cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Biomedika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 399 Documents
PENGARUH PEMBERIAN N-ASETILSISTEIN TERHADAP EKSPRESI CASPASE-1 GLOMERULUS DAN DERAJAT KERUSAKAN GINJAL PADA MENCIT NEFRITIS LUPUS INDUKSI PRISTAN Anindita Rachmawati; Bambang Purwanto; Diding Heri Prasetyo
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7015

Abstract

ABSTRAKLupus nefritis (LN) terkait dengan penebalan membran basal glomerulus. Pengendapan kompleks imun  memicu kaskade respon inflamasi disertai aktivasi reactive oxygen species (ROS), akhirnya terjadi aktivasi caspase-1, dan caspase-1, mengaktifkan IL-1B dan IL-18 yang berlanjut terjadinya apoptosis dan nekrosis dan akhirnya terjadi kerusakan ginjal. Peningkatan ekspresi caspase-1 dapat dicegah oleh N-Asetil Sistein (NAS), yang merupakan suatu senyawa dengan efek antioksidan dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh NAS terhadap ekspresi caspase-1 dan terjadinya apoptosis dan nekrosis ginjal pada mencit model lupus nefritis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris, dengan sampel 24 ekor mencit Balb/C betina yang dibagi menjadi kelompok kontrol, LN, dan LN+NAS. Untuk membuat model LN, hewan coba diberikan injeksi 0,5 ml pristan intraperitoneal dosis tunggal. NAS diberikan secara peroral dengan dosis 4,7 mg/hari) selama delapan minggu. Mencit kontrol tidak diinokulasi selama penelitian. Ekspresi caspase-1 dihitung dari 100 sel makrofag yang immunoreaktif dengan teknik imunohistokimia dan kejadian apoptosis dan nekrosis dihitung dengan dengan teknik histopatologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pemberian NAS menurunkan ekspresi caspase-1 (22,8 ± 6,4 vs 31,4 ± 7,5 per 100 sel makrofag imunoreaktif; p = 0,000)  dan menurunkan kerusakan ginjal (6,75 ± 2,92 vs 9,88 ± 3,56; p =0,010) dibandingkan kelompok LN. NAS secara bermakna menurunkan ekspresi caspase-1 dan derajat kerusakan ginjal pada mencit model LN. Kata Kunci: Caspase-1, Derajat Kerusakan Ginjal, Lupus Nefritis, Pristan  ABSTRACTLupus nephritis (LN) associated with thickening of the basal membrane of the glomerulus. The deposition  of immune complexes trigger a cascade of inflammatory response accompanied the activation of reactive oxygen species (ROS), finally happened activation caspase-1, and enable the IL-1B and IL-18 to be the active form, and to be continued into occurrence of apoptosis and necrosis and eventually the kidney injury. Increased of caspase-1 expression can be prevented by N-Acetyl Cysteine (NAS), which is a compound with antioxidant and anti-inflammatory effects.This study aimed to analyze the effects of NAS on the expression of Caspase-1 and degree of renal injury in mice models of lupus nephritis. This study is an experimental research laboratory, with a sample of 24 females Balb/C mice were divided into a control group, LN and LN+NAS. To create a model LN, experimental animals given intraperitoneal injection of 0.5 ml Pristan single dose. NAS administered orally at a dose of 4.7 mg/day for eight weeks. Control mice not inoculated during the study. Expression of Caspase-1 was calculated from 100 macrophage cells immunoreactive with immunohistochemical and degree of renal injury with histopathological techniques. One way analysis of variance (Anova) for caspase-1 expression and degree  of renal injury, and p0.05 were used to determine the significant differences. The provision of NAS decreased the expression of caspase-1 (22,8 ± 6,4 vs 31,4 ± 7,5  per 100 macrophage immunoreactive cells; p = 0.042) and degree of renal injury (6,75 ± 2,92 vs 9,88 ± 3,56; p =0,010) compared to LN group respectively. NAS significantly decrease the expression of caspase-1 and degree of renal injury in mice models LN.Keywords: Caspase-1, Degree Of Renal Injury, Lupus Nephritis, Pristane
KORELASI KANDUNGAN FENOLIK DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAUN JAMBU METE Ika Trisharyanti Dian Kusumowati; Rosita Melannisa; Kartikaning Ratri
Biomedika Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v3i2.251

Abstract

The ethanolic extract of Anacardium occidentale L. leaves contains phenolic compounds,  avonoids, alkaloids, saponins, tannins, and steroids that could have antioxidant activity. The aim of this research was to determine the correlation between the antioxidant activity and the phenolic compounds of the ethanol extract of Anacardium occidentale L. leaf. The DPPH methode was used to determine the antioxidant activity. The total phenolic determined using Folin-Ciocalteu reagent. There was a positive correlation between antioxidant activity and total phenolic content in the ethanolic extract of cashew leaf with correlation coef cient R2 = 0.5888.Keywords: Anacardium occidentale L., antioxidant, phenolic compounds
PENGARUH WAKTU SIMPAN TERHADAP PERUBAHAN pH, GLUKOSA, LDH, KALSIUM, MVP SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS KOMPONEN DARAH THROMBOCYTE CONCENTRATE Diani Mentari; Relita Pebrina; Diah Nurpratami
Biomedika Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i1.8981

Abstract

ABSTRAK                Thrombocyte Concentrate (TC) merupakan komponen darah yang ditranfusikan untuk pasien yang mengalami pendarahan, kelainan fungsi trombosit dan trombositopenia. Pada beberapa literatur menyebutkan bahwa sediaan TC secara in vitro dapat disimpan selama 5-7 hari. Quality Control sebelum TC ditransfusikan yaitu melalui pengamatan secara visual ada tidaknya swirling dan melihat tingkat kejernihan TC. Namun pengamatan bersifat subjektif sehingga belum terstandar. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh waktu penyimpanan TC terhadap kualitasnya. Kualitas TC diukur melalui beberapa cara yaitu pengukuran pH, kadar glukosa, Laktat Dehidrogenase (LDH), kalsium serta profil darah yang meliputi jumlah trombosit dan Mean Platelet Volume (MPV). Analisis kadar glukosa, LDH, dan kalsium dilakukan secara kolorimetri menggunakan spektrofotomter sedangkan profil darah diukur menggunakan hematology analyzer. Hasil menunjukkan bahwa TC yang disimpan pada hari ke-9 terjadi penurunan pH sebesar 7,38%, glukosa 20,10%, LDH 42,89%dan kalsium 62,54%. Jumlah trombosit mengalami penurunan sebesar 24,41% dan MVP mengalami kenaikan 18,84%. Kesimpulan pada sampel TC yang masih terdapat swirling, namun terjadi penurunan kualitas TC yang ditandai dengan penurunan jumlah trombosit serta kenaikan nilai MVP. Selain itu semakin lama waktu penyimpanan akan menurunkan kadar pH, kadar glukosa, LDH, dan kalsium. Kata Kunci: Masa Simpan Trombosit, pH, Glukosa, Kalsium, MPV. ABSTRACT                Thrombocyte Concentrate (TC) is the blood component tranfused for the patients with bleeding, abnormalities of platelet function and thrombocytopenia. In some literatures, it is mentioned that the TC preparation in vitro can be stored within 5-7 days.  Quality Control before TC is transfused through a visual observation on the presence or absence of swirling and the clarity level of TC. However, this observation is subjective and makes it unstandardized. This research aims to see the effects of the shelf life of thrombocytes on its quality. The TC quality was measured through a number of ways including: pH measurement, glucose level, Lactate Dehydrogenase (LDH), calcium and profiles of blood including number of thrombocytes, and Mean Platelet Volume (MPV). The analysis on the glucose level, LDH, and calcium was conducted by colorimetrical manner using the spectrophotometer and blood profile was measured using hematology analyzer. The result showed that TC stored in day 9 experienced the decrease of pH at 7.38%, glucose at 20.10%, LDH at 42,89% and calcium at 62.54%. The number of thrombocytes experienced a decrease of 24.41% and MVP experienced an increase of 18.84%. In conclusion, the sample of TC that had swirling experienced a decrease in the TC quality as characterized with the decrease of number of thrombocytes and the increase of MVP value. In addition, the longer storage could decrease the level of pH, level of glucose, LDH, and calcium. Keywords: Platelet Storage, pH, Glucose, Calcium, MPV.
Angka Kejadian Komplikasi Lambat Pascaoperasi Prostatektomi Transvesikal dan Reseksi Transuretral pada Pasien Pembesaran Prostat Jinak Bakri Hasbullah
Biomedika Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v1i1.286

Abstract

Transurethral Resection Prostatectomy (TURP) and Transvesical Prostatectomy (TVP) are the two methods of operation for BPH. The aims of this study are to find out the late complication after prostatectomy between TVP dan TURP. Data were collected from January 1 st 2004 to December 31 st 2004 with prospective cohort study. There were 67 of 90 post prostatectomy BPH patients who met the inclusion criteria. Data were listed into age and comorbid factors are hypertension (HT), ischaemic heart disease (IHD), chronic obstructive pulmonary disease (COPD), Diabetes Mellitus (DM). Post prostatectomy late complications are erectile dysfunction (ED), retrograde ejaculation (RE), urethral stricture (US), urinary incontinence (UI). Data were analyzed statistically with the t-test. There were 67 patients (median age 65,81 years range 51-86 years) inclusion in this study 12 patients has performed TVP (17,9%), 55 patient was performed TURP (82,1%). Comorbid factors were HT (19,4%), IHD (16,4%), COPD (11,9%), DM (4,5%). The most frequent age of TVP were 7 th decade (50%), TURP were 6 th decade (41,82%).The late complication after TVP and TURP for BPH were not significant different (p0,05). The most frequent late complications after prostatectomy of the TVP and TURP is ED. Study about the late complications after operation of the BPH between TVP and TURP, statistically were not significantly different.Keywords: BPH, open prostatectomy, TURP, late complication.
UJI EFEK HAMBATAN ATORVASTATIN TERHADAP PEMBENTUKAN SKAR HIPERTROFI PADA KELINCI NEW ZEALAND (Kajian terhadap morfologi klinis ketinggian jaringan skar, Scar Elevation Index, kepadatan kolagen, dan ekspresi VEGF) Devi Usdiana Rosyidah; Indwiani Astuti; Sitarina Widyarini
Biomedika Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i1.5848

Abstract

Skar hipertrofi dan keloid bagian dari jaringan parut patologis yang insiden kejadiannya masih tinggi. Keduanya mengganggu secara estetik, fisiologik, psikologik, dan sering tumbuh kembali setelah pengobatan. Belum ada terapi standar baku emas untuk skar hipertrofi dan keloid. Efek pleiotropik statin berpotensi sebagai anti skar baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hambatan pembentukan skar hipertrofi dengan pemberian salep atorvastatin pada model luka skar di telinga kelinci New Zealand. Kelinci New Zealand usia 4-6 bulan (n=29) dilakukan randomisasi kedalam lima kelompok. Setelah aklimatisasi 1 minggu, dilakukan pembuatan luka model skar hipertrofi pada kedua telinga kelinci dengan punch biopsy (d=8 mm). Jumlah luka 2 buah di masing- masing telinga kanan dan kiri. Pada hari ke-7 setelah punch biopsy, kelompok I, II, III dioles salep atorvastatin dengan konsentrasi masing-masing 5%, 10%, dan 20%. Kelompok IV dioles salep clobetasol propionate 0,05% sebagai kontrol positif, dan kelompok V dioles dengan basis salep (lanolin vaselin 1:1) sebagai kontrol negatif. Frekuensi pengolesan salep pada luka ditelinga kelinci tersebut 1 kali/hari, dengan lama pengolesan selama 50 hari kedepan. Setiap hari dilakukan pengukuran morfologi klinis ketinggian skar. Pada hari ke 56 setelah punch biopsy, dilakukan penilaian akhir morfologi klinis jaringan skar hipertrofi, kemudian kelinci didekapitasi, diambil jaringan skar hipertrofi kemudian dibuat preparat histologis (HE, Von Gieson) dan imunohistokimia (VEGF). Salep atorvastatin 5% mampu menghambat pembentukan skar hipertrofi pada telinga kelinci New Zealand dengan nilai median skoring ketinggian jaringan skar sebesar 1(1-3), nilai SEI rata-rata sebesar 1,49±0,37 mm, dan nilai ekspresi VEGF sebesar 12,71±4,27%. Salep atorvastatin 5% mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai obat penghambat pembentukan skar hipertrofi baru dengan mekanisme penghambatan terhadap VEGF. Untuk pengembangan obat ini diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai kapan waktu yang paling tepat mulai dioleskan salep atorvastatin setelah terjadi luka berisiko terbentuknya skar hipertrofi. Kata kunci: Atorvastatin, skar hipertrofi, VEGF, telinga kelinci.
CORRELATION OF LUMBAR FORAMINAL STENOSIS DEGREE ON SAGITTAL MRI WITH JOABPEQ (JAPANESE ORTHOPAEDIC ASSOCIATION BACKPAIN QUESTIONNAIRE) AND ODI (OSWESTRY DISABILITY INDEX) ON LUMBAR FORAMINAL STENOSIS L5-S1 PATIENTS Bagas Widhiarso; Anggita Tri Yurisworo; Andhi Prijosedjati; Pamudji Utomo; Handry Tri Handojo
Biomedika Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v11i2.7628

Abstract

Lumbar Foraminal Stenosis (LFS) dapat secara signifikan mengurangi fungsi dan kualitas hidup pasien dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) adalah alat pendukung yang umum digunakan untuk mengukur beratnya stenosis. Lee score umumnya digunakan untuk mengukur derajat LFS pada MRI sagital. Japanese Orthopaedic Association Back Pain Evaluation Questionnaire (JOABPEQ) dan Oswestry Disability Index (ODI) digunakan untuk menilai disabilitas dan skor fungsional pada pasien LFS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara derajat LFS pada MRI sagital dengan kualitas hidup pada pasien dengan LFS. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional yang melibatkan 25 pasien dengan gejala klinis LFS di RS. X Surakarta. Pasien dinilai dengan mengisi kuesioner JOABPEQ dan ODI, kemudian dilakukan evaluasi MRI sagittal lumbar untuk menentukan derajat Lee score, kemudian melakukan uji korelasi pada data yang diperoleh. Penelitian ini menunjukkan korelasi yang signifikan antara Skor Lee dengan JOABPEQ dan ODI. Tingkat LFS berdasarkan Lee Score memiliki korelasi yang signifikan dengan tingkat disabilitas menggunakan JOABPEQ dan ODI. JOABPEQ memiliki korelasi yang lebih signifikan dengan Skor Lee dibandingkan dengan ODI.Kata Kunci : Lumbar Foraminal Stenosis, Lee Score, JOABPEQ, ODI Lumbar Foraminal Stenosis (LFS) can significantly reduce the patient’s function and quality of life and Magnetic Resonance Imaging (MRI) is commonly used supporting tool to measure the degree of stenosis. Lee Score is commonly used to measure the degree of LFS on sagittal MRI. Japanese Orthopaedic Association Back Pain Evaluation Questionnaire (JOABPEQ) and Oswestry Disability Index (ODI) to assess disability and functional scores in LFS patients. This study was conducted to determine the correlation between the degree of LFS on sagittal MRI images with quality of life in patients with LFS.This study is an observational analytics study involving 25 patients with clinical symptoms of LFS in X Hospital Surakarta. Patients were assessed by filling JOABPEQ dan ODI questionnaires, then performed sagittal lumbar MRI evaluation to determine the degree of Lee Score, then performed correlation test on the data obtained.This study shows a significant correlation between Lee Score with JOABPEQ and ODI. The degree of LFS based on Lee Score has a significant correlation with the degree of disability using JOABPEQ and ODI. JOABPEQ has a more significant correlation to Lee Score compared with ODI.Keywords:Lumbar Foraminal Stenosis, Lee Score, JOABPEQ, ODI
FARMAKOGENETIK PENGOBATAN BETA 2 AGONIST DAN STEROID PADA PENDERITA ASMA EM Sutrisna
Biomedika Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v6i2.277

Abstract

In the worldwide about 300 million people have asthma. β-2 agonists and steroids are widely prescribed drugs in the treatment of asthma. Different responses raises the suspicion of a genetic infiuence on the host’s response to the treatment of this disease. The purpose of this review is to provide a comprehensive understanding of the infiuence of genetic factors on the treatment of asthma. This review is done by the method in Pubmed search using keywords Pharmacogenetic asthma; polymorphism beta agonist AND asthma. The analysis shows that there are several genes that affect treatment response. ADRB2 gene affects the bronchodilatation response for asthmatics treated with β-2 agonist. CRHR1 gene polymorphism, Glucocorticoid-complex genes, and CER2 genes and TBX21 genes affect the response to corticosteroids inhalers.Keywords: Asthma, Pharmacogenetics, Treatment response
PENYAKIT FAHR’S DENGAN KEJANG PADA PASIEN KARSINOMA TIROID: SEBUAH LAPORAN KASUS Iwan Setiawan; Sulistyani Sulistyani
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.11796

Abstract

ABSTRAKPenyakit Fahr’s adalah penyakit dengan gangguan neuropsikiatri yang ditandai dengan kalsifikasi di ganglia basalis bilateral dari hasil pemeriksaan pencitraan otak dan biasanya berhubungan dengan gangguan metabolisme fosfor dan kalsium. Artikel ini menyajikan kasus penyakit Fahr’s pada seorang wanita usia 56 tahun dengan karsinoma tiroid dan kejang. Selanjutnya, CT scan kepala menunjukkan adanya kalsifikasi  yang simetris bilateral pada ganglia basalis, dan otak kecil. Manifestasi klinis penyakit Fahr’s bervariasi tergantung usia, letak bagian otak yang mengalami kalsifikasi, dalam hal ini gejala yang dominan adalah jenis kejang berulang berupa bangkitan general tonic clonic. Kejang yang terjadi dalam hal ini bisa jadi akibat perubahan hormon tiroid atau akibat kalsifikasi di otak. Belum ada pengobatan khusus pada penyakit ini,.Gejala kejang yang terjadi mendapatkan terapi dengan sodium valproate dan terapi untuk gangguan perubahan hormon tiroidnya.Kata kunci: Penyakit Fahr’s, Karsinoma Tiroid, Kejang ABSTRAKFahr’s disease is a disease with neuropsychiatric disorder, characterized by bilateral basal ganglia calcification and usually associated with a phosphorus and calcium metabolism disorder. This paper presents a case of Fahr’s disease in a 56-year-old woman with carcinoma thyroid and seizures. Furthermore, CT showed bilateral symmetric basal ganglia and cerebellum calcifications. Clinical manifestations of Fahr’s disease vary depending on age, location of the part of the brain that is calcified, in this case the dominant symptom is recurrent seizures type of the general tonic clonic. Seizures that occur in this case can be resulted of thyroid hormone changes or brain calcification. There is no specific treatment for this disease. The seizures that occur got therapy with sodium valproate and therapy for disorders of thyroid hormone changes.Key words: Fahr’s Disease, Thyroid Carcinoma, WSeizure
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTARPRIBADI PADA KEGIATAN KOMUNIKASI DOKTER-PASIEN DI KONSULTASI GRATIS RS ORTOPEDI PROF. DR. R. SOEHARSO SURAKARTA Afifah Ihsani Wardhani; Dewi K. Soedarsono; Diah Agung Esfandari
Biomedika Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v8i2.2911

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengukur untuk efektivitas komunikasi antarpribadi pada kegiatan komunikasi dokter-pasien di Konsultasi Gratis RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Jenis Penelitian adalah penelitian deskriptif dan dengan sampel sebanyak 97 responden. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa rata-rata presentase lima sub variabel adalah: keterbukaan 86,30%, empati 85,00%, sikap mendukung 87,79%, sikap positif 88,41%, dan kesetaraan 80,66%, seluruhnya mendapatkan predikat tinggi dan efektivitas komunikasi dokter-pasien berada pada predikat sangat tinggi. Dari data tersebut, disimpulkan bahwa efektivitas komunikasi antarpribadi pada kegiatan komunikasi dokter-pasien di Konsultasi Gratis RS Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta adalah efektif. Kata Kunci: Efektivitas Komunikasi Antarpribadi, Komunikasi Kesehatan, Komunikasi Dokter-Pasien, Konsultasi Gratis Rumah Sakit Ortopedi Surakarta.
PENGARUH TERAPI N-ASETIL SISTEIN TERHADAP EKSPRESI INTERLEUKIN 17 DAN FIBROSIS INTERSTISIAL PADA MENCIT NEFRITIS LUPUS Warigit Dri Atmoko; Bambang Purwanto; Sugiarto Sugiarto
Biomedika Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i2.5838

Abstract

Lupus nefritis (LN) terkait dengan penebalan membran basal glomerulus. Pengendapan kompleks imun  memicu kaskade respon inflamasi disertai aktivasi reactive oxygen species (ROS), kemudian menyebabkan fibrosis yang mendorong terjadinya kerusakan ginjal. Interleukin 17 merupakan sitokin yang sangat berperan pada reaksi inflamasi tipe-lambat. Produksinya dipicu oleh peningkatan produksi kemokin oleh sejumlah jaringan untuk merekrut monosit dan netrofil ke sisi inflamasi. IL-17 diproduksi sel Th17 dan diinduksi oleh IL-23. IL-17 berespon terhadap invasi patogen ekstraseluler dan menginduksi perusakan matriks seluler patogen. IL-17 akan merangsang sel B untuk memproduksi dan mensekresikan autoantibodi, selanjutnya akan terbentuk kompleks atigen-autoantibodi. Kompleks antigen-autoantibodi yang berada di sirkulasi akhirnya akan terdisposisi pada sel target, termasuk sel fibroblas, sel mesangial, podosit, sel tubulus dan sel endotel di glomerulus. Kompleks ini akan menyebabkan terjadinya glomerulosklerosis dan fibrosis interstisial pada ginjal, kemudian selanjutnya menyebabkan kerusakan pada ginjal dan terjadilah mikroalbuminuria. Disamping itu, akan terjadi disfungsi endotel kapiler glomerulus yang akan menyebabkan albuminuria. Suplemen N-asetil sistein (NAS) pada lupus nefritis dapat mengurangi efek nefrotoksik pada ginjal, melalui penurunan ekspresi IL-17 dan derajat fibrosis interstisial. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris, dengan sampel 24 ekor mencit Balb/C betina yang dibagi menjadi kelompok kontrol, LN, dan LN+NAS. Untuk membuat model LN, hewan coba diberikan injeksi 0,5 ml pristan intraperitoneal dosis tunggal. NAS diberikan secara peroral dengan dosis 4,7 mg/hari (setara dengan dosis manusia 1.800 mg) selama delapan minggu. Ekspresi IL-17 diperiksa secara imunohistokimia dengan antibodi monoklonal terhadap IL-17. Cara ukur dinilai secara kuantitatif, dihitung jumlah sel positif IL17 terhadap 100 sel, secara visual dengan mikroskop cahaya pembesaran 400 x. Penilaian fibrosis interstisial ditentukan secara kuantitatif dengan cara mengukur tebal jaringan interstisial dengan menggunakan micrometer yang telah dikalibrasi pada pembesaran 400 x. Analisis data menggunakan analysis of variance (Anova) dan untuk menentukan perbedaan kemaknaan digunakan p0,05. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemberian NAS menurunkan ekspresi IL-17 (23,8±14,1 vs 10,6±6,8 per 100 sel netrofil imunoreaktif; p =0,042)  dan menurunkan fibrosis interstisial (22,3±5,7 vs 15,5±5,4; p =0,030) dibandingkan kelompok LN. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpilkan bahwa NAS secara bermakna menurunkan ekspresi IL-17 dan fibrosis interstisial ginjal pada mencit model LN.Kata Kunci: fibrosis interstisial, lupus nefritis, interleukin 17, pristan

Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2022): Biomedika Agustus 2022 Vol 14, No 1 (2022): Biomedika Februari 2022 Vol 13, No 2 (2021): Biomedika Agustus 2021 Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021 Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020 Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020 Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Online First More Issue