cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JFA (Jurnal Fisika dan Aplikasinya)
ISSN : 1858036X     EISSN : 24604682     DOI : -
Core Subject : Science,
JFA (Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Abbreviation: J.Fis. dan Apl.) hanya menerbitkan artikel penelitian asli serta mengulas artikel tentang topik seputar bidang fisika (fisika teori, material, optik, instrumentasi, geofisika) dan aplikasinya. Naskah yang dikirimkan ke JFA belum pernah diterbitkan ditempat lain serta tidak dalam proses pertimbangan untuk diterbitkan ditempat lain, dalam bahasa apapun. Studi teoritis, eksperimental, dan praktis sama-sama didorong, seperti juga artikel interdisipliner dan yang timbul dari penelitian dan kolaborasi industri.
Arjuna Subject : -
Articles 423 Documents
Analisis Directional Coupler Sebagai Pembagi Daya untuk Mode TE Agus Rubiyanto; Agus Waluyo; Gontjang Prajitno; Ali Yunus Rohedi
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 2, No 1 (2006)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.166 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v2i1.983

Abstract

Directional coupler merupakan piranti optik yang tersusun atas dua pandu gelombang sejajar dengan salah satu fungsinya sebagai pembagi daya. Parameter utama pembagian daya ini adalah panjang kopling (Lc), yang diselesaikan menggunakan persamaan matrik karakteristik lapis jamak. Jenis film yang digunakan adalah planar graded index berprofil sech2 dengan peningkatan indeks bias 0,07, untuk panjang gelombang 1,33 μm. Pembagian daya optik antar kanal bisa terjadi dengan memvariasi panjang kopling. Untuk jarak gab 1,5 μm pada Z=232 μm semua daya dipindah ke kanal kedua, sedangkan pada Z=174 μm, perbandingan daya antara kanal satu dan kanal dua adalah 25 berbanding 75. Untuk pembagi daya dengan keluaran yang sama antar kanal, dibutuhkan panjang interaksi sebesar 116 μm. Pada panjang interaksi sebesar 58 μm, daya pada kanal pertama tiga perempat dari daya masukan, seperempat sisa dayanya ditransmisikan ke kanal kedua.
Pengaruh Tetes Tebu dan Limbah Cair Tahu pada Produksi Biogas Prasetiono Prasetiono; Triwikantoro Triwikantoro
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 8, No 2 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.376 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v8i2.865

Abstract

Metana adalah salah satu komponen gas terbesar dari produksi biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Peningkatan produksi biogas dilakukan salah satunya dengan memberikan bahan tambahan berupa tetes tebu dan limbah cair tahu pada kotoran sapi. Kotoran sapi dan bahan tambahan dicampur air dengan perbandingan massa 1 : 2, sedangkan perbandingan kotoran sapi dengan bahan tambahan dibuat secara bervariasi yaitu (90:10):2, (80:20):2 dan (70:30):2. Kandungan gas metana yang berada di tandon gas dideteksi pada hari ke-7 dan hari ke-20. Analisis produksi biogas menunjukkan bahwa awalnya penambahan tetes tebu dan limbah cair tahu menaikkan CH4, tetapi semakin besar jumlah tetes tebu yang ditambahkan semakin turun jumlah CH4 yang dihasilkan, sedangkan penambahan limbah cair tahu berpengaruh sebaliknya yaitu semakin besar tambahan limbah tahu, maka semakin besar produksi CH4.
Pengaruh Two Step Annealing pada Struktur Kristal Nanopartikel Cobalt Ferrite Hasil Ko-presipitasi Chomsatin Amalia
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 11, No 2 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.464 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v11i2.1061

Abstract

Pengaruh two step annealing terhadap struktur kristal nanopartikel cobalt ferit hasil ko-presipitasi telah dikaji pada penelitian ini. Hasil FTIR menunjukkan bahwa cobalt ferit berstruktur spinel terbentuk pada sekitar daerahk = 590 cm−1. Perlakuan temperatur pre-heating pada skema two step annealing menurunkan transmitansi namun tidak menggeser angka gelombang terbentuknya cobalt ferit. Konfirmasi struktur kristal menggunakan XRD menegaskan bahwa cobalt ferit terbentuk berstruktur kubus fcc dengan intensitas puncak maksimum terjadi pada sudut 2 = 35,7. Hasil analisis Scherrer menunjukkan bahwa perlakuan pre-heating pada skema two step annealing dapat memodifikasi ukuran butiran kristalin sampel cobalt ferit yang dihasilkan.
Analisis Metode Lintasan Feynman pada Interferensi 1, 2, 3, dan 4 Celah Mahendra Satria Hadiningrat; Endarko Endarko; Bintoro Anang Subagyo
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.142 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v11i1.777

