Articles
10 Documents
Search results for
, issue
" Vol 12, No 2 (2017)"
:
10 Documents
clear
PENGEMBANGAN PROFESIONAL UNTUK GURU: MENUJU GURU SEBAGAI PEMBELAJAR
Irwandi, Irwandi
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
In the 21th century, education system internationally strives to raise the pursuit of excellence at all levels. Perhaps understandably, any efforts to improve education quality cannot succeed without the continuous support and cooperation of a professional teacher. This fact is widely recognized in international attention mostly in term of promoting the continuing professional of teachers. The term of ‘continuing’ refers to the need for ongoing development of teachers’ knowledge, professional skill, and their effectiveness in schools. This is a reaction to the professional development which is not satisfied yet in leading to an increase in teacher knowledge, skills, and commitment. This paper explores the concept of continuing professional development, the limitation of current approaches to professional development, and the reinvigoration strategy of teacher professional development. The concern is on teachers rather than school leaders, but the implications are highlighted for school leadership and management.
MENINGKATKAN KETERAMPILAN SOSIAL MELALUI KEGIATAN BERMAIN PERAN DAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK
Suhartiwi, Suhartiwi
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini berdasarkan gejala yang terjadi di sekolah Taman Kanak-kanak (TK) Surya Bahari, di mana keterampilan sosial siswa sangat rendah. Permasalahan dalam penelitian ini, apakah kegiatan bermain peran (role playing) dan layanan bimbingan kelompok dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa Kelompok B TK Surya Bahari. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah diharapkan kegiatan bermain peran dan layanan bimbingan kelompok anak dapat terkembang sesuai dengan potensi siswa sehingga dapat meningkatkan keterampilan sosial anak yang masih rendah. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan melalui siklus I dan siklus II. Namun sebelum masuk ke siklus I, peneliti menjajagi kondisi awal keterampilan sosial siswa, dan mendapatkan 20 anak masih rendah keterampilan sosialnya. Metode pengumpulan data dengan pedoman observasi model chek list dengan pernyataan sebanyak 15 item yang digunakan untuk mengamati kemajuan keterampilan sosial siswa. Sedangkan teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif. Setelah diberikan siklus I, keterampilan sosial siswa meningkat menjadi 48,1 dan meningkat lagi setelah diberikan siklus II menjadi skor 64,1 dalam kategori tinggi. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain peran dan layanan bimbingan kelompok dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan sosial siswa.
URGENSI PERENCANAAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH DASAR
Sahnan, Muhammad
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perencanaan adalah salah satu dari fungsi manajemen yang sangat penting. Bahkan kegiatan perencanaan ini melekat pada kegiatan sekolah. Sebuah rencana akan sangat mempengaruhi sukses atau tidaknya suatu kegiatan. Oleh karena itu pekerjaan yang baik adalah yang direncanakan dan dilaksanakan sesuai dengan yang telah direncanakan. Bagi sebuah lembaga pendidikan, khususnya sekolah dasar, perencanaan menempati posisi strategis dalam keseluruhan proses pendidikan. Perencanaan pendidikan itu memberikan kejelasan arah dalam usaha proses penyelenggaraan pendidikan, sehingga manajemen lembaga pendidikan akan dapat dilaksanakan lebih efektif dan efisien. Untuk terselenggaranya pendidikan yang efektif di sekolah dasar, diperlukan perencanaan. Dengan perencanaan akan mengarahkan sekolah tersebut mencapai tujuan apa yang telah ditetapkan. Artinya, perencanaan memberi arah bagi ketercapaian tujuan sebuah sistem, karena pada dasarnya sistem akan berjalan dengan baik jika ada perencanaan yang matang. Perencanaan akan dianggap matang dan baik, jika memenuhi persyaratan dan unsur-unsur dalam perencanaan itu sendiri. Namun apabila dilihat dalam kenyataan kesehariannya, unsur perencanaan pendidikan masih lebih banyak dijadikan faktor pelengkap atau penjabaran kebijakan pimpinan, sehingga sering terjadi tujuan yang ditetapkan tidak tercapai secara optimal. Salah satu penyebabnya adalah para perencana pendidikan masih kurang memahami proses dan mekanisme perencanaan dalam konteks yang lebih komprehensif. Selain itu, posisi bidang perencanaan belum merupakan key factor keberadaan suatu institusi pendidikan. Langkah-langkah perencanaan di sekolah dasar meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) menentukan dan merumuskan tujuan yang hendak dicapai, (2) meneliti masalah-masalah atau pekerjaan-pekerjaan yang akan dilakukan, (3) mengumpulkan data-data atau informasi-informasi yang diperlukan, (4) menentukan tahapan-tahapan atau rangkaian tindakan, (5) merumuskan bagaimana masalah-masalah akan dipecahkan dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu harus diselesaikan, (5) menentukan siapa yang akan melakukan dan apa yang mempengaruhi pelaksanaan dari tindakan tersebut, dan (6) menentukan cara bagaimana mengadakan perubahan dalam penyusunan rencana.
URGENSI MODEL PEMBELAJARAN JURISPRUDENTIAL INQUIRY DALAM KEBERAGAMAN BANGSA INDONESIA
Hendrizal, Hendrizal
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tulisan ini bermaksud mengulas urgensi model pembelajaran telaah Jurisprudential Inquiry atau Yurisprudensi Inkuiri dan aplikasinya dalam keberagaman bangsa Indo-nesia, serta bagaimana analisis kritis, penerapan, kelebihan dan kekurangan model telaah Yurisprudensi Inkuiri dalam pembelajaran. Hal ini dengan tujuan memberi wa-wasan kepada warga bangsa – khususnya yang berkiprah di dunia pendidikan – dalam hal: (1) Memahami deskripsi model Yurisprudensi Inkuiri melalui sintaksnya, sistem pendukung, sistem sosial, prinsip reaksi, dampak instruksional, serta dampak pen-dukung. (2) Mengaplikasikan model Yurisprudensi Inkuiri dalam pembelajaran. (3) Menganalisis secara kritis model Yurisprudensi Inkuiri. Mengingat aspek kemanfaatan-nya, simulasi model pembelajaran telaah Yurisprudensi Inkuiri ini bisa melatih siswa berpikir kritis, rasional, belajar berorganisasi, mau mengakui kelebihan orang lain jika ternyata dirinya kalah, dan mau menghargai orang lain walaupun dirinya yang menang. Dengan demikian simulasi pembelajaran seperti ini perlu dikembangkan untuk menuju warga negara yang lebih baik, terlebih dalam bangsa Indonesia yang beragam.
PERBEDAAN KONSENTRASI BELAJAR SISWA SEBELUM DAN SESUDAH DIBERI KONSELING FORMAT KELASIKAL
lase, Famahato;
Marjohan, Marjohan;
Syahniar, Syahniar
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This research aims at disclosing and explicating the differences and comparison the students’ concentration prior to and after being given the service of the classical format counseling. The data were 6th Primary School Children of Pembangunan Lab School Universitas Negeri Padang totaling 20 participants. The instruments made uses of collecting the data were observation sheets. The data analysis is undertaken using paired sample t statistics whilst for the pair samples is to test the difference the mean of the two samples. The method used is One – Group Pretest-Posttest Design.
NGO ATAU LSM SEBAGAI SARANA MEMBANGUN BUDAYA POLITIK INDONESIA
Arianto, Jumili
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Hak sipil dan hak politik bukan berarti dengan sendirinya dapat langsung dimanfaatkan dengan optimal oleh masyarakat. Tetapi hal ini haruslah dipahami sebagai proses awal dari demokratisasi. Berbicara tentang demokrasi, kita tidak dapat melepaskan dari pembicaraan keterlibatan masyarakat sipil. Oganisasi non pemerintahan atau NGO/LSM sebagai bentuk organisasi gerakan sosial memiliki peran besar dalam melakukan mobilitas sumber daya tersebut. Gerakan sosial tidak akan mungkin berjalan tanpa wadah formal yang diberi nama organisasi non pemerintah atau NGO/LSM. Budaya politik di Indonesia merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia sebagai pedoman dalam kegiatan-kegiatan politik kenegaraan. Budaya politik Indonesia terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman. Namun berubahnya terjadi di daerah perkotaan dan pedesaan yang telah maju, sementara di daerah-daerah terpencil tidak terjadi perubahan yang berarti. Hal ini disebabkan kurangnya pendidikan politik dan informasi mengenai perpolitikan yang berkembang di republik ini.
TINDAK LANJUT KEBIJAKAN KEMBALI KE NAGARI DAN KE SURAU SERTA DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL ADAT KEAGAMAAN MASYARAKAT
Darwianis, Darwianis
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa dua kebijakan (kembali ke nagari dan gerakan kembali ke surau) merupakan dua sisi mata uang yang memiliki substansi nilai yang sama yaitu tatanan kehidupan yang berbasiskan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandikan Kitabullah (ABS-SBK). Kebijakan pertama berorientasi pada penataan sistem pemerintahan (otonomisasi) nagari, sedangkan kebijakan yang kedua merupakan penataan sistem sosial. Namun kedua tataran tersebut dijiwai oleh nilai-nilai adat keagamaan. Sebagai penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan dua sub-populasi yaitu pemerintah nagari dan masyarakat nagari. Sub-populasi pertama dilihat dari aspek/variabel “tindak lanjut kebijakan kembali ke nagari dan ke surau”, sedangkan sub-populasi kedua dilihat dari aspek/variabel “kehidupan sosial adat keagamaan”. Dalam hubungan substansial yang saling mencakup antara keduanya, penelitian ini menggunakan data sekunder dan data primer. Dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi. Temuan yang diperoleh bahwa: (1) walaupun kebijakan kembali ke nagari dan ke surau disambut baik oleh masyarakat, tetapi sikap setuju atau mendukung kebijakan tersebut bersifat pasif dan belum ada upaya nyata yang signifikan; dan (2) adanya perubahan positif pada segi tertentu dari kehidupan sosial adat-keagamaan, baik secara kuantitas maupun kualitas.
PERAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DALAM MEMPERKUAT KARAKTER BANGSA
Pebriyenni, Pebriyenni
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Persatuan, toleransi, dan kerja sama yang mencirikan karakter bangsa mulai terkikis akibat penetrasi pemikiran dan tindakan pragmatis-individualistis. Semangat nasionalis-me dan patriotisme yang dicirikan bangsa Indonesia telah memudar seiring munculnya tantangan globalisasi, materialisme, hedonisme dan modernisme yang tidak disertai respons yang memadai. Keadaan ini seharusnya tidak dibiarkan terjadi, karena selain merongrong kekuatan dan integritas bangsa, juga muncul fenomena marginalisasi nilai-nilai Pancasila sebagai wujud disklamasi realitas dan karakter asli bangsa Indonesia yang penuh dengan dimensi luhur. Melihat kenyataan bahwa Pancasila semakin terpinggirkan dari pemikiran dan tindakan masyarakat saat ini, maka perlu kesadaran kolektif seluruh elemen bangsa untuk merevitalisasi nilai-nilai Pancasila, salah satu solusinya bisa dengan mengoptimalkan pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Melalui pembelajaran PKn, Pancasila akan dapat direvitalisasi agar selalu menjadi penuntun semangat yang mengalir pada setiap perilaku dan aktivitas semua elemen bangsa, pada posisi, status dan bidang profesi masing-masing.
MEMETIK PELAJARAN DARI SISTEM PENDIDIKAN MESIR UNTUK PENINGKATAN PENDIDIKAN INDONESIA
Yunitasari, Dukha
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini bermaksud mengulas dan memetik pelajaran dari sistem pendidikan Mesir. Hal ini dengan tujuan memberi ilmu pengetahuan kepada warga bangsa yang berkiprah di dunia pendidikan dalam tiga hal berikut: bagaimana sesungguhnya potret sistem pendidikan Mesir, bagaimana perbandingan sistem pendidikan Mesir dengan sistem pendidikan Indonesia ataupun negara lain, dan apa pelajaran yang dapat dipetik dari praktek penyelenggaraan sistem pendidikan Mesir. Poin penting yang diulas dalam konteks sistem pendidikan Mesir ini adalah landasan filsafat pendidikan, politik dan tujuan pendidikan, struktur dan jenis pendidikan, jenis-jenis sekolah, dan manajemen pendidikan di Mesir. Kemudian poin-poin itu diperbandingkan dengan sistem pendidi-kan Indonesia dan Cina. Beberapa poin penting yang terkait dengan sistem pendidikan Mesir tersebut perlu menjadi perhatian kita dan diambil pelajaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
KEPEMIMPINAN NASIONAL BERNUANSA ISLAMI DALAM ERA REVOLUSI MENTAL
Muslim, Muslim
Pelita Bangsa Pelestari Pancasila Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Pelita Bangsa Pelestari Pancasila
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Indonesia yang sedemikian luas wilayahnya dan beragam budaya serta agamanya membutuhkan sosok pemimpin nasional yang punya wawasan keislaman, kebangsaan dan mampu memberdayakan masyarakatnya dalam era revolusi mental. Revolusi mental merupakan sasaran bagi setiap insan agar menjurus kepada memiliki mental yang baik, sesuai dengan ajaran Islam. Revolusi mental yang baik itu diharapkan dapat “meniru” cara apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW pada zaman jahiliyah dahulu di negeri Arab. Mengapa revolusi mental ini sangat penting? Ternyata mental/akhlak ini mempunyai kedudukan tertinggi dan sangat menentukan baik atau buruknya seseorang dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepemimpinan nasional bernuansa Islami itu sangat penting dalam memimpin negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, karena dengan bernuansa Islami mereka akan terjauh dari korupsi, perbuatan maksiat serta membawa kepada kehidupan yang lebih baik dan masyarakat pun akan merasakan hidup tentram, damai dan sejahtera, terutama dalam era revolusi mental yang sedang giat-giatnya digerakkan pemerintah. Revolusi mental dimulai dari pendidikan, mengingat peran pendidikan sangat strategis dalam membentuk mental anak bangsa. Pengembangan kebudayaan maupun karakter bangsa diwujudkan melalui ranah pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses berkelanjutan dan tidak pernah berakhir (never ending process). Selama sebuah bangsa ada dan ingin tetap eksis, pendidikan harus menjadi bagian terpadu dari pendidikan alih generasi. Revolusi mental harus menjadi sebuah gerakan nasional, sebagai usaha kita bersama untuk mengubah nasib bangsa Indonesia menjadi bangsa yang benar-benar merdeka, adil dan makmur. Kita harus berani mengendalikan masa depan bangsa kita sendiri dengan restu Allah SWT. Sebab, sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu bangsa kecuali bangsa itu mengubah apa yang ada pada diri mereka.