cover
Contact Name
Mohammad Rizki
Contact Email
mohammadrizki.md@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.kedokteran.unram@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Jl. Pendidikan No. 37 Mataram, Nusa Tenggara Barat
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran
Published by Universitas Mataram
ISSN : 23015977     EISSN : 25277154     DOI : -
Core Subject : Health,
The Unram Medical Journal managed by the Medical Faculty of Mataram University is a scientific journal to publish the results of the latest research in the field of medical and health related. This journal promote medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community research to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also case reports.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 4 (2016)" : 8 Documents clear
Prevalensi Gangguan Refraksi pada Mahasiswa Baru Universitas Mataram Angkatan 2014 Nintyastuti, Isna Kusuma; Geriputri, Ni Nyoman; Prihatina, Lale Maulin; Syari, Mayuarsih Kartika; Wilmayani, Ni Ketut
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Gangguan refraksi merupakan salah satu penyebab kebutaan di dunia. World Health Organization (WHO) menyatakan 45 juta orang menjadi buta di seluruh dunia, dan 135 juta dengan low vision. Dari 66 juta anak usia sekolah (5-19 tahun) di Indonesia, sekitar 10% menderita kelainan refraksi. Sampai saat ini angka pemakaian kaca mata koreksi masih sangat rendah sekitar 12,5% dari prevalensi tersebut. Apabila kondisi ini tidak ditangani secara menyeluruh akan berdampak negatif pada perkembangan kecerdasan anak dan proses pembelajaran yang akan mempengaruhi produktivitas dan mutu angkatan kerja (15-55 tahun). Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi gangguan refraksi pada mahasiwa baru Universitas Mataram angkatan 2014, mengetahui distribusi karakteristik subjek yang diteliti, meliputi: jenis kelamin, usia, pendidikan orang tua, penghasilan rumah tangga, adanya gangguan refraksi pada keluarga inti, waktu yang dihabiskan untuk membaca dan bermain game komputer di rumah, riwayat pemeriksaan ketajaman pengelihatan dan pemakaian kacamata koreksi sebelumnya, dan gejala gangguan pengelihatan serta untuk mengetahui frekuensi kejadian pada berbagai tipe gangguan refraksi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan pengambilan sampel secara kluster sesuai dengan fakultas pada mahasiswa baru Universitas Mataram angkatan 2014. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner, pemeriksaan tajam penglihatan, pemeriksaan autorefraktokeratometer dan koreksi subjektif pada penderita gangguan refraksi. Hasil: Penelitian dilakukan pada 183 responden, 67 laki–laki dan 115 perempuan, dengan rerata umur 18,76±1,66 tahun. Responden terbanyak berasal dari fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (33%). Sebagian besar memiliki orang tua dengan tingkat pendidikan terakhir SMA/sederajat (33% dan 31%) dan penghasilan kurang dari 2 juta per bulan (79%). Riwayat pemeriksaan tajam pengelihatan sebelumnya hanya didapatkan pada 27% responden. Diagnosis terbanyak Myopia Simpleks (OD 8,74%, OS 12,02%) dan terjarang Astigmat Myopia Simpleks (0,55%). Dua puluh empat responden sudah menggunakan kacamata dengan rerata umur mulai berkacamata 16,58±3,55 tahun. Tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada riwayat keluarga (p=0,4023). Lama penggunaan gadget memiliki signifikansi terhadap risiko terjadinya gangguan refraksi (p=0,0177). Kesimpulan: Myopia Simpleks merupakan diagnosis kelainan refraksi yang paling banyak ditemukan. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada faktor risiko riwayat keluarga dan didapatkan perbedaan bermakna pada risiko lama penggunaan gadget.
Karakteristik Pengetahuan dan Persepsi Penderita Akne Vulgaris di Kota Mataram Hidajat, Dedianto; Hidayati, Agriana Rosmalina; Cenderadewi, Muthia
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Beberapa penelitian di negara maju maupun berkembang telah menunjukkan bahwa penderita akne vulgaris (AV) mendapatkan informasi yang inadekuat tentang penyebab dan penanganan AV. Tujuan: Mengetahui karakteristik pengetahuan dan persepsi penderita AV terkait faktor penyebab, sumber informasi, penatalaksanaan dan dampak psikososial AV di kota Mataram Metode: Penelitian ini merupakan survei karakteristik pengetahuan dan persepsi dengan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Hasil: Dari 162 responden, 51,2% sudah menderita AV selama lebih dari 1 tahun dan 54,9% termasuk derajat ringan. Sebanyak 30% responden menyatakan bahwa AV disebabkan oleh penyebab tunggal dan jenis penyebab terbanyak adalah karena kurangnya kebersihan wajah (34,8%). Stres (25,3%) merupakan faktor yang paling banyak dianggap berperan dalam memperberat AV. Tiga sumber informasi terbesar terkait AV berasal dari internet (20,9%), televisi/radio (19,9%) dan dokter (17,2%). Harapan responden (55,6%) pengobatan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu untuk mengatasi AV. Sebagian besar responden (38,3%) telah mencoba lebih dari 1 jenis produk untuk mengatasi AV sebelum memutuskan untuk berobat ke dokter dan sabun pembersih jerawat merupakan produk yang paling banyak digunakan oleh responden (38,1%). Sebagian besar responden (36,4%) menyatakan bahwa menderita AV memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap penampilan. Kesimpulan: masih adanya informasi yang belum adekuat dari sumber yang telah ada terkait penyebab, faktor yang mencetuskan dan penanganan AV.
