cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Kontekstualita: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 28, No 2 (2013)" : 7 Documents clear
Etika Kepemimpinan dalam Seloko Adat Melayu Jambi Al Munir, M Ied
Kontekstualita Vol 28, No 2 (2013)
Publisher : Kontekstualita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Artikel ini bertujuan untuk menjawab tiga pertanyaan utama: apa yang merupakan kepemimpinan etis, bagaimana kepemimpinan dalam budaya Melayu di Jambi bekerja dan bagaimana kepemimpinan etis berdasarkan dari kebiasaan Seloko Jambi dilaksanakan. Hasil yang diperoleh adalah: (1) etika di Jambi Melayu dipahami sebagai moralitas, (2) ada beberapa ciri-ciri, temperamen, atau tindakan bahwa seorang pemimpin seharusnya tidak dalam budaya Melayu Jambi, sebagaimana disebutkan dalam Seloko "Burung Kecil, langit-langit Mato "atau" burung kecil, mata buta "(orang-orang yang bekerja hanya mencari kesalahan orang lain dan memberitahu kalau kemana-mana), dan (3) seorang pemimpin harus memiliki moral yang baik, ditandai dengan sifat-sifat berikut: tulus, lembut, adil, murah hati dan bijaksana. Kata kunci: etika, etika kepemimpinan, Seloko adat Melayu Jambi.Abstract: This article aims to answer three main questions: what constitutes ethical leadership, how leadership in Malay culture in Jambi works and how the ethical leadership based from Seloko Jambi customs implemented. The results obtained are: (1) ethics in Jambi’s Malay is understood as morality, (2) there are few traits, temperament, or action that a leader should not have in Malay Jambi culture, as mentioned in Seloko “Burung Kecik, Ciling Mato” or “small bird, blind eyes" (people who works only find fault with others and tell it when go everywhere), and (3) a leader must have good morals, are characterized by the following properties: sincere, gentle, fair, generous and thoughtful. Keywords: etika, etika kepemimpinan, seloko adat Melayu Jambi.
Kehidupan Keagamaan Suku Anak Dalam Di Dusun Senami III Desa Jebak Kabupaten Batanghari Jambi Mailinar, Mailinar; Nurdin, Bahren
Kontekstualita Vol 28, No 2 (2013)
Publisher : Kontekstualita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Agama adalah fenomena universal yang terjadi di semua lapisan masyarakat: perkotaan, pedesaan untuk komunitas adat terpencil. Masyarakat Suku Anak Dalam merupakan salah satu suku asli yang berada di Provinsi Jambi. Tulisan ini merupakan hasil studi kualitatif melalui observasi dan wawancara untuk memeriksa kehidupan beragama masyarakat adat dari Suku Anak Dalam di Dusun Senami III, Desa Jebak, Kabupaten Batanghari. Meskipun Suku Anak Dalam masih menganut kepercayaan tradisional, tetapi mereka juga memahami bahwa ajaran Islam adalah ajaran suci, mengandung aturan, perintah dan larangan yang sejalan dengan kebiasaan mereka. Studi ini juga menemukan bahwa masih sulit bagi Suku Anak Dalam untuk membuat Islam sebagai sesuatu yang bisa terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Kata kunci: Kehidupan Beragama, Suku Anak Dalam, Desa Jebak. Abstract: Religious life is a universal phenomenon that occurs in all walks of life: urban, rural to remote indigenous communities. Suku Anak Dalam community is one of the native tribes residing in the province of Jambi. This paper is the result of a qualitative study through observation and interviews to examine the religious life of indigenous communities of Suku Anak Dalam in Dusun Senami III, Jebak village, Kabupaten Batanghari. Although Suku Anak Dalam still embrace traditional beliefs, but they also understand that the teachings of Islam are the teachings of the sacred, containing rules, commands and prohibiton that in line with their customs. The study also found that it is still difficult for them to make Islam as something that could be internalized in their everyday life. Keywords: Religious Life, Suku Anak Dalam, Jebak Village.
