cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palembang,
Sumatera selatan
INDONESIA
Intizar
ISSN : 14121697     EISSN : 24773816     DOI : -
Intizar Journal (ISSN: 1412-1697) and (E-ISSN: 2477-3816) is a peer-reviewed journal which is published by Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang publishes biannually in June dan December. This journal publishes current concept and research papers on Islamic Studies and Muslim Communities from interdisciplinary perspective, especially in Education; Culture; Politic; Law; Tafsir; Sufism; and Fiqh.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 20 No 2 (2014): Intizar" : 10 Documents clear
Metodologi Penelitian dalam Kajian Islam (Suatu Upaya Iktisyaf Metode-Metode Muslim Klasik) Duski Ibrahim
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji tentang metode-metode penelitian dalam kajian-kajian Islam. Hal ini berlandaskan bahwa Islam tidaklah meletakan ilmu itu dalam kerangka dikotomis. Yang membedakannya adalah nilai-nilai manfaat dan maslahat. Munculnya pemikiran yang diklaim sebagai paham dikotomis ilmu agamawi dan duniawi, secara historis, tampaknya salah satu konsekuensi dari era disintegrasi. Kelanjutannya, muncul statemen bahwa ilmu yang agamawi (ilmu-ilmu agama) harus mendapat perhatian yang lebih ketimbang ilmu yang duniawi (ilmu-ilmu dunia). Kemudian, pahala ilmu agamawi dipandang lebih banyak dibanding ilmu-ilmu duniawi. Statemen dan pandangan semacam ini tentu saja tidak memiliki dasar pijakan atau dalil yang jelas. Sedangkan metode-metode penelitian dalam kajian-kajian Islam ada empat macam, yakni: metode bayani, metode burhani, metode tajribi, metode ‘irfani. This paper examined about the methods of research in Islamic studies. It was based on that Islam did not put science in a dichotomous framework. What distinguished it was the benefit values and benefit. The emergence of thought which was claimed as a dichotomous understanding of the science of religious and secular, historically, it seemed one of the consequences of the era of disintegration. The sequel, appear statement that the science of religion (religious sciences) should receive more attention than the secular science (science world). Then, the reward of religion science was seen more than secular sciences. Such statements and views certainly did not have a foundation or a clear proposition. While the methods of research in Islamic studies there were four kinds, namely: bayani method, the method Burhani, tajriibi method, the method of 'Irfani.
Studi Perbandingan tentang Khunsa dengan Transseksual dan Transgender (Telaah Pemikiran Ulama’ Klasik Dan Ulama’ Modern) Gibtiah Gibtiah
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji mengenai khuntsa perspektif ulama klasik. Ada beberapa hal yang dapat sebagai solusi dari permasalahan khuntsa, yakni: 1. Khuntsa (orang banci) hendaknya menentukan atau diberi pilihan tentang status hukumnya lelaki atau perempuan, sebab dia yang lebih tahu tentang dirinya itu apakah dekat kepada lelaki atau lebih dekat /wajar ke perempuan. Dalam hal ini dapat meminta bantuan ahli kedokteran (fisik dan kejiwaan dengan tidak melupakan kelamin bagian dalam dan diproses ditetapkan oleh hakim /pengadilan. 2. Penetapan status hukum (identitas) oleh pengadilan tersebut setelah yang bersangkutan melakukan operasi kelamin (perbaikan/ penyempurnaan) dan bukan Taghyir, dan selanjutnya diperintahkan untuk memenuhi hak /kewajiban sebagai lelaki atau perempuan.This paper examined the khuntsa on perspectives of classical muftis. There were several things that could be as a solution of the khuntsa’s problems, namely: 1. Khuntsa (effeminate) should determine or was given a choice about their legal status male or female, because he knew better about himself if he was close to man or closer / reasonable to women. In this case might ask the assistance of medical experts (physical and psychological by not forgetting the inner sex and processed specified by the judge / court. 2. The decree of the legal status (identity) by the court after the relevant conducted genital surgery (repair / improvement) and not Taghyir, and further ordered to fulfill the rights / obligations as male or female.
Komunikasi dalam al-Qur’an (Studi Analisis Komunikasi Interpersonal pada Kisah Ibrahim) Kusnadi Kusnadi
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji tentang perspektif komunikasi interpersonal tentang kisah Ibrahim. Persepsi yang berupa pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Dari kisah nabi Ibrahim diperoleh kesimpulan, bahwa komunikasi interpersonal dilakukan dalam beberapa bentuk. Di antaranya dalam bentuk dialog antara nabi Ibrahim dengan Namrud. Komunikasi interpersonal dapat digunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain. Ini dilakukan dengan metode tertentu, misalnya dengan melihat alam semesta dan planet-planet. Di dalam al-Qur’an banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk memperhatikan diri mereka (Q.S. al-Rūm/30: 8), memikirkan apa saja yang terdapat di bumi (Q.S. al-Ra’du/13: 3), memperhatikan penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang (Q.S. Ali Imrān/3: 189), bahkan memperhatikan kitab al-Quran itu sendiri (Q.S. al-Nisā’/4: 82).This paper examined about the interpersonal communication perspective on the story of Abraham. Perception that was in the form of experience of objects. Events or relationships that were obtained by concluding information and interpreting the message. From the story of Abraham was concluded that interpersonal communication was done in some form among others in the form of a dialogue between the prophet Abraham with Nimrod. Interpersonal communication could be used to change attitudes and behavior of others. This was done by a certain method, for example by looking at the universe and the planets. In the Qur'an many verses that commanded people to pay attention to themselves (Surat al-Rum / 30: 8), think about what was contained in the earth (Surat al-Ra'du / 13: 3), pay attention to the creation of the heavens and earth and the change of night and day (Surah Ali Imran / 3: 189), and even pay attention to the book of the Koran itself (Surat al-Nisa '/ 4: 82).
Kontribusi FIPMI dalam Mewujudkan Kerukunan Antarmazhab Islam Muhammad Zaki
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mengkaji mengenai terbentuknya Forum Taqrib yang lebih di kenal dengan nama Forum Internasional Pendekatan Antar Mazhab-Mazhab Islam (FIPMI) dilatarbelakangi kondisi umat Islam, khususnya Sunni dan Syiah. Tokoh printis berdirinya Forum Taqrib Borujerdi memiliki alasan yang tepat memilih tokoh-tokoh ulama al-Azhar untuk dapat diajak berkomunikasi dan dialog untuk mewujudkan ide taqrib. Hal ini disebabkan ulama al-Azhar, selain reputasi keilmuannya diakui dunia juga lebih disebabkan mereka berpikiran moderat tidak fanatik. Hampir semua tokoh yang dikaji berpikiran bahwa taqrib artinya mendekatkan umat untuk saling mengenal dan memahami, bukan memaksakan umat untuk menganut suatu mazhab. Semua tokoh juga sepakat, bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah, tidaklah prinsip. Meskipun ada yang menyatakan prinsip, yaitu  dalam hal imamah. Titik temu akan diperoleh, jika Syiah tidak meletakkan imamah pada tataran akidah prinsip yang dapat menyebabkan kekafiran bagi yang menolaknya. Hal ini sudah ditegaskan oleh Borujerdi bahwa masalah imamah adalah sejarah masa lalu dan tidak perlu diungkit lagi karena tidak akan ada hasilnya. Yang terpenting sekarang adalah mencari kesepakatan rujukan hukum dalam menjalani kehidupan beragama dan berbangsa ini. Borujerdi menawarkan Al-Qur’an dan Ahlulbait, karena sesuai dengan hadis, bahwa keduanya adalah sumber hukum yang tidak akan pernah terpisah. Inilah yang dipesankan dalam hadis Tsaqalain. Hadis ini disepakati oleh Sunni dan Syiah kesahihannya karena diriwayatkan dalam kitab-kitab mereka. Upaya-upaya yang dilakukan Forum Taqrib dalam mewujudkan persatuan dan perdamaian, yakni: Taqrib juga telah melakukan sosialisasi keberadaannya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan rutin, seperti konferensi tahunan dan pertemuan berkala lainnya, serta penerbitan majalah atau jurnal. This article examines the formation of Forum Taqrib that is usual known by the name of the International Forum of Inter Approach schools of schools of Islam (FIPMI) backed the condition of Muslims, especially Sunni and Shia. Figure has pioneered the establishment of the Forum Taqrib Borujerdi had good reason choosing leaders of al-Azhar scholars to be able to communicate and dialogue to realize the idea of Taqrib. This is due to al-Azhar scholars, in addition to world-recognized scientific reputation is also more moderate-minded because they are not fanatics. Almost all the characters studied minded that Taqrib means closer people to know each other and understand, not to force people to adopt a school. All the leaders also agreed that the difference between Sunni and Shia are not the principle. Although there are states the principle, namely in terms of Imamat. The intersection will be obtained, if the Shia imamate lay not at the level of faith principles that can lead to disbelief for those who reject it. This has been confirmed by Borujerdi that the question of Imamat is the history of the past and does not need to be raised again because there will be no result. The important thing now is to find an agreement legal reference in living religious life and this nation. Borujerdi offers Qur'an and Ahlul-Bayt, because according to tradition, that both are sources of law will never separate. This is been booked in the hadith Thaqalain. This Hadith is agreed upon by both Sunni and Shia validity as narrated in their books. Efforts undertaken Taqrib Forum in bridging unity and peace, namely: Taqrib also has socialized its existence by holding regular meetings, such as annual conferences and other regular meetings, as well as the publication of a magazine or journal.
Stres Menghadapi Musibah Perspektif Islam ditinjau dari Adversity Quotient di Panti Asuhan di Kecamatan Plaju Palembang Zaharuddin Zaharuddin
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji mengenai adanya kontribusi yang cukup besar dari Adverisity Qoutient terhadap Stres menghadapi Musibah pada remaja yang tinggal di Panti Asuhan  khususnya di wilayah Kecamatan Plaju Kota Palembang. Ketangguhan yang dimiliki disinyalir mampu menjadi benteng pertahanan diri seseorang dari tekanan kehidupan yang memiliki efek sehingga menyebabkan seseorang terkena stress. Semakin tinggi ketangguhan yang dimiliki diyakini mampu mengurangi dan mengatasi stress yang dihadapi dalam kehidupan di dunia ini.This paper examined the presence of a substantial contribution of Adversity Quotient against stress in facing disaster in adolescents living in orphanages, especially in the district of Plaju, Palembang city. Toughness that owned allegedly was capable of being bulwark oneself from the stresses of life that had the effect of causing a person was exposed to stress. The higher toughness possessed believed to reduce and overcome the stress encountered in life in this world.
Keterlibatan Perempuan dalam Tindak Pidana Korupsi di Wilayah Hukum Pengadilan Negeri Kelas I.A Palembang Nilawati Nilawati
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji tentang tindak pindana korupsi pada perempuan. Hal ini berarti bahwa tindak pidana korupsi bukan hanya monopoli laki-laki. Partisipasi perempuan dalam tindak pidana korupsi di wilayah hukum Pengadilan Negeri Kelas I.A Palembang dapat dikatakan masih dalam tingkatan skala rendah. Sebagian besar tindak pidana korupsi yang dilakukan perempuan tersebut tidak sendirian, melainkan bersama orang atau pihak lain diikuti adanya peluang dan kesempatan. Sehingga tindak korupsinya dapat digolongkan korupsi sistemik. Faktor-faktor  yang menyebabkan perempuan terlibat dalam kasus tindak pidana korupsi di wilayah Hukum Pengadilan Negeri Kelas I.A Palembang, yaitu: rendahnya tingkat keimanan, rendahnya gaji atau pendapatan, sikap mental dan keinginan cepat kaya, pola hidup konsumtif hedonisme, aji mumpung, ada peluang dan kesempatn untuk meng-akses.This paper examined the crime of corruption on women. This meant that corruption was not just a male monopoly. Women's participation in corruption in legal area of the jurisdiction of Class IA Palembang could be said to be still in a low level scale. Most of corruption criminals that were done by women were not alone, but together with another person or party followed by the opportunity and chance. So the acts of corruption could be classified as systemic corruption. The factors that caused women to get involved in cases of corruption criminal in the legal area of the jurisdiction of Class IA Palembang, namely: low levels of faith, low salaries or income, mental attitude and the desire to get rich quick, lifestyle consumptive hedonism, moral hazard, there was an opportunity and chance to access. 
Agama dan Manusia dalam Pendidikan Hamka (Studi Falsafat Agama) Ris'an Rusli
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji mengenai pemikiran Hamka tentang agama dan manusia. Tulisan ini menyimpulkan bahwa agama, menurut Hamka, memotivasi umatnya mencari ilmu pengetahuan bukan hanya untuk membantu manusia memperoleh penghidupan yang layak. Akan tetapi, lebih dari itu dengan ilmu, manusia akan mampu mengenal Tuhannya, memperhalus akhlaknya, dan senantiasa berupaya mencari keridhaan Allah. Dengan demikian, pendidikan terbagi dua, yakni pendidikan ruhani dan pendidikan jasmani. Eksistensi agama dalam diri seseorang untuk melepaskan jiwanya dari keterkungkungan, baik keterkungkungan dalam perbudakan, akal yang terkunci dan tumpul, maupun taklid yang membunuh pikiran, sehingga tidak ada yang membatasi manusia untuk berhubungan langsung dengan Tuhan. Dalam memahami eksistensi manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan, maka perlu juga mengenali dan memahami potensi-potensi atau kekuatan-kekuatan yang ada dalam dirinya. Menurut Hamka, ada tiga potensi atau kekuatan yang menjadi motor dan dinamo manusia, yaitu kekuatan ingatan, kekuatan perasaan dan kekuatan kemauan.This paper examined on the HAMKA thought about religion and human. This paper concluded that according to Hamka religion was motivating people to seek knowledge not only to help people earn a decent living. But, more than that with science, humans would be able to know God, refined behavior, and constantly strove to seek the pleasure of Allah. Thus, education was divided into two, namely the spiritual education and physical education. Existence of religions in a person to release the soul from captivity, both captivity in bondage, mind locked and blunt, and imitation (taqlid) that killed the mind, so that there was no limit for human to direct contact with God. In understanding human existence, as subject and object of education, it was also necessary to recognize and understand the potentials or forces that existed within him. According to Hamka, there were three potential or the power of the motor and the human dynamo, the power of memory, the strength of feeling and strength of will.
Selibat dalam Paham Keagamaan Gereja Katolik Nur Fitriyana
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji tentang Selibat perspektif gereja Katolik. Selibat bermakna hidup tidak menikah. Jelasnya, Selibat hidup tidak menikah dengan alasan iman dan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Yesus. Dasar hukum Selibat hanya terdapat dalam Perjanjian Baru, Matius l9: l2 dan surat Pertama Korintus 7: 32-35. Kemudian ajaran ini dipertegas kembali dalam  dekrit Pertama Kanon 33 Sinode Elvira di Spanyol. Di seluruh Gereja Katolik, di Timur maupun di Barat, Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Oriental, seorang imam tidak boleh menikah, tetapi Paus I Petrus melakukan pernikahan. This paper examined on celibacy of the Catholic Church perspective. Celibacy meant life was not married. Clearly, celibate was life not married by reason of faith and devoted self thoroughly to Jesus. The legal basis of celibacy was only found in the New Testament, Matthew l9: l2 and letters First Corinthians 7: 32-35. Then this doctrine was reinforced in the First decree Canon 33 of the Synod Elvira in Spain. On the whole Catholic Church, East and West, Eastern Orthodox and Oriental Orthodox Church, a priest should not marry, but the Pope I Peter did marriages.
‘Illat dan Pengembangan Hukum Islam Romli Romli
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini mengkaji tentang perkembangan hukum Islam dan latarbelakang lahirnya illat. Dari hasil kajian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa; pertama, dilihat dari segi eksistesinya, ‘Illat memegang peranan penting dalam rangka pengembangan hukum Islam dan atas dasar ini maka para Ulama telah merumuskan satu kaidah yang menyebutkan, “Hukum akan selalu terkait dengan ‘illatnya, ada illat ada hukum dan bila ‘illat tidak ada maka hukum menjadi tiada”. Kedua, bahwa  ‘illat menjadi sarana penting yang tidak terpisahkan dalam penetapan hukum, baik yang terkait dengan perubahan hukum maupun pengembangan hukum itu sendiri.  Ketiga, bahwa dalam kaitannya dengan pengembangan hukum kegiatan yang dilakukan adalah menentukan apa yang menjadi dasar dari suatu ketentuan hukum, kemudian memperluas penerapan/pemberlakuannya kepada persoalan-persoalan yang tercakup di dalamnya. This paper examined the development of Islamic law and the birth illat background. From the results of the study conducted, so it could be concluded that; The first, it could be seen from side of its existence, 'illat held an important role in the development of Islamic law and on this basis then the muftis had formulated a rule that said, "The law will always be related with 'illat, there is illat no law and when 'illat is nothing then the law becomes nothing ". Second, that 'illat became an important tool that could be separated in decree of the law, both related to changes in the law and the development of the law itself. Third, that in relation to the law development that the activities would be done was to determine what the basis of law certainty, then expand the implementation / enforcement to issues covered in it.
Pendidikan Berbasis Budaya Cirebon Ibnu Rusydi
Intizar Vol 20 No 2 (2014): Intizar
Publisher : Pusat Penelitian dan Penerbitan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai proses transformasi nilai-nilai dalam rangka pembentukan pribadi individu yang mampu memaknai dirinya, masyarakat, dan bangsanya, pendidikan hendaknya ditanamkan kepada pribadi anak didik dari jati diri dan identitas luhur bangsanya. Nilai-nilai kebudayaan bangsa ini dapat dijadikan sebagai sumber daya intelektual, emosional, dan spiritual. Dalam budaya Cirebon, nilai-nilai luhur kebudayaannya sangat potensial untuk dijadikan ‘spirit’ yang melandasi setiap aktifitas pendidikan sekaligus menjadi objek nilai yang akan ditransformasikan. Sintesis dan perpaduan antara nilai-nilai tradisional (agama) dan nilai-nilai modernitas tercermin dalam produk dan sejarah kebudayaan Cirebon. Perpaduan dua nilai inilah yang merupakan karakter khas yang ditemukan dalam batang tubuh kebudayaan Cirebon. Karena itu, pendidikan berbasis budaya Cirebon selalu mengupayakan lahirnya peserta-didik yang mampu memahami dan mempertahankan jati dirinya sebagai anak suku bangsa namun ternyata tidak kaku dalam mengarungi arus modernisasi dan globalisasi.As the process of transformation values for the creation of private individuals who are able to make sense of themselves, society, and nation, education should be imparted to student’s personal identity and the identity of the noble nation. The values of this nation's culture can be used as a power source of intellectual, emotional, and spiritual. In the culture of Cirebon, noble values culture very potential to be 'spirit' that underlies any educational activities at the same time become the object of value to be transformed. Synthesis and a blend of traditional values (religion) and the values of modernity is reflected in the products and the cultural history of Cirebon. The combination of the two values is what is the distinctive character found in the body of Cirebon culture. Therefore, culture-based education Cirebon is always seeking the birth of participant-learners who are able to understand and maintain their identity as a child of tribes but it is not rigid as it navigates the currents of modernization and globalization. 

Page 1 of 1 | Total Record : 10