cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Psychosocial Aspects of Childbearing Arofiati, Fitri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1568

Abstract

Salah satu isu nasional dalam bidang kesehatan adalah tindakan pencegahan terhadap masalah yang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak. Aspek psikososial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesiapan ibu akan kehamilan dan kelahiran (mempunyai anggota keluarga baru). Kehamilan dan kelahiran merupakan kejadian yang berhubungan dengan pengalaman manusia secara bio-psiko-sosial dan budaya. Respon ibu terhadap kehamilan dan kelahiran berbeda-beda, dipengaruhi oleh umur, kesehatan, status sosial ekonomi dan latar belakang budaya. Individu ibu dan keluarga sangat membutuhkan informasi yang cukup agar dapat mempersiapkan dengan baik proses kehamilan, kelahiran (kehadiran anggota keluarga yang baru).One of the health care national issues is the preventive of the problems related with maternal-child. Psychosocial aspect is one factor that will involve the readiness of mother to her pregnancy and childbirth (the readiness of having new family member).Pregnancy and childbirth or childbearing is the event which is closely related with some experiences of human being: bio-psycho-social and cultural. Every mother would has different response to the event of pregnancy and childbirth, depends on the age, health status, socio-economical level, and cultural background. Mother as an individual and family needs enough information for the readiness of pregnancy and childbirth (the readiness of having new family member).
Pembinaan Kepribadian FK UMY: Upaya Menghasilkan Dokter Muslim Soularto, Dirwan Suryo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1901

Abstract

Pendidikan tinggi tidak saja dituntut untuk menghasilkan seorang sarjana yang -.enguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga seorang yang mempunyai kepribadian yang tangguh sehingga keilmuannya benar-benar dapat bermanfaat tanpa timbul kekhawatiran disalahgunakan. Tampak dari kenyataan bahwa ternyata izigginya pendidikan seseorang bukan jaminan tingginya budi pekerti bahkan indeks rrestasi yang cum laude pun tidak menjamin perilaku dan akhlaknya sehari-hari .iga menjadi cum laude. Banyak contoh buruk yang menunjukkan bagaimana seorang y ang menguasai ilmu dan teknologi tidak memberikan manfaat namun sebaliknya menjadi sumber bencana bagi lingkungan sekitarnya.Sesuai dengan misi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yakni melahirkan saijana yang menguasasi ilmu pengetahuan dan teknologi di atas landasan iman dan takwa yang kokoh, sehingga menjadi insan mandiri berwawasan luas, sadar akan keberadaannya dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia yang majemuk, iklas dan sunguh-sungguh di dalam melaksanakan tugas amar ma'ruf nahi munkar, Fakultas Kedokteran UMY menetapkan tujuan untuk dapat menghasilkan dokter yang profesional, Islami bervisi global dan mempunyai kemampuan manajerial.Untuk mencapai semuanya itu selain sebagai tempat pendidikan keilmuan, fakultas kedokteran dituntut untuk berperan dalam pembentukan kepribadain mahasiswanya, sehingga dapat dihasilkan seorang dokter yang profesional dan memiliki pengetahuan luas dengan didasari kepribadian seorang muslim. Sebuah cita-cita mulia yang tentu tidak mudah untuk diwujudkan. Ini merupakan tantangan sekaligus peluang fakultas kedokteran untuk dapat menciptakan dokter plus yakni dokter muslim.
Perbandingan Efek Antiinflamasi antara Ekstrak Pare (M. Charantia) dengan Kortikosteroid terhadap Dermatitis Eksperimental pada Mencit secara Topikal Jenie, Ikhlas Muhammad; Soesatyo, Marsetyawan HNE; -, Praseno
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2003)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v3i2.1700

Abstract

SARS (severe acute respiratory syndrome) represents how confusing the picture of inflammation is. In spite of its ability to protect our body, inflamma¬tion could have some disadvantages. Corticosteroid is one of symtomatically therapy for SARS. Corticosteroids itself has been used for a long time as antiinflammatory drug. But, its adverse reaction such immunocomprimised effect has limited its widely use. It was reported that a and b momorcharin from Pare has antiinflammatory activity. Momorcharin has an ability to prevent antigen-induced limfosit pro¬liferation and reduce the ability of macrofag to fagosit antigen. The aim of this research is to know how good the antiinflammatory effect of Pare comparing with hidrocortison’s is. The subject of this observation are mice as many as 22, which randomly divided into 4 groups. Each group had been injected with S. aureus subcutan. As soon as signs og infection appeared, we treated one group with Pare oint¬ment, one other group with hidrocortison, and 2 groups the rest as positive and negative control. The inflammation reaction in each group had been recorded, clinically and histologically. The datas were assessed with descriptively and qualitatifly analitic. The result was Pare itself had antiinflammatory effect. Topically, it could make inflammation reaction reduced, udema diminished, necrose not widened, healing time shorted and fibrosis prevented. But, still, its effect was not as strong as corticosteroid had. Neverthanless, all mice that had been treated with corticosteroid had died because of sepsis or immunocomprimised state, that Pare wouldn’t had.Fenomena SARS (severe acute respiratory syndrome) mewakili gambaran hebatnya reaksi inflamasi, yang merupakan respon imun bermata dua. Pada satu sisi merupakan alat pertahanan tubuh, namun pada sisi yang lain dapat merugikan. Terapi simtomatis SARS salah satunya adalah pemberian metilprednisolon, yang merupakan golongan kortikosteroid. Sebagai antiinflamasi, kortikosteroid sudah digunakan setengah abad lamanya. Penggunaan kortikosteroid sebagai antiinflamasi dibatasi oleh efek samping yang ditimbulkannya, terutama penurunan status imun/ imunokompromised. Dilaporkan bahwa biji pare (M charantia) -mengandung zat a dan b momorcharin- mempunyai aktivitas antiinflamasi. In vitro momorcharin mampu menghambat proliferasi limfosit terinduksi antigen dan menurunkan fungsi fagosit dari makrofag. In vivo pada tikus mampu menghambat migrasi makrofag dan reaksi hipersensitifitas tipe lambat. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek antiinflamasi antara ekstrak Pare 10% dengan hidrokortison 1% secara topikal terhadap dermatitis eksperimental pada mencit. Subyek penelitian adalah mencit berjumlah 22 ekor, dibagi random menjadi empat kelompok: K (6 ekor), C (7 ekor) dan P (7 ekor,) masing-masing mendapat injeksi subkutan S. aureus 9 x 10,0ul. Terjadi infeksi lokal dengan angka kegagalan 5%. Mencit kelompok C mendapat terapi ointment Hidrokortison 1%, kelompok P oint¬ment ekstrak biji pare 10%, kelompok K tidak mendapat terap i/kontrol positif dan kelompok S (2 ekor) kontrol negatif. Pengukuran meliputi derajat peradangan -secara klinis dan histopatologi- serta kesembuhan yang dicapai. Analitisa data bersifat kualitatif deskriptif. Didapatkan hasil ekstrak biji pare mempunyai efek antiinflamasi. Pemberiannya secara topikal mampu memperlambat reaksi peradangan, mencegah akumulasi sel radang, meminimalisasi udema, mengurangi nekrosis, waktu pemulihan lebih cepat dan menghambat terbentuknya jaringan parut. Tetapi, efek antiinflamasi ekstrak biji pare masih lebih rendah dibandingkan dengan hidrokortison. Meskipun demikian seluruh mencit kelompok C/terapi hidrokortison mati dalam kondisi imunokompromised/sepsis.
Efikasi Ekstrak Daun Srikaya (Annona squamosa) terhadap Kutu Beras (Tenebrio molitor) Kesetyaningsih, Tri Wulandari; Puspadhica, Widha; wirdasari, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1601

Abstract

Leaf extract of Annona squamosa potentially to be a botanical insecticide that more save to the environment. The aim of this research is to know the efficacy of leaf extract of A. squamosa to the adult and larvae of T. molitor. This research is pure experimentally using posttest only control group design. The research is devided in two parts, adult and larvae examination. Each of part consist of 9 groups, there are 7 treatment groups of 100%, 75%, 50%, 25%, 10%, 5%, 0,1% leaf extract, 1 of positive control group (K+) with malathion 0,5% (adult); 5% (larvae) and 1 of negative control (K-) with aquadest. The data compute to determine the mortality rate (%) and then analyzed by one way anova and probitt to know the significancy of difference and to determine the value of LD50 (lethal dose 50) dan LT50 (lethal time 50). The result of the examination to the adult T. molitor show that 5%, 10%, 25%, 50%, 75% dan 100% of leaf extract A. squamosa are more effective than K- group, but less effective than K+. In 0,1% concentration there is not effective. The examination to the larvae stage show that 25% leaf extract most effective among the leaf extract series groups, and not significantly different with K+. All of the leaf extract series groups are significantly different with K-. The value of LD50 is 0,51%; LT50is 8,10 hours in adult andLD00 2,26%; LT5016,10 hours in larvae. The conclution is the leaf extract of A. squamosa is more effective against adult stage of T. molitor than larvae stage. In adult stage, the effectivity of leaf extract preference that high concentration is more effective. But in larvae stage, the most effective concentration is 25% of leaf extract.Daun Annona squamosa berpotensi sebagai insektisida botani, bersifat lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap efikasi insektisida ekstrak daun A. squamosa terhadap dewasa dan larva T. molitor. Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni untuk mengetahui efikasi insektisida ekstrak daun A. squamosa terhadap dewasa dan larva T. molitor. Desain penelitian adalah posttest only control group design. Penelitian terdiri atas 9 kelompok yaitu kelompok perlakuan berdasarkan konsentrasi bahan uji 100%, 75%, 50%, 25%, 10%, 5%, 0,1%, kontrol positif (K+) dengan malathion 0,5% (dewasa); 5% (larva) dan kontrol negatif (K-) dengan akuades. Dihitung angka kematian yaitu % kematian subyek penelitian: jumlah subyek mati/ jumlah subyek tiap kelompok x 100%, hasilnya dianalisis statistik dengan anova satu jalur dan probit untuk mengetahui LD50 (lethaldose 50) dan LT50 (lethal time 50). Hasil uji terhadap stadium dewasa T. molitor menunjukkan bahwa ekstrak daun 5%, 10%, 25%, 50%, 75% dan 100% A. squamosa terbukti efektifjika dibandingkan dengan dengan K-, namun kurang efektifjika dibandingkan dengan K+. Konsentrasi 0,1% tidak efektif dibandingkan dengan kelompok K-. Uji terhadap larva menunjukkan bahwa ekstrak daun 25% tampak paling efektif, tidak berbeda signifikan dengan kontrol positif. Semua konsentrasi ekstrak daun srikaya berbeda signifikan dibandingkan dengan K-. Nilai LD50 adalah 0,51%; LT50 adalah 8,10 jam untuk dewasa dan LD50 2,26% dan LT50 16,10 jam untuk larva. Kesimpulannya adalah ekstrak daun srikaya terbukti lebih efektif terhadap stadium dewasa T. molitor daripada terhadap larva. Efektifitas terhadap stadium dewasa menunjukkan kecenderungan lebih tinggi konsentrasi, lebih efektif, namun pola ini tidak terjadi pada uji terhadap larva. Konsentrasi paling efektif membunuh larva adalah 25%.
Pendidikan Dokter Berbasis Kompetensi dan Moralitas dengan Metode Problem Based Learning pada FK UMY Hidayati, Titiek
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 2 (2004)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v4i2.1753

Abstract

To face the coming era, Islamic Revealed Knowledge is really important because of several reasons: (1). Muhammadiyah University has to produce graduates to fulfill the need of 21st century Indonesian Scholar with nation- ally/intemationally qualification; (2). The increase of Islamic society followed by high quality demand reveals the development of Muhammadiyah Univer¬sity as center of human resources development; (3) Islam as the way of live should be apllied in daily activities, especially as a Muslim scholars gradu¬ated from Muhammadiyah University; (4). There is no clear definition and principles about Islamic medicine and/or other Islamic revealed knowledge in medical filed.
Kejadian Luar Biasa Campak Di SD Pugeran dan SMPN II Kecamatan Mantrijeron Kota Yogyakarta Pasca Gempa September 2006 Hidayati, Titiek
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1 (s).1624

Abstract

The measles outbreak epidemiology research conducted in Pugeran elementary school and state junior high school II Mantrijeron subdistric of Yogyakarta after the earthquake in Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). The aims of this study is to assess the picture of measles outbreaks in Pugeran elementary school and state junior high school II after the earthquake in Yogyakarta. The research method used cross sectional design with analitic type. The collected data survey used questionnaire that filled by researcher and direct observation. Determination of the status measles outbreak used clinical diagnostic guidelines of Indonesia ministry health. Elisa laboratory tests conducted to confirm the cause of seroimunologis outbreak. Data obtained were analyzed to reveal the picture outbreaks, causes and distribution of outbreaks by time, place and person. There were 19 students of600 students, with measles outbreaks composed 15 students in elementary school and 4 students yunior high school subdistrict Mantrijeron in September 2006 (attack rate 3%). There was not found the patient dying or case fatality rate is zero. Clinical manifestations of measles outbreaks were fever (100%), rash (100%), cough (60%) and colds (60%). There weren ’tfound any clinical manifestations of red eyes conjunctivitis or shortness of breath. 19 measles patients consists of 13 men and 6 women. The patient residence covered 13 patients of the Mantrijeron district, 4 patients of Sewon district, and 2 patients of Wirobrajan district. Patient’s blood serology tests showed that rubella immunoglobulin (Ig) G positive, whereas for measles Ig G negative. It can concluded that there has been an outbreak of measles in the post-earthquake Yogyakarta in Yogyakarta.Telah dilakukan penelitian penyidikan epidemiologis kej adian luar biasa (KLB) campak di SD Pugeran dan SMPN II Kecamatan Mantrij eron Kota Yogyakarta setelah terj adinya gempa bumi di Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran KLB campak di SD Pugeran dan SMPN II Kecamatan Mantrij eron Kota Yogyakarta yang terj adi setelah peristiwa gempa bumi di DIY. Penelitian KLB ini merupakan penelitian epidemiologi observasional yang dilaksanakan secara cross sectional dengan metode survey. Survey dilakukan pada 600 siswa di SD Pugeran dan SMPN II Kecamatan Mantrijeron Kota Yogyakarta. Penetapan status KLB campak menggunakan kriteria diagnosis klinik menggunakan pedoman penetapan KLB yang dkeluarkan Depkes RI, juga dilakukan tes laboratorium seroimunologis untuk mengkonfirmasi penyebab KLB. Data yang diperoleh dianalisa untuk mengungkapkan gambaran KLB, penyebab dan distribusi KLB berdasarkan waktu, tempat dan orang. Dari 600 siswa yang disurvey telah terj adi KLB campak pada 19 siswa, 15 siswa di SD Pugeran dan 4 siswa di SMPN II Kecamatan Mantrijeron Kota Yogyakarta pada September 2006 (attack rate 3 %). Tidak diketemukan adanya korban KLB yang meninggal atau case fatality rate adalah nol. Manifestasi klinis KLB campak yang muncul pada para korban adalah demam (100%), rash (100%), batuk (60%) dan pilek (60%). Tidak ditemukan adanya manifestasi klinik mata merah (konjungtivitis) maupun sesak nafas. Dari 19 korban yang mengalami campak terdiri dari 13 pria dan 6 wanita, 13 korban dari kecamatan Mantrijeron, 4 korban dari kecamatan Sewon, 1 korban dari kecamatan kraton dan 1 korban dari kecamatan Wirobrajan. Uji serologi darah penderita menunjukkan bahwa IgG rubella positif, sedangkan IgG untuk measles negative. Berdasarkan hasil uji serologi darah diketahui bahwa penyebab KLB campak adalah rubella. Dapat disimpulkan bahwa telah terj adi KLB campak di Yogyakarta paska gempa bumi di Yogyakarta.
Efek Stres Puasa terhadap Ketebalan Epitel dan Diameter Tubulus Seminiferus Rattus norvegicus Munaya, Nila; Brahmadhi, Ageng; Sakti, Yuhantoro Budi Handoyo
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 1: January 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180107

Abstract

Puasa merupakan stres biologi yang dapat menyebabkan stres oksidatif. Stres oksidatif menyebabkan penurunan spermatogenesis dan berat testis yang terkait dengan tubulus seminiferus. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek puasa terhadap berkurangnya ketebalan epitel dan diameter tubulus seminiferus tikus. Penelitian ini merupakan penelitian analitik eksperimental laboratorium dengan post-test only with control group design. Subjek penelitian adalah tikus putih jantan galur wistar sebanyak 30 ekor dengan berat badan 150-300 g, dan umur 2-4 bulan. Tikus dibagi secara acak menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok perlakuan puasa 10 jam, dan kelompok perlakuan puasa 12 jam. Puasa dilakukan selama 14 hari. Subjek penelitian selanjutnya diterminasi, dieksisi dan ditimbang testisnya, kemudian dilakukan preparasi histologi dengan pewarnaan HE. Selanjutnya dianalisis secara histomorfometrik menggunakan perangkat lunak Image J. Data dianalisis menggunakan MANOVA diikuti uji LSD. Hasil penelitian menunjukkan ketebalan epitel dan diameter tubulus seminiferus pada kelompok perlakuan lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol (p 0,05). Namun, ketebalan epitel dan diameter tubulus seminiferus antara kelompok perlakuan puasa 10 jam dan 12 jam tidak terdapat perbedaan signifikan (p 0,05). Disimpulkan bahwa terdapat efek puasa terhadap berkurangnya ketebalan epitel dan diameter tubulus seminiferus tikus.
Luka pada Leher Akibat Senjata Tajam pada Kasus Bunuh Diri Widagdo, Hendro
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v6i1.1892

Abstract

A young female corpse was found with several wounds on her neck. Judging from what was observed at the scene, the death was suicide. Medically, the truth of the suicide was attested to by the fact that there were no signs of the victim s defensive act, a deep incised wound wasfound on her leftside neck andparallel to it there were two slight wounds. Psychical pressure was suspected occurred on the victim.Dilaporkan seorang wanita yang meninggal dunia dengan luka-luka di leher di sebuah rumah yang dalam keadaan kosong. Pemeriksaan di TKP menunjukkan tanda-tanda dari suatu kasus bunuh diri. Pemeriksaan di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sardjito terhadap jenazah ditemukan perlukaan pada bagian kiri leher yang terdiri dari satu luka iris utama yang fatal dan dua buah luka iris dangkal yang dikenal sebagai luka-luka iris percobaan, semuanya dengan arah yang sejajar dengan arah luka iris utama. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada bagian tubuh yang lain. Korban meninggal akibat luka iris utama pada bagian kiri leher sehingga memutuskan pembuluh darah karotis kiri yang menyebabkan teijadinya perdarahan. Diduga korban mengalami depresi.
Otitis Media Supuratif Kronik Maligna dengan Tetanus Widuri, Asti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1.1656

Abstract

The chronic otitis media is a chronic middle ear infection followed by producing discharge continuously or intermittently, the perforated tympanic membrane and normally with hearing disorder. It is divided into two types, there are 1) the safe type, the infection limited to mucous membrane, normally does not affect the bone, seldom inducing dangerous complication and without cholesteatoma. 2) the unsafe type, the infection passed throught periosteum and often inducing dangerous intra and extracranial complications. Tetanus is an infectious disease that caused by exotoxin produced by Clostridium tetani, the symptom is increasing tonus and skeleton muscle spasm. The spasm begin from masseter muscle and could spreading to all of the body. Respiratory muscle spasm can caused mortality in tetanus infection. During more or less four decades of the antibiotic era, during this era there are many benefit found, including therapy in serious injury that tetanus not become as threatening. But in slighted little injury such as dental infection, ulcer diabetic, intravena tool user, and middle ear infection there were as risk factors of tetanus infection. Unsafe chronic suppurative otitis media that happen erosion bone process can produced anaerobic condition and become a risk factor on Clostridium tetani growth. A case of the chronic suppurative otitis media unsafe type with abcess retroauricular and tetanus infection treated by ENT and Internal department Dr. Sardjito hospital was reported. After sufficient therapy, the tetanus infection was cured and the patient prepared for radical mastoidectomy operation to eradication the focal infection and the risk factor to tetanus infection.Otitis media kronik (OMK) adalah infeksi telinga tengah yang berlangsung lebih dari dua bulan ditandai dengan keluarnya cairan mukopurulen secara terus-menerus, perforasi membran timpani dan penurunan pendengaran, dibagi menjadi duajenis yaitu 1) tipe benigna, jika infeksi terbatas pada mukosa tidak mengenai tulang, jarang menimbulkan komplikasi dan tanpa kolesteatom.2) tipe maligna, jika infeksi menyebabkan erosi tulang (adanya kolesteatom) dapat menimbulkan komplikasi ekstrakranial maupun intrakranial. Tetanus adalah suatu penyakit infeksi kuman Clostridium tetani yang mengeluarkan eksotoksin, ditandai dengan meningkatnya tonus dan spasme otot rangka. Gejala kaku dan kejang otot rangka, biasanya pertama kali mengenai otot-otot-rahang dan leher kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Kematian biasanya disebabkan karena spasme pada otot-otot pernafasan. Selama lebih dari 4 dekade era antibiotik tetanus bukan merupakan ancaman pada trauma besar, tetapi pada luka kecil yang terabaikan seperti infeksi gigi, ulkus diabetik, pemakai alat-alat intravena dan infeksi telinga tengah merupakan faktor risiko infeksi tetanus. Otitis media kronik tipe maligna yang disertai proses erosi pada tulang dapat menimbulkan suasana anaerob dan merupakan faktor risiko untuk pertumbuhan bakteri Clostridium tetani. Telah dilaporkan sebuah kasus tetanus pada pasien Otitis Media Supuratif Kronik tipe maligna dengan abses retroauricular, dilakukan perawatan bersama dari bagian THT dengan bagian UPD dan dilakukan operasi mastoidektomi dengan tujuan untuk pembersihan fokal infeksi dan menghilangkan faktor risiko terjadinya infeksi tetanus.
Evaluasi Kesejahteraan Sekolah dengan Pendekatan Model Sekolah Sejahtera di SMP 24 Malang Prasetyo, Yoyok Bekti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v10i1.1559

Abstract

One of model that can be developed on school health programs is The School Well-being Model. Indicators prosperous school includes four dimensions: school conditions (having), social relationships (loving), the mean self-fullfiment (being), and health status. This study aims to evaluate the condition of SMP 24 Malang based welfare indicators of The School Well¬being Model. Descriptive research design was to determine the school prosper with school welfare conditions. Data collection using the School Health Promotion Survey (SHPS). The condition of SMP 24 Malang is a dusty (73.3%) and noise (61.9%). There are difficulties in doing the task group students (71.3%) and interact with friends (55.5%). There are difficulties in preparing for the exam students (51.8%) and homework (32.8%). Perceived health problems in the past month is feeling tired and weak (42.1%), headache (36.8%) and, insomnia (23.9%). Health promotion schools that need it suggests the hearing conversation program, counseling programs, measures to reduce physical and psychological stress.Salah satu model yang dapat dikembangkan pada program kesehatan sekolah adalah Model Sekolah Sejahtera (The School Well-being Model). Indikator sekolah sejahtera meliputi empat dimensi yaitu: school condition (having), social relationship (loving), mean self-fullfiment (being), dan health status. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kondisi kesejahteraan SMP 24 Malang berdasarkan indikator Model Sekolah Sejahtera. Desain penelitian adalah deskriptif untuk menentukan sekolah sejahtera dengan Kondisi kesejahteraan sekolah. Pengumpulan data menggunakan Survei Promosi Kesehatan Sekolah (School Health Promotion Survey/SHPS). Kondisi sekolah di SMP 24 Malang adalah berdebu (73,3%) dan suara bising (61,9%). Ada kesulitan siswa dalam mengerjakan tugas kelompok (71,3%) dan berinteraksi dengan teman (55,5%). Ada kesulitan siswa dalam mempersiapkan ujian (51,8%) dan mengerjakan pekerjaan rumah (PR) (32,8%). Masalah kesehatan yang dirasakan dalam sebulan terakhir adalah merasa lelah dan lemas (42,1%), sakit kepala (36,8%), sulit tidur (23,9%). Promosi kesehatan sekolah yang perlu disarankan adalah hearing conversation program, program konseling, tindakan untuk mengurangi stres fisik dan psikologis.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue