cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Uji Kepekaan Mycobacterium sp. terhadap Isoniazid (INH) Menggunakan Metode Rasio Resistensi secara In Vitro Dwi Yuni Nur Hidayati; Roekistiningsih Roekistiningsih
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i3.2484

Abstract

Infeksi mikobakteria termasuk diantara infeksi yang paling sulit disembuhkan dari semua jenis infeksi bakteri. Mikobakteria yang patogen utamanya adalah Mycobacterium tuberculosis sebagai penyebab tuberkulosis (TB), yang mengakibatkan lebih banyak kematian daripada agen mikroba tunggal lainnya di seluruh dunia. Penelitian ini menggunakan Mycobacterium sp. yang bermanifestasi klinis tuberkulosis atau mirip tuberkulosis. Salah satu usaha untuk mengobati penyakit infeksi akibat Myco­bacterium sp. yang bermanifestasi klinis penyakit tuberkulosis atau mirip tuberkulosis adalah dengan menggunakan isoniazid. Terapi tunggal dengan isoniazid dan kegagalan penggunaan isoniazid ditambah obat lain yang sesuai telah mengakibatkan prevalensi resistensi isoniazid sebesar 10-20% dalam uji klinis di Karibia dan Asia Tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah bakteri Mycobac­terium sp. yang berasal dari pasien RSSA Malang sudah resisten terhadap isoniazid. Penelitian bersifat semi kuantitatif untuk mengetahui resistensi Mycobacterium sp. terhadap isoniazid dengan menggunakan metode rasio resistensi. Dasar dari metode ini adalah membandingkan minimal inhibitory concentration (MIC) dari strain Mycobacterium sp. dengan MIC dari isoniazid untuk M. tuberculosis strain H37RV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 40% dari total isolat adalah resisten, 20% adalah intermediate resistant dan 40% adalah sensitif. Disimpulkan bahwa telah terjadi resistensi Mycobacterium sp. terhadap isoniazid.Mycobacteria’s infection is one of the most difficult cured infection from all over kind of bacteria’s infection. The major pathogen mycobacteria is Mycobacterium tuberculosis, agent of tuberculosis (TB) that causes more deaths than other single microbes in the world. This research uses Mycobacterium sp. which clinically manifest as tuberculosis or tuberculosis-like disease. One of efforts to cure this infection is by using isoniazid. Single dose of isoniazid and failed use of isoniazid plus other suitable drug have resulted prevalence of isoniazid-resistant about 10-20% in clinical test in Caribbean and South East Asia. This research is aimed to know whether Mycobacterium sp. from RSSA Malang patients has been resistant toward isoniazid. This research uses a semi quasi experimental research to know the resis­tance of Mycobacterium sp. toward isoniazid by using resistance rasio method. This method compares minimal inhibitory concentration (MIC) of Mycobacterium sp. strain with MIC from isoniazid to M. tuber­culosis strain H37RV. Result of this research indicates that 40% from total isolates are resistant, 20% are intermediate resistant, and 40% are sensitive. The conclusion is Mycobacterium sp. has been resistant toward isoniazid.
Hubungan antara Gangguan Pola Tidur dengan Keseimbangan Sistem Saraf Otonom pada Usia Dewasa Muda Nurvita Risdiana; Mohamad Fachrur Rozy
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 19, No 1 (2019): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.190120

Abstract

Gangguan pola tidur yang buruk berdampak negatif pada kesehatan yaitu ketidakseimbangan sistem saraf otonom. Ketidakseimbangan sistem saraf otonom akan berdampak pada rendahnya nilai Heart Rate Variability (HRV). Rendahnya nilai HRV akan berdampak pada mortalitas dan morbiditas. Heart Rate Variability terdiri atas time domain dan frekuensi domain. Standard Deviation of All N-N Intervals (SDNN) merupakan bagian dari HRV yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi keseimbangan sistem saraf otonom. Usia dewasa muda rentan mengalami gangguan pola tidur, sehingga pada usia tersebut berisiko terjadi ketidakseimbangan SDNN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola tidur dengan keseimbangan saraf otonom pada dewasa muda. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non eksperimen dengan desain Cross sectional. Uji statistik menggunakan Spearman Rho. Sampel penelitian 31 orang dewasa muda dengan teknik purposive sampling. Data untuk gangguan pola tidur diambil menggunakan kuesioner, sedangkan pengukuran SDNN menggunakan Electrocardiogram (EKG). Didapatkan hasil 64,5% pola tidur pada dewasa muda dalam kategori baik, 35,5% pola tidur mahasiswa dalam kategori cukup, 87,1% mahasiswa memiliki SDNN yang sangat baik dan 9,7% mahasiswa memiliki SDNN tinggi. Hasil uji statistik menggunakan Spearmen Rho diperoleh nilai p= 0,11 (p 0,05). Disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara gangguan pola tidur dengan kesimbangan saraf otonom.
Hubungan Penebalan Dinding Kandung Kemih pada Ultrasonografi dengan Sedimen Urin Leukosit pada Penderita Klinis Infeksi Kandung Kemih Ana Majdawati; Faza Khilwan Amna
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i1.995

Abstract

Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi berupa pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroorganisme dalam saluran kemih yang meliputi ginjal sampai kandung kemih,diantaranya Sistitis ( infeksi kandung kemih). Ultrasonografi (USG) dasawarsa terakhir ini merupakan pemeriksaan yang sering digunakan sebagai pilihan penunjang diagnostik pada beberapa kasus yang berhubungan dengan infeksi kandung kemih. Sedimen urin leukosit merupakan pemeriksaan semikuantitatif sebagai penunjang diagnosis Sistitis dengan acuan kadar sedimen urin leukosit positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan penebalan dinding kandung kemih pada pemeriksaan USG dengan sedimen urin leukosit pada penderita dengan klinis Sistitis. Desain penelitian ini observasional dengan studi cross sectional,menggunakan data sekunder dari catatan rekam medis pasien RS PKU Muhammadiyah I-II Yogyakarta untuk semua kasus ISK periode 1 Juli 2010 sampai 31 Agustus 2011. Data rekam medis yang digunakan adalah subyek penelitian dengan suspek infeksi kandung kemih yang mempunyai hasil laboratorium urin (sedimen urin lekosit) dan tebal dinding kandung kemih potongan transversal dan longitudinal pada pemeriksaan USG. Hasil analisis data dengan uji chi square didapatkan nilai p 0,631, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan penebalan dinding kandung kemih pada USG dengan hasil pemeriksaan sedimen urin leukosit.Urinary Tract Infection (UTI) is a form of infection that involve growth and proliferation of microorganisms in the urinary tract includes kidney to the bladder, one type of UTI is cystitis (bladder infection). Ultrasonography (USG) examination in the last decade is frequently used as a diagnostic support in some cases associated with bladder infection. Examination of leukocyte urine sediment is a semiquantitative test that could be supporting a diagnosis of bladder infection with reference levels of urine sediment positive leukocytes. This study aims to determine the relationship between bladder wall thickening on ultrasonography with urine sediment of leukocytes in patients with clinical bladder infection. The study design was observational with cross sectional study using secondary data from the medical records of PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta I-II for all cases of Urinary Tract Infection in the period July 1, 2010 until August 31, 2011. Medical record data used in this study were research subjects with suspected bladder infection who had a urine laboratory results (urine sediment leucocytes) and bladder wall thickness transverse and longitudinal cuts on ultrasound examination. The results of data analysis with Chi-Square test p-value obtained 0.631. There is no relationship between the thickening of the bladder on  ultrasonography with urine sediment leukocyte. 
The Effect Of Celery (Aipum Graveolens L) Juice In Blood Pressure and Serum Cholesterol Supono Supono; Salmah Orbayinah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v5i2.1875

Abstract

Celery juice has been developed as an herbal therapy cheaply to decrease blood pressure and cholesterol. The aim of this study is to know the effect of celery juice in blood pressure and serum cholesterolThe research is a cross sectional which are the students live in Sonosewu and it’s around as a subject of research. They are 19-25 years old. A choice of the subject of research is randomly. The subjects of research have health conditioned, don’t have liver, heart, gastrointestinal disease and neuron brain nervous. The research subjects are 14 peoples for blood pressure and 13 peoples for serum cholesterol. The research divided in to 2 phase, the first is a phase which before drink celery juice (control) and the second phase is after (sample). A research subjects have check their blood pressure before and 15-20 minutes after drink placebo or celery juice everyday. The research as long as 20 days, 10 days control (giving placebo) and 10 days sample (giving celery juice), The cholesterol measurements were taken lstday before given placebo, llrddays (after given placebo) and 2Tddays (after given celery juice), then check its total value by use cholesterol KIT reagents with using spectrophotometer methods. Analysis data is done by statistic T-test and also use SPSS 12 W version.The results showed with T-Test statistic that placebo don ’t show exchange significantly on blood pressure and cholesterol (a 0.05). The giving celery juice will cause decrease significantly on blood pressure and cholesterol (a 0.    05). The results indicate that the giving celery juice will decrease blood pressure and cholesterol.Jus seledri dikembangkan sebagai suatu terapi pengobatan yang murah untuk menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol darah. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh jus seledri terhadap tekanan darah dan kolesterol serum.Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional, dengan subyek penelitian mahasiswa di daerah sonosewu dan sekitarnya, dengan umur 19-25 tahun. Pemilihan subyek penelitian secara acak, dengan kondisi sehat tidak memiliki gangguan fungsi hati, jantung, ginjal, gangguan gastrointestinal dan penyempitan pembuluh darah otak. Jumlah subyek penelitian yang digunakan adalah 14 orang untuk tekanan darah dan 13 orang untuk kadar kolesterol darah. Subyek penelitian dibagi dalam 2 tahap: tahap pertama; sebelum diberikan jus seledri (kontrol) dan tahap kedua; setelah diberikan jus seledri (perlakuan). Masing-masing subyek penelitian diukur tekanan darahya sebelum dan 15-20 menit setelah diberikan plasebo atau jus seledri sehari sekali. Hal ini dilakukan selama 20 hari, yaitu 10 hari kontrol (pemberian plasebo) dan 10 hari sampel (pemberian jus seledri). Pada pengukuran kadar kolesterol, subyek diambil darahnya 1 hari sebelum diberikan plasebo, hari ke-11 (setelah diberikan plasebo) dan hari ke-21 (setelah diberikan jus seledri), kemudian diperiksa kadarnya menggunakan reagen KIT kolesterol dengan metode spektrofotometer. Data dianalisis dengan uji statistik T-Test berpasangan menggunakan SPSS versi 12 W.Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian plasebo tidak memberikan perubahan yang bermakna terhadap tekanan darah dan kolesterol (a 0,05). Sedangkan pemberian jus seledri menyebabkan penurunan yang bermakna terhadap tekanan darah dan kolesterol (a 0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa pemberian jus seledri dapat menurunkan tekanan darah dan kolesterol.
Antibiotik Linkomisin M sebagai Antimalaria terhadap Mencit Swiss Terinfeksi Plasmodium berghei Sri Sundari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1604

Abstract

Malaria is one among the most important public health problems in tropical countries like Indonesia. Several actions have been taken to overcome this problem, however its prevalence is still high. Parasite resistance to antimalarial drug and vector resistance to insecticide are the major constrains in controlling the disease. To overcome this problem an alternative drugs are essentially need to be found. The antibiotic lincomycine is an example of alternative drug, and has been used in combination with chloroquine.. This aim of this study is to assess the effect of linkomycine on Swiss mice infected by Plasmodium berghei and will be compared to antimalarial drug of chloroquine. Fibe groups, each consisted of 5 female Swiss mice were used and Plasmodium berghei were inoculated. Group 1 is positive control who reseiving 100 mg/kg BW, 200 mg/kg BW and 300 mg/kg BW oAll drugs were given twice daily for 5 days. The degree of parasitemia were examinated daily using thin blood smears up to 5 days from inoculation and were analyzed by log-probit metod. The study showed that linkomycine 200 mg/kg BW and linkomycine 300 mg/kg BW were cured on Swiss mice infected by Plasmodium berghei. Effective dosage 50 of linkomycine is 3,707 mg/kg BW and effective dosage 90 is 39,125 mg/kg BW.Malaria sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting terutama di Negara-negara tropis termasuk Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk pemberantasan malaria tetapi prevalensi malaria masih tetap tinggi disebabkan berbagai hambatan diantaranya adanya resistensi vektor terhadap insektisida dan resistensi parasit terhadap obat antimalaria. Adanya permasalahan tersebut mendorong untuk mencari alternatif obat yang dapat diperoleh dengan mudah dan telah dikenal oleh masyarakat luas bahkan mungkin telah lama digunakan, salah satunya dengan menggunakan antibiotika. Diantara antibiotika tersebut adalah linkomisin yang pernah digunakan sebagai antimalaria dengan cara dikombinasi dengan obat-obat yang lain yang termasuk dalam antimalaria sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek linkomisin terhadap mencit Swiss yang terinfeksi Plasamodium berghei jika dibandingkan dengan klorokuin. Lima kelompok perlakukan yang masing-masing terdiri dari 5 ekor mencit betina yang diinokulasi Plasmodium berghei. Kelompok I sebagai kontrol positif mendapatkan pengobatan klorokuin 25 mg/kg BB, kelompok II sebagai kontrol negatif tidak mendapatkan pengobatan apapun. Kelompok III, IV, dan V masing-masing mendapatkan pengobatan linkomisin 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 300 mg/kgBB. Setiap kelompok mencit diberikan pengobatan secara oral 2 kali sehari selama 5 hari. Pemeriksaan angka parasitemia dilakukan setiap hari dengan pemeriksaan apus darah tipis yang diambil dari ekor mencit. Dosis efektif (ED) 50, ED-90 dihitung dengan analisis probit. Hasil penelitian menunnjukkan bahwa linkomisin 200 mg/kgBB dan 300 mg/kgBB mampu menekan pertumbuhan parasit sehingga mencit bebas parasit. Dari hasil analisis probit ED-50 linkomisin 3,707 mg/kgBB, dan ED-90 adalah 39,125 mg/kgBB.
Hubungan Ekspresi p53 dengan Prognosis Hasil Terapi Radiasi pada Karsinoma Nasofaring Ario Tejosukmono; Agus Suharto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i3.1029

Abstract

Pada karsinoma terjadi peningkatan proliferasi sel dibanding dengan apoptosis sel, sehingga sel akan tumbuh lebih banyak dari jumlah normalnya. Pada kondisi homeostasis, untuk dapat mengatur jumlah sel pada tubuh manusia, mekanisme utama tubuh adalah dengan menghasilkan p53. Protein p53 sebagai protein penghambat tumor mengaktifkan pembentukan p21 yang berperan untuk aktivasi beberapa komplek kinase tergantung siklin dan memutus siklus pembelahan sel. Tujuan penelitian ini untuk analisis hubungan ekspresi p53 terhadap prognosis radioterapi pada karsinoma nasofaring dengan metode retrospektif. Ekspresi p53 telah dicat imunohistokimia dan dianggap positif bila jumlah sel tumor positif lebih dari 10% dan dianalisis hubungan ekspresi p53 dengan prognosis pada pasien karsinoma nasofaring dengan radioterapi. Hasil penelitian menunjukkan dari 43 Pasien karsinoma nasofaring dengan terapi radiasi terdapat 8 orang (18,6%) meninggal selama perawatan. Berdasarkan jenis kelamin, 74,42% pasien adalah laki-laki dan 25,58% wanita. Kelompok usia 51 sd 60 tahun adalah yang terbanyak yaitu sebesar 14 kasus (32,56%). Terdapat hubungan yang bermakna antara ekspresi p53 dengan prognosis hasil terapi radiasi pada karsinoma nasofaring p = 0,000 (p0,05). Disimpulkan bahwa ekspresi p53 yang positif akan memberikan prognosis yang lebih baik terhadap hasil terapi radiasi pada karsinoma nasofaring. In the cancer condition, there is increasing of cell proliferation than apoptosis, so cell will grow rapidly than normal. In normal homeostatic, to set the amount of the cells in human body, the primary body mechanism is producing gene p53. The p53 as protein cancer suppressor activate p21 that role to activate some of complex kinase  based on cyclin and cut mitosis cycle. The aims of this research to analyze relation p53 expression with prognosis of radiotherapy in nasofaringeal carcinoma using retrospective method. P53 expression strained by imunohistochemistry and considered positive if we find greater than 10% positif cell tumor then analyzed relation p53 expression with prognosis of radiotherapy in nasofaringeal carcinoma. The result shows from 43 patient nasofaringeal carcinoma with radiotherapy there are 8 patient (18,6%) died. 74,42% patient are male and 25,58% are female. 51-60 years old group is 14 cases (32,56%). There was significant correlation between prognosis and p53 expression p= 0,000 (p0,05). The conclusion is that positive p53 expression will give a better prognostic for nasofaringeal carcinoma with radiotherapy.
Kejadian Luar Biasa Skabies Di Dusun Gunung Pentul Devi Artami Susetiati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1 (s).1620

Abstract

Scabies remains a major public health problem in many developing countries according to data from primary health care. Community knowledge and practices about scabies influenced scabies outbreak. To determine community knowledge and practices of scabies in Gunung Pentul village, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulonprogo. A cross-sectional study with descriptif analysis was performed in Gunung Pentul village on April 15th,2007. Data was collected by questioners. Questioner comprises of identity, house ’s conditions and environments, 12 questions of knowledge and 20 questions of attitude and practices. Sixty percent of total score considered to be good knowledge and practice. Subjects of this study were 37 persons whereas 14 were being males (n=37,8%). High score of knowledge is 56,8%, low score of knowledge is 43,2%. Whereas high score of practice is 54,1%, low score of practice is 45,9%. The environment of Gunung Pentul village actually was in good condition, but unfortunately the personal higiene was poor according to the lower score of knowledge and practice. Beside that they had no transportation, health service, and lower income.Skabies di negara berkembang merupakan masalah utama kesehatan kulit ditandai dengan adanya laporan kejadian luar biasa (KLB) skabies dari Puskesmas. Pengetahuan dan perilaku mempengaruhi penyebaran penyakit. Pengenalan bentuk lesi kulit dapat mendorong seseorang untuk secepatnya berobat. Pengetahuan mengenai cara penularan dapat membuat seseorang mencegah terjadinya endemik penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan perilaku masyarakat Dusun Gunung Pentul, Kabupaten Kulonprogo terhadap latar belakang terjadinya KLB skabies. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan cara potong lintang dilakukan pada semua subyek yang datang pada acara bakti sosial wabah skabies tanggal 15 April 2007 di Dusun Gunung Pentul. Data dikumpulkan dengan cara pengisian lembar kuesioner. Kuesioner berisi identitas, data rumah tinggal, 12 pertanyaan tentang pengetahuan, dan 20 pertanyaan tentang sikap dan perilaku. Penilaian skor pengetahuan dan perilaku ditentukan dengan cara menetapkan skor baik untuk pengetahuan dan perilaku sebesar nilai 60% dari total skor pertanyaan. Jumlah subyek yang bersedia mengisi kuesioner sebanyak 37 orang dengan 14 diantaranya laki-laki (n=37,8%). Hasil skor tinggi tingkat pengetahuan yaitu 56,8%, skor rendah 43,2%. Sedangkan skor tinggi tingkat perilaku yaitu 54,1%, skor rendah 45,9%. Lingkungan di Dusun Gunung Pentul cukup baik hanya saja kesadaran menjaga kesehatan pribadi masih banyak yang belum peduli. Hal ini terlihat dari skor tingkat pengetahuan dan perilaku yang masih rendah. Selain itu masih ada kendala lain seperti pendapatan per kapita perbulan dibawah UMR, transportasi terbatas dan kurangnya sarana kesehatan.
Efektifitas Penerapan Berwudhu dalam Menurunkan Angka Kuman pada Tangan, Mulut dan Hidung Perawat Vika Habsari Budi Utami; Lilis Suryani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i1.1055

Abstract

Tubuh manusia terdapat berbagai macam flora bakteri yang menetap. Pada instansi Rumah Sakit, masih banyak terjadi infeksi nosokomial. Berwudhu (thaharah) adalah membersihkan diri (mensucikan diri) dari hadats dan najis yang melekat pada tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan berwudhu dalam menurunkan angka kuman pada tangan, mulut dan hidung perawat di RS Nur Hidayah Yogyakarta. Penelitian kuasi eksperimental dengan rancangan Pretest-Postest group non control untuk membandingkan parameter kuman Staphylococcus sp dan Streptococcus sp sebelum dan sesudah berwudhu. Terjadinya penurunan jumlah angka kuman ditunjukkan dengan cara menghitung jumlah angka kuman yang telah diusap dari tangan, hidung dan mulut perawat pada media TSA yang telah dikultur masing-masing sebelum dan sesudah berwudhu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan jumlah angka kuman Staphylococcus sp pada mulut perawat dengan nilai p=0,002 ( p0,05) dan penurunan jumlah angka kuman pada hidung perawat dengan nilai p=0,000  (p0,05). Disimpulkan bahwa terjadi penurunan angka kuman yang bermakna sebelum dan sesudah wudhu terhadap kuman Staphylococcus sp pada mulut dan hidung perawat dengan penerapan berwudhu sesuai dengan tatacara yang benar. In the human body there are various kinds of flora bacteria residing. Hospitals in the institution, it happen so many nosochomial infection. Wudhu (thaharah) is cleaned up (purify themselves) from hadats and unclean attached to the human body. This research aims to determine the effectiveness of implementation wudhu in reducing germs on hands, mouth and nose to nurse at Nur Hidayah Hospital in Yogyakarta. This study was quasi-experimental, pretest-posttest non control group design to compare the parameters of Staphylococcus sp and Streptococcus sp before and after wudhu. The decrease in the total number of bacteria was shown by calculating the total microbial count that have been rubbed out of the hands, nose and mouth nurses have on TSA media cultured respectively before and after wudhu. The results of this study indicate that a decline in the total number of bacteria in the mouth nurse Staphylococcus sp with p = 0.002 (p0.05) and a decrease in the total number of bacteria in the nose nurse with p = 0.000 (p0.05). Concluded that there was a significant decrease in the number of germs before and after the Staphylococcus sp in the mouth and nose nurse with the application of ablution in accordance with the correct procedures.
Pengaruh Pajanan Gelombang Telepon Seluler terhadap Struktur Histologi Testis pada Mencit (Mus musculus) Adie Fitra Favorenda; Sri Nabawiyati Nurul Makiyah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i2 (s).1636

Abstract

Objectives of this researchis to know the effect of the exposure of telephone celluler wave toward fertility in mice (Mus musculus) by measuring the diameter of tubulus seminiferi and counting the percentage of spermatogenic cells. This research use mice (Mus musculus) strain Balb-C, 3 months age, ± 30 gram body weight. This mice divided into 4 groups, they are K (control), P1 (exposure of telephone celluler wave type GSM monophonic), P2 (exposure of telephone celluler wave type GSM polyphonic), P3 (exposure of telephone celluler wave type CDMA). These mice were given exposure of telephone celluler wave by placing them near telephone celluler which active telephone condition. Duration of the exposure is ± 120 minutes in a days. These mice were sacrificed by decapitation, its testes were taken and make the histological preparation. Microscopic observation was done by measuring the diameter of tubulus seminiferi and counting the percentage of spermatogenic cells, such as spermatogonium, spermatocyt, and spermatidium. The results was analyzed by one way Anova continued by Tukey test. Results of this research showed that comparing with the control group, the measurement of diameter tubulus seminiferi and the number of spermatogenic cells especially spermatidium in treatment groups were decreasing. It can conclude that telephone celluler wave can cause the decreasing offertility by inhibiting the spermatogenesis process.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pajanan gelombang telepon seluler terhadap fertilitas mencit (Mus musculus) dengan mengukur diameter tubulus seminiferi dan menghitung prosentase sel-sel spermatogenik. Desain penelitian adalah eksperimental in vivo pada hewan uji. Penelitian ini menggunakan sampel berupa mencit (Mus musculus) jantan galur Balb-C 20 ekor, berumur 3 bulan, dan berat badan ± 30 gram. Mencit dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok K (kontrol), P1(terpajan gelombang telepon seluler jenis GSM monophonic), P2(terpajan gelombang telepon seluler jenis GSM polyphonic), dan P3(terpajan gelombang telepon seluler jenis CDMA). Hewan uji tersebut diberi pajanan gelombang telepon seluler dengan cara meletakkan hewan uji di dekat telepon seluler yang sedang aktif menelpon. Lama pemajanan ± 120 menit perhari selama 30 hari. Pembedahan hewan uji dilakukan untuk mengambil testisnya dan kemudian dibuat preparat. Pengamatan preparat dilakukan dengan mengukur diameter tubulus seminiferi dan menghitung prosentase sel-sel spermatogenik, antara lain spermatogonium, spermatocyt, dan spermatidium. Hasil dianalisis dengan metode Anova 1 jalan kemudian dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran diameter tubulus seminiferi danjumlah prosentase sel-sel spermatogenik khususnya spermatidium pada kelompok perlakuan mengalami penurunan dibandingkankelompok kontrol. Jadi dapat disimpulkan bahwa gelombang telepon seluler dapat meyebabkan terjadinya penurunan tingkat ferilitas dengan cara mengganggu proses spermatogenesis.
Efektifitas Bacillus Thuringiensis yang Diisolasi dari Sampel Tanah di Yogyakarta Terhadap Larva Culex Quinquefasciatus Invitro Lilis Suryani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i2.1479

Abstract

Filariasis disease is a public health problem, especially in rural areas. One kinds of mosquitoes that transmited it is Culex quinquefasciatus. Since 1972 chemical insecticides has been usedfor vector control in Indonesia. However, in 1987 it was reported that there are many areas has been resistant against chemical insecticides. Bacillus thuringiensis is a gram positif bacteria, rod, aerobic and spore shape. There are many strain of this bacteria produces a toxic protein to insect. This research try to reveal the effectivity of Bacillus thuringiensis soil isolate from Yogyakarta, Bantul, Sleman, Kulonprogo and Wonosari area, as larvacide against Culex quenquefasciatus. This study is an experimental laboratory, as subject research is Bacillus thuringiensis which tested its pathogenecity against Culex quinquefasciatus larvae . The result of this study shows that Bacillus thuringiensis soil isolate from Wonosari has a high effectivity as larvacide against Culex quinquefasciatus with pathogenecity activity 100%, Bacillus thuringiensis soil isolate from Sleman has a low effectivity with pathogenecity activity 38,7%. It is conduced that Bacillus thuringiensis isolate Wonosari has a high effectivity as larvacide against Culex quinquefasciatus larvae.Penyakit filariasis merupakan masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah rural. Salah satu j enis nyamuk yang menularkan penyakit ini adalah Culex quinquefasciatus. Sej ak tahun 1972 insektisida kimiawi telah banyak digunakan untuk pengendalian vektor di Indonesia. Namun pada tahun 1987 dilaporkan di beberapa daerah telah terjadi resistensi nyamuk vektor terhadap beberapa jenis insektisida kimiawi. Bacillus thuringiensis adalah bakteri gram positif yang berbentuk batang, aerobik dan membentuk spora. Banyak strain dari bakteri ini yang menghasilkan protein yang beracun bagi serangga. Penelitian ini mencoba mengungkapkan efektifitas Bacillus thuringiensis yang diisolasi dari sampel tanah di daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi wilayah Bantul, Sleman, Kota Yogyakarta, Wonosari dan Kulonprogo sebagai larvasida Culex quinquefasciatus. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium, dengan subyek penelitian berupa kuman ito7/ws thuringiensis yang diuji patogenesitasnya terhadap larva Culex quinquefasciatus, sebagai pembanding digunakan bakteri standar Bacillus thuringiensis H-14. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Bacillus thuringiensis isolat Wonosari memiliki efektifitas yang tinggi sebagai larvasida terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus dengan daya patogenesitas 100%. Bacillus thuringiensis isolat Sleman memiliki efektifitas yang rendah sebagai larvasida terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus dengan daya patogenesitas 38,7%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Bacillus thuringiensis isolat Wonosari memiliki efektifitas tinggi sebagai larvasida terhadap nyamuk Culex quinquefasciatus.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015): January Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue