 30 menit, dicuci, dikeringkan. Kelompok IV: gigi diaplikasi CPP-ACFP 30 menit, dicuci, dikeringkan, dibleaching menggunakan hidrogen peroksida 40% selama 1 jam. Selanjutnya gigi diaplikasi CPP-ACFP selama 30 menit, dicuci dikeringkan. Sesudah perlakuan, semua gigi dilakukan pemeriksaan kandungan mineral gigi dengan prosedur yang sama. Uji Mann Whitney menunjukkan penurunan mineral paling sedikit terjadi pada kelompok IV (4500). Desensitizing agent mengandung F sebelum dan sesudah perlakuan in office bleaching menunjukkan penurunan mineral paling kecil. ABSTRACT: The Effectiveness of Desensitizing Agent with and without Fluorine in Office Bleaching Method to Tooth Mineral content. Tooth sensitivity arises during or after an in-office bleaching was performed is usually overcome by using desensitizing agent with or without fluor. So far, desensitizing method applied only reduces tooth sensitivity but it had not overcome demineralization problem yet. This study was aimed to determine the influence of an applicationprocess and fluoride containing desensitizing agent in tooth mineral lossEight teeth were divided into four parts. Six specimens were smoothened using agate mortar. One mg of powder was inserted into the sample holder and mounted ongoniometer heads to examine mineral content before treatment using X-Ray Diffraction (XRD). Twenty-four specimens were classified into four groups. In group I, 0,1 ml desensitizing agent without fluoride (CPP-ACP) was applied for 30 minutes after an in-office bleaching using 40% Hydrogen Peroxide was performed, while in group II, CPP-ACP was applied before and after an in-office bleaching was performed. In group III 0,1 ml fluoride containing desensitizing agent (CPP-ACFP) was applied for 30 minutes after in-office bleaching using 40% Hydrogen Peroxide was performed, while in group IV fluoride containing desensitizing agent was applied before and after an in-office bleaching was performed. Finally, all of the specimens were measured in their after-treatment mineral contain. Mann Whitney test showed that the lowest mineral lost was detected in group IV (4500). Fluoride containing desensitizing agent applied before and after an in-office bleaching effectively reduced mineral loss.
Perawatan Kaninus Maksila Ektopik dengan L Loop pada Alat Cekat Teknik Begg Prahastuti, Novarini; Hardjono, Soekarsono; Pudyani, Pinandi Sri
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gigi kaninus berperan penting dalam kestabilan serta perkembangan bentuk lengkung gigi, fungsi oklusi dan kesimetrisan profil wajah. Kaninus maksila walaupun ektopik dalam perencanaan perawatan ortodontik biasanya keberadaannya tetap dipertahankan, sehingga perlu dikoreksi. Koreksi kaninus maksila ektopik membutuhkan gaya untuk mengekstrusi sekaligus distalisasi gigi tersebut. Tekukan L loop pada   wire dapat memberikan gaya ke arah vertikal - horisontal pada gigi secara bersamaan. Perawatan ortodontik dengan alat cekat teknik Begg dapat mengkoreksi malposisi gigi dengan gaya yang ringan  tanpa membutuhkan waktu lama pada tahap I. Tujuan. memaparkan hasil perawatan kaninus maksila ektopik dengan L loop pada alat cekat teknik Begg. Perempuan 28 th mengeluhkan gigi-giginya berjejal dan gingsul  sehingga mengganggu penampilan dan mengurangi rasa percaya diri. Diagnosis: Maloklusi Angle Klas I tipe skeletal klas II dengan retrognatik bimaksiler, bidental protrusif, shalow bite  dan midline mandibula bergeser ke kanan 1 mm disertai crossbite, openbite serta malposisi gigi. Penanganan dilakukan menggunakan alat cekat teknik Begg dengan pencabutan 4 gigi premolar pertama. L loop pada wire dibuat untuk koreksi kaninus maksila ektopik pada tahap I perawatan Kesimpulan dari hasil perawatan menunjukkan perbaikan malrelasi, gigi berjejal, overjet dan overbite. L loop pada alat cekat teknik Begg dapat digunakan untuk mengkoreksi kaninus maksila ektopik dengan gaya yang ringan. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 208-216.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pemeliharaan Kebersihan gigi dan Mulut Ibu Hamil di Puskesmas Kabupaten Kupang Applonia, Applonia; Priyono, Bambang; Widyanti, Niken