Karakteristik Pengetahuan dan Persepsi Penderita Akne Vulgaris di Kota Mataram Hidajat, Dedianto; Cenderadewi, Muthia; Hidayati, Agriana Rosmalina
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Beberapa penelitian di negara maju maupun berkembang telah menunjukkan bahwa penderita akne vulgaris (AV) mendapatkan informasi yang inadekuat tentang penyebab dan penanganan AV. Tujuan: Mengetahui karakteristik pengetahuan dan persepsi penderita AV terkait faktor penyebab, sumber informasi, penatalaksanaan dan dampak psikososial AV di kota Mataram Metode: Penelitian ini merupakan survei karakteristik pengetahuan dan persepsi dengan rancangan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Hasil: Dari 162 responden, 51,2% sudah menderita AV selama lebih dari 1 tahun dan 54,9% termasuk derajat ringan. Sebanyak 30% responden menyatakan bahwa AV disebabkan oleh penyebab tunggal dan jenis penyebab terbanyak adalah karena kurangnya kebersihan wajah (34,8%). Stres (25,3%) merupakan faktor yang paling banyak dianggap berperan dalam memperberat AV. Tiga sumber informasi terbesar terkait AV berasal dari internet (20,9%), televisi/radio (19,9%) dan dokter (17,2%). Harapan responden (55,6%) pengobatan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu untuk mengatasi AV. Sebagian besar responden (38,3%) telah mencoba lebih dari 1 jenis produk untuk mengatasi AV sebelum memutuskan untuk berobat ke dokter dan sabun pembersih jerawat merupakan produk yang paling banyak digunakan oleh responden (38,1%). Sebagian besar responden (36,4%) menyatakan bahwa menderita AV memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap penampilan. Kesimpulan: masih adanya informasi yang belum adekuat dari sumber yang telah ada terkait penyebab, faktor yang mencetuskan dan penanganan AV. Katakunci
Faktor yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Kota Mataram Wiguna, Putu Aditya; Yuliani, Eka Arie; Affarah, Wahyu Sulistya; Reditya, Ni Made
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: ASI eksklusif berdampak luas pada status gizi dan kesehatan balita. Angka keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja sangat rendah. Tujuan: Menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja di Kota Mataram. Metode: Penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang menggunakan kuisioner dilakukan sepanjang Desember 2013. Responden merupakan ibu bekerja di Kota Mataram, memiliki bayi berusia 6-36 bulan, menyusui, bayi juga tidak memiliki kelainan kongenital atau penyakit kronis. Hasil: Dari 288 ibu yang diwawancarai, 135 (46,9%) memberikan ASI eksklusif. Odd ratio menyusui dengan ASI eksklusif lebih tinggi pada ibu yang mendapat dukungan suami (OR = 21,32, CI = 2,28-160,77, p = 0,000), memiliki sarana dan prasarana menyusui di tempat kerja (OR=1,91, CI = 1,12-3.26, p = 0,017), memiliki durasi perjalanan ke tempat kerja kurang dari 15 menit (OR=1,93, CI = 1,20-3,11, p=0,006) dan menyiapkan ASI perah (OR = 2,45, CI = 1,52-3,95, p=0,000). Paparan terhadap saran untuk memberikan makanan atau minuman lain selain ASI pada bayi berumur kurang dari 6 bulan, lamanya jam kerja, jabatan ibu di tempat kerja, dan lamanya cuti menyusui tidak berhubungan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif (p>0,05). Kesimpulan: Keberhasilan menyusui dengan ASI Eksklusif pada ibu bekerja berhubungan dengan dukungan suami, ketersediaan sarana dan prasarana menyusui di tempat kerja, durasi perjalanan ke tempat kerja kurang dari 15 menit dan menyiapkan ASI perah.
Perbandingan Hasil Point of Care Testing (POCT) Asam Urat dengan Chemistry Analyzer Akhzami, Dewi Rabiatul; Rizki, Mohammad; Setyorini, Rika Hastuti
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i4.5

Abstract

Latar belakang: Hiperurisemia merupakan peningkatan kadar asam urat dalam darah. Pada dekade terakhir prevalensi hiperurisemia cenderung meningkat di seluruh dunia. Oleh karena itu, dibutuhkan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar asam urat serum. Alat yang telah digunakan sebagai alat standar dalam pemeriksaan laboratorium adalah chemistry analyzer. Seiring perkembangan teknologi dan pengetahuan, terdapat alat lain yang dapat digunakan yaitu point of care testing (POCT). Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan hasil antara point of care testing (POCT) asam urat dengan chemistry analyzer. Metode: Penelitian dengan desain studi perbandingan dengan metode potong lintang (cross-sectional). Pengambilan sampel dilakukan dengan tehnik consecutive random sampling dan memenuhi kriteria inklusi (n=42). Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel darah dari vena antecubital, kemudian dilakukan pemeriksaan dengan point of care testing (POCT) dan chemistry analyzer. Uji statistika yang digunakan yaitu uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan asam urat antara alat POCT dan chemistry analyzer. Hasil: Kadar asam urat serum yang diperiksa dengan point of care testing (POCT) dengan strip/stik berkisar antara 3,1-11,1 mg/dl dengan nilai tengah 5,65 mg/dl dan rentang antar kuartil (interquartile range [IQR]) 7,4 mg/dl sedangkan kadar asam urat serum responden yang diperiksa dengan menggunakan chemistry analyzer berkisar antara 3,1-12,3 mg/dl dengan nilai tengah 5,45 mg/dl dan rentang antar kuartil (interquartile range [IQR]) 7,1 mg/dl. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara pemeriksaan asam urat dengan POCT dan chemistry analyzer (p=0,7460; uji Wilcoxon). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan hasil antara point of care testing (POCT) asam urat dengan chemistry analyzer.
Korioretinitis Toksoplasmosis pada Penderita Imunokompeten Anggoro, Joko
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Toksoplasmosis merupakan penyakit sistemik yang disebabkan parasit protozoa koksidia Toxoplasma gondii, infeksi biasanya tanpa gejala atau muncul dalam bentuk akut dengan gejala limfadenopati atau dengan gejala menyerupai flu (flu-like symptoms). Pada infeksi primer, penderita biasanya asimtomatik dan kadang hanya bergejala seperti demam, limfadenopati dan limfositosis yang berlangsung sampai berhari-hari atau beberapa minggu. Kami akan membahas lebih dalam sebuah kasus chorioretinitis toksoplasmosis pada penderita imunokompeten baik dari gejala klinis dan terapinya
Penggunaan Modified Sequential Organ Failure Assessment (MSOFA) Sebagai Salah Satu Skoring pada Mortalitas Pasien Kritis Kresnoadi, Erwin; Lestari, Rina; Agustriadi, Ommy
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sakit kritis adalah penyakit yang menyebabkan ketidakstabilan fisiologi tubuh yang berakibat disabilitas atau kematian dalam hitungan menit atau jam. Sistem skoring pasien kritis sudah banyak dipublikasikan. Sistem skoring ini ditujukan untuk memprediksi prognosis penyakit pasien dan mengevaluasi kinerja ruang perawatan intensif. Skor MSOFA mengeliminasi jumlah trombosit, mengganti tekanan parsial oksigen darah arteri dengan saturasi oksigen yang diukur dengan pulse oksimeter, dan mengganti jumlah bilirubin serum dengan penilaian klinis ikterik.
Komplikasi Intervensi Koroner Perkutan Pintaningrum, Yusra
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percutanous coronary intervention (PCI) dapat menimbulkan komplikasi yang tidak terduga. Komplikasi tersebut dapat timbul sebagai akibat dari karakteristik peralatan yang digunakan atau karakteristik dari intervensi itu sendiri. Komplikasi PCI secara tradisional dikelompokkan berdasarkan indikasi tindakan, tahapan tindakan dan penggunaan instrumen tertentu. Perkembangan peralatan, penggunaan stent dan terapi antiplatelet yang agresif telah menurunkan insidensi komplikasi mayor PCI selama 15-20 tahun terakhir. Salah satunya turunnya angka coronary bypass surgery (CABG) dari 1,5 persen di tahun 1992 menjadi 0,14 persen tahun 2000 dan dari 2,9 persen di tahun 1979-1994 menjadi 0,3 persen di periode tahun 2000-2003.

Page 1 of 1 | Total Record : 8