Respons Mahasiswa Muslim Terhadap Orientalisme: Studi Kasus Mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Arifullah, Mohd; Salim, Agus
Kontekstualita Vol 28, No 2 (2013)
Publisher : Kontekstualita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tulisan ini mengeksplorasi sikap pemuda Muslim terhadap studi Orientalisme. Sampel studi adalah mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Meskipun ada siswa yang terlihat negatif terhadap orientalisme, tanggapan untuk belajar orientalisme juga dibagi dalam beberapa pandangan: rata-rata siswa melihat Orientalisme sebagai penilaian yang obyektif, tetapi ada juga siswa yang melihat Orientalisme sebagai pandangan subjektif dari pemikir non Islam. Latar belakang pendidikan, tingkat pemahaman agama, dan budaya akademik merupakan faktor yang menentukan perspektif mereka tentang Orientalisme. Budaya akademik yang lebih terbuka akan semakin membangun respon positif mereka terhadap orientalisme. Kata kunci: orientalisme, respon pemuda muslim, IAIN Jambi.Abstract : This work explores the pattern of Muslim youth attitudes towards the study of Orientalism. The sample of the Study was students of Theology Faculty of IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Although there are students who look orientalism negatively, responses of students to study orientalism objectivity is also divided in several views: the average student sees Orientalism as an objective assessment, but there are also students who see Orientalism as a subjective view of the non Islamic thinker. Educational background, level of religious understanding, and academic culture are the factors that determine their perspectives on Orientalism. The more open academic culture will increasingly build their positive responses toward Orientalism. Keywords: orientalism, muslim student response, IAIN Jambi.
Tradisi Baca Burdah dan Pengalaman Keagamaan Masyarakat Desa Setiris Muaro Jambi Rosalinda, Rosalinda
Kontekstualita Vol 28, No 2 (2013)
Publisher : Kontekstualita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Artikel ini membahas tradisi membaca Burdah, kumpulan puisi tentang sejarah kehidupan Nabi Muhammad. Burdah disusun oleh penyair Mesir Muhammad bin Said al-Bushiri (wafat 1295). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pengamatan terhadap aktivitas keagamaan komunitas di Desa Setiris Muaro Sebo Kabupaten Muaro Jambi, yang tradisi ini lazim bagi mereka. Studi ini menunjukkan bahwa warga Setiris percaya pembacaan Burdah akan memberikan pembaca kenikmatan. Bagi pembaca dan pendengar, Burdah diterima dengan pemahaman yang beragam. Beberapa warga mendapat makna langsung ketika mereka mendengarkan atau membaca Burdah, tapi banyak dari mereka tidak mengerti dan pergi meninggalkan tradisi. Pada kenyataannya, ada pula yang percaya bahwa jika membaca atau mendengarkan Burdah keinginan akan diberikan oleh Kekuatan yang lebih tinggi, walau tentu saja tidak semua keinginan masyarakat melaksanakan tradisi Burdah menjadi kenyataan. Namun, membaca dan mendengarkan Burdah masih merupakan bagian yang kuat dari kehidupan keagamaan komunitas Setiris ini. Kata kunci: Burdah, mistis, keagamaan Pengalaman, desa Setiris.Abstract: This article discussed the tradition of reading Burdah, a collection of poems about the life history of the Prophet Muhammad. Burdah was composed by Egyptian poet Muhammad ibn Said al-Bushiri (d. 1295). This study uses qualitative method to explain what people see in the community of Setiris Muaro Sebo District Muaro Jambi, which this tradition is a common occurance. The study shows that the villagers of Setiris believe the recitation of Burdah will grant readers pleasure. For the readers and listeners of Burdah in the area, the content of Burdah accepted with the diverse understanding. Some citizens got the meaning directly when they listen or recite the Burdah, but many of them do not understand and just went along with the tradition. In fact, even if there’s a believe that if you read or listen to Burdah your wishes will be granted by the higher being, but of course not all the wishes of the people implementing the Burdah tradition came true, but nevertheles reading and listening to Burdah is still a strong part of people of Setiris’s religious life. Keywords: Burdah, Mistic, Religious Experience, Setiris villagers.
Implementasi Social Services oleh Pendidikan Tinggi Islam: Studi Kasus IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Rahman, Fuad; Sururuddin, Sururuddin; Harun, Hermanto
Kontekstualita Vol 28, No 2 (2013)
Publisher : Kontekstualita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Masalah utama penelitian dalam artikel ini adalah signifikansi pendidikan tinggi dalam melakukan kegiatan pelayanan sosial. Lokus penelitian ini adalah IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Hasil penelitian menemukan bahwa kendala ketika melakukan kegiatan pelayanan sosial adalah konseptual dan metodologi ketika melaksanakan program pengabdian masyarakat di lapangan. Secara konseptual, pelayanan sosial program hanya diterjemahkan ke dalam mahasiswa kerja lapangan sosial, sedangkan metodologi kerja lapangan tidak membawa kreativitas baru atau inovasi. Masyarakat menuntut perguruan tinggi Islam untuk memberikan pelayanan sosial dengan tindakan lebih nyata seperti bimbingan bagi guru agama, bimbingan dalam pengelolaan dan pelaksanaan zakat dan manajemen masjid, serta bantuan teknis dalam melaksanakan kegiatan sosial-ekonomi. Kata kunci: Pengabdian Masyarakat, IAIN Sulthan Thaha Saifuddin, Pelayanan sosial.Abstract: The main issue to be explored in this article is how unsignificant a higher education in performing social services activities. The locus of this study is IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Barriers that occur when conducting social services activities including conceptual and methodological obstacles when implementing community service programs in the field. Conceptually, social services programs simply translated into college students social field work, while the methodology of field work does not bring any new creativity or innovation. Communities demand that the Islamic university to give social services with concrete actions such as guidance for religious teachers, guidance in the management and implementation of zakat and management of mosque, as well as technical assistance in carrying out socio-economic activities. Keywords: Social Services, IAIN Sulthan Thaha Saifuddin, Community Services.
Antara Ekonomi Liberal atau Sosialisme Religius Rafiko, Rafiko
Kontekstualita Vol 28, No 2 (2013)
Publisher : Kontekstualita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prof. Dr. M. Dawam Rahadrjo, Ekonomi Neo-Klasik dan Sosialisme Religius: Pragmatisme Pemikiran Ekonomi Politik Sjafruddin Prawiranegara (Bandung: Mizan, 2008).
Relevansi Agama dan Alam dalam Pandangan Aliran Kebatinan Dayak Indramayu Ma’mun, Syukron
Kontekstualita Vol 28, No 2 (2013)
Publisher : Kontekstualita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Artikel ini merupakan analisis terhadap konsepsi mengenai alam semesta serta kuasa Alam yang mengatur kehidupan sehari-hari. Penelitian dilakukan terhadap Komunitas Aliran Kebatinan Dayak Indramayu “Bumi Segandu” yang berada di Desa Krimun Kecamatan Losarang Kabupaten Indramayu. Sumber data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi terhadap pimpinan Komunitas Suku Dayak Indramayu Bapak Takmad, beberapa muridnya, masyarakat sekitar, dan tokoh agama Islam (Ketua MUI Kec. Losarang). Kajian ini dianalisis dengan metode interpretatif. Komunitas Suku Dayak Indramayu merupakan suatu aliran kepercayaan yang mempunyai pandangan teologis tersendiri yang berbeda dengan agama lain. Mereka meyakini bahwa alam adalah sumber kehidupan, alam menjadi tempat tumbuh, dan matinya semua makhluk hidup termasuk manusia. Alam juga merupakan pencipta kehidupan. Manusia lahir dari saripati alam. Seorang bayi lahir dari pertemuan sel ovum dan sperma kedua orang tuanya, sel tersebut tercipta dari saripati makanan, dan makanan manusia didapat dari Alam, maka alam menjadi pusat dari proses kehidupan. Tuhan bagi mereka bukan sesuatu yang abstrak. Mereka menolak anggapan bahwa tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa disentuh, melainkan tuhan adalah alam itu sendiri, dan manusia menerima pancaran alam untuk menjaga kelestariannya agar bisa menciptakan kemakmuran di bumi ini. Implikasi dari pandangan ketuhanan tersebut mengakibatkan kelompok ini tidak mempercayai Muhammad sebagi manusia pembawa kebenaran Tuhan dan juga tidak mengimani al-Qur’an sebagai kalam Allah. Mereka menganggap kegagalan masyarakat dalam membangun kesejahteraan sosial merupakan kegagalan agama. Kata Kunci: Dayak Indramayu, konsepsi alam, Tuhan, bumi segandu. Abstract: This article is an analysis of the conception of the universe and the power of Nature that govern everyday life. Research conducted on communities of faith of Dayak Indramayu "Earth Segandu" in the village of Krimun Losarang, Indramayu District. Sources of data consist of primary data and secondary data. The primary data obtained from interviews and observations of the community leaders of the Dayak Indramayu Mr. Takmad, some of his students, the local community and religious leaders of Islam (MUI district. Losarang). This study using interpretative method. Community Dayak Indramayu is a cult that has its own theological views that are different from other religions. They believe that nature is the source of life, nature becomes a place to grow, and the death of all living creatures, including humans. Nature is also the creator of life. Humans born from the essence of nature. A baby is born from the meeting of an ovum and sperm both parents, these cells are created from the essence of food and human food derived from nature, nature becomes the center of life processes. God for them is not something abstract. They reject the notion that God is something that can not be touched, but god is nature itself, and man received a natural radiance to maintain its sustainability in order to create prosperity on this earth. The implications of divinity view the result of this group do not believe in Muhammad as a human carrier of Gods truth and also does not believe in the Koran as the word of God. They regard the failure of society to build social welfare is a religious failure. Keywords: Dayak Indramayu, natural conception, God, the earth of Segandu.

Page 1 of 1 | Total Record : 7