cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Aktivitas Antiproliferatif Ekstrak Metanol Daun Pereskia grandifolia Haw terhadap Berbagai Sel Kanker Karim, Aditya Krishar; Sismindari, -
Jurnal Mutiara Medika Vol 11, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pereskia grandifolia (famili Cactaceae) atau biasa dikenal sebagai tanaman Tujuh jarum telah banyak dimanfaatkat masyarakat lokal di Malaysia dan China untuk mengobati berbagai jenis penyakit seperti diabetes, hipertensi, antikanker, antitumor, antiinflamasi dan antirematik. Penelitian ini bertujuan untuk mencari aktivitas antiproliferatif terhadap kultur sel kanker HCT-116, C2C12 dan 293A. Ekstrasi dilakukan secara maserasi dengan menggunakan metanol. Efek antiproliferatif diuji dengan menggunakan reagen WST-1 ((2-(4-iodophenyl)-3-(4-nitro-phenyl)-5-(2,4-disulfophenyl) -2H-tetrazolium monosodium salt)  selama 1, 2 dan 4 jam setelah inkubasi selama 72 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak methanol daun P. grandifolia bersifat antiproliferatif terhadap sel kanker kolon HCT-116 dengan IC50 yaitu 509,83µg/ml (1 jam), 503,60µg/ml (2 jam), 519,24µg/ml (4 jam) tetapi tidak bersifat antiproliferatif terhadap sel C2C12 dan 293A. Hasil ini mengindikasikan bahwa ekstrak methanol daun P. grandifolia bersifat selektif terhadap sel kanker HCT-116.
Perbedaan Hubungan antara Ibu Bekerja dan Ibu Rumah Tangga terhadap Tumbuh Kembang Anak Usia 2-5 Tahun Putri, Dixy Febrianita Titi Pratama; Kusbaryanto, -
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1032

Abstract

Terdapat hubungan antara wanita yang bekerja dengan tumbuh kembang anaknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara profesi ibu sebagai pegawai di perusahaan dan ibu rumah tangga dengan pertumbuhan dan perkembangan anak usia 2-5 tahun. Jenis penelitian ini adalah analytic observational dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian adalah pasangan ibu seorang pegawai di perusahaan dan ibu rumah tangga (istri pegawai pria yang tidak bekerja) dengan anaknya yang berusia 2-5 tahun. Sampel yang digunakan sebanyak 80. Data dianalisis menggunakan uji Chisquare. Hasil uji statistik didapat nilai p=0,012 RR=0,38 (CI 95%: 0,16–0,86) untuk hubungan antara profesi ibu dengan perkembangan anak, sedangkan dengan pertumbuhan anak nilai p=0,330 RR=1,75 ( CI 95%: 0,55–5,51). Hubungan antara profesi ibu dengan pola asuh makan (p=0,120) dan pola asuh stimulus (p=0,172). Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara profesi ibu dengan perkembangan anak, namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara profesi ibu dengan pertumbuhan anak, pola asuh makan, dan pola asuh pemberian stimulus. There is any relationship between working mother with growth and development her child. The objectives of this study are to determine the relationship between mother profession as an employee in the company and the housewife with the growth and development of 2-5 years children. This study is observational analytic with cross sectional approach. The subjects in this study are the mother of an employee in the company and housewife (wife of male employees who are not working) with their children aged 2-5 years. The samples used for as many as 80. The data were analyzed using Chi-square test. Results from statistical tests obtained the p=0.012 RR=0.38 (CI 95%: 0.16-0.86) for the relationship between mother’s profession with child development, while with child growth, p=0.330 RR=1,75 (CI 95%: 0.55-5.51). Relationship between mother’s profession with ate parenting (p=0,120) and stimulation parenting (p=0,172). Based on the result above shows there are significant relationships between mother’s professions with child development, but there’s no significant relationships between mother’s professions with child growth, ate parenting, and also with stimuli parenting.
Hubungan antara Periodontitis, Aterosklerosis dan Stroke Iskemik Akut Wijayanti, Punik Mumpuni; Setyopranoto, Ismail
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i2.1481

Abstract

During the last two decades, there has been an increasing interest in the impact of oral health on atherosclerosis and subsequent cerebrovascular disease. Cerebrovascular diseases or stroke are among the most prevalent causes of death and disablement in industrialized countries. The expression stroke summarizes sudden central nervous deficits of different but always vascular etiologies. Periodontitis has been related to stroke, butfindings have been inconsistent. Chronic infectious diseases, including periodontal disease, were linked to stroke risk. Gingivitis and periodontitis are among the most common human infections. Gingivitis can develop within days and includes inflammatory changes of the gingiva most commonly induced by accumulation of dental plaque.Periodontitis results from a complex interplay between chronic bacterial infection and the inflammatory host response, leading to irreversible destruction of tooth-supporting tissues, with tooth loss as a common end point. Periodontitis is associated with elevated markers of inflammation that are themselves indicators of stroke risk. Bacteria from periodontal pockets can enter the bloodstream during activities such as chewing or tooth brushing, and periodontal pathogens were identified in carotid plaques, but their role in atherogenesis is not yet understood. Selama dua dekade ini, terjadi peningkatan perhatian yang luar biasa terhadap penelitian tentang pengaruh kesehatan mulut dan aterosklerosis yang selanjutnya menyebabkan penyakit serebrovaskuler. Salah satu penyakit tersebut adalah periodontitis yang diduga berhubungan dengan stroke, walaupun demikian beberapa penelitian masih belum ada yang konsisten tentang hubungan tersebut. Penyakit infeksi kronik, termasuk penyakit jaringan periodontal, sudah ada beberapa penelitian yang membuktikan berhubungan dengan faktor risiko stroke. Gingivitis dan periodontitis masih merupakan penyakit infeksi rongga mulut yang sering dijumpai di masyarakat. Gingivitis dapat berkembang dalam beberapa hari dan selanjutnya menyebabkan perubahan inflamasi gingiva dan kemudian terjadi akumulasi plak gigi.Periodontitis merupakan hasil dari mekanisme yang komplek antara infeksi bakteri kronik dan respon inflamasi dari host, dan selanjutnya menyebabkan destruksi yang ireversibel pada jaringan pendukung gigi, dan akhirnya akan menyebabkan kehilangan gigi. Periodontitis sering didapatkan adanya peningkatan petanda-petanda inflamasi, dan hal tersebut juga merupakan infikator dari faktorrisiko stroke itu sendiri. Bakteri yang berasal dari pocket periodontal dapat masuk ke dalam aliran darah selama teijadi aktivitas rongga mulut misalnya pada waktu mengunyah atau gosok gigi, dan bakteri-bakteri periodontal yang patogen dapat diidentifikasi pada plak karotis, tetapi pengaruhnya terhadap proses pembentukan plak aterom (atherogenesis) belum dapat diketahui.
Hubungan antara Tingkat Motivasi dengan Tingkat Partisipasi Kader Posyandu Balita di Kelurahan Karangsewu Galur Kulon Progo Yogyakarta Zuanita, Afrina Rahma; Afandi, Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i2.941

Abstract

Keberhasilan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) sangat ditentukan oleh kinerja kader, karena kader merupakan penggerak posyandu dan hidup matinya posyandu tergantung aktif tidaknya kader. Kader posyandu akan memberikan hasil yang memuaskan bila memiliki motivasi yang baik. Seorang kader yang memiliki motivasi dan kemampuan yang baik dalam menjalankan tugasnya akan menghasilkan kinerja yang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi dengan tingkat partisipasi kader posyandu balita. Desain penelitian ini adalah deskriptif  dengan pendekatan cross sectional dengan analisis data menggunakan uji  statistik korelasi Spearman’s Rank. Penelitian ini menggunakan total sampling method diperoleh 80 responden. Data diperoleh dengan cara pengisian kuesioner oleh responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan tingkat partisipasi kader posyandu balita dengan nilai p=0,000 dan nilai korelasi r=0,615. Motivasi kader posyandu balita tergolong dalam motivasi tinggi dengan prosentase sebesar 78,8% dan tingkat partisipasi kader posyandu balita juga tergolong tinggi dengan prosentase sebesar 71,3%. Disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara motivasi dengan tingkat partisipasi kader posyandu balita di Kelurahan Karangsewu Galur Kulon Progo Yogyakarta.
Keluhan Mata Silau pada Penderita Astigmatisma Dibandingkan dengan Miopia Permatasari, Fitri; Setyandriana, Yunani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i2.1064

Abstract

Astigmatisme merupakan kelainan refraksi dimana pembiasan pada meridian yang berbeda tidak sama akibat kelainan kelengkungan di kornea. Pada mata dengan astigmatisme lengkungan jari-jari pada satu meridian kornea lebih panjang daripada jari-jari meridian yang tegak lurus dimana dalam hal ini keluhan silau bisa terjadi jika kecerahan dari suatu bagian dari inferior jauh melebihi kecerahan yang berlebihan, baik yang terlihat langsung atau melewati pantulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keluhan mata silau pada penderita astigmatisma dibandingkan dengan miopia. Desain penelitian ini adalah penelitian cross sectional dengan metode deskriptif untuk membandingkan ada atau tidaknya kesilauan pada penderita astigmatisma dibandingkan dengan penderita miopia. Sebanyak 68 orang mahasiswa dengan 34 orang penderita miopia dan 34 orang penderita astigmatisma. Hasil penelitian menunjukkan responden astigmatisma yang mengeluh silau berjumlah 28 orang (82,4%) dan yang tidak mengeluh silau berjumlah 6 orang (17,6%), sedangkan responden dengan karakteristik miopia yang mengeluh silau berjumlah 12 (35,3%) dan yang tidak mengeluh silau berjumlah 22 orang (64,7%), sehingga didapatkan kejadian silau 8,167 kali lebih besar pada astigmatisma dibandingkan dengan miopia. Prevalensi astigmatisma yang mengeluh silau (82,4%) dan miopia yang mengeluh silau (35,3%). Disimpulkan bahwa didapatkan keluhan mata silau yang lebih banyak pada astigmatisma dibandingkan dengan miopia. Astigmatisma is refraction disorder where deviation in the meridient is different because of curve disorder in cornea. In astigmatisma, half diameter of curve in one miridian cornea is longer than upright vertical of half diameter miridian. Ambient lighting can be hapened in astigmatisma is the bright inferior has been over lighting either direk vision or reflaktion. This research aims to know ambient lighting on astigmatisma compared by miopia suffere. The design in this reasearch is cross sectional by descriptive method to compare the ambient lighting in astigmatisma patient by myopia patient. The respondent is 68 students and 34 respondent are myopia patient, 34 respondent are astigmatisma patient. The result shows female respondents is 38 students (55,9%) and male respondent is 30 students (44,1%). The astigmatisma respondent are 34 students (50,0%) and myopia respondent are 34 students (50,0%), ambient lighting respondents are 40 students (58,8%) and the respondents who don’t have ambient lighting are 28 students (41,2%). Astigmatisma respondent who have ambient lighting are 28 students (82,4 %) and astigmatisma respondents who don’t have ambient lighting are 12 students (35,3%) and the respondents by myopia characteristic who don’t have ambient lighting are 22 students (64,7%). Astigmatisma prevalents by ambient lighting is 82,4 % and myopia by ambient lighting is 35,3%. It can be concluded that there is ambient lighting in astigmatisma more than myopia.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Ibu Hamil Menyusui secara Eksklusif di Puskesmas Kasihan I Bantul Yogyakarta Suryati, Titiek; Rahmah, Rahmah
Jurnal Mutiara Medika Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan didapatkan penurunan pemberian ASI eksklusif dari 42,4% pada tahun 1997 menjadi 39,5% pada tahun 2002. ASI eksklusif adalah pemberian ASI sampai usia 6 bulan tanpa tambahan suplemen makanan pada bayi. Tujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi ibu hamil dalam pemberian ASI eksklusif. Identifikasi faktornya, antara lain tingkat pendidikan ibu, pekerjaan, pendapatan keluarga, usia, dan jumlah anak. Metode penelitian yang digunakan adalah crosssectional. Data dikumpulkan dengan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil di wilayah Puskesmas Kasihan I Bantul. Sampelnya adalah ibu yang datang untuk memeriksakan kehamilannya di Puskesmas tersebut. Pengambilan sample dilakukan dengan Accidental Sampling. Data dianalisis dengan uji bivariat untuk menggolongkan perbedaan dan hubungan antara ASI eksklusif sebagai variabel dependen dengan beberapa variabel independen, dan selanjutnya diidentifikasi menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi motivasi ibu hamil dalam pemberian ASI eksklusif. Penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu, pekerjaan, pendapatan keluarga, usia, dan dan jumlah anak dengan motivasi ibu hamil dalam pemberian ASI Eksklusif (>0,05).
Hubungan Kadar Yodium Urin dengan Kejadian Anemia dan Tumbuh Kembang Remaja di Daerah Endemik GAKI Yogyakarta Noor, Zulkhah; Vinenza, Elga Ria; Rahmatina, Izza
Jurnal Mutiara Medika Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan pertumbuhan fisik dan seksual serta Anemia pernisiosa masih sering dijumpai pada pasien hipotiroidisme subklinis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan kadar ekskresi iodium urin (EIU) dengan anemia dan tumbuh kembang remaja termasuk indeks massa tubuh, usia menarche dan spermarche remaja di daerah endemik GAKI di Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian observasional, dengan desain secara cross sectional. Responden penelitian sebanyak 59 anak usia 12-16 tahun, terdiri dari 30 anak dari Lemahdadi, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul dan 29 anak dari Karangwuluh, Temon  Kulon Progo. Kadar EIU diukur dengan metode dry digestion di BP GAKI Magelang, pengukuran darah dilakukan di Hi-Lab di Yogyakarta. Pertumbuhan dan perkembangan remaja diperoleh melalui kuesioner, timbangan dan stadiometer. Data dianalisis dengan uji Mann Whitney dan uji korelasi Spearman. Kadar EIU responden termasuk kategori berlebihan dan sangat berlebihan. Persentase tertinggi BMI normal (56,25%) diperoleh pada kelompok EIU optimal. Sebaliknya, persentase IMT kurang tertinggi terdapat pada kelompok EIU berlebih (76,47%)  dan sangat berlebih (58,82%). Usia menarche dan spermarche responden adalah normal. Presentase anemia ditemukan sebanyak 33,90%. Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat EIU dengan BMI, usia menarche dan spermarche dan jenis anemia (p > 0,05). Impaired physical growth, sexual and Pernicious anemia is frequently found in patients with subclinical hypothyroidism. The purpose of this study is to investigate the relationship with the UIE levels of anemia, and growth and development of adolescents, including body mass index, menarche and spermarche of adolescent in two GAKY endemic areas in Yogyakarta. This study is an observational, cross sectional design. Respondents are 59 children aged 12-16 years, consisted of 30 children from Lemahdadi, Bangun Jiwo, Kasihan, Bantul. and 29 children from Karangwuluh, Temon, Kulon Progo. Urinary iodine levels was measured by digestion method in BP GAKY Magelang, blood measurement carried out in Hi-Lab in Yogyakarta. Adolescent growth and development obtained through a questionnaire, the scales and stadiometer. Data were analyzed with Mann Whitney test and Spearman correlation test. The level of UIE of respondents in the two areas of research were excessive and very excessive. Highest percentage of normal BMI (56.25%) obtained at optimal UIE group. In contrast, the highest percentage of less BMI present in excess UIE group (76.47%) and very excess (58.82%). Spermarche and menarche age of respondents were normal. Percentage of anemia was found as 33.90%. It can concluded that there was no relationship between the level of UIE with BMI, age of menarche and spermarche and type of anemia (p> 0.05).
Efektifitas Penerapan Berwudhu dalam Menurunkan Angka Kuman pada Tangan, Mulut dan Hidung Perawat Utami, Vika Habsari Budi; Suryani, Lilis
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i1.1055

Abstract

Tubuh manusia terdapat berbagai macam flora bakteri yang menetap. Pada instansi Rumah Sakit, masih banyak terjadi infeksi nosokomial. Berwudhu (thaharah) adalah membersihkan diri (mensucikan diri) dari hadats dan najis yang melekat pada tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan berwudhu dalam menurunkan angka kuman pada tangan, mulut dan hidung perawat di RS Nur Hidayah Yogyakarta. Penelitian kuasi eksperimental dengan rancangan Pretest-Postest group non control untuk membandingkan parameter kuman Staphylococcus sp dan Streptococcus sp sebelum dan sesudah berwudhu. Terjadinya penurunan jumlah angka kuman ditunjukkan dengan cara menghitung jumlah angka kuman yang telah diusap dari tangan, hidung dan mulut perawat pada media TSA yang telah dikultur masing-masing sebelum dan sesudah berwudhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah angka kuman Staphylococcus sp pada mulut perawat dengan nilai p=0,002 ( p 0,05) dan penurunan jumlah angka kuman pada hidung perawat dengan nilai p=0,000  (p 0,05). Disimpulkan bahwa terjadi penurunan angka kuman yang bermakna sebelum dan sesudah wudhu terhadap kuman Staphylococcus sp pada mulut dan hidung perawat dengan penerapan berwudhu sesuai dengan tatacara yang benar. In the human body there are various kinds of flora bacteria residing. Hospitals in the institution, it happen so many nosochomial infection. Wudhu (thaharah) is cleaned up (purify themselves) from hadats and unclean attached to the human body. This research aims to determine the effectiveness of implementation wudhu in reducing germs on hands, mouth and nose to nurse at Nur Hidayah Hospital in Yogyakarta. This study was quasi-experimental, pretest-posttest non control group design to compare the parameters of Staphylococcus sp and Streptococcus sp before and after wudhu. The decrease in the total number of bacteria was shown by calculating the total microbial count that have been rubbed out of the hands, nose and mouth nurses have on TSA media cultured respectively before and after wudhu. The results of this study indicate that a decline in the total number of bacteria in the mouth nurse Staphylococcus sp with p = 0.002 (p 0.05) and a decrease in the total number of bacteria in the nose nurse with p = 0.000 (p 0.05). Concluded that there was a significant decrease in the number of germs before and after the Staphylococcus sp in the mouth and nose nurse with the application of ablution in accordance with the correct procedures.
Efek Samping Kemoterapi dan Radioterapi pada Sel-sel Spermatogenik dan Spermatozoa Wahyuni, Alfaina
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1507

Abstract

Medical treatment for cancer is a combination of operative treatment, ra-diotherapy and chemotherapy. Theoretically, anticancer agent can kill can¬cer cells. However, it also causes many side effects especially on the normal cells, which have high mitosis activity. One of them is spermatogenic cell. Anticancer agent is included into reproductive toxin. Its working mecha-nism is by the alkylation of biologic molecules. Radiotherapy and chemotherapy reduce the number of spermatogonia Al, spermatogonia B and cause aberation of DNA structures on the next-generation cells including spermatozoa, hence result in the decrease of number of spermatozoa and sperm motility and the increase of the percentage of spermatozoa with abnormal morphology. The effects of radiotherapy and chemotherapy are temporary and reversibel. The cell recovery depends on the type of anticancer agent, its dosage and the length of therapy applied. Spermatogonia stem cells are the most important factors on this process.Tindakan medis yang dilakukan untuk pengobatan kanker adalah kombinasi pembedahan, radioterapi dan kemoterapi. Secara teoritis bahan antikanker bisa membunuh sel kanker, tetapi kenyataannya banyak menimbulkan efek samping terutama pada sel normal yang mempunyai aktivitas pembelahan cepat. Salah satu diantaranya adalah sel-sel spermatogenik. Bahan-bahan antikanker termasuk dalam golongan toksin reproduktif. Mekanisne kerjanya dengan cara mengalkilasi molekul biologis. Pascaradioterapi dan kemoterapi terjadi penurunan jumlah spermatogonia Al dan B dan menyebabkan aberasi struktur DNA pada generasi sel berikutnya termasuk spermatozoa. Akibatnya jumlah dan motilitas menurun dan persentase abnormalitas spermatozoa meningkat. Efek radioterapi dan kemoterapi bersifat temporer dan bisa terjadi pemulihan. Pemulihan sangat tergantung pada jenis bahan antikanker, dosis dan lama pemberian. Sel spermatogonia induk merupakan faktor terpenting dalam proses tersebut.
Hubungan Penebalan Dinding Kandung Kemih pada Ultrasonografi dengan Sedimen Urin Leukosit pada Penderita Klinis Infeksi Kandung Kemih Majdawati, Ana; Amna, Faza Khilwan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i1.995

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi berupa pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme dalam saluran kemih yang meliputi ginjal sampai kandung kemih,diantaranya Sistitis ( infeksi kandung kemih). Ultrasonografi (USG) dasawarsa terakhir ini merupakan pemeriksaan yang sering digunakan sebagai pilihan penunjang diagnostik pada beberapa kasus yang berhubungan dengan infeksi kandung kemih. Sedimen urin leukosit merupakan pemeriksaan semikuantitatif sebagai penunjang diagnosis Sistitis dengan acuan kadar sedimen urin leukosit positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penebalan dinding kandung kemih pada pemeriksaan USG dengan sedimen urin leukosit pada penderita dengan klinis Sistitis. Desain penelitian ini observasional dengan studi cross sectional,menggunakan data sekunder dari catatan rekam medis pasien RS PKU Muhammadiyah I-II Yogyakarta untuk semua kasus ISK periode 1 Juli 2010 sampai 31 Agustus 2011. Data rekam medis yang digunakan adalah subyek penelitian dengan suspek infeksi kandung kemih yang mempunyai hasil laboratorium urin (sedimen urin lekosit) dan tebal dinding kandung kemih potongan transversal dan longitudinal pada pemeriksaan USG. Hasil analisis data dengan uji chi square didapatkan nilai p 0,631, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan penebalan dinding kandung kemih pada USG dengan hasil pemeriksaan sedimen urin leukosit.Urinary Tract Infection (UTI) is a form of infection that involve growth and proliferation of microorganisms in the urinary tract includes kidney to the bladder, one type of UTI is cystitis (bladder infection). Ultrasonography (USG) examination in the last decade is frequently used as a diagnostic support in some cases associated with bladder infection. Examination of leukocyte urine sediment is a semiquantitative test that could be supporting a diagnosis of bladder infection with reference levels of urine sediment positive leukocytes. This study aims to determine the relationship between bladder wall thickening on ultrasonography with urine sediment of leukocytes in patients with clinical bladder infection. The study design was observational with cross sectional study using secondary data from the medical records of PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta I-II for all cases of Urinary Tract Infection in the period July 1, 2010 until August 31, 2011. Medical record data used in this study were research subjects with suspected bladder infection who had a urine laboratory results (urine sediment leucocytes) and bladder wall thickness transverse and longitudinal cuts on ultrasound examination. The results of data analysis with Chi-Square test p-value obtained 0.631. There is no relationship between the thickening of the bladder on  ultrasonography with urine sediment leukocyte. 

Page 6 of 94 | Total Record : 934


Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue