cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Biomedika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 399 Documents
FAKTOR RISIKO DERMATITIS TANGAN PADA PEKERJA TRADISIOAL INDUSTRI GERABAH (SEBUAH STUDI OBSERVASIONAL) Ratih Pramuningtyas; Delima Anggraini Hudini
Biomedika Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v11i1.7697

Abstract

Hand dermatitis (HD) is a form of occupational dermatitis that frequently occurs. It is caused by exposure to chemicals and the environment. Hand dermatitis is often related to work and pottery industry was one of them. Clay as the main ingredient in the traditional pottery industry contains ingredients that potentially irritant and allergenic. The frequency and risk factors that affected the frequency of HD in pottery industry worker was unknown. Objective of this study was to determine frequency and history of atopic, wet work, and contact duration as risk factors that affected that frequency of HD in traditional pottery industry worker. Analytic observational study with a cross-sectional design. Sixty subjects were included in this study, 53,3% are men. The mean age of subjects was 43.75 years old. Frequency of HD on pottery industral worker was 58,33%. In bivariate analysis, history of atopy, wet work, and contact duration were significantly associated with the incidence of hand dermatitis. Hand dermatitis that appears on the subject is probably caused by calcium oxide, aluminum oxide, and chromium which was the content of clay as the industry's main raw material. Conclusion of this study was frequency of hand dermatitis 58.33% and there was a significant association between a history of atopy, wet work, and contact duration with hand dermatitis among traditional pottery industry workersKey word : Hand Dermatitis, Risk Factor, History Of Atopic, Wet Work, Contact Duration, Pottery
IMUNITAS ALAMIAH: EOSINOPHIL EXTRACELLULAR TRAPS (EET) Safari Wahyu Jatmiko
Biomedika Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v5i1.272

Abstract

Eosinophils play a role in the defense against viruses, bacteria, fungi and parasites, as well as be involved in the pathogenesis of allergic and autoimmune diseases. The role of eosinophils in the defense against bacterial run by enzymes found in the granules such as MBP, ECP, EPO, and EDN, and spending EET. EET formation is determined by the presence of free radicals and intracellular calcium. The antimicrobial function of EET played by Histon.Keywords: eosinophil , Eosinophils extracellular traps
AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI BAKTERI ENDOFIT ASAL AKAR CIPLUKAN (Physalis angulata L.) TERHADAP Staphylococcus aureus DAN Escherichia coli Ika Afifah Nugraheni; Heni Setianah; Doddy Sulistiawan Wibowo
Biomedika Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v13i1.11009

Abstract

ABSTRAKCiplukan (Physalis angulata L.) merupakan tanaman herbal yang mengandung berbagai manfaat bagi kesehatan manusia, termasuk bagian akar. Manfaat lain yang dimiliki akar tanaman ciplukan masih perlu dieksplorasi, termasuk dengan kemampuan bakteri endofit yang hidup di dalam jaringan tanaman. Hubungan simbiosis mutualisme antara bakteri endofit dengan tanaman memungkinkan bakteri dapat menghasilkan senyawa bioaktif yang sama dengan tanaman inangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan menguji potensi aktivitas antibakteri dari bakteri endofit asal akar tanaman ciplukan terhadap bakteri patogen, yaitu Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Total enam isolat bakteri endofit yang digunakan merupakan hasil isolasi dari akar tanaman ciplukan pada penelitian sebelumnya. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram atau Kirby Bauer, yaitu dengan menghitung diameter zona hambat koloni terhadap bakteri patogen. Sebanyak empat isolat menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap S. aureus. Nilai hambat terbesar dimiliki oleh isolat AR21 yaitu sebesar 1,6±0,5 mm. Meskipun demikian, semua isolat tidak membentuk zona penghambatan terhadap E. coli. Hasil ini mengindikasikan bahwa bakteri endofit dari akar tanaman ciplukan memiliki potensi dalam menghasilkan senyawa antibakteri terhadap bakteri patogen dari kelompok gram positif, yang diwakili oleh S. aureus. Bakteri endofit tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen gram negatif, E. coli. Kata Kunci: Akar Ciplukan; Bakteri Endofit; Aktivitas Antibakteri; Staphylococcus aureus; Escherichia coli ABSTRACT               Ciplukan (Physalis angulata L.) is herbal plant that contains various benefits for human health, including the roots. The other benefits of ciplukan roots still need to be explored, including the ability of endophytic bacteria that live in plant tissues. The symbiotic relationship of mutualism between endophytic bacteria and plants allows bacteria to produce the same bioactive compounds as their host plants. This study aims to isolate and test the potential antibacterial activity of endophytic bacteria from ciplukan roots against pathogenic bacteria, i.e. Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Total of six endophytic bacterial isolates used were the result of ciplukan roots isolation in the previous studies. Antibacterial activity was carried out using the disc diffusion or Kirby Bauer method, by calculating the diameter of inhibitory zone against pathogenic bacteria. A total of four isolates showed inhibitory activity against S. aureus. The largest inhibitory zone was AR21 isolate with value 1.6 ± 0.5 mm. However, all isolates did not form inhibition zone against E. coli. These results indicated that endophytic bacteria from ciplukan roots have potential to produce antibacterial compounds against pathogenic bacteria from gram-positive group, represented by S. aureus. Endophytic bacteria did not show antibacterial activity against gram-negative pathogenic bacteria, E. coli. Keywords: Ciplukan Roots, Endophytic Bacteria, Antibacterial Activity, Staphylococcus aureus; Escherichia coli
HUBUNGAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEBERADAAN ESCHERICHIA COLI PADA MAKANAN DI TEMPAT PENGOLAHAN MAKANAN (TPM) BUFFER AREA BANDARA ADI SOEMARMO SURAKARTA Fitka Romanda; Priyambodo Priyambodo; Erika Diana Risanti
Biomedika Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v8i1.2899

Abstract

Keberadaan Escherichia coli dalam sumber air atau makanan merupakan indikasi pasti terjadinya  kontaminasi tinja manusia. Kontaminasi ini dapat berdampak pada Kejadian Luar Biasa keracunan makanan di negara berkembang, termasuk di Indonesia. Adanya kontaminasi Escherichia coli pada makanan dapat disebabkan faktor personal hygiene penjamah makanan yang kurang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan personal hygiene penjamah makanan dengan Escherichia coli. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan cross sectional. Subyek penelitian adalah 65 penjamah makanan dan 65 sampel makanan di 22 tempat pengolahan makanan buffer area Bandara Adi Soemarmo Surakarta. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan personal hygiene dengan keberadaan Escherichia coli pada makanan di Tempat Pengolahan Makanan Buffer Area Bandara Adi Soemarmo Surakarta dengan uji statistik dengan Chi Square didapatkan p value (0,000) dan kekuatan hubungan sedang dengan nilai C (0,477). Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan terdapat hubungan personal hygiene penjamah makanan dengan keberadaan Escherichia coli pada makanan di tempat pengolahan makanan (TPM) buffer area Bandara Adi Soemarmo Surakarta. Kata kunci. Personal Hygiene, Escherichia coli, Buffer Area
PROFIL KOAGULASI PASIEN PENDERITA DIABETES MELLITUS DI RS X, KEBUMEN, JAWA TENGAH Ester Tri Rahayu; Adika Zhulhi Arjana; Juwariyah Juwariyah; Utami Mulyaningrum; Rozan Muhammad Irfan
Biomedika Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i1.4345

Abstract

Ulkus diabetes mellitus (DM) adalah komplikasi dari diabetes mellitus yang menimbulkan dampak sosioekonomi yang besar. Morbiditas yang ditimbulkan cukup besar dan secara epidemiologi penderita DM memiliki resiko 25 % untuk terjadinya ulkus DM. Secara patofisiologinya, ulkus DM terjadi atas 3 kondisi yaitu neuropathy, gangguan vaskular, dan infeksi. Gangguan vaskular yang terjadi dimungkinkan disebabkan karena adanya gangguan dalam proses koagulasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi koagulasi pasien DM penderita ulkus DM. Penelitian ini menggunakan data sekunder rekam medis. Subyek yang masuk dalam penelitian ini adalah penderita dewasa ulkus DM. Data rekam medis subyek mengenai kondisi diabetes dan ulkus DM diambil peneliti dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada waktu pembekuan dan kadar SGOT pada berbagai derajat ulkus diabetikum. Akan tetapi perbedaan tidak dijumpai pada waktu perdarahan dan kadar SGPT. Kata Kunci: Ulkus, koagulasi, diabetes mellitus
KORELASI UMUR DENGAN KADAR HEMATOKRIT, JUMLAH LEUKOSIT, DAN TROMBOSIT PASIEN INFEKSI VIRUS DENGUE Safari Wahyu Jatmiko
Biomedika Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i2.7024

Abstract

ABSTRAKInfeksi virus dengue (IVD) masih menjadi masalah di negara tropis dan sub tropis. Gejala IVD dan perubahan parameter hematologi seperti jumlah leukosit, trombosit dan kadar hematokrit. pada umumnya lebih berat pada pasien infeksi sekunder dengue virus (DENV)  dengan serotipe yang berbeda. Risiko infeksi sekunder DENV meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini menimbulkan landasan teori terhadap hipotesis bahwa semakin bertambah usia maka perubahan parameter hematologi semakin berat. Untuk menjawab hal tersebut dilakukan penelitian terhadap pasien IVD yang berusia dibawah 14 tahun dan memenuhi kriteria diagnostik WHO 2009. Diagnosis dikonfirmasi dengan IgG dan IgM antidengue. Hasil yang didapat adalah terdapat korelasi antara usia dengan kadar hematokrit dengan r = 0,248 dan p = 0,027 namun tidak ada korelasi antara usia dengan jumlah leukosit dengan r = 0,008 p = 0,943 dan trombosit  dengan r -0,01 p = 0,929. Semakin bertambah usia maka semakin berat peningkatan kadar hematokrit pada anak penderita IVD.Kata kunci: Umur, Hematokrit, Leukosit, Trombosit, Infeksi Virus Dengue ABSTRACTDengue virus infection (IVD) is still a problem in tropical and sub-tropical countries. Symptoms of IVD and changes in hematological parameters such as the number of leukocytes, platelets and hematocrit levels are generally more severe in secondary DENV infections with different serotypes. The risk of secondary DENV infection increases with age. This raises the theoretical basis of the hypothesis that the older the worsening changes in hematologic parameters. To address this, a study of IVD patients under 14 years old and meeting the 2009 WHO diagnostic criteria is done. The diagnosis is confirmed by IgG and IgM antidengue. The result are correlation between age with hematocrit level with r = 0,248 and p = 0,027 but no correlation between age with leukocyte count with r = 0,008 p = 0,943 and platelet with r -0,01 p = 0,929. It can be concluded that the more aged the more severe the increase in hematocrit levels in children with IVD.Keywords: Age,  Hematocrit, Leukocyte, Platelet, Dengue Virus Infection
PERAN BASOFIL DALAM IMUNITAS TERHADAP CACING Safari Wahyu Jatmiko
Biomedika Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v4i1.260

Abstract

Basophils are polymorphonuclear leukocytes that play an important role in immunity. Basophils can be activated by antibodies and other molecules. Basophils are able to recognize antigens of worms and give some responses. Basophils involvement in immunity againt worms are played by migratingto the worm infected tissue, trigger eosinophilia and eosinophil migration into the tissue, activating mast cells, triggering the formation of AAM, directing Th cell polarization toward Th2 cells, and triggers immunoglobulin class switching to produce IgE.Keywords:Basophil, Helminthiasis
ANEURYSMAL BONE CYST (ABC) IN FIFTH METACARPAL RIGHT HAND OF A MALE CHILD WITH HEMOPHILIA TREATED BY STEROID INJECTION: A CASE REPORT Agus Wahyudi; Mujaddid Idulhaq; Rhyan Darma Saputra; Pamudji Utomo
Biomedika Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v12i2.10541

Abstract

ABSTRACTAneurysma bone cyst (ABC) is a rare case, rapidly growing, and destructive benign bone tumor that rarely involves the bones of the hand. Pathogenesis of these tumors remains controversial and may be vascular, traumatic, or genetic disorders.  This study aimed to evaluate patient’s out come after steroid injection. A male child presented with a history of pain and local swelling over his fifth metacarpal right hand of two months duration with hemofilia condition. Physical and radiographic examination of the hand was consistent with aneurysmal bone cyst. The patient the VIII factor 2 hours before doing steroid injection on his lump over fifth metacarpal right hand. A month evaluation after injection for this patient, we had a good result clinically and radiologically. Radiological evaluation obtained appearance of cortex thickening on the bone affected. We concluded that steroid injection should be considered as one of ABC’s treatment with hemophilia, but the outcome still needed more evaluation.  Keywords: Aneurysmal Bone Cyst, Hemophilia, Steroid Injection ABSTRAK Kista tulang aneurisma adalah kasus yang jarang terjadi, tumbuh dengan cepat, dan tumor tulang jinak destruktif yang jarang melibatkan tulang-tulang tangan. Patogenesis tumor ini masih kontroversial dan mungkin bersifat kelainan vaskular, traumatis, atau genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pasien setelah injeksi steroid. Seorang anak laki-laki dengan riwayat nyeri dan pembengkakan lokal pada metacarpal kelima tangan kanannya selama dua bulan dengan kondisi hemofilia. Pemeriksaan fisik dan radiografi tangan menegakkan adanya kista tulang aneurisma. Pasien diberi faktor VIII 2 jam sebelum injeksi steroid pada benjolan di atas metacarpal kelima tangan kanannya. Evaluasi sebulan setelah injeksi untuk pasien ini, kami memiliki hasil yang baik secara klinis dan radiologis. Evaluasi radiologis diperoleh penampilan penebalan korteks pada tulang yang terkena. Kami menyimpulkan bahwa injeksi steroid harus dipertimbangkan sebagai salah satu pengobatan kista tulang aneurisma dengan hemofilia, namun hasilnya masih perlu evaluasi lebih lanjut.Kata kunci: Kista Tulang Aneurisma, Hemofilia, Injeksi steroid
PENGARUH KEPADATAN HELICOBACTER SPP DAN DERAJAT INFLAMASI TERHADAP KERUSAKAN HISTOPATOLOGIK PADA GASTRITIS KRONIK: REEVALUASI ARSIP SLIDE GASTRITIS KRONIK DI LABORATORIUM PATOLOGI ANATOMI RSUP DR KARIADI TH 2011-2013 Eny Dyah Kurniawati; Udadi Sadhana; Indra Wijaya
Biomedika Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v7i2.1869

Abstract

Infeksi Helicobacter pylorii (Hp) telah menjadi masalah kesehatan yang mendunia, sebagai penyebab utama gastritis kronik, tukak lambung dan keganasan, akan tetapi mekanismenya dalam menimbulkan gastritis kronik masih belum sepenuhnya dimengerti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan kuman Helicobacter spp dan derajad inflamasi terhadap derajat kerusakan histopatologik pada penderita gastritis kronik serta prevalensinya di RSUP dr.Kariadi. Penelitian ini adalah penelitianobservasional dengan pendekatan potong lintang dengan sampel sebanyak 70 slide arsip dari laboratorium Patologi Anatomi RSUP dr.Kariadi mulai 1 Januari 2011 – 31 Desember 2013 yang telah didiagnosis sebagai gastritis kronik disertai kuman Helicobacter spp positif oleh dokter spesialis Patologi Anatomi. Data kepadatan kuman Helicobacter spp, derajat inflamasi dan derajat kerusakan histopatologik gaster dianalisa dengan uji Kruskal Wallis, dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney U dan uji korelasi Spearman. Prevalensi gastritis kronik dengan kuman Helicobacter spp positif di RSUP dr.Kariadi pada tahun 2011 sebesar 58%, tahun 2012 naik menjadi 70% dan tahun 2013 menjadi 79%. Terdapat perbedaan yang tidak bermakna antara derajat kepadatan kuman Helicobacter spp dengan derajat inflamasi baik aktif maupun kronik dengan korelasi positif yang lemah dan perbedaan yang bermakna pada atrofi kelenjar yang merupakan bagian dari derajat kerusakan histopatologik gaster dengan korelasi positif yang lemah pada penderita gastritis kronik. Terdapat perbedaan yang signifikan antara derajat inflamasi baik aktif maupun kronik dengan derajat perubahan histopatologik dengan korelasi positif pada penderita gastritis kronik. Derajad inflamasi yang terjadi pada gastritis kronik akibat kuman Helicobacter spp berpengaruh pada derajat kerusakan histologik pada penderita gastritis kronik.Kata kunci : Kepadatan kuman Helicobacter spp, derajat inflamasi, derajat kerusakan histopatollogik, gastritis kronik.
PERBEDAAN STATUS GIZI BAYI BERUMUR 4–6 BULAN PADA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN ASI NON EKSKLUSIF Muh. Shoim Dasuki; Mira Candra Karuniawati; Anika Candrasari
Biomedika Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v8i1.3020

Abstract

Cakupan pemberian ASI eksklusif di Indonesia hanya 42%. Survey tahun 2013, menemukan sekitar 19,6% balita Indonesia menderita kekurangan gizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan status gizi bayi berumur 4–6 bulan yang diberikan ASI eksklusif dengan yang tidak diberikan ASI eksklusif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sejumlah 80 bayi berusia 4-6 bulan diambil dengan teknik purposive sampling. Uji statistik yang digunakan adalah Chi Square. Hasil penelitian didapatkan nilai p=0,000 (p0,05) yang artinya terdapat perbedaan signifikan antara status gizi bayi berumur 4–6 bulan yang diberikan ASI eksklusif dengan yang tidak diberikan ASI eksklusif. Diperoleh dari 40 bayi yang diberikan ASI eksklusif mempunyai status gizi lebih baik dibandingkan dengan tidak berikan ASI eksklusif. Status gizi buruk lebih banyak ditemukan pada kelompok bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif. Terdapat perbedaan status gizi bayi berumur 4–6 bulan yang diberikan ASI eksklusif dengan yang tidak diberikan ASI eksklusif.Kata Kunci: ASI Eksklusif, ASI Non Eksklusif, status gizi

Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2022): Biomedika Agustus 2022 Vol 14, No 1 (2022): Biomedika Februari 2022 Vol 13, No 2 (2021): Biomedika Agustus 2021 Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021 Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020 Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020 Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Online First More Issue