Abstract

Pada paper ini dijelaskan secara rinci analisis gangguan pada 1, 2, 3 dan 4 celah yang didasarkan pada metode lintasan Feynman dalam pendekatan difraksi Fraunhofer. Formulasi pendekatan difraksi Fraunhoffer sulit untuk mendapatkan, sehingga didesain dengan mengaplikasikan prinsip aksi klasik sebagai dasar formulasi awal. Hal ini digunakan untuk menghitung distribusi probabilitas elektron yang melalui celah akibat model gangguan yang terdeteksi di layar dan dinyatakan dalam bentuk grafik.
Desain dan Fabrikasi Antena Mikrostrip Loop dengan Feed Line Mikrostrip Feed Line Dua Lapis Substrat untuk Komunikasi C-Band Ambyah Uboyo; Yono Hadi Pramono; Ali Yunus Rohedi
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 5, No 2 (2009)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.98 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v5i2.940

Abstract

Pada penelitian ini telah didesain dan dibuat antena mikrostrip loop dengan feed line mikrostrip feed line dua lapis substrat untuk frekuensi kerja C-Band. Langkah pertama ditentukan besaran-besaran fisis yang mempengaruhi kinerja antena  Mikrostrip loop, kemudian dilakukan fabrikasi antena mikrostrip loop berdasarkan dimensi-dimensi yang telah ditentukan dengan variasi patch. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa antena mikrostrip loop dengan dimensi loop 2,28 cm × 1,65 cm, 1,14 cm × 0,73 cm, slot dengan dimensi 2,28 cm ×1,65 cm dan patch yang berdimensi 2,28 cm × 1,65 cm mempunyai unjuk kerja yang optimal dengan frekuensikerja 4926,68 MHz, return loss -25,45 dB, VSWR sebesar 1,11, serta Bandwidth sebesar 310,4 MHz. Hal ini berarti antena tersebut sesuai perancangan dan dapat bekerja pada range C-Band (4 MHz - 8 MHz).
Pengaruh Sisipan Resonator Celah Sempit pada Serapan dan Respon Spasial Quadratic Residue Diffuser Erna Y. Devitasari; Arifatul Chorida; Eki Muqowi; Nining Haryanti; Harjana Harjana; Iwan Yahya
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1025.355 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v10i1.821

Abstract

Telah dilakukan analisis pengaruh sisipan resonator celah sempit terhadap perubahan kinerja serapan danrespon spasial quadratic residue diffuser (QRD). Pengujian serapan elemen diffuser dilaksanakan denganmenggunakan teknik tabung impedansi dua mikrofon, sementara simulasi respon spasial dikerjakan denganmenggunakan perangkat lunak AFMG Reflex pada tiga kondisi sisipan berbeda. Hasil pengujian menunjukkanbahwa sisipan resonator celah sempit pada rancangan standar QRD dapat memicu peningkatan koefisen serapanyang bersifat akumulatif dan berdampak pada peningkatan respon spasial omnidireksional pada bentangfrekuensi tinggi di atas 800Hz. Sifat yang demikian menunjukkan bahwa modifikasi QRD standar dengansisipan resonator celah sempit memiliki potensi yang sangat baik untuk aplikasi pada ruangan dimana terdapatkebisingan yang bersumber dari mesin atau piranti yang mengandung komponen yang berputar (rotatingmachinery).
Pengaruh Struktur Material Paduan Berbasis Zirkonium terhadap Ketahanan Korosi dalam Larutan HNO3 Triwikantoro Triwikantoro; Yusri Nur Rozaqi; Setyawan Wijayanto
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 3, No 2 (2007)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.215 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v3i2.974