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa kehamilan, rongga mulut mudah mengalami peradangan karena adanya perubahan hormonal yang menyebabkan gingiva menjadi sensitif bila kesehatan mulut tidak terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut ibu hamil di Puskesmas Kabupaten Kupang. Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional dilakukan dengan mengambil subyek penelitian 97 ibu hamil. Variabel bebas terdiri dari pengetahuan, sikap, dan kebiasaan menginang sedangkan variabel terikat terdiri dari perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut ibu hamil. Alat ukur penelitian ini menggunakan kuesioner yang disusun dengan metode Likert untuk mengukur variabel sikap dan perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut ibu hamil. Kuesioner dengan dua pilihan (benar atau tidak benar) untuk mengukur variabel pengetahuan serta kuesioner pilihan ganda untuk mengukur variabel kebiasaan menginang. Kuesioner tersebut telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data menggunakan uji korelasi product moment dan regresi berganda pada tingkat signifikan α< 0,05. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan variabel pengetahuan, sikap, dan kebiasaan menginang, berkolerasi secara signifikan dengan perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut (F = 21,890, p= 0,000). Ketiga variabel tersebut secara bersama – sama memberikan kontribusi sebesar 41,6%. Pengetahuan memberikan pengaruh paling besar terhadap perilaku pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut. Semakin baik pengetahuan dan sikap terhadap pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut, dan semakin kurang frekuensi menginang, semakin baik frekuensi kebersihan gigi dan mulut ibu hamil. ABSTRACT: Factors Affecting Oral And Dental Hygiene Maintaining Behaviour Of The Pregnant Women In Public Health Centre Of Kupang Regency. During pregnancy, woman’s oral cavity becomes inflamed easily due to hormonal changes so that gingiva becomes sensitive if the oral hygiene is not well maintained. The purpose of this study is to examine factors that influence the oral and dental hygiene maintaining behavior of pregnant women at Public Health Centre of Kupang Regency. An observational analytical study with cross sectional design was conducted on 97 pregnant women as the subject research. Independent variables were knowledge, attitude and betel chewing habit, and dependant variables were oral and dental hygiene maintaining behavior of pregnant women. Variables of attitude, oral and dental hygiene maintaining behavior of the pregnant women was assed using questionnaire with Likert Scale method. Questionnaire with two options (true and false) was used to measure knowledge variable, and multiple choice questionnaires were used to measure betel chewing habitvariable. Questionnaire was tested its validity and reliability. The data were analyzed using the multiple regression analysis at the significant rate α< 0,05. The result of multiple regression analysis showed that knowledge, attitude and betel chewing habit correlated very significantly on oral and dental hygiene maintaining behavior (F = 22.052, p = 0.000.), and those three variables gave collectively contributionof 41.6% on oral and dental hygiene maintaining behavior, while betel chewing habit correlated negatively on oral and dental hygiene maintaining behavior. Knowledge variable gave the greatest contribution on the oral and dental hygiene maintaining behavior. The better knowledge and attitude on oral and dental hygiene maintaining behavior and the less frequent betel chewing habit were, the better the oral and dental hygiene maintaining behavior will be.
Perubahan Posisi Mandibula pada Perawatan Kamuflase Maloklusi Kelas III Skeletal Hartati, Sri; JCP, Heryumani; Kuswahyuning, Kuswahyuning
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi kelas III skeletal pada umumnya memiliki hubungan rahang yang prognatik, yaitu mandibula terletak lebih maju dari maksila. Perawatan kamuflase non pembedahan pada pasien dewasa dengan maloklusi kelas III memerlukan pencabutan dua gigi premolar mandibula atau empat gigi premolar untuk memberikan ruang retraksi  gigi incisivus mandibula. Prinsip perawatan teknik Begg adalah mekanisme gaya differensial dengan menggunakan gaya yang ringan dan kontinyu. Penggunaan   elastik intermaksiler kelas III menyebabkan ekstrusi gigi molar atas, retrusi gigi insisivus bawah, rotasi mandibula searah jarum jam dan perubahan posisi kondilus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan linier dan anguler posisi mandibula pada perawatan kamuflase  maloklusi kelas III skeletal setelah dilakukan perawatan ortodontik dengan teknik Begg. Penelitian dilakukan pada 20 pasang sefalogram lateral dari subjek laki-laki dan perempuan usia 18-25 tahun yang memenuhi kriteria penelitian. Seluruh subjek yang dirawat dengan teknik Begg disertai pencabutan dua gigi premolar pertama bawah. Perubahan posisi mandibula ditentukan  dengan perubahan   titik Pg dan Pg. terhadap sumbu X dan sumbu Y sedangkan perubahan anguler dengan melihat perubahan sudut Y-axis. Data yang diperoleh dianalisisi dengan paired t test. Hasil penelitian perubahan posisi mandibula setelah perawatan ortodontik kamuflase  dengan alat cekat teknik Begg menunjukkan perubahan  yang bermakna (p<0,05).  Titik  Pg mengalami pergeseran ke arah posterior  dan inferior dan sudut Y-axis  mengalami peningkatan berarti terjadi rotasi searah jarum jam.ABSTRACT: Skeletal Class III malocclusion generally has prognatic jaw relationship. The mandibular is more forward than the maxilla. Camouflage non-surgical treatment in adult patients with Class III malocclusion required extraction of two mandibular premolars or four premolar teeth to give a space of mandibular incisors teeth retraction. The Begg technique treatment principle is the mechanism of differential force using light and continuous force. The use of inter-maxillary elastic Class III causes the extrusion of upper molars, retrusion of lower incisors, clockwise rotation of the mandible and changing of condyle position. This research aims to determine the linear changing and angular position of the mandible on the camouflage treatment of skeletal Class III malocclusion after orthodontic treatment with Begg technique. The research was conducted on 20 pairs of lateral cephalogram of men and women aged 18-25 years who met the research criteria. All subjects were treated with Begg technique with extraction of two lower first premolars. The changing of mandibular position is determined by changing the point Pg and Pg. to X axis and Y axis, while the angular changing is determined by looking at the changing of Y-axis. The obtained data were analysed with paired t test analysis. The results show that there are significant changes in mandibular position after camouflage orthodontic treatment with fixed appliance of Begg technique (p<0,05). Pg point is shifted towards the posterior and inferior, and Y-axis angle increases. It means that the clockwise rotation has happened.
Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan Pada Pulpa Nekrosis Disertai Restorasi Mahkota Jaket Porselin Fusi Metal dengan Pasak Fiber Reinforced Composit (Kasus Gigi Insisivus Sentralis Kanan Maksila) Triharsa, Surya; Mulyawati, Ema
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.48 KB)

Abstract

Perawatan saluran akar satu kunjungan dapat memperkecil resiko adanya kontaminasi bakteri serta mengurangi jumlah kunjungan. Restorasi gigi insisvus sentralis maksila setelah perawatan saluran akar harus mempertimbangkan sisa jaringan keras gigi yang masih ada. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk menginformasikan hasil perawatan saluran akar satu kunjungan dengan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal dengan pasak Fiber Reinforced Composit (FRC) pada gigi insisivus sentralis kanan maksila. Pasien perempuan 32 tahun datang ke klinik konservasi Gigi RSGM Prof Soedomo FKG UGM ingin merawat gigi depan atas dengan tumpatan yang telah berubah warna. Berdasarkan pemeriksaan subjektif, objektif dan radiografis diperoleh diagnosis pulpa nekrosis. Selanjutnya dilakukan perawatan saluran akar satu kunjungan, dan restorasi mahkota jaket porselin dengan pasak  FRC. Hasil evaluasi klinis saat kontrol tidak ada keluhan rasa sakit gigi dan gigi bisa berfungsi dengan normal.  ABSTRACT: One Visit Root Canal Treatment On Necrosis Pulp Followed by Fused Porcelain Metal Jacket Crown with Fiber Reinforced Composit (A Case on Right Maxillary Central Incisivus Teeth). One visit root canal treatment is more beneficial to reduce the risk of bacteria and also shorten the time during the treatment in restoring maxillary incisor, considering the on rest of hard tissue. The objective of this case report is to inform the result of restoration teeth 11 to necrotic pulp after one visit root canal treatment. A 32 year-old female came to RSGM Prof Soedomo FKG UGM to have a treatment on her maxillary central teeth restoration for tooth whose color has changed. After an objective and radiograph examination, it was diagnosed that she suffered from necrotic pulp. The treatment chosen was a one visit root canal treatment followed by porcelain fused to metal jacket crown with fiber post reinforced composit. Based on the clinical evaluation, there was no more pain after the treatment, and the aesthetic aspect was also achieved. The patient was satisfied.
Perawatan Maloklusi Angle Klas II Divisi 1 Menggunakan Bionator Myofungsional Irawan, Ragil; Suparwitri, Sri; Hardjono, Soekarsono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Maloklusi Angle klas II divisi 1 mempunyai ciri tonjol mesiobukal molar pertama atas beroklusi dengan interdental premolar kedua  dan molar pertama bawah, jarak gigit yang besar, lengkung gigi sempit dan profil cembung. Bionator pertama kali diperkenalkan oleh Balter dan merupakan alat ortodontik myofungsional yang digunakan untuk merawat diskrepansi rahang.  Tujuan pemaparan kasus adalah menyajikan kemajuan kasus maloklusi Angle Klas II divisi 1 disertai diskrepansi rahang menggunakan alat myofunctional bionator. Seorang perempuan berusia 13 tahun mengeluhkan gigi depan atas maju. Diagnosis pasien maloklusi Angle klas II divisi 1, hubungan skeletal klas II dengan protrusif maksila dan retrusif mandibula, protrusif insisivus atas disertai palatal bite, cross bite posterior, jarak gigit 11 mm, tumpang gigit 5,25 mm, SNA 84°, SNB 76°. Pasien dirawat menggunakan alat myofungsional bionator. Hasil perawatan setelah satu tahun overjet menjadi 6,25 mm dan SNB 78°. Kesimpulannya adalah alat myofungsional bionator efektif untuk merawat maloklusi Angle Klas II divisi 1 yang disertai diskrepansi rahang.ABSTRACT: Class II division 1 Angle Malocclussion Treatment  Using  Myofunctional  Bionator. Malocclusion Angle Class II division I is characterized by the upper mesio-buccal cups first permanent molars occludes in interdental second bicuspid and lower first molar permanent, increased overjet, narrow arch form, and convex profile. Bionator originally developed by Balter and used to treat jaw discrepancy. The goal of this case is to present the progress of myofunctional bionator appliance in treating malocclusion Class II division 1 with jaw discrepancies. A Female 13 years old complained protrusive anterior teeth. Diagnosis is malocclusion Angle Class II division I, class II skeletal relationship with maxilla protrusive, mandible retrusive, protrusive upper incisor, palatal bite, posterior cross bite, overjet 11 mm, overbite 5,25 mm SNA 84°, SNB 76°. Myofunctional bionator appliance used to treat the patient. Result after one year treatment, overjet reduce to 6,25 mm dan SNB 78°. The Conclusion is Myofunctional Bionator appliance effective to treat malocclusion Anlge Klas II division I with jaw discrepancies.
Minyak Atsiri Temu Putih (Curcuma Zedoaria Rosc., Zingiberaceae) Menurunkan Ekspresi CD4+ Pada Gingiva Terpapar A. Actinomycetemcomitans Handajani, Juni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 1 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aggregatibacter actinomycetemcomitans (A. actinomycetemcomitans) is a gram-negative bacteria associated with periodontal disease. Positive expression of CD4+ is shown in gingivitis and periodontitis. The aim of this study was to determine the effect of curcuma zedoaria Rosc., volatile oil against CD4+ expression on gingiva exposed A. actinomycetemcomitans. The study was conducted on male Wistar rats aged 3 months that were exposed bacteria A. Actinomycetemcomitans. Treatment group as many as 5 rats were administered orally with curcuma zedoaria Rosc. volatile oil at dose of 30.6 μl/ml for 14 days and distilled water in control. A 100 μl bacteria were applied on the 7th to 14th day on the gingiva anterior mandibular. At the 15th day, rat was anesthetized then sacrificed. The mandibular gingiva anterior of the rat was taken as histological preparations for HE and immuno-histo chemical staining. CD4+  antibody (Santa Cruz Biotechnology, USA) was used for immune staining. Histological preparations were observed under a light microscope.The results showed a strong positive CD4+ expression in the lamina propria and stratum basale of control group while a weak positive expression in lamina propria area of treatment group. From the experiment, it is concluded that the induction of curcuma zedoaria Rosc. volatile oil may reduce gingivitis, indicated by the decrease in CD4+ expression
Gigi Tiruan Overlay Thermoplastic Resin Pada Pasien Celah Bibir dan Palatum Amalia, Elka Ayu; Kusuma, Heriyanti Amalia; Wahyuningtyas, Endang
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 2 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus celah bibir dan palatum, adalah kasus yang memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dalam hal perbaikan bila dibandingkan dengan kasus kecacatan lain yang disebabkan oleh cacat bawaan maupun dapatan lain. Karena kasus celah bibir dan palatum meminta perhatian khusus pada tahap-tahap perbaikannya, serta memerlukan kolaborasi antar disiplin ilmu kedokteran untuk mendapatkan hasil yang optimal. Prostodonsi adalah salah satu bidang kedokteran gigi yang memegang peranan menentukan hasil akhir dari rangkaian perawatan yang telah dilakukan. Gigi tiruan overlay adalah gigi tiruan lepasan yang digunakan untuk mengurangi penyempitan rahang atas dan perbedaan dalam dimensivertikal. Tujuan dari artikel ini adalah membahas perawatan yang lebih nyaman dengan gigi tiruan overlay thermoplastic resin untuk kasus celah bibir dan palatum. Seorang pasien perempuan, 25 tahun, datang dengan keluhan ingin perbaikan estetik pada regio anterior rahang atas, untuk menutupi defek sisa hasil operasi penyatuan celah palatum yang telah dilakukan ketika balita. Tatalaksana kasus: 1) Anamnesa, 2) Pemeriksaan klinis dan radiografis, 3) Pencetakan model studi, 4) Pencetakan model kerja, 5) Pemasangan pada artikulator, 6) Penyusunan gigi, 7) Pasang coba model malam, 8) Processing laboratorium, 9) Insersi, 10) Kontrol. Kesimpulan: Perawatan pasien celah palatum dengan gigi tiruan overlay thermoplastic resin memberikan kenyamanan, perbaikan estetis sehingga menimbulkan dampak psikologis yangbaik pada pasien. ABSTRACT: Thermoplastic Resin Overlay Denture On Cleft Lip And Palate Patient (A Case Report). Background: Cleft lip and palate has a degree of difficulities in habilitativeness among other congenital or acquired handicaps. Because this case requires a special attention on the habilitation stage, also requires an interdiciplinary collaboration in medical professions in order to achieve optimal results. Prosthodontics is a part in dentistry that has a role in determining the final results of a series of treatments that have been performed. Overlay denture is a removable prosthesis which are used toalleviate maxillary constriction and discrepancies in vertical dimension. Purpose: To give more comfortable treatment with overlay denture on cleft lip and palate case. Case: A 25 years old female patient, with the chief complaint of the aesthetic on her maxillary anterior region. Requires a treatment to covered her defect, post cleft lip and palate operations that have been performed when she was a child. Case management: 1) Anamnesis, 2) Clinical and radiographic examination, 3) Study model impressions, 4) Working model impressions, 5) Articulator mounting, 6) Artificial teeth arrangement, 7) Wax model try-in, 8) Laboratorium processing, 9) Insertion, 10) Control. Conclusion: Treatment of a cleft lip and palate case with a thermoplastic resin overlay denture can delivered comfort, and aesthetic improvement which can gives the patient a positive physiological impact.
Pembuatan Adhesive Bridge dengan Fiber Reinforced Composite untuk Perawatan Kehilangan dan Kegoyahan Gigi Anterior Rahang Bawah Wijaya, Demmy; Indrastuti, Murti; Sugiatno, Erwan
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 21, No 1 (2014)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu perawatan kehilangan gigi anterior untuk tujuan estetis adalah dengan adhesive bridge. Fiber Reinforced Composite (FRC) adalah bahan struktural yang terdiri dari 2 konstituen yang berbeda. Komponen penguat (fiber) memberikan kekuatan dan kekakuan, sedangkan matriks (resin komposit) mendukung penguatan. Bahan FRC dapat digunakan untuk pembuatan adhesive bridge dan juga dapat digunakan sebagai stabilisasi gigi yang mengalami kegoyahan. Adanya gigi pendukung yang sehat juga sangat membantu keberhasilan perawatan ini. Laporan kasus ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang penatalaksanaan perawatan kehilangan dan kegoyahan gigi anterior rahang bawah menggunakan FRC. Seorang pasien laki-laki berusia 33 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof. Soedomo ingin dibuatkan gigi tiruan. Pasien kehilangan gigi 31, gigi 32, gigi 41 dan mengalami kegoyahan derajat 2 disertai resesi gingiva. Kondisi tersebut akibat pasca pembuatan gigi tiruan di tukang gigi. Pasien tidak ingin giginya yang goyah dilakukan pencabutan. Tatalaksana kasus: pencetakan rahang untuk model diagnostik, pembuatan mock-up pontik gigi 31 pada model diagnostik, pembuatan index dengan mencetak bagian lingual dan 1/3 incisal menggunakan putty, preparasi gigi penyangga (gigi 32, 33, 41, 42, 43), pemasangan fiber dengan bantuan index putty, pembentukan bagian labial pontik dengan komposit, finishing dan polishing. Kesimpulan: Fiber reinforced composite dapat dipakai untuk pengelolaan pasien yang mengalami kehilangan dan kegoyahan gigi anterior rahang bawah.ABSTRACT: Adhesive Bridge of Fiber Reinforced Composite to Treat Tooth Missing and Luxation of Lower Anterior Teeth. One of the anterior tooth loss treatments for esthetic purposes is the adhesive bridge. Fiber Reinforced Composite (FRC) is a structural material that consists of two different constituencies. Amplifier components (fiber) provide strength and stiffness, while matrix (resin composite) support reinforcement. FRC materials can be used in the manufacture of adhesive bridge and can also be utilized for a tooth stabilization for luxation case. The existence of supporting healthy teeth is also very helpful the success of this treatment. Objective: The aim of this case report was to provide information about management of missing teeth and luxation of lower anterior teeth using the FRC. Case: Thirty-three years old male patient came for a denture to the Prosthodontics Clinic of the Prof. Soedomo Hospital. The patient lost tooth 31, the teeth 32 and 41 had a luxation degree 2 with gingival recession. The condition is due to post-manufacture of artificial teeth in dental technician. The Patient did not want to extract the teeth. Managing cases: Impression of teeth for diagnostic models, mock-ups of the pontic tooth 31 on diagnostic models, manufacturing of index scoring lingual and 1/3 incisal using putty, preparation of the abutment (32, 33, 41, 42, 43), the installation of fiber with index putty, forming the labial pontic with composite continued with finishing and polishing. Conclusion: Fiber reinforced composite can be used for the management of patients who experienced a loss and shakiness lower anterior teeth
Protesa Mata: Rehabilitasi Pasien Waskitho, Arief; Sugiatno, Erwan; Ismiyati, Titik
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 20, No 2 (2013)
Publisher : Majalah Kedokteran Gigi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus kehilangan bola mata dapat menimbulkan masalah fungsi, psikis, dan estetik. Salah satu perawatan rehabilitatif pada kasus ini   adalah dengan protesa mata. Tujuan pembuatan protesa mata adalah untuk mempercepat penyembuhan fisik dan psikis serta memperbaiki estetik. Pasien laki-laki usia 50 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof. Soedomo FKG UGM dengan kondisi kehilangan mata sebelah kanan akibat trauma 3 tahun yang lalu.Pemeriksaan soket mata menunjukkan konjungtiva yang sehat dan tidak terdapat infeksi. Rencana perawatan adalah pembuatan protesa mata non fabricated berbahan resin akrilik. Prosedur perawatan dilakukan dengan tahap-tahap yaitu pencetakan mata dengan sendok cetak mata perorangan dan pengisian hasil cetakan dilakukan 2 tahap. Pembuatan model malam sklera, mencoba pola malam sklera, membuat sklera akrilik, mencoba sklera akrilik, dan penentuan lokasi dan diameter iris, melukis iris dan pupil, penyelesaian protesa mata, serta insersi protesa mata, pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah retensi, stabilisasi, dan kenyamanan protesa mata. Kontrol setelah 1 minggu protesa mata menunjukkan hasil yang baik, tidak ada keluhan rasa sakit, dan tidak ada peradangan. Pasien lebih percaya diri dan nyaman dengan protesa mata ini karena bentuknya sesuai soket mata. Pemakaian protesa mata dapat meningkatkan kepercayaan diri pasien sehingga dapat diterima dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Maj Ked Gi; Desember 2013; 20(2): 178–183.

Page 6 of 56 | Total Record : 556