cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Uji Aktivitas Antioksi dan Rebusan Daun Dewa (Gynura Pseudochina) dan Perannya Sebagai Inhibitor Advanced Glycation End Products (Ages) Akibat Reaksi Glikosilasi Suhartono, Eko; Setiawan, Bambang; Edyson, -; Sari, Nur Yulia
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research of an antioxidant activity of Daun Dewa leaf boiled (Gynura pseudochina) and the role as inhibitor of advanced gly cation end products (AGEs) formation in vitro had been done. Aims of this research are to measure an antioxidant activity by Daun Dewa leaf boiled and the role as inhibitor of AGEs formation. The methods, to measured an antioxidant activity by Daun Dewa leaf boiled is reacted with 2,4-dinitrophenylhydrazin (DNPH) and ana¬lyzed with spectrophotometry methods with 1—390 nm. Meanwhile, AGEs com¬pounds is measure every 48 hours during 20 days of research and analyzed with spectrophotometry methods with 1=340 nm Content of dicarbonyl com¬pounds is measured with DNPH methods that developed by Uchida and modi¬fied by Sadikin. The result, showed that an antioxidant activity of Daun Dewa leaf boiled at 25% concentration is 66,34 ± 3,72 %. On the other hand, is able to block rate of AGEs formation.Telah dilakukan penelitian aktifitas antioksidan rebusan daun tanaman Daun Dewa dan perannya sebagai penghambat pembentukan AGEs. Penelitian ini bertujuan menentukan aktifitas antioksidan rebusan daun tanaman Daun Dewa dan perannya sebagai penghambat pembentukan AGEs. Untuk penentuan aktivitas antioksidan, rebusan dauan tanaman Daun Dewa direaksikan dengan 2,4-dinitrophenylhydrazin (DNPH) dan dianalisis secara spektrofotmetri pada 1 = 390nm. Senyawa AGEs diukur setiap 48 jam selama 20 hari dengan menggunakan spektrofotometri pada 1 = 340 nm. Kadar senyawa dikarbonil ditentukan dengan cara metoda DNPH yang dikembangkan Uchida dan dimodifikasi oleh Sadikin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktifitas antioksidan rebusan daun tanaman Daun Dewa konsentrasi 25% adalah 66,34 ± 3,72%. Selain itu, daun Dewa juga dapat menghambat pembentukan AGEs.
Analisis Kualitas Visum et Repertum Beberapa Dokter Spesialis pada Korban Kekerasan Seksual di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Soularto, Dirwan Suryo; Cahyanti, Eki Siwi Dwi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1 (s).1625

Abstract

Sexual abuse happens frequently in society. To sue or report the criminal, it needs medical evidence as a visum et repertum as a proof. Visum et repertum is considered as an expert description to justice medical expert or doctor and to other doctor. The good quality of visum et repertum can help the victim to have justice. The objective of this research is to acknowledges the quality of visum et repertum sexual abuse. The subject of this research is the results of visum et repertum which is made by gynecologist at RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta, began atMarch 2003 until November 2008for about 29 cases. The results of visum et repertum evaluated with using scoring method on from the adjusted Herkutanto journal. The quality of visum et repertum is measured using a scoring method consist of 19 variable. The results is presented in the form ofpercentage ; the quality is low if it is below 50%, moderate if 50%-75% and good if more than 75%. The result of visum et repertum quality is 27,4%, which is mean in low quality. This conclude this research that the quality of visum et repertum in sexual abuse is below standard.Kekerasan seksual sering terjadi di masyarakat. Untuk menuntut pelaku secara hukum, diperlukan adanya visum et repertum sebagai bukti adanya kekerasan seksual itu. Visum et repertum dinilai sebagai keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau dokter lainnya. Visum et repertum yang berkualitas dapat membantu korban dalam mendapatkan keadilan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas visum et repertum kekerasan seksual. Subjek penelitian ini adalah hasil visum et repertum yang dibuat dokter spesialis kebidanan dan kandungan pada korban dengan dugaan kekerasan seksual di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta selama Maret 2003 sampai dengan November 2008 sebanyak 29 kasus. Hasil visum et repertum dinilai dengan menggunakan metode skoring atau nilai dari jurnal Herkutanto yang telah disesuaikan. Penilaian kualitas visum kekerasan seksual terdiri dari 19 variabel. Setelah didapatkan data masing-masing variabel, kemudian dianalisis. Hasilnya berbentuk persentase, kualitas rendah bila kurang dari 50%, sedang jika 50% - 75% dan bagus jika lebih dari 75%. Hasil penilaian kualitas visum yaitu 27,4 % yang berarti berkualitas buruk. Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa kualitas visum kekerasan seksual masih dibawah standar.
Gambaran Leukosit Pro Inflamasi pada Status Asmaticus di RSUD Kebumen Rahayu, Ester Tri; Arjana, Adika Zhulhi; Juwariyah, Juwariyah; Yuantari, Rahma; Irfan, Rozan Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18 No 1: January 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180108

Abstract

Asma merupakan kondisi penyempitan jalan nafas yang selama ini hanya dianggap sebagai reaksi hipersensitifitas tipe 1 karena pada kondisi lain juga dapat disebabkan oleh inflamasi dan koagulasi. Pada hipersensitifitas tipe 1 terdapat peran neutrofil dan eosinofil dan dalam penelitin ini akan dipetakan fenotip asma berdasarkan aktifitas eosinof dan neutrofil yaitu eosinofilik dan neutrofilik pada serangan akut asma. Penelitian dilakukan dengan desain observasional retrospektif terhadap data sekunder pasien asma dewasa, dalam waktu 1 tahun kebelakang dengan sampel sebanyak 91 orang di RSUD Kebumen. Pengambilan data menggunakan data rekam medis. Analisis data menggunakan uji ANOVA untuk data terdistribusi normal, dan uji rerata Kuskal-Wallis untuk data tidak normal. Karakteristik subyek sejumlah 91 orang, dengan 31 subyek pria dan rerata umur 38 tahun. Delapan puluh empat persen subjek adalah asma derajat ringan, 4 % berat dan sisanya sedang. Pada uji rerata eosinofil dan neutrofil, terdapat berbedaan rerata antar derajat serangan namun tidak signifikan secara statistik. Subyek asma neutrofilik lebih mendomasi dibandingkan eosinofilik. Walaupun begitu, belum dapat diambil kesimpulan hubungan kadar eosinofil dan neutrofil terhadap derajat asma karena belum ada hasil statistik yang signifikan.
Pengaruh Asupan Susu Kedelai Terhadap Ca Darah Astuti, Yoni; Irawan, Dedy
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2 (s).1658

Abstract

Nowadays, soybean milk is known as the alternative substitute for cow milk. Besides contains of calcium, soybean milk also contains of natural substance that similar to estrogens named phytoestrogen. This substance has thought can help calcium absorption from daily dietary. It is therefore soybean milk believed can prevent osteoporosis. Objectives of this research is to understand the effect of consuming soybean milk to blood calcium level in human. This research used pre test-post test only control group design and T-test statistic test. Subject of this research are 10 men that divided into 2 groups. Each group contains of five men, which the group I as experiment group and group II as control group. Result of this research showed that from the control group, there are three subjects who have blood calcium increase, while two subjects have blood calcium decrease. The average of blood calcium level before experiment is 9,53 mg/dl and after experiment is 9,58 mg/dl. So the average of blood calcium increase in negative control group is 0,05 mg/dl (0,58%). Of experiment group, all subjects have blood calcium increase. The average of blood calcium level before consume soybean milk is 9,71 mg/dl and after consume soybean milk is 11,43 mg/dl. So the average of blood calcium increase in experiment group is 1,72 mg/ dl (17,85%). The result of T-test statistic test which done to compare the effect of the two experiments shows the significant difference of end blood calcium level.Susu kedelai akhir-akhir ini mulai dikenal sebagai susu alternatif pengganti susu sapi. Pada susu kedelai selain mengandung kalsium juga terdapat senyawa alami mirip estrogen yang disebut fitoestrogen. Senyawa ini diperkirakan dapat membantu penyerapan kalsium dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Karena itulah susu kedelai dipercaya mampu menghambat osteoporosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh asupan susu kedelai terhadap kadar Ca darah pada manusia. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pretest -post test only control group design, dengan menggunakan subjek sebanyak 10 orang dan dibagi ke dalam 2 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 5 orang dimana kelompok I merupakan kelompok perlakuan sedangkan kelompok II sebagai kelompok kontrol dan telah memenuhi kriteria inklusi. Setelah didapatkan hasil kemudian dilakukan uji statistik dengan uji analisa T-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok kontrol terdapat 3 subjek yang mengalami peningkatan kadar kalsium darah sedangkan 2 subjek lainnya mengalami penurunan. Rerata kadar kalsium darah sebelum penelitian 9,53 mg/dl dan setelah penelitian 9,58 mg/dl. Jadi rerata peningkatan pada kelompok kontrol negatif 0,05 mg/dl (0,58 %). Pada kelompok perlakuan kadar kalsium darah semua subjek mengalami peningkatan. Rerata kadar kalsium darah sebelum pemberian susu kedelai 9,71 mg/dl dan setelah pemberian susu kedelai 11,43 mg/dl. Jadi peningkatannya sebesar 1,72 mg/dl (17,85%). Pada subjek kelompok I yang diberi susu kedelai 200 cc selama 14 hari, peningkatan kadar kalsiumnya lebih besar dari pada kelompok II yang tidak di beri susu kedelai. Hasil uji statistik T-test menujukkan adanya perbedaan nyata (p 0,05) pada kadar kalsium serum darah setelah pemberian susu kedelai.
Hubungan antara Status Ekonomi, Status Pendidikan dan Keharmonisan Keluarga dengan Kesadaran Adanya Demensia dalam Keluarga Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1560

