cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 284 Documents
PERUBAHAN YANG DOMINAN DALAM NOVEL-NOVEL PUTU WIJAYA Pujiharto, Pujiharto
ATAVISME Vol 11, No 1 (2008): ATAVISME, EDISI JUNI 2008
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v11i1.327.83-94

Abstract

The aim of this paper is to express Putu Wijaya's novels transition from mimetic, in this paper we called it as modern novel, by taking Pabrik as sample, to the unm imetic novels that we cal led as postmodern novelsby taking Telegram and Stasiun as the sample. The research approach based on Mc Hale Theory (Postmodernist Fiction, 1991 ). Accoeding to him, the transition from modern to pascarnodern novel is signed by a dominant change: from epistemological dominant to ontological dominant. Pabrik rises accessibility. reliability or unreliability, circulation issues and knowledge transmission about factory world through its characters. This novel expresses the mistery of Tirtoatmojo family, the factory director. But, in the gap of cpystemological dominant, in chapter Ill appears the ontological dorn in ant. Ontological dominant appears only once in Pabrik, but in Telegram and Stasiun ontological dominant and epystcmological. dominant eppear by change. The appear of ontological dominant characteristic in Putu Wijaya's novels have similar relationship with pluralistic ontologism landscape that is the character of post modern condition. The reality in this condition is named unreality by Mc Hale.
REPRESENTASI FEMINISME DALAM NOVEL NAYLA KARYA D.JENAR MAESA AYU Pramujiono, Agung
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.164.127-136

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan secara objektif representasi feminisme dalam novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Data penelitian adalah perataan, perbuatan, dan peristiwa yang dialami oleh tokoh utama, Sumber data penelitian adalah novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu edisi kedua yang diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 2005. Data dikumpulkan mclalui teknik dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan analisis data, dapat disimpulkan bahwa Nayla adalah sebuah novel dengan pengarang yang secara sadar ingin memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama yang berkaitan dengan seksualitas. Tokoh pcrempuan dalam Naylai adalab seorang perempuan superior, bukan inferior, seorang perempuan yang 'mendominasi' laki-laki, bukan yang 'didominasi' oleh laki-laki. Pengarang juga berusaha untuk mengangkat posisi perempuan dengan menghadirkan seorang karakter perempuan yang menemukan kesadaran akan eksistensi diri, menyadari makna kebidupan dan hidup. Para tokohnya adalah perempuan- perempuan profesional yang bahkan dapat disejajarkan dengan para laki-laki. Mereka adalah tokoh perempuan yang jarang mengurusi urusan rumah tangga Terkait dengan seksualitas, sang tokoh (si pengarang) berpendapat bahwa perempuan tidak selayaknya diperlakukan sebagai objek semata, retapi seharusnya juga memiliki kesempatan untuk bersenang-senang dan disenangkan. Abstract: This research aims to describe objectively the representation of feminism in the novel Nayla by Djenar Maesa Ayu. The research data are speeches, actions, and happenings experienced by the main character. The source of the data was the novel Nayla by Djenar Maesa Ayu second edition published by Gramedia in 2005. The data were collected through documentation technique and analyzed descriptively. Based on the analysis of the data, it could be concluded that Nayla was a novel whose author consciously wished to struggle for women rights, especially those related to sexualities. The female character in Nayla is a superior woman, not an inferior one; a female who 'dominates' males, not the one who 'is dominated' by males. 'The author also strives to raise women's positions by presenting a female character who has found a consciousness of self-existence, realized the meanings of life and living. The characters are professional women who can even be equalized with men. 'They are female characters who seldom take care of domestic households. Related to sexualities, the character (the author) has the opinion that women should not have been treated as objects only, but should also have been given opportunities to enjoy themselves and to be spoiled. Key Words: representation of feminism, radical feminism
REPRESENTASI DALAM HIKAYAT SITI MARIAH VERSI SURAT KABAR BINTANG TIMUR Susanto, Dwi
ATAVISME Vol 10, No 1 (2007): ATAVISME, EDISI JUNI 2007
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v10i1.234.95-107

Abstract

The HSM BT indicated of the Self and the Other relation that was complex. The complexity could be seen at the character of representation. The phenomenon of representation was showed within ambivalence, hybrid, floating of identity, and hazy. The play and strategy were done in orde to get space and free from shackling and shadows of colonial power and bias. Strategy and representation of story telling, narrator position, identity political, and gender relation was to the be way to reach and change colonial bias. This paper aims to expose the power and domination of colonial space and time. This paper also shows colonial zone. This paper used postcolonial paradigm in particular representation the Self and the Other. This paper had concluded that the power and shadows of colonial always get space and time at relation and aspect human relation, gender, images, identity, etc. Each of way to avoid colonial shadows and bias always followed by another colonial of ways. The tone heterogeneity and plurality were taken as tolls to repress and lie of freedom way the Other
TENTANG MANUSIA DALAM TEMBANG PALARAN DHANDHANGGULA NYI TJONDROLUKITO: KAJIAN FILSAFAT SANGKAN-PARAN Pramujiono, Agung
ATAVISME Vol 13, No 2 (2010): ATAVISME, Edisi Desember 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v13i2.132.209-218

Abstract

Perspektif filsafat sangkan-paran dapat digunakan untuk menganalisis manusia dalam tembang Palaran Dhandhanggula Nyi Tjondrolukito (PDNT) yang mencakup apa dan siapa manusia, bagaimana hendaknya manusia berperilaku dalam hidup, dan apa sebenarnya tujuan hidup manusia. Secara materialistik, manusia terbentuk atas unsur-unsur yang sama dengan unsur alam, yaitu api, angin, tanah, dan air yang dilambangkan dengan warna merah, kuning, hitam, dan putih. Secara spiritual, sebagai siapa, manusia terdiri atas empat unsur yang dilambangkan dengan empat warna tersebut. Keempatnya merupakan sedulur papa manusia yang merupakan hawa nafsu manusia yang melengkapi rasa/ruh yang bersemayam dalam manusia. Berkaitan dengan perilaku hidup, hendaknya manusia memiliki keimanan, ketawadukan, kesungguhan, dan mampu menjaga keselarasan dengan alam, keseimbangan jagad cilik yang ada dalam dirinya dengan jagad gedhe yang berupa alam semesta. Sebagai bagian akhir, manusia harus menyadari tujuan hidupnya. Abstract: The Sangkan Paran philosophical perspective can be employed to analyze human beings in the traditional Javanese song Palaran Dhandhanggula Nyi Tjondrolukito (PDNT) covering who and what human matters are, how they should behave and achieve their goals in living their lives. Materialistically speaking, on one hand, a human being is composed of elements that are similar to the natural elements, namely, fire, wind, soil, and water that are symbolized by red, yellow, black, and white color. Spiritually speaking, on the other hand, human beings are believed to be composed of the four natural elements. Those elements are considered to be the four ?siblings? of human beings. They constitute their passions that enrich their souls. In relation to behavior, human should have faith, loyalty, persistence, ability to keep in harmony of the ?small world? within themselves and ?the gigantic world?, that is the whole universe. Last but not least, they should be aware of their goals in life. Key Words: literary philosophy, sangkan paran, palaran dhandhanggula
KONDISI KEJIWAAN PARA TOKOH DALAM “KāNAT HIYAL­‐ADH’āF” KARYA NAWAL EL SA’DAWI Sangidu, Sangidu
ATAVISME Vol 19, No 2 (2016): Atavisme, Edisi Desember 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v19i2.254.236-250

Abstract

Cerita pendek (al-qish-shatul-qashîrah) berjudul ?K?nat Hiyal-Adh??f? karya Nawal El Sa?dawi berisi keresahan, kesedihan, dan tekanan-tekanan psikologis yang dialami oleh masya-rakat, khususnya para perempuan Arab karena adanya budaya tes keperawanan yang dipandang sebagai aib. Dengan demikian, masalah yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimanakah kondisi psikologis para tokoh dalam cerpen ?K?nat Hiyal-Adh??f?? Tujuan penelitian ini adalah mengungkap kondisi psikologis para tokoh dalam cerpen tersebut. Hasil penelitian ini menunjuk-kan bahwa para tokoh (Mempelai Laki-Laki, Mempelai Perempuan, Ibu Mempelai Laki-Laki, dan Ayah Mempelai Perempuan) mengalami kecemasan dan ketidakstabilan jiwa dengan penyebab yang berbeda dalam menghadapi budaya tes keperawanan. Hanya tokoh Ibu Mempelai Laki-Laki yang tidak cemas karena jiwanya kuat. Simpulan penelitian ini dapat dikemukakan bahwa kondisi kejiwaan yang dialami oleh masing-masing tokoh yang berkaitan dengan id, ego, dan superego antara tokoh yang satu dan tokoh lainnya berbeda-beda. A short story (al-qish-shatul-qashîrah) entitled ?K?nat Hiyal-Adh??f? written by Nawal El Sa?dawi contains psychological unrest, sadness, and pressures experienced by the community, especially Arab women. The culture of virginity test is regarded as a disgrace and psychological pressure for women in general and Arab women in particular. Therefore, to reveal the characters? psychological condition related to the culture of virginity test for Arab women in the short story ?K?nat Hiyal-Adh??f?, a psychological approach and method is needed. Psychological approach is a discipline which regards that literary works contain psychological elements. The method of psychological approach describes the characterization of the characters in the work in question. This study concludes that each character experiences different psychological condition related to id, ego, and superego.
SASTRA JAWA KUNA: SEBUAH CERMIN Suarka, I Nyoman
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.155.31-35

Abstract

Artikel ini bertujuan menjelaskan keberadaan sastra Jawa Kuna, kontribusinya, dan juga keterkaitannya dengan kehidupan Indonesia. Para pendiri Indonesia telah menemukan nilai-nilai di dalamnya dan menggunakannya sebagai nama ideologi, semboyan, dan simbol negara. Sastra Jawa Kuna bisa digunakan sebagai sumber untuk memahami kehidupan masyarakat di masa lalu. Selain itu, nilai-nilai tersebut bisa digunakan sebagai panduan hidup. Abstract: This writing is aimed to explain the existence of old Java literature, its contribution and also its relevance for Indonesian?s live. The Indonesian founders have discovered the values in it and used it as a name of state ideology, country motto, and state symbol. Old Java literature can be used as a source to understand society life in the past. In addition, the values can be used as life guidance. Keywords: old Java literature, relevance, value
DAFTAR ISI DAN KATA PENGANTAR Santosa, M.Hum, anang
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.222.%p

Abstract

THE HEROINES OF DON JUAN Novianti, Nita
ATAVISME Vol 18, No 2 (2015): ATAVISME, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v18i2.117.221-231

Abstract

In spite of the large number of female characters who play the major part in the life of the main character in Byron?s Don Juan, it is still the main character himself, Don Juan, who has garnered great attention from the critics. Hence, the present research will focus on the female characters of Byron?s Don Juan and reveal how their sexuality and femininity are represented. It is found that while there are subversion and challenging of femininity and sexuality, such as female unusual sexual prowess exhibited by Gulbeyaz and some other female characters, it is precisely the challenging of feminine conventions and the inability to suppress their sexuality that lead the female characters to their doom. Meanwhile, the female characters who successfully suppress their sexuality have a better ending, or at least, manage to survive. Abstrak: Meskipun terdapat banyak karakter perempuan yang berperan penting dalam kehidupan karakter utama Don Juan karya Byron, tetap saja yang selama ini menjadi pusat perhatian para kritikus sastra adalah karakter utamanya, yaitu Don Juan. Oleh karena itu, penelitian ini akan fokus pada karakter-karakter perempuan dalam Don Juan karya Byron dan mengungkap bagaimana femininitas dan seksualitas mereka direpresentasikan. Ditemukan bahwa meskipun ada sub versi dan penentangan terhadap konvensi femininitas dan seksualitas perempuan, seperti yang ditunjukkan oleh kekuatan seksual Gulbeyaz dan beberapa karakter perempuan lainnya, justru sub versi dan penentangan serta ketidakmampuan mereka menahan seksualitasnya yang membawa karakter-­karakter perempuan ini pada kesengsaraan. Sementara itu, karakter perempuan yang berhasil menahan seksualitasnya hidupnya berakhir bahagia, atau setidaknya bisa bertahan hidup. Kata-­kata Kunci: Don Juan; feminitas; karakter perempuan; seksualitas
UMBU LANDU PARANGGI DALAM PEMBINAAN SASTRAWAN INDONESIA: STUDI KASUS PERSADA STUDI KLUB Atisah, Atisah
ATAVISME Vol 13, No 1 (2010): ATAVISME, Edisi Juni 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v13i1.146.89-99

Abstract

Tulisan ini bertujuan memaparkan cara Umbu Landu Paranggi dalam membina sastrawan Indonesia melalui komunitas Persada Studi Klub dengan perspektif sosiologi sastra. Pada tanggal 5 Maret 1969, Umbu Landu Parangi dan teman-temannya mendirikan komunitas sastra atau komunitas seni pada umumnya di Yogyakarta yang diberi nama Persada Studi Klub (PSK). Aggota PSK umumnya adalah penulis muda yang dapat menunjukkan karyanya atau sekurang-kurangnya mempunyai ketertarikan yang serius kepada seni. Setiap anggota PSK didorong untuk menjadi penulis yang berhasil. Umbu membina para pengarang pemula itu secara persuasif, disiplin, dan mandiri. Umumnya karya mereka dipublikasikan dalam dua rubrik surat kabar Pelopor Jogja, yaitu rubrik ?Sabana? dan ?Persada?. Kedua rubrik itu diasuh oleh Umbu Landu Paranggi. Jadi, sebagai anggota PSK, penulis muda tidak hanya mendapat kesempatan untuk meningkatkan dan mengeksplorasi kemampuannya melainkan juga memperoleh kesempatan untuk menerbitkan dan memperkenalkan karya-karyanya ke masyarakat luas. Abstract: This paper is aimed to describe Umbu Landu Paranggi method in Indonesian man of letters build through Persada Studi Klub community by sociology of literature perspectives. In March 5, 1969, Umbu Landu Paranggi and his colleagues founded literature community, or art in general, in Yogyakarta which is named Persada Studi Klub (PSK). The member of PSK are mostly young writer who can show their works or at least they have serious interest on the arts. Every PSK member was encouraged to be success writer. Umbu cultivate the beginner's authors persuasive, discipline, and independent. Mostly their works were published in two rubrics of Pelopor Jogja newspapers, i.e. ?Sabana? and ?Persada?. Both rubrics was hosted by Umbu Landu Paranggi himself. So, as the PSK member, the young writers not only have a chance to improve and explore their capability but also to publish and introduce their works to the wider community. Key Words: guiding young writer, persuation, community
GENETIKA ROMAN PANGLIPUR WUYUNG Supriyanto, Teguh
ATAVISME Vol 14, No 1 (2011): ATAVISME, Edisi Juni 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i1.108.113-124

Abstract

Roman panglipur wuyung secara ideologis menggambarkan keinginan yang diidam- kan hadir di dunia nyata. Kota adalah tempat yang ideal untuk memperolehnya. Sebaliknya, de- sa adalah dunia sepi, miskin, dan serba kekurangan. Meskipun demikian, kesadaran akan keter- asingan di kota tidak dapat dimiliki oleh para tokoh cerita yang umumnya didominasi para re- maja. Dunia nyata yang ada di kota inilah yang diidamkan dalam cerita roman panglipur wu- yung. Kesenangan dan kekayaan adalah hal ideal yang diimpikan, yang dicita-citakan, dan yang harus hadir di dunia nyata ini. Genetika sosial roman berasal dari masyarakat kapitalisme semu. Abstract: The romance of Panglipur wuyung ideologically describes an ideal aspiration emerges in the real world. A city is basically an ideal place to get it. Conversely, a country is a quiet, poor world, and lack of anything. The consciousness of alienation in the city, however, cannot be possessed by the characters generally dominated by teenagers in this roman. The city is the real world which is dreamt, aspired in the romance. The social genetics of romance originates from a pseudo-capitalism society. Key Words: genetics; ideology; real world