cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Hubungan Gambaran Foto Thorax dengan Hasil Pemeriksaan Sputum BTA pada Pasien dengan Klinis Tuberkulosis Suganda, Haqqi Pradipta; Majdawati, Ana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i1.1051

Abstract

Tuberkulosis di Indonesia menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Diagnosis penunjang TB paru dapat ditegakkan dengan ditemukannya kuman Mycobacterium tuberculosis di dalam sputum atau jaringan paru biakan, namun tidak ditemukan di semua pasien Tuberkulosis sehingga harus ada pemeriksaan tambahan yaitu pemeriksaan foto ronsen thorax untuk mendiagnosis Tuberkulosis paru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hasil pemeriksaan gambaran foto thorax pada dengan hasil pemeriksaan sputum BTA pada pasien dengan klinis Tuberkulosis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder dari catatan rekam medis pasien RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta untuk semua kasus Tuberkulosis periode Januari 2010- Desember 2012. Data rekam medis yang digunakan adalah subyek penelitian pasien dengan klinis Tuberkulosis yang mempunyai hasil pemeriksaan sputum BTA dan radiologi toraks. Jumlah sampel sebanyak 51 pasien. Analisis data menggunakan uji Pearson Chi-Square. Hasil uji chi square didapatkan nilai p 0,000 (p 0,05), dengan r=0,470. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang cukup erat antara gambaran foto thorax dengan hasil pemeriksaan sputum BTA pada pasien dengan klinis Tuberkulosis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. In Indonesia, tuberculosis become one of the most common cause of death after heart dissease and respiratory track dissease. Pulmonal tuberculosis can be diagnosed by finding Mycobacterium tuberculosis in the sputum or pulmonal tissue culture. But can’t be found at all of the tuberculosis patient’s, so must there any additional chest radiology examination to diagnose pulmonal tuberculosis. This research aims to know the correlation between chest radiograph with the result of sputum’s acid-fast bacilli examination in patient whose had clinical manifestation of Tubercculosis in PKU Muhammadiah Hospital, Yogyakarta. This research uses observational analitic method, with cross sectional approach, using secondary data from the medical records of PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta for all cases of tuberculosis in the period january 2010-December 2012. Medical record data used in this study were research subjects whose had clinical manifestation of Tubercculosis, sputum’s acid-fast bacilli smear result and Chest Radiograph result. The sampel total is 51 subjects. Analizyng data using Pearson ChiSquare. The results of Chi-Square test p-value obtained p 0,000 ( 0,05). R=0,470. It was concluded that there is a sufficiently close relationship between chest radiograph with the result of sputum’s acid- fast bacilli smear examination in patient that had clinical manifestation of Tubercculosis in PKU Muhammadiah Hospital, Yogyakarta.
Problem Based Learning: Alternatif Metode Pembelajaran Inovatif Pendidikan Dokter Kusumawati, Wiwik
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i1.1503

Abstract

Problem Based Learning atau PBL merupakan metode pembelajaran inovatif dalam kurikulum pendidikan dokter yang dinilai sesuai dengan tuntunan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya dibidang kedokteran. Berbeda dengan metode pembelajaran konvensional yang teacher centered dan menempatkan mahasiswa pada posisi pasif, maka metode PBL ini dengan strategi pendekatan SPICES (student centered, problem based, integrated teaching, community ori­ented, early clinical exposures dan self directed learning) menuntut keaktifan dari mahasiswa untuk belajar mandiri berdasarkan masalah secara terintegrasi dan berorientasi pada kebutuhan komunitas, serta sedini mungkin terpapar dengan kasus- kasus klinis. PBL dilaksanakan dalam bentuk diskusi kelompok atau small group discussion sekitar 10 mahasiswa tiap kelompok yang akan dibimbing oleh satu orang tutor. Dosen atau tutor dalam sistem PBL ini akan berfungsi sebagai fasilitator. Untuk membantu memecahkan massalah dalam diskusi kelompok dikenal istilah seven jump atau 7 langkah yang harus ditempuh meliputi: clarify term and con­cept, define the problem, analyze the problem, makae a systematic inventory, formula learning objectives, collect additional information, synthesize and check.
Perbandingan Korelasi Penentuan Tinggi Badan antara Metode Pengukuran Panjang Tibia Perkutaneus dan Panjang Telapak Kaki Aflanie, Iwan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i3.991

Abstract

Identifikasi adalah menentukan identitas orang yang masih hidup atau sudah meninggal, berdasarkan temuan khusus yang terdapat pada orang tersebut. Penentuan tinggi badan memiliki arti yang penting dalam situasi dimana yang harus diperiksa hanya berupa potongan-potongan atau rangka tubuh, atau hanya sebagian dari tulang. Perkiraan tinggi badan bisa diperoleh dengan menggunakan formula regresi. Keakuratan dari formula regresi dalam menentukan tinggi badan seseorang dipengaruhi oleh pola dan proporsionalitas antara berbagai macam takaran dari berbagai bagian tubuh. Telah diketahui bahwa konsep alometri. Hubungan alometri diantara tulang – tulang adalah sistematis tapi tidak pasti. Pola penelitian yang digunakan adalah analisis cross sectional. Hasil yang dipantau berupa dalam bentuk persamaan regresi dan tingkat korelasi yang koefisien pada kedua bentuk persamaan. Hasil analisi penelitian diselesaikan dengan cara membandingkan koefisien korelasi dari metode pengukuran tibia perkutaneus dan metode pengukuran panjang telapak kaki. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa metode pengukuran panjang tibia perkutaneus memiliki korelasi yang lebih kuat terhadap tinggi tubuh seseorang dibandingkan metode pengukuran panjang telapak kaki. Koefisien korelasi (r) pada metode pengukuran tibia perkutaneus senilai 0,756 untuk tibia kanan dan 0,726 tibia kiri, dengan bentuk persamaan regresi y = 68,499 + 2,632x untuk tibia kanan dan y = 71,921 + 2,529x untuk tibia kiri. Koefisien korelasi (r) untuk metode pengukuran telapak kaki senilai 0,717 untuk telapak kaki kanandan 0,714 untuk telapak kaki kiri dengan bentuk persamaan regresi Y = 73,613 + 3,781X untuk telapak kaki kanan dan y = 74,214 + 3,756x untuk telapak kaki kiri.
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Kejadian Penurunan Daya Ingat pada Lansia Khasanah, Novia; Ardiansyah, Muhammad
Jurnal Mutiara Medika Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi terjadinya demensia pada lansia di Indonesia semakin meningkat. Demensia dapat terjadi karena berbagai faktor. Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang memiliki hubungan dengan kejadian demensia pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dengan kejadian demensia pada lansia. Penelitian ini dilaksanakan di Panti Sosial Tresna Wredha Yogyakarta unit Abiyoso dan Budiluhur. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional. Sampel yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling berjumlah 32 orang lansia usia 70-80 tahun, dengan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu, dengan menggunakan data dari kuesioner, serta instrument MMSE (Mini Mental State Examination) untuk mengetahui derajat demensia pada respoden tersebut. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji korelasi Spearman dan hasil perhitungan didapatkan hasil korelasi negatif kuat (r=-0,686), dengan nilai p 0,01 (p<0,05), maka ada hubungan yang signifikan. Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kejadian demensia pada lansia. The prevalence of dementia in Indonesia is increasing. Dementia is caused by many factors. Level of education is one of the dementia related factors in elderly. The aim of the research is to identify the correlation between level of education and dementia in elderly. The location of research at Panti Sosial Tresna Wredha Abiyoso and Budiluhur unit. This research is analytic observational which is using cross sectional study. Sampel is taken with purposive technique sampling, 32 elderly 70 – 80 years old, with inclution and exclution  criteria. This research is using data from questioner, and also MMSE (Mini Mental State Examination) to asses their dementia degree. The data analysed with Spearman correlation. The result of correlation is r=-0,686, and p value = 0,01 which is p value < 0,05, it means that the correlation is significant. Based on the result obove show there is significant correlation between level of education with dementia.
Khasiat Obat Nyamuk Bakar Berbahan Aktif Pyrethroid terhadap Culex quinquefasciatus pada Berbagai Kondisi Ruangan Kesetyaningsih, Tri Wulandari
Jurnal Mutiara Medika Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lymphatic jilariasis is an important disease caused by filarial nematodes and transmitted by mosquito bites; although the disease is not fatal, it can cause a permanent disability. One important action to prevent the infection is the use of lotion repellent, mosquito coil or electrics, etc. In practice, the use of mosquito coil in the community is done in different room conditions, such as wind speed, temperature, etc. This study was to find out the efficacy of several mosquito coils which contain pyrethroids as active agent to Aedes aegypti in the different room conditions.This was a true experimental study, consisting of four groups i.e. three treatment groups of metofuthrin, d-allethrin, transfuthrin and one group as control. Each group was treated in the following conditions: 1) In a lxlxlmi box (AC, non-AC); 2) The distance of mosquito soil and mosquito cage is 0.05 m (AC, non AC); and 3). The distance of mosquito coil and mosquito cage is 1 m (AC, non-AC). The subjects were 25 Culex quinquefasciatus mosquitoes for each group with 2 replications. The observation was carried out by counting knockdown mosquito in every 5 minute during 50 minutes of exposure. Data was analyzed using Probit Analysis to determine knockdown time 50 and 90 (Kd T50 and Kd T90).The results of this study showed that Kd T50 and Kd T90 from three kinds of mosquito coil were different depending on room condition. In a closed room, mosquito coil was more efficacious in AC than non-AC room with Kd T50 13,69 in AC room and 17,71 in non-AC room; Kd T90 25,46 in AC room and 32,28 in non-AC room. In an open room, the mosquito coil was more efficacious in non-AC than in AC room in both distance of 0,5 and 1 meter between mosquito coil and mosquito cage. In distance intervention of 0.5 m, Kd T5018,35 in AC room and 17,71 in non-AC room; Kd T90 18,38 in AC room and 19,51 in non-AC room. In distance intervention of 1 m, Kd T50 45,15 in AC room and 25,12 in nonAC; Kd T90 115,03 in AC room and 46,60 in non-AC room. Mosquito coil is not efficacious in AC room with 1-meter distance between mosquito coil and mosquito cage with Kd T50 45,15 and Kd T90 115,03. In conclusion, mosquito coil was more efficacious in non-AC than AC room. Filariasis limfatik adalah penyakit penting yang disebabkan oleh cacing filariadan ditularkan melalui gigitan nyamuk; meskipun tidak berakibat fatal, namun dapat menyebabkan kecacatan permanen. Upaya penting untuk mencegah infeksi adalah penggunaan repelen atau obat nyamuk bakar (ONB) atau elektrik, dll. Pada kenyataannya penggunaan obat nyamuk bakar di masyarakat dilakukan pada kondisi lingkungan yang berbeda, dalam hal kecepatan angin, suhu ruangan dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap khasiat beberapa obat nyamuk bakar berbahan aktif pyrethtum terhadap nyamuk Aedes aegypti pada berbagai kondisi lingkungan ruangan.Penelitian ini bersifat eksperimental mumi, terdiri atas 4 kelompok yaitu kelompok perlakuan metofluthrin, d-allethrin, transfluthrin dan kontrol negatif. Masing-masing kelompok diujikan pada kondisi: 1) Dalam kotak 1 x 1 x 1 m3 (AC, non AC); 2) Jarak antara obat nyamuk dengan sangkar nyamuk 0,05 m (AC, non AC); 3) Jarak antara obat nyamuk dengan sangkar nyamuk 1 m (AC, non AC). Subyek penelitian adalah nyamuk Culex quinquefasciatus, 25 ekor tiap kelompok penelitian, replikasi 2 kali. Pengamatan dengan menilai nyamuk knock down setiap 5 menit selama 50 menit pemaparan. Data dianalisis dengan Analisis Probit untuk menentukan Knock-down Time 50 dan 90 (Kd T 50 dan 90).Hasil penelitian menunjukkan Kd T50 maupun Kd T90 dari ketiga jenis obat nyamuk berbeda, tergantung pada kondisi ruangan. Pada ruangan tertutup, ONB lebih berkhasiat pada ruangan berAC daripada non-AC, dengan KdT50 13,69 (ber-AC) dan 17,71 (non-AC); Kd T90 25,46 (ber-AC) dan 32,28 (nonAC). Pada ruangan terbuka, ONB lebih berkhasiat pada suhu ruangan non-AC daripada ber-AC baik pada jarak antara ONB dan sangkar nyamuk 0,5 m maupun 1 m. Pada perlakuan jarak 0,5m, KdT50 18,35 (berAC) dan 17,71 (nonAC); KdT90 18,38 (berAC) dan 19,51 (nonAC). Sedangkan pada perlakuan jarak 1 m, Kd T50 45,15 (berAC) dan 25,12 (nonAC); Kd T90 115,03 (berAC) dan 46,60 (nonAC). Obat nyamuk bakar tidak berkhasiat pada ruang berAC dengan jarak ONB dan sangkar nyamuk 1 m dengan KdT50 45,15 danKdT90 115,03. Secara umum dapat disimpulkan bahwa ONB lebih berkhasiat pada suhu ruangan nonAC daripada berAC.
Pengaruh Rebusan Daun Sukun (Artocarpus altilis) terhadap Kadar Trigliserida, Kolesterol Total dan Low Density Lipoprotein (LDL) Serum Darah Tikus Putih (Rattus norvegicus) Pramono, Ardi; Kesuma, Solikah Ulfa; Tazkiana, Nurul Hikma; Yunita, Rahma Alma
Jurnal Mutiara Medika Vol 11, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya asupan SAFA (saturated fatty acid)  dapat meningkatkan risiko penyakit yang dipicu oleh dislipidemia, termasuk penyakit jantung koroner.Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid, yang antara lain ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol, trigliserida, dan low density lipoprotein (LDL). Daun sukun (Artocarpus altilis) memiliki kandungan flavonoid, yang diperkirakan mempunyai efek menurunkan kadar trigliserida,kolesterol total, dan LDL. Penelitian ini akan mengkaji pengaruh rebusan daun A. altilis terhadap kadar trigliserida, kolesterol total dan LDL darah tikus putih (Rattus norvegicus) . Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental murni, dilakukan selama 28 hari pada tikus putih (Rattus norvegicus)  berjumlah 24 ekor, yang terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol, dan tiga kelompok perlakuan (pemberian rebusan sebanyak 1,4 ml; 2,8 ml; 4,2 ml). Profil lipid yang diukur adalah kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida. Serum darah diambil sebelum induksi minyak babi, 1 minggu setelah diinduksi minyak babi, dan 2 minggu setelah diinduksi minyak babi. Analisis dengan paired T-testmenunjukkan perbedaan yang signifikan, dengan nilai signifikansi (p<0,001) antara kelompok rebusan 4,2 ml; 2,8 ml; 1,4 ml terhadap kelompok aquades.Penurunan kadar trigliserida, kolesterol total, dan kadar LDL terbesar terdapat pada dosis 4,2 ml. Disimpulkan bahwa pemberian rebusan daun A. altilis dapat menurunkan kadar trigliserida, kolesterol total, LDL serum tikus putih (Rattus norvegicus).
Pengaruh Senam Ergonomis pada Penderita DM Tipe 2 terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa dan Kadar Glukosa 2 Jam Postprandial Fahmi, Gusti Zidni; Widyatmoko, Agus
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i2.1065

Abstract

Pemantauan status metabolik penderita Diabetes Melitus (DM) merupakan hal yang penting dan sebagai bagian dari pengelolaan diabetes melitus. Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dari keempat penatalaksanaan pada penderita DM. Salah satu bentuk latihan jasmani adalah senam ergonomis. Kemampuan seseorang untuk mengatur kadar  glukosa plasma agar tetap dalam batas-batas normal dapat ditentukan melalui tes kadar glukosa plasma puasa dan respons glukosa plasma terhadap pemberian glukosa (postprandial) . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh senam ergonomis terhadap kadar glukosa darah, khususnya glukosa darah puasa dan 2 jam postprandial pada penderita DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan metode cohort eksperimental dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah randomized Control Group Pre test-Post test Design. Subyek penelitian adalah penderita DM tipe 2 yang berada di wilayah Tamantirto baik laki-laki maupun perempuan. Jumlah sampel sebanyak 30  responden yang diambil secara acak atau random yang memenuhi kriteria yang ditentukan oleh peneliti. Hasil penelitian diuji dengan uji paired t test,uji t test independent dan uji Chi Square dengan bantuan program computer SPSS versi 15.0. Hasil penelitian didapatkan p 0,005, yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok intervensi senam ergonomis dengan kelo The monitoring of metabolic status in Diabetes Melitus (DM) patients is the important thing and it becomes part of DM management. The exercise is one of the four pillars of DM management. One of the exercises is ergonomic gymnastics. Someone’s ability in control the plasma blood glucose level to remain in the normal limits could be determined with plasma blood glucose test and the response of plasma glucose to glucose load (Postprandial). This research is to know the influence of ergonomic gymnastics to the blood glucose level; especially fasting blood glucose and postprandial blood glucose in DM type 2 patients. This research is using cohort experimental method with randomized control group pre test-post test design. The subject of this research is the patients of DM type 2 in Tamantirto both man and woman. The number of sample is 30 respondents that were taken randomly and it is fulfill the criteria determined by the researcher. The result of this research is tested with paired t test, independent t test and Chi Square with SPSS computer program version 15.0. The result of this research is obtained p 0,005. It means there’s no significant difference between the intervention groups of ergonomic gymnastics and control group to the decrease of fasting blood glucose level and postprandial blood glucose.
Bising Lingkungan Tempat Tinggal Kota Sebagai Faktor Risiko Presbiakusis Widuri, Asti; Kurniawati, Dewi Kartika
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i1.929

Abstract

Seperti organ-organ yang lain, telinga pun mengalami kemunduran pada usia lanjut dari derajat yang ringan sampai dengan yang berat yang akan menimbulkan banyak masalah bagi penderita dengan orang-orang sekitarnya. Ketulian pada usia lanjut (presbiakusis) disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah bising tempat tinggal. Untuk lebih mengetahui efek faktor lingkungan tempat tinggal kota terhadap terjadinya presbiakusis perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Desain penelitian adalah cross sectional. Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi data dari rekam medis pasien yang positif menderita presbiakusis dengan pasien yang negatif. Kemudian diteliti ada atau tidaknya faktor risiko tempat tinggal dari pasien. Dalam penelitian ini digunakan 94 sampel yang dibagi dalam 47 sampel terdiagnosis presbiakusis dan 47 lainnya terdiagnosis non-presbiakusis. Selanjutnya digunakan uji analisis chi-square terhadap variabel diagnosis dengan variabel lainnya. Hasil pada penelitian ini didapatkan terdapat perbedaan yang bermakna antara diagnosis dengan tempat tinggal sampel di lingkungan kota dan desa dengan nilai p=0,023 (p 0,05). Disimpulkan bahwa didapatkan perbedaan yang bermakna antara kejadian presbiakusis dengan lingkungan tempat tinggal sampel, yang berarti bahwa bising lingkungan tempat tinggal berpengaruh terhadap kejadian presbiakusis.
Efek Hipoglikemik Jus Buah Morinda citrifolia pada Tikus Diabetik Achmad, Nurliana; Jenie, Ikhlas Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i2.1006

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein akibat insufisiensi fungsi insulin. Buah mengkudu (Morinda citrifolia)  mengandung flavonoid dan saponin yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek jus buah mengkudu terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus terinduksi aloksan. Penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan pre and post-test control group design. Subyek tiga puluh ekor tikus galur Wistar, 2-3 bulan 150-250  gr dibagi 5 kelompok: kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan dengan jus buah mengkudu 2,25 gr/kgBB, jus buah mengkudu 4,5 gr/kgBB dan jus buah mengkudu 9 gr/kgBB. Hasil penelitian menunjukkan pemberian jus buah mengkudu dosis 2,25 gr/kgBB, 4,5 gr/kgBB dan 9 gr/kgBB mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetik terinduksi aloksan. Rata-rata penurunan kadar glukosa darah pada kelompok perlakuan jus buah mengkudu 9 gr/kgBB paling rendah. Terdapat penurunan yang signifikan kadar glukosa darah pre-test dan post-test pemberian jus buah mengkudu dengan nilai P=0,000 (P 0,05). Disimpulkan bahwa pemberian jus buah mengkudu dosis 2 ,25 gr/kgBB, dosis 4,5 gr/kgBB dan 9 gr/kgBB dapat menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan pada tikus diabetik yang terinduksi aloksan. Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia with disturbances of carbohydrate, fat and protein metabolism resulting from insufficiency of insulin function. Noni fruit (Morinda citrifolia) consists of flavonoid and saponin which function as an antioxidant. This study is aimed to analyze the effect of noni juice in blood glucose level in alloxan-induced diabetic rats. This study was experimental research with pre and post test control group design. The sample consisted of 30  rats Wistar strain, 2-3 months male, weight 150-250 grams were divided into 5 groups: negative control group, positive control group, treatment group with noni juice 2,25 gr/kgBW, noni juice 4,5 gr/ kgBW and noni juice 9 gr/kgBW. The results showed the administration of  noni juice 2,25 gr/kgBW, noni juice 4,5 gr/kgBW and noni juice 9 gr/kgBW was able to decrease blood glucose in Alloxan-induced diabetic rats. Mean of reduction blood glucose in treatment group with noni juice 9 gr/kgBW was the lowest (46,73+1 ,72). There are significant differences in reducing of blood glucose before and after treatment of noni juice which is P=0,000 (P 0,05). It was concluded that the giving of noni juice dosage 2,25 gr/kgBW, 4,5 gr/kgBW and 9 gr/kgBW can decrease blood glucose level significantly in alloxaninduced diabetic rats.
Pengaruh Lama Hipoksia terhadap Angka Eritrosit dan Kadar Hemoglobin Rattus norvegicus Uyun, Hidayati Fitrohtul; Indriawati, Ratna
Jurnal Mutiara Medika Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oksigen berperan penting dalam proses metabolisme tubuh. Kekurangan oksigen menyebabkan metabolisme berlangsung tidak sempurna. Hipoksia merangsang sistem hematologi dan sirkulasi untuk meningkatkan fungsi oksigenasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh lama hipoksia terhadap angka eritrosit dan kadar hemoglobin Rattus norvegicus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, pre and post control group design. Perlakuan hipoksia menggunakan modifikasi hypoxia chamber dengan pemberian kadar oksigen sebesar 10% dari total volume kandang. Pengukuran eritrosit menggunakan manual haemositometer dan hemoglobin menggunakan spektrofotometer. Analisis data menggunakan uji T test dan oneway anova, Kruskall Wallis dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil rerata ± SD hemoglobin (gr/dl) dari seluruh kelompok kontrol, 12, 24 dan 36 jam hipoksia sebelum dan sesudah secara berturut-turut yakni 10,89 ± 0,755 dan 8,74 ± 0,762. Hasil rerata ± SD eritrosit (juta/¼l) seluruh kelompok kontrol, 12, 24 dan 36 jam sebelum dan sesudah yakni 5,63 ± 0,74 dan 4,19 ± 0,523. Hasil Uji T-test hemoglobin dari kelompok kontrol, 12, 24 dan 36 jam hipoksia secara berturut-turut dengan nilai  p = 0,227, p = 0,492, p = 0,000, p = 0,000 dan hasil uji T-test eritrosit dari kelompok kontrol, 12, 24, 36 jam hipoksia secara berturut-turut dengan nilai p = 0,004, p = 0,243, p = 0,001, p = 0,003. Hasil oneway anova kadar hb (p = 0,000)  dan hasil Kruskall Wallis angka eritrosit (p = 0,018). Disimpulkan bahwa terjadi peningkatan angka eritrosit dan kadar hemoglobin pada perlakuan 12 jam dan penurunan pada perlakuan 24 dan 36 jam hipoksia pada Rattus norvegicus. Oxygen have an important role in body metabolism. Lack of oxygen caused uncomplete metabolism. Hypoxia can stimulate the circulatory system and hematology to improve oxygenation function. This research purpose to knows effect of hypoxia duration to the erythrocyte and hemoglobin on Rattus norvegicus. This is experimental research, pre and post control group design. Hypoxia condition made from modification of hypoxia chamber with 10% oxygen level from total volume of chamber. Measuring of erythrocyte used manual hemocytometer and the hemoglobin use spektrofotometer. Data analysis used T test and oneway anova, Kruskall Wallis with CI 95 %. The result from all of group control, 12, 24 and 36 hour pre and post hemoglobin median ± SD (gr/dl) were 10,89 ± 0,755 and 8,74 ± 0 ,762 and median ± SD of erythrocyte (106/ ¼l) were 5,63 ± 0,74 and 4,19 ± 0,523. The result T test showed the correlation of pre and post hemoglobin from control, 12, 24, and 36 hour duration hypoxia were p = 0,227, p = 0,492, p = 0,000, p = 0,000 and the erythrocyte from control, 12, 24, and 36 hour duration hypoxia were p = 0,004 , p =  0,243, p = 0,001, p = 0,003. Result from Oneway anova from haemoglobin (p = 0,000) and result of Kruskall Wallis from erythrocyte (p = 0,018). It can concluded that there is increasing erythrocyte and hemoglobin on 12 hour and decreasing on 24 and 36 hour hypoxia on Rattus norvegicus.

Page 8 of 94 | Total Record : 934


Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue