cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Pewarnaan Gigi Buatan untuk Keperluan Penelitian Mahanani, Erlina Sih
Jurnal Mutiara Medika Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nowadays, regarding the increased of aesthetic demands, the dental staining is a common problem. It can be caused by exogenous or endogenous source. It may adhere directly to the surface, contain within calculus and soft deposit, or incorporate within the tooth structure. Many studies are conducted to evaluate the ability of material or herbal to remove or inhibit dental staining. Therefore it is needed a method to produce the artificial stain for specimen.This article has an objective to give information about the artificial dental stain for research. Combination between chlorhexidine and tea has been reported that it can produce fast and optimum artificial stain. Meanwhile it is needed artificial saliva to stimulate pellicle in the specimen surface so the stain source can attach. The clear acrylic block is used as a specimen and spectrophotometer for measuring the optical density of staining and Lobene score index for visual assessment. Pewarnaan gigi adalah masalah yang seringteijadi, bisa disebabkan faktor dari dalam maupun dari luar, dan dapat bersifat sementara di permukaan, bersatu dengan karang gigi ataupun telah masuk dalam struktur gigi. Banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui kemampuan suatu bahan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya pewarnaan gigi. Oleh sebab itu diperlukan suatu metoda penelitian untuk menghasilkan pewarnaan buatan pada spesimen.Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan suatu gambaran metoda pewarnaan gigi buatan untuk keperluan penelitian. Kombinasi antara teh dan obat kumur chlorhexidine telah banyak diteliti dapat menghasilkan pewarnaan yang cepat dan optimal. Selain itu diperlukan saliva buatan untuk menghasilkanpellicle di permukaan spesimen sehingga sumber pewarna bisa menempel. Digunakan akrilik jernih sebagai spesimen dan spektrofotometer untuk mengukur optical density pewarnaan gigi dan Lobene skor indek untuk penilaian visual.
Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap Interdialytic Weight Gains pada Pasien Chronic Kidney Diseases yang Menjalani Hemodialisis Istanti, Yuni Permatasari
Jurnal Mutiara Medika Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interdialytic Body Weight Gains (IDWG) adalah peningkatan volume cairan yang dimanifestasikan dengan peningkatan berat badan sebagai indikator untuk mengetahui jumlah cairan yang masuk selama periode interdialitik dan kepatuhan pasien terhadap pengaturan cairan pada pasien yang mendapatkan terapi hemodialisis. Peningkatan IDWG melebihi 5% dari berat badan kering dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi seperti hipertensi, hipotensi intradialisis, gagal jantung kiri, asites, pleural effusion, gagal jantung kongestif, bahkan kematian. Berbagai faktor penyebab IDWG baik internal (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, rasa haus, stres, self efficacy), maupun eksternal (dukungan keluarga, sosial dan jumlah intake cairan). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berkontribusi terhadap IDWG pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisis di Unit Hemodialisis RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Responden adalah 48 pasien dari 79 pasien yang menjalani hemodialisis (HD). Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner. Analisis dengan regresi linear sederhana menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara masukan cairan dengan IDWG (r=0,541, p-value = 0,000), dan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, rasa haus, dukungan keluarga dan sosial, self efficacy serta stres dengan IDWG. Disimpulkan bahwa  masukan cairan merupakan faktor yang berkontribusi secara signifikan terhadap IDWG.
Efektivitas Ekstrak Daun Phaleria macrocarpa ( Scheff.) Boerl. sebagai Larvasida Aedes aegypti Nugroho, Taufik Fitriyanto; Kesetyaningsih, Tri Wulandari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i2.1063

Abstract

Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue). Daun mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) memiliki efek larvasida karena mengandung saponin dan alkaloid yang bersifat toksik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun mahkota dewa sebagai larvasida Aedes aegypti, serta mengetahui Lethal Concentration (LC)50, LC90, LC95, Lethal Time (LT)50, LT90, dan LT95. Desain penelitian ini adalah eksperimental murni dengan subyek larva Aedes aegypti (540 larva), dibagi sembilan kelompok: kelompok kontrol negatif (akuades), kontrol positif (Temephos 1 ppm) dan tujuh kelompok perlakuan (2 ,5%, 2%, 1,5%, 1%, 0,5%, 0,25% dan 0,125%). Setiap kelompok terdiri atas 20 ekor dengan replikasi sebanyak tiga kali. Mortalitas larva dihitung setiap 4 jam selama 24 jam. Analisis probit digunakan untuk mengetahui LC50, LC90, LC95, LT50, LT90, dan LT95. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai LC50 = 1,175%, LC90 = 1,840%, LC95 = 2,029%, LT50 =0,811 jam, LT90 = 11,879 jam dan LT95 = 15,477 jam. Ekstrak daun mahkota dewa efektif sebagai larvasida Aedes aegypti. Analisis ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara ekstrak daun mahkota dewa 2,5% dan 2% dengan Temephos 1 ppm. Konsentrasi ekstrak 2,5%, 2%, 1,5%, 1%, dan 0 ,5% berbeda signifikan dengan kontrol negatif (akuades) sedangkan ekstrak 0,25%, dan 0,125% tidak berbeda signifikan dengan kontrol negatif. Ekstrak daun mahkota dewa konsentrasi 2,5% dan 2% sama efektifnya dengan Temephos 1 ppm terhadap larva Aedes aegypti.Aedes aegypti mosquito is the main vector of DHF (Dengue Hemorrhagic Fever). Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) leaf known to have larvicidal effect because content saponin and alkaloid which are toxic. The objective of this research is to determine the effectiveness of Mahkota dewa leaf extract as larvacide Aedes aegypti, as well as knowing Lethal Concentration (LC)50, LC90, LC95, Lethal Time (LT)50, LT90, and LT95. This research was performed by using posttest only control group design. The subject were 540 larvae of Aedes aegypti, divided into nine groups: negative control (aquades), positive control (Temephos 1 ppm) and seven concentration of leaf extract (2.5%, 2%, 1,5%, 1 %, 0,5%, 0,25%, dan 0,125%). Each group consist of 20 larvae with three times replication in every treatment. Larval mortality was calculated every four hours for 24 hours. Probit analysis is used to determine the LC50, LC90, LC95, LT50, LT90, and LT95. The results of this research show that LC50=  0.230%, LC90= 0.286%, LC95= 0.302%, LT50= 0.987 hours, LT90= 12.547 hours, and LT95=  15.827 hours. Anova analysis result show that there is no significantly differences between mahkota dewa leaf extract 2.5 % and 2% with Temephos 1 ppm (p 0,05). Extract concentration 2,5%, 2%, 1,5%, 1%, 0,5% and 0,25% have significant differences to aquades (negative control) (p 0,05). Mahkota dewa leaf extract concentration 0,25% and 0,125% have no significant differences to aquades extract concentration 2.5% and 2 %  is as effective as Temephos 1 ppm to Aedes aegypti larvae.
Profesionalisme dan Professional Behavior Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Kusumawati, Wiwik
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i1.927

Abstract

Profesionalisme dan professional behavior (PB) merupakan hal penting yang perlu dimiliki oleh seorang dokter dan tercermin dalam praktik sehari-hari ketika berinteraksi dengan pasien dan masyarakat. Hal ini sebagai bentuk pertanggungjawaban profesi dalam rangka untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat atau kontrak sosial. Studi ini dilakukan untuk mengetahui profesionalisme dan professional behavior (PB) mahasiswa tahap sarjana, profesi dan pre internship menurut persepsi dosen program studi pendidikan dokter FKIK UMY. Kuesioner tertutup dengan 4 skala Lickert yang berisi 15 atribut atau nilai profesionalisme dan PB, dibagikan kepada responden dosen tetap (35), dosen pembimbing klinik bagian 4 besar (42) dan dokter pembimbing atau supervisor (16) mahasiswa magang. Para responden (anonim) diminta mengisi performance PB mahasiswa tahap sarjana, profesi dan mahasiswa magang. Hasil studi menunjukkan nilai atau atribut PB yang masih perlu diperbaiki pada mahasiswa FKIK UMY tahap sarjana adalah kejujuran terutama dalam ujian, care terhadap orang lain maupun fasilitas belajar dan berbusana muslim dan muslimah yang baik (appearance); tahap profesi adalah disiplin waktu, kompetensi knowledge dan skills, serta tanggung jawab; tahap pre internship adalah disiplin waktu, appearance. Disarankan, untuk keberhasilan pembelajaran PB perlu adanya role model yang baik, sistem penilaian yang terus menerus dan lingkungan belajar yang kondusif. Perlunya dilakukan faculty development untuk mengoptimalkan peran dosen sebagai role model yang baik.
Kadar Glukosa Darah pada Penderita Infark Miokard Akut dengan Diabetes Melitus sebagai Faktor Prediktor Kematian Sari, Rina Puspita; Widyatmoko, Agus
Jurnal Mutiara Medika Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infark miokard akut (IMA) merupakan penyebab kematian pertama di Indonesia. Insiden IMA tergantung pada risiko terjadinya aterosklerosis, salah satunya diabetes melitus (DM). Pada pasien DM, kadar glukosa akan meningkat dan beberapa penelitian melaporkan hubungan antara abnormalitas glukosa dan mortalitas tetapi hingga saat ini belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kadar glukosa darah terhadap mortalitas pada penderita IMA dengan DM. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan melihat data rekam medis 2006-2011 di rumah sakit. Pada 70 kasus yang didiagnosis IMA dengan DM hanya terdapat 38 kasus yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Pasien dibagi dua kelompok berdasarkan kadar glukosa darah saat masuk yaitu Grup 1 (<200 mg/dL) dan Grup 2 (> 200 mg/dL). Outcome pasien juga dilihat dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu baik dan meninggal. Hasil analisis Chi square menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara kadar glukosa darah dengan kematian pada penderita IMA dengan DM (p = 0.653, PR=2.4, CI=0.354-16.258). Pemeriksaan laboratorium juga tidak menunjukkan perbedaan rata-rata yang signifikan kecuali pemeriksaan leukosit. Disimpulkan kadar glukosa darah tidak berhubungan dengan kematian sehingga tidak dapat digunakan sebagai faktor prediktor kematian pada penderita IMA dengan DM. Kata kunci: infark miokard akut, diabetes melitus, glukosa darah, kematian Acute Myocardial Infarction (AMI) is the the first cause of mortality in Indonesia. The incidence of AMI depends on the risk of atheroschlerosis, one of them is diabetes melitus (DM). In DM’s patient, blood glucose level will increase and some research reported the correlation of glucose abnormal with mortality, but it’s not clear. The research aims to know correlation of blood glucose level to mortality in acute myocardial infarction with diabetes melitus patients. This research used cross sectional design by looked at the medical record datas 2006-2011 in hospital. There are 70 cases which diagnosed as AMI with DM, but only 38 cases which fulfilled inclusion and exclusion criterias. Patients divided into 2 Grups depend on the blood glucose level on admission, Grup 1 (<200 mg/dL), Grup 2 (>200mg/dL). We also looked out the patient’s outcome and divided into 2 Grups, recovered and dead. This result by using Chi square analysis does not show a significant correlation between blood glucose level with death in AMI with DM patients (p = 0.653, PR=2.4, CI=0.354-16.258). Laboratory examination also did not show a significant difference of mean except for leucocyte count. The conclusion is blood glucose level has no correlation with death in AMI with DM, so it can’t used as predictor factor of death in patients AMI with DM.
Potensi ADP dan Katalase dalam Ekstrak Air Lidah Buaya (Aloe vera) sebagai Antiinflamasi pada Model Tikus Luka Terkontaminasi Biworo, Agung; Budianto, Windy Yuliana; Agustina, Rismia; Suhartono, Eko
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i1.1054

Abstract

Lidah buaya (Aloe vera) mengandung enzim antioksidan yang dapat menghambat kerja dari mediator inflamasi dan penghilang rasa sakit. Pada penelitian ini akan diukur aktivitas enzim antioksidan askorbat dependent peroksidase dan katalase ekstrak air Aloe vera serta potensinya sebagai antiinflamasi pada tikus yang mengalami luka terkontaminasi. Penelitian ini menggunakan rancangan post test only control group dengan simple random sampling pada 36 ekor tikus yang terbagi atas 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol (P0)  dan perlakuan (P1) merupakan kelompok tikus dengan luka terkontaminasi yang diberikan balutan dengan menggunakan ekstrak air lidah buaya 0,2 mg/g BB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas enzim antioksidan askorbat dependent peroksidase dan katalase masing-masing 37,8 menit-1 dan 3,145 menit-1 dan rata-rata penurunan intensitas warna kemerahan dari eritema pada kelompok yang diberi ekstrak air lidah buaya (Aloe vera) lebih cepat daripada kelompok kontrol. Diismpulkan bahwa ekstrak air lidah buaya berpotensi sebagai antiinflamasi pada model tikus luka terkontaminasi. Aloe vera contained an antioxidant enzyme that can inhibit the work of the mediators of inflammation and pain. With this research, however, will be measured the antioxidant enzyme activity of ascorbic dependent peroxidase and catalase on water extract Aloe vera and its potential as an anti-inflammatory on rat model wound contaminated. This research uses the post test only control group with simple random sampling techniques, with 36 rats were divided into two groups, namely the control and treatment groups. The control group (P0) is a control group and treatment group (P1)  is a group of mice with wounds contaminated given the wrap by using water extracts of Aloe vera 0.2 mg/g BB. In this study it was concluded that the antioxidant enzyme activity of activity of ascorbic dependent and catalase each 37.8 seconds-1 minute-1 and 3,145. In addition, the decrease in intensity of redness of erythema on the group that was given a water extract of Aloe Vera (Aloe vera) is faster than the control group. It can be concluded that the water extract of Aloe vera as anti-inflammatory potential in a mouse model of contaminated wounds.
Profil Protein pada Gelandangan Penderita Psikotik Endang, -; Suwarso, -; Gugun, Adang Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1506

Abstract

Psychotic homeless people with nutrition deficiency and low hygiene- sanitation of lifestyle, have high risk for malnutrition and exposure to the infectious and toxic agents. To identify the nutrition status which is demonstrated by the total protein and albumine level; the intensity of exposure of infectious and toxic agents demonstrated by humoral immunity respon of gamma globuline; and the con-dition being exposed by infectious and toxic agents demonstrated by acute phase of globuline alpha-1, alpha-2, beta globuline. This research conducted was an analytic-descriptive cross sectional research on the protein profile of 31 psychotic homeless people who were clinically healthy at random. The method used was helene-titan gel serum pro-tein electrophoresis with agarose gel. The results of electrophoresis were total protein, albumine, globuline (alpha-1 globuline, alpha-2 globuline, beta globuline, gamma globuline). From February until May 2001, 31 psychotic homeless people who were clinically healthy in Yogyakarta were enrolled in the research randomly. They were adult (100%), males 25 (80,6%) and females 6 (19,4%). The results showed that psychotic homeless people with hypoalbuminemia ( 3,5 gr/dl) were 4 (12,9%); with hyperalpha-1 globuline ( 0,5 gr/dl) was not found; with hyperalpha-2 globuline ( 0,8 gr/dl) 3 (9,7%)); with hyperbeta globuline ( 1,3 gr/dl) was not found; with hypergamma globuline ( 1,6 gr/dl) 16 (51,6%); hyperalbuminemia (4,7 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-1 globuline ( 0,2 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-2 globuline ( 0,5 gr/dl) 7 (22,6%); hypobeta globu¬lin ( 0,7 gr/dl) 2 (6,4%) and hypogamma globulin ( 0,8 gr/dl) was not found. In this research hypergamma globulinemia was the most frequent protein de¬tected; the increase of acute phase protein was relatively small and hypoalbumin¬emia was minimally found. Hypergamma globulin was caused by a condition of active immunity response to antigenic stimulation (the same boostering antigen).Psychotic homeless people with nutrition deficiency and low hygiene- sanitation of lifestyle, have high risk for malnutrition and exposure to the infectious and toxic agents. To identify the nutrition status which is demonstrated by the total protein and albumine level; the intensity of exposure of infectious and toxic agents demonstrated by humoral immunity respon of gamma globuline; and the con-dition being exposed by infectious and toxic agents demonstrated by acute phase of globuline alpha-1, alpha-2, beta globuline. This research conducted was an analytic-descriptive cross sectional research on the protein profile of 31 psychotic homeless people who were clinically healthy at random. The method used was helene-titan gel serum pro-tein electrophoresis with agarose gel. The results of electrophoresis were total protein, albumine, globuline (alpha-1 globuline, alpha-2 globuline, beta globuline, gamma globuline). From February until May 2001, 31 psychotic homeless people who were clinically healthy in Yogyakarta were enrolled in the research randomly. They were adult (100%), males 25 (80,6%) and females 6 (19,4%). The results showed that psychotic homeless people with hypoalbuminemia ( 3,5 gr/dl) were 4 (12,9%); with hyperalpha-1 globuline ( 0,5 gr/dl) was not found; with hyperalpha-2 globuline ( 0,8 gr/dl) 3 (9,7%)); with hyperbeta globuline ( 1,3 gr/dl) was not found; with hypergamma globuline ( 1,6 gr/dl) 16 (51,6%); hyperalbuminemia (4,7 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-1 globuline ( 0,2 gr/dl) 1 (3,2%); hypoalpha-2 globuline ( 0,5 gr/dl) 7 (22,6%); hypobeta globu¬lin ( 0,7 gr/dl) 2 (6,4%) and hypogamma globulin ( 0,8 gr/dl) was not found. In this research hypergamma globulinemia was the most frequent protein de¬tected; the increase of acute phase protein was relatively small and hypoalbumin¬emia was minimally found. Hypergamma globulin was caused by a condition of active immunity response to antigenic stimulation (the same boostering antigen).Perubahan-perubahan sosial yang berlangsung cepat sebagai akibat dari modernisasi, industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, memberikan dampak baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Tidak semua orang mampu beradaptasi terhadap perubahan-perubahan sosial yang terjadi, sehingga perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan ketegangan atau stress pada dirinya yang akhirnya akan menimbulkan suatu gangguan jiwa. Kesehatan jiwa menurut kedokteran adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Seseorang dikatakan sakit apabila ia tidak lagi mampu berfungsi secara wajar dalam kehidupan sehari-harinya, di rumah, disekolah, di tempat kerja atau di lingkungan sosialnya. Meskipun demikian, gangguan jiwa tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan kematian secara langsung. Dewasa ini, terutama di kota-kota besar, banyak terdapat penderita psikotik yang bergelandangan. Hal ini kemungkinan dapat terjadi karena berbagai hal, antara lain tidak memiliki keluarga yang mampu mengurusnya dengan baik, melarikan diri dari rumah atau pusat rehabilitasi gangguan jiwa, dibuang oleh pihak keluarga karena perasaan malu, dan sebagainya. Gelandangan psikotik adalah seseorang yang berkeliaran atau bergelandangan di tempat umum yang diperkirakan oleh karena terganggu jiwanya atau psikotik dan dianggap mengganggu ketertiban atau keamanan lingkungan. Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya penderita psikotik ini melakukan apa saja yang dianggap benar olehnya, antara lain makan dari sisa-sisa makanan yang berhasil diperolehnya baik di pinggiran atau bahkan di tempat sampah, hidup di alam bebas tanpa perlindungan seperti tidur di jalanan, berpakaian seadanya bahkan ada beberapa diantara mereka tidak berpakaian, hidup di lingkungan dengan higiene dan sanitasi yang buruk, dan lain-lain. Dikarenakan gaya hidup penderita psikotik yang sangat ekstrim dibandingkan dengan manusia normal, menimbulkan pertanyaan bagaimanakah status nutrisi dan status kesehatan pada penderita psikotik ini. Pada penelitian ini akan dianalisis fragmen-fragmen protein yang terkandung dalam serum penderita psikotik gelandangan. Protein serum merupakan campuran yang amat kompleks yang mencakup glikoprotein dan berbagai tipe lipoprotein. Pemisahan masing-masing protein dari campuran yang kompleks ini digunakan metode serum protein elektroforesis. Elektroforesis adalah istilah yang dipakai untuk memisahkan protein berdasarkan kecepatan geraknya bila satu aliran elektris melalui cairan berprotein dalam medium pendukung. Kecepatan gerak dipengaruhi oleh besarnya, konfigurasi dan muatan elektris pada molekul.
