cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 284 Documents
AMBIVALENSI DAN KUASA PEREMPUAN TERJAJAH DALAM KARINA ADINDA: LELAKON KOMEDIE HINDIA TIMOER DALEM TIGA BAGIAN Dewojati, Cahyaningrum
ATAVISME Vol 20, No 1 (2017): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v20i1.257.1-13

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap ambivalensi dan resistensi yang dipresentasikan tokoh perempuan terhadap kolonialisme Belanda dalam teks drama Karina Adinda. Adapun masalah yang dianalisis adalah ambivalensi, resistensi, dan kuasa perempuan terjajah yang terefleksi dalam teks drama Karina Adinda karya Liauw Giok Lan. Teori yang digunakan untuk menganalisis adalah teori feminisme pascakolonial yang berhubungan dengan budaya-budaya dari bangsa yang mengalami imperialisme Eropa dan cara elite pribumi dan peranakan melestarikan pola-pola kekuasaan atau dominasi kolonialisme. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis. Dari hasil analisis diketahui bahwa praktik penjajahan/kolonialisasi selalu menghasilkan kontak budaya dan interaksi antara kaum penjajah dan kaum terjajah. Dalam teks drama Karina Adinda, kontak bu-daya dan interaksi tersebut berupa hibriditas, mimikri, ambivalensi, dan resistensi yang diperlihat-kan oleh tokoh-tokoh perempuan, yakni Karina dan Raden Ajoe. [Title: Ambivalence and Power of Colonized Woman in Karina Adinda: Lelakon Komedie HindiaTimoer dalem Tiga Bagian]. This research aims to reveal the ambivalence and resistance presented by female character against colonialism in the text of Karina Adinda drama. The issues analyzed in this research are ambivalence, resistance, and the power of colonized women reflected in Liauw Giok Lan?s drama, Karina Adinda. The theory used in this study is postcolonial feminism that is associated with the cultures of people who experienced European imperialism and t he way native elite and peranakan preserved patterns of power and colonial domination. The method used in this study is the qualitative method that produces descriptive data in the form of written words. The analysis results show that the practice of colonization always produces cultural contacts and interactions between the colonizers with the colonized. In the Karina Adinda text drama, those cultural contacts and interactions are in the forms of hybridity, mimicry, ambivalence and resistance which demonstrated by figures of women, namely Karina and Raden Ajoe. 
CORAK REALISME SOSIALIS DALAM HIKAYAT KADIROEN KARYA SEMAOEN Suyatno, Suyono
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.175.75-87

Abstract

Selama ini ada anggapan bahwa dalam sejarah sastra Indonesia corak realisme sosialis hanya ada dalam masa Lekra (1950-1965), padahal novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen yang terbit sebelumnya (1920) telah menunjukkan corak realisme sosialis. Oleh karena itu, masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimanakah corak realisme sosialis dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen. Tujuan penelitian ini adalah mengungkap corak realisme sosialis dalam novel Hikayat Kadiroen karya Semaoen. Dengan menggunakan metode deskripsi analitis dan teori sastra Marxis penelitian ini menemukan bahwa novel Hikayat Kadiroen sarat dengan propaganda ideologi Marxis dan propaganda ideologi Marxis dalam karya sastra adalah ciri yang melekat pada karya sastra yang bercorak realisme sosialis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tahun 1920 adalah awal munculnya realisme sosialis dalam sejarah sastra Indonesia. Kata-Kata Kunci: Hikayat Kadiroen, propaganda Marxis, realisme sosialis Abstract: All this time, there is a presumption that in the history of Indonesian literature, the socialist-realism pattern only existed in Lekra period (1950-1965), whereas Hikayat Kadiroen writ-ten by Semaoen published before (1920) had showed shades of socialist realism. Therefore, the issue that will be raised in this study is how the socialist realism pattern was described in Semaoen?s Hikayat Kadiroen? The aim of this study is to prove the shades of socialist realism in Hikayat Kadiroen. Using the analytical description method and Marxist literary theory, the study found out that Hikayat Kadiroen was full of Marxist ideology propaganda, and this Marxist ideology propaganda is the characteristic of literature with socialist realism shades. Thus, it can be concluded that 1920 was the beginning of the rise of socialist realism in the history of Indonesian literature. Key Words: Hikayat Kadiroen, Marxist propaganda, socialist realism
HALAMAN JUDUL DAN DAFTAR ISI santosa, anang
ATAVISME Vol 19, No 2 (2016): Atavisme, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v19i2.271.%p

Abstract

TELAAH INTERTEKSTUAL TERHADAP SAJAK-SAJAK TENTANG NABI AYUB Santosa, Puji
ATAVISME Vol 14, No 1 (2011): ATAVISME, Edisi Juni 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i1.99.15-28

Abstract

Makalah ini menelaah secara intertekstual enam sajak Indonesia modern yang berisi tentang Nabi Ayub, yaitu ?Tafsir Ayub Sang Nabi? (Motinggo Busye), ?Balada Nabi Ayub?(Taufiq Ismail), ?Ini Terjadi Ketika Matahari Menggapai Sia-Sia? (Darmanto Jatman), ?Doa Ayub?(Abdul Hadi W.M.), serta ?Duka Ayub? dan ?Ayubkan Kesabaran? (Emha Ainun Nadjib). Berdasarkan prinsip intertektual, keenam sajak Indonesia modern tersebut ditelaah dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks transformasi dengan teks lain yang diacunya. Hasil telaah itu membuktikan bahwa keenam sajak tersebut merupakan mosaik, kutipan-kutipan, penyerapan, dan transformasi teks-teks kisah Nabi Ayub yang terdapat dalam Alkitab, Alquran, Cerita-cerita Alkitab Perjanjian Lama, dan Qishashul Anbiya. Dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan diperoleh makna bahwa kelima penyair sastra Indonesia tersebut secara kreatif estetis mentransformasikan kisah Nabi Ayub ke dalam ciptaan karya sajak yang bernilai sebagai teladan kesabaran dan ketabahan ketika menghadapi berbagai cobaan hidup yang dideritanya. Abstract: This paper intertextually examines six modern Indonesian poetries which contain about the Prophet Job, namely ?Tafsir Ayub Sang Nabi? (Motinggo Busye), ?Balada Nabi Ayub? (Taufiq Ismail), ?Ini Terjadi Ketika Matahari Menggapai Sia-Sia? (Darmanto Jatman), ?Doa Ayub? (Abdul Hadi W.M.), ?Duka Ayub? (Emha Ainun Nadjib), and ?Ayubkan Kesabaran? (Emha Ainun Nadjib). Based on the principle of intertextuality, the six modern Indonesian poetries are reviewed by comparing, aligning, and contrasting the transformation of a text with other texts to which it refers. The result proves that the six texts of modern Indonesian poetry are mosaic, quotations, absorptions, and transformation of texts contained the story of Prophet Job in the Bible, the Quran, Bible Stories Old Testament, and Qishashul Anbiya. By the way of comparison, alignment, and contrast, the analysis obtained the meaning that the five Indonesian poets creatively transformed the story of ?Kisah Nabi Ayub? into the creation of poetries which are valuable as a paragon of patience and fortitude in the face of various trials of life suffered. Key Words: intertextual; mosaics; quotes; absorption; transformation
MEMBACA INDONESIA DALAM ORANG-ORANG BAWAH TANAH: KUMPULAN NASKAH DRAMA Seba, Nur
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.169.181-192

Abstract

Sebagai institusi sosial, karya sastra menghadirkan kehidupan dan masalah-masalah realitas sosial dalam rnasyarakat yang memengaruhi kehidupannya. Itulah sebabnya mengapa karya sastra memiliki fungsi sosial sebagai reaksi, penerimaan, kritik, atau ilustrasi tentang keadaan tertentu sebagaimana llham Zoebazary menggambarkan Indonesia sejak Orde Baru hingga reformasi dalam kumpulan naskah dramanya. Kritik yang diketengahkan berhubungan dengan pelayanan pemerintah, perilaku aparat pemerintah, kehidupan rakyat kecil, dan persoalan- persoalan sosial lainnya Abstract: As a social institution, a literary work presents a life and consists of-mostly-social realities that influence life. That is why literary works have social functions as a reaction, conception, criticism, or illustration about certain situation. As llham Zoebazary describes Indonesia since new era government until reformation period in his collection of drama texts. Criticisms that are presented interrelated with governments service, behavior and attitude of government official, proletariat's life, and so on. Keywords: the collection of drama, underground people. and proletariat
RE-READING ABOUT MUSLIM AND WOMEN IN LITERATURE Maimunah, Maimunah
ATAVISME Vol 13, No 2 (2010): ATAVISME, Edisi Desember 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v13i2.137.265-268

Abstract

RESENSI BUKU
FEMINISME DALAM SASTRA JAWA SEBUAH GAMBARAN DINAMIKA SOSIAL Widati, Sri
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.160.83-96

Abstract

Artikel ini bertujuan membahas feminisme dalam sastra Jawa, salah satu sastra etnis di Indonesia yang masih eksis sampai saat ini. Sebelum kemunculan pengarang perempuan, perempuan dalam sastra Jawa ditulis oleh pengarang laki-laki sehingga mereka dideskripsikan sebagai makhluk tak berdaya dan setia pada pria, bukan sebagai sosok atau figur yang kuat. Baru tahun 1917-an, dengan munculnya pengarang perempuan muda dari Yogya dan Surabaya, persepsi feminisme dalam sastra Jawa berubah. Dalam karya-karyanya, mereka mendemonstrasikan solidaritas terhadap perempuan yang menjadi korban ketidaksetaraan gender. Saat ini, sastra Jawa feminis ditulis baik oleh pengarang perempuan maupun laki-laki. Pengarang perempuan menyuguhkan sebuah konsep feminisme yang mengarah pada kesetaraan gender, sementara pengarang laki- laki berusaha untuk membela perempuan tertindas dengan cara laki-laki Abstract: This article is aimed to discuss feminism in Javanese literature, one of the ethnical literatures in Indonesia which still exist up till now. Prior to the emergence of female authors, women in the Javanese literature had been written by male authors so that they had been described as being submissive and loyal to men instead of an image or figure of strong ones. Not until 1917s, by the emergence of young female authors from Yogya and Surabaya, did the perception of feminism in Javanese literature change. In the works, they have demonstrated solidarity to women who became the victims of gender inequality. At the present time, feminist Javanese literatures are written by either female or male author. Female authors present a feminism concept which leads to gender equality, whereas male authors make an effort to defend oppressed women by manly methods. Keywords: feminist, Javanese literature, gender equality, female authors
FORMULA DAN EKSPRESI FORMULAIK: ASPEK KELISANAN MANTRA DALAM PERTUNJUKAN REOG Saputra, Heru S.P
ATAVISME Vol 13, No 2 (2010): ATAVISME, Edisi Desember 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v13i2.128.161-174

Abstract

Artikel ini bertujuan mendiskusikan aspek kelisanan mantra yang digunakan dalam pertunjukan reog. Hasil kajian menunjukkan bahwa dalam seni tradisi reog, mantra merupakan media verbal yang digunakan oleh pembarong untuk mendatangkan kekuatan magis dalam rangkaian tari dhadhak merak. Mantra-mantra di antaranya Mantra Prosesi Drojogan dan Mantra Pangracutan dalam konteks pertunjukan reog merupakan wujud aspek kelisanan. Mantra-mantra tersebut tersusun atas formula-formula, yakni formula repetisi tautotes, formula paralelisme sintaktis, formula konkatenasi, formula repetisi anafora, dan formula repetisi epifora. Dengan beragam formula tersebut, mantra memiliki perulangan yang berpola dan men- jadi terasa ritmis sehingga menunjukkan ekspresi formulaik. Formula dan ekspresi formulaik tersebut merupakan aspek kelisanan utama yang mencerminkan sakralitas dan spiritualitas da- lam seni tradisi reog. Abstract: This article aims to discuss aspects of spells (magic-formula) orality used in the reog show. The study shows that in the reog tradition art, the spells is a verbal medium used by pembarong to bring in a series of magical power dhadhak merak dance. Spells among others, Prosesi Drojogan and Pangracutan spells in the context of the show is a form of reog orality aspects. Spells are made up of formulas, i.e. tautotes repetition formula, syntactic parallelism formula, concatenate formula, anaphora repetition formula, and epifora repetition formula. With a variety of formulas, the repetition of the spells has become patterned and rhythmic feel, thereby indicating formulaic expression. The formulas and formulaic expressions are the main orality aspects that reflect sacredness and spirituality in reog traditions art. Key Words: spells or magic-formula, formulas, sacredness, spirituality, tradition art
OBITUARI PROF. DR. UMAR JUNUS (1934-2010) Mashuri, Mashuri
ATAVISME Vol 13, No 1 (2010): ATAVISME, Edisi Juni 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v13i1.151.133-134

Abstract

Obituari Prof. Dr. Umar Junus (1934-2010)
STRUKTURAL (DAN) SEMANTIK: TEROPONG STRUKTURALISME DAN APLIKASI TEORI NARATIF A.J. GREIMAS Karnanta, Kukuh Yudha
ATAVISME Vol 18, No 2 (2015): ATAVISME, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v18i2.113.171-181

Abstract

Artikel berjudul Struktural (dan) Semantik: Teropong Strukturalisme dan Aplikasi Teori Nratif A.J. Greimas merupakan upaya untuk menguji kontribusi dan relevansi strukturalisme, baik sebagai teori, metode, maupun paradigma, dalam perkembangan kajian sastra dan budaya mutakhir. Adapun Struktural Semantik adalah buku yang ditulis A.J. Greimas, salah seorang strukturalis yang teorinya tentang naratif teks kerap digunakan. Penelitian ini disusun dengan metode deskripsi kritis yang dikonkretkan dengan aplikasi teori A.J. Greimas terhadap teks cerpen ?Filosofi Kopi? untuk menunjukkan jangkauan serta limitasi teori yang didasarkan pada paradigma strukturalisme tersebut. Hasilnya, strukturalisme sebagai suatu teori dan metode berhasil mengidentifikasi makna secara rigid, namun tidak atau kurang mampu mengelaborasi makna secara lebih kompleks. Meskipun demikian, strukturalisme tetap perlu dilakukan sebagai salah satu tahap analisis yang darinya elaborasi dimungkinkan terjadi. Abstract: The article entitled Structural (and) Semantic: Perspective on Structuralism and the Application of A.J Greimas? Narrative Theory examines the relevance of structuralism as well as its contribution either as a theory, method, or paradigm, in the development of contemporary literature and cultural studies. Structural Semantic is a book written by A.J. Greimas, a structuralist whose narrative theory is widely used. This research used critical descriptive method, concreted by Greimas' theory applied to a short story entitled ?Filosofi Kopi?, in order to reveal its scope and limitation based on the paradigm of the structuralism. The result suggested that structuralism, both as theory and method, could identify meaning rigidly, yet structuralism could not elaborate meaning more complexly. However, structuralism is still necessary as a stage of analysis from which elaboration is possible. Key Words: structuralism, narrative, paradigm, actan