Abstract

Dementia in the elderly are often not realized because the onset is not clear and progressive history of their illness but slowly. Patients and families often assume that the decline in cognitive function that occurred in early dementia is a natural thing. Overall status of economic, education andfamily harmony allegedly had a role to knowledge of the incidence of dementia on family members. The study aims to determine the relationship between economic status, education andfamily harmony to the knowledge of the incidence of dementia on family members. This study used cross sectional method. Research subjects were 51 elderly people, one of whom were excluded because of severe hearing loss, making it hard communication time of the study. The method of guided interviews undertaken to obtain the status of education and economic status. APGAR Score is used to determine the level of family harmony and the MMSE (score minimental examination) are used to diagnose dementia. Chi squares analysis used to determine the relationship between variables. The results showed a significant correlation between educational status of the family with awareness of dementia in the family (p = 0.007). APGAR economic status andfamily values are not significantly related to awareness of dementia in the family, with a value of p in sequence are 0.427 and 0.231.Demensia pada usia lanjut sering tidak disadari karena awitannya tidak j elas dan perjalanan penyakitnya progresif namun perlahan. Pasien dan keluarga sering menganggap bahwa penurunan fungsi kognitif yang terjadi pada awal demensia merupakan hal yang wajar. Status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga diduga mempunyai peran terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia pada anggota keluarganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status ekonomi, pendidikan dan keharmonisan keluarga terhadap pengetahuan adanya kejadian demensia terhadap anggota keluarga. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Subyek penelitian sebanyak 51 orang lansia, satu diantaranya dieksklusi karena adanya gangguan pendengaran yang berat sehingga menyulitkan komunikasi saat dilakukan penelitian. Metode wawancara terpimpin dilakukan untuk mendapatkan data status pendidikan dan status ekonomi. Nilai APGAR digunakan untuk menentukan tingkat keharmonisan keluarga dan MMSE (minimentalscore examination) digunakan untuk menegakkan diagnosis demensia. Analisis chi squares digunakan untuk menentukan keeratan hubungan antar variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan bermakna antara status pendidikan keluarga dengan kesadaran adanya demensia dalam keluarga (p=0,007). Status ekonomi dan nilai APGAR keluarga tidak berhubungan yang bermakna kesadaran adanya demensia dalam keluarga, dengan nilai p secara berurutan adalah 0,427 dan 0,231.
Antidepresan Pada Nyeri Neuropati Diabetik Wahyuliati, Tri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetic neuropathy is a most common and troublesome complication of diabetes mellitus. Approximately 20 to 40% of patients with diabetes develop some form of neuropathy. Diabetic neuropathy is a family ofprogressive, degenerative disorders affecting the sensory, motor or autonomic peripheral nerves. Autonomic and motor involvement is less common than sensory neuropathy. Risk factors for the development and progression of diabetic neuropathy include poor glycaemic control, increasing age, undiagnosed type 2 diabetes, long duration of diabetes, cardiovascular disease, peripheral vascular disease, smoking, high alcohol intake, low socioeconomic status and renal or cardiac failure.Control ofpain is one of the most difficult management issues in diabetic neuropathy. The goal oftreatmentfor painful diabetic peripheral neuropathy is to relieve painful symptoms, prevent further tissue damage and improve patient education. Combinations of pharmacological, physical and psychological interventions are likely to attain the optimum level ofpain relieffor most patients. The mainstay therapeutic agents for managing diabetic neuropathic pain are tricyclic antidepressants and anticonvulsants.Neuropati diabetik merupakan komplikasi yang menyulitkan dan paling sering teijadi pada diabetes melitus. Sekitar 20 - 40 % penderita diabetes mengalami berbagai bentuk neuropati. Neuropati diabetik merupakan suatu kelainan degeneratifprogresifyang mengenai saraf tepi sensorik, motorik maupun otonom. Neuropati otonom dan motorik lebih jarang teijadi dibandingkan neuropati sensori. Faktor risiko timbulnya neuropati diabetik meliputi gula darah tak terkontrol, usia, diabetes tipe 2, lamanya menderita diabetes, merokok, alkohol, status sosial ekonomi yang rendah, serta gagal ginjal atau jantung.Penanggulangan nyeri adalah suatu problem paling sulit dalam penatalaksanaan neuropati diabetik. Tujuan pengobatan nyeri neuropati diabetik adalah mengurangi gejala yang ada serta mencegah perburukan neuropati dan kerusakan saraf lebih lanjut. Terapi kombinasi secara farmakologik, fisiologik, dan psikologik memberikan hasil terapi yang optimal dalam mengurangi nyeri neuropati diabetik pada kebanyakan pasien. Pilihan utama untuk penanggulangan nyeri neuropatui diabetik adalah antidepresan trisikik dan antikonvulsan.
Hubungan Aspek-aspek Perawatan Kaki Diabetes dengan Kejadian Ulkus Kaki Diabetes pada Pasien Diabetes Mellitus Dewi, Arlina
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetic foot is one of chronic complications of Diabetes Mellitus. Bad management and care for diabetic foot will lead to become Diabetic Ulcers. Mortality and amputation remain frightening to Diabetic patients. One of the Diabetic foot management in order not to develop further serious problem is Diabetic Foot Care. This study aimed to identifying aspects of Diabetic foot care due to Diabetic foot ulcers in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta. It was a cross sectional study. The research sample were patients with Diabetes Mellitus in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta who met the inclusion criteria and with the number of 21 people for each case and control group using purposive sampling technique. The check list used comprised 6 aspects of Diabetic Foot Care. The data required was then made nominal and analyzed using Chi Square statistical test with degree of significance 95%. The findings showed that there were significant correlations between Diabetic Foot Care aspects with Diabetic Foot Ulcers, except for aspect of routine foot control. The probability value between 0,002 to 0,030 was gained from related 5 aspects. However there was one aspect that did not show significant value of p > 0,050. It was concluded that there was significant correlations between 5 aspects of Diabetic Foot Care with the occurrence of Diabetic Foot Ulcers.Kaki Diabetes merupakan salah satu komplikasi kronik Diabetes. Kaki diabetes yang tidak dikelola dan dirawat dengan baik akan mudah mengalami luka dan cepat berkembang menjadi Ulkus Diabetes. Angka kematian dan laju amputasi masih menjadi momok yang menakutkan bagi para diabetesi. Salah satu upaya pengelolaan kaki diabetes agar tidak menjadi problem yang serius dikemudian hari adalah perawatan kaki diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek- aspek perawatan kaki diabetes yang berhubungan dengan kejadian Ulkus Kaki Diabetes di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.  Jenis penelitian ini adalah penelitian Cross Sectional. Sampel penelitian ini adalah pasien DM di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi dan berjumlah 21 orang untuk masing-masing kelompok kasus dan control dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Check List yang digunakan berisi seputar aspek-aspek perawatan kaki diabetes yang meliputi 6 aspek. Data yang didapatkan kemudian dinominalkan dan diolah dengan uji statistik Chi Square, menggunakan derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara aspek-aspek perawatan kaki diabetes dengan kejadian Ulkus Kaki Diabetes, kecuali untuk aspek kontrol kaki berkala. Dari 5 aspek yang dihubungkan mendapatkan nilai probabilitas antara 0,002 sampai 0,030. Sedangkan 1 aspek lainnya tidak menunjukkan taraf signifikansi karena p > 0,05. Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara 5 aspek perawatan kaki diabetes dengan kejadian Ulkus Kaki Diabetes.
Cardivascular reactivity to earthquake Jenie, Ikhlas Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1593

Abstract

Gempa bumi merupakan suatu stressor mental yang terjadi secara alamiah. Belum diketahui bagaimana respon kardiovaskular terhadap gempa bumi, berapa lama respon tersebut berlangsung, dan seberapa jauh akibat yang ditimbulkan oleh gempa bumi terhadap sistem kardiovaskular. Tujuan penulisan naskah ini adalah untuk mengetahui gambaran dan durasi serta potensial dari pengaruh reaktivitas Kardiovaskuler terhadap gempa bumi. Metode penelitian dilakukan dengan studi literatur terhadap penelitian-penelitian mengenai efek gempa bumi terhadap sistem kardiovaskular yang telah dipublikasikan pada MEDLINE. Tekanan darah dan frekuensi denyut jantung mulai berubah pada awal gempa bumi, dan kemudian naik sebesar 20% untuk tekanan darah sistolik, 46% untuk tekanan darah diastolik, dan 79% untuk frekuensi denyutjantung. Tingginya tekanan darah tersebut bertahan 1-2 minggu pasca gampa bumi, kemudian turun secara bertahap dalam kurun waktu 2 minggu. Peningkatan tekanan darah memanjang hingga 2 bulan pada pasien-pasien dengan mikroalbuminuria. Sementara itu, peningkatan tekanan darah tidak begitu tajam pada pasien-pasien yang mengkonsumsi obat-obat a- dan P-bloker Frekuensi denyut jantung kembali ke nilai awal lebih cepat daripada tekanan darah. Kejadian infark miokard meningkat 3 kali lipat penduduk yang tinggal dekat dengan pusat gempa daripada penduduk yang tinggal jauh dari pusat gempa. Terdapat hiperreaktivitas kardiovaskular terhadap gempa bumi. Hiperreaktivitas kardiovaskular terhadap gempa bumi tersebut bersifat akut dan berpotensi menimbulkan komplikasi infark miokard.Earthquake is a naturally occurring mental challenge. It potentially exerts adverse effects on the cardiovascular system, thus may contribute to the development of cardiovascular diseases. To know pattern and duration of the effect of earthquake on cardiovascular reactivity, and to know the potential effect of earthquake on the cardiovascular system. We did literature search on studies published in MEDLINE database that reported changes in cardiovascular parameters among subjects lived in earthquake affected area. The result of blood pressure and heart rate started to change at the initial trembling preceded the earthquake. Then at the strongest shock, systolic blood pressure increased 20%, diastolic blood pressure rose 46%, and heartbeat was up to 79%. Blood pressure remained high in 1-2 weeks after the quake. It then gradually returned to the baseline by 4 weeks (3 - 5 weeks) after the disaster. This increased blood pressure was prolonged for at least until 2 months aftermath in patients with microalbuminuria. However, it was less pronounced in patients who treated with a- and /3-blocker. The heart rate returned to the baseline level more promptly than the blood pressure. The events of myocardial infarction increased 3-fold in people who lived close to the epicentre. The conclution is cardiovascular hyperreactivity to earthquake has cardiac and vascular pattern. Exaggerated cardiovascular reactivity to earthquake is short term response. Cardiovascular reactivity to earthquake potentially leads to myocardial infarction.
Hubungan Derajat Kepositifan TUBEX TF dengan Angka Leukosit pada Pasien Demam Tifoid Nazilah, Amalia Afiyatun; Suryanto, Suryanto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Salah satu pemeriksaan penunjang untuk diagnosis demam tifoid dengan menggunakan uji serologi TUBEX TF yaitu pemeriksaan diagnostik in vitrosemikuantitatif untuk mendeteksi demam tifoid akut, melalui deteksi spesifik adanya serum antibodi IgM terhadap antigen S. typhi O9 lipopolisakarida. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan derajat kepositifan TUBEX TF terhadap angka leukosit pada pasien demam tifoid. Jenis penelitian adalah observasional analitik untuk mengetahui hubungan derajat kepositifan TUBEX TF terhadap angka leukosit pada pasien demam tifoid dengan desain cross-sectional. Data diambil dari rekam medis RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode Januari 2011-April 2012, didapatkan 86 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dari penelitian ini. Berdasarkan perhitungan statistik dengan uji Spearman didapatkan nilai p = 0,781 (p>0,05) dan nilai correlation coefficient -0,030 yang menunjukkan hubungannya sangat lemah dengan arah korelasi negatif. Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara derajat kepositifan TUBEX TF terhadap angka leukosit pada pasien demam tifoid.Typhoid fever is an acute systemic infection disease caused by Salmonella typhi. One of the inves­tigations for the diagnosis of typhoid fever by using serological test TUBEX TF, is an in vitro diagnostic examination semiquantitatively to detect acute typhoid fever, through the specific detection of serum IgM antibodies toward the antigen S. typhi O9 lipopolysaccharide. This research aims to determine the relation between degree positivity of TUBEX TF toward leukocytes count in patients with typhoid fever. This re­search is observational analytic with cross-sectional design to know relation between degree positivity of TUBEX TF toward leukocytes count in patients with typhoid fever. Data retrieved from the medical records RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta period January 2011-April 2012, found 86 patients who fill up the inclusion and exclusion criteria of the study. Based on statistical calculations obtained with the Spearman test p=0.781 (p> 0.05) and the correlation coefficient value is -0.030 indicating very weak relation with direction of the negative correlation. It can concluded that there was no significant relation between degree positivity of TUBEX TF toward leukocytes count in patients with typhoid fever.
Neuropati Optik Toksik Akut Setyandriana, Yunani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2 (s).1617

Abstract

The aim of the study was to report a case of acute toxic optic neuropathy. A case report of a 29 years old female with acute visual loss in both eyes. There was history of taking multiple drugs about 4 days while in the hospital. We performed visual acuities examination, light projection, color perception, funduscopy, and visual field examinations. The visual acuities were 1/300 on both eyes with bad color perceptions, the other examination were normal. Visual field examination was performed on the third day when the visual acuities were improved, showing severe depression on the both eyes and diagnosed acute toxic optic neuropathy. She is given neurotropic injection once daily, neutotropic tablet twice daily, and acetazolamide tablet 3 times daily. Retrobulber dexamethason injection on second day for 5 days, and continued with dexamethason tablet 1mg four times daily. The patients was consulted to neurology, ENT, internist, and oral medicine department. The visual acuity became better 3/60 in the both eyes on the third days, on the seventh days on the right eye 5/60 and the left eye 4/60. One week later, the visual acuity became 6/12 on the right eye and 6/15 on the left eye, but there was color deficiency in both eyes. Visual field examination of both eyes showed improvement to be moderate depression. The treatment was continued and dexamethason was tapering off. Follow up in one month the visual acuity improved to be 6/7.5 on the right eye and 6/8.5 on the left eye, although there was still green color blind with one eye. Visual field showed mild depression. Concluded a case of acute toxic optic neuropathy treated with steroid injection and orally, and neurotropic agents, there was a good result although not fully recovery.Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk melaporkan laporan kasus yaitu neuropati optic toksik akut. Dilaporkan kasus seorang wanita 29 tahun buta mendadak kedua matanya. Empat hari sebelum datang ke rumah sakit minum beberapa obat. Dilakukan pemeriksaan visus, proyeksi cahaya, persepsi warna, funduskopi, dan lapang pandang. Visus kedua mata 1/300 dengan persepsi warna buruk, pemeriksaan lain normal. Pemeriksaan lapang pandang dilakukan hari ke-3 saat visusnya mulai membaik. Hasilnya menunjukkan depresi berat kedua mata dan didiagnosis neuropati optic toksik akut. Diberikan terapi neurotropik injeksi sekali sehari, neurotropik tablet 2x sehari, dan asetazolamide tablet 3x sehari. Dexamethason injeksi retrobulber diberikan hari kedua selama 5 hari, dilanjutkan dengan dexamethason tablet 1mg 4x sehari. Pasien dikonsulkan ke neurologi, THT, penyakit dalam, dan dokter gigi. Visus hari ketiga membaik menjadi 3/60 pada kedua mata, hari ke- 7 menjadi 5/60 mata kanan dan 4/60 mata kiri, namun didapatkan buta warna pada kedua mata. Seminggu kemudian visus membaik menjadi 6/12 mata kanan dan 6/15 mata kiri. Lapang pandang menunjukkan depresi sedang. Terapi diteruskan dengan dexamethason tablet diturunkan dosisnya. Follow up 1 bulan kemudian menunjukkan perbaikan dengan visus 6/7.5 mata kanan dan 6/8.5 mata kiri, namun masih terdapat buta warna hijau. Pemeriksaan lapang pandang menunjukkan depresi ringan. Disimpulkan bahwa kasus neuropati optic toksik akut diterapi dengan steroid injeksi dan oral serta obat neurotropik, didapatkan perbaikan kondisi meskipun tidak sempurna.

Page 11 of 94 | Total Record : 934


Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue