cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Perbedaan Kadar Endotelin-1 pada Penderita Hipertensi Stadium 1, 2 dan Bukan Penderita Hipertensi Widyatmoko, Agus
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i2.1570

Abstract

Hypertension is a risk factor of cardiovascular disease. Endothelin-1 is a strong vasoconstrictor andrelatedwith angiotensin IIin the arteriapressure regulation. This regulation influence in pathologic condition such as hypertension, congestive heart failure and cronic renal failure. The aim of this study is to compare the levels of endothelin-1 between the patient of hypertension stage 1; stage 2 and no hypertension person. The design of this study is cross sectional. Subjects were resident in the territory of District Health Center 2 Mlati, Sleman, DIY, men and women, aged 18-75 years. Hypertension Stage 1, Stage 2 and no hypertension groups were determined according to Joint National Committee (JNC) 7 criteria. Research subjects used randomly with stratification, fasting at least 8 hours before blood samples were taken for examination to measure the level of endothelin-1. There are 43 patients with hypertension stage 1, 54 patients with hypertension stage 2 and 54 non hypertension person. The difference of endothelin-1 level among groups were analyzed by Anova. This research shows that the increasing levels of endothelin-1 is in a row with increasing of blood pressure in hypertension stage 1 and 2; and the increasing more clear and meaningful in the 50-75 year age of group.Hipertensi merupakan faktor risiko penyakit jantung. Endotelin-1 adalah vasokonstriktor kuat dan berkaitan dengan angiotensin II dalam pengaturan tekanan arteria. Pengaturan ini berpengaruh terhadap kondisi patologis seperti hipertensi, gagal jantung kongesti dan gagal ginjal kronis. Tujuan penelitian ini adalah ingin membandingkan kadar endotelin-1 antara penderita hipertensi stadium 1; stadium 2, dan bukan penderita hipertensi. Rancangan penelitian ini adalah cross sectional. Subjek adalah penduduk di wilayah Kabupaten Puskesmas 2 Mlati, Sleman, DIY, pria dan wanita, usia 18-75 tahun. Hipertensi stadium 1, stadium 2 dan bukan penderita hipertensi ditentukan menurut kriteria JNC 7. Subyek penelitian diambil secara acak dengan stratifikasi, puasa minimal 8 jam sebelum sampel darah diambil untuk pemeriksaan kadar endotelin-1. Ada 43 pasien dengan hipertensi stadium 1, 54 pasien dengan hipertensi stadium 2 dan 54 orang non hipertensi. Perbedaan kadar endotelin-1 antar kelompok dianalisis dengan Anova. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar endotelin-1 maka semakin meningkat tekanan darah pada hipertensi tahap 1 dan 2; dan peningkatan usia lebih jelas dan berarti pada kelompok usia 50-75 tahun.
Anemia pada Usia Lanjut Meida, Nur Shani; Pramono, Ardi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1903

Abstract

Due to relatively high life expectancy (i.e. 71 years old), there is a signifi-cant number of elderly in Yogyakarta (according to Central Bureau of Statis¬ts / BPS, 1998). Many health problems were commonly found in elderly, such as anemia. Despite its prevalence in elderl, anemia is difficult to detect and causes potential health problems. The aim of this study was to reveal tiemia situation in the elderly in Yogyakarta.Subjects of the study were 21 elderly i.e. 12 men and 9 women. Two ml ~enous blood were drawn from antecubital vein of each subject and put into IDT A tube. Laboratory examinations were performed for hemoglobin level, hematocrit and erythrocyte count.The result of the study showed that based on hemoglobine level, anemia was observed in all male and female subjects. However, all subjects were nor- nal based on hematocrit level. In addition, all female subjects were normal, while all male subjects were anemia based on erythrocyte count.Further studies with large series of subjects covering other health prob¬lems related to anemia are recommended.Kelompok usia lanjut di Yogyakarta beijumlah cukup banyak, sebab usia harapan hidup penduduk Yogyakarta termasuk tinggi yaitu rl tahun (menurut Biro Pusat Statistik, 1998). Banyak gangguan yang terjadi seiring dengan bertambahnya usia antara lain anemi. Anemi pada usia lanjut sering teijadi, sukar dideteksi dan dapat mengganggu kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui anemi yang terjadi pada usia lanjut yang dapat mengganggu kesehatannya.Subyek penelitian ini adalah golongan kelompok usia lanjut yang berumur antara 50-75 tahun yang terdiri dari 12 pria dan 9 wanita. Dua ml darah vena yang diambil dari vena mediana cubiti dimasukkan dalam tabung berisi EDTA, selanjutnya diperiksa kadar hemoglobin, hematokrit dan angka eritrosit.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berdasar kadar hemoglobin terdapat anemi pada usia lanjut, tetapi berdasar kadar hematokrit mereka dinyatakan nor¬mal. Adapun berdasar angka eritrosit pada wanita kesemuanya adalah normal, sedangkan pada pria terdapat anemi.Penelitian lebih lanjut dengan melibatkan jumlah subyek yang lebih besar dengan mencakup masalah kesehatan lain yang terkait dengan anemi masih perlu dianjurkan.
Herbal Medicine Pentingnya Mengenal dan Memahaminya Qomariyah, Nurul
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i2.1702

Abstract

Krisis perekonomian yang berkepanjangan, membawa konsekuensi meningkatnya harga obat-obatan modem yang diproduksi oleh pabrik, memacu munculnya alternatif lain dalam pengobatan. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan menggali potensi obat tradisional yang telah digunakan secara turun temurun oleh nenek moyang kita. Usaha untuk mengeksplorasi seluruh potensi sumber daya alam yang ada dicerminkan dengan kuatnya komitmen pemerintah untuk mengembangkan obat tradisional dengan bahan baku yang sebagian besar berasal dari tanaman obat. Masyarakat Indonesia telah lama menggunakan obat-obatan tradisional baik untuk pencegahan maupun untuk pengobatan penyakit-penyakit tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa obat-obat tradisional diakui berkhasiat dan harganyapun masih terjangkau. Ironisnya dikalangan para dokter beberapa diantaranya masih ada yang menganggap bahwa produk tanaman obat hanya berefek sebagai plasebo saja, belum ada data ilmiah yang mendasari pemakaiannya. Melihat fenomena tersebut, maka Fakultas Kedokteran UMY berusaha mengenalkan tentang herbal medicine melalui mata kuliah plihan pengobatan komplementer yang berisi herbal medicine dan akupungktur dalam kurikulum pendidikan SI baik di sistem konvensional, dan juga di blok elektif dalam sistem PBL. Tujuannya untuk membuka wawasan dan memberi kesempatan kepada mahasiwa untuk mengenal dan memahami herbal medicine. Sehingga mahasiswa sebagai calon dokter mempunyai kemampuan menilai kemanfaatan dan keamanan herbal medicine secara objektif serta timbul sikap kritis terhadap permasalahan 3rang muncul dalam bidang herbal medicine.
Imunitas Seluler Malaria Hidayati, Titiek
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i1.1867

Abstract

Malaria is still a majority infection disease in Indonesia. Although the disease have high rate morbidity and mortality, but literature concerning malaria immunology is still few. There is no effective vaccine available against endemic human malaria at present. The aim of this study is to explain new information about cellular immune response of infection malaria.Malaria infection by Plasmodium falsiparum patient who have not immuned can cause patient died. In the body of patient, malaria parasite is a lot of staying in cell, either in hepatosit and also eritrosit. The cellular immunity assumed more antici¬pated to malaria infection compared to the humoral immuned system. T lymphocyt, macrophage and other phagocyt that helping by pro inflammation cytokin, interleukin 2, TNF A and interferon y, are important component [of] cellular immuned system. The direct phagocytosis and microbisidal is an important mechanism to elliminate the parasite by phagocyte.Malaria masih merupakan penyakit infeksi utama di Indonesia. Tingkat morbiditas dan mortalitas malaria di Indonesia masih tinggi, tetapi literatur mengenai imunologi malaria masih sedikit. Sampai saat ini belum ada vaksin malaria yang mampu melindungi masyarakat yang tinggal di daerah endemic. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji imunitas seluler pada infeksi malaria melalui pendekatan kajian pustaka.Infeksi malaria oleh Plasmodium falsiparum pada penderita yang tidak imun dapat menyebabkan kematian. Dalam tubuh penderita, parasit malaria banyak tinggal di dalam sel baik di dalam hepatosit maupun eritrosit. Imunitas seluler diduga lebih berperan sebagai sistem pertahanan penderita terhadap infeksi malaria dibandingkan dengan sistem imun humoral. Sel limfosit T, makrofag dan fagosit dengan dibantu oleh sitokin pro inflamasi, interleukin 2, TNF a dan interferon y, merupakan komponen utama sistem imun seluler. Fagositosis langsung dan mikrobisidal merupakan cara eliminasi parasit yang utama oleh fagosit.
Pengaruh Pemberian Sambiloto (Andrographis paniculata Ness) terhadap Kadar Gula Darah pada Tikus Putih Diabetik Terinduksi Alloxan Orbayinah, Salmah; Haryono, Dedy
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

DM type II is a metabolic disorder caused by the damage of a cells in pancreas. This condition causes the lack of insulin hormone secretion. Diabetes mellitus is characterized with high blood glucose level. The purpose of this study is to find out the effect administration of sambiloto to blood glucose level on alloxan-induced diabetic rats. The method of this study is pre-test, post-test controlled group design. Fifteen Wistar mice, 2 months age, ± 200 grams weight, divided into 3 groups. Negative control (without treatment), positive control (given glibenclamide; 0.1 mg/200grBW), and experiment group (oral administration of sambiloto 135 mg/200grBW), for 10 days. Blood glucose level measured with glucose reagent KIT. One way ANOVA and t-Test were used to analyzed this study. The average blood glucose level before and after given treatment in negative control were 207,47 ± 2,68 mg/dL and 208,59 ± 2,48 mg/dL (P<0,05), in positive control 211,72 ± 2,05 mg/dL and dan 89,39 ± 1,08 mg/dL (P<0,05), and in experiment group 212,37 ± 4,67 mg/dL and 117,62 ± 1,62 mg/dL (P<0,05). This study showed that administration of sambiloto a significantly could be used to decrease blood glucose level on alloxan-induced diabetic rats.DM tipe II merupakan kelainan metabolisme yang disebabkan oleh terjadinya kerusakan pada sel-sel a pankreas, sehingga hormon insulin disekresikan dalam jumlah sedikit. Ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh sambiloto terhadap kadar glukosa darah pada tikus putih diabetik induksi alloxan. Metode penelitian ini adalah pre-test, post-test controlled group design. Lima belas tikus Wistar, usia 2 bulan, berat ± 200 gram, dibagi menjadi 3 kelompok. Kontrol negatif (tanpa perlakuan), kontrol positif (glibenklamide; 0,1 mg/200grBB), dan kelompok uji (pemberian secara oral sambiloto 135 mg/200grBB), selama 10 hari pada tikus diabetik. Glukosa darah total subyek diukur degan reagen KIT glukosa. Data penelitian dianalisis dengan uji ANOVA satu jalan dilanjutkan dengan t-Test. Rata-rata kadar glukosa darah total sebelum dan sesudah perlakuan pada kontrol negatif adalah 207,47 ± 2,68 mg/dL dan 208,59 ± 2,48 mg/dL (P<0,05), kontrol positif 211,72 ± 2,05 mg/dL dan 89,39 ± 1,08 mg/dL (P<0,05), dan kelompok uji 212,37 ± 4,67 mg/dL dan 117,62 ± 1,62 mg/dL (P<0,05). Disimpulkan bahwa sambiloto secara signifikan dapat menurunkan kadar glukosa darah pada tikus putih diabetik induksi alloxan.
Perdarahan Pascapersalinan oleh Karena Retensi Plasenta pada P4a0 Postpartum Spontan, Janin Besar, dengan Hipertensi dalam Kehamilan Brahmana, Ivanna Beru
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 1: January 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180112

Abstract

Perdarahan pascapersalinan pada seorang ibu melahirkan anak keempat, berusia 41 tahun, dimana ketiga persalinan sebelumnya berjalan lancar tanpa komplikasi. Faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang didapat pada pasien ini berupa: kehamilan yang keempat pada usia ibu lebih dari 40 tahun, janin besar, dan adanya hipertensi dalam kehamilan. Hal yang menarik dicermati pada kasus ini adalah: betapapun ketiga persalinan sebelumnya aman lancar, setiap persalinan harus tetap waspada. Yang ternyata pada persalinan keempat ini mengalami perdarahan pascapersalinan yang memerlukan penanganan yang cepat sehingga pasien dapat tertolong. Kewaspadaan terhadap faktor risiko: kehamilan yang keempat dengan taksiran berat janin besar, adanya hipertensi mengharuskan setiap penolong persalinan untuk siaga terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan pascapersalinan. Kasus ini menjadi unik dan perlu untuk pembelajaran pada setiap penolong persalinan adalah kewaspadaan terhadap faktor risiko yang ada pada pasien. Yang ternyata faktor risiko yang telah disebutkan tadi benar-benar terjadi pada pasien. Oleh karenanya dengan mewaspadai faktor risiko, kejadian fatal pada pasien dapat dihindari. Saat terjadi perdarahan pascapersalinan, penanganan dilakukan sesuai dengan manajemen penanganan perdarahan pascapersalinan, yaitu meliputi: masase uterus, pemberian uterotonika, dan pemberian transfusi darah untuk mengembalikan kadar hemoglobin yang normal pada pasien. Pada pasien ini terjadi perdarahan pascapersalinan hingga membutuhkan transfusi darah sebanyak 1250 ml PRC (Packed Red Cell).Dengan mencermati faktor risiko dan penanganan yang tepat, pasien bisa pulang dengan keadaan sehat, dan kontrol kembali dalam keadaan baik.
Perbandingan Tingkat Kecemasan Ibu Menyusui Bekerja dan Tidak Bekerja Puspitosari, Warih Andan; Prasetya, Andhika Bintang
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (s) (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anxiety is dependence, uncomforting feel, appear apprehensive, because something sense of unhappy feeling, but the most source cannot know and the cause is from inside. The women who has breastfeeding is more easy to feel anxiety, this problem cause by hormonal and environment factor. The aim of this research is to be able compare of anxiety levels from breastfeeding mother which occupation and breastfeeding mother which inoccupation. The research was accomplished in Posyandu on Dukuh Sidorejo, Ngestiharjo from February until May 2008 with use cross sectional method. The total sample in this research is 68 respondents with age between 17-40 years old. The data analysis using t-test paired sample. The results of this research showed that breastfeeding mother which occupation, mean value of anxiety level is 17,09, even though breastfeeding mother which inoccupation, mean value of anxiety level is 15,76, so the difference is 1,324. The value result acquire t count is 1,619 and a = 0,05 with probability 0,115. Because the probability 0,115 > 0,05 therefore Ho accepted so can be made the conclusion that the compare of anxiety level from breastfeeding mother which occupation and breastfeeding mother which inoccupation is relative same.Kecemasan adalah ketergantungan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul, karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahui dan berasal dari dalam. Wanita yang sedang menyusui lebih rentan dengan gejala kecemasan, hal itu karena didominasi oleh faktor lingkungan dan hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tingkat kecemasan pada ibu yang menyusui dengan membandingkan ibu yang menyusui dengan bekerja dan ibu menyusui yang tidak bekerja. Penelitian dilakukan di Posyandu yang berada di Dukuh Sidorejo, Ngestiharjo selama bulan Februari sampai bulan Mei 2008 dengan menggunakan metode cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 68 responden dengan rentang usia 17- 40 tahun. Analisis data menggunakan uji t-test paired sample. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ibu menyusui yang bekerja memiliki rata-rata nilai tingkat kecemasan 17,09, sedangkan yang tidak bekerja memiliki nilai tingkat kecemasan 15,76, jadi perbedaan meannya 1,324. Didapatkan hasil nilai t hitung adalah 1,619 dan a=0,05 dengan probabilitas 0,115. Karena probabilitas 0,115 > 0,05, maka Ho diterima sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perbandingan tingkat kecemasan pada ibu menyusui yang bekerja maupun yang tidak bekerja adalah relatif sama.
Pengaruh Serbuk Cabai Rawit (Capsicum frutescens L) terhadap Nafsu Makan dan Berat Badan Anak Tikus Putih (Rattus norvegicus L) Ritonga, Ratna Sari; Indriawati, Ratna
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lost of appetite factor in children approxiantely between 25% and can increase until 40-70% especially in chonic infection and premature infants. It has consequence to reduce their body weight. The aim of this study is to find out the influence of Capsicum frutescens L to appetiteand body weight of Rattus norvegicus L. The samples consisted of 24 Rattus norvegicus L, male and female, devided into 4 groups. every group was given Capsicum frutescens L powder such with 60 mg, 90 mg, I20 mg and one group used for control. Such group was being adapted for one week and then was given the treatment for three weeks. The analized result using Anova test showed that there was significant different between the amount rest of food and body weight increasing of Rattus norvegicus L given Capsicum frutescens L to each treatment group. Among various groups of treatment the most effective dosis is I20 mg.It is concluded that Capsicum frutescens L has the potential effect to stimulate the Rattus norvegicus L appetite and to increase body weight.Faktor kesulitan makan pada anak dialami sekitar 25% usia anak, dan jumlah akan meningkat sekitar 40 - 70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Faktor yang paling banyak menimbulkan kesulitan makan yaitu kurangnya nafsu makan. Kesulitan makan akan menyebabkan berat badan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari serbuk cabai rawit (Capsicum frutescens L) terhadap nafsu makan dan berat badan anak tikus putih (Rattus norvegicus L). Sampel adalah 24 ekor tikus, jantan dan betina, dan dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok diberikan serbuk cabai rawit dengan dosis 60 mg/hari/ekor, 90 mg/hari/ekor, 120 mg/hari/ekor, dan kelompok kontrol. Sampel diadaptasikan selama seminggu, kemudian diberi perlakuan selama 3 minggu. Hasil penelitian menunjukkan terdapat penurunan sisa makanan yang bermakna secara statistik antara jumlah sisa makanan dan peningkatan berat badan Rattus norvegicus L. Serbuk cabai rawit (Capsicum frutescens L) dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan anak tikus putih (Rattus norvegicus L) dengan dosis efektif yaitu 120 mg/hari/ekor untuk meningkatkan nafsu makan dan lebih efektif pada jantan. Disimpulkan bahwa pemberian Capsicum frutescens L dapat meningkatkan nafsu makan dan berat badan Rattus norvegicus L.
Rufaida Al-Asalmiya: Florence Nightingale Muslim di Dunia Islam Khasanah, Uswatun
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1894

Abstract

In this paper will be presented the history of nursing in Islamic society. Rufaida is the first professional nurse in Islamic history. She lived in the Prophet Muhammad (PBUH) time in the 1st century AH/8th century CE. In the history mention that she devoted her life for the society for better health. She went out to the community and tried to solve the problem the social problem that lead to disease as well as she involved in the battle to provide care to the Muslim army. She had all attributes expected of a good nurse, she was kind and empathetic. She was considered as the founder of nursing school and clinic.Pada tulisan ini disajikan tentang sejarah keperawatan dari dunia Islam. Rufaida adalah seorang perawat professional pertama dalam sejarah Islam. Beliau hidup pada masa Nabi Muhammad pada abad pertama hijriah atau abad ke 8 masehi. Didalam sejarah menyebutkan bahwa beliau mencurahkan perhatiannya kepada masyarakat untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Beliau mendatangi masyarakat dan mencoba mengatasi masalah social yang berhubungan dengan kesehatan. Beliau juga terlibat dalam perbagai peperangan untuk merawat tentara Muslim yang terluka. Rufaida memiliki sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh seorang perawat, baik hati dan juga empati. Beliau dianggap sebagai pembangun sekolah perawat dan klinik pertama.
Kuretase Periapikal Pada Gigi Insisivus Lateralis Kanan Atas Dengan Nekrosis Pulpa, Disertai Lesi Periapikal Setyawati, Any
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i1.1692

Abstract

The aim of this case report is to inform the treatment of Periapical Curretage On The Right Maxilla Incisivus Lateralis Necrotizing Pulp with Periapical Lesion after endodontic treatment. A 22 year-old female patient was referred to Conservative Dentistry Clinic Gadjah Mada University, who suffered sometimes from painful symptom in her right anterior maxilla after filling . Objective examination 12 showedpalatinal cavity with deep dentin and after filling on mesial surface, no response to sondasion and vitality test (CE), percussion was positif, palpation, and mobility were negative. Radiograph examination indicated the presence of radiolucency on periapical which no limited area, diameter 4 mm and 7 mm. The diagnosis was pulp necrosis with periapical lesion. Prognosis was good. There was no extraction. The treatment included root canal treatment, periapical curettage, and restoration using porcelain fused to metal crown with pasif dowel. The result was good, the tooth was painless and the radiolucency developed more opaque.Laporan kasus ini bertujuan untuk merawat lesi periapikal pada gigi insisivus lateralis pada maksila kanan dengan nekrosis pulpa disertai lesi periapikal nekrosis pulpa setelah dilakukan perawatan saluran akar. Pasien wanita 22 tahun datang ke klinik konservasi gigi UGM dengan keluhan gigi depan atas kanan bekas tambalan tersebut kadang-kadang terasa sakit. Pada pemeriksaan objektif 12 terdapat kavitas di palatinal kedalaman dentin dan terdapat bekas tumpatan pada bagian mesial. Sondasi negative dan CE negatif, perkusi positif, palpasi dan mobilitas negatif. Pada radiograf terlihat area radiolusen di daerah periapikal, batas tidak tegas, lebar 4 mm dan sepanjang 7 mm. Diagnosis kasus ini nekrosis pulpa dengan lesi periapikal. Prognosis kasus ini baik. Gigi tidak dilakukan pencabutan meskipun terdapat lesi periapikal yang luas. Rencana perawatan yaitu perawatan saluran akar, kuretase apeks, dan restorasi mahkota jaket porselin inti pasak pasif. Hasil perawatan baik, tidak ada keluhan dan area radiolusenberkurang.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue