cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 284 Documents
TIO IE SOEI DAN NONA TJOE JOE (PERTJINTA'AN JANG MEMBAWA TJILAKA): TEGANGAN ANTARA KONSERVATIF DAN MODERN Susanto, Dwi
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.165.137-155

Abstract

Nona Tjoe (Pertjinta'an Jang membawa Tjilaka) adalah sebuah cerita yang berbeda dari pcngarang ccrita peranakan China pada era 1920. Cerita ini juga memberikan karakteristik yang berbeda dari cerita-cerita Tio le Soci. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mcnjclaskan keadaan kehidupan sosial masyarakat/komunitas China yang ter-refleksi dalam Nona Tjoe Joe. Dengan memfokuskan pada representasi kehidupan komunitas China, tulisan ini berusaha mcnjawab beberapa pertanyaan "dimanakah kita sekarang dan apa yang terjadi dengan kehidupan kita sekarang dan akan datang" (2) bagaimana masyarakat China merespon pengaruh Barat (3) dengan analogi posisi wanita, seperti apa pilihan identitas peranakan China. Untuk menjawab pertanyaan itu, artikel ini memfokusukan pada teks sebagai refleksi fakta sosial. Kemudian, refleksi itu dianggap sebagai fakta kemanusian seperti perasaan, identitas, strategi untuk. bertahan hidup masyarakat China Abstract: Nona Tjoe Joe (Pertjinta 'an Jang membawa Tjilaka) is a different story compared to other peranakan Chinese stories in 1920 era. This story also gives the characteristic different from the other Tio le Soe.i stories, The study aims to explore and explain the condition of social life of Chinese community as reflected in Nona Tjoe Joe story. Giving the focus on the representation of the Chinese life, this article attempts to give answers of t.hc following questions: (1) how did Chinese community give answer "where is now and what happen with our present time and future", (2) how did Chinese community responds to the West influence, (3) with analogy of women position, what was the choices of identity peranakan Chinese. To answer those questions, this article gives the focus on the text as a reflection of social facts. The reflection is considered as human fact of feeling. identity, strategy to defending life of Chinese community. Keywords: reflection Chinese community, conservatism, modem
SASTRA LOKAL DAN INDUSTRI KREATIF: REVITALISASI SASTRA DAN BUDAYA USING Anoegrajekti, Novi
ATAVISME Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v16i2.92.183-193

Abstract

Pemerintah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif. Seni pertunjukan, termasuk tradisi lisan yang ada di dalam pertunjukan menjadi salah satu prioritas yang akan dikembangkan agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Tujuan tersebut representatif karena masyarakat Indonesia memiliki beragam seni pertunjukan dan sastra lokal yang apabila dikelola dengan baik bisa menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif. Banyuwangi, misalnya, memiliki beragam seni pertunjukan dan tradisi lisan, seperti syair­ syair gandrung, lagu­lagu dalam pertunjukan angklung, cerita rakyat jinggoan, dan tradisi wangsalan dan basanan. Sampai saat ini, dinas terkait di Banyuwangi belum dapat membuat kebijakan yang mampu mendukung terciptanya pola pikir, sistem, dan praktik industri kreatif berbasis lokalitas dan tetap mengedepankan karakteristik nilai­nilai kultural yang ada. Untuk itu, tulisan ini bertujuan mengembangkan model industri kreatif berbasis sastra lokal dan budaya Using. Dengan metode etnografis dan analisis yang menggunakan pendekatan cultural studies, model tersebut diharapkan mampu mengembangkan industri kreatif di wilayah lokal. Abstract: The Indonesian government announced the year of 2009 as the Creative Industry Year. Performing art, including oral tradition existing in performance, has become a priority which will be developed to improve the prosperity of its supporting community. This goal is representative because Indonesian people have various performing arts and local literature which, if well managed, will support the creative economy. Banyuwangi, for instance, has various performing arts and oral tradition, such as gandrung poems, songs in angklung performance, jinggoan folklores, and traditions of wangsalan and basanan. To date, the relevant services of Banyuwangi government have not been able to make policies able to support the creation of creative industry pattern of thinking, system, and practice which are locally based and keep on proposing the characteristics of existing cultural values. Therefore, this article is aimed at developing a creative industry model based on Using local literature and culture. By using ethnography method and cultural studies approach, the model is expected to be able to develop the creative industry in the local area. Key Words: local literature; Using culture; creative industry; revitalization
PROSES MENJADI DALAM NOVEL TARIAN SETAN KARYA SADDAM HUSSEIN DAN SIDDHARTHA KARYA HERMANN HESSE Sariban, Sariban
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.156.37-45

Abstract

Artikel ini bertujuan menjelaskan pemikiran filsafat dalam novel Tarian Setan dan Siddharta (2007). Kumpulan pemikiran filsafat yang dibangun adalah hasrat karakter sebagai representasi manusia sehingga semua argumen yang dibangun berakar pada latar belakang kemunculan hasrat, proses hasrat, dan hasil hasrat. Berdasarkan pemikiran filsafat, bisa disimpulkan bahwa Hasqil dan Siddharta memiliki hasrat menjadi karena pengaruh imitasi, mimetik. Dalam proses menjadi yang disebabkan oleh mimetik, bisa diidentifikasi bahwa Hasqil lebih memiliki hasrat fisik, agresif, sementara Siddharta memiliki hasrat psikologis, reseptif. Sebagai subjek yang memiliki hasrat menjadi, Hasqil dan Siddharta bisa dianggap sebagai korban karena keduanya tidak pernah bebas dalam menentukan hasratnya sendiri. Individu adalah korban lingkungannya. Ironi tentang keterjebakan manusia pada hasrat libidinal telah didemonstrasikan oleh kedua karakter tersebut. Hasqil telah terjebak dalam hasrat libidinal sehingga menjadi orang gagal, sementara Siddharta secara sengaja menjebak dirinya sendiri untuk proses kesadaran menjadi karena prinsip bahwa hidup adalah tindakan. Hasrat kematian selalu menjadi bagian dari proses menjadi untuk tiap individu. Kematian adalah sebuah pelarian dari ketidakbahagiaan dan harapan untuk sekaligus meraih kebahagiaan. Abstract: This paper is aimed to explain the philosophical way of thinking in the novels Tarian Setan and Siddharta (2007). The collection of a way of thinking built is the character?s desire as a human representation so that all arguments built are rooted in the background of desire emergence, desire process, and desire result. Based on the philosophical way of thinking, it can be concluded that Hasqil and Siddharta have a desire of being for the influence of imitation, mimetic. In the process of being caused by the mimetic, it can be identified that Hasqil has a more physical desire, aggressive, whereas Siddharta has a psychological desire, receptive. As a subject having a desire of being, Hasqil and Siddharta can be regarded as victims since both have never been free in deciding their own desire. Individuals are their environment?s victims. The irony of human entrapment towards libidinal desire has been demonstrated by the two characters. Hasqil has been trapped in the libidinal desire that he becomes a failed person, whereas Siddharta has intentionally trapped himself for the process of consciousness of being because of a principle that life is action. The desire of death has always become a part of the process of being for every individual. Death is an escape from unhappiness and a hope to get a hold of happiness all together. Keywords: process of being, desire, Tarian Setan, Siddharta
REPRESENTASI KETIDAKADILAN GENDER DALAM CERITA DARI BLORA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER: KAJIAN FEMINISME Hayati, Yenni
ATAVISME Vol 15, No 2 (2012): ATAVISME, Edisi Desember 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v15i2.57.163-176

Abstract

Ketidakadilan gender yang dialami oleh perempuan tergambar dalam karya sastra, tidak saja yang dikarang oleh perempuan, tetapi juga karya sastra yang dikarang oleh pengarang laki­laki. Dalam Cerita dari Blora karya Pramoedya Ananta Toer, ketidakadilan gender itu sangat terlihat yang meliputi; marginalisasi, subordinasi, stereotip, dan kekerasan. Dalam Cerita dari Blora karya Pramoedya Ananta Toer, ketidakadilan gender berupa beban kerja ganda tidak ditemukan. Hal ini disebabkan oleh belum banyaknya kaum perempuan yang berkiprah di dunia publik pada masa cerita ini dibuat, artinya belum banyak perempuan yang mempunyai pendidikan yang memadai sehingga layak dipekerjakan di luar rumah tangga. Oleh karena itu, tidak ada perempuan yang digambarkan memegang peran ganda, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai pekerja (wanita karier). Abstract: Gender inequality experienced by women is reflected in literary works, not only those written by women writer but also those written by men writer. In Pramoedya Ananta Toer?s Cerita Dari Blora, gender inequalities are very clearly seen; those are marginalization, subordination, stereotype, and cruelty. However, double­working load is not found in this novel. It means that only few women working in the public world when this story was made. Also, those who were educated women were still rare so that they just hold the role of housekeeper. Therefore, there is no woman holding double role both as a housewife and a career woman. Key Words: gender inequality, marginalization, subordination, stereotype, cruelty
PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP PERKEMBANGAN KESUSASTRAAN BALI Sukrawati, Cokorda Istri
ATAVISME Vol 18, No 2 (2015): ATAVISME, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v18i2.118.233-245

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh globalisasi terhadap budaya dan perkembangan sastra Bali dengan landasan teori globalisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pustaka melalui langkah-­langkah, di antaranya observasi, menyimak, dan mencatat pada kartu data. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa budaya Bali sejak lama sudah bersentuhan dengan globalisasi. Potensi budaya dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Bali dapat bersinergi dengan pengaruh globalisasi itu. Dalam bidang sastra khususnya, pengaruh globalisasi menunjukkan sesuatu yang positif. Semua itu dapat dibuktikan dengan semakin tingginya tingkat kreativitas dalam penciptaan karya sastra Bali, baik dalam bentuk tradisional maupun modern. Abstract: The paper aims to describe the effect of globalization toward the Balinese culture and literary development with the basic theory of globalization. The method used in this research is the literary method through some steps, including observes, observe, and noted on data cards. Data analysis uses qualitative of the descriptive method. Based on the result of the research it is found that Balinese culture has long been touched with globalization. The potency of culture and local genius of Balinese community can synergize with the effects of globalization. In the field of literature particularly, the effects of globalization mostly show something positive. All can be proved by the increasing creativity in creating literary works, both in traditional and modern forms. Key Words: globalization; influence; culture; Balinese literature; creativity
A PROSE FICTION THEORY OF JAVANESE LITERATURE BASED ON FOLKTALES Soedjijono, Soedjijono; Susilo, Edy
ATAVISME Vol 17, No 1 (2014): ATAVISME, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v17i1.18.41-54

Abstract

his study aims to build the theory of prose fiction of Javanese literature based on the study of folktale as a first step towards the development of the study of native literature. This study?s objects are ten pieces of folktale, consisting of 93 story?s episodes, which were published in Panjebar Semangat magazine between 2006-2010. This study uses structural­?phenomenological-hermeneutic approach, by applying phenomenological reduction, eidetic reduction, and transcendental reduction. The results of phenomenological reduction are nine elements of the work: author, a title of the story, special object, language, setting, character, emotional event, plot, and idea. The results of eidetic reduction are opposition rule, internal relation rule, and external relation rule. The results of transcendental reduction are the values of holiness, truth, and kindness. his study aims to build the theory of prose fiction of Javanese literature based on the study of folktale as a first step towards the development of the study of native literature. This study?s objects are ten pieces of folktale, consisting of 93 story?s episodes, which were published in Panjebar Semangat magazine between 2006-2010. This study uses structural­?phenomenological­?hermeneutic approach, by applying phenomenological reduction, eidetic reduction, and transcendental reduction. The results of phenomenological reduction are nine elements of the work: author, a title of a story, special object, language, setting, character, emotional event, plot, and idea. The results of eidetic reduction are opposition rule, internal relation rule, and external relation rule. The results of transcendental reduction are the values of holiness, truth, and kindness. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk membangun teori prosa fiksi sastra Jawa berbasis pada kajian cerita rakyat sebagai langkah pertama menuju pengembangan studi sastra kepribumian. Penelitian ini menggunakan objek kajian sepuluh buah cerita rakyat, terdiri atas 93 episode cerita, yang dimuat di majalah Panjebar Semangat antara tahun 2006-2010. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis struktura­?fenomenologis-­hermeneutik, dengan menerapkan reduksi fenomenologis, reduksi eidetis, dan reduksi transendental. Hasil dari reduksi fenomenologis adalah sembilan unsur karya: pengarang, judul cerita, objek khusus, bahasa, latar cerita, tokoh cerita, peristiwa emosional, alur cerita, dan gagasan. Hasil dari reduksi eidetis adalah kaidah oposisi, kaidah relasi internal, dan kaidah relasi eksternal. Hasil dari reduksi transendental adalah nilai kekudusan, nilai kebenaran, dan nilai kebaikan. Kata-Kata Kunci: teori prosa fiksi sastra Jawa; cerita rakyat; pendekatan struktural-fenomeno logis-hermeneutik
PROSES KONDENSASI IMAJI DAN PENGALIHAN MIMPI DALAM DONGENG NENEK PAKANDE Agus, Nuraidar
ATAVISME Vol 16, No 1 (2013): ATAVISME, Edisi Juni 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v16i1.83.71-84

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap proses kondensasi imaji dan pengalihan mimpi dalam dongeng Nenek Pakande (NP) berdasarkan teori psikoanalisis Freud. Pengumpulan data di lakukan secara dokumentatif atas cerita­?cerita tentang NP, yaitu melalui teknik pembacaan, analisis teks, dan teknik elisitasi. Berdasarkan hal tersebut ditemukan bahwa gejala kondensasi dan pengalihan mimpi dalam cerita NP adalah melalui usaha penciptaan tokoh­?tokohnya dan berdasarkan realita yang kemudian diimajinasikan. Proses tersebut melahirkan citraan tentang kemampuan akal tokoh anak kecil dengan segala usahanya untuk menaklukkan NP (raksasa). Selain itu, citra ibu tiri telah terkondensasi lewat imajinasi yang menakutkan bagi sang anak tiri linear dengan sifat­?sifat buruk dan eksistensi supranatural NP yang mengendap dalam alam imajinasi. Abstract: This paper attempts to describe the process of condensation of reality and its imagination found in the fairy tale Nenek Pakande. This paper aims to reveal the image of the NP condensation process by Freud's psychoanalytic theory. The data was collected through the documentation on the stories of NP by reading techniques, text analysis, and elicitation techniques. Based on them, it is found that the symptoms of NP condensation in the story is through the characters venture creation and, based on what is true in reality, then imagined. It gives birth to images of a child's way of thinking and his efforts to conquer NP. In addition, the image of stepmothers has condensed through a frightening image to his stepson, and of the NP?s vices and supernatural existence living in an imagination. Key Words: Freud?s psychoanalysis, condensation, imagination, fables
SURABAYA DALAM ANTOLOGI PUISI SITI SURABAYA DAN KISAH PARA PENDATANG Kusniawan, Suryadi
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.48.59-74

Abstract

Antologi puisi Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang hadir dalam kapasitasnya untuk merepresentasikan kota Surabaya. Kota Surabaya dihadirkan sebagai latar peristiwa, melalui ru­ang-­ruang yang merujuk pada keberadaan kota, sebagai tawaran yang menghadirkan konstruksi sosial Surabaya. Konstruksi sosial Surabaya dalam Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang meru­pakan decentering yang mengarah pada pola konstruksi dengan titik tolak masyarakat pinggiran kota Surabaya. Decentering yang mengindikasikan upaya penghilangan konstruksi kota sebagai pusat kemajuan, digeser oleh keberadaan masyarakat pinggiran dengan segala kompleksitas pe­ ristiwa yang dilekatkan pada penghadiran tersebut, kemiskinan dan penggusuran. Pola decentering yang dilakukan oleh antologi puisi Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang merupakan pertarungan untuk melihat kembali hierarki antara konsep rural dengan konsep urban. Abstract: Anthology of poetry Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang is present in its capacity to represent the city of Surabaya. Surabaya city was presented as the background of events, through the spaces referring to the existence of the city, as an offer presenting the social construction of Su­rabaya. The social construction of Surabaya in Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang is a decentering leading to the construction pattern with a starting point of the suburban community of the city of Surabaya. Decentering indicating the efforts of removing the city construction as the central of progress is moved by the presence of the suburban with all the complexity of events em­ bedded in the representation, poverty and eviction. The decentering pattern made by the anthology of poetry Siti Surabaya dan Kisah Para Pendatang was a battle to see again the hierarchy between the rural and urban concept. Key Words: representation, Surabaya, deconstruction, rural, urban, suburban, decentering.
LINGKAR STRUKTUR NOVEL TARIAN SETAN Anwar, M. Shoim
ATAVISME Vol 17, No 2 (2014): ATAVISME, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v17i2.9.192-204

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan muatan politis dan ideologis dalam judul, tema dan alur, tokoh, serta amanat novel Tarian Setan karya Sadam Hussein dengan teori hermeneutik. Sumber data penelitian ini adalah novel berjudul Tarian Setan (terjemahan dari novel Akhreej Minha Ya Mal?un karya Sadam Hussein) yang diterbitkan oleh penerbit Jalasutra tahun 2006. Penelitian menghasilkan temuan bahwa judul novel karya Saddam Hussein, Tarian Setan, dari perspektif hermeneutik, mengarah pada perilaku tokoh antagonis yang harus dilawan dan dijauhi. Kekuasaan manusia tidak abadi. Kekuasan yang diperoleh dengan cara culas akhirnya akan menyengsarakan, baik bagi penguasa maupun pihak-­pihak yang dikuasai. Dari sisi kekuasaan dan ideologinya, para tokoh akan berada dalam dua lingkaran, yaitu lingkaran positif dan lingkaran negatif sebagai pengemban amanat teks. Ketika ambisi politik dan kekuasaan tidak lagi meme gang etika, di mana pun dan kapan pun, akan menghancurkan sendi?sendi kehidupan dalam masyarakat.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan muatan politis dan ideologis dalam judul, tema dan alur, tokoh, serta amanat novel Tarian Setan karya Sadam Hussein dengan teori hermeneutik. Sumber data penelitian ini adalah novel berjudul Tarian Setan (terjemahan dari novel Akhreej Minha Ya Mal?un karya Sadam Hussein) yang diterbitkan oleh penerbit Jalasutra tahun 2006. Penelitian menghasilkan temuan bahwa judul novel karya Saddam Hussein, Tarian Setan, dari perspektif hermeneutik, mengarah pada perilaku tokoh antagonis yang harus dilawan dan dijauhi. Kekuasaan manusia tidak abadi. Kekuasan yang diperoleh dengan cara culas akhirnya akan menyengsarakan, baik bagi penguasa maupun pihak-pihak yang dikuasai. Dari sisi kekuasaan dan ideologinya, para tokoh akan berada dalam dua lingkaran, yaitu lingkaran positif dan lingkaran negatif sebagai pengemban amanat teks. Ketika ambisi politik dan kekuasaan tidak lagi meme gang etika, di mana pun dan kapan pun, akan menghancurkan sendi?sendi kehidupan dalam masyarakat
PENDEKATAN SASTRA BANDINGAN FEMINIS ATAS VARIASI GUBAH ULANG AGNI PARIKSHA SITA DALAM TIGA SAJAK INDONESIA Nugraha, Dipa; Suyitno, Suyitno
ATAVISME Vol 23, No 1 (2020): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v23i1.628.62-74

Abstract

Babak Agni Pariksha (percobaan api atas Sita) di dalam kisah Ramayana telah menginspirasi banyak sastrawan Indonesia di dalam menghasilkan karya-karya sastra. Selama ini kajian mengenai karya yang terinspirasi oleh Agni Pariksha sudah banyak dilakukan, tetapi belum ada yang menggunakan pendekatan sastra bandingan feminis. Di samping itu, masih terdapat keraguan mengenai keterlibatan laki-laki di dalam feminisme dan/atau kritik terhadap sistem patriarki. Penelitian ini menggunakan pendekatan sastra bandingan feminis terhadap tiga sajak: ?Asmaradana? karya Subagio Sastrowardoyo, ?Sita Sihir? karya Sapardi Djoko Damono, dan ?Sepucuk Surat Sita Sebelum Labuh Pati? karya Soni Farid Maulana. Pembacaan cermat dan analisis isi dilakukan atas ketiga sajak untuk menyibak makna laten bernuansa feminisme sembari dibandingkan dengan kisah asli Ramayana. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa ketiga sajak mengkritik representasi ideal dari konstruksi relasi gender heteroseksual di dalam sistem patriarki yang terbangun dari kisah Ramayana. Temuan ini memberikan bukti bahwa laki-laki pun dapat mengajukan kritik terhadap sistem patriarki dari posisi mereka sebagai laki-laki dan sekaligus mengartikulasikan pandangan mereka yang koheren dengan gerakan feminisme[A Comparative Feminist Approach on the Variety of Re-writing Sita?s Agni Pariksha in Three Indonesian Poems] Agni Pariksha (Sita?s Fire Ordeal) in Ramayana has inspired many Indonesian writers. Previous studies on the writings inspired by Agni Pariksha in Indonesian literature have never used feminist comparative literature approach. Moreover, there have been doubts on the involvement of men in feminism and/or in criticizing patriarchy. This study used feminist comparative literature approach on three Indonesian poems: ?Asmaradana? by Subagio Sastrowardoyo, ?Sita Sihir? by Sapardi Djoko Damono, and ?Sepucuk Surat Sita Sebelum Labuh Pati? by Soni Farid Maulana. These poems were close read and analyzed using content analysis to reveal their potential profeminism messages whilst also compared to the story of Ramayana. This study found that the three poems criticize the ideal representation of heterosexual gender relation construction in the patriarchal system based on the story of Ramayana. The findings suggest that men are able to give criticism towards the patriarchal system from their subject position as men while at the same time also articulate their pro-feminism stance.Keywords: Agni Pariksha; feminist comparative literature; existentialist feminism; subject question;subject in situation