Abstract

Telah dilakukan penelitian pengaruh struktur material paduan berbasis Zirkonium terhadap ketahanan korosi dalam larutan HNO3. Paduan berbasis Zirkonium dengan struktur bervariasi disintesis menggunakan metode pendinginan cepat (paduan amorf) dan pemanasan antara Tg - Tx (paduan nanokristal). Setelah pemanasan tersebut sampel, ukuran kristal yang terbentuk berkisar antara 4 - 20 nm.Paduan dengan struktur tertentu diuji ketahanan korosinya mengunakan larutan HNO3 dengan variasi konsentrasi 0,1 dan 0,01 Molar. Laju korosiditentukan dengan menggunakan metode pengurangan berat, kemudian struktur mikro setelah uji korosi diamati menggunakan mikroskop optik dan difraksi sinar x. Berdasar data laju korosi, korosi yang terjadi untuk material amorf lebih kecil dibanding dengan nanokristal pada konsentrasi larutan HNO3 0,1 M dan 0,01M untuk paduan Zr-Ni dan Zr-Cu-Ni-Al. Berdasar gambar strukturmikro menggunakan mikroskop logam teramati jenis lokalkorosi. Hasil data difraksi X-ray menunjukkan bahwa sisa fasa yang terbentuk setelah korosi adalah ZrO2, Zr2Ni dan Al2O3.
The Critical Temperature of The Superconductor Having an Array of Holes Harsojo Harsojo
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.406 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v8i1.856

Abstract

The influence of external magnetic field to the critical temperature of the superconductor having an array of hole has been calculated using time dependent Ginzburg-Landau equation. The investigation is done after calculating numerically the resistance produced when the superconductor is driven by electric current and exposed under perpendicular magnetic field fie. The result indicates that the addition of lattice holes to the superconductor exposed on perpendicular magnetic field changes the critical temperature. The changes of the critical current due to the different sizes of holes are also discussed.
Metode rasio sisa cahaya terpolarisasi lingkaran untuk menentukan fase retarder Gatut Yudoyono; Ali Yunus Rohedi
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 1, No 2 (2005)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.12 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v1i2.1006

Abstract

Telah dilakukan perhitungan retardasi retarder melalui pengukuran rasio sisa cahaya terpolarisasi lingkaran. Pada penelitian ini digunakan keping seperempat gelombang sebagai retarder uji. Set-up peralatan menggunakan konstruksi polariskop lingkaran dengan keping gelombang pertama sebagai retarder uji. Perhitunganretardasi retarder berdasar pada vektor Stoke dan matriks Muller dari komponen optis yang digunakan. Retarder uji diputar untuk mendapatkan variasi retardasi retarder sebagai fungsi sudut datang. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa retardasi retarder uji besarnya berubah terhadap sudut datang dan dapat difungsikan sebagaikeping seperempat gelombang bila sudut datang berkas cahaya tidak lebih dari 20.
Petunjuk Sistem Perlapisan Bumi Dangkal melalui Analisis Seismogram Bagus Jaya Santosa
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.779 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v7i2.908

Abstract

Dalam penelitian ini telah diperbandingkan seismogram observasi dengan kurva waktu tempuh dari sebuah gempa dalam komponen ruang 3 dimensi. Data seismogram berasal dari Hokaido, Jepang yang terjadi pada tanggal 8 Oktober 1997, direkam oleh stasiun pengamat yang terletak di HIA, Propinsi Neimenggu, China. Untuk mengidentifikasikan fase gelombang dalam seismogram digunakan kurva travel time, yang dihitung dengan program TTIMES, yang didasarkan pada sebuah sebuah model bumi elastik, simetri radial dan isotrop, yaitu model bumi IASPEI91. Pada model bumi ini, hingga kedalaman 100 km, bumi diperkirakan mempunyai dua antarmuka, yaitu antarmuka pada kedalaman 20 km antara kulit bumi atas dan bawah, dan pada kedalaman 35 km, dikenal sebagai antarmuka Mohorivicic, sebagai batas antara mantel bumi dengan kulit bumi. Antarmuka kedua bertindak sebagai reflektor gelombang yang sangat kuat. Penelitian ini memberikan petunjuk, bagaimana sebenarnya sistem perlapisan tanah dangkal pada model bumi elastik. Dijumpai diskrepansi yang nyata pada berbagai fase gelombang, yang tidak tertera, baik dalam segmen waktu gelombang ruang langsung dan terpantul, dan segmen waktu gelombang dalam, dimana gelombang diskrepansi tersebut datang pada jendela waktu diantaranya. Ini menunjukkan, bahwa model bumi harus dilengkapi dengan antarmuka pemantul-pemantul dangkal.sistem perlapisan yang lebih halus/tipis juga dinyatakan oleh adanya gejala difraksi pada segmen waktu gelombang langsung. Meskipun jenis gelombang yang digunakan dalam penelitian ini adalah Long Period, namun terbukti dapat menunjukkan resolusi yang sangat peka.