Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Abses Septum Nasi Fakhriani, Rizka; Amiruddin, Tolkha
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16, No 2: July 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v16i2.4453

Abstract

Abses septum nasi merupakan kasus yang jarang dijumpai. Trauma nasal diketahui sebagai penyebab dari abses septum nasi. Penanganan dini dari penyakit ini sangat penting karena dapat menimbulkan komplikasi yang serius. Pada makalah ini, kami akan melaporkan kasus anak dengan abses septum nasi dengan kecurigaan traumatik. Pasien laki-laki, berusia 9 tahun, datang dengan keluhan hidung tersumbat yang dirasakan sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Keluhan disertai nyeri hidung, keluar sekret dan demam. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan kedua kavum nasi sempit, terdapat pembengkakan septum nasi bilateral dengan permukaan licin, berwarna kemerahan serta terdapat nyeri tekan dan fluktuasi yang konsisten dengan abses septum nasi. Tatalaksana yang dilakukan adalah insisi drainase dan pemberian antibiotik. Pasien kontrol tujuh hari setelahnya dan pemeriksaannya dalam batas normal. Diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat sangat penting pada penyakit ini untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi dan komplikasi berat yang dapat menimbulkan gejala sisa.Nasal septal abscess is uncommon. Nasal trauma is known to be a causative factor for development of nasal septal abscess. Early intervention is important as it can cause serious complications. In this case, we will present a child with nasal septal abscess with suspicion on trauma. A 9-year-old male was presented with nasal obstruction since 5 days before presentation. The patient also complained nasal pain, secretions, and fever. On physical examination, there were bilateral nasal cavity fullness and nasal septum swelling, consistent with a nasal septal abscess. Drainage incision and antibiotic administration were done seven days after interventions, the clinical findings were within normal limit. Early diagnosis and management is important to prevent the spread of infection and severe complications which may cause some sequelae.
Abses Septum Nasi Fakhriani, Rizka; Amiruddin, Tolkha
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16, No 2 (2016): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v16i2.4453

Abstract

Abses septum nasi merupakan kasus yang jarang dijumpai. Trauma nasal diketahui sebagai penyebab dari abses septum nasi. Penanganan dini dari penyakit ini sangat penting karena dapat menimbulkan komplikasi yang serius. Pada makalah ini, kami akan melaporkan kasus anak dengan abses septum nasi dengan kecurigaan traumatik. Pasien laki-laki, berusia 9 tahun, datang dengan keluhan hidung tersumbat yang dirasakan sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Keluhan disertai nyeri hidung, keluar sekret dan demam. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan kedua kavum nasi sempit, terdapat pembengkakan septum nasi bilateral dengan permukaan licin, berwarna kemerahan serta terdapat nyeri tekan dan fluktuasi yang konsisten dengan abses septum nasi. Tatalaksana yang dilakukan adalah insisi drainase dan pemberian antibiotik. Pasien kontrol tujuh hari setelahnya dan pemeriksaannya dalam batas normal. Diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat sangat penting pada penyakit ini untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi dan komplikasi berat yang dapat menimbulkan gejala sisa.Nasal septal abscess is uncommon. Nasal trauma is known to be a causative factor for development of nasal septal abscess. Early intervention is important as it can cause serious complications. In this case, we will present a child with nasal septal abscess with suspicion on trauma. A 9-year-old male was presented with nasal obstruction since 5 days before presentation. The patient also complained nasal pain, secretions, and fever. On physical examination, there were bilateral nasal cavity fullness and nasal septum swelling, consistent with a nasal septal abscess. Drainage incision and antibiotic administration were done seven days after interventions, the clinical findings were within normal limit. Early diagnosis and management is important to prevent the spread of infection and severe complications which may cause some sequelae.
Anosmia and covid-19 in Yogyakarta, Indonesia: a case series Rizka Fakhriani; Asti Widuri
Qanun Medika - Jurnal Kedokteran FK UMSurabaya Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jqm.v5i2.7502

Abstract

ABSTRACTCovid-19 (coronavirus disease 2019) had spread to the whole world. This kind of virus attacks the human respiratory system, and it caused death. In other words, there were many symptoms of Covid-19, which attacks the respiratory system. One of the symptoms was anosmia or smell disorder. This research might provide information about the anosmia in Covid-19 patients. This study aimed to investigate and present a series about anosmia and Covid-19 in Yogyakarta on June 2020. Three cases from three patients of RT-PCR-confirmed SARS-CoV-2-infected patients diagnosed with smell disorder were presented, starting from the symptom until the patients were getting treatments. This research also explained anosmia as one of the symptoms of Covid-19. Anosmia or losing olfactory function or smell disorder which could distract people’s healthy. Then, in this situation, it could be one of the symptoms of Covid-19. Keywords                               : anosmia, smell disorder, covid-19Corresponding Author         : rizkafakhriani@gmail.com
Validity and Reliability of The Indonesian Modification of Score for Allergic Rhinitis Asti Widuri; Rizka Fakhriani
Berkala Kedokteran Vol 17, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.081 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v17i1.10243

Abstract

Abstract: Allergic rhinitis (AR) is a nasal inflammation caused by IgE-mediated reacions after inhaled the allergens. It’s characterized as symptoms of sneezing, airflow obstruction, nasal pruritus, and often clear nasal discharge. The prevalence of AR is about 5-40% in the general population and still rising. Multiple non-instrumental tests for AR were reported though few were validated. Score for Allergic Rhinitis (SFAR) is a valid instrument to screening AR. The purpose of this study was to perform adaptation and cultural translation and validation of the SFAR questionnaire for the Indonesian language. This was a cross sectional study to assess the validity and reliability of the Indonesian modification of Score for Allergic Rhinitis. The study conduct in 59 subjects. The Indonesian modification of SFAR instrument is valid and reliable as an instrument for screening AR with r values ranging from 0.345 to 0.730. Internal consistency shows that Cronbach's alpha is 0.803. The validation and reliability test of Indonesian modification of Score for Allergic Rhinitis was performed and valid and reliable as an instrument for assessing allergic rhinitis. Keywords: Allergic Rhinitis, Score for Allergic Rhinitis, Validity, Indonesian Version.
Amyand’s Hernia: A Rare Case Report Fadli Robby Amsriza; Rizka Fakhriani
Berkala Kedokteran Vol 17, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.424 KB) | DOI: 10.20527/jbk.v17i2.11677

Abstract

Abstract: Amyand’s hernia is described in the inguinal hernia sac as being the presence of an appendix vermiformis. It is a rare condition the incidence is about 1 per cent of all inguinal hernias. It is often diagnosed incidentally during inguinal hernia surgery. The main treatment method of Amyand’s hernia is surgery. We report a case of 63 years old man who presented with right inguinal groin bulge for 1 month with the previous repaired right inguinal hernia 5 years ago. On clinical examination revealed a 6 cmx8 cm firm, nontender, irreponible mass in the right inguinal region. He was diagnosed as right sided irreponible inguinal hernia. He was undergoing the elective surgery. Intra-operative, the hernia sac was laterally found in the inferior epigastric vessels and separated from sperm cord to deep inguinal ring. The hernia sac was opened. A non-inflamed appendix was seen. Appendectomy was performed, and the hernia was repaired by Halsted’s repair. Amyand’s hernia is a rare condition. The correct diagnosis is usually made intraoperative.   Keywords: Amyand’s hernia, appendectomy, hernia repair, inguinal hernia.
PENINGKATAN PENGETAHUAN CUCI HIDUNG PADA TENAGA KESEHATAN Rizka Fakhriani; Fadli Robby Amsriza
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2021: 1. Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Publik
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.851 KB) | DOI: 10.18196/ppm.41.815

Abstract

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang saat ini dikenal dengan nama coronavirus disease 2019 (COVID-19) merupakan isu penting dalam dunia kesehatan pada tahun ini. COVID-19 saat ini menjadi pandemik global termasuk di Indonesia. Hidung dan mulut merupakan tempat masuk virus COVID-19 karena infeksi ini terutama ditularkan melalui inhalasi atau kontak dengan droplet. Mukosa hidung merupakan area yang rentan bagi virus Corona untuk berkoloni karena pembuluh darah yang melimpah, kelenjar musinous dan kelenjar serosa yang menciptakan lingkungan yang lembab. Ekspresi Angiotensin Converting Enzyme-2 (ACE2) ditemukan dilapisan basal epitel skuamosa nonkeratinizing pada mukosa hidung, menunjukkan bahwa coronavirus dapat menginfeksi sel mukosa hidung jika lapisan basal terpapar karena kerusakan barrier mukosa. Kerusakan epitel respiratori, karena infeksi coronavirus dapat terjadi meskipun tanpa gejala klinis, oleh karena itu, penting untuk melindungi saluran napas atas dan mukosa. Cuci hidung direkomendasikan sebagai pencegahan tambahan non-farmakologis untuk membersihakn antigen, mediator inflamasi, mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk diseminasi informasi dan peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan tentang pentingnya menjaga kesehatan hidung dengan cuci hidung di Puskesmas Ngemplak 1, Sleman, DIY. Kegiatan dilaksanakan secara tatap muka langsung sesuai protokol kesehatan pencegahan COVID-19. Kegiatan dimulai dengan pre test kemudian sesi pemaparan materi dan sesi praktik cuci hidung. Kegiatan diakhiri dengan post test untuk mengukur keberhasilan kegiatan dan tingkat pengetahuan peserta. Kegiatan diikuti oleh 23 tenaga kesehatan Puskesmas Ngemplak 1 yang mengikuti kegiatan secara penuh dari awal sampai dengan kegiatan selesai. Terdapat peningkatan nilai post test di bandingkan dengan nilai pre test (100%). Kesimpulan: terdapat peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan tentang pentingnya menjaga kesehatan hidung dengan cuci hidung.
Gambaran Uji Cukit Kulit Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan Gejala Rhinitis Alergi Rizka Fakhriani; Tri Wahyuliati; Asti Widuri
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 2, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.2.2.2020.115-120

Abstract

Latar Belakang: Rhinitis alergi (RA) adalah penyakit saluran napas atas yang disebabkan oleh reaksi inflamasi yang diperantarai IgE setelah adanya pajanan alergen. Uji cukit kulit merupakan tes standar yang digunakan dalam menegakkan diagnosis RA. Uji cukit kulit memberikan informasi keberadaan IgE spesifik terhadap protein dan peptide antigen atau yang dikenal dengan alergen.Tujuan: Mengetahui gambaran hasil pemeriksaan uji cukit kulit pada mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dengan gejala rhinitis alergi.Metode penelitian: Deskriptif melalui metode potong lintang.Hasil: Sebanyak 28 orang dengan gejala rhinitis alergi telah menjalani pemeriksaan uji cukit kulit. dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 21 orang, laki-laki sebanyak 7 orang. Jenis alergen terbanyak yang didapatkan adalah tungau debu rumah dan kacang tanah sebanyak 14 orang (50%). Persentase alergen lain pada hasil uji cukit kulit pada penelitian ini adalah bulu anjing didapatkan pada 13 orang (46,43%),  putih telur 13 orang (46,43%),  udang 12 orang (42,86%), daging sapi 12 orang (42,86%), kuning telur 12 orang (42,86%), kedelai 12 orang (42,86%), coklat 12 orang (42,86%), kopi 12 orang (42,86%), nanas 12 orang (42,86%), kepiting 11 orang (39,29%), cumi 11 orang (39,29%), ikan air tawar 11 orang (39,29%), teh 11 orang (39,29%), kerang 10 orang (35,71%), tongkol 10 orang (35,71%), daging ayam 9 orang (32,14%), serta susu 8 orang (28,57%).Kata kunci: rhinitis alergi, alergen, uji cukit kulit
Laporan Kasus : Metode Kombinasi Modifikasi Ligasi Rubber Band dan Injeksi Sklerotik pada Hemoroid Derajat 1 dengan Menggunakan Paran Injection Ligation for Ambeien Pack (PILA Pack) Fadli Robby Amsriza; Rizka Fakhriani
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 3, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.3.1.2021.1-8

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Hemoroid merupakan penyakit pada regio anorektal yang umum terjadi dan dapat menyerang segala usia. Hemoroid terjadi akibat adanya pelebaran pembuluh darah pada bagian terbawah rektum dan anus. Hemoroid mempunyai gejala adanya perdarahan serta penonjolan pada anus. Diagnosis dan tatalaksana hemoroid yang tepat sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Laporan kasus ini bertujuan untuk menyajikan kasus tatalaksana hemoroid derajat 1.Laporan kasus: Pasien laki-laki, berusia 35 tahun, datang ke poliklinik bedah dengan keluhan perdarahan dari anussejak 4 bulan yang  lalu  yang  memberat  3 minggu terakhir. Perdarahan dari anus menetes berwarna merah segar terutama setelah  buang  air  besar  yang  keras.  Keluhan tidak  disertai  nyeri.  Pada pemeriksaan  fisik  rectal toucher didapatkan tonus muskulospincter ani dalam batas normal, mukosa licin, ampula tidak kolaps, tidak teraba massa. Pada pemeriksaan  anuskopi  didapatkan  lesi  mukosa  berwarna  kebiruan  pada  arah  jam  2.  Berdasarkan  anamnesis, pemeriksaan fisik, dan anuskopi, pasien didiagnosis dengan hemoroid interna derajat 1. Tatalaksana yang dilakukan adalah metode kombinasi modifikasi ligasi rubber band dan injeksi sklerotik dengan menggunakan Paran Injection Ligation for Ambeien Pack (PILA Pack). Pasien kontrol tujuh hari setelahnya dan pemeriksaan regio anorektal dalam batas normal.Kesimpulan: Diagnosis dan pemilihan terapi yang tepat sangat penting dalam penangan pasien hemoroid. Metode kombinasi ligasi rubber band dan injeksi sklerotik dapat menjadi salah satu pilihan terapi yang cukup efektif dalam tatalaksana hemoroid.
DUTCH (Dried Urine Test for Comprehensive Hormones) In Preventing Diseases Related Hormonal Function Asti Widuri; Rizka Fakhriani; Qorry Agustin; Astika Cahyarani
Qanun Medika - Jurnal Kedokteran FK UMSurabaya Vol 6, No 2 (2022): Journal Qanun Medika Vol 6 No 02
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jqm.v6i2.9204

Abstract

Hormones released and absorbed by the human body in a balanced state will help create balance and health, while changes in hormone levels can cause various severe and chronic health problems. Hormone test is a method of measuring hormone levels in the body that can be used to diagnose and treat diseases, monitor patient health as a whole, or prevent the growth of certain health problems. This research might be the information about. the functional hormone test (DUTCH).  This study presented a case of a 47 years old woman with history of chronic dysmenorrhea. The functional hormone testing was carried out on days 19-22 of the menstrual cycle in women with a regular period of 28 days. The result of DUTCH test in this patient were dominant 2-OH that she safe from the symptoms of estrogen dominance and low production of 4-OH, the methylation process was fluent so that the risk of cancer-related to estrogen dominance syndrome was low. Hormone examination through urine is intended to see metabolites (metabolic waste) hormones released through urine. By witnessing the estrogen & progesterone metabolites, it can be seen how much risk a person has Estrogen Dominance Syndrome.
The Use of PILA-Pack: Differences in Length of Stay of Hemorrhoidal Patients Fadli Robby Amsriza; Rizka Fakhriani
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol. 32 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2022.032.01.7

Abstract

Hemorrhoids are a common anorectal disease and can affect all ages. This research aims to specify the differences in Length of Stay (LOS) of hemorrhoidal patients who underwent a modified combined method of rubber ligation and sclerotic injection using Paran Injection Ligation for Ambeien pack (PILA pack) compared to a hemorrhoidectomy. This study consisted of 56 respondents who underwent hemorrhoidectomy, and the other 56 respondents experienced a modified combined method of rubber ligation and sclerotic injection using a PILA pack. Data showed the LOS's average of respondents who underwent hemorrhoidectomy was 47.33 hours or 1.97 days. Meanwhile, respondents' average length of stay who underwent a modified combined rubber ligation and sclerotic injection using a PILA pack was 20.44 hours or 0.85 days. Finally, the T-test results showed a p-value of 0.001 (p<0.05), indicating that there was a statistically significant difference in the average LOS between hemorrhoidal patients who underwent hemorrhoidectomy and hemorrhoidal patients who underwent a modified combined method of rubber ligation and sclerotic injection using PILA pack. Based on the result, it can be concluded that the mean LOS for hemorrhoidal patients receiving haemorrhoidectomy vs. hemorrhoidal patients undergoing a modified technique of rubber ligation and sclerotic injection utilizing the Paran Injection Ligation for Ambeien pack was significantly different.