cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Biomedika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 399 Documents
PENGARUH CHLOROQUINE TERHADAP INTERLEUKIN-1β, AKTIVASI CASPASE-1 DAN SURVIVAL RATE PADA TIKUS MODEL SEPSIS Suseno, Aryo; Sumandjar, Tatar; Purwanto, HM Bambang
Biomedika Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i1.4347

Abstract

Sepsis masih merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di ruang rawat intensif. Mekanisme sepsis belum diketahui secara penuh. Perlunya metode-metode baru dalam penanganan sepsis. Penelitian-penelitian baru menemukan adanya peran dari Nod-like Receptor dan inflammasome. Chloroquine menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh qloroquin terhadap interleukin-1β, aktivasi caspase-1 dan survival rate pada tikus model sepsis. Penelitian adalah eksperimen hewan coba (Rattus norvegicus) yang disepsiskan dengan Cecal Ligation and Puncture (CLP). Sampel 52 tikus, dibagi menjadi 2 kelompok; Kelompok 1 untuk IL-1β dan kelompok 2 aktivasi Caspase-1. Tiap kelompok dibagi 3 sub kelompok; kontrol tanpa CLP + placebo (NaCl 0.9% 2ml), perlakuan dengan CLP + placebo, dan kelompok terapi dengan CLP +Chloroquine (CHQ) 50mg/Kg BB personde. Terapi dan placebo diberikan 24, 48 dan 72 Jam setelah CLP. Tikus mati dan moribund dicatat sebagai mortalitas. Pada hari ke 6, tikus yang hidup diambil darahnya dan dikorbankan dengan dislokasi servikal. Kadar IL-1β dengan ELISA pada serum, Aktivasi Caspase-1 dengan Flowcytometry dengan pewarnaan FLICA 660 pada Peripheral Blood Mono-Nuclear Cells (PBMC) dan Whole Blood (WB). Analisis dengan SPSS 22. Beda rerata masing-masing subkelompok dianalisa dengan ANOVA bila distribusi normal dan atau uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan Mann–Whitney.Hasil penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan survival rate yang bermakna antar sub-kelompok dan antar kelompok (mean 52 vs 62, CI: (-37.32) - 27.98, P=0.767). Didapatkan rerata kadar IL-1β yang lebih rendah pada kelompok terapi dibanding kelompok perlakuan (mean 0.08975 vs 0.09680 CI: (-0.024) – 0.0097, P=0,376), namun tidak bermakna secara statistik. Rerata tingkat aktivasi Caspase-1 pada PBMC (mean 9,46 vs 15.04 CI: (-6.72) – 24.82 , P=0.865) dan WB (mean 2,99 vs 10,99 CI: (-5.303) – 5.844, P=0.478) lebih rendah pada kelompok terapi dibanding perlakuan walaupun tidak bermakna secara statistik. Penelitian ini menunjukkan bahwa penghambatan kadar inflamasi tidak berhubungan langsung dengan survival rate. Mekanisme anti-inflamasi Chloroquine, salah satunya, tampak melewati jalur inflammasome. Kata kunci: Sepsis, Chloroquine, Inflammasome, Caspase-1, IL-1β, Survival rate.
PERBEDAAN NILAI RERATA KVP % PREDIKSI DAN KV % PREDIKSI ANTARA ORANG DENGAN INDEKS MASSA TUBUH NORMAL DAN DI ATAS NORMAL Basuki, Sri Wahyu; Primasakti, Irkhamyudhi; Sari, Riana
Biomedika Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v8i1.3022

Abstract

Kapasitas vital paksa (KVP) dan kapasitas vital (KV) merupakan parameter dalam pemeriksaan spirometri untuk mengetahui kelainan restriksi paru. Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa orang IMT di atas normal memiliki kelainan restriksi pada paru mereka. Penelitian ini untuk mengetahui perbedaan nilai rerata KVP % prediksi dan KV % prediksi antara orang dengan IMT normal dan di atas normal di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel 35 orang laki-laki 18-25 tahun tiap kelompoknya. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Perbedaan nilai rerata KVP % prediksi dan KV % prediksi dianalisis menggunakan uji hipotesis yaitu uji t dua kelompok tidak berpasangan dan Mann-Whitney dengan program SPSS 20.0 for windows.Hasil penelitian terdapat perbedaan yang signifikan nilai rerata KVP % prediksi dan KV % prediksi pada orang dengan indeks massa tubuh normal (KVP 83,9580 % dan KV 112,8063 %) dan IMT di atas normal (KVP 70,4734% dan KV 79,7374%). Hasil hipotesis uji t dua kelompok tidak berpasangan didapatkan significancy 0,000 (p<0,05) dan Mann-Whitney didapatkan significancy 0,001 (p<0,05). Terdapat perbedaan yang signifikan nilai rerata KVP % prediksi dan KV % prediksi antara orang dengan IMT normal dan IMT di atas normal.Kata kunci: KVP % prediksi dan KV % prediksi, IMT normal dan di atas normal
HUBUNGAN PEKERJA BASAH DENGAN KEJADIAN DERMATITIS KONTAK AKIBAT KERJAPADA PETUGAS KESEHATAN DI RUMAH SAKIT X TANJUNG, TABALONG, KALIMANTAN SELATAN Anshar, Rizadin; Pramuningtyas, Ratih; Usdiana, Devi
Biomedika Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v8i2.2913

Abstract

Prevalensi dermatitis kontak akibat kerja (DKAK) di dunia terbilang tinggi. Kontak kulit terhadap iritan atau alergen di tempat kerja dapat mengakibatkan terjadinya DKAK.Petugas kesehatan merupakan salah satu profesi yang berisiko terjadinya DKAK. Hasil survei pendahuluan yang dilakukan di RS X, Tanjung, didapatkan 6 orang menderita DKAK dari 20 petugas kesehatan yang diwawancarai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pekerjaan basah dengan kejadian DKAK pada petugas kesehatan. Desain penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah responden penelitian sebanyak 80 petugas kesehatan. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Data primer dianalisis dengan uji Chi Square menggunakan program SPSS 17.Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai p = 0,001 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan basah dengan kejadian DKAK.Terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan basah dengan kejadian DKAK pada petugas kesehatan di RS X Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan. Kata Kunci : Pekerja Basah, Petugas Kesehatan, Dermatitis Kontak Akibat Kerja
HUBUNGAN INTRAVESICAL PROSTATIC PROTRUSION DAN POST-VOID RESIDUAL URINE DENGAN LOWER URINARY TRACT SYMPTOMS PADA PASIEN KLINIS BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA TANPA RETENSI Andaru, Muhammad Eko; Wibisono, Wibisono; Wijanarko, Suharjo
Biomedika Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i1.5850

Abstract

Benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan salah satu tumor jinak yang sering ditemukan pada pria usia lebih dari 50 tahun yang dapat menyebabkan lower urinary tract symptoms (LUTS). LUTS merupakan kumpulan gejala dari bladder outlet obstruction (BOO). Konfigurasi anatomi prostat berupa intravesical prostatic protrusion (IPP) telah terbukti memiliki korelasi yang baik untuk menyebabkan BOO. Peningkatan signifikan volume post-void residual urine (PVR) adalah manifestasi klinis yang sering terdapat pada pasien dengan BPH. Saat ini di RSDM, LUTS masih menjadi standar dalam menentukan tata laksana BPH. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian hubungan IPP dan PVR dengan LUTS pada pasien klinis BPH tanpa retensi. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien klinis BPH tanpa retensi yang datang ke poliklinik selama periode penelitian, kemudian dilakukan pemeriksaan transabdominal ultrasonography (TAUS) untuk mengukur IPP dan volume PVR serta menilai skor IPSS untuk menilai derajat LUTS. Analisis data hubungan antara IPP dan PVR terhadap LUTS dilakukan dengan uji statistik parametrik regresi linier menggunakan software (α < 0,05). Penelitian dilakukan pada 13 pasien klinis BPH tanpa retensi, pada analisis bivariat dari hasil uji statistik antara IPP dengan LUTS didapatkan nilai r= 0,911 dan nilai p=0,000 (p<0,05), sedangkan PVR dengan LUTS didapatkan nilai r= 0,922 dan nilai p=0,000 (p<0,05), yang berarti bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara IPP dengan LUTS serta PVR dengan LUTS. Pada analisis multivariat, nilai koefisien regresi IPP, p=0,017 (p<0,05), sedangkan nilai koefisien regresi PVR, p=0,953 (p>0,05), Sehingga IPP lebih baik untuk memprediksi beratnya LUTS dibandingkan dengan PVR. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, terdapat hubungan IPP dan PVR dengan LUTS pada pasien klinis BPH tanpa retensi.Kata Kunci: benign prostatic hyperplasia, intravesical
CEPHALIC TETANUS A RARE LOCAL TETANUS Nurhidayati Mahmuda, Iin Novita; Priambodo, Doni
Biomedika Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v7i2.1872

Abstract

Woman, 68 years old came to hospital with chief complain trismus and dysphagia. She was in a good condition with physical examination and standard laboratory test reveal normal value. The neurologist found multiple parese of cranial nerve (V, VII, IX, X, XI). After further examination include electromedic test and head ct scan with contrast the neurologist did not find any abnormality that may explain her symptoms. The patient then consulted to the internist with suspect of local tetanus infection because of focal infection in her dental caries. The patient is then treated with antibiotics, convultion inhibitor agent, also given tetanus immunoglobulin. During the treatment, her symptoms improved. There were no other severe complication. Patient was returning home on the ninth day of hospitalisation and ready for her dentist appointment.Keywords : Trismus, dysphagia, parese, tetanus, tetanus imunoglobulin
PENGARUH SECRETOME SEL PUNCA MESENKIMAL TERHADAP EKSPRESI INTERLEUKIN-1β DAN CASPASE-1 Shiddiqi, Toumi; Adnan, Zainal Arifin; Nurudhin, Arief
Biomedika Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i2.5840

Abstract

Systemic Lupus Erythematosus adalah penyakit inflamasi autoimun kronis dengan manifestasi klinis  beragam dan luas. Pemberian injeksi pristan intraperitoneal dapat menginduksi lupus pada mencit. IL-1β merupakan sitokin inflamasi yang berperan pada patogenesis SLE melalui jalur Caspase-1. Secretome sel punca mesenkimal mengandung Stanniocalcin-1 yang berperan sebagai antiinflamasi. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh secretome sel punca mesenkimal terhadap ekspresi IL-1β dan Caspase-1  pada mencit model lupus dengan induksi pristan. Penelitian eksperimental dengan metode post test only control group design, sampel 21 ekor mencit betina Mus Musculus galur Balb/C, dibagi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol (injeksi intraperitoneal NaCl 0,9% 0,5 ml), kelompok pristan (injeksi pristan intraperitoneal 0,5 ml) dan kelompok pristan+secretome (injeksi intraperitoneal pristan 0,5 ml dan secretome 0,45 ml). Penelitian dilakukan selama 3 minggu, secretome diberikan pada akhir penelitian. Dinilai ekspresi IL-1β dan Caspase-1 secara imunohistokimia. Analisis  statistik menggunakan IBM SPSS 20 dengan uji ANOVA dilanjutkan uji post hoc LSD. P bermakna jika p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata ekspresi IL-1β pada ketiga kelompok yaitu kontrol (22,75±8,30); pristan (79,67±18,24); pristan+secretome (19,94±6,41), dengan kemaknaan p=0,000. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi IL-1β antara kelompok kontrol vs pristan (-56,92±6,69; p=0,000), kelompok pristan vs pristan+secretome (61,31±6,69; p=0,000). Rata-rata ekspresi Caspase-1 pada ketiga kelompok yaitu kontrol(17,04±6,30); pristan (81,25±17,32); pristan+secretome (21,97±12,59), dengan kemaknaan p=0.000. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi Caspase-1 antara kelompok kontrol vs pristan (-64,21±6,69; p=0,000) dan kelompok pristan vs pristan+secretome (59,28±6,69; p=0,000).Simpulan yang dapat diambil adalah  secretome sel punca mesenkimal menurunkan ekspresi IL-1β dan Caspase-1 pada mencit model lupus dengan induksi pristan.Kata Kunci: Caspase-1, Interleukin-1β, Pristan, Secretome, Systemic Lupus Erythematosus.
EFEK INFUSA AKAR TEMPUYUNG (SONCHUS ARVENSIS) TERHADAP PENURUNAN KADAR ASAM URAT PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NORVEGICUS) Retnowati, Kurnia; Sutrisna, EM; Nurhidayati Mahmuda, Iin Novita
Biomedika Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v6i2.274

Abstract

Tempuyung (Sonchus arvensis) consisted of fiavonoid were effect as obstruct xantine oksidase enzyme, antioxidant captur superoxsidase radical. The fiavonoid total in leave of tempuyung is 0,1044%, in its root have 0,5% fiavonoid and the more is apigenin-7-O-glikosida (3,4,5). This research aim to know effect of infusa root of tempuyung (Sonchus arvensis) to lower the uric acid level at blood serum and infusa root of Tempuyung (Sonchus arvensis) to lower the uric acid level at mouse blood serum compared to allopurinol.This research is laboratory experimental method. The object were 25 Wistar male mice 2-3 months old, 150-200 gr divided into 5 groups. Negative Control group given potassium oxonate by intraperitoneal, Positive Control group given potassium oxonate by intraperitoneal, added by allopurinol 18mg/kgBB, Infusa Concentrated Group 1 given potassium oxonate by intraperitoneal added by infusa root of tempuyung 1,25g/kgBB, Infusa Concentrated Group 2 given potassium oxonate by intraperitoneal added by infusa root of tempuyung 2,5g/kgBB, Infusa Concentrated Group 3 given potassium oxonate by intraperitoneal added by infuse root of tempuyung 5g/kgBB. Executed until one day, where measurement of uric acid of mouse blood serum done before and after treatment. Measurement of uric acid level is done by using spectrophotometer. Obtained to be data to be analysed with Kolgomorov-Smirnov test, One-Way ANOVA and continued with LSD (Least Significant Difference) test with 95% confidence interval (CI). Result of statistical test of research shoe that infusa root of Tempuyung (Sonchus arvensis) dose 1,25g/kgBB, 2,5g/ kgBB, 5g/kgBB have effect to lower the uric acid level at mouse blood serum. Infusa root of Tempuyung (Sonchus arvensis) concentrated 5g/kgBB proportional wih dose allopurinol 18mg/kgBB to lower the uric acid level at mouse blood serum.Keyword: Infusa, root of Tempuyung (Sonchus arvensis), uric acid
PENGARUH EKSTRAK ETHANOL PROPOLIS TERHADAP EKSPRESI PROTEIN Bcl2, CYCLIN D1 DAN INDUKSI APOPTOSIS PADA KULTUR SEL KANKER KOLON Yuniarto, Haryono; Maryono, Sumardi; Purwanto, Bambang
Biomedika Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v9i1.4343

Abstract

Kanker kolorektal menempati urutan kejadian kanker ketiga di seluruh dunia, dengan lebih dari 1 juta angka kejadian tiap tahunnya. Berbagai strategi terapi pengobatan kanker kolorektal tetapi relatif belum optimal. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan mengembangkan terapi alternatif sebagai pendamping. Propolis menunjukkan aktivitas proapoptosis pada berbagai jenis sel kanker. Mengetahui pengaruh pemberian propolis yang berasal dari Kerjo, Karanganyar, Indonesia terhadap induksi proses apoptosis dan aktivitas antiproliferasi, terutama terkait dengan penekanan ekspresi protein Bcl 2 dan cyclin D1 pada kultur sel WiDr (cell line kanker kolon). Penelitian eksperimental laboratorik menggunakan post test with control group design. Penelitian dilakukan pada kultur sel WiDr (sel kanker kolon) dengan pemberian propolis. Pengamatan ekspresi protein Cyclin D1 dan Bcl2 dilakukan dengan metode imunositokimia, sedangkan pengamatan induksi apoptosis dilakukan dengan flowcytometry. Analisis statistik dengan uji Kruskal-Wallis, signifikan bila p <0,05. Rata-rata ekspresi Bcl2 pada kelima kelompok yaitu kontrol 83.40 ± 0.69 μg/ml, EEP 1/2 IC50 60.63 ± 0.40, EEP IC50 33.77 ± 1.08 μg/ml, EEP 2 IC50 24.28 ± 1.91 μg/ml, 5fluorouracil 12.74 ± 2.19 μg/ml. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi Bcl2 antara kelompok uji dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Rata-rata ekspresi cyclin D1 pada kelima kelompok yaitu kontrol 83.77 ± 0.39 μg/ml, EEP 1/2 IC50 61.44 ± 0.41, EEP IC50 36.67 ± 1.18 μg/ml, EEP 2 IC50 24.50 ± 0.38 μg/ml, 5fluorouracil 13.42 ± 1.04μg/ml. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi cyclin D1 antara kelompok uji dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Pemberian ekstrak etanol propolis mempunyai pengaruh menekan ekspresi Bcl2, cyclin D1, dan menginduksi apoptosis pada kultur sel kanker kolon (WiDr Cell Line). Kata Kunci: Ekstrak Ethanol Propolis, Bcl2, cyclin D1, Sel WiDr
EKSPRESI INTERLEUKIN-1 (IL-1) Β PADA ENDOMETRIOSIS, KARSINOMA ENDOMETRIOID DAN KARSINOMA SEROSUM OVARIUM Lestari, Nadia Nur; Amarwati, Siti; Sadhana, Udadi; Puspasari, Dik
Biomedika Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v8i1.3016

Abstract

Endometriosis ovarium memiliki resiko keganasan epithelial ovarium (resiko relatif 1.9 sampai 4.2). Karsinoma endometrioid adalah salah satu jenis keganasan yang paling sering berhubungan dengan endometriosis, sementara karsinoma serosum merupakan keganasan epitelial terbanyak pada ovarium.Serum sitokin pro-inflamasi interleukin-1 (IL-1) β telah ditemukan berperan pada endometriosis dan karsinogenesis.Penelitian Keita, 2010, menemukan bahwa karsinoma endometrioid memiliki kadar IL-1β yang lebih tinggi secara bermakna dibandingkan jenis lainnya. Penelitian ini bertujua untuk mengetahui perbedaan ekspresi IL-1β pada jaringan endometriosis, karsinoma endometrioid dan karsinoma serosum ovarium. Desain penelitian ini adalah cross sectional design. Sampel adalah tiga puluh 33 blok parafin yang telah didiagnosis dan dire-evaluasi sebagai endometriosis (kelompok A), karsinoma endometrioid (kelompok B) dan karsinoma serosum ovarium (kelompok C) dan dilakukan pemeriksaan imunohistokimia IL-1β. Data ekspresi IL-1β dianalisis uji One Way ANOVA, dilanjutkan dengan uji beda rerata Post Hoc. Hasil uji One Way ANOVA kelompok A, B dan C, p = 0,037, menunjukkan adanya perbedaan bermakna. Uji beda rerata Post Hoc didapatkan kelompok A vs kelompok B dan C (p = 0,034 dan p = 0,020) bermakna. Sedangkan kelompok B vs kelompok C (p =0,805) tidak bermakna. Dari penelitian ini dapat disimpulkan terdapatperbedaan yang bermakna ekspresi IL-1β antara endometriosis dengan karsinoma endometrioid dan karsinoma serosum ovarium, namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna ekspresi IL-1β antara karsinoma endometrioid ovarium dan karsinoma serosum ovarium.Kata kunci: Endometriosis, interleukin-1β, karsinoma endometrioid, karsinoma serosum
PENGARUH EKSTRAK PROPOLIS TERHADAP EKSPRESI CYCLIN D1 DAN BAX PADA SEL HELA Febrina, Irma; Maryono, Suradi; Purwanto, Bambang
Biomedika Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/biomedika.v10i1.5855

Abstract

Kanker serviks merupakan kanker ginekologi tertinggi di dunia dengan infeksi Human Papilloma Virus sebagai penyebab terseringnya. Di Indonesia, kanker serviks merupakan keganasan yang paling banyak ditemukan dan penyebab kematian utama pada perempuan dalam tiga dasawarsa terakhir. Di Indonesia, setiap tahun terdeteksi lebih dari 15.000 kasus kanker serviks dan sekitar 8.000 kasus di antaranya berakhir dengan kematian. Terdapat beberapa jenis pengobatan yang biasa diberikan pada penderita kanker serviks, namun hasilnya relatif belum optimal. Keadaan ini mendorong usaha penemuan dan pengembangan strategi terapi baru dalam melawan kanker. Pendekatan yang menarik untuk dikembangkan adalah penggunaan kombinasi kemoterapi atau ko-kemoterapi. Ko-kemoterapi merupakan strategi terapi kanker dengan mengombinasikan suatu senyawa kemopreventif yang bersifat tidak toksik dengan agen kemoterapi. Salah satu produk natural yang potensial untuk dikembangkan sebagai agen ko-kemoterapi adalah propolis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian propolis yang berasal dari Kerjo, Karanganyar, Indonesia terhadap induksi proses apoptosis dan aktivitas antiproliferasi, terutama terkait dengan penekanan ekspresi protein Cyclin D1 dan peningkatan ekspresi protein Bax pada kultur sel HeLa (cell line kanker serviks). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan menggunakan post test with control group design. Penelitian dilakukan pada kultur sel HeLa (sel kanker serviks) dengan pemberian propolis. Pengamatan ekspresi protein Cyclin D1 dan ekspresi protein Bax dilakukan dengan metode imunositokimia. Hasil penelitian menemukan bahwa ekspresi rata-rata Cyclin D1 pada kelima kelompok yaitu kontrol 84,13± 1,34µg/ml, EEP 1/2 IC 60,76±4,21, EEP IC 36,56± 3,63µg/ml, EEP 2 IC  24,92± 5,14µg/ml, 5-FU 13,15±3,66µg/ml. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi Cyclin D1 antara kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Rata-rata ekspresi Bax pada kelima kelompok yaitu kontrol 1,89± 0,46µg/ml, EEP 1/2 IC 69,44± 1,39, EEP IC 80,07± 3,52µg/ml, EEP 2 IC 83,96± 3,26µg/ml, 5-FU 92,78± 4,68µg/ml. Terdapat perbedaan bermakna ekspresi Bax antara kelompok uji dibandingkan kelompok kontrol (p < 0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol propolis mempunyai pengaruh terhadap penekanan ekspresi Cyclin D1 dan peningkatan ekspresi Bax pada kultur sel kanker serviks (HeLa Cell line). Kata kunci: EEP, Protein Cyclin D1, Protein Bax, HeLa cell line

Page 7 of 40 | Total Record : 399


Filter by Year

2009 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 2 (2022): Biomedika Agustus 2022 Vol 14, No 1 (2022): Biomedika Februari 2022 Vol 13, No 2 (2021): Biomedika Agustus 2021 Vol 13, No 1 (2021): Biomedika Februari 2021 Vol 12, No 2 (2020): Biomedika Agustus 2020 Vol 12, No 1 (2020): Biomedika Februari 2020 Vol 11, No 2 (2019): Biomedika Agustus 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 11, No 1 (2019): Biomedika Februari 2019 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 2 (2018): Biomedika Agustus 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 2 (2017): Biomedika Agustus 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 9, No 1 (2017): Biomedika Februari 2017 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 2 (2016): Biomedika Agustus 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 8, No 1 (2016): Biomedika Februari 2016 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 2 (2015): Biomedika Agustus 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 7, No 1 (2015): Biomedika Februari 2015 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 2 (2014): Biomedika Agustus 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 6, No 1 (2014): Biomedika Februari 2014 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 2 (2013): Biomedika Agustus 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 5, No 1 (2013): Biomedika Februari 2013 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 2 (2012): Biomedika Agustus 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 4, No 1 (2012): Biomedika Februari 2012 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 3, No 2 (2011): Biomedika Agustus 2011 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Vol 1, No 1 (2009): Biomedika Februari 2009 Online First More Issue