Efektifitas Antibiotik Golongan Sefalosporin dan Kuinolon terhadap Infeksi Saluran Kemih Triono, Aviv; Purwoko, Akhmad Edy
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i1.994

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. jika tidak diterapi dengan baik, ISK dapat menyebabkan komplikasi berupa infeksi ascenden dan dapat menyerang organ ginjal. Pengobatan infeksi saluran kemih menggunakan antibiotik. Antibiotik yang digunakan untuk terapi ISK diantaranya adalah antibiotik golongan sefalosporin dan kuinilon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas antara penggunaan antibiotik golongan sefalosporin dibandingkan golongan kuinolon pada kasus infeksi saluran kemih berdasarkan lama perawatan di bangsal rawat inap RS Kabupaten Tegal. Desain penelitian adalah penelitian observasional dengan pendekatan case control. Subyek penelitian adalah data sekunder berupa rekam medik pasien rawat inap dengan diagnosis infeksi saluran kemih yang menggunakan pengobatan antibiotik golongan sefalosporin dan golongan kuinolon di Rumah Sakit. Jumlah sampel tiap kelompok adalah 42 sampel. Hasil penelitian didapatkan bahwa lama perawatan ISK menggunakan terapi antibiotik golongan sefalosporin 4.57 ± 2.07 hari, dan lama perawatan menggunakan antibiotik golongan kuinolon 3.95 ± 1.51 hari. Kedua kelompok perbedaaan tidak bermakna ditunjukkan dengan uji statistik Mann whitney ( p 0.05). Disimpulkan bahwa efektivitas lama perawatan pasien ISK dengan antibiotik golongan sefalosporin dan kuinolon tidak ada perbedaan yang bermakna.Urinary tract infection (UTI) is a common term which usually use to represent that there is an invasion of the microorganism in urinary tract. If it does not been treated well, UTI will cause complication like ascenden infection and it can make kidney failure. The therapy for UTI used antibiotic. Antibiotic which used to treat UTI are cephalosporin and quinolon. The study aims to determine the effectiveness between cephalosporin group of antibiotic use compared the quinolone group in the case of urinary tract infection based on duration of treatment in hospital Tegal. The design is an observational study with case control approach. The subjects are a secondary data from medical record of the hospitalization patients with urinary tract infection as their diagnose who have been treated by antibiotic with cephalosporin and quinolon group. The number of the samples for every group are 42 samples. The result of this research showed the duration for UTI treatment use cephalosporin is 4.57 ± 2.07 days and the duration for UTI treatment use quinolon is 3.95 ± 1.51 days. From aboth of that group show there is no significance value which it is showed by Mann Whitney (p 0,05). It was concluded that the effective duration for UTI therapy among cephalosporin with quinolon there is no significance difference.
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Status Pekerjaan terhadap Pemilihan Kosmetik Pencerah Kulit pada Wanita Sari, Rr. Nadya Anditia; Estri, Siti Aminah Tri Susilo
Jurnal Mutiara Medika Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jenis kosmetika yang banyak dipakai saat ini ialah kosmetika jenis pencerah kulit atau lightening cream. Pemilihan pemakaian kosmetik pencerah kulit membutuhkan pemikiran yang kritis sebelum menggunakannya karena efek sampingnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dan status pekerjaan terhadap pemilihan produk pencerah kulit pada wanita. Penelitian merupakan penelitian non-eksperimental dengan pendekatan cross sectional di Desa Tamantirto, Dusun I Geblakan RW 01 RT 04 Tegalwangi Bantul. Sampel penelitian ini adalah wanita berusia 22-55 tahun yang sudah menikah yang ada atau menetap pada dusun tersebut sebanyak 32 orang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan negatif lemah (r= -0,056) yang tidak signifikan dengan nilai p = 0,761 (p>0,05) antara tingkat pendidikan dengan perilaku pemilihan produk pencerah kulit pada wanita, sedangkan uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan positif kuat (r = 0,460) yang signifikan dengan nilai p=0,008 (p<0,05) antara status pekerjaan dengan perilaku pemilihan produk pencerah kulit pada wanita. Disimpulkan bahwa tingkat pendidikan seseorang tidak menentukan perilaku pemilihan produk pencerah kulit pada seseorang seutuhnya. Status pekerjaan seseorang menentukan perilaku pemiilihan produk pencerah kulit di mana wanita yang bekerja lebih banyak menggunakan produk pencerah kulit daripada wanita yang tidak bekerja. Types of cosmetics that is widely used today is kind of lightening cosmetics or skin lightening cream. The selection of skin lightening cosmetics usage requires critical thinking before using it because of its side effects. This study aims to determine the relationship between educational levels and occupational status of skin lightening product selection in women. This study is a non-experimental, cross sectional approach undertaken in the village of Tamantirto, Hamlet I Geblakan RW 01 RT 04, Bantul, Yogyakarta. Samples were taken from women aged 22-55 years who are married or who have settled in the hamlet of 32 people who meet the criteria for inclusion and exclusion. Spearman correlation test analyze showed that there was poor negative correlation (r= -0,056) which wasn’t significant with p value=0,761 (p>0,05) between educational level and enlightenment skin cosmetic electoral behavior in women. While Spearman correlation test analyze showed that there was strong positive correlation (r= 0,460) which was significant with p value=0,008 (p<0,05) between employment statues and enlightenment skin cosmetic electoral behavior in women. It was concluded that educational level of someone doesn’t determine enlightenment skin cosmetic electoral behavior in someone completely. Employment statues of someone determines enlightenment skin cosmetic electoral behavior where employed women uses skin lightening cosmetic more than unemployed women.
Hubungan Antara Pemilik Dan Manajemen Rumah Sakit Santosa, Erwin
Jurnal Mutiara Medika Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The most current concept of organization states that actually the disputes or conflicts are inherent with the establishment of an organization. The highly -potential change for the occurrence of a conflict is the conflict of interests, insights, visions, values, philosophy and different strategies. The causal factors for the occurrence of conflicts in the hospital organization and its problem solving should be thoroughly understood by both the owner and the management of the hospital, hence the management conflict could be performed. In perceiving the conflict, most frequently the persons who are in conflicts use tactics which are disanvantageous to the hospital management and can cause further conflicts. It is therefore, ways of how to solve conflicts should be well mastered. If the existing conflict could be well solved, it will be advantageous for both sides (win-win solution) and could be taken as lessons in the future.Konsep organisasi yang terbaru menyatakan bahwa sebenarnya perselisihan atau konflik adalah melekat (sudah menjadi sifatnya) dengan terbentuknya sebuah organisasi. Perubahan yang sangat potensial untuk terjadinya suatu konflik adalah benturan kepentingan {interest), perbedaan wawasan/visi, nilai, filosofi serta perbedaan strategi. Faktor-faktor penyebab terjadinya konflik dalam organisasi Rumah Sakit serta cara-cara penyelesaiannya, perlu dipahami secara rinci oleh pihak Pemilik maupun pihak Manajemen Rumah Sakit, sehingga manajemen konflik bisa terlaksana. Dalam mensikapi konflik, seringkali pihak yang berkonflik menggunakan taktik-taktik yang akan merugikan organisasi Rumah Sakit dan menyebabkan adanya konflik yang lebih dalam lagi. Sehingga perlu dipahami cara-cara penyelesaian konflik yang baik. Bila konflik yang terjadi dapat diselesaikan dengan baik maka dapat bermanfaat bagi kedua belah pihak (win-win solution) serta dapat diambil manfaatnya sebagai pelajaran.

Page 4 of 94 | Total Record : 